[Chapter 1]
.
.
Note: Fic ini remake dari ficlet yang pernah saya tulis di tahun (mungkin) 2015 atau 2016-an dengan judul 'Human', dan remake-nya ada di chapter ini sementara selebihnya adalah modifikasi dari ide cerita aslinya.
.
.
oOo
.
Pagi ini saat aku tiba di kelas, suasana benar-benar ribut. Masih tersisa sekitar dua puluh menit sebelum bel masuk berbunyi, tapi lebih dari tiga perempat penghuni kelas telah hadir, berkumpul membentuk kerumunan-kerumunan kecil bersama geng masing-masing.
Apakah ini hari kebalikan sampai-sampai anomali di mana kelas sudah hampir penuh jauh sebelum bel masuk bisa terjadi?
Dengan segera pertanyaan bodoh itu terjawab oleh suara dari dalam kepalaku sendiri. Jangankan orang-orang di sekolah, bahkan di rumahku sendiri, juga tetangga dan orang-orang di sepanjang perjalanan sepagian ini, hampir semuanya membicarakan hal yang sama. Dan kuyakin demikian pula halnya dengan penghuni kelas ini.
Aku memacu langkah, menghampiri dua orang di bangku paling belakang yang juga terlihat sibuk berbincang. Sedikit banyak, aku turut tak sabar untuk segera bergabung (nah, bukan berarti aku setuju untuk menyebut diriku sendiri—bersama Sehun dan juga Jongin—sebagai sebuah 'geng'. Itu kedengaran girly sekali).
Sambil meletakkan ransel dan ikut duduk di hadapan Jongin juga Sehun, tanpa menyapa atau memberi salam, langsung saja kutumpahkan pertanyaan yang sudah bersarang dalam kepalaku sejak melihat dua orang ini dari pintu kelas.
"Sudah lihat berita pagi ini?"
"Kau tidak sadar seluruh orang yang ada di sini sedang membicarakannya?" tanya Sehun, melempar pandangannya ke sana kemari sembari bersilang tangan. Hey, anak ini membalas pertanyaanku dengan pertanyaan. Tinggal jawab apa susahnya?
Sebelum mulutku menyemprotnya, Jongin mendengus, "Kenapa pula berita aneh seperti itu harus ditayangkan pagi-pagi? Benar-benar tidak pengertian pada anak remaja di masa pertumbuhan sepertiku yang butuh sarapan dengan khidmat," keluhnya.
"Masa pertumbuhan pantatmu," cibir Sehun. Aku berterima kasih padanya karena sudah menyuarakan itu. Sebab, 'anak remaja di masa pertumbuhan', katanya?
Tapi soal betapa berita itu merusak suasana sarapan, Sehun tampaknya mengamini. Ia setuju. Pun diriku sendiri.
"Tidakkah itu aneh? Bagaimana mungkin darah manusia bisa diisap sampai habis seperti itu?"
Jongin mengacak-acak rambutnya sendiri, kelihatannya sedikit tertekan mendengar penuturanku yang memperjelas berita itu tanpa sensor. Tapi, ia juga sepertinya tak berniat menghentikan pembicaraan ini. Aku tahu betul tabiatnya—yang sesungguhnya, tidak jauh-jauh dari aku sendiri maupun Sehun—kalau sudah menyangkut hal begini. Inilah saatnya kami beraksi. Maksudku, beraksi menjadi kriminolog gadungan yang sok-sokan membahas kasus kejahatan.
"Ini lebih dari sekadar 'mati kehabisan darah', kan? Seperti.." Aku meneliti langit-langit kelas, meminta permukaan datar berwarna putih itu memberiku wangsit berupa perumpamaan yang tepat, "kau tahu, kotak jus yang mengerut karena isinya diseruput sampai habis?"
Oh Sehun menelengkan kepala. Bibirnya maju sepersekian inci sementara mata menyipit tanda berpikir keras. Ya, ya. Itu memang perumpamaan yang konyol sekali. Tapi kupikir itu cukup mewakili apa yang berusaha kugambarkan. Baik Sehun dan juga Jongin, keduanya tidak membantah meski jelas-jelas mereka mencela ideku itu di dalam hati (kelihatan sekali dari muka kedua orang ini!).
"Entahlah." Sehun akhirnya menanggapi, mengembalikan pembahasan ke jalurnya. "Tapi sekarang ini aku masih menyalahkanmu karena mengirim foto jasad korban tanpa sensor ke grup kita," tambahnya. Ia menodongkan telunjuknya padaku yang duduk terbalik di kursiku ini. Sehun dan Jongin duduk berdampingan—di baris paling belakang, tentu saja, itu favorit semua anak laki-laki—sedangkan aku tepat di depan mereka bersama seorang siswi yang tidak punya pasangan duduk. Aku bukan tipe yang mempermasalahkan dengan siapa aku duduk. Asal tidak bikin repot, aku fine-fine saja duduk dengan anak perempuan—oh, dan asal, tetap dekat dengan dua koncoku ini.
Uh, soal foto jasad, anak satu ini terlalu melebih-lebihkan. Kalau tidak kukirim pun, mereka pasti memohon-mohon agar aku memperlihatkannya jika sedikit saja kubocorkan kepemilikanku atas dokumentasi yang dalam waktu singkat mulai langka itu.
"Eyy, kutebak kalian juga diam-diam penasaran, kan? Masih untung aku mendapatkan fotonya dari SNS. Unggahan apapun dengan foto itu pasti sudah diblokir sekarang."
Jongin berdecak. Ia geleng-geleng sambil meniru postur duduk tegap Sehun dan menyilang lengan. "Sekali lagi, Byun Baekhyun. Kau turut berperan menghancurkan mood sarapanku yang sedang dalam masa pertumbuhan ini. Kenapa tidak kau perlihatkan saat kita sudah di sekolah saja?"
Aku mendelik, "Sekali lagi, Kim Jongin. Kau sungguh tidak pantas menyandang predikat remaja di masa pertumbuhan lagi. Lihat badan bongsormu itu," cebikku. Jongin hanya mencibir sebagai respon.
"Soal tidak ditemukannya tanda-tanda lain selain keadaan mengenaskan korban itu sendiri, apa para polisi dan detektif itu bercanda? Tidak ada luka di tubuh korban, tidak ada barang yang hilang—kalau memang ada motif pencurian di sana—tidak ada jejak, bahkan sidik jari. Kurasa kredibilitas mereka perlu dipertanyakan."
Setelah Sehun membawa kembali topik itu, aku dan Jongin turut kembali (sok) berpikir. Berita ini beredar secepat kilat di kalangan anak-anak remaja karena mereka hobi berselancar di internet, dan pagi ini, dampaknya sungguhan terjadi dilihat dari bagaimana hampir seisi kelas benar-benar menggosipkan hal itu. Terlebih karena lokasi kejadian ada di apartemen dekat sekolah, dan korban itu sendiri adalah siswi dari sekolah sebelah.
Ketika sesuatu melintas di pikiranku, rasanya bulu kudukku berdiri seketika. Aku menatap Jongin, memberikan sinyal telepati yang sering kali bekerja tanpa benar-benar kami niatkan.
Sepasang mata milik Kim Jongin membulat. Ia sudahi aksi meniru gaya Oh Sehun-nya dan mencondongkan tubuh ke arahku, meletakkan kedua lengannya ke atas meja.
"Satan?"
Aku segera mengangguk yakin, menjentikkan jari membenarkan. Apa kubilang!
"Heeish," Sehun segera memotong, "sekali lagi, Byun Baekhyun, Kim Jongin," ditirunya kalimatku dan Jongin tadi, "kalian terlalu banyak nonton film."
Jongin lantas mengelus dagu. Ia tampak seketika disadarkan kalau pikirannya—dan pikiranku juga—barusan itu random sekali. Heh.
"Siapa tahu, kan? Ya, kan?" Aku berusaha bertahan pada ide itu. Yeah, sekolot-kolotnya kepercayaan terhadap hal-hal berbau mistis, aku yakin hal seperti itu masih ada di zaman modern seperti sekarang ini. "Kuberi tahu, ya, banyak kasus yang dilaporkan ke kepolisian berakhir tak terselesaikan karena terlalu 'tidak logis' untuk diusut. Kalian harus waspada, praktik satanisme kebanyakan menyusup di tempat dan golongan tak terduga," tambahku segera. Kuedarkan pandangan ke sekeliling dengan kepala merunduk ke meja. Menyipit mengamati selewat satu-satu murid-murid di kelas. "Siapa tahu di kelas ini.."
Sehun geleng-geleng lagi. Tidak berminat mengacuhkanku. Wajahnya seperti menyiratkan 'Byun Baekhyun harus sesegera mungkin mendapatkan bimbingan agar tidak kebanyakan berkhayal.'
Sudah kepalang celingak-celinguk begini, aku tak sengaja mendapati kehadiran seorang yang tak kukenal. Duduk sejajar dengan Jongin dan juga Sehun.
"Hey, siapa dia?" tanyaku dalam bisik, masih diam-diam mengamati orang itu.
Aku sama sekali tak merasa pernah pernah melihat laki-laki itu. Wajahnya sangat asing.
Penampilannya agak nyentrik, dan aku sedikit bimbang menentukan kesanku akan hal itu. Keren? Aneh? Aku tidak bisa menemukan ekspresi yang tepat.
Rambutnya berwarna abu gelap kebiruan, kulitnya putih pucat—putih sekali, kontras dengan bibirnya yang berwarna gelap (kutebak, orang itu adalah perokok aktif—atau apakah itu semacam lip balm?).
"Tadi dia bilang, dia murid pindahan." Sehun menjawab setelah ikut menoleh sekilas dan mengetahui siapa yang kumaksud.
Aku mengangguk-angguk. Baru saja aku ingin menyudahi acara mengamati-anak-baru-diam-diam itu, sialnya ia sepertinya sadar seseorang tengah memasang mata padanya. Mata kami bertemu. Dari posisi bertopang dagu menatap entah ke mana di depan sana, lelaki itu berganti menyandarkan punggung di kursinya. Masih membalas tatapanku.
Aku mengerjap. Ini tidak biasanya, tapi hey, salah tingkah juga aku tertangkap basah seperti ini. Setelah berdeham, kuputuskan untuk sekalian saja menghampirinya. Hitung-hitung salam perkenalan. Barangkali pula bisa dijadikan kawan.
"Hey," panggilku begitu sampai di hadapannya. "Murid baru, ya?" Aku mengulurkan tangan, "Baekhyun."
Uluran tanganku tidak langsung bersambut, melainkan ditatap oleh seorang yang tengah kuajak bicara ini. Astaga, tengsin sekali kalau sampai orang ini ternyata tidak suka disapa begini dan uluran tanganku benar-benar tidak ditanggapi.
Aku sudah hampir menarik kembali tanganku, tapi niat itu terhenti waktu dia berdiri dari kursinya tanpa melepas tatapannya padaku.
Ditatap lebih dari berdetik-detik seperti itu, ditambah fakta bahwa orang ini tinggi menjulang dan—uh—cukup tampan, rasa-rasanya aku hampir lupa diri. Sedikit degup aneh mengetuk dadaku.
Kenapa aku jadi deg-degan begini?
Tapi tidak lama setelah itu, ia tersenyum hangat.
Diam-diam aku menghela napas kecil. Lega. Tatapan yang barusan itu menimbulkan kesan tak ramah ditambah ketiadaan ekspresi pada rautnya. Begitu senyum menghiasi, aku merasa seperti baru saja diterpa sinar pagi cerah yang hangat nan menyenangkan. Debaranku—yang entah disebabkan oleh apa—berangsur mereda.
"Park Chanyeol."
Aku baru sadar tanganku masih melayang di udara sejak tadi. Tapi kali ini, Park Chanyeol menjabatnya. Syukurlah. Seperti halnya senyum orang itu, jabatan tangannya juga terasa hangat.
"Senang berkenalan denganmu," sambungnya.
Aku turut tersenyum. Tapi belum sempat kutanggapi kata-kata itu saat sahutan lain memotong.
"Aku Kim Jongin. Salam kenal!" Jongin melambari-lambai dari kursinya, yang seketika mencuri perhatian Park Chanyeol.
"Oh Sehun." Yang satu ini tidak repot-repot melakukan upaya lain selain mengangkat telapak tangan dan menyebutkan nama sambil menolehkan kepala.
Chanyeol mengekeh geli. Getar suara beratnya secara ajaib bagaikan merambat ke jantung hatiku.
Aku terpesona dalam hati. Bukankah anak ini tipikal pangeran sekali? (Kalau Jongin dan Sehun mendengar pertanyaan yang kuutarakan dalam hati ini, sudah bisa dipastikan mereka akan langsung mual-mual di depan mukaku).
"Senang bertemu kalian," kata Chanyeol.
"Byun Baekhyun, kau tidak harus bermanuver secepat itu." Perkataan Jongin sambil menunjuk ke arahku, menyadarkanku yang rupanya masih bertautan dengan milik Chanyeol. Wah, anak itu mulai menuduhku berniat mengincar Chanyeol.
Aku segera melepaskan tautan itu. Salah-salah, hari pertamanya malah menjadi hari di mana dia mendapatkan kesan buruk soal aku. Amit-amit.
Tidak butuh waktu lama bagi Chanyeol untuk membaur dengan seisi kelas. Siang hari, ia sudah bergabung denganku, Jongin, dan tentunya Sehun untuk tugas kelompok sejarah.
"Kami akan pergi ke karaoke. Kau ikut tidak?"
Tepat setelah bel pulang berkumandang, Sehun dan Jongin sudah gesit mengangkat ransel mereka masing-masing. Tahu-tahu saja keduanya sudah berdiri di hadapanku dan mengumumkan 'rencana pulang sekolah' mereka.
Aku yang baru saja menutup bukuku menyipit curiga ke arah mereka.
"Cuma karaoke saja. Sumpah!" Jongin memberikan peace sign, segera setelah melihat kodekecurigaanku.
"Sebaiknya begitu," kataku setelah berdecih. "Sampai kupergoki kalian main dengan gadis-gadis lagi, akan kulaporkan pada orang tua kalian."
Sehun meringis, menyugar rambut hitamnya ke belakang.
"Waktu itu cuma kebetulan," katanya. "Mereka meminta untuk bergabung jadi.. yah.."
Aku berdecih lagi. Alasan saja!
"Dasar anak-anak kelebihan hormon."
"Astaga, kami tidak berbuat apa-apa, tahu!" protes Jongin. Aku mencibir seraya memindahkan ranselku ke atas meja.
"Katakan itu pada video di mana kau menelusupkan tanganmu itu ke balik seragam anak kelas satu!"
Jongin mengembuskan napas keras melalui lipatan bibir tebalnya yang kini tampak seperti bebek.
"Jadi kau mau ikut atau tidak?" tanyanya lagi.
Sebuah kibasan tangan kuberikan. "Tidak, ah. Kalian pergi saja. Aku akan pulang dan tidur."
"Ck ck ck, sungguh seperti sapi."
"YAH!"
"Kami pergii~" Sehun buru-buru mendorong Jongin yang baru saja kembali mengulangi kebiasaannya—mengataiku sapi. Tidak butuh tiga detik sampai keduanya menghilang di pintu kelas.
Hidungku kembang-kempis. Sesering apapun Jongin mengisengiku dengan cara yang sama begini, rasa ingin memukul kepala anak itu tidak pernah hilang.
"Ha! Sudah kubilang hewan yang paling hobi tidur itu bukan sapi," Aku mulai berceloteh. Lagian, mana ada sapi setampan aku?
Selepas ditinggal dua remaja kelebihan hormon itu, aku menyusuri koridor berniat pulang, sendirian. Tidak banyak siswa yang tampak lalu-lalang. Sebagian pasti sudah melesat pergi sementara sisanya masih berada di kelas untuk pelajaran tambahan.
Koridor beranjak sepi ketika aku bertolak menuju tangga. Lantas tidak tampak lagi satu-dua orang berlalu seperti tadi. Lengang.
"Ya Tuhan!"
Aku terlonjak. Langkahku otomatis terhenti. Kupikir jantung beserta napasku baru saja tercerabut paksa saat melihat bayangan seorang gadis di persimpangan tangga. Mengintip menatap langsung padaku.
Shit, manusiakah itu?
Baiklah, anggap saja manusia. Tapi sialnya detak jantungku terlanjur berpacu. Siapa dan sedang apa dia? Anggota klub drama yang iseng keliling-keliling sekolah dengan kostum? Apa-apaan semua dandanan itu?
Aku berusaha menenangkan diri dari serangan jantung sesaat barusan. Masih beberapa langkah sebelum aku tiba di depan tangga tempat gadis berkepang dua dengan gaun putih sepanjang betis itu mengintip.
Mungkinkah aku sedang berhalusinasi?
"Hey,"
Aku terlonjak lagi. Demi Tuhan! Bikin kaget saja! Kali ini suara berat dari belakangku yang membuatku nyaris mengalami serangan jantung kedua. Ada apa dengan orang-orang ini?!
Baru saja aku mau memaki seorang yang baru datang itu, kulihat rupanya Park Chanyeol yang datang. Berjalan tergesa dari belakangku ke arah bagian koridor yang tepat berhadapan dengan tangga. Menghampiri si gadis bergaun putih.
"Kenapa kau datang ke sini?" tanya Chanyeol pada gadis itu. Aku yang berdiri tepat di dekat mereka mau tak mau turut menyaksikan dan mendengar.
Kini gadis itu sepenuhnya keluar dari tembok yang tadi menyembunyikan sebagian besar sosoknya. Bagus. Terkonfirmasi manusia sungguhan. Kurasa aku sudah terlampau paranoid.
Kuperhatikan lagi gadis itu. Gaun putih sepanjang betis dengan rok berlapis yang mengembang, rambut berkepang dua di atas dua daun telinga.. kulit putih pucat, dan gelap di bibir. Kalau gadis itu bukan anggota klub drama, aku tidak tahu kesimpulan apa lagi yang tepat menggambarkan identitasnya.
Namun melihatnya berdiri berhadapan dengan Chanyeol, aku jadi menyadari kemiripan di antara keduanya. Bukan mirip dalam artian punya wajah serupa, tapi kulit pucat dan bibir gelap itu, juga kesan yang entah bagaimana dtimbulkan keduanya, terasa mirip.
Aku menelan ludah kala tatapan gadis itu kembali terarah padaku. Menoleh sembilan puluh derajat.
Ini tidak lucu. Sungguh. Kenapa aku harus mendapat tatapan seperti itu?
Melihat gadis di hadapannya menoleh ke arah lain, Chanyeol mengikuti arah pandangnya. Bertemu tatap denganku yang masih diam di tempat.
Tapi tak lama-lama Chanyeol melakukan itu. Tanpa interaksi lebih lanjut, lelaki itu menarik si gadis bergaun putih tanpa berbasa-basi denganku (ya, aku sempat ge-er berpikir setidaknya dia akan basa-basi kepadaku sebelum pergi). Dan dengan langkah yang tiba-tiba saja penuh ragu ini, aku sempat menyusul dan melihat Chanyeol menarik gadis itu menuruni tangga. Lantas hilang di persimpangan tangga di bawah sana.
.
.
tbc
