12. Misfit

Johnny terlihat baru saja turun dari lantai atas. Ia berdiri di penghujung tangga rumah mereka dan menghela nafas panjang. Dari sana ia dapat melihat jelas bagaimana Ten menangis tersedu-sedu hari itu. Johnny lantas menghampirinya, ia duduk di sebelah Ten yang masih nampak menangis. Wanita itu bahkan enggan untuk sekedar menatap wajah Johnny yang duduk di sampingnya.

"Ten…." Ucap Johnny, tangan besarnya mulai ia bawa untuk menyentuh jemari lentik sang istri. Ten benar-benar menolak, ia menghempaskan tangan besar Johnny dan duduk sedikit menjauh dari jangkauan suaminya.

Johnny bangkit dari duduknya dan berlutut tepat di hadapan Ten yang menangis sambil menundukan kepalanya. Tangan besar Johnny menyentuh bahu Ten yang masih nampak bergetar hebat, perlahan ia mulai menghapus jejak air mata yang berada di pipi chubby istrinya.

"Dengarkan aku dulu ya. Ini semua tak seperti yang kau pikirkan." Ucap Johnny.

"Aku tahu aku jadi gemuk dan jelek tapi kau tidak seharusnya selingkuh seperti itu hiks…." Ucap Ten. Ia menghentikan sejenak omongannya untuk mengambil nafas kemudian melanjutkannya kembali.

"Kau hiks…. Kau jahat John, aku menunggumu di rumah tapi kau malah bermain api dengan Kim Yerim itu hiks…." Lirih Ten ditengah tangisnya. Johnny menangkup wajah Ten dengan kedua tangannya hingga membuat pipi Chubby Ten sedikit tertekan dan saat ini netra indah keduanya saling bertemu pandang.

"Kau ingat sekarang tanggal berapa?" Tanya Johnny tiba-tiba. Ten yang masih menangis nampak memasang tatapan bingung.

"Du- dua puluh enam hiks…. Februari…." Ucap Ten. Johnny lantas menganggukkan kepalanya. Ia nampak merogoh sakunya dan mengambil kotak cincin yang sempat Ten lempar beberapa menit yang lalu. Dari tempat duduknya Ten dapat melihat dengan jelas di dalam sana terdapat cincin yang begitu indah dengan hiasan berlian berwarna biru di tengahnya.

"Sebenarnya aku akan memberikan ini di hari ulang tahunmu tapi karena kau salah paham lebih baik aku jelaskan sekarang." Ucap Johnny, ia mulai mengeluarkan cincin tersebut dan meraih salah satu tangan Ten untuk memakaikannya ke jari manisnya.

"Besok ulang tahunmu, aku membelikan cincin ini sebagai hadiah. Tapi karena ukuran tanganmu sedikit berubah aku meminta nomor ponsel Yerim untuk berjaga-jaga jika ukuran cincinnya tidak sesuai. Yerim itu salah satu pegawai di toko perhiasan yang aku datangi." Jelas Johnny, ia nampak mengecup lembut punggung tangan Ten setelah memakaikan cincin indah itu ke jari manis sang istri.

"Hiks… hiks…." Bukannya berhenti tangisan Ten malah semakin nyaring dari sebelumnya. Johnny pun membawa sang istri dalam dekapannya, mengelus lembut punggungnya dan mengecup singkat pucuk kepalanya hingga wangi shampoo yang Ten gunakan membaui penciuman Johnny.

"Maafkan aku…. Aku mengataimu pria jahat hiks…." Ucap Ten, ia semakin mengeratkan pelukannya pada Johnny dan berulang kali membisikkan kata maaf.

"Sudah ya. Ddalgi menendang perutmu terus sejak tadi karena kau tak berhenti menangis. Memangnya tidak sakit?" Ledek Johnny. Ten nampak mengerucutkan bibirnya dan menatap wajah Johnny.

"Sakit…." Manjanya pada sang suami. Akhirnya siang itu diisi dengan mereka berdua yang saling berbincang di ruang keluarga dengan tangan besar Johnny yang sibuk mengelus lembut perut Ten demi menenangkan ddalgi kecil mereka.

"Jadi kenapa kau pikir aku memiliki hubungan dengan Yerim?" Tanya Johnny, ia nampak begitu penasaran kenapa Ten bisa begitu emosional seperti beberapa jam yang lalu.

"Kau jadi aneh setelah kembali dari Busan." Ucap Ten, ia sibuk melingkarkan tangannya ke pinggang Johnny sehingga kepalanya bertumpu pada dada bidang sang suami.

"Aneh bagaimana?" Kekeh Johnny.

"Kau selalu pulang larut malam, kau juga sering tidur di ruang kerjamu. Lalu kau selalu menyingkir dariku saat menerima telepon. Bagaimana aku tidak curiga." Jelas Ten.

"Astaga…. Aku selalu pulang malam karena memang pekerjaanku sedang menumpuk, lalu ada kolega yang baru datang dari London dan dia mengajakku makan malam. Lalu aku selalu tidur di ruang kerjaku karena aku baru selesai memeriksa semua dokumen saat dini hari, jika aku naik ke kasur saat itu kau pasti akan terbangun dan ddalgi pasti terus mengganggumu." Jelas Johnny panjang lebar.

"Johnny…. aku mencintaimu, jangan coba-coba mencintai orang lain selain aku ya." Ucap Ten, kemudian ia mengecup sekilas bibir Johnny siang itu.

"Aku sangat sangat sangat mencintaimu." Balas Johnny, ia berbalik mencium bibir tipis sang istri dan sesekali melumatnya, seolah sebagai tanda perdamaian antara mereka berdua.

Malam ini akan diadakan after party karena produk yang baru saja diluncurkan oleh perusahaan Johnny sukses besar di pasaran. Sejak sore hari Ten telah sibuk mengobrak-abrik area walk in closet hingga membuat Johnny frustasi karena ia tak mau melihat Ten kelelahan setelah membenahi itu semua. Ten nampak begitu kesal, ia telah mencoba banyak gaun miliknya namun tak ada yang muat. Semuanya terlihat sempit dan berhasil membuat Ten memandang ke arah cermin dengan tatapan yang menjijikan seolah geli melihat penampilannya.

"Ten kau sedang apa?" Tanya Johnny. Ia baru saja memasuki area walk in closet dan nampak terkejut saat mendapati gaun Ten yang berceceran dimana-mana.

"Hiks…. Aku jadi jelek dan bulat bajuku tak ada yang muat lagi hiks…" Tangis Ten saat itu.

Johnny kira beberapa hari lalu adalah kali terakhirnya mendengar tangisan Ten, namun nyatanya hari ini istrinya itu kembali menangis hanya karena masalah yang bisa dibilang sepele. Ten nampak menangis tersedu-sedu karena semua gaun kesayangannya tak ada yang bisa digunakan lagi. Johnny lantas mendekati Ten dan menuntun wanita itu untuk duduk di salah satu kursi yang ada di area walk in closet mereka.

"Kau sedang hamil wajar jika terlihat sedikit berisi. Kau masih tetap cantik Ten tak ada yang berubah." Ucap Johnny, jarinya mulai terulur untuk menghapus lelehan air mata yang keluar dari manik indah sang istri.

"Hiks…. Aku tak bisa menemanimu pergi." Ucap wanita itu disela-sela tangisnya.

"Siapa bilang? Aku akan tetap pergi denganmu." Balas Johnny seraya mengecup lembut kening Ten sore itu.

Setelah sang istri puas menangis, Johnny mengajak Ten untuk pergi ke salah satu butik yang terkenal dengan koleksi gaun-gaun indahnya. Johnny melakukan itu demi menghibur istrinya yang terlihat sendu dan tak bersemangat hanya karena gaun-gaun kesayangannya tidak bisa lagi digunakan.

Johnny nampak tengah menunggu Ten memilih gaunnya, dari tempatnya duduk saat ini Johnny jelas dapat melihat bagaimana rona kebahagiaan terpancar dari wajah cantik istrinya, bahkan sesekali wanita itu terlihat bercanda dengan seorang pegawai butik yang menemaninya. Setelah cukup lama memilih akhirnya Ten menjatuhkan pilihannya pada sebuah gaun warna putih berbahan lace lembut dengan detail rumit yang terlihat indah. Gaun itu memiliki panjang dibawah lutut dengan lengan sampai batas siku. Saat Ten keluar dari fitting room dengan wajah yang berbinar, Johnny nampak tersenyum lembut padanya. Siapa orang yang berani mengatai wanitanya jelek, jelas-jelas Ten serupa dengan bidadari, pikir Johnny.

"Tidak bagus ya?" Tanya Ten saat mendapati Johnny hanya terdiam di hadapannya.

"Bagus…. Sangat cocok untukmu sayang." Ucap Johnny. Ten pun tersenyum dan berhambur ke pelukan suaminya itu. Johnny memang yang terbaik, pria itu jelas selalu tahu bagaimana caranya mengatasi segala kegundahan yang menghinggapi istrinya, bagaimanapun bentuknya.

Setelah selesai dengan urusan gaun, saat ini Ten dan Johnny telah berada di salah satu salon yang berada di pusat Kota Seoul. Tentu saja itu semua permintaan Ten, wanita itu menolak keras untuk memoles wajahnya seorang diri dan meminta Johnny membawanya ke salon yang biasa Ten kunjungi. Johnny sendiri nampak hampir siap, ia telah mengenakan kemejanya sejak tadi, tuksedo yang akan ia gunakan telah tergantung rapi di mobilnya, lengkap dengan dasi dan juga sepatu di dalam sana.

Acara after party yang dilakukan perusahaan Johnny diadakan di ballroom mewah salah satu hotel yang berada di Seoul. Beberapa orang nampak mulai berdatangan. Johnny terlihat sudah amat siap dengan penampilannya. Tubuh kekarnya berbalut kemeja putih yang dipadu dengan tuksedo hitam dan sepatu dengan warna yang senada. Sedangkan Ten nampak berdiri anggun dengan gaun indahnya dan heels yang ia gunakan, tenang saja malam ini Ten hanya mengenakan sepatu dengan heels setinggi lima centi. Itupun melalui perdebatan panjang dengan Johnny terlebih dahulu.

Ten dan Johnny yang berjalan berdampingan nampak menjadi pusat perhatian dari para tamu undangan. Mereka jelas mengagumi paras indah dua insan muda yang tengah dimabuk asmara itu. Ten sesekali melemparkan senyumnya pada para undangan, wanita itu juga terlihat akrab dengan beberapa kolega bisnis Johnny, bukankah itu sebuah keterampilan yang harus ia miliki mengingat seberapa ulung suaminya dalam berbisnis.

Acara usai hampir tengah malam, Ten yang telah berada di mobil untuk perjalanan pulang nampak sesekali meringis karena sensasi pegal yang menjalar dari kakinya. Bahkan saat ini wanita itu telah menanggalkan alas kakinya dan berharap Johnny mengemudi lebih cepat agar ia bisa segera berbaring di kasur empuk mereka.

"Seharusnya kau mendengarkan perkataanku tadi, siapa yang menyuruhmu mengenakan sepatu seperti itu. Aku juga berkali-kali menyuruhmu duduk saat di pesta tadi, malah sibuk kesana-kemari." Ucap Johnny, saat ini ia tengah merendam kaki Ten dengan air hangat karena kaki kecil istrinya itu terlihat membengkak setelah kejadian beberapa jam yang lalu.

"Selalu saja menyalahkanku, menyebalkan sekali." Ucap Ten dengan bibir yang mencebik lucu.

Setelah sekitar sepuluh menit merendam kakinya, Ten lantas bangkit dan berniat mengganti pakaiannya. Tubuhnya benar-benar tak karuan, bahkan rasanya ia lebih lelah daripada saat bekerja seperti biasanya. Belum lagi ddalgi yang nampak rewel sejak tadi. Sejak kehamilannya memasuki bulan keenam ddalgi cukup membuat Ten kerepotan. Bahkan beberapa hari yang lalu Ten sempat menangis karena ia tak bisa tidur selama empat jam lamanya. Semuanya tentu saja karena ulah ddalgi kecil mereka yang selalu menendang perut Ten sampai perut itu terasa tegang dan mengencang.

"Johnny Seo…. Anakmu luar biasa, sepertinya aku tak akan tidur lagi malam ini." Keluh Ten yang telah siap dengan posisi berbaring dengan bantal yang ditinggikan. Ia membuka piyama bagian perutnya dan menunjukkan pada Johnny bagaimana ddalgi kecil mereka yang bergerak kesana kemari. Johnny ikut duduk di sebelah sang istri, ia mengelus lembut perut besar itu perlahan seraya sesekali mengecupnya. Ddalgi yang mengerti jika sedang dimanja oleh sang ayah terlihat bertambah girang dan semakin membuat Ten meringis kesakitan.

"Ddalgi-ya…. Saat besar nanti mau jadi seperti mama atau daddy?" Johnny nampak mengajak bayi kecil mereka berbicara dan berhasil membuat Ten tertawa.

"Jadi seperti mama saja ya, lebih menyenangkan. Ddalgi kan sudah sangat biasa dengan kamera." Ucap Ten seraya mengelus lembut perut besarnya.

"Jangan jadi seperti mama, mama sering menangis karena pekerjaannya." Kekeh Johnny. Ten nampak memandang tak terima mendengar perkataan suaminya itu, walaupun ada benarnya juga apa yang ia katakan.

Ddalgi tetap bergerak kesana-kemari bahkan sesekali menendang perut Ten sampai kaki kecilnya tercetak sempurna di perut sang mama. Ten terlihat mulai frustasi, berbeda dengan Johnny yang masih nampak tenang dan mengelus lembut perut Ten dengan gerakan memutar.

"Hiks…. Aku mengantuk John, aku ingin tidur…." Lirih Ten, ia mulai menangis karena tubuhnya benar-benar lelah, jangan lupakan juga pinggulnya yang terasa ditekan beban yang amat berat.

"Hush…. Jangan menangis, ddalgi bisa mendengarmu." Ucap Johnny. Jalan terakhir yang mereka lakukan adalah memperdengarkan music pada ddalgi kecil mereka, Johnny terlihat menempelkan headphone ke perut Ten dan lama kelamaan gerakan ribut ddalgi kecil mereka ikut mereda bersamaan dengan Ten yang memejamkan mata dan terlihat damai dalam tidurnya.

"Mimpi indah sayang…." Ucap Johnny dengan sebuah kecupan mesra yang ia daratkan di kening istrinya.