EPILOGUE
One year later
Saengil chukha hamnida…
Saengil chukha hamnida…
Saranghaneun uri Hendery…
Saengil chukha hamnida…
Nyanyian selamat ulang tahun terdengar menggema di salah satu ruangan besar yang ada di panti asuhan. Tempat itu telah dihiasi dengan berbagai macam balon warna-warni dan perlengkapan pesta khas anak-anak. Hari ini Hendery genap berusia satu tahun dan hari ini kedua orang tuanya memilih untuk merayakan ulang tahun Hendery di salah satu panti asuhan yang terletak di pinggiran kota. Beberapa anak panti asuhan yang bergabung di pesta terlihat bersemangat saat menyanyikan lagu untuk Hendery. Hendery yang berada di gendongan sang ayah juga terlihat begitu ceria dan menepuk tangan sejak tadi.
Api yang berada di lilin yang membentuk angka satu itu baru saja padam karena sang pemilik baru saja meniupnya setelah bersusah payah agar tidak menyemprotkan air liurnya. Ten dan Johnny nampak mencium anak kesayangan mereka hingga pipi bulat Hendery yang memerah menyembul lucu karena mendapat tekanan dari ibu dan ayahnya. Setelah menyelesaikan acara tiup lilin dan potong kue, saat ini para anak kecil terlihat tengah berlomba untuk menghias biskuit mereka masing-masing. Hendery juga terlihat sibuk dengan bibirnya yang mengerucut lucu. Batita itu terlihat ikut bergabung dengan anak panti asuhan lainnya di salah satu meja bundar. Hendery bahkan terlihat senang saat para noona bergantian membantunya.
"Sudah pasti itu anakmu, lihat…." Ucap Ten pada Johnny, ia menunjuk ke arah Hendery yang tengah tersenyum lebar saat seorang noona membantunya membuka biscuit miliknya, bahkan Hendery meminta teman barunya itu untuk duduk di sampingnya.
"Sudah pasti." Kekeh Johnny.
Ten dan Johnny terlihat tengah menyerahkan beberapa bingkisan berupa perlengkapan anak-anak dan bayi untuk mereka yang berada di panti asuhan. Sebenarnya ini bukan hal yang baru untuk pasangan muda itu. Mereka kerap kali berkunjung kemari sejak kelahiran Hendery setahun yang lalu. Mereka sering datang untuk sekedar berbagi dengan mengajak Hendery kecil mereka, berusaha mengajarkan pada anak mereka bahwa banyak anak-anak yang tak seberuntung dirinya di luar sana.
"Ah dia lucu sekali, kenapa orang tuanya begitu jahat…." Ucap Ten. Saat ini ia berada di ruangan bayi yang berada di panti asuhan, jika dihitung saat ini terdapat tiga bayi merah yang terpaksa tinggal disana. Dua bayi terpaksa dititipkan karena kedua orang tuanya sudah meninggal, sedangkan yang tengah Ten gendong saat ini baru kemarin datang dan di taruh di depan pintu gerbang panti asuhan.
"Mama…. No…." Hendery yang baru datang bersama ayahnya nampak berlari menghampiri Ten yang sibuk menggendong bayi perempuan itu, ia terlihat tak suka saat sang mama menggendong anak lain selain dirinya.
"Yyepas mama…. Yepas…." Ucap Hendery dengan bicaranya yang belum begitu lancar.
"Hush…. Jangan berteriak, adiknya sedang tidur." Ucap Ten menempelkan telunjuknya di hadapan bibirnya. Hendery lantas terdiam, ia terlihat begitu penasaran dengan bayi kecil yang berada dalam dekapan sang mama, batita itu meminta sang ayah menggendongnya untuk melihat wajah bayi kecil itu.
"Baby…." Ucap anak kecil itu yang mengundang gelak tawa dari Ten dan Johnny serta suster yang berada disana.
"Dery juga baby." Ucap Johnny mengecupi pipi bulat anaknya. Hendery yang diajak bicara hanya menggelang ribut seolah tak terima jika dipanggil baby oleh sang ayah.
Setelah kembali dari acara –merayakan ulang tahun Hendery- sepasang suami istri itu nampak sibuk menata kado yang didapatkan oleh anaknya. Sekalipun merayakan ulang tahun di panti asuhan Hendery tetap mendapatkan banyak sekali hadiah, awalnya Ten sempat menolak namun suster disana menyakinkan jika anak-anak panti asuhan sendiri yang menyiapkan untuk Hendery. Selain itu Hendery juga mendapatkan banyak sekali hadiah dari sepupu-sepupunya begitupun kakek neneknya. Terutama kedua orang tuanya, mengingat Hendery adalah cucu pertama dalam keluarga mereka sudah pasti kedatangannya disambut antusias.
"Mama…. Ui Eon baeoppa…." (mama Louis Leon baegopa) Ucap Hendery, ia terlihat menghampiri sang mama dan melaporkan padanya jika anak-anak bulu kesayangan sang mama kelaparan.
"Jinja? Kaja! Kita beri makan Louis Leon." Ucap Ten, akhirnya ia melenggang pergi meninggalkan Johnny yang masih sibuk membuka hadiah ulang tahun Hendery.
"Deyi tly dis?" (Dery try this?) Ucap anak kecil itu, tangan gembulnya sudah menggenggam sebuah sereal berbentuk ikan milik Louis dan Leon.
"No No…. ini milik Louis Leon, punya Dery ada di dapur." Ucap Ten ia mengambil makanan kucing yang berada di tangan Hendery dan meletakkannya kembali di tempat makan milik Louis. Ia khawatir kejadian Hendery yang memakan segenggam makanan kucing seminggu yang lalu terulang kembali, bahkan Ten sampai menangis saat melihat Hendery harus dirawat karena muntah-muntah.
Malam ini Hendery terlihat begitu fokus saat Johnny membacakan cerita untuknya, hal itu memang rutin dilakukan Johnny sejak Hendery lahir ke dunia. Ia kerap kali membacakan cerita pengantar tidur untuknya dan makin hari Hendery makin menunjukan respon yang beragam hingga membuat Ten dan Johnny gemas.
"Ulat bulat…" Ucap Hendery, jemari gembulnya menunjuk ulat berwarna hijau yang berada di buku ceritanya.
"Bulat seperti siapa?" Tanya Johnny sedikit terkekeh.
"Deyi…." Jawab anak kecil itu. Johnny tertawa dan menciumi pipi bulat anaknya, sepertinya dongengnya hari ini tak membuat Hendery mengantuk, malah anak kecil itu masih terlihat segar dan mulai melompat kesana-kemari.
"Sudah ya jangan lompat-lompat…. Minum susunya dulu." Ucap Ten, ia baru saja datang dengan botol susu Hendery di tangannya. Si kecil pun mulai mendekat pada sang mama dan meminta susu miliknya.
Hendery menggenggam erat botol susu miliknya, saat ini anak kecil itu tengah berbaring di antara ayah dan ibunya. Perlahan netra indahnya mulai memberat dan terpejam sampai akhirnya Ten mengambil alih botol susu Hendery dari tangan pangeran kecilnya.
"Rambut Dery sudah panjang." Ucap Johnny, ia terlihat menyingkirkan rambut Hendery yang menutupi mata anaknya.
"Hum…. cepat sekali panjangnya." Ucap Ten.
"Dery tidak mau dipindahkan?" Usul Johnny.
"Kau mau apa?" Tanya Ten, ia mulai mengerti kemana arah pembicaraan suaminya.
"Mengajakmu bermain." Ucap Johnny seraya terkekeh.
"Aku lelah, besok saja ya. Malam ini biarkan Dery tidur disini dulu." Ucap Ten yang dibalas tatapan lesu dari suami tampannya itu.
Saat pagi hari Hendery terlihat terbangun seorang diri dan mencari keberadaan kedua orang tuanya. Ia lantas bangkit dari kasur kecilnya dan berjalan tertatih menuju kamar kedua orang tuanya yang berada tepat di sebelah kamarnya. Saat sampai disana senyuman Hendery merekah kala mendapati Johnny yang tengah terduduk di kasur dengan laptop yang berada di pangkuannya. Johnny menyingkirkan laptopnya dan membawa Hendery dalam dekapannya, sesekali ia menghirup aroma Hendery yang baru saja bangun dari tidurnya.
"Mama oddi…." Tanya Hendery saat tak mendapati keberadaan mama kesayangannya.
"Mama sedang di kamar mandi." Ucap Johnny.
"Mama thower yah?" (mama shower ya?) Tanya anak kecil itu. Johnny lantas mengangguk dan kembali bermain dengan sang putra.
"Johnny Seo! Kau benar-benar kantong hormone berjalan." Teriak Ten dari dalam kamar mandi.
Hendery yang mendengar teriakan sang mama nampak membulatkan mata indahnya dan menatap Johnny seolah bertanya-tanya. Tak lama kemudian Ten keluar dari kamar mandi dengan wajah yang seperti menahan amarah. Wanita cantik itu masih belum menyadari kehadiran Hendery yang tengah menggigit mainannya di samping Johnny, Ten lantas berkacak pinggang di hadapan Johnny dan menunjukkan benda yang akan membuat siapapun terkejut saat melihatnya.
"Demi Tuhan Johnny Seo…. Bahkan Hendery baru satu tahun. Hua…. Kau membuatku gila." Teriak Ten.
Jadi pagi itu keluarga kecil mereka kembali mendapatkan kejutan sebagai hadiah ulang tahun Hendery. Hari ini Ten kembali berbadan dua, dan sepertinya segala hingar binger masa-masa kehamilan akan kembali menyambangi kehidupan rumah tangga mereka. Dan jangan lupakan juga Johnny yang menggenggam test pack di tangannya dengan bibir yang mengerucut. Bukankah itu artinya Johnny tak akan bisa mengajak Ten bermain selama beberapa bulan kedepan, seseorang tolong ingatkan Johnny untuk bersabar.
