16. Anxiety

Setelah sangat terbiasa dengan Ten yang selalu ceria, nyatanya hari ini Johnny kembali melihat istrinya yang lemah dan sendu. Hari ini Ten dilarikan ke rumah sakit karena sejak dua hari lalu wanita cantik itu mengalami mual dan muntah hingga ia menolak memasukkan apapun ke tubuhnya dan berakhir dengannya yang mengalami dehidrasi parah. Memang sejak kehamilannya memasuki bulan ke delapan Ten kerap kali mengeluh mengalami mual, saat berkonsultasi dengan Wendy dokter cantik itu mengatakan jika hal yang demikian adalah hal yang wajar karena di bulan ini janin akan berkembang sangat pesat dan menyebabkan terjadinya penekanan di organ sekitar rahim termasuk lambung yang ada di dalam perut sehingga ibu hamil akan mengalami mual atau kembung saat masa kehamilan.

Ten terlihat tengah terbaring dengan infus yang berada di tangannya, di sebelahnya ada Johnny yang nampak tengah mengelus lembut punggung tangan Ten dan berusaha menenangkan istrinya itu. Sebenarnya sejak beberapa minggu yang lalu Ten mulai mengalami serangan panik berlebih, ia kerap kali mencemaskan banyak hal yang sebenarnya sepele dan itu berhasil membuat Johnny khawatir. Ia takut jika kondisi Ten yang seperti sekarang ini akan membahayakan ddalgi yang ada di perutnya.

"Sudah jangan dipikirkan lagi, kan kau sudah dengar sendiri dari Wendy jika ddalgi baik-baik saja." Ucap Johnny seraya mengusap pucuk kepala istrinya dengan lembut.

Jadi sejak berada di rumah sakit Ten tak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri, ia amat khawatir jika kondisi ddalgi akan memburuk karenanya. Bahkan ia mulai menangis sejak tadi pagi sampai hidungnya memerah.

"Seharusnya aku makan apapun sekalipun mual hiks…." Lirih Ten, ia masih merasa menyesal karena harus berakhir di rumah sakit. Tak ada yang bisa Johnny lakukan ia hanya sibuk mengelus lembut punggung tangan istrinya dan menunggu tangisan itu mereda.

Setelah Ten keluar dari rumah sakit Johnny berusaha menghibur istrinya dan mengusahakan berbagai macam cara agar Ten tidak terjebak dalam kesedihan. Wanita cantik itu seolah memiliki banyak hal yang ditakutkan yang tak Johnny tahu apa. Hari ini Johnny berinisiatif mengajak Ten menghias kamar ddalgi. Ten awalnya sempat menolak, namun dengan segala tipu daya yang Johnny berikan akhirnya wanita itu mau mengikuti langkah suaminya memasuki kamar besar milik calon anak mereka.

"Jangan begitu Johnny, gambar awan itu seperti ini. Lihat! Begini." Dan tak butuh waktu lama Ten kembali banyak bicara, ia bahkan terlihat cukup kesal saat Johnny tak bisa menggambar awan untuk kamar anak mereka. Dengan sabar Johnny mengikuti apa yang Ten minta, setidaknya hal itu membuat sang istri menyingkirkan semua rasa kepanikan dan ketakutannya.

"Bagus sekali…. Aku suka." Ucap Ten saat membuka matanya, beberapa menit lalu Johnny mengajak Ten berkunjung ke kamar mereka dan menutup mata wanita itu. Saat netra indahnya terbuka Ten dapat melihat dengan jelas bagaimana kamar ddalgi yang didominasi warna biru dengan gambar awan-awan kecil telah selesai Johnny kerjakan. Ia lantas memeluk erat Johnny dan bergumam kata terima kasih, seolah bersyukur pada Tuhan karena memberikan Johnny padanya.

"Kapan kau menyiapkan ini? Aku tak tahu." Ucap Ten saat mendapati lemari kecil berisi beberapa pakaian bayi dan dilengkapi dengan tempat untuk berganti popok di atasnya.

"Hum…. beberapa hari yang lalu, aku membuat Kim ahjumma menyembunyikannya darimu." Kekeh Johnny. Ten terlihat mengerucutkan bibirnya tak terima dengan jawaban Johnny, namun setelahnya ia kembali tersenyum dan mengajak Johnny untuk menata beberapa pakaian bayi yang sudah tercuci bersih dan masih berada di kamar mereka.

"Wajah ddalgi akan seperti apa ya?" Ucap Ten, saat ini ia tengah duduk di kursi dan melipat beberapa pakaian yang mereka persiapkan untuk ddalgi.

"Tentu mirip salah satu diantara kita, atau mungkin perpaduan. Kurasa perpaduan lebih menarik." Jelas Johnny.

"Lihat…. Kulitmu bagus, hidungmu juga, aku jelas sangat tampan sebagai seorang pria. Sudah pasti ddalgi akan sangat mempesona." Ucap Johnny penuh percaya diri. Namun khayalannya itu seketika buyar saat Ten melemparnya dengan popok bayi yang masih terbungkus rapi dalam plastiknya.

"Kau melakukan kekerasan dalam rumah tangga." Ucap Johnny penuh drama, sedangkan Ten ia sama sekali tak peduli dan nampak mengedikan bahunya. Wanita itu kembali sibuk melipat pakain-pakaian untuk ddalgi-nya dengan senyuman yang tak pernah luntur dari wajah cantiknya.

Ten dan Johnny barusaja kembali setelah melakukan konsultasi dengan Wendy. Dan lagi-lagi Ten merasa sedih, beberapa menit lalu Wendy mengatakan jika ddalgi berada dalam posisi sungsang dengan ukuran yang cukup besar. Hal itu jelas membuat harapan Ten untuk menjalani persalinan normal seolah terkubur dalam-dalam. Namun Wendy berusaha menyakinkan Ten jika posisi ddalgi masih bisa berubah dan Wendy menyarankan Ten untuk melakukan beberapa kegiatan yang dapat mengubah posisi bayi mereka seperti tidur terlentang dengan posisi panggul terangkat, melakukan knee-chest position, atau melakukan external cephalic version.

Dan hari ini Ten mulai mengikuti semua saran yang Wendy berikan, tiap malam sebelum tidur Ten akan berbaring dengan bantal yang ia posisikan di bawah pinggulnya selama 10 menit. Setiap pagi juga Ten melakukan knee-chest position selama 15 menit. Ten juga semakin rutin melakukan Yoga akhir-akhir ini. Tentu saja semua itu ia lakukan demi mewujudkan impiannya untuk menjalani persalinan normal, dan Johnny sama sekali tak melarangnya. Menurutnya selama Ten menyukainya kenapa tidak. Seperti hari ini Johnny bahkan terlihat menemani Ten melakukan yoga dan menumpu tubuh besar Ten yang tengah bersandar padanya.

Malam ini Ten terlihat tengah mengisi sebuah tas yang berukuran cukup besar dengan berbagai peralatan yang akan mereka bawa ke rumah sakit. Sebenarnya hanya untuk berjaga-jaga saat tiba-tiba saja ia harus melahirkan meskipun saat ini usia kandungannya baru memasuki bulan ke delapan namun tak ada salahnya kan membuat persiapan.

"Sudah temukan nama untuk ddalgi?" Tanya Ten tiba-tiba. Johnny yang tengah sibuk dengan laptop yang berada di pangkuannya nampak menatap ke arah Ten dan mengangguk ragu.

"Jadi sudah atau belum?" Ucap Ten, sebenarnya ia sedikit kesal karena Johnny tak kunjung memberitahukan nama anak mereka padanya.

"Aku suka Henry, bagaimana?" Ucap Johnny, Ten yang mendengar perkataan Johnny lantas menggeleng ribut seolah tak setuju dengan nama itu.

"Kenapa? Bukankah itu bagus, terlihat gagah seperti para raja di abad pertengahan." Ucap Johnny meyakinkan istrinya.

"Tidak mau, nama itu sangat pasaran. Seperti namamu." Ucap Ten, seseorang tolong ingatkan Johnny untuk tetap bersabar setelah usulan namanya ditolak Ten malah mengatai nama suaminya itu.

"Kalau Hendry bagaimana?" Tanya Johnny lagi.

"Johnny yang benar saja…. Kita sedang mencari nama untuk anakmu bukan tengah beradu kuis. Aku tak mau tahu kau harus segera menemukan namanya sebelum aku melahirkan." Ucap Ten panjang lebar. Johnny mengusap kasar wajahnya, sepertinya ia memang harus memutar otak dan menjadi sedikit puitis demi mencari nama untuk anak laki-laki mereka.

"Sshhhh…. Sakit…." Ucap Ten, ia baru akan tertidur saat tiba-tiba saja perutnya terasa tegang dan mengencang hingga membuatnya kesakitan. Dengan cekatan Johnny membantu istrinya berbaring di kasur mereka dan menyamankan bantal yang akan Ten gunakan.

Johnny mengelus lembut perut Ten yang terlihat sudah sangat membesar, Johnny jelas dapat merasakan jika perut bagian bawah Ten cukup mengencang dan ia berinisiatif untuk mengompresnya dengan air hangat seperti yang sempat Wendy sarankan beberapa minggu lalu.

"Sudah lebih baik?" Tanya Johnny. Ten yang tengah menormalkan nafasnya hanya mengangguk dan bersandar manja ke bahu suaminya. Pakaian bagian perut Ten yang terbuka membuat mereka berdua bisa melihat dengan jelas ddalgi kecil mereka yang bergerak kesana kemari sampai perut Ten condong ke arah kiri tempat dimana Johnny berada.

"Kurasa ddalgi akan mirip denganmu saat lahir nanti." Ucap Ten tiba-tiba. Ia jelas mengingat bagaimana dirinya sempat sangat membenci Johnny saat kehamilannya memasuki awal bulan kedelapan. Bahkan ia sempat mengusir Johnny dari kamar mereka dan membiarkan pria itu tidur di sofa dengan menekuk kaki panjangnya.

"Sudah pasti sangat tampan kalau mirip seperti ku." Ucap Johnny, tangan besarnya sibuk mengelus perut Ten karena ddalgi terus mengajaknya bermain sejak tadi.

"Percaya diri sekali." Ucap Ten.

Kehamilan Ten telah memasuki minggu ke-38 dengan perutnya yang sudah sangat membesar dan itu selalu berhasil membuat Johnny mengkhawatirkan kondisi istrinya. Saat ini ia tengah berbaring di ranjang pemeriksaan dan membiarkan Wendy memantau pergerakan ddalgi kesayangan mereka. Saat dilakukan pengecekan Wendy terlihat cukup takjub melihat tumbuh kembang ddalgi dalam tubuh sang ibu. Wendy bilang ddalgi memiliki bobot 3,5 kg dengan panjang 52 cm jelas sekali semua itu didapatkan dari sang ayah yang tinggi menjulang. Setelah pemeriksaan juga diketahui jika posisi ddalgi tidak lagi sungsang, ia telah berada di posisi yang siap untuk dilahirkan. Dan menurut perkiraan Wendy mungkin Ten akan melahirkan sekitar minggu depan.

Malam ini Ten tengah berbaring di kasurnya dan membuka album foto yang ia ambil dari laci meja nakasnya. Itu adalah album foto yang disiapkan khusus untuk ddalgi kecil mereka. Disana terdapat foto USG pertama yang dilakukan untuk ddalgi sampai yang baru saja ia lakukan hari ini. Netra indah Ten nampak memanas saat melihat foto USG nya beberapa bulan yang lalu saat Wendy mengatakan jika mereka akan memiliki anak kembar, namun nyatanya itu tak bertahan lama karena di bulan Selanjutnya hanya ddalgi yang berhasil bertahan bahkan hingga saat ini.

"Sedang lihat apa?" Tanya Johnny, ia baru saja kembali dari ruang kerjanya dan memposisikan diri untuk duduk di sebelah istri cantiknya.

"Album foto ddalgi. Nanti di halaman Selanjutnya bisa kita isi dengan foto-foto ddalgi yang sudah kau beri nama." Ucap Ten sedikit menyindir Johnny.

"Aku sudah dapat namanya." Ucap Johnny.

"Katakan." Balas Ten.

"Hendery, Seo Hendery. Hendery dengan huruf e." Jelas Johnny. Ten terdiam cukup lama dengan bibir yang mengerucut, detik berikutnya ia mengangguk seolah menyetujui usul yang Johnny berikan.

"Aku suka, terdengar seperti pangeran dari Spanyol. Dan yang pasti tidak pasaran." Kekeh Ten.

"Jika aku meninggal saat melahirkan Hendery kau bisa kan menjaganya seorang diri." Ucap Ten tiba-tiba, saat ini sepasang suami istri itu tengah berpelukan di kasur mereka dan bersiap untuk memejamkan mata.

"Kau bicara apa, tidak ada yang akan meninggal. Kalian berdua pasti selamat." Ucap Johnny penuh keyakinan.

"Aku hanya- takut." Balas Ten. Memang akhir-akhir ini Ten begitu panik apalagi menjelang hari persalinannya. Ia kerap kali memikirkan bagaimana jika ia meninggal nantinya, apa yang akan terjadi dengan Hendery dan Johnny, siapa yang akan memberi Hendery asi, pikir wanita itu.

"Jika kau pergi aku juga akan mengikutimu, aku tak tahu akan jadi apa jika kau meninggalkanku." Ucap Johnny seraya mengecup pucuk kepala istrinya.

"Lalu Hendery bagaimana?" Tanya Ten dengan bibir yang mengerucut.

"Tidak tahu, mungkin akan kutitipkan pada eomma dan appa haha…." Jawab Johnny dengan tertawa renyah. Dan Ten yang kesal nampak ikut tertawa seraya sesekali memukul dada bidang suaminya. Ten yang awalnya terlihat begitu cemas malah berakhir dengan tertawa renyah setelah mendengar guyonan yang suaminya lontarkan. Dalam hati Ten selalu berdoa jika tak akan ada hal buruk yang menimpa ia dan Hendery nantinya, bagaimanapun juga ia sudah sangat menanti momen menjadi orang tua dan pastinya akan sangat menyenangkan jika ia bisa merawat Hendery bersama dengan Johnny nantinya.