Baekhyun X Chanyeol

(and others)

Mystery, Horror, Thriller, School-life, Friendship, (a pinch of) Romance

[Prolog]

.

.

oOo

.

Tidak ada satu pun dari apa yang kusaksikan saat ini terlintas di pikiranku sebagai sesuatu yang akan dilakukan Chanyeol. Atau adiknya. Atau lima orang lain entah siapa yang kini berdiri melingkar mengelilingi batang-batang lilin di tengah ruang temaram di rumah besar keluarga Park. Tidak satu pun.

Keanehan yang selama ini kutemukan masih terus bisa kutolerir. Aku tidak punya hak menghakimi. Tapi kalau sudah begini, apakah justru pikiran itu yang menipuku? Atau justru apa yang tampak di depan mataku kali inilah yang menipuku? Yang mana?

Satu dari tujuh orang itu menoleh. Ke arahku. Gadis dengan gaun putih pucat yang sudah kukenal sebelumnya. Gadis dengan rambut berkepang dua di atas kedua daun telinganya.

Yeri.

Dia melihatku.

Sesungguhnya belum satu pun hal dapat kusimpulkan dari apa yang kulihat. Tapi lirikan Yeri nyata mematut takut. Seolah tak cukup dengan tatapan itu, dari wajah berpoleskan riasan dan perona bibir setara warna cokelat itu, dia memerangkapku dengan jaring tak kasat mata. Seperti saja kesiur angin dingin menerpaku hingga ke dalam pembuluh, membuatku meremang dan merasakan ngilu luar biasa di sekujur tulang punggung.

Aku.. harus lari.

Tepat ketika Yeri menoleh kepada sang kakak yang juga membelakangiku hingga lelaki tinggi itu turut menoleh ke arahku, kupaksa kaki-kakiku mengambil langkah secepat mungkin. Berbalik. Berlari meski harus tersandung-sandung. Aku bahkan tidak tahu apa yang akan Chanyeol, atau mereka, lakukan setelah menangkap basah keberadaanku mengintip melalui celah pintu, tetapi aku hanya merasa bahwa mereka akan mengejarku.

Aku harus lari.

Lorong rumah bak istana ini terasa kian panjang. Seperti tak berujung. Lentera-lentera berukir di dinding sepanjang koridor tidak ada habisnya. Lapisan beludru bermotif di sisi kanan dan pintu-pintu di sisi kiri, semuanya seperti bergerak semu, cepat, jauh lebih cepat, lebih cepat dari langkahku untuk melarikan diri.

Satu kali kumenoleh. Tidak ada yang mengejarku. Selain fakta bahwa Park Chanyeol dan Park Yeri berdiri bersisian di ujung koridor yang kutinggalkan di sana. Menatapku. Mereka kian jauh, kian kecil, tapi seperti saja tengah mengejar-ngejarku yang tak hentinya berlari sekadar lewat tatapan mata.

Aku menoleh sekali lagi. Yeri menunjuk jauh ke arahku. Tapi mereka masih di sana.

Aku berlari. Terus dan terus. Tak kunjung kutemukan pula ujung lorong ini.

Aku nyaris kehabisan napas. Tapi aku tidak ingin berhenti. Aku tidak ingin mereka menangkapku.

Satu kali lagi aku melihat ke belakang. Dan yang kuingat hanyalah sosok Yeri yang sudah berada tepat di belakangku, menunjukku. Aku kembali menoleh ke depan, hanya untuk menemukan langkahku harus terhenti karena keberadaan sosok tinggi menjulang di depanku. Park Chanyeol. Menyeringai. Mengayunkan kapak besar ke arahku.

.

.

oOo

.

A/n: Saya kurang tau juga ini apa, bakal berapa chapter, atau kapan saya lanjut. Mrie kt lihat. Tp kayaknya nggak bakal panjang2 banget ceritanya. Kayaknya. Hehe.