Disclaimer: Final Fantasy XIV © Square Enix. Tidak ada keuntungan material apa pun yang diambil dari karya ini.
pertukaran yang adil
oleh revabhipraya
.
.
.
Dongeng yang paling sering diceritakan turun-temurun adalah tentang bagaimana seorang pemuda kuat yang lain daripada yang lain berhasil menyelamatkan seorang gadis yang disekap oleh seorang penjahat. Karakternya beragam, tentu saja. Pemuda ini bisa seorang pangeran, raja, ksatria, atau bahkan hanya sekedar pemuda desa miskin yang beruntung. Gadis ini juga bisa macam-macam: putri, gadis paling cantik sejagat raya, gadis dengan kekuatan sihir rahasia, dan masih banyak lagi. Oh, mari kita bahas juga si penjahat. Ia bisa berupa manusia biasa yang berambisi tinggi, penyihir, atau makhluk besar dan mengerikan seperti naga atau raksasa. Ada banyak versi dan variasi, tetapi isinya serupa. Hanya saja, dongeng kali ini bukan seperti itu.
Dikisahkan ada sepasang penyihir hitam dan putih yang tinggal di sebuah kerajaan. Meski disebut sebagai penyihir hitam dan memiliki kekuatan utama penghancur, Urianger tidak pernah melakukannya semata-mata untuk keburukan. Menggunakan buku sihirnya, ia mengontrol makhluk-makhluk ganas yang tinggal di sekitar kerajaan agar mereka tidak mengganggu. Berkat Urianger, kerajaan itu jadi aman dan damai. Tentu saja, itu bukan berarti Y'shtola tidak punya peran baik sebagai penyihir putih. Berbeda dengan Urianger, fokus Y'shtola adalah elemen. Seluruh elemen yang ada di kerajaan ada di bawah kekuasaannya dibantu oleh tongkat sihirnya, dan itu juga yang membantu kerajaan menjadi makmur seperti sekarang ini. Sang raja sangat menghargai kedua penyihir ini. Sebagai hadiah atas kerja keras keduanya, raja memberikan sebuah rumah besar di dekat istana untuk mereka tinggali. Tentu saja kedua penyihir itu bahagia! Apa yang mungkin terjadi dengan kendali makhluk dan elemen berada di tangan keduanya?
Sialnya, ternyata hidup tidak seindah itu. Pada suatu malam, seorang pencuri menyelinap ke kediaman kedua penyihir itu. Pertama-tama, ia mencuri tongkat Y'shtola. Sukses. Setelahnya, ia beranjak untuk mengambil buku sihir Urianger, masih dengan tongkat Y'shtola di genggamannya. Untungnya, saat itu Urianger sedang terjaga, dan si pencuri yang panik secara tidak sengaja menjatuhkan tongkat milik Y'shtola sehingga terbentur lantai.
Kedua penyihir belum tahu bahwa itu adalah awal dari perubahan besar dalam hidup mereka.
Pagi harinya, Urianger menjelaskan apa yang terjadi semalam sambil mengembalikan tongkat milik Y'shtola yang, sialnya, sedikit rusak. Khawatir dengan kondisi tongkatnya, Y'shtola mencoba merapal salah satu mantra.
….
Tidak ada yang terjadi.
Tongkat itu bergeming, bahkan tidak bercahaya seperti biasanya.
Urianger menawarkan untuk mencoba menggunakan tongkat itu. Dirapalkannya mantra yang sama, dan anehnya, meski samar, ada cahaya yang ditunjukkan tongkat tersebut.
Bingung dengan apa yang baru saja terjadi, Urianger memutuskan untuk mencoba membaca suatu mantra dari buku sihirnya. Anehnya, tidak terjadi apa-apa, tetapi begitu Y'shtola yang melakukannya, sebuah bola api kecil muncul.
Benarkah kemampuan mereka … tertukar?
Keduanya terpaksa menghadap sang raja dan menyampaikan kejadian itu. Berhubung keduanya perlu waktu untuk menguasai kemampuan mereka yang baru, itu berarti untuk sementara waktu, kerajaan akan terus-menerus berada dalam bahaya akibat makhluk-makhluk dan elemen-elemen yang tidak dikontrol. Meski takut, raja memutuskan untuk memercayai Urianger dan Y'shtola. Beliau memberikan mereka waktu tiga minggu untuk menguasai kemampuan mereka yang tertukar. Jika mereka gagal, maka keduanya akan didepak dari kerajaan.
Melihat hukuman yang lumayan mengkhawatirkan, keduanya sepakat untuk berlatih keras.
Yah, memangnya mereka punya pilihan lain?
.
Tepat setelah pertemuan mereka dengan sang raja selesai, Urianger dan Y'shtola langsung memulai latihan di halaman rumah mereka. Setidaknya, Y'shtola masih bisa mendengar para elemen berbicara, jadi ia bisa tahu kalau untuk saat ini, kemampuan lamanya belum terlalu dibutuhkan. Sesi pertama latihan mereka dimulai dengan Urianger mengajarkan cara memakai buku sihir kepada Y'shtola.
"Ini." Urianger menyerahkan bukunya kepada Y'shtola. Ia menunjuk seekor kucing yang sedang berada di dekat mereka sambil berkata, "Buka halaman 5, taruh tanganmu di atas lingkaran di gambar itu, lalu baca mantra yang ditulis di atasnya."
Y'shtola menurut. Dilakukannya seperti apa yang Urianger katakan, dan benar saja, tahu-tahu kucing itu berbelok untuk menghampiri mereka. Senyum Y'shtola melebar. "Begitu rupanya."
"Ya, itu untuk memanggil satu makhluk," ujar jelas Urianger sambil mengangguk pelan. "Jika mau memanggil banyak makhluk di sekitarmu, mantranya ada di halaman 18. Kemudian, untuk membuka komunikasi dengan mereka, ada di halaman 9. Mantra-mantra lebih rumit yang melibatkan perlawanan fisik ada di halaman 40 dan seterusnya. Asal kau ingat nomor halamannya, pasti mudah."
"Mengingat … nomor halaman?" Y'shtola terperangah. "Jadi, selama ini, kau harus ingat nomor-nomor ini untuk menyihir?"
Urianger mengangguk. "Memangnya kau bagaimana?"
Y'shtola menghela napas lalu menyerahkan tongkatnya kepada Urianger. "Kalau aku, mantranya lah yang kuingat. Coba kita lihat wujud fisik elemen udara yang ada di sini. Mantranya Ventus."
Kini, giliran Urianger yang menurut. Dirapalkannya mantra itu sambil memegang tongkat, dan tidak lama, tampak sesosok anak kecil yang dilapisi pendar cahaya hijau di hadapan mereka. Rupanya, itulah sosok elemen udara yang ada di dekat mereka saat itu. "Itu menakjubkan."
"Memang, tapi itu baru udara saja," sahut Y'shtola. "Masih ada mantra untuk wujud fisik elemen yang lainnya. Selain itu, seperti milikmu, ada pula mantra untuk berkomunikasi dengan mereka, dan ada pula mantra untuk mengontrol mereka. Aku punya daftarnya di kamar, nanti kuambilkan, tetapi kau harus mengingat semuanya."
"Bukankah lebih sulit mengingat mantra daripada angka, ya?"
"Kurasa pola angka bisa lebih memusingkan daripada nama-nama mantra." Y'shtola bertopang dagu dan memiringkan kepalanya. "Kita memang tidak bisa menyamaratakan semua orang."
"Benar." Urianger menatap tongkat di tangannya dan buku sihir di tangan Y'shtola. "Daripada memaksakan diri untuk menghafal apa yang tidak bisa kita hafal, bagaimana kalau kita buat alat sihir lain?"
Y'shtola membelalakkan mata. "Alat sihir lain?"
"Ya, hanya karena kita biasa menggunakan tongkat dan buku sihir, bukan berarti kita tidak bisa menggunakan alat sihir lainnya," jelas Urianger. "Buktinya, dengan diajari, tadi kita bisa menggunakan alat sihir yang tidak biasa kita pakai."
"Benar juga," angguk Y'shtola. "Aku bisa membuat tongkat baru, dan kaubisa membuat buku sihir baru."
"Sederhananya begitu."
"Baiklah." Y'shtola meninju telapak tangannya sendiri. "Sepertinya sebelum tenggat waktu tiga minggu itu tiba, kita harus bekerja keras, Urianger."
Urianger mengangguk. "Kita pasti bisa."
Kedua penyihir itu menghabiskan sisa waktu yang diberikan raja untuk membuat alat sihir baru yang cocok dengan gaya menyihir dan cara mengingat mereka. Y'shtola memutuskan untuk membuat tongkat baru yang dapat membantu sihir hitamnya, sementara Urianger menemukan alat baru yang lebih cocok dengannya. Ia nomori mantra-mantra yang berkaitan dengan elemen, lalu menyusun mereka dalam kartu-kartu. Satu kartu satu mantra, dan tentunya satu nomor. Kartu-kartu mantra ini dibuatnya berevolusi terhadap sebuah globe kecil bergagang lebar. Dengan alat ini, ia dapat dengan lebih mudah memisahkan mantra yang dibutuhkan ketimbang membolak-balik halaman buku sihir.
Alat-alat baru ini selesai tepat tiga hari sebelum tenggat waktu yang diberikan raja tiba. Tentunya, sebelum kembali menghadap raja, keduanya harus memastikan bahwa alat mereka berfungsi dengan sempurna. Jadilah hari itu Urianger dan Y'shtola kembali berlatih. Mereka merapal berbagai mantra, dan semuanya berhasil dengan baik! Kemampuan mereka yang tertukar rupanya berhasil mendorong mereka untuk berani berinovasi. Sang raja juga tampak puas dengan hasil latihan mereka, sehingga kini, kerajaan kembali damai.
Namun, bagaimana jika kemampuan mereka tertukar lagi?
Yah, mereka hanya perlu kembali menggunakan alat sihir mereka yang lama, bukan?
.
.
.
FIN
