[Chapter 2]
.
.
Warning forblood & injury
.
.
oOo
.
Diam-diam aku melintasi koridor dengan berjingkat. Aku berusaha semampuku agar tidak tampak mencurigakan layaknya orang mesum yang menguntit para siswi SMA, tapi kuakui, memang saat ini aku sedang mengikuti seseorang. Gadis itu berbelok menuju tangga. Entah ke mana dia mau pergi.
Wajahnya asing. Aku tahu ada ribuan siswa di sekolah ini dan tidak mungkin aku menghafal wajah mereka satu-satu, tapi kali ini, aku nyaris yakin dia bukan siswi sekolah ini. Sekilas kurasakan familiar terhadap sesuatu pada dirinya—meski di saat yang sama pula, aku tahu tidak seharusnya aku merasa begitu karena kupikir, tidak ada satu pun ingatan tentang gadis itu di dalam kepalaku sebelumnya.
Rasa penasaranku menang dan aku membuntutinya. Kupercepat langkah agar sesegera mungkin menyusulnya menuju tangga.
Ia mengenakan seragam sekolah ini—kemeja putih lengan panjang, bawahan rok bermotif kotak serta dasi menjuntai di dada dengan motif yang sama. Perpaduan antara garis-garis hitam dan abu-abu yang saling berpotongan.
Omong-omong, ke mana perginya semua orang? Dipikir-pikir memang tidak kulihat ada orang lain sejak tadi. Lampu koridor yang selalu menyala bahkan di siang hari kini kebanyakan mati. Menciptakan remang, terlebih di persimpangan menuju tangga. Belum lagi, di luar langit mendung sehingga di sini jadi gelap sekali.
Begitu sampai di ujung tangga, hanya puncak kepalanya yang sempat kulihat sebelum ia turun lebih jauh ke bawah. Kemudian menghilang dari jarak pandang. Segera aku kembali memacu langkah, menuruni tangga cepat-cepat.
Jeritan nyaring melengking menggema ke seluruh penjuru. Aku sontak berhenti. Huh?
Telinga—dan jantungku—yang seperti baru saja mengalami shock segera kalah dengan rasa penasaran, takut, dan khawatir yang seketika menyergap sekaligus.
Aku melanjutkan langkah tanpa pikir panjang, bertaruh bahwa dari lantai dualah jeritan itu berasal. Aku tidak repot-repot memikirkan siapa gerangan yang menjerit demikian keras karena, tebakanku langsung mengarah kepada gadis tadi. Gadis berambut pendek dengan warna kecokelatan itu.
Aku berbelok. Lebih dari separuh anak tangga sudah kulalui untuk sampai di lantai dua dari lantai tiga yang barusan kulewati begitu saja.
Tapi aku mengerem paksa sebelum benar-benar sampai di lantai dua. Kubekap secepatnya mulutku sendiri agar tak melepaskan seruan kaget.
Astaga..! Apa-apaan..!
Dengan tungkai gemetar—berani sumpah ini di luar kendaliku karena demi Tuhan, apa yang sedang dilakukan orang itu?—aku mengambil langkah mundur. Naik, meniti mundur satu per satu anak tangga. Menjauh. Di saat seperti ini, aku tidak terpikirkan hal lain selain sebisa mungkin menyembunyikan keberadaanku. Sialan sekali kakiku melemas atas apa yang kusaksikan. Dan yang bisa kulakukan hanya merosot terduduk, menggenggam kuat pegangan tangga agar tak limbung dan jatuh terguling di tangga, alih-alih menolong gadis itu.
Aku tidak tahu bagaimana cara menggambarkan apa yang sedang kulihat saat ini, tapi ada seorang pria berpostur tinggi, dengan jaket hitam bertudung yang menutupi kepalanya, berdiri membelakangiku. Mencekik gadis itu. Gadis yang tadi.
Ia mengangkatnya tinggi-tinggi. Kedua kaki gadis berambut pendek itu menendang-nendang, berusaha memijak tanah. Tetapi ia tak berdaya. Aku tak bisa mengira-ngira sekuat apa pria itu, serta mengapa ia melakukannya pada gadis itu. Jangan harap aku berani sekonyong-konyong menerjangnya dan menyelamatkan gadis itu. Sekarang saja, aku nyaris kehilangan tenaga dan tidak sanggup kabur seperti seekor tikus pengecut. Haruskah aku menelepon polisi?
Detik demi detik berlalu dan aku masih belum berbuat apa-apa selain menonton, tak habis pikir, dan.. ketakutan. Seolah seluruh sendiku turut terkejut dan tak sanggup menerima perintah untuk bergerak. Aku masih berjongkok di tengah tangga. Bingung. Takut. Gadis itu berusaha mengais udara. Lagi menendang-nendang. Berusaha melepas lilitan di lehernya. Tapi tak ada guna. Wajah dan matanya hanya kian memerah. Kehabisan napas. Dari merah, membiru, memucat.
Pria itu menoleh. Begitu cepat. Degup jantungku menggila. Bajingan! Dia melihatku!
Tudung jaket yang besar membuat wajahnya tertutup bayang-bayang. Tapi dua mata bulatnya, kini bisa kulihat dengan jelas.
Aku memaksa kaki-kakiku bergerak. Tidak bisa. Demi Tuhan, sedikit saja, kumohon. Dasar kaki-kaki pendek tidak berguna! Pria itu menatap tepat ke mataku tanpa sedikit pun lengah dari apa yang tengah dilakukannya pada gadis itu.
Tanpa sempat aku berusaha lebih keras untuk kabur, pria bertudung itu melesat ke arahku. Dengan kecepatan tak manusiawi. Hanya dalam sekejap mata, dia sudah menekan leherku. Membuatku telentang paksa di atas anak-anak tangga.
Shiit!Tidur di kasur rata saja aku sering sakit punggung, sekarang aku dicekik beralaskan permukaan tangga beserta lekuk-lekuknya!
"Ahk—l-lepass.."
Aku mulai sibuk berusaha lepas dari cengkeramannya dengan mata tertutup (mana berani aku menatap wajahnya!). Sembari itu kuhirup udara sebanyak yang kubisa.
Aku menendang asal. Mengenai kakinya namun tak sungguhan berguna. Ia mencekik, mengikat kuat leherku dengan semata-mata telapak tangan. Tuhan, apakah ini akhir dari hidupku? Setidaknya biarkan aku menitipkan wasiat lewat Sehun ataupun Jongin..
Ketika tak sengaja membuka mata, aku akhirnya bisa melihat wajahnya dengan jelas. Dua mata bulat. Kulit putih pucat. Bibir gelap di wajah tanpa gurat.
Park Chanyeol..
"C-chan.." Aku terbatuk. Untuk menyebut namanya pun sekarang aku tidak mampu.
Aku semakin histeris berusaha melepaskan diri. Tapi itu hanya membuatku semakin kehabisan napas.
Jemari-jemari yang melilit leherku mengikat kian kuat. Sekuat upayaku melepaskan, dan lebih kuat lagi.
Seseorang, tolong aku..
.
.
Aku terbangun dengan mulut megap-megap bagai ikan yang migrasi paksa ke daratan. Sensasi gerah dan lembap menyelimuti dan seketika kurasakan tubuhku sudah banjir keringat.
Aku bangun, panik menatap sekeliling. Bersiap kabur kalau kudapati siapapun yang berniat jahat padaku. Tetapi cuma terlihat meja, teve, juga perabotan lain yang sudah akrab bagiku. Aku ada di ruang tengah rumahku sendiri.
Perlahan kesadaranku kembali dan membuatku segera tahu dari mana ketakutanku berasal. Mimpi barusan itu.
Aku refleks memegang leher, menelan ludah di tengah engah napas. Adegan dalam mimpi itu berputar dengan cepat; aku yang mengikuti seorang gadis asing di koridor sekolah berpencahayaan tanggung, mendengar jerit melengking, menyaksikan adegan kekerasan yang dilakukan seorang pria tinggi, dan..
Aku menarik napas dan membuangnya keras-keras. Kupijat pelipisku yang seperti terserang sakit kepala dadakan dengan denyut satu-satu.
Seingatku, sudah lebih dari satu minggu aku tidak nonton film horor. Apa-apaan mimpi barusan itu? Ataukah, kata orang tua soal jangan tidur di siang bolong itu benar dan aku sedang terkena karma karena tidak mematuhinya?
Ha, konyol. Ini kan bukan siang bolong. Hari sudah beranjak petang saat aku pulang sekolah tadi. Belum lagi ini bukannya pertama kali bagiku untuk tidur-tiduran—dan sungguhan ketiduran—di sofa ruang tengah sepulang sekolah.
Maka kusimpulkan, hari ini aku sedang sial saja. Sudah mimpi buruk, dibintangi pula oleh Park Chanyeol—yang bahkan baru kutemui hari ini. Kurasa aku bisa lebih tenang kalau Jongin yang memerankannya dan mencekikku. Biar bisa langsung kubalas dia besok.
Ugh. Baiklah. Masa bodoh dengan mimpi. Sekarang aku butuh beberapa teguk air—dan mungkin makanan. Apakah aku terlalu stres karena pelajaran di sekolah semakin susah saja? Atau karena aku cemas Baekbeom telat membayar tagihan internet lagi bulan ini?
Apapun itu, otakku benar-benar tidak bijaksana dengan melibatkan Park Chanyeol si tampan dalam mimpi superabsurd itu.
Malam setelah Baekbeom pulang, kami makan malam berdua di meja kecil depan televisi. Syukurlah, aku bisa makan dengan lebih layak selain melahap sisa-sisa sarapan yang disimpan di kulkas dan kucomoti pasca bangun tidur tadi sore. Baekbeom yang pulang cepat bersama dua porsi makan malam yang enak adalah anugerah besar bagiku.
Ponsel yang kubiarkan tergeletak di samping mangkuk nasiku berdenting. Notifikasi pesan di layar tak sengaja tertangkap mataku.
[Ohseh sent a video.]
Menyusul satu pesan setelahnya.
[Lihat ini. Adukan saja pada ibunya.]
Satu pesan lagi.
[Aku tidak ikut-ikutan!]
TOK TOK.
Bunyi keras dua kali itu membuatku terlonjak. Kalah-kalah tiga kali bunyi notifikasi beruntun dari ponselku tadi. Baekbeom yang baru saja menggetok pinggiran mangkuk nasiku dengan sumpit demikian kerasnya memelototiku sambil mulutnya penuh dengan nasi.
"Matikan bunyinya. Kubilang pada Ibu tahu rasa kau."
Aku manyun, menatap sebal Baekbeom yang memperingatiku begitu. Setelah kuterapkan mode diam pada ponselku, kulanjutkan menyumpit nasi. Entah dari mana dan sejak kapan mengadu jadi hobi yang melekat di rumah ini, tapi dilihat dari kebiasaan Baekbeom—dan juga aku—yang sedikit-sedikit mengancam mengadu ke orang tua, kurasa hal itu memang sudah turun-temurun diwariskan di keluargaku.
"Sebaiknya kau berhenti bawa-bawa nama Ibu. Kau bisa menggantinya dengan Paman Noh," gerutuku asal. Kebiasaan sekali Baekbeom ini menyebut-nyebut Ibu dan Ayah yang sudah tenang di alam sana. Seberapa sering pun aku mengusulkan untuk menggantinya dengan Paman Noh—paman di sebelah rumah yang galak tapi perhatian pada kami yang yatim piatu ini—dia selalu saja balik ke kebiasaan lama kami itu; saling mengadu pada Ibu atau Ayah kalau ada yang melakukan hal-hal yang Ayah dan Ibu larang.
Tapi sejujurnya, aku pun tahu bukannya Baekbeom tidak sengaja melakukan itu. Ini semacam dark joke bagi kami yang sejak enam tahun lalu hidup berdua tanpa orang tua. Memang sejak bisa berdamaidengan fakta bahwa orang tua kami meninggal akibat kecelakaan, aku dan Baekbeom mulai mengembangkan kebiasaan-kebiasaan aneh—membuat 'candaan' seperti tadi, misalnya—yang setidaknya, bisa membuat kami mengubah kegetiran jadi sesuatu yang lebih ringan. Seperti kata orang; kalau tidak bisa ditangisi, tertawakan saja.
Seusai makan dan kami mencuci piring berdua (kusebut bagianku yang cuma mengelap alat makan basah dan menatanya kembali ke lemari adalah bagian dari cuci piring), tidak kusia-siakan kesempatan ini untuk mengorek informasi dari Baekbeom. Punya kakak seorang anggota kepolisian kadang memberiku beberapa keuntungan, salah satunya, mengetahui fakta-fakta di balik kejadian khususnya kejahatan di sekitar yang biasanya cuma diketahui yang berwenang saja.
"Kasus tadi pagi itu.. bagaimana perkembangannya?" Kutanya sambil lalu, seolah-olah hanya asal mencomot topik pembicaraan saat nyatanya aku sedang berusaha memuaskan rasa penasaranku sendiri (dan kalau memungkinkan, ingin kujadikan bahan diskusi dengan si Kim dan Oh di sekolah).
Baekbeom melirikku sekilas, dan kurasa upayaku berhasil untuk membuatnya menjawab tanpa segan.
"Karena bukan timku yang terjun mengusut kasus itu, tidak banyak yang kuketahui," katanya. "Tapi seluruh kantor menjadikannya buah bibir, tentu." Satu piring yang sudah dibilas berpindah ke tanganku. "Belum ada banyak perkembangan. Proses interogasi beberapa pihak masih berjalan dan sejauh ini tidak ada bukti yang benar-benar mengarah pada orang atau pihak tertentu."
Aku menggumam mengangguk-angguk. Diam-diam aku menimbang apakah perkiraan Sehun soal petugas kepolisian yang kurang kredibel kah yang benar, atau memang kasus ini seperti halnya beberapa kasus terdahulu yang memang buntu tanpa petunjuk. Meski jelas-jelas bukan urusanku, tentu saja perkara macam ini amat menarik buatku yang kerjaannya cuma membolak-balik buku pelajaran dan latihan soal, atau pergi main dengan teman-teman sekolah.
Tidak banyak yang bisa kutanyakan lagi pada Baekbeom. Selain karena memang tidak ada yang bisa diberitahukannya lagi padaku, dia menyuruhku segera kembali ke kamar. Belajar, mengerjakan PR, atau apapun lah, katanya. Cih, karena dia tahu kemampuan dan nilaiku di sekolah pas-pasan, selalu saja dia menggunakan senjata itu untuk segera mengusirku tiap kali aku berusaha kepo dengan kasus yang sedang ditangani kepolisian setempat.
"Dan, aku tidak akan memberimu informasi apa pun lagi kalau cuma dipakai bergosip dengan kawan-kawanmu itu."
Aku mendelik untuk kata 'bergosip'. Mencebik, lantas bubar jalan menuju kamar.
Di kamar, aku memutuskan membuka buku matematika barang sebentar. Begini-begini, aku tergolong rajin mengerjakan PR, jadi tidak ada lagi yang perlu kukerjakan selepas makan malam yang kemalaman ini. Tapi, tidak ada salahnya mengambil dua-tiga latihan soal. Mana tahu aku bisa semakin pintar dan menyusul Baekbeom masuk ke kepolisian (ya, itu mimpiku, tolong bantu doakan, ya).
Nah, sebelum itu, kurasa perlu kuurus dulu dua makhluk kelebihan hormon yang roman-romannya sedang melakukan perbuatan tidak terpuji itu. Buku matematika yang sudah terbuka tepat di halaman latihan soal kuanggurkan sebentar. Kubuka grup obrolan di ponsel yang isinya tidak lain dan tidak bukan adalah aku, Jongin, dan Sehun.
Mulutku terbuka lebar-lebar melihat video yang dikirimkan Sehun. Demi celana dalam kuning Baekbeom, apa-apaan si Kim ini?!
Kalau kemarin anak kelas satu, sekarang dia berbuat dengan anak kelas tiga! Yang artinya, kakak kelas kami!
Segera kuketikkan balasan dengan emosi.
[Terima kasih. Sudah kuteruskan video ini ke Bibi Kim.]
[Dan kau Oh Sehun, statusmu juga tersangka.]
Masa bodoh dengan kesetiakawanan. Sebagai orang yang menjunjung tinggi amanat orang tua, pokoknya aku akan membantu Paman dan Bibi Kim mendisiplinkan anaknya yang suka sok jadi playboy itu. Lagipula, aku ini diam-diam punya ketakutan Jongin akan menghamili anak orang. Aku tidak minat membayangkan Jongin yang masih hobi main ke sana kemari itu tiba-tiba jadi seorang ayah.
Bersama semua keparnoan itu—ya, senakal-nakalnya Jongin, kuakui dia anak yang baik, kok, jadi sesungguhnya itu semua masih berupa prasangka burukku saja—aku memulai sesi latihan soal matematika singkat malam ini.
.
oOo
.
Coba tebak apa yang terjadi hari ini setelah keisenganku semalam mengerjakan latihan soal matematika? Soal yang serupa dituliskan oleh Guru Chang di papan tulis, dan aku mendapat jatah untuk mengerjakannya. Kurasa keberuntungan sungguh sedang berpihak padaku. Semalam cuma satu soal yang berhasil kukerjakan—menurutku itu susah sekali—makanya aku menyerah pada motivasi mengerjakan satu-dua soal lagi setelah memecahkannya.
Begitu selesai dan mendapat pujian karena menggunakan cara yang benar meski jawabanku salah hitung, aku kembali ke tempat duduk. Jongin dan Sehun menatapku heran. Kurang ajar, mereka pasti sedang memikirkan hal-hal menyebalkan seperti dapat contekan dari mana kau? Belum cukup rupanya mereka kuadili pagi ini atas insiden mencumbu-kakak-kelas-dan-direkam-oleh-Oh-Sehun di karaoke kemarin.
Aku belum sampai ke kursiku saat derap ribut langkah-langkah kaki memenuhi koridor. Perhatian seisi kelas seketika terpusat ke jendela, mencari tahu asal keributan. Berbondong-bondong murid kelas dua berlarian di sana (kalau tidak salah mengira, sepertinya mereka anak kelas sebelah, dan aku bisa melihat salah seorang guru kami turut serta di antaranya. Guru itu mampir dan masuk ke kelas kami, menghampiri Guru Chang dengan tergesa-gesa.
Aku dan mungkin semua murid di kelas tidak bisa dengar apa yang mereka bicarakan, tapi setelah itu, tanpa ba-bi-bu lagi, kedua pria dewasa itu berlari ke luar kelas.
Tidak butuh waktu lama bagi kelas ini berhamburan ke jendela, mengintip, dan ribut mempertanyakan keributan barusan.
"Apa itu tadi.."
Pertanyaan Jongin disusul bertemunya mata kami bertiga (maksudku, plus Sehun). Tanpa harus bicara kami tahu kami punya pikiran yang sama. Detik berikutnya aku, Jongin, dan Sehun sudah menyalip di antara anak-anak kelas ini yang mengerubung di mulut pintu kelas, berlari cepat menyusul rombongan barusan.
"Jangan ada yang menyentuhnya! Semuanya mundur!"
Teriakan itu lagi-lagi membuat kami bertiga saling berpandangan sambil menaiki tangga. Kurasa kami sudah sampai ke sumber keributan saat kulihat murid-murid yang berlarian mengerubungi pintu masuk perpustakaan. Tanpa pikir panjang lagi, aku kembali menyalip mencari jalan. Aku ingin melihat apa yang terjadi.
Rasanya, napasku berhenti sesaat ketika akhirnya melihat apa yang dikerubungi puluhan murid ini.
"Oh shit.." Suara Jongin selewat terdengar, diikuti keluhan Sehun setelahnya.
Kang Seulgi, gadis yang cukup populer di kalangan anak kelas dua, tergeletak bersimbah darah di lantai antara rak-rak buku tinggi. Kedua kaki dan tangannya terlipat dengan cara yang amat ganjil. Ada darah mengalir keluar dari mulutnya. Di tengah dahinya, ada luka yang—aku tidak yakin—sepertinya cukup dalam. Seperti.. berlubang. Dan tentunya mengalirkan lebih banyak lagi darah.
Seorang gadis lain berdiri di dekatnya. Seperti kehilangan nyawa menatap tubuh bersimbah darah di hadapannya. Kulihat tangan, kaki, dan seragamnya sendiri berlumuran cairan kental berwarna merah itu. Aku bahkan belum pulih dari keterkejutanku atas peristiwa randomini saat menyadari ia menatap ke arahku. Wendy Son, gadis blasteran yang kukenali sebagai teman dekat Kang Seulgi, menatapku dengan sorot tak terbaca. Takut..? Marah?
Terlepas dari itu, kenapa aku?
.
.
tbc
