15. It's a Boy
Johnny dan Ten yang semula berencana hanya menghabiskan waktu seminggu di Chicago terpaksa menambah waktu kunjungan mereka. Salahkan saja Ten yang merengek ingin tetap disana dan kembali meminta Johnny mengajaknya berkeliling Chicago. Dan hari ini adalah hari terakhir mereka berada disana setelah 14 hari lamanya menginap di rumah masa kecil Johnny. Saat ini sang calon ayah itu tengah sibuk menata koper besar mereka, sedangkan Ten terlihat tertidur lelap sejak beberapa menit yang lalu. Johnny hampir saja berteriak frustasi saat melihat sebanyak apa barang yang telah Ten beli di Chicago. Istrinya itu telah mengumpulkan banyak barang-barang bayi mulai dari pakaian, sepatu sampai hal lain yang Johnny tak tahu fungsinya untuk apa. Padahal seingat Johnny mereka belum mengetahui jenis kelamin ddalgi tapi ibunya sudah sibuk menumpuk barang-barang untuknya.
Saat siang hari sepasang suami istri itu telah berada di bandara ditemani kedua orang tua Johnny. Ten terus menempel pada ibu mertuanya seperti anak kecil yang tak terima jika ditinggal sang ibu pergi bekerja.
"Eomma harus kembali sebelum ddalgi lahir ya?" Ucap Ten dengan bibir yang menekuk ke bawah. Nyonya Seo yang terlihat gemas dengan menantu cantiknya itu lantas mencubit pipi chubby Ten yang kemerahan dan membuat si pemilik pipi mendengus sebal.
"Iya, bulan depan kami sudah kembali ke Korea. Ten tenang saja ya, jangan khawatir." Ucap nyonya Seo berusaha menenangkan menantu cantiknya itu.
Pasangan beda usia itu akhirnya berpisah, saat ini Ten dan Johnny nampak tengah berjalan seraya menyeret koper mereka. Jangan salah koper yang diseret oleh Ten hanyalah koper berukuran kecil yang berisi semua perlengkapan bayi yang ia beli di Chicago. Sedangkan koper yang diseret oleh Johnny adalah koper besar yang berisi barang-barang mereka.
Mereka baru saja mendarat di Korea tepat pukul dua dini hari. Ten nampak bergidik, ia merasa begitu kedinginan saat udara malam Seoul menerpa tubuhnya. Johnny yang sadar dengan tingkah Ten sejak tadi lantas menyampirkan coat miliknya di bahu Ten untuk menghangatkan tubuh istrinya itu. Ten nampak tersenyum cerah saat menerima perlakuan Johnny, setelahnya ia kembali bersandar manja seraya menunggu sopir pribadi mereka membawa mereka ke rumah.
Baik Ten dan Johnny sama-sama langsung terlelap begitu menginjakan kaki di rumah besar mereka. Rumah itu masih terlihat begitu bersih dan rapi, sudah bisa dipastikan jika Kim ahjumma melakukan pekerjaannya dengan baik selama sang majikan tak berada di rumah.
Waktu berlalu begitu cepat, tak terasa kehamilan Ten telah memasuki minggu ke-31 dan hari ini ia memiliki janji temu dengan Wendy seperti yang biasa ia lakukan di bulan-bulan sebelumnya. Ten dan Johnny terlihat telah berada di rumah sakit dan tengah menunggu antrian, tak butuh waktu lama nama Ten terdengar dipanggil oleh seorang perawat yang mempersilahkan sepasang suami istri itu untuk memasuki ruangan Wendy.
"Hello…. Jadi bagaimana liburannya?" Tanya Wendy seraya tersenyum saat Ten dan Johnny telah berada di hadapannya.
"Menyenangkan sekali disana, ah iya aku membelikan ini untukmu." Ucap Ten, ia menyodorkan paper bag dan menyerahkannya pada Wendy yang diterima dokter cantik itu dengan senyuman cerah.
Ten telah berbaring di ranjang dengan pakaian bagian perut yang terbuka, Wendy mulai memeriksa kondisi janin Ten dan terlihat begitu serius saat menatap monitor. Hari itu Ten juga meminta Wendy memberi tahu jenis kelamin anak mereka, Ten bilang supaya ia dan Johnny bisa menyiapkan segala hal sebelum waktu kelahirannya tiba.
"Ddalgi itu laki-laki." Ucap Wendy seraya menunjuk ke arah monitornya. Johnny terlihat tersenyum sumringah, bukankah artinya ia akan mendapatkan teman kecil yang bisa diajari tentang banyak hal. Ten juga tersenyum bahagia setelah mengetahui jenis kelamin ddalgi baginya tidak masalah sama sekali mau ddalgi itu perempuan atau laki-laki yang penting bayi kecilnya bisa lahir dengan sehat dan selamat nantinya.
Ten memulai sesi konsultasinya dengan mengeluh pada Wendy, ia bilang perutnya mulai sering terasa kencang dan mengalami kontraksi akhir-akhir ini, ddalgi yang berada di dalam perut Ten juga semakin ribut dan kerap kali menendang dengan intensitas yang tak seperti biasanya. Wendy yang mendengarkan keluhan pasiennya itu lantas mengatakan pada Ten jika apa yang tengah dialami olehnya biasa dikenal dengan istilah braxton hicks atau kontraksi palsu. Wendy bilang hal tersebut memang wajar terjadi pada ibu hamil yang akan mendekati waktu persalinan.
"Saat kontraksi terjadi coba ubah posisi tubuh, jika kontraksi terjadi saat sedang berbaring atau duduk cobalah berdiri dan berjalan kaki. Begitupun sebaliknya." Jelas Wendy tentang bagaimana mengatasi kontraksi palsu yang terjadi. Ten yang mengerti lantas mengangguk dan kembali menajamkan telinganya untuk mendengarkan semua ucapan Wendy.
"Ah iya jika perlu kau juga bisa mandi atau kompres air hangat di area perut selama 15-20 menit. Jangan lupa juga untuk konsumsi banyak cairan karena biasanya kontraksi palsu bisa terjadi karena dehidrasi." Jelas Wendy.
Setelah menghabiskan waktu hampir setengah jam lamanya untuk berbincang dengan Wendy, akhirnya Ten dan Johnny pamit undur diri. Setelah ini Johnny akan kembali lagi ke kantornya sedangkan Ten akan mengikuti kelas prenatal yoga di rumah mereka. Wanita itu memang sangat mengimpikan persalinan normal sekalipun Wendy mengatakan jika bobot bayinya terbilang cukup besar untuk bayi seusianya. Sejak jauh-jauh hari Ten telah mengikuti banyak kelas prenatal, tentunya itu semua sudah dengan persetujuan Johnny, itupun dengan ketentuan semua kelas dilakukan di rumah. Johnny juga terkadang menemani Ten mengikuti semua kelasnya, setidaknya ia juga harus mempersiapkan diri sebelum menjadi orang tua nantinya.
Terhitung Ten telah terdaftar di kelas yoga, senam hamil, kelas hypnobirth, kelas menyusui, dan kelas perawatan bayi. Dan yang Johnny lihat sejauh ini istrinya itu selalu bahagia saat melakukan semuanya. Sore ini Ten baru saja selesai dengan kelas yoganya, dan instruktur yang mengajarkannya telah meninggalkan rumah mereka sejak beberapa menit yang lalu. Ten terlihat tengah duduk di sofa ruang keluarga masih dengan pakaian yoganya hingga membuat perut buncitnya menyembul sempurna. Tak lama kemudian, Johnny terlihat memasuki rumah mereka. Pria tampan itu terlihat sedikit kusut hari ini seolah baru saja menghadapi hari-hari yang buruk.
"Ah sana John…. Aku berkeringat dan bau." Ucap Ten karena saat ini Johnny nampak tengah mendekapnya dan mengecupi pipi chubby nya.
"Aku suka bau keringatmu." Kekeh Johnny.
"Benar-benar menggelikan." Balas Ten.
"Sedang lihat apa?" Tanya Johnny, ia melirik sekilas ke arah ponsel Ten yang menampilkan beberapa gambar yang menurutnya cukup menarik.
"Kamar untuk ddalgi. Bagaimana jika kita buat yang seperti ini." Ucap Ten, ia menunjukkan gambar kamar bayi yang terpampang di ponselnya, kamar itu didominasi dengan warna biru muda dan terdapat beberapa gambar awan putih diatasnya.
"Mau ambil warna biru?" Tanya Johnny.
"Hum…. bukankah terlihat lebih menenangkan, lagipula warnanya juga netral untuk laki-laki dan perempuan." Ucap Ten penuh semangat.
"Baiklah minggu depan kita mulai pembuatan kamar ddalgi." Ucap Johnny, pasalnya jadwalnya di minggu ini benar-benar tak bisa diganggu. Bahkan Ten terkadang memarahinya karena pria itu amat sering pulang larut malam, beruntunglah hari ini Johnny telah berada di rumah sejak sore hari.
Ten tengah berdiri di depan cermin besar yang ada di kamarnya. Dress tidur yang ia kenakan nampak ia angkat ke atas sehingga menampilkan dengan jelas perutnya yang membuncit lengkap dengan pergerakan ddalgi dari dalam sana. Ten tengah sibuk mengoleskan lotion vitamin E ke perut buncitnya karena sejak kandungannya memasuki minggu ke-29 ia mulai mendapati masalah stretch mark, Wendy bilang karena ini pengalam pertama bagi Ten dalam menjalani kehamilan dan kebetulan ukuran ddalgi cukup besar jadi sangat wajar jika otot-otot perutnya mengalami peregangan jingga menyebabkan timbulnya stretch mark. Namun tak dipungkiri terkadang Ten merasa geli melihat tubuhnya sendiri, beruntung ia memiliki Johnny yang ada di sisinya dan pria tinggi itu selalu berhasil menenangkan Ten bagaimanapun keadaannya. Sejauh ini setelah rutin mengaplikasikan lotion vitamin E ke perut buncitnya, stretch mark itu mulai pudar dan itu membuat Ten sangat bahagia.
"Why you look so gorgeous." Ucap Johnny, ia memeluk Ten dari belakang dan mengusap lembut perut buncitnya.
"Of course." Jawab Ten sedikit bercanda.
"I miss you babe, wanna play with me?" Bisik Johnny seduktif di telinga Ten. Ten lantas memutar tubuhnya hingga netra indahnya bertemu pandang dengan netra suaminya yang setajam elang. Darisana Ten jelas melihat ekspresi Johnny yang tengah memohon padanya, hal itu cukup wajar mengingat setelah kehamilan Ten semakin besar ia dan Johnny cukup jarang melakukan kegiatan suami istri.
"Kumohon…. Kita harus melakukannya malam ini sebelum kau kesulitan mengimbangi tempo permainanku karena perutmu yang makin besar nantinya." Ucap Johnny.
"Dug…. Dug…. Dug…."
"Lihat! ddalgi bahkan tak terima dituduh sebagai penyebab terganggunya permainan kita." Ucap Ten, ia tengah mengelus perut besarnya setelah mendapatkan tendangan dari ddalgi beberapa detik yang lalu.
"Ayo bermain." Sambung Ten, detik itu juga Johnny membawa istri cantiknya ke kasur mereka dan sudah bisa dipastikan sepasang suami istri itu akan sangat menikmati permainan mereka sampai pagi menjelang.
