Dislcaimer : i don't own Naruto
Warning : OCC, Incest dan masih banyak lagi.
.
.
Perhatian : Jika tidak suka, dimohon untuk tidak membacanya ya. Maaf jika anda tidak menyukainya karena ini adalah karya saya.
.
1 hari berlatih mental bersama Asuma-sensei tidak menyenangkan seperti yang aku duga, adakalanya aku disuruh berlatih berbicara dengan orang lain dan berusaha untuk saling akrab, menghadap dan berdiri dikeramaian seorang diri seperti layaknya patung—membuatku hampir putus asa karena malu.
Sungguh aku tidak tahu bahwa melatih mental sedemikian beratnya, kerap kali aku selalu berkeringat dingin dan kakiku bergetar dengan hebat dan itu membuatku malu karena ditertawakan oleh seorang gadis—Sara.
Aku mendecih sedikit tidak suka ketika Asuma-sensei mengatakan padaku bahwa aku tidak berkembang sedikitpun waktu latihan tadi. Walaupun aku menutupi rasa kekesalan itu dengan wajah ramahku tapi aku yakin Asuma-sensei tahu bahwa aku kesal.
Ini semua tidak akan terjadi jika saja aku tidak terpilih menjadi pembawa acara dalam acara ulang tahun sekolah. Dan kurasa aku menyesal atas keputusanku ini. Sara, hah gadis merah itu membuatku sedikit kesal saja.
'Bersemangatlah Naruto-kun!'
Aku tersenyum ringan ketika mengingat perkataan Sara waktu latihan tadi, walaupun gadis itu membuatku kesal tapi entah kenapa dia selalu saja membuatku selalu memaafkannya. Mungkin karena aku dan dia sudah bersahabat sudah lama dan mungkin saja dia sudah seperti saudaraku.
''Hah~ inilah akibatnya jika aku pulang sendirian di malam hari seperti ini. Berpikir sendiri dan berbicara sendiri, hah~ aku sudah gila.''
Aku mengeluarkan telephon genggam yang tadinya masih dingin berada di saku celanaku. Aku membukanya dan menatap sebentar pada layar yang menyala terang digelapnya malam hari. Sudah jam 9 malam, sepertinya Kushina mencariku.
Aku menaruh kembali benda itu ke saku celana dan melanjutkan perjalananku menuju rumah. Aku melirik kesekitar, masih banyak orang yang berkeliaran disini. Kurasa ini tidak terlalu malam untuk melewati jalan pintas, dan aku yakin tidak ada hantu.
Yah, aku yakin tidak ada hantu. Ha ha ha~ Hantu, tidak ada.
Hantu tidak ada.
Hantu..
Hantu tentunya ada!
.
0o0o0o0o0o0
_Rumah_
''Tadaima.'' Aku masuk kerumahku dalam keadaan selamat, yah bersyukur karena tadi di jalan pintas tidak ada hantu, ha ha haa. Sudah kuduga hantu tidak ada.
Tapi tunggu sebentar, kenapa keadaan rumah menjadi gelap seperti ini. Aku menekan saklar lampu yang tepat berada dinding disampingku. Dan ketika cahaya lampu yang bersinar menerangi gelapnya ruangan, aku langsung saja mengecek keadaan dengan menengok kesana-kesini demi menyimpulkan keadaan aman.
'Tidak ada apa-apa'
Hah~ mungkin hanya pikiranku saja yang paranoid hingga menyimpulkan kegelapan ruangan ini ada sesuatu yang tidak beres. Aku berjalan masuk kedalam dengan tenang dan menuju dapur untuk meminum air putih—yang bisa saja menenangkan pikiran kalut ini.
Segelas air putih kurasa tidak cukup, aku menambahkannya lagi dan meminumnya lagi. Dan setelah itu aku memasukkan botol air putih dingin itu kembali ke kulkas dan menutupnya. Hah~ benarkan, air putih memang manjur.
''KYAAHH!'' Apa! Suara teriakan apa tadi! Aku yakin dari rumah ini datangnya suara itu. Aku berpikir sejenak, tidak ada lagi penghuni selain aku dan.. KUSHINA! Sial ada apa dengan adikku!
Aku mengidahkan gelas yang aku taruh sembarangan hingga terjatuh pecah, fokus utamaku adalah memeriksa Kushina! Aku berlari menaiki tangga hingga aku berhasil menuju kamar adikku yang terlihat gelap didalam. Aku mengetuk pintunya keras dan mendobraknya hingga aku yakin pintunya rusak.
''KUSHINA! Ada apa dengan.. SIAPA KALIAN!'' Oke, apakah aku yang salah disini? Aku menatap bingung sekaligus was-was pada keempat gadis yang ada di kamar Kushina. Aku berpikir lagi, kenapa ruangan ini sangat gelap. Hingga aku menekan saklar lampu yang ada di kamar ini sehingga terang dan aku bisa melihat dengan jelas keempat wujud gadis yang bersama dengan Kushina.
''Onii-chan? Kenapa kau mendobrak pintunya Tebbane!'' Kulihat Kushina yang sepertinya sehat lahir batin, dia terlihat memakai piyama tidur dengan memeluk boneka rubah yang pernah aku belikan waktu itu. Aku meneguk ludahku yang entah kenapa terasa sulit untuk ditelan.
''Aku mendengar teriakan tadi, jadi ya aku kesini dan khawatir padamu. Tapi sepertinya..'' Aku menatap Kushina yang saat ini terlihat berdiri dan berjalan menuju arahku, oh apakah dia akan menendang burungku lagi! Kali ini aku akan melindunginya sepenuh hati!
''Maaf kalau membuat Onii-chan khawatir, aku dan teman-temanku sedang menonton film horror jadi ya teriak deh, tehee~'' Si-sial, aku inginnya marah akibat teriakan tadi yang membuatku terpontang-panting lari kesini dan rela membuat tubuhku sakit demi mendobrak pintu keras itu, tapi melihat wajah cantik sekaligus imut ini aku tidak bisa melakukannya.
''Huh~ lain kali kalau teriak harus diam.''
''Hieee! Mana ada teriak dengan diam! Onii-chan baka!'' Aku tersenyum kecil dan disusul dengan aku yang tertawa kecil akibat tingkah laku Kushina yang sangat menggemaskan ini. Aku mengangkat tangan kananku dan menaruhnya dipipi halus Kushina.
''Lain kali, jangan gelap-gelapan. Yah walaupun kau bersama dengan temanmu.'' Aku mengelus pipinya dengan pelan dan menengok sekilas pada teman-teman Kushina yang terlihat sedang melihatku dan Kushina dengan tampang polosnya—dan diantara mereka berempat, ada dua yang aku kenal. Aku tersenyum sedikit dan menyentil hidung Kushina dengan gemas.
''Aouw! Onii-chan!''
''Maaf mengganggumu, aku pergi dulu dan sepertinya..'' Aku menatap Kushina dengan tampangku yang aku yakini membuat Kushina mual.
''Pintumu rusak.''
''ONII-CHAN NO BAKA! AKAN AKU TENDANG BURUNGMU LAGI!'' Lari!
.
.
Aku terbangun pagi hari seperti biasanya, dan melakukan hal biasa aku lakukan ketika hari-hari masih sekolah. Berbeda dengan hari libur yang dimana aku selalu bangun telat dan hal itu berujung pada pipiku yang sakit akibat dibangunkan Kushina dengan tamparan—oh aku tidak ingin mengingatnya lagi.
Setelah semuanya selesai, aku mengambil dasiku dan memasangnya, tidak lupa juga aku mengambil telephon genggamku yang tergeletak dimejaku dan memasukkan kedalam Tas. Selepas itu aku menatap kecermin sesaat dan berjalan turun menuju ruang makan.
Hari ini berbeda dengan hari-hari yang lain, hari ini aku akan diliburkan mengikuti pembelajaran demi latihan mental bersama Asuma-sensei dan hal itu membuatku sedikit tidaknya bersyukur karena aku belum sempat mengerjakan tugas rumah dari Konan-sensei. Ha ha ha latihan membawa keberuntungan.
Bagaimanapun juga lusa aku harus tampil di atas panggung dan membawakan acara dengan baik, mau bagaimana lagi sang primadona Mc—kata Sara yang bernama lengkap Kamishiro Rize harus rela tidak hadir dan mengisi acara dikarenakan sakit dan sialnya kenapa aku yang kena imbasnya.
''Onii-chan, hari ini kau akan pulang terlambat lagi?'' Aku menatap Kushina sekilas dan melanjutkan makanku dengan memberikan jawaban padanya berupa anggukan. Aku tidak boleh memerhatikan Kushina lebih dari ini, karena aku harus menghilangkan perasaan terkutuk ini.
Perasaan yang membuatku harus berpikir keras bagaimana cara penyelesaiannya, namun sepertinya.
''Kushina.''
''Ya?'' Dia tumbuh menjadi gadis yang cantik dan dewasa, apalagi dengan balutan seragam sekolahnya yang menurutku sangat pas untuknya. Wajahnya tidak bulat seperti tomat—yang dulunya selalu jadikan bahan ejekan oleh teman sekelasnya. Rambut merahnya semakin panjang dan indah, aku menyukainya. Aku masih ingat kehalusan rambut merahnya waktu itu, sial. Itu membuatku frustasi.
''Waktu kemarin, siapa teman-temanmu itu?'' Dan entah kenapa, justru semakin kesini aku semakin mencintainya. Mencintainya begitu dalam, dan sialnya kenapa juga aku dan Kushina harus sedarah.
''Ouuhh~ Jangan-jangan Onii-chan tertarik pada temanku ya!'' Ahk, apakah nadaku terkesan seperti itu? Aku hanya bertanya saja, kenapa disangkut pautkan pada kata tertarik. Asal kau tahu Kushina, hanya ada satu gadis yang menarik hatiku. Yaitu kau, Kushina. Uzumaki Kushina.
''Terserahlah, aku hanya bertanya saja.''
''Mou~ aku yakin Onii-chan tertarik dengan Mikoto dan Sarada!'' Hey hey, aku tahu mereka berdua. Bahkan aku pernah bertemu dengan mereka ketika bermain di rumahnya Sasuke.
''Bukan mereka berdua, yang duanya lagi. Siapa mereka?'' Kushina tersenyum misterius ketika mendengar perkataanku ini. Hah~ anak ini membuatku gemes saja.
''Jadi Onii-chan tertarik dengan Aino dan Shion.''
''Bukan maksudnya seperti itu! Aku hanya tanya saja bodoh!''
''Mou! Onii-chan mengataiku bodoh! Kau juga bodoh dattebane!''
''Uhk, Kushi-Kushi yang bodoh!'' Aku suka ini, aku suka momen ini.
''APA! Jangan panggil aku Kushi-Kushi Onii-chan bodoh!'' Momen dimana Kushina marah kepadaku dengan wajah imutnya ini—tidak, aku rasa tidak imut lagi.. Dia sudah cantik, tumbuh cantik.
''Kushi-Kushi.''
''ONII-CHAN! AKAN AKU TENDANG BURUNGMU!'' Tapi aku tidak suka momen ini!
''Ampun Kushi-Kushi! Jangan lakukan itu!''
''JANGAN PANGGIL AKU KUSHI-KUSHI! RASAKAN INI ONII-CHAN BAKA!''
*Duak!*
Untuk kali ini, aku tidak mau mendeskripsikannya.
.
0o0o0o0o0o0
_Sekolah_
Aku yakin hari ini adalah hari keberuntunganku sekaligus hari sialku. Aku tidak menyangka bahwa latihan mentalku akan seperti ini. Aku menarik napasku dalam-dalam dan menghadap tepat pada wajah gadis yang terlihat datar menghadap tepat padaku. Kami saling pandang-pandangan, dan ini membuatku bisa saja menciumnya.
''Tatap dia terus Naruto! Latih mentalmu!'' Latihan ini gila! Bagaimana jika salah satu dari kami terpeleset dan jatuh berciuman satu sama lain—oh pikiran burukku kembali hadir. Aku mencoba memandangnya untuk lebih lama tapi tidak bisa! Aku tidak bisa saling pandang pada gadis yang belum lama aku kenal.
''Ini sulit Asuma-sensei! Aku tidak bisa melakukan—Huakh!'' Aku tidak bisa meneruskan ucapanku ketika kerah seragamku ditarik paksa oleh gadis ini dan dengan paksa menghadapkan wajahku dengan wajahnya lagi dengan jarak yang terlampau dekat.
''Tatap aku, senpai.'' Si-sial, gadis ini begitu lugu dan cantik diwaktu bersamaan.
.
''Naruto, hari ini adalah latihan mental yang akan kau hadapi terus.'' Aku menghadap kearah Asuma-sensei dengan tegak, jika saja ini latihan mental yang akan aku hadapi terus, berarti ini yang akan menjadi penentu mentalku kuat atau tidak.
''Dan temanmu berlatih kali ini dari kelas 2, namanya Shiina Mashiro.'' Hah? Aku ada teman latih? Aku menatap bingung sekaligus kagum pada gadis yang baru menunjukan batang hidungnya ketika sang Asuma-sensei memperkenalkan namanya padaku.
Dia cantik, terlihat lugu dan wajahnya yang datar itu sedikit mengingatkanku akan Sasuke saja. Rambut kuning pucatnya yang tergerai panjang itu sedikit setidaknya membuatku terkagum sejenak. Aku melihatnya agak sedikit lama hingga deheman dari Asuma-sensei menyadarkanku bahwa perilaku itu sangatlah tidak sopan didepan guru.
''Ah maaf Sensei, jadi kali ini aku akan menjalani latihan apa Sensei?''
''Ada baiknya kalian berkenalan dulu.'' Aku tersenyum kikuk ketika mendengar itu.
''Perkenalkan namaku Uzumaki Naruto.'' Aku mengulurkan tanganku kedepan, yah walau aku sudah tahu namanya siapa tapi Asuma-sensei rasa hal ini diperlukan supaya tidak menyalahi aturan dalam bersosialisasi dan tentunya menguatkan mental.
''Shiina Mashiro.'' Begitu pendek dan tanpa basa-basi, gadis ini semakin mirip saja seperti Sasuke ketika masih baru perkenalan dan masih malu-malu. Dia menjabat tanganku sebentar dan melepaskannya. Aku tersenyum kecil sebagai rasa sopanku padanya.
''Nah, kalian sudah kenalan. Maka hari ini kau Naruto, akan hadap-hadapan dengan Mashiro selama mungkin.'' Tunggu dulu, apa maksudnya hadap-hadapan itu!
''Err, apakah maksudnya saling pandang?''
''Tentu saja.'' Demi Sasuke jadi banci! Aku baru saja bertemu dengannya dan kenapa juga harus melakukan itu mendadak seperti ini. Aku yakin, gadis ini akan berpikiran bahwa aku sangatlah buruk dan mesum oh cobaan apalagi ini.
''Mashiro adalah orang yang mentalnya kuat selain beberapa anggota Osis disini. Aku berharap kau bisa menguatkan mentalmu Naruto.'' Yah, aku juga berharap agar hal itu terjadi dan latihan ini berakhir dengan cepat.
.
Shiina Mashiro, menatap wajahnya yang datar seperti ini membuatku mengingat kilasan balik tadi waktu perkenalan. Dia tidak mengalihkan pandanganya dariku, tidak menoleh dan tidak bergerak. Seperti apa mental gadis ini!
Aku saja tidak betah menatapnya karena rasa maluku yang sungguh luar biasa. Aku yakin, aku yakin sekali dia melihat wajahku yang memerah malu. Sial ini memalukan, aku dipermalukan didepan gadis cantik! Ini sangat memalukan!
''Naruto! Ujung sepatumu harus menempel dengan ujung sepatu Mashiro! Kau harus lebih dekat!'' APA! Apa ini masih kurang dekat apa! Aku menelan ludahku sesaat dan menyeret kakiku untuk mempertemukan ujung sepatuku dengan milik Shiina. Jadinya aku semakin dekat dengannya, bahkan hidungku hampir menyentuh hidungnya, aku yakin ini hanya sebatas buku tipis!
''Asuma-sensei! Bagaimana kalau saya kecelakaan dan menciumnya!''
''BODOH! Kenapa pikiranmu sampai kesitu!'' Aku tidak salah bukan jika pikiranku sampai kesitu jika dihadapkan situasi seperti ini. Aku menatap wajahnya lagi yang kulihat kali ini berbeda, dia memerah? Apakah malu? Atau jangan-jangan marah karena aku berkata yang tidak semestinya! Oh sial!
''Senpai cabul.'' Akh sial. Aku sudah di cap buruk oleh adik kelasku sendiri!
''Aku tidak cabul.'' Kubuang wajahku kesamping dan menghela napasku panjang-panjang, sungguh aku tidak kuat! Bagaimana bisa aku menghadap dan memandangi wajah Mashiro Shiina jika yang aku pandangi adalah sosok gadis yang.. cantik dan ahhkk! Sial pikiranku tidak bekerja semestinya.
''Tatap wajahnya Naruto! Ini demi mentalmu!''
''Apa ada metode lainnya selain ini Sensei!'' Aku yakin, gadis ini masih saja menatapku. Yang ingin kupertanyakan dia robot atau apa sih! Dia berdiri disini tanpa gerak dan memandangi aku terus seperti.. yah orang kagum—ehem mana mungkin itu terjadi.
''Baiklah, kau mau berdiri sendiri selama istirahat di ruang guru?'' Ha, ha haa. Lebih baik aku seperti ini dan dituduh cabul ataupun mesum daripada melakukan hal memalukan seperti itu.
''Ah tidak, lebih baik seperti ini. Ha ha haa.''
''Tidak lucu.'' Si-sialan, dia masih saja menatapku! Hey! Apa kau tidak punya rasa malu atau gugup huh? Aku saja tidak kuat memandang wajahmu yang, yah cantik sih! Hey apakah itu berarti aku tidak tampan!
Aku memandang dia malu dan gugup karena cantik dan mungkin tidak akan segugup ini jika yang kupandangi adalah gadis yang tidak cantik. Dan mungkin saja para gadis akan memandang wajah pria tampan dengan gugup dan memandang biasa wajah pria yang terlihat jelek. BENARKAH SEPERTI ITU!
Uhhhh.. itu membuatku semakin terpuruk. Apakah aku sejelek itu untuk dipandang. Hah~ aku tahu aku jelek, tapi bisakah dia memandangiku dengan gugup walaupun hanya sedikit saja, yah hiburlah hatiku ini Mashiro-chan.
''Mashiro-san, umurmu berapa?''
''Mulut senpai bau.'' Anjir! Dia bilang begitu tanpa raut dosa sama sekali. A-awas kau! Eh tapi! Apakah mulutku benar-benar bau sampai-sampai dia menutup hidungnya! Sialan! Image-ku menjadi buruk lagi setelah labelling kata cabul tadi. Huhuhuhuuu aku tidak kuat ya tuhan.
''Aha, ha haa—''
''Semakin bau kalau tertawa, senpai.'' Kampret nih cewek!
''Baiklah aku akan tutup mulut.''
''Mulut senpai bau. Jangan bicara.'' A-awas kau, Shiina Mashiro yang bermuka datar. Aku akan mengundang Valak—hantu yang kini menjadi trending topik dikalangan remaja, seperti Kushina yang kemarin melihat bersama-sama temannya—untuk menghukummu, Shiina Mashiro.
..
Akhirnya bel istirahat berkumandang dan hal itu membuatku setidaknya bersyukur karena berhasil lolos sejenak dari latihan saling tatap menatap—yang membuatku dipermalukan oleh adik kelasku sendiri. Aku berjalan lesu menuju kelas dan menemui beberapa temanku yang terlihat masih mengobrol santai di meja mereka masing-masing.
''Hey, itu dia jagoan kita sudah datang, ayo kita ke Kantin!'' Kiba dan tingkah enerjiknya berhasil membuatku kembali semangat dari rasa lesuku, dengan diiringi senyum senang dan tubuh kembali tegak tidak bungkuk seperti tadi, aku menyambut teman-temanku untuk berjalan bersama menuju Kantin.
''Bagaimana latihanmu tadi Naruto?'' Yah~ kenapa kau mengatakan itu disaat hatiku sedang senang seperti ini Neji. Aku tidak yakin akan menceritakan yang sesungguhnya padamu.
''Yeah, berjalan baik dengan sedikit hambatan.''
''Sedikit hambatan? Dan kudengar kau berlatih bersama dengan Shiina Mashiro sang idol pelukis dari kelas 2.'' He-hey! Bagaiama Lee tahu tentang ini! Apakah mereka semuanya tahu bahwa aku berlatih bersama gadis bermuka polosnya kelewatan itu!
''Ya. Kau tahu darimana Lee?'' Kulihat semua temanku tersenyum janggal, hey aku merasakan sesuatu yang aneh disini.
''Tentu saja, ikatan persahabatan kita sangatlah kuat! Jadi kami semua tahu kau bersama dengannya Naruto-kun! WUOOO! Sialan kau Naruto, dia adalah primadona kelas 2 selain Kamishiro Rize! Dan kau bersamanya! WUUOOO SIAALL! Aku iri padamu Naruto-kun!'' He-hey, alasan aneh macam apa itu. Tapi tunggu dulu!
''Kau mengenal Kamishiro Rize! Lee!'' Aku tidak bisa menahan rasa terkejutku ketika Lee mengenal salah satu gadis yang membuatku dalam posisi sulit seperti ini. Apakah setenar itu hingga temanku mengenalnya? Ta-tapi.. kenapa aku tidak mengenalnya sama sekali, bahkan Shiina Mashiro yang katanya primadona aku tidak mengenalnya dan baru tadi mengenalnya.
''Eh! Kau tidak tahu Murasaki-hime no Rize!'' Murasaki-hime no Rize? Sang putri ungu Rize? Apa-apaan julukan itu! Sebegitu tenarkah gadis ini! Dan kenapa juga aku tidak mengetahuinya! Dan bahkan baru-baru ini aku tahu jika Kamishiro Rize adalah anaknya Hayate sang pengusaha kaya raya! Anjir aku kurang pergaulan!
''Tidak sama sekali.''
''Kita lanjutkan nanti selepas memesan makanan ya Naruto-kun.'' Oh, oke. Untuk kali ini aku harus bersabar.
''Baiklah.''
..
Setelah semuanya selesai dengan membawa beberapa makanan yang kami dapatkan di Kantin, aku dan semua temanku seperti biasa mulai berjalan menuju tempat kesukaan kami semuanya untuk mengobrol maupun makan bersama.
Kurang lebih memakan waktu 1 menit menuju ketempat itu, aku langsung saja jatuh terduduk akibat rasa lelahku ini selepas latihan tadi. Dan disusul beberapa temanku yang duduk berjejer disampingku, berbeda dengan Lee yang duduk didepanku yang sepertinya akan menjawab pertanyaanku.
''Baiklah, mari kita membahas sejarah Murasaki-hime no Rize Naruto-kun!''
''Jangan terlalu berlebihan Lee, ini hanya siswi biasa.''
''SISWI BIASA KAU BILANG! Dia adalah anaknya Hayate-san sang pengusaha kaya raya Naruto-kun!'' Ah aku melupakan yang satu itu.
''Ya ya ya, lalu kenapa dia dijuluki Murasaki-hime no Rize?''
''Kau sungguh tidak tahu Naruto-kun! Izh izh izh, sungguh terlalu. Julukan ini diberikan kepadanya karena mirip—''
''Hentikan nadamu yang terlalu berlebihan itu Lee.'' Sungguh, apakah Lee tidak tahu aku sedang sedikit kesal disini. Aku membuka bungkus plastik yang membungkus roti yang tadi aku beli, aku memakannya pelan dan mencoba mendengarkan penjelasan Lee yang lebih baik.
''Hohohoo, kau akan terkejut jika kau melihat kamar Neji dan Kiba yang terpampang fotonya Rize dan Kushi—umppsh!'' Apa dia bilang tadi?
''Sialan kau Lee! Dia bohong Naruto, jangan percaya apa kata Lee!'' Kulihat Kiba dan Neji yang kini terlihat menutup mulut cerewet Lee dengan paksa, tindakan mereka ini semakin membuatku penasaran saja.
''Kau mau bilang Kushina kan?'' Tubuh mereka tersentak, jangan katakan kalau adikku juga seorang primadona.
''Err.. Lee! Kau harus bertanggung jawab! Cepat nikahin Naruto!'' Anjir!
''A-apa kau bilang! Maaf saja, aku masih normal untuk menikah dengan perempuan Kiba!''
''Hiee, Naruto-kun mau menikah denganku?! Apakah aku harus bertanggung jawab Kiba-kun?''
''Tentu saja Lee!''
''KAU BODOH LEE! Jangan dengarkan kata-kata iblis seperti Kiba!''
''Apa! Aku bukan iblis! Kau yang iblis!''
''Hey hey! Kau duluan yang menghasutnya, jadi kau Iblis!''
''Tunggu sebentar Naruto-kun, Kiba-kun. Aku tahu perasaan kalian, tapi aku tidak usah diperebutkan seperti ini. Aku jadi malu.''
''MATI AJA SANA!''
.
0o0o0o0o0o0
.
''Senpai sudah cuci mulut?'' Si-sialan kau Mashiro, berani-beraninya kau menghinaku dengan muka tanpa ekspresimu itu. Hah~ dilain sisi kau cantik sih, apalagi dengan wajahmu yang minim ekspresi seperti ini.
''Sudah!''
''Tapi kok masih bau, senpai?'' Ukh! Dia niat banget mengejekku! Sialan kau Mashiro!
''Ah~ Lupakan saja.'' Aku dan dia masih berhadapan—sendirian dan bisa saja siswa-siswi yang melewati lapangan basket ini pasti mengira kami akan berbuat hal yang senonoh—mesum. Dan untungnya, ini memasuki waktunya jam pelajaran dengan kata lain, tidak akan ada yang melihat aku dan dia seperti ini.
Aku masih berusaha menatapnya, tapi aku tidak bisa. Wajahnya yang polos ini membuatku tidak tahan untuk memeluknya dan menciumnya—walaupun aku tahu hal itu tidaklah senonoh. Tapi mana ada orang yang akan berpikiran jernih jika dihadapkan situasi seperti ini.
Aku mencoba menatapnya lagi, wajahnya yang tanpa ekspresi itu juga menatapku dengan intens—mental yang kuat. Aku mengakuinya, bahwa gadis ini memanglah memiliki mental yang kuat. Lihatlah bahkan dia masih menatapku tanpa berpaling malu sama sekali.
''Err..'' Aku memalingkan wajahku yang entah kenapa jadi malu sendiri.
''Kenapa Asuma-sensei perginya lama ya?'' Aku kembali menatapnya tapi hanya sekilas dan langsung berpaling lagi, memandang kearah lain selain melihat wajahnya itu.
''Entahlah.''
''Hah~ aku mana bisa seperti ini terus. Hei Mashiro, apa kau tidak risih memandangku terus?''
''Aku tidak pernah risih jika yang kupandang adalah seorang senpai jelek yang bau mulut.'' Mulutnya sadis banget! Aku jadi ragu kalau gadis ini adalah Shiina Mashiro sang primadona kelas 2 dengan bakat lukisnya yang luar biasa. Lihatlah ini! Katanya Lee perilakunya seperti dewi—dan yang kutemukan disini malah kebalikannya.
''Terima kasih atas ejekanmu yang luar biasa itu.''
''Sama-sama ne~ senpai.'' Yang benar saja! Dia bilang sama-sama tanpa ekspresi apapun, aku jadi yakin ingin memeluk dan menciumnya sekarang. Bolehkah juga aku memerkosamu, adik kelasku yang polos! Dasar, apakah semua murid kelas 2 seperti ini—tunggu dulu, kelas 2. Pasti Mashiro kenal dengannya!
''Err, Mashiro . Kau tahu gadis yang bernama Kamishiro Rize?''
''!'' A-apa itu tadi! Dia sepertinya terkejut! Tunggu dulu, aku baru melihat wajahnya yang agak terkejut tadi—sungguh mengejutkan sekali, apalagi dia selalu memasang wajah tanpa ekspresinya itu.
''Dari reaksimu, sepertinya kau kenal dia.''
''Semua murid disini pasti mengenalnya senpai, diakan Murasaki-hime no Rize.'' Julukan itu lagi!? Dan aku baru tahu baru-baru ini! Apakah aku terkena pukulan sampai-sampai aku sendiri yang belum tahu mengenai Putri ungu ini!
''Err, maaf saja. Aku belum mengenalnya, apalagi melihat wajahnya.''
''Sungguh?''
''Ye-yeah.'' Entah kenapa, pandangan Mashiro sungguh berbeda kali ini terhadapku. Dia seperti, aaahh! Kenapa wajahnya selalu terpasang tanpa ekspresi sih! Aku jadi bingung mau menebak apa isi pikirannya sekarang.
''Senpai benar-benar tidak tahu? Sungguh?''
''Ya, aku belum tahu. Kau keberatan tidak kalau menceritakan seperti apa Rize-san kepadaku.''
''Sebelum itu, tolong cuci dulu mulut senpai,'' Yang benar saja, dia masih saja mengejekku dengan hal itu!
''Baunya semakin buruk.'' O-ohh. Dia membuatku jadi jelek saja. Aku tidak kuat menghadapi wajahnya yang polos ini ya Tuhan!
.
.
.
To be continued.
A/N : Shiina Mashiro, dia karakter perempuan yang ada di Anime Sakurasou na pet no Kanojo. Dan sepertinya akan jadi—sensor—
Dan semua Review sudah saya bales melalui PM, dan selebihnya terima kasih sudah me Review :)
Review? Yeah aku membutuhkannya, walaupun itu kata ''Lanjut/next/lanjutkan/good/'' atau apapun itu. Saya terima dengan senang hati :D.
Tunggu kelanjutannya ya..
.GearPhantom97.
...
.
