14. Johnny The Explorer
Ten nampak bersemangat pagi ini, ia baru saja menyelesaikan sarapan dan tengah berbincang dengan ibu mertuanya seraya membantu wanita tua itu membersihkan piring kotor yang baru saja mereka gunakan untuk sarapan. Mulanya nyonya Seo menolak permintaan Ten, namun Ten begitu memaksa dan tak bisa dibantah jadilah ia membiarkan menantu cantiknya itu membersihkan tumpukan piring kotor yang cukup menjulang di wastafel.
"Hari ini akan kemana?" Tanya nyonya Seo membuka pembicaraan.
"Hum…. belum tahu eomma. Johnny bilang kami baru akan keluar saat siang tiba." Jelas Ten, nyonya Seo lantas mengangguk mendengar jawaban dari menantu cantiknya itu.
"Banyak yang bisa dikunjungi disini. Ajak saja Johnny kemanapun kau mau, dia sudah hapal kota ini di luar kepala." Jelas nyonya Seo seraya terkekeh, kembali mengingat betapa Johnny remaja amat sering berkeliaran di luar rumah bersama teman sebayanya.
"Pria itu benar-benar jahat eomma, ia terus melarangku datang kemari dan membual jika Chicago itu tidak menyenangkan." Jawab Ten dengan bibir yang mengerucut lucu.
"Jangan begitu, ia hanya mengkhawatirkanmu dan ddalgi." Ucap wanita tua itu dengan suara yang lembut.
Ten yang baru saja selesai mencuci piring kotor terlihat tengah menata piring ke tempat semula. Ia terlihat begitu cekatan walaupun selama ini Johnny selalu melarangnya melakukan apapun di rumah.
"Sudah selesai ya? Lebih baik istirahat lagi saja, Johnny bilang kau baru tertidur pukul dua dini hari karena ddalgi terus menendang." Ucap nyonya Seo.
"Hum…. ddalgi sepertinya senang kami berada disini, kalau begitu aku akan ke kamar dulu eomma. Terima kasih makanannya." Ucap Ten, ia sedikit membungkukkan tubuhnya dan berlalu dari hadapan sang ibu mertua.
Johnny terlihat tertidur lelap di kasur besar yang ada di kamar lamanya. Sebenarnya semalam pria tampan itu tidur dengan perasaan tak tenang pasalnya dalam tidurnya ia terus mendengar Ten yang merintih karena anak mereka yang begitu aktif sejak tiba di Chicago, jadilah sepasang suami istri itu baru benar-benar memejamkan mata pada pukul dua dini hari. Tak butuh waktu lama netra indah Ten nampak terpejam, lagipula ia tak bisa menipu dirinya sendiri karena sebenarnya punggungnya terasa amat panas sejak bangun tidur tadi.
Ten menggerakkan bola matanya saat merasakan seseorang tengah mengecupi wajah dan perut besarnya. Saat matanya terbuka sempurna Ten mendapati Johnny yang tengah memandang ke arahnya dengan senyuman indah yang menghiasi wajah tampannya. Sebenarnya hal seperti itu merupakan kebiasaan Johnny sejak lama, namun tetap saja Ten merasa risih jika dipandangi demikian oleh Johnny.
"Aku jelek ya? Kenapa kau memandangku seperti itu?" Ucap Ten.
"Siapa yang bilang? Kau selalu cantik menurutku." Balas Johnny. Pria tinggi itu amat paham tentang istrinya yang merasa rendah diri akhir-akhir ini. Wanita itu merasa tubuhnya benar-benar bengkak dan ia tak menarik lagi. Beberapa kali Johnny mendapati Ten yang duduk di walk in closet mereka dan meratapi baju-bajunya yang tak bisa lagi ia kenakan. Bahkan tak jarang Ten meratap sampai menangis dan berhasil membuat Johnny panik.
"Aku seperti paus ya John?" Tanya Ten tiba-tiba.
"Kenapa harus paus?" Kekeh Johnny.
"Aku sangat besar." Balas Ten seraya mengerucutkan bibirnya.
"Di dalam tubuhmu ada manusia lain yang sedang bertumbuh, jadi wajar jika tubuhmu berubah. Jangan begitu lagi ya, ddalgi pasti akan sedih jika mendengarnya." Ucap Johnny, ia mulai membawa Ten dalam dekapannya dan mengelus lembut surai hitamnya dengan sayang. Ten terlihat mengangguk dalam pelukan Johnny, setidaknya ia tahu saat ia selalu risau dengan permasalahan hidupnya akan selalu ada Johnny yang menenangkannya, rasanya Ten benar-benar tak menyesal menerima pinangan dari pria itu dulu.
"Eomma bilang kau sudah hafal Chicago di luar kepala. Ayo ajak aku dan ddalgi jalan-jalan." Ucap Ten.
"Mau kemana?" Tanya Johnny.
"Kemana saja, aku tak tahu apa saja yang ada disini. Jadi ajak aku dan ddalgi berpetualang ya!" Balas Ten semangat.
Ten dan Johnny memulai perjalanan mereka mengelilingi Chicago yang nampak begitu indah di siang hari. Johnny sempat mengatakan pada Ten jika ada begitu banyak tempat wisata yang dapat mereka kunjungi, letaknya juga tidak terlalu jauh. Namun mengingat Ten yang mudah kelelahan mungkin Johnny hanya akan membawanya ketiga lokasi berbeda supaya tidak terlalu menguras fisik wanita hamil itu.
Karena cuaca yang terbilang cukup terik, siang ini Ten memutuskan untuk mengenakan maternity dress berbahan lembut dengan warna merah muda yang bermotif polkadot, ia juga membawa tas kecil yang ia sampirkan di bahunya. Sedangkan Johnny pria itu nampak mengenakan kaos berwarna putih yang dipadu dengan celana jeans dan sepatu kets yang berwarna senada dengan pakaiannya. Mereka berdua nampak baru saja keluar dari mobil dan tengah berjalan menuju tempat tujuan. Tempat yang mereka kunjungi adalah Navy Pier, Johnny bilang itu adalah salah satu destinasi yang Wajib dikunjungi oleh para pelancong. Navy Pier merupakan dermaga yang memiliki panjang 1.010 meter dan dikenal dengan adanya perayaan atau pesta musiman, serta terkadang sering diadakan pesta kembang api saat malam hari. Ten nampak begitu antusias melihat banyak orang yang nampak saling berbincang, jangan lupakan juga di sepanjang jalan Navy Pier yang terlihat begitu ramai karena diisi oleh restoran ataupun toko oleh-oleh untuk menarik minat wisatawan.
"Mau naik itu…." Tunjuk Ten pada sebuah water taxi yang nampak masih menepi di sebuah dermaga dan terlihat hanya ada beberapa penumpang di dalamnya.
"Kajja!" Johnny menarik tangan Ten untuk mengajaknya membeli tiket, dan dari sanalah perjalanan mereka dimulai.
Ten terlihat duduk tenang di perahu dengan tangannya yang sibuk memainkan ponselnya, ia tengah memotret dan merekam beberapa video, katanya ingin menyimpannya sebagai kenangan dan akan menunjukkan pada ddalgi sebagai bukti jika bayi kecil mereka pernah berlibur di Chicago saat masih dalam perut ibunya.
"Kau tidak pernah bilang ada tempat seperti ini di Chicago?" Ucap Ten.
"Kau saja tidak pernah bertanya." Ledek Johnny.
"Johnny…. ddalgi suka sekali disini." Ucap Ten, ia meraih tangan besar Johnny dan dan membawanya ke permukaan perut besarnya. Johnny nampak tersenyum siang itu, ia jelas merasakan jika ddalgi menendang dan memberikan gerakan lembut yang menenangkan di perut Ten.
Tempat kedua yang mereka kunjungi adalah Cloud Gate, mungkin sebagian orang lebih mengenalnya dengan sebutan The Bean. Panggilan itu disematkan bukan tanpa alasan, pasalnya Cloud Gate memiliki bentuk seperti kacang. Dan sampai saat ini The Bean masih jadi destinasi wisata favorit bagi para pelancong terutama yang hendak berswafoto karena patung public tersebut akan memantulkan gambaran Kota Chicago yang terlihat indah.
Ten bersikeras mengajak Johnny melakukan swafoto bersama. Sesekali wanita itu tertawa saat mendapati ekspresi suaminya yang belum siap dengan jepretan kamera. Dan Johnny yang gemas hanya bisa mengacak rambut istrinya sampai sang pemilik merajuk karena rambutnya yang jadi berantakan.
"Aku lapar…." Ucap Ten.
"Ingin makan sesuatu?" Tanya Johnny.
"Chicago deep dish pizza." Ucap Ten semangat.
"Woah, kau tau itu?" Johnny nampak keheranan pasalnya ia belum menceritakan pada Ten makanan apa yang harus ia cicipi saat berkunjung ke Chicago.
"Aku lihat disini." Ten terkekeh seraya menunjukkan peta yang sempat ia ambil saat di pusat kota.
Johnny membawa Ten ke Lou Malnati's Pizzeria, bisa dibilang tempat itu merupakan restoran pizza yang paling terkenal di Chicago, wajar saja makanan disana benar-benar tak pernah mengecewakan bahkan bisa dibilang semua menu mereka selalu mendapatkan penilaian yang cukup tinggi di situs zomato yang populer bagi para pecinta makanan. Ten jelas meneguk ludahnya saat seorang pelayan menyajikan pizza di hadapannya. Johnny rasanya ingin tertawa, Ten benar-benar mirip dengan Louis Leon saat tengah menunggu Kim ahjumma menuangkan makanan mereka.
"Its swoo dewliwcioss…." Ucap Ten dengan mulut yang penuh pizza, bahkan jejak saus tomat masih nampak menempel di ujung bibirnya.
"Telan dulu telan. Aku tak akan ambil bagianmu." Ledek Johnny.
"Apa yang seperti ini dijual di Korea?" Tanya Ten.
"Seingatku ada satu yang enak di Korea, aku pernah membelinya beberapa tahun lalu." Balas Johnny.
"Woah luar biasa aku belum pernah makan pizza seunik ini." Ucap Ten, ia nampak mengambil potongan baru pizza dan memandangnya dengan mata yang berbinar cerah seolah baru saja menemukan harta karun.
"Sudah lebih baik?" Tanya Johnny, ia nampak duduk di tepi kasur dan menatap khawatir pada Ten yang terlihat duduk tegak dengan tumpukan banyak bantal di belakangnya. Ten terlihat mengangguk seraya mengurut pelan bagian dadanya. Jadi setelah puas berkeliling Chicago Ten mengeluh jika nafasnya sedikit sesak. Sebenarnya itu hal yang wajar mengingat kehamilan Ten telah memasuki penghujung trimester kedua, jadi ddalgi tengah bertumbuh dengan sangat pesat.
"Mau berendam air hangat?" Tawar Johnny, pasalnya Ten juga mengeluh jika pinggulnya seperti ingin dipatahkan beberapa menit lalu.
"Tunggu sebentar, aku masih mau seperti ini." Ucap Ten.
"Siapa yang menyuruhmu menghabiskan semua pizzanya." Kekeh Johnny. Ia ingat dengan jelas bagaimana Ten hampir menghabiskan seloyang pizza disaat Johnny hanya makan dua potong, itupun masih direbut oleh istrinya disaat terakhir.
"Menyebalkan sekali." Ucap Ten mendengus sebal.
"Kalau sudah ingin mandi hubungi aku, aku akan menemui eomma sebentar." Ucap Johnny, ia mengecup lembut kening Ten kemudian berlalu pergi menuju kedua orang tuanya yang tengah memanggang daging sejak tadi.
"Ten bagaimana? Sudah baikan?" Tanya nyonya Seo, pasalnya ia melihat dengan jelas bagaimana menantu cantiknya itu kesulitan menggapai udara sejak turun dari mobil tadi.
"Sudah lebih baik, tapi masih ingin berbaring katanya." Jelas Johnny.
Saat jam makan malam Ten terlihat turun dari lantai dua dan bergegas menuju ke meja makan. Di meja itu telah tersaji daging panggang dan berbagai menu pelengkap lainnya. Jika saja ia tadi tak kekenyangan mungkin Ten bisa menghabiskan itu semua, pikir wanita cantik itu. Ten yang makan dengan porsi yang bisa dikatakan sedikit membuat Johnny bertanya-tanya, kemanakah istrinya yang biasanya datang dengan nafsu makan yang berlimpah.
"Ten…. Sedikit sekali, ayo nikmati lagi." Ucap nyonya Seo.
"Ani eomma, perutku sudah penuh." Ucap Ten dengan senyuman canggung.
Sebenarnya sejak ditinggal oleh Johnny seorang diri di kamar beberapa jam yang lalu Ten terus menerus bersendawa karena perutnya yang terasa begah. Berterima kasihlah pada deep dish pizza yang membuat Ten lupa diri saat sore tadi.
"Ini…." Johnny menyodorkan segelas air putih pada Ten yang terus menerus bersendawa. Saat ini mereka telah berada di kamar, Ten tengah merendam kakinya yang membengkak dengan air hangat dan Johnny yang berada di belakangnya nampak memijat lembut punggung Ten.
"Mau air lagi…." Ucap Ten, ia menyodorkan gelas yang sudah kosong pada Johnny dan membuat pria tinggi itu mengisinya kembali dengan air mineral.
"Setelah ini aku pasti akan ke kamar mandi terus-menerus." Ucap Ten. Johnny yang mendengar hanya terkekeh, ucapan istrinya itu ada benarnya juga mengingat berapa banyak air mineral yang telah masuk ke tubuhnya.
"Wanita yang kau rangkul di buku tahunan itu kekasihmu ya?" Tanya Ten tiba-tiba, ia baru ingat jika sempat melihat-lihat buku tahunan sekolah Johnny beberapa jam lalu. Ten sampai membuat nyonya Seo gemas karena menantunya itu sibuk menertawakan foto lama Johnny yang menurutnya lucu.
"Bukan. Itu Barbara dia tetanggaku dulu. Sekarang tinggal di Perancis bersama suami dan dua anaknya." Jelas Johnny.
"Ah begitu rupanya…. Sudah John, bantu aku berbaring." Ucap Ten, ia meminta Johnny menghentikan pijatannya untuk membantunya mengatur posisi berbaring.
Dan malam itu karena terlalu lelah Ten tertidur dengan begitu mudahnya, ia nampak telah memejamkan mata dengan headphone yang menempel di perut besarnya, Tentu saja untuk menenangkan ddalgi supaya tidak mengganggu tidur cantiknya.
