17. Welcoming Our Prince
Ten telah melewati due date waktu persalinannya. Saat ini usia kandungannya telah memasuki minggu ke-40, perutnya sudah sangat besar dan turun seolah Hendery siap lahir ke dunia. Namun nyatanya pangeran kecil mereka itu masih betah berlama-lama di perut sang mama dengan gerakan yang semakin menggila. Dengan keadaan Ten yang seperti sekarang tentu saja semakin menyulitkannya untuk bergerak bebas, bahkan tak jarang ia membutuhkan bantuan Johnny hanya untuk sekedar mengantarnya ke kamar mandi.
"Huuuhh…. Huuhh…. Huuuhh…." Ten terlihat tengah bersandar dan tengah menormalkan nafasnya yang terasa sesak. Johnny duduk disebelahnya dan sibuk mengelus lembut perut besar Ten yang terus bergerak kesana kemari, sepertinya Hendery terlihat begitu antusias menjelang hari kelahirannya.
"Hendery cepat keluar…. Mama sudah sangat kesakitan." Monolog Johnny pada perut besar Ten yang ada di hadapannya.
Johnny terlihat cukup terkejut saat tiba-tiba saja Ten mencengkram tangannya dengan begitu erat. Ia lantas menatap sang istri yang nampak tengah kesakitan dengan keringat yang membanjiri keningnya.
"Sakit John…. Shhh…." Lirih Ten.
"Apa itu kontraksi?" Tanya Johnny memastikan. Ten nampak mengangguk lemah dan meminta Johnny membawanya berdiri. Saat Ten baru saja berdiri kontraksi kembali menjalar di perutnya, Johnny terus memandang ke arah jam tangannya dan menghitung berapa lama Ten mengalami Kontraksi dan jeda waktunya.
"Ke rumah sakit sekarang ya?" Ucap Johnny, Ten yang tak bertenaga nampak mengangguk lemah dan membiarkan Johnny membantunya berjalan ke mobil mereka.
Saat di mobil keadaan sama sekali tak membaik, Ten malah semakin merintih kesakitan karena kontraksi lebih intens menyerangnya. Bahkan saat ini ia telah mencubit sebelah tangan Johnny yang bebas.
"John…. Sakit…. hiks…." Lirih Ten, wanita itu mulai berkaca-kaca sejak beberapa menit lalu.
Sesampainya di rumah sakit Ten dibawa oleh perawat ke ruang perawatan meninggalkan Johnny yang sibuk dengan urusan administrasi. Bahkan saat di brankar Ten tetap saja merintih kesakitan seolah menggambarkan seberapa sakit kontraksi menghantam perutnya.
Johnny telah berada di ruang perawatan Ten, wanita itu telah berganti pakaian pasien khas rumah sakit untuk memudahkan tim dokter dalam mengecek pembukaan persalinannya. Ten terlihat masih terbaring lemah, sesekali ia menghembuskan nafasnya saat rasa nyeri kembali menghantamnya dan itu selalu berhasil membuat Johnny tak tega, melihat istrinya yang merintih kesakitan dengan peluh membanjiri keningnya adalah hal yang amat ia tak suka sejauh ini. Tak butuh waktu lama Wendy terlihat masuk ke ruang rawat Ten bersama dengan dua orang perawat. Wendy sibuk mengenakan sarung tangan steril miliknya sedangkan kedua perawat yang mengikuti Wendy nampak tengah membantu Ten melebarkan kakinya.
Wendy mengecek pembukaan Ten dan wanita itu sedikit tersenyum saat berhasil memasukkan dua jarinya ke jalur lahir Ten yang membuat Ten sedikit merintih.
"Masih pembukaan dua, waktunya masih cukup lama. Kau harus mengisi energimu dulu sebelum pembukaan lengkap. Ah iya kau juga bisa berjalan-jalan atau menggunakan birthing ball untuk merangsang pembukaannya." Jelas Wendy sebelum akhirnya meninggalkan ruangan rawat pasiennya. Ten hanya mengangguk lemah, ia benar-benar tak bertenaga seiring dengan rasa sakit yang makin menyerangnya.
"Makan dulu ya, kau benar-benar lemas." Tawar Johnny, Ten lantas mengangguk lagipula tak dipungkiri perutnya memang terasa begitu lapar dan mulai berteriak untuk diisi.
Setelah menghabiskan makanannya Ten memutuskan untuk berjalan mengitari ruang rawatnya. Tepat saat Ten berdiri kontraksi yang lebih keras kembali menghantam perutnya dan itu berhasil membuatnya merintih kesakitan.
"Akhhhh…."
"Perutku seperti batu." Lirih Ten, ia membawa tangan Johnny untuk menyentuh bagian bawah perutnya yang sudah mengeras seolah kepala Hendery telah berada disana.
"Sebentar lagi selesai sayang…. Kita akan segera menemui Hendery." Ucap Johnny dengan kecupan yang ia daratkan ke seluruh penjuru wajah istrinya.
Ten berjalan dengan bertumpu pada lengan kekar Johnny untuk mengelilingi ruang rawatnya, namun itu tak berlangsung lama karena kontraksi yang lebih menyakitkan kembali menyerang perutnya. Dengan segera Johnny membawa kembali Ten ke ranjangnya dan tepat saat itu Wendy terlihat kembali masuk dengan seorang perawat yang menemaninya. Ten nampak mulai menangis saat merasakan rasa nyeri yang menjalar di perutnya. Ia jadi mengingat ibunya yang sedang dalam perjalanan kemari.
"Wah sudah pembukaan lima, sepertinya ddalgi benar-benar tak sabar bertemu ibu dan ayahnya." Ucap Wendy.
Wendy membantu Ten untuk duduk di ranjangnya, setelahnya dokter cantik itu mengangkat sedikit pakaian rawat Ten sehingga perut besar pasiennya terlihat dengan jelas. Ia mengoleskan gel khusus dan memasang alat semacam ikat pinggang elastis yang dilingkarkan di perut besar pasiennya. Ten kembali berbaring dan tak butuh waktu lama mesin CTG yang berada di dekatnya menampilkan data kontraksi rahim, detak jantung janin, dan aktivitas janin di dalam rahim melalui layar monitor.
Wendy mengatakan jika sepertinya Ten masih harus melalui waktu yang panjang sebelum pembukaannya lengkap. Ia sempat menyarankan Ten untuk tidur terlebih dahulu supaya memiliki cukup tenaga saat melahirkan nanti. Dan akhirnya sampai saat ini terhitung telah tiga jam sejak kepergian Wendy Ten belum juga memejamkan matanya. Ia masih sibuk meremas tangan Johnny yang ia gunakan sebagai penyalur rasa sakit sejak tadi.
"Apa sakit sekali?" Tanya Johnny di tengah gemuruh alat CTG yang tersambung ke perut Ten.
"Sangat…. Aku jadi merindukan mama…. Hiks…." Lirih Ten.
"Jangan menangis…. Mama sedang dalam perjalanan kemari." Ucap Johnny.
Delapan jam sudah Ten melalui hari-harinya dengan rasa nyeri yang menjalar di perutnya. Wendy kembali datang saat tengah malam ia mendapati angka yang terpampang di layar CTG semakin tinggi yang berarti intensitas kontraksi yang Ten alami semakin sering dengan waktu yang cukup lama. Wendy kembali mengecek pembukaan Ten dan ia nampak tersenyum cerah saat mendapati pasiennya itu telah memasuki pembukaan lengkap dengan ketubah yang terlihat sudah pecah, setelahnya ia meminta kepada para perawat untuk memperbaiki posisi Ten berbaring. Ia juga meminta pada Johnny untuk duduk di belakang dan menumpu tubuh istrinya.
"Pembukaannya sudah lengkap, kau bisa mengejan saat merasakan kontraksi Selanjutnya." Ucap Wendy, Ten hanya mengangguk dengan peluh yang membanjiri keningnya, bahkan tangannya sudah melingkar di leher Johnny entah sejak kapan.
"Tarik nafas…. Tahan…. Dan keluarkan dari hidung." Wendy terlihat membimbing Ten untuk mengambil nafas supaya wanita hamil itu tak kehabisan tenaganya saat harus mendorong bayinya keluar nanti.
"Huuhhh…. Huuh…. Huhhh…." Ten melakukan semua hal yang Wendy perintahkan, ia mulai bernafas dengan baik meskipun nasal canulla nampak menancap di hidung bangirnya.
"Akhhhhh…." Ten nampak baru saja mengejan setelah merasakan kontraksi yang menghantam perutnya. Dan tepat saat itu secara perlahan kulit kepala bayi mereka mulai terlihat di jalur lahir Ten.
"Tahan sebentar ya, tunggu baby crowning dengan sempurna." Ucap Wendy. Ten menahan mati-matian hasratnya untuk mengejan, ia menunggu perintah dari Wendy untuk mengejan yang kedua kakinya.
"Akhhhh… ahhhh…." Ten terus mendorong sekuat tenaga demi mengeluarkan bayi kecil mereka. Johnny bersumpah ia ikut menangis saat Ten kesakitan di hadapannya, bahkan sudah berkali-kali pria tinggi itu terlihat menghapus air mata dengan sapu tangannya.
"Akhhhhh….." Satu dorongan panjang Ten kerahkan dan bersamaan dengan itu tangisan bayi yang amat keras terdengar memenuhi ruang perawatannya. Tak hanya sang bayi yang menangis nyatanya Ten juga menangis malam itu, ia amat bahagia setelah berhasil membawa Hendery untuk melihat dunia.
"Oekkk…. Oek…. Oek…."
Johnny lantas mengecupi seluruh penjuru wajah istrinya, ia jelas melihat bagaimana perjuangan Ten beberapa jam kebelakang untuk membawa bayi kecil mereka kedunia. Setelah perjalanan panjang rumah tangga mereka akhirnya hari ini ada makhluk kecil yang akan memberikan warna baru di tengah-tengah mereka.
Seorang perawat menyodorkan gunting pada Johnny dan meminta pria yang berstatus sebagai ayah baru itu memotong tali pusar bayinya. Dengan ragu Johnny mengikuti perintah perawat tersebut dan setelahnya Wendy membawa bayi kecil mereka untuk dibersihkan sebelum berkontak langsung dengan sang ibu.
"Woah…. he's so big, sesuai perkiraan berat badannya 3,5 kg dengan panjang 52 cm. Selamat…." Ucap Wendy. Ia membawa Hendery yang masih menangis dan meletakkannya di atas dada Ten yang telah terbuka, membiarkan wanita itu mendekap dan memberikan kehangatan pada bayi kecilnya.
"IMD terlebih dahulu ya, biarkan dia mencari putingnya sendiri." Ucap Wendy.
Ten tersenyum cerah dan mengelus lembut pipi bulat bayinya, Hendery-nya lahir dengan sempurna dengan kulitnya yang masih memerah dan rambutnya yang lebat seperti milik ayahnya. Ten benar-benar bahagia, setelah menahan rindunya sekian lama akhirnya hari ini ia berjumpa dengan buah hatinya, Hendery kecilnya yang dahulu sempat ia tolak kehadirannya saat ini telah berada dalam dekapannya.
"John…. Lihat! Anakmu lucu sekali." Ucap Ten, ia menunjukan pada Johnny bagaimana Hendery yang matanya belum terbuka sepenuhnya berusaha keras mencari keberadaan putting Ten dengan mulut yang sedikit terbuka. Momen itu berhasil Johnny abadikan di kamera miliknya, entah sejak kapan pria itu datang dengan kameranya. Tapi bukankah momen seperti ini sangat sayang untuk dilewatkan.
"Pintarnya…. Silahkan minum yang banyak…." Ucap Ten saat Hendery berhasil menemukan putingnya. Ia mendekap erat bayi kecilnya dan menghirup lembut aroma tubuh Hendery yang menenangkan.
Setelah Hendery selesai menikmati asi nya, Wendy mengambil alih bayi kecil itu dan meminta Johnny untuk duduk di sofa dan membuka pakaian bagian dadanya. Setelahnya Wendy dengan perlahan meletakan Hendery di atas dada bidang Johnny. Dari tempat berbaring sekarang Ten dapat melihat dengan jelas bagaimana suaminya itu ketakutan saat Hendery menggeliat pelan di atas dada bidangnya. Namun tak butuh waktu lama Johnny mulai merasa nyaman dengan Hendery yang berada dalam dekapannya. Membiarkan kulit mereka bertemu langsung dan Johnny dapat merasakan dengan jelas bagaimana detak jantung bayi kecilnya yang menenangkan.
"Selain dengan ibu bayi juga memerlukan skin to skin contact dengan ayah, akan lebih bagus jika membentuk bonding sejak awal." Jelas Wendy.
Dan hari ini menandai usainya perjalanan 9 bulan 10 hari milik Ten dan Johnny. tentang bagaimana Johnny menghadapi seluruh tingkah random istrinya atau tentang bagaimana Ten mempersiapkan diri sebelum menemui bayi kecilnya. Semuanya usai hari ini, ditandai dengan Hendery kecil mereka yang lahir kedunia dengan selamat disertai tangisan keras yang memekakkan telinga. Lembaran Selanjutnya akan menjadi cerita baru untuk mereka, tentang bagaimana Hendery kecil mengubah hidup mereka kedepannya dan mendewasakan mereka sebagai orang tua. Semuanya hanya tentang Hendery yang menjadi pelangi di tengah-tengah kedua orangtuanya.
THE END
