Kucing Jingga dan Penangkal Sihir
Naruto © Masashi Kishimoto
Chiisana Lion © LIPxLIP
.
Di Desa Konoha ada tiga sekolah, di mana yang paling dekat dengan hutan adalah Sekolah Menengah Atas. Hinata Hyuuga, salah seorang dari seratusan siswi yang mengampu pendidikan di SMA Konoha—gadis manis berperawakan lembut ini merupakan murid dari kelas 2A. Hidupnya berlangsung sungguh biasa nan normal, hampir tak ada kejadian yang dapat dikatakan sangat mengesankan selama tujuh belas tahun hidup di dunia. Dibersamai oleh tiga teman puan akrab sejak duduk di Sekolah Dasar, hari ini pun mereka berempat melangkah meninggalkan gedung sekolah bersama-sama. Tempat tinggal nona-nona kuartet ini berjauhan, keempatnya diharuskan berpisah menuju persimpangan masing-masing usai melangkah berbarengan selama kira-kira sepuluh menit tiap harinya.
Demikian halnya dengan hari-hari, bahkan tahun-tahun lalu, lambainya menjadi awal perpisahan dengan Ino, Sakura, dan Tenten sebelum beralih ke kiri. Hinata susuri jalanan rata di bawah cakrawala menjelang petang menuju rumahnya. Udara sejuk menyapa kulit, dilanjutkan oleh pemandangan sawah di kanan-kiri. Beberapa petani tampak melakukan aktivitas berbeda-beda di sana; menanam, membajak, bahkan ada pula yang memanen tumbuhannya. Hal itu pun adalah lumrah bagi mereka yang tinggal di daerah pedesaan.
Meski demikian, sang empu surai lavender sebahu belum juga merasa jengah atau bosan dengan kronologi serupa setiap hari. Sapa dilayangkan kendati dirinya tidak mengenal para ibu dan ayah yang tengah bergelut bersama lumpur serta barisan padi. Yang lain hanya mendapat lontaran senyum, lainnya bahkan menyempatkan diri bertanya-tanya demi menerima laporan singkat mengenai apa yang telah dilewati Hinata hari ini. "Konohamaru-kun sudah SMP, ya?" Ingatannya bergerak menuju bocah yang kerap mengantarkan makanan pada pamannya itu—apakah figur laki-laki muda itu telah bertambah tingginya, masih seperti dulu, atau bahkan melampaui tinggi badannya, selayaknya hormon pria yang lekas sekali berpengaruh pada pertumbuhan fisik.
"Anak itu—masih saja malas belajar." Asuma, paman si bocah, sembari membaguskan posisi capingnya agar dapat memampangkan wajah secara total pada lawan bicaranya, menyampaikan keluhannya pada gadis muda itu.
Kekehan yang diterima suami dari salah satu guru Hinata di SMP tersebut. Mengalun lembut bersama tampang canggung bercampur kasihan, gumam sang puan ditemani dengan respons pendek. "Kuharap dia tidak membuat banyak masalah saat menjadi murid baru nanti." Obrolan singkat akhirnya berakhir dengan pamit Hinata bersama gestur membungkuk.
.
Sol sepatu memijak Bumi kembali. Pematang sawah masih menemani di sisi kanan dan kiri hingga beberapa meter ke depan, di hadapannya telah tampak pemukiman warga di mana jalanan sepi kini ditemani oleh sejumlah tiang listrik. Lebar jalan cukup menampung dua mobil yang melaju sejajar; untuk dikendarai searah langkahnya dan menuju arah berlawanan. Menurut hari-hari biasa, tempat tinggalnya berada pada jarak berjalan dengan kecepatan konstan dalam sepuluh menit lagi.
Udara petang dihirup dalam-dalam. Besok hari Minggu, itu artinya libur satu hari dari penat soal tugas, dan—oh, Hinata urung melancarkan rencana itu sebab terdapat sebuah tugas besar untuk diselesaikan dengan fokus yang intens: bahasa Inggris. 'Ah, malasnya~!' Mengingat dirinya tidak hendak bepergian ke luar negeri, rasanya mempelajari bahasa internasional itu tidak begitu krusial. Berpikir untuk ke kota besar pun dia tidak sanggup, entah tetap akan meneruskan kuliah atau langsung bekerja saja, benaknya masih enggan membahas lebih jauh.
"Eh?" Iris bening serupa mutiara menangkap suatu pemandangan yang sukses menjerat atensinya; Di depan halaman rumah seseorang yang ia tahu betul ini milik siapa, tergeletak lemah seekor kucing putih. Berbaring makhluk kaki empat itu di atas tanah berpasir dan mengeong berulang kali seolah hendak berbicara dan menyampaikan sesuatu dalam bahasa manusia saja. Hinata berpikir bahwa sedari tadi belum ada orang lewat, atau ada—tetapi tak menaruh peduli pada hewan berbulu itu. "…apa terjadi sesuatu padamu?" Mendekat ia dengan segera usai bertanya demikian.
Puan itu bukan seorang pecinta binatang, lamun tak bisa juga menganggap dirinya membenci hewan-hewan. Tubuh merendah dan berjongkok, menilik bagian badan sang kucing untuk menemukan apa yang salah di sana: luka pada kaki kanan depan. "Tergores—." bisiknya iba, tapi sayang, Hinata tak memahami bagaimana cara merawat dan menyembuhkan luka hewan. Hati kecilnya terketuk untuk menolong kendati pengetahuan terbatas—sapu tangan berwarna dasar ungu muda disertai pinggiran yang membingkai dengan warna lebih gelap menjadi bahan perawatannya kali ini.
"Etto," Berpikir, apakah kucing itu akan terlonjak, berlari, atau malah mencakar dara Hyuuga tersebut tiba-tiba jika ia mencoba meredakan rasa perih yang barangkali masih tersisa? "Gomennasai, aku tidak tahu dokter hewan di dekat sini…" Bahkan di seluruh desa ini, belum pernah sekalipun rungunya memperoleh informasi perihal seseorang yang mengampu profesi itu, bahkan entah salah satu dari orang tua teman-temannya di sekolah.
Pelan dan perlahan serta hati-hati kuasanya bertindak atas kaki mungil berbulu milik si mamalia, menutup area luka dengan saputangan dan mengakhiri gerakannya dengan mengikat ujung-ujung atas dan bawah saputangan dengan simpul yang tak sampai menghambat aliran darah sang kucing. "Selesai!" Dan Hinata disambut dengan ngeong lemah kucing itu saat tubuh kecilnya bangkit berdiri, menampakkan bahwa sesungguhnya 'Aku! Kucing kuat! Ini bukan apa-apa!' melalui tatapan yang beradu dengan manik molek milik siswa tahun pertengahan ini.
Hanya senyum hangat yang menjadi balasan sebab Hinata tak mampu mendeteksi gestur tubuh si kucing berbulu jingga. "Meow meow! Meow meow meow!" Entah apa—bahkan raut muka penuh bulu itu nihil perubahan, membuat gadis ini kian heran dan penasaran soal apa yang menjadi perkataan si kucing ketika diterjemahkan menjadi bahasa manusia.
Tanda tanya imajiner memenuhi muka dan area sekitar Hinata karenanya. Geleng singkat diberi pada sang hewan, dan ia memutuskan untuk pamit kali ini. Tidak ada gunanya juga bila mengasuh binatang itu, sebab keluarganya tidak memperbolehkan adanya hewan di kawasan rumah. "Sampai jumpa lagi." Intonasi selembut sutra menjadi hal yang menandai perpisahan mereka. Bukannya menganggap kejadian ini sebagai hal asing, tetapi tak bisa menampik pula bahwa baru kali ini seekor kucing terlihat ingin berbicara dengannya. Belum lagi ia salah sangka terhadap si kaki empat soal pemberian perawatan; alias, anak bulu itu rupanya cuma tengah beristirahat dan mungkin belum mampu berjalan tadi.
Oh, rupanya sia-sia?
.
Cakrawala berganti gelap, bertabur bintang-bintang bersama bulan berbentuk sabit menjadi tokoh utama dalam menghias langit. Di titik yang sama, kucing jingga berdiri dan memandangi halaman depan kediaman Hyuuga—ya, dia berlari-lari dengan pasti sesudah memastikan Hinata tidak akan menyadarinya yang sedang menguntit. 'Tolong, seseorang. Beri aku sihir agar dapat berbicara.'
Permintaan lumrah dari banyaknya makhluk hidup selain manusia kepada para penyihir; kebesaran hati sang kucing mengundang dua pria bertopi hitam runcing dengan jubah kelam yang menyelimuti tubuh mereka untuk hadir di belakang si kucing. Cahaya luar biasa di jam tengah malam tentu dengan mudah membelokkan tubuhnya demi menyaksikan siapa sang pelaku — duo surai merah dan kuning, penyihir terkenal di kalangan Kingdom Animalia berjenama Sasori dan Deidara.
"Lakukan apa yang kau mau secepatnya," buka Sasori sembari mengangkat sebelah tangannya. "Ingat! Secepatnya, un!" sambung sang partner melakukan bahasa tubuh yang serupa dengan si kepala merah.
Sebagai seekor kucing tak berdaya, hulunya terangkat penuh kagum; kehilangan kata-kata sebab mendadak berhak merasakan sihir itu selekas ini. Siapa pemicunya? Hinata Hyuuga—kau, harus berterima kasih padanya, kucing!
"Naruto," Sasori mengudarakan lisan dengan intonasi kalem dan dingin, memberi nama pada kucing yang telah berubah wujud itu, "kau bisa menjadi manusia permanen tanpa identitas yang jelas—hanya jika kau mengetahui penangkal sihirnya." tambahnya dengan nada misterius penuh teka-teki, kemudian memunggungi Naruto dengan segera, hendak meninggalkan tempat oleh karena tugasnya dan Deidara sudah selesai. Benar, seringkas ini saja, hahaha~.
Yang menjadi pasangan dalam menghampiri para hewan turut menggosok-gosokkan punggung tangan pada permukaan hidung. "Ingat, oke—?!" Sengaja merepetisi untuk memberi penekanan; misi satu ini kerap mengalami kegagalan karena penangkal sihir yang mereka maksud nyatanya tidak mudah ditebak hanya dalam waktu -sensor- hari berpikir. Kebanyakan dari mereka terbuai untuk melakukan hal-hal yang diinginkan dengan egois.
"Wakatta, —ttebayo!" Muka sawo matang Naruto bersinar akibat pantulan sinar bulan. Iris sebiru samudera terpantul pula di sana—ada pancaran yakin mengenai diri yang takkan melupakan 'misi' itu.
Kedua penyihir menghilang dalam bayang malam dengan meninggalkan seringai tipis yang tak sempat disaksikan Naruto. Mereka hendak melihat sejauh mana anak itu bisa bertahan; berhasil, atau gagal.
.
Tubuh Naruto dibalut seragam sekolah Hinata, dilapisi oleh jaket dua warna yang membelah separuh bagian atas dan bawahnya. Pagi ini, jam istirahat, dirinya memilih untuk berbaring di atas cabang pohon besar di samping sekolah. Tak ada satupun yang mengenalinya, lamun nihil pula yang melontarkan tatap curiga padanya. Ini beruntung sekali, ia jadi bisa menonton Hinata berlalu-lalang dan beraktivitas dengan leluasa dari sini, kendati gadis itu tak sekalipun mencuri pandang padanya.
Hari pertama, gagal. Padahal Naruto hanya perlu berterima kasih dengan tulus dan … mengakui bahwa kucing kemarin adalah dirinya—bagaimana pun ini terdengar sangat mustahil pada zaman ini, paling tidak ia harus mengungkapkan dan menyerahkan percaya atau tidaknya pada pribadi Hinata.
Hari berikutnya, pemuda kucing putuskan untuk berjalan-jalan di koridor. Untuk memudahkan dirinya dalam mencari nama puan tersebut, mau tak mau harus observasi kecil-kecilan, 'kan? "Nama. Nama." Bisiknya begitu rendah dan berulang sejumlah kali. Siapa tahu dapat menjadi mantra mendadak—
"Hinata! Hari ini mau beli apa?"
Telinga Naruto yang dasarnya mampu menangkap suara di rentang nol hingga dua puluh desibel refleks mengarah pada suara gadis yang bersemangat itu. Penciumannya pun masih tersisa seperti dulu; bekerja tajam, menemukan sosok serupa sang penolong yang menghampirinya tiga hari lalu. Tilikan mata bergeser ke sudut, langkah kaki pun menggiring tubuh untuk melipir ke suatu sudut di dekat dinding. Ia hendak memerhatikan dari sini, paling tidak untuk mendapatkan nama sang nona terlebih dahulu. 'Hinata?' batinnya, kembali merepetisi kalau-kalau yang tadi itu salah dengar.
"Roti. Mari beli roti? Di toko Shibi-jisan."
"Toko ayah Shino?" Si rambut cepol, yang tadi bertanya, memastikan saran dari Hinata.
Keempat gadis saling memandang karenanya. Dalam hati, mereka menimbang-nimbang apakah opsi itu dilaksanakan saja hari ini atau mencari jajanan lain.
'Shibi-jichan…'
Pemilik iris zamrud dengan mahkota sewarna bunga sakura mengangguk dan berseru sebagai pembuka persetujuan, "Kita beli yang paling besar!"
"Ide bagus!" Kepalan Ino terangkat hingga bahu.
Tampak tiada lagi seorang pun yang menyanggah setelahnya. Kala itu pula, Hinata tanpa sengaja menoleh ke arah di mana Naruto bersandar dan memerhatikan kumpulan siswi yang tengah berdiskusi dengan intens. "?" Saat mata hendak mencari jawaban pula, hulu sang adam dilempar ke arah sebelah seolah 'kabur' dan bersembunyi tanpa harus berpindah tempat. Empu surai lavender memiringkan kepala oleh karenanya; bertanya-tanya, apakah laki-laki di sana adalah murid baru, sedang menunggu seseorang, atau memang ingin menyendiri karena sesuatu yang menjadi sebab?
Belum sempat Hinata menuntaskan rasa ingin tahu, pergelangan tangan telah digenggam erat oleh Tenten. Ia ditarik untuk bergegas menjalankan piket sebelum berkunjung ke toko roti bersama.
.
Sial. Naruto tiba terlebih dahulu di sini. Papan penanda benar-benar tidak memberi tahu bahwa dia keliru berkunjung; ini adalah toko roti Shibi Aburame yang dimaksud oleh gadis-gadis itu—yang dimaksud oleh Hinata. "Sekarang apa—?" Sebelah alis pirang terang terangkat di tengah kebingungan. Masuk saja? Tapi dia tidak tahu hendak membeli apa. Pun entah kapan gadis-gadis itu selesai dengan kewajiban piket mereka. Menunggu di luar seperti menanti seseorang untuk masuk bersama? Yang benar saja.
Hela napas terembus dari hidung tuan berkumis tiga di kedua pipi. Tak disangka kepalanya bekerja lebih buruk dalam wujud manusia seperti ini. Berpikir, berpikir—. "Hm?" Deriji serta telapak yang menelusup ke dalam saku celana tak sengaja merogoh beberapa lembar entah apa di sana. Tanpa ragu, ditariknya benda tersebut hingga keluar: uang sepuluh ribu yen lima lembar. 'Ha—? Sejak kapan?' Menahan diri untuk berseru penuh heran, menduga-duga bilamana ini tak jauh dari pelayanan dua penyihir itu. Yah, siapa lagi pelaku yang paling masuk akal?
"Hari ini ada yang diskon atau tidak, ya~?"
Suara itu—Bukan, bukan Hinata yang berbicara tetapi dara rambut cokelat dengan dua dango di kepalanya. Naruto tersentak, pun sontak maju saja untuk membuka pintu toko. Harum kue-kuean ditangkap penciuman sensitifnya. Penjaga berkacamata hitam serta wajah tertutup hingga hidung menyambutnya dengan "Irasshai." dingin tetapi tidak bisa dikatakan tidak ramah. Insting kucingnya mempelajari bangunan sedang nan hangat ini. Di mana kira-kira roti besar yang para puan itu maksud sejak awal?
"KON—NICHIWAAA~!" Kecuali Hinata, sapa penuh semangat itu membuat kedua bahu Naruto terangkat tiba-tiba. Pria Aburame hanya mengucapkan sambutan serupa selayaknya yang diterima Naruto beberapa detik lalu. Keempat siswi sudah biasa, ini memang toko langganan mereka ketika ingin camilan berbentuk roti.
Tangan kanan Naruto mulai menggaruk bagian kepala yang tidak gatal. Roti-roti di depannya tampak lezat semua—ingin beli semua. Tetapi, lidahnya tidak terbiasa dengan makanan manis ini. Apa ada susu kemasan di sini?
"Lihat! Di situ rotinya!"
Suara si rambut pirang panjang dengan bola mata biru pucat menemani tapak mereka yang berbondong-bondong mendekat ke posisi di mana Naruto berdiri! Sontak pemuda ini berjalan miring ke sisi, menjauh dari titik mula agar sekaligus memberi jalan dan akses untuk perempuan-perempuan itu memilih yang mereka inginkan.
"Ah, tersisa tiga." keluh Sakura, menyayangkan kuantitas yang nyaris sempurna.
"Tidak apa-apa, Sakura-san. Aku tidak usah makan hari ini."
Pucuk telinga Naruto bergoyang mendengar suara lembut bagai malaikat itu. Hinata—figur remaja yang rendah hati dan berwatak baik, ya? 'Cih, mengalah hanya akan membuatmu tertindas, tahu.' (Hei? Kau ingin berterima kasih padanya, 'kan?) Usap di belakang tengkorak makin agresif—ia tak kuat menyaksikan kerendahan hati seperti itu di depan matanya langsung. Berputarlah otak standarnya menuju etalase lain; roti apapun dengan ukuran hampir sama dengan incaran para gadis. Dapat! Oh, cepat sekali. Jangan bilang ini pekerjaan Sasori dan Deidara lagi? 'Aku tidak butuh bantuan kalian.' Curiga, terlalu banyak diberi keringanan memungkinkan ia untuk tidak dikasihani ketika menemukan penangkal sihirnya nanti.
Tanpa mengacuhkan tawaran-tawaran yang dilempar satu sama lain oleh kuartet dari Kelas 2A SMA Konoha yang berlomba-lomba menawarkan agar dirinya saja yang absen makan roti hari ini, Naruto hadir menuju kerumunan mereka sembari menyerahkan 'traktiran' mendadaknya pada Hinata. "Ambil. Aku saja yang bayar, —ttebayo." Kuasanya memang diluruskan, tetapi kepalanya berbelok dan mengarah ke salah satu titik di atap bangunan.
Siapa yang tidak terheran ketika diberi cuma-cuma oleh orang asing? "Maaf, tapi—ini mahal sekali." Sudah hafal mengenai hampir semua harga roti milik Aburame, tentu Hinata merasa berat hati menerimanya.
Bak terkunci rapat mulutnya usai ditolak, dahi berkerut parah ketika pandangnya menembak pada bola berkilauan milik sang Hyuuga. Tak ada cara lain kecuali berotoritas atas pergelangan si puan, (menampilkan saputangan Hinata yang masih setia melekat di lengan bawahnya) selembar uang beserta roti pilihan Naruto dipaksa untuk dijepit oleh telapak mulus sang dara. "Terimalah, aku tidak mau mendengar penolakan." Masih bungkam untuk menjelaskan faktor pendermaan, begitu saja pemuda kepala duren ini melenggang pergi dan meninggalkan keempat gadis dengan segudang tanda tanya.
…Pada akhirnya, Hinata tetap menerima pemberian itu. Tidak baik membuangnya, 'kan?
.
Seberat itukah melisankan 'terima kasih'? Sudah hari ke enam sejak perubahan wujudnya dan tiada perkembangan baik ihwal relasi, interaksi, bahkan kontak mata dengan Hinata hingga detik ini. Mendung di hati didukung penuh oleh kelabu di langit. Gumpalan awan-awan tebal berkumpul dan saling menempel, mereka sudah sangat sedia untuk menumpahkan titik-titik air beramai-ramai ke permukaan Bumi.
Kebetulan, Naruto berada di dalam gedung sekolah, berniat untuk mengungkapkan rasa hari ini saja untuk menghemat waktu. Tepat seperti dugaan, tidak semudah itu menemukan sang gadis yang bahkan belum diketahui olehnya di kelas mana Hinata terdaftar sebagai siswa. Kau ngapain saja, Nak? Metode terakhir: mari menunggu di dekat loker sepatu. Ini masih jam di mana anak-anak bertugas membersihkan kelas bersama-sama. Menanti lebih awal barangkali dapat mempertemukan keduanya kala dara itu menukar uwabaki dengan kasut keberangkatan.
Anak tangga ke dua teras sekolah menjadi tempat duduk Naruto. Bermacam-macam cara siswa menghadapi hujan deras di luar situ hanya untuk lekas tiba di kediaman. Tak sedikit pula yang menunggu karena lupa membawa payung, atau enggan menerobos dengan sebab bervariasi. Udara dingin menyapa tubuhnya; tidak sampai jadi menggigil, hanya seperti angin biasa bertiup sejuk di segala musim. Diamnya diri berakhir pada kosongnya perbincangan dengan satu orang pun. Tiada yang menyapanya, mengajak bicara, atau sekadar menanyakan sedang menunggu apa—apalagi menawarkan pinjaman payung—.
Pada permukaan lantai tidak tercetak jelas debu-debu dari dasar kasut para siswa dan masyarakat sekolah, lamun dirinya terlampau bosan menunggu. 'Hinata itu ada di kelas berapa, sih—?' gerutunya tanpa bersuara, mulai liar dalam berpikir untuk menjatuhkan tubuh saja ke belakang—berbaring di tengah lalu-lalang warga SMA Konoha yang jelas-jelas seolah menganggap keberadaannya transparan. "Ha~h." Tuk. Tulang belakang sudah mencium ubin, tetapi saat itu juga netra lautnya menyorot kehadiran yang dinanti sedari tadi. Hop—! Lompat dengan profesional hingga beberapa pasang mata tak sengaja terkesiap, memasang posisi untuk berhadapan dengan Hinata yang terlihat belum mengeluarkan payung. Benar, dia sok tahu kalau gadis itu akan langsung pulang atau sebatas melewati titik ini.
Kembali pada Hinata yang mendongak, liriknya bagai menerawang seberapa besar hujan dan angin akan berubah saat ia di tengah perjalanan nanti. Postur ini justru mengundang Naruto tiba di sisi sang dara untuk menawarkan agar berpayung dengan jaket hitam-jingganya. "Ah, kamu baik sekali," Tidak juga memburamkan sungging manis nan membuai, pujian itu meluncur begitu saja tatkala memorinya berputar pada peristiwa beberapa hari lalu. "Terima kasih. Tapi aku punya payung sendiri." Kekeh singkat diperdengarkan selagi tangan cantiknya lantas menarik bagian pegangan payung dari dalam ransel.
Penolakan ke dua, dan Naruto gagal memaksanya seperti membeli roti tempo lalu. "…namaku Naruto, —ttebayo." Pemberian informasi ini akhirnya dilantunkan, sekaligus menimbang-nimbang sisa hari sebelum menemukan penangkal sihir.
"Naruto-kun, terima kasih!" Usai melayangkan salam santun itu dengan wajah yang menghadap ke pemuda, Hinata membuka pelindung hujannya. "Maaf, hari ini tidak bisa meminjamkan payung. Aku buru-buru." Dua bungkuk direpetisi demi menyampaikan sesal sepenuh hati. Di samping aksi Naruto yang masih membuatnya bingung, ia lebih baik membicarakan hal ini esok hari di sekolah. Toh, Naruto adalah murid sekolah ini, 'kan? Mereka bisa bertemu setiap hari—Hinata bisa mencari daftar nama dan menemukan di mana lanang itu terdaftar.
Inisiatif yang mendasar—Naruto masih belum juga terpikir akan gagasan itu.
Sekali lagi membuang karbon dioksida berlebihan lewat mulut, kedua tangan Naruto masuk ke saku celana sembari indera penglihatannya menyaksikan Hinata yang lama-kelamaan raib dari jarak pandang.
Hari pun berlalu tanpa perkembangan berarti.
Hingga waktu selanjutnya, Naruto terbangun ketika matahari telah turun sedikit dari puncak—masa di mana para siswa harus pulang sesudah piket usai. Hampir ia terjerembab ke tanah saat terlonjak mendapati pembicaraan samar antarmanusia di sana—ini terlambat sekali! Dia tidak masuk sekolah hari ini—lebih tepatnya, ia tidak bersandiwara hadir hari ini. Ah, baiklah. Orang-orang akan menganggap dirinya bolos, tetapi pelik utama bukan itu!
Ssshhh. Kepulan asap menampilkan dua penyihir. Si kepala merah mengumandangkan pengingat, "Sisa satu jam lagi, Naruto." Datar dan tidak juga terdengar mengancam, lebih kepada tegas agar Naruto tidak menyia-nyiakan kesempatan panjang semenjak dirinya memperoleh raga ini.
"Jangan lupakan penangkal sihir, un!" Yang lebih berisik makin menumpuk sebal dalam diri Naruto.
Hulu kucing jadi-jadian itu berbelok kasar seiring mulut berubah meruncing—menyesal juga pada diri sendiri oleh sebab kebanyakan mundur daripada mencoba metode mutakhir. Hirau akan keberadaan Sasori dan Deidara yang menunda kepergian, ia mengambil langkah dahulu demi mengejar sisa waktu. 'Terima kasih, Hinata.' Sakura tidak ada. Tenten tak terlihat batang hidungnya. Ino tidak sedang dalam jadwal klub. Hinata—mungkinkah ia pulang? 'Hinata, terima kasih!' Tapi, bagaimana bila diri ini sudah lelah berlari-lari, Hinata malah berada di suatu tempat yang bukan kediamannya?!
"Ah, sayang sekali. Ponsel Hinata-san tidak aktif. Mungkin dia sedang berbelanja kebutuhan dapur."
"Oh, tadi Hyuuga-san baru saja membawakan kumpulan tugas ke ruang guru."
"Hinata—? Bukankah Sakura, Ino, dan Tenten selalu bersamanya?"
Kumpulan jawaban tak berguna. Berkomunikasi dengan manusia, apakah memang separah itu hasilnya? Mengapa mereka tak menyadari keberadaan temannya sendiri? (Hei, kau diberkahi keberuntungan bisa lebih banyak bertanya pada mereka yang mengenal Hinata daripada junior atau seniornya!)
Ke belakang sekolah—parkiran sepeda. Sejauh pengetahuan Naruto, Hinata pulang dengan kaki, bukan kendaraan roda dua tanpa mesin itu. Pikiran acaknya mengajak untuk bertandang ke kawasan ini. 'Hinata! Terima kasih!' Pencariannya pun tak berguna, ya? Sudah berkeliling dan mengulang-ulang telusur ke destinasi yang sama, batang hidung gadis itu masih saja ragu menampakkan wujud.
"Naruto-kun?"
Linglung terbayar. Kelopak mata melebar, tubuh kaku. Bagaimana, harus bagaimana? 'Terima kasih' hanya dua kata mudah untuk dikatakan. Berbaliklah, lihat wajah dan matanya. "Hinata. Terima kasih." Uluran telapak yang terkepal sengaja dihadiahkan tanpa ucapan kepada dara di hadapan—memampangkan ikatan rapi saputangan Hinata yang menggulung lengan. "Ore wa, Hinata ga, su—"
Dalam satu kedipan, pupil kelabu terang milik Hinata menyadarkan diri mengenai apa yang baru saja dia lakukan di sini dan kepada siapa tadi ia berbicara? Tidak ada siapa-siapa di depannya, namun beberapa detik lalu bayangannya melukis jelas seseorang berperawakan lebih tinggi dengan surai kuning runcing, pupil biru laut, dan tiga pasang kumis menghiasi pipi — halusinasi?
.
Memastikan bahwa dua hari lalu bukanlah suatu mimpi, Hinata bertanya pada ketiga temannya perihal keberadaan dirinya; tak ada satupun yang tahu sebab mereka terpisah kala itu. Terasa begitu nyata, di saat yang sama sukar dibuktikan karena terjadi dan usai dengan begitu singkat. "Baiklah, mari kita pulang saja," ajaknya pada akhirnya—berharap otaknya mau diajak bekerja sama untuk menginterpretasikan insiden tersebut menjadi lebih tergambar. "Hari ini mau beli roti di toko Shibi-san lagi—?" Déjà vu; Roti besar. Selembar sepuluh ribu yen. Terima kasih. 'Su—'.
"Naruto-kun?"
Entah angin apa yang membawa kepala menoleh ke belakang—tepat di persimpangan jalan di mana ada pohon besar di sana. Menengadah kepala beserta pandangan, familiar Hinata rasa terkait kucing berbulu jingga yang tengah bertengger di atas sana. 'Bagaimana bisa ia naik?' Kerut heran terlukis pada peras, tanpa sengaja meninggalkan ketiga teman demi mendekati kaki empat kecil di atas sana. "…Pspsps."
Naruto kemudian, 'Cara memanggil apa itu?!' Bangkit dari posisi rebahan, ngeongnya dipersembahkan dengan singkat sebelum memutuskan diri untuk melompat agresif—berharap refleks Hinata bekerja cukup baik untuk berhasil memeluk tubuh penuh bulunya.
"Chotto—" Keseimbangan diatur penuh oleh gadis yang tak lihai berolahraga ini. Kedua tangan terbuka, siap menangkap sang kucing yang bilamana tidak sukses pun, kaki empat itu punya kemampuan untuk mendarat sempurna tanpa kesalahan di tanah! Hap—! Berhasil! "Naruto-kun!" Girang di tengah merdunya seruan Hinata, sang kucing mencuri kesempatan untuk mengelus-elus tubuhnya sendiri pada lengan dara ini. "Naruto-kun, saputanganku masih kau pakai, ya. Lukanya tidak membusuk?"
Ssshhh.
"Woah—!" Berat bertambah berkali-kali lipat pada apa yang didekap barusan. Itu menjadikannya terpaksa ambruk ke depan, mengikuti gravitasi dan arah jatuh sang kucing di depan—di hadapan, di bawah, dengan Hinata yang menahan badan di atas Naruto memakai dua tangan yang seolah berperan sebagai penjara palsu bagi sang korban yang merebah. "Maaf, aku—" Dunia berhenti berputar, jarak pisah antarparas yang sangat minim merebus sel-sel darah merah di dalam pembuluh area muka. Malu, cepat-cepat ia berdiri dan menepuk-nepuk bagian seragam yang terkena debu.
"Selamat! Penangkal sihir bekerja dengan sukses!"
Naruto terkekeh ringan. Pada dasarnya hanya ingin memenuhi tujuan untuk berterima kasih dan mengungkapkan rasa suka — pesimistis bertumbuh subur sehingga tak sempat memikirkan bentuk penangkal sihir agar sepenuhnya dapat menjadi manusia dan … menaikkan status menjadi kekasih Hinata Hyuuga. "Ore to, tsukiatte ii—?" Untuk apa menunda-nunda? Setelah empat hari kala itu terbuang sia-sia? Oh, ia cukup berani mengambil risiko demi tidak mengulang kesalahan yang sama.
Berbanding terbalik dengan lawan bicara yang masih terheran dan mengurus kemelut dalam benak dan detak jantung— "Aku tidak tahu harus memberi 'ya' atau 'tidak'," Surai keunguan yang diterbangkan angin diselipkan ke belakang telinga sembari pandangnya masih tertuju ke arah asal. Lima detik berlalu, diputuskan Hinata untuk membungkuk dan menjulurkan kuasa—menjadi relawan untuk Naruto bangkit berdiri dari posisi telentang. "Tapi mari kita coba?"
Barisan gigi Naruto dipertontonkan dalam cengir gembira. Berlebihan apabila menilik kembali bahwa ia jatuh cinta dengan manusia yang menolongnya—apa sebab hati tersentuh? Secara alami, apa memang sosok Hinata Hyuuga ideal bagi kucing seperti dirinya? "Hinata, terima kasih, —ttebayo!" Kulit kecokelatan mendekat menuju milik Hinata; Genggamnya dibuat erat dan hati-hati supaya puan itu tak terjungkal untuk kedua kalinya.
Perasaan kita yang terhubung menghancurkan hukum alam.
Akankah anak kita akan seutuhnya manusia atau setengah kucing—?
Baik, itu terlalu jauh. Ayo nikmati dulu masa-masa bersama denganku, Hinata?
-Selesai-
Hai. WKWKWK. Ohisashiburi desss! Saya kembali dari hibernasi uwu Horeee, akhirnya bisa nyumbang buat NHFD kali ini! Eh, kayaknya nggak bisa, deh. Soalnya rules-nya harus 'pure self-made' sedangkan ini based on lagu T_T
Tapi, Panitia-tachi, izinkan saya untuk merayakan dengan taruh hashtag dan prompt di summary, ya! Nggak dimasukin ke collection juga gapapa, kok. Anggap aja ini karya 'tambahan'. -apaan-
Oke~, mungkin segitu aja dari saya. Semoga suka sama isinya Q_Q Udah lama nggak nulis fanfic, jadi kayak kaku gitu—. Makasih buat yang udah mampir dan fave -kayak ada aja- dan review! -sungkem satu-satu-
