13. Chicago and You
Hari ini adalah hari terakhir Ten bekerja. Wanita itu tampak baru saja menyelesaikan sesi interview terakhirnya untuk sebuah majalah. Ia yang merasa tubuhnya sudah cukup pegal lantas memilih untuk segera menepi ke ruang istirahat. Sesampainya disana Ten dikejutkan dengan beberapa staf dan Doyoung yang nampak bersorak untuknya. Doyoung berjalan ke arah Ten dan memakaikannya mahkota sedangkan beberapa staff lainnya nampak memberikan bouquet bunga yang indah untuknya. Ten terlihat mulai menangis sesegukan, ia tak menyangka jika banyak sekali orang yang menyayanginya dan ddalgi kecilnya.
"Kenapa menangis? Kau harusnya bahagia ini hari terakhirmu bekerja sebelum kembali lagi setelah ddalgi lahir." Ucap Doyoung, ia menyodorkan selembar tissue pada Ten dan disambut baik oleh wanita hamil itu.
"Sudah sudah…. Jangan menangis ya, nanti ddalgi akan ikut sedih jika mamanya menangis." Ucap salah seorang staff wanita yang berwajah keibuan, ia mulai mendekat ke arah Ten dan memeluk wanita itu erat-erat.
"Kau harus selalu sehat, kami sangat menunggu kelahiran ddalgi." Ucap salah satu staf lainnya dengan semangat.
Ten kembali ke rumah dengan perasaan bahagia, pasalnya hari ini ia mendapatkan banyak hadiah sampai bagasi mobil Doyoung terlihat penuh. Beberapa dari mereka ada yang memberikan Ten cookies kesukaannya ada juga yang memberikannya pakaian dan perlengkapan bayi, sepertinya saat ddalgi lahir nanti Ten tak perlu repot-repot menambah koleksi pakaian anaknya.
Doyoung baru saja melesat pergi dari kediaman Ten dan Johnny setelah sebelumnya menata barang-barang Ten di ruang tamu rumah besar itu. Ten sendiri saat ini tengah bersandar di sofa ruang keluarga, ia menunggu Kim ahjumma membawakannya air hangat untuk mengompres kakinya yang bengkak. Dengan hati-hati wanita tua itu membantu Ten merendam kakinya seraya sesekali mengelusnya lembut. Ia jelas amat menyayangi Ten seperti anaknya sendiri, sebenarnya Kim ahjumma sudah bekerja pada Ten sejak wanita cantik itu masih melajang, saat itu Ten meminta tolong pada Kim ahjumma untuk merapikan apartemennya, lama-kelamaan mereka semakin akrab, bahkan Ten tak segan lagi meminta wanita tua itu membuatkannya kimchi lobak kesukaannya.
"Terima kasih ahjumma." Ucap Ten dengan senyuman cerah. Si wanita tua nampak mengangguk dan balas tersenyum lembut pada Ten.
"Ah iya ahjumma, hari ini aku mendapatkan banyak kue dan cookies. Sebelum pulang nanti ahjumma ambil ya, tolong berikan pada Minji." Ucap Ten, Minji adalah cucu perempuan satu-satunya dari wanita tua itu, saat Ten masih melajang dulu Minji kerap kali ikut Kim ahjumma saat merapikan apartemen Ten dan mereka berdua sering bermain bersama, namun sekarang ia tak pernah lagi mengekor pada neneknya karena anak manis berambut pendek itu sudah duduk di bangku sekolah dasar sejak satu tahun yang lalu.
"Wah terima kasih banyak ya, Minji pasti akan sangat menyukainya." Balas Kim ahjumma.
Kim ahjumma melanjutkan kembali kegiatannya membersihkan rumah, meninggalkan Ten yang nampak terkekeh karena tengah bermain bersama Louis dan Leon di ruang keluarga tentu saja setelah ia meminta izin pada Johnny melalui panggilan video beberapa menit lalu. Ten terlihat tertawa saat Louis menempelkan cat paw nya ke perut besar Ten dan dibalas tendangan kecil dari ddalgi. Ten sungguh gemas dengan kucing-kucingnya, sepertinya Kim ahjumma merawatnya dengan baik. Lihat saja bagaimana tubuh mereka yang gempal dengan bulu yang halus dan bersih, benar-benar menggemaskan.
"Louis sepertinya ddalgi menyukaimu." Kekeh Ten, pasalnya ddalgi terus bergerak kesana kemari saat Louis menempel di perutnya.
Malam itu saat makan malam Johnny dikejutkan dengan keinginan istrinya yang di luar nalar. Bahkan menurut Johnny ini lebih merepotkan daripada Ten yang menyuruhnya berolahraga atau mandi pada waktu dini hari. Kali ini Ten meminta pada Johnny untuk membawanya ke Chicago, tempat kelahiran pria tinggi yang berstatus sebagai suaminya itu. Sedikit cerita, Johnny memang lahir dan besar di Chicago begitupun dengan kakaknya, namun kedua orang tua Johnny warga asli Korea, mereka juga memiliki tempat tinggal di Korea yang menurut Ten cukup megah dan mewah. Di beberapa kesempatan kedua orang tua itu sering menghabiskan waktu di Chicago hanya untuk sekedar berlibur atau bernostalgia tentang kenangan lama saat anak-anak mereka masih kecil dulu.
Secara hukum seharusnya Johnny merupakan warga negara Chicago karena negara Amerika menganut hukum ius soli untuk semua bayi yang lahir di negaranya. Namun sejak beberapa tahun lalu Johnny telah mengurus pemindahan kewarganegaraannya terlebih karena ia lebih sering menetap di Korea untuk pekerjaannya. Untuk Ten, wanita itu memang memiliki darah campuran Korea-Thailand, ibunya warga negara Thailand yang memilih untuk berpindah kewarganegaraan menjadi warga Korea setelah menikah dengan ayah Ten, jadilah Ten warga Korea seutuhnya.
Sebulan yang lalu kedua orang tua Johnny memang memutuskan untuk menepi sejenak dari hingar-bingar Seoul dan memilih untuk menghabiskan waktu di Chicago. Sampai sekarang mereka masih berada disana, terlebih setelah ayah Johnny pensiun dari pekerjaannya mereka kerap kali menghabiskan waktu yang panjang di negara dengan julukan the windy city itu.
"Boleh ya…. Kita ke Chicago." Mohon Ten pada Johnny malam itu.
"Untuk apa sayang? Disini saja." Ucap Johnny, dia mulai terlihat frustasi mengingat Ten sangat sulit dibantah akhir-akhir ini.
"Aku mau bertemu appa dan eomma. Ddalgi sudah sangat merindukan halmeoni dan harabeoji nya tahu." Ucap Ten dengan bibir yang mengerucut dan mengelus perut buncitnya.
"Eomma dan appa akan kembali ke Korea bulan depan, kau bisa bertemu dengan mereka disini." Ucap Johnny berusaha membujuk istrinya.
"Tapi aku mau ke Chicago. Aku ingin tahu bagaimana kau menghabiskan masa mudamu disana." Jawab Ten. Johnny hampir saja menyemburkan minumannya setelah mendengar jawaban dari istrinya itu, Ten memang selalu berkelit dengan berjuta alasan akhir-akhir ini.
"Pokoknya aku ingin kesana, ddalgi akan sangat sedih jika tak bisa sampai kesana." Ucap Ten.
"Baiklah. Kita harus berkonsultasi dengan Wendy dulu soal ini, jika menurutnya tidak boleh berarti jawabanku akan sama sepertinya." Jelas Johnny, Ten hanya mengangguk menanggapi perkataan suaminya malam itu.
Wendy dengan teliti memeriksa setiap detail dari ddalgi, dokter cantik itu juga mulai memanggil janin Ten dengan sebutan ddalgi setelah Ten bercerita padanya jika ia baru saja memberikan nama untuk janinnya beberapa bulan lalu.
"Ddalgi sangat sehat, lihat! Sepertinya anak kalian benar-benar mewarisi tubuh sang ayah." Kekeh Wendy saat mengetahui sebesar apa bobot ddalgi yang baru berusia 27 minggu.
"Pasti jam tidurmu sangat berkurang ya Ten-ssi, ddalgi benar-benar aktif." Ucap Wendy, netra indahnya masih sibuk menatap lekat ke arah monitor seraya tangganya menggerakkan transducer di permukaan perut buncit Ten.
"Begitulah, ddalgi selalu menari setiap malam." Kekeh Ten.
Setelah sesi USG berakhir Ten dengan semangat berkonsultasi pada Wendy tentang apa yang ia alami di kehamilan yang berusia enam bulan. Ten menceritakan tentang banyak hal mulai dari kakinya yang sering bengkak karena terlalu lelah berdiri, bagaimana kakinya yang kesemutan, pinggul nya yang nyeri luar biasa, sampai nafsu makannya yang berlipat ganda. Wendy nampak tersenyum mendengar Ten yang nampak begitu antusias. Setelahnya dokter wanita itu memberikan beberapa solusi untuk permasalahan yang Ten alami dan ia juga nampak meresepkan multivitamin untuk Ten konsumsi nantinya.
"Hum…. jika dilihat dari kondisi Ten dan ddalgi mereka berdua sangat sehat, boleh-boleh saja jika ingin naik pesawat. Lagipula di trimester kedua bisa dikatakan sebagai waktu teraman untuk para ibu bepergian dengan pesawat." Jelas Wendy setelah Johnny menanyakan hal yang sejak tadi menempel di otaknya. Ten yang merasa jika Wendy berada di pihaknya lantas menjulurkan lidahnya ke arah Johnny karena itu artinya ia akan benar-benar pergi ke Chicago setelah ini.
Ten sudah mengantongi izin terbang dari Wendy namun tetap saja Johnny merasa khawatir apalagi jika diingat kembali penerbangan dari Korea ke Chicago menghabiskan waktu 16 jam lamanya. Johnny sudah bisa memprediksi jika istrinya itu pasti akan mengeluh tubuhnya pegal-pegal saat di pesawat nanti.
"Astaga…. Katakan pada Ten eomma dan appa akan segera kembali ke Korea. Kalian tidak perlu menyusul kemari." Itu suara ibu Johnny, pria tinggi itu memutuskan untuk menghubungi sang ibu untuk meminta pendapatnya.
"Ten menolak eomma, ia benar-benar ingin kesana." Balas Johnny.
"Ia pasti akan kelelahan setelah terbang nanti apalagi kehamilannya sudah memasuki minggu ke-27."
"Hum…. aku juga sudah mengatakan padanya, tapi ia keras kepala, eomma tahu sendiri bagaimana Ten akhir-akhir ini." Ucap Johnny, ia berbincang dengan sang ibu seraya menikmati pemandangan malam dari balkon kamarnya.
"Yasudah lebih baik kau izinkan saja, lagipula dokter kandungannya juga sudah mengizinkan kan?" Tanya ibu Johnny memastikan.
"Baiklah, sepertinya aku dan Ten akan kesana seminggu lagi, see you soon mom…."
"See you soon boy…."
Setelah berjuang cukup lama akhirnya Ten dan Johnny mendarat dengan selamat di Chicago International Airport. Sepasang suami istri itu nampak menunggu kedatangan kedua orang tua Johnny untuk menjemput mereka. Dugaan Johnny seratus persen akurat, pasalnya Ten mulai mengeluh badannya pegal-pegal sejak turun dari pesawat, wanita itu bahkan saat ini terlihat sendu dan tak bersemangat sangat berbeda dengan Ten saat baru akan berangkat.
Johnny duduk di sebelah sang ayah yang mengemudikan mobil mereka, sedangkan Ten duduk di belakang dan terlihat tengah bersandar di bahu ibu mertuanya. Ibu dari Johnny itu tak henti-hentinya memandang wajah menantunya, ternyata benar apa yang Johnny katakan Ten terlihat semakin menawan seiring dengan bertambahnya usia kandungannya. Wanita tua itu bahkan terlihat gemas saat pipi chubby menantunya yang nampak memerah karena diterpa dinginnya udara malam Chicago.
"Ya ampun ddalgi benar-benar aktif ya." Ucap nyonya Seo, ia nampak terkejut saat melihat perut bulat menantunya yang bergerak kesana kemari sejak tadi. Tangannya yang keriput mulai mengelus lembut perut besar menantunya dengan gerakan memutar dan dibalas tendangan kecil dari ddalgi ke perut ibunya.
"Ini gerakan biasa eomma, kalau malam ddalgi akan menari." Ucap Ten yang dihadiahi gelak tawa dari mertunya.
"Dulu saat eomma mengandung Johnny juga dia seperti ini, tapi tak selincah ddalgi." Jelas nyonya Seo.
"Benarkan kataku, ddalgi bertingkah sama sepertimu." Ledek Ten pada Johnny.
"Eomma membuatku malu saja." Ucap Johnny yang dihadiahi gelak tawa dari semua orang yang berada di mobil malam itu.
Ten yang kelelahan memutuskan untuk berendam dengan air hangat sejak beberapa menit yang lalu, Johnny juga nampak berada di belakangnya dan tengah mengelus lembut bagian pinggul Ten yang menurut wanita itu terasa amat berat.
"Ten kita sudah disini tak mau sekalian berbuat-"
"Yak jaga ucapanmu ya, aku sedang lemah seperti ini kau masih saja mencari kesempatan." Ucap Ten sedikit emosi pasalnya akhir-akhir ini Johnny memang sedikit sulit mengendalikan hormonnya.
"Aku hanya bercanda." Kekeh Johnny.
"Shhh…. Huu…. Huuu…." Ten nampak meringis dan menghembuskan nafas perlahan seperti yang diajarkan di kelas yoga yang ia ikuti beberapa hari yang lalu. Pasalnya ddalgi belum berhenti bergerak sejak tadi sepertinya bayi kecil itu amat gembira dengan euphoria Chicago yang merupakan kota kelahiran ayahnya.
"Sakit lagi?" Tanya Johnny, ia nampak khawatir karena ini kesekian kalinya Ten meringis dan menarik nafas dalam sejak kedatang mereka beberapa jam yang lalu.
"Hanya nyeri biasa, jangan khawatir." Ucap Ten. Perlahan ia mulai bersandar ke dada bidang Johnny yang ada di belakangnya. Kulit punggung Ten yang halus dan lembut nampak bertemu langsung dengan kulit dada Johnny yang terasa hangat karena Johnny menanggalkan atasannya. Lagipula mereka berdua tidak sepenuhnya telanjang, Johnny masih mengenakan celana pendeknya dan Ten juga masih mengenakan bra dan celana dalamnya. Johnny mulai mengelus lembut perut besar istrinya, berusaha membuat ddalgi lebih tenang karena sejak tadi Ten sudah cukup kewalahan dengan ddalgi yang bergerak kesana kemari.
"Ddalgi-ya…. Kita sedang di tempat kelahiran daddy, tapi kau jangan berani-berani lahir disini okay?" Ucap Ten seraya terkekeh.
"Kalau dia mau lahir disini juga bagaimana?" Tanya Johnny.
"Kau mau anakmu premature, kita kan disini hanya seminggu. Kertas-kertas di ruang kerjamu itu juga harus segera kau cumbu tahu." Ucap Ten sedikit bercanda.
"Jangan bicara kasar, ddalgi bisa mendengarnya." Kekeh Johnny.
"Kenapa sangat ingin pergi kesini? Bukankah saat perutmu sudah sebesar ini akan lebih baik jika berbaring di rumah seharian." Tanya Johnny setelah mereka berdua cukup lama terdiam.
"Karena ini kota kelahiranmu." Jawab Ten singkat.
"Maksudnya?" Johnny nampak tidak paham dengan jawaban yang Ten berikan.
"Karena kau pernah menghabiskan masa mudamu disini jadi semua hal tentang Chicago adalah dirimu." Jawab Ten, ingatkan Ten untuk mencubit dirinya sendiri setelah mengeluarkan kata-kata semacam itu.
"Ewh…. So cheesy Mrs. Seo, but I love you."
"I love you too Mr. Seo."
Setelahnya Johnny nampak melumat lembut bibir Ten yang berwarna semerah cherry. Kali ini bukan lumatan penuh nafsu yang biasa mereka lakukan tiap malam, namun lumatan manis yang menggambarkan seberapa besar rasa cinta mereka berdua.
