Dislcaimer : i don't own Naruto

Warning : OCC, Incest dan masih banyak lagi.

.

.

Perhatian : Jika tidak suka, dimohon untuk tidak membacanya ya. Maaf jika anda tidak menyukainya karena ini adalah karya saya.

.

''Onii-chan! Ada Kecoa terbang! Onii-chan tolong!''

''Tenanglah Kushina! Serahkan ini padaku!'' Tingkahmu yang lucu, membuatku ingin selalu melindungimu dari apapun. Keluarga yang hanya tinggal kita berdua, semakin membulatkan tekadku untuk selalu melindungimu Kushina.

''Onii-chan! Aku terjatuh Huweee~''

''Tidak apa-apa Kushi-chan, ayo sini obati lukamu.'' Kelemahanmu yang sangat banyak, membuatku ingin selalu menutupinya dengan kemampuanku ini. Aku kakakmu, dan aku tahu segala tentangmu. Kau begitu rapuh untuk disentuh banyak orang, kau begitu cantik untuk dipandang. Kushina, apakah kau seorang dewi yang menjelma menjadi adikku.

''Onii-chan, ayo mandi bersama!''

''O-oh ya, baiklah! Ayo!'' Kepolosanmu yang menggodaku, kecantikan akan senyuman yang kau pasang diwajahmu—kau berhasil merebut perhatianku akan dunia ini. Kushina, aku jadi heran apakah kau adikku atau istriku kelak. Aku sangat mengagumimu, mencintaimu dan ingin selalu merawatmu, adik kecilku.

''Onii-chan.. dingin.''

''Tenanglah Kushina, ada aku disini. Tidurlah.'' Kondisimu yang selalu berubah-ubah, membuatku tidak bisa bergaul dengan teman-temanku. Adakalanya kau terkena demam, terjatuh, ataupun sedih karena diejek—kau berhasil merebut semuanya dariku Kushina. Aku mengelusmu dalam ketegangan, takut akan berbuat yang tidak-tidak kepadamu—aku sudah terjatuh akan pesonamu, adik kecilku yang nakal. Kau.. membuatku berdosa.

''Onii-chan, besok pergi bermain di rumah Baa-chan ya ttebane!''

''Hahaha, tentu saja. Aku akan menemanimu Kushi.'' Kebahagianmu itulah yang membuatku semakin enggan untuk meninggalkanmu bermain dengan temanku. Kau candu bagiku Kushina, kau tumbuh menjadi gadis yang baik dan cantik. Rambut merahmu yang sangat kau benci ini berhasil membuatku tak lepas untuk memegangnya dan mengelusnya.

''Onii-chan, kenapa rambutku berwarna merah sih! Aku diejek tomat Huwee~''

''Eh, tenanglah Kushina. Jangan dengarkan mereka, lagipula rambutmu menurutku sangat indah.''

''Onii-chan bohong! Pasti Onii-chan mau mengejekku tomat.''

''Kushina! Mana mungkin aku melakukan itu.''

''Kushi tidak mau tahu! Pokoknya besok rambut Kushi harus diwarnai hitam!''

''Kushina, kau mau menyakiti hatiku, dengan melakukan itu?''

''Eh?''

''Aku menyukai rambut merahmu yang indah, halus. Sangat halus untuk disentuh. Kau tega pada Nii-chan dengan mewarnai rambutmu? Kejamnya.''

''O.. Onii-chan!''

''Terima kasih, dattebane.'' Coba katakan lagi kata-kata itu Kushina.

''Terima kasih Onii-chan.'' Coba katakan lagi.

''Onii-chan, terima kasih ya atas segalanya.'' Tolong, katakan lagi.

''Terima kasih.'' Lagi!

''Terima kasih, aku menyayangimu Onii-chan.''

.

.

Dari situ aku tahu, bahwa kau adalah adikku.

''Aku menyayangimu Onii-chan.''

Aku tahu..

''Aku juga menyayangimu. Kushina.''

Dan dari situ juga aku tahu, bahwa aku adalah kakakmu.

Untuk selamanya.

.

.

Aku termenung dalam gelapnya kamarku, selimut yang membungkus setengah dari tubuhku rasanya masih belum cukup untuk menghangatkan badanku dari dinginnya malam ini, ditambah lagi kondisi tubuhku yang menegang karena suatu kondisi yang membuatku tidak konsen untuk menutup mataku.

Malam ini aku tidur tidak sendirian, aku menengok kesamping dengan was-was—yang dimana ada sosok gadis yang sangat aku cintai tidur di ranjangku dengan polosnya. Aku menghela nafasku, aku harus bisa mengontrol gejolak nafsu ini, bagaimanapun juga Kushina adalah adik kandungku.

Aku mencoba memiringkan tubuhku dan menghadap berlainan arah dengan arah tidur adikku. Andai saja kalau Kushina tidak menonton film horror pasti Kushina tidak akan memohon padaku untuk menemani tidurnya, apalagi ditambah pintu kamar Kushina rusak gegara dobrakanku—menyusahkan saja.

''Umh~ Nii-chan.'' Aku tersentak, hampir saja aku melompat kaget karena ada sebuah tangan yang memelukku dari belakang. Aku dengan ragu menengok kebelakang dengan sedikit dan melihat betapa dekatnya wajah Kushina dari wajahku—reflek, aku langsung mengalihkan pandanganku darinya dan kembali ke posisi awal.

'Sial sial sial! Kalau seperti ini aku tidak bisa menahannya!'

Kesentuh pelan tangan Kushina yang melingkar diperutku dan kusingkirkan, kemudian dengan pelan-pelan aku mencoba bangun dari tidurku dengan tanpa suara. Untuk sejenak sebelum aku berpindah pada ujung sofa yang ada didalam kamar ini, aku memandang wajah damai Kushina ketika tidur.

Untuk sekarang, mungkin aku bisa menahan gejolak perasaan ini. Tapi aku belum bisa memastikan kedepannya akan seperti apa, aku terlalu takut jika saja aku tidak bisa menahan perasaan ini dan akan menyakiti Kushina. Aku menjulurkan tangan kananku kedepan demi mengelus pelan wajahnya yang damai.

Tapi.. aku tidak bisa, aku takut menodai wajah Kushina dengan tanganku ini. Aku telah berdosa dengan mencintainya, aku sudah dikutuk karena menginginkan cintanya, aku.. aku adalah kakak yang payah. Kuhela nafasku dan berjalan menuju sofa—berbaring dan mencoba untuk tidur.

Mencoba untuk tidur dan melupakan segalanya.

mungkin.

.

.

0o0o0o0o0

.

''Ayo semangatlah, Naruto-kun!''

''Hn.'' Aku memandang kedepan dengan pasti, dimana aku melihat panggung besar yang berdiri kokoh di halaman sekolah ini. Beberapa siswa-siswi terlihat antusias dengan saling bertubrukan demi merebutkan tempat yang bagus untuk menonton perayaan ulang tahun ini.

Aku melihat sekilas pandangan Tsunade Baa-chan yang tersenyum kecil kearahku—aku membalasnya dan dengan sedikit membenarkan jas hitam ini, Aku mulai berjalan kedepan dengan langkah yang sudah tidak bergetar lagi. Dapat kulihat dari sudut pandangku, beberapa murid melihatku. Yeah, menjadi pusat perhatian memanglah tidak enak.

Hingga tiba saatnya aku berdiri dipuncaknya, menghadap pada puluhan pasang mata yang memandangku antusias demi menunggu kelanjutan kegiatan apa yang akan aku umumkan. Dengan sedikit menghela nafas, dan berdoa semoga hari ini berhasil dengan lancar aku mulai membuka suaraku demi menyapa para penonton maupun guru yang melihatku disini.

''Selamat pagi semuanya!''

''Wuoohh Pagi!''

''Bagaimana kabar kalian semua?!''

''Sehat dan berkharisma!''

''Mau tahu hari ini akan ada acara apa?''

''Tentu saja!'' Ini menyenangkan sekali, aku.. sungguh tidak gugup lagi.

''Apa itu?''

''Hari ulang tahun Konoha High School ke 24 tahun!'' Kekompakan ini membuatku tidak tahan lagi untuk tertawa kecil, melihat bagaimana enerjiknya para murid membalas ucapanku—sedikit tidaknya membuatku senang karena tidak diacuhkan sebagai pembawa acara. Aku rasa, selepas acara ini selesai aku harus berterima kasih pada Asuma-sensei dan si muka polos Mashiro.

.

Tak terasa waktu bergulir dengan cepat dan aku tahu hal itu lumrah terjadi jika seseorang sedang menggelui suatu bidang dengan serius tanpa menghiraukan waktu, dan itu terjadi padaku. Besok adalah hari dimana aku berdiri diatas panggung demi membawa acara.

Sosok gadis cantik yang merupakan adik kelasku ini menatapku tanpa rasa malu sedikitpun, begitu juga denganku yang sudah terbiasa dengannya. Dengan kata lain—mentalku semakin kuat. Aku sudah bisa latihan tanpa adanya keringat dingin lagi. Bahkan sempat juga beberapa gadis menjadi pengganti Mashiro dan mencoba berpandangan denganku, dan aku sudah tidak gugup lagi untuk menatap mereka semua.

Aku yang biasanya selalu gugup jika dihadapkan situasi seperti ini, dan sekarang aku tidak gugup lagi. Aku berdiri didepan ruang Osis ini dan mencoba latihan membawa acara dengan sebaik-baiknya. Ada Sara dan Mashiro yang melihatku, begitu juga dengan Asuma-sensei yang sepertinya mencoba menilaiku dari segi manapun.

Aku tersenyum tanpa sadar, bibirku bergerak sendiri ketika latihan ini selesai aku bawakan dengan hadiah tepuk tangan yang meriah. Yah, itu cukup memalukan tapi aku senang. Aku berjalan dan menghampiri Sara beserta dengan teman-teman Osis disini.

''Itu bagus Naruto! Sekarang kau tidak gugup lagi!''

''Yang benar? Ah kau terlalu berlebihan Sara.'' Aku sedikit tersipu malu akan perkataan Sara tadi, hah~ entah kenapa pujian itu membuatku malu.

''Benar! Aku tidak berlebihan! Iya kan Kaguya?''

''Hmm, kau hebat Naruto.'' U-umm, aku yakin wajahku sekarang ini sedang memerah malu.

''Terima kasih.'' Hanya itulah yang bisa aku ucapkan atas pujian Sara dan Kaguya, selanjutnya aku berjalan menuju Asuma-sensei dan mencoba bertanya apakah masih ada yang kurang ketika aku membawa acara.

''Asuma-sensei.''

''Ya aku tahu. Kau sudah bagus kok, hanya saja kurang satu hal.''

''Apa itu Sensei?''

''Bajumu kurang rapi.'' Ahh... begitu ya. Hancur sudah rasa percaya diriku. Kemudian dengan cepat aku merapikan kembali baju seragamku dengan benar. Dan setelah itu aku menunduk minta maaf atas sikapku tadi.

''Senpai.'' Aku menengok kesamping, dimana Mashiro menatapku dengan wajahnya yang datar—seperti biasa.

''Ya?''

''Aku hanya mengasih saran, perkataan Senpai tadi masih kaku. Usahakan jangan sama dengan teks, usahakan agar lemas dan indah seperti yang Rize bawakan.'' Oh benarkah aku masih terlihat kaku dalam berbicara.

''Ah begitu ya.''

''Dan juga, usahakan pandanganmu melirik kesekitar. Cobalah untuk menatap seluruh penonton dan tatap mereka dengan senyuman. Tadi masih latihan jadi Sensei mentolelirkannya.'' Asuma-sensei juga memberi komentarnya, aku hanya mengangguk-angguk—sebisa mungkin mencoba menerima semua saran ini demi kebaikanku nanti.

''Ya, saya mengerti Sensei.''

''Jangan lupa, kalau kau ada didepan. Bayangkan yang melihatmu adalah para Monyet yang minta pisang, mungkin dengan itu bisa mengurangi rasa malumu.''

''Jadi, aku juga harus membayangkan Sensei dan Kepala sekolah Monyet yang minta pisang?''

''Kurang ajar! Beraninya kau menunjuk Sensei sebagai Monyet!''

''Eeee, tapi kan kata Sensei bayangkan yang melihatku sebagai Monyet yang minta pisang.''

Dong..

.

.

.

''Sensei?''

''Kau benar juga, yang tadi itu lupakan saja.''

.

Masih teringat dengan jelas beberapa bagian ingatan yang terjadi kemarin, aku tanpa sadar tersenyum ketika mengingat kembali semua itu.

Berkat mereka, aku bisa berdiri disini tanpa bergetar sedikitpun. Bahkan keringat dingin pun tidak menunjukan eksistensinya, sungguh mentalku sudah kuat. Aku melontarkan beberapa kata lagi dan mencoba membawa acara dengan baik.

Menghormati guru dengan menyebutkan namanya, dan mengumumkan bebecara susunan acara yang akan dilakukan hari ini. Aku begitu pede saat ini, bahkan aku tidak menyangka bibir ini terus tersenyum tanpa lelah. Mataku mengekspos sana-sini tanpa malu sama sekali, memerhatikan beberapa siswa-siswi yang melihatku dan yang tidak melihatku.

Hingga acara pertama pun dimulai, sambutan dari kepala sekolah—Tsunade-sensei begitu aku memanggil namanya disini, berbeda jika dalam kondisi rumahan aku memanggilnya dengan sebutan Baa-chan. Aku turun dari panggung dan memerhatikan sambutan yang dibawakan oleh Tsunade.

''Naruto.''

''Hum?'' Kulihat Sara dengan beberapa anggota Osis datang menghampiriku. Dapat kulihat senyuman cerah yang terpasang indah diwajah mereka masing-masing, kurasa aku tidak mengecewakan mereka. Ah syukurlah~

''Kau keren sekali! Lama-lama aku bisa jadi fans-mu Naruto!''

''Dasar, jangan terlalu berlebihan Sara. Kau membuatku malu.'' Sara tersenyum jahil, dan aku mengerti apa maksudnya. Hah~ dasar gadis ini.

''Ne ne~ sepertinya latihan cinta dari Mashiro-chan membuat mentalmu kuat ya.'' Dan asal kau tahu, latihan itu diawali dengan aku yang dijadikan bahan ejekan baginya!

''Dasar.''

''Wah wah, sepertinya wajahmu merona ne~ Naruto.'' Gadis ini.

''Kau mau aku cium?''

''A-a-a-apa! Ka-kau bilang apa! Mesum!'' Heh! Untuk kali ini aku suka ekspresinya yang terkejut dengan wajahnya yang memerah itu. Hah~ hari yang menyenangkan. Aku bersumpah, pengalaman ini tidak akan aku lupakan seumur hidupku.

.

0o0o0o0o0

Sungguh, tiada kebahagiaan lain yang bisa dipetik selain kebahagiaan yang aku alami saat ini. Begitu indah—sangat indah untuk mengungkapkan semua perasaan ini, aku berdiri disini, dalam panggung. Gema musik bersenandung semangat mengawali segalanya—mereka bergoyang bersama, begitu juga denganku.

Aku tertawa dan terus menari dengan melempar berbagai tepung yang sudah disediakan dari panitia, aku tidak pernah tertawa lepas seperti ini sebelumnya. Apakah ini yang dinamakan kebahagiaan akan sesama?

Entahlah, aku tidak mau pusing-pusing memikirkan hal itu—sementara saat ini adalah saatnya aku tertawa lepas dan berbuat jahil dengan teman-temanku. Kulihat Sasuke terlihat kewalahan menghadapi beberapa orang yang dengan jahil melemparinya tepung, aku tertawa lepas. Begitu pula aku yang akan menjahilinya, sungguh ini sangat menyenangkan.

''Hiat! Huawahahaa!'' Kiba dengan seragamnya yang acak-acak,

''Hoey! Mendokusai! Huahahaa.'' Shikamaru dengan wajahnya yang kotor,

''Hiat! Ciat! Inilah masa mudaku! Ayo lempar lagi huahahaha!'' Dan Lee yang masih semangat menghindari taburan tepung. Semuanya begitu menyenangkan.

''Ahahahaa~!'' Kami semua tertawa bersama-sama. Melepas segala batasan yang kami punya demi akhir acara ini. Aku.. sangat menyukai ini. Dan hanya satu yang ada dipikiranku sekarang.

'Aku tidak akan melupakan ini! Sampai kapan pun!'

.

''Naruto-senpai.''

''Ya?'' Aku menoleh keasal suara yang dengan jelas memanggil nama depanku. Kulihat ada Sara dengan satu sosok gadis yang menurutku sangat asing. Siapa dia?

''Ada apa ya?'' Kubalik tubuhku sepenuhnya menghadap mereka berdua dan meninggalkan percakapanku sejenak dengan teman-teman sekelasku.

''Senpai.'' Aku sedikit mengernyit bingung, ada apa dengan gadis ini? Sepertinya dia begitu sulit untuk mengutarakan apa yang ada dihatinya dengan mudah. Kulihat dengan seksama wajahnya yang cantik dengan rambutnya yang berwarna ungu terang—tunggu, ungu? Murasaki?

''WUOO MURASAKI-HIME NO RIZE-CHAN!'' Aku terkejut ketika Rock Lee datang dan mendatangiku dengan begitu brutal—dan tentunya yang membuatku tambah terkejut adalah Lee memanggil gadis didepanku ini dengan sebutan Murasaki-hime no Rize. Jangan bilang jika gadis ini Kamishiro Rize!

''Ahahaa~ Hay, Lee-senpai.'' Kulihat dia membalas sapaan Lee dengan sebuah senyuman hangat yang ramah dipandang, aku sedikit salah tingkah ketika mataku dan mata Rize beradu pandang sejenak, ah itu memalukan.

''Rize-chan, kenapa kau ada disini?'' Dan kenapa juga Lee begitu antusias sekali dengan Rize ini.

''Um~ aku sedang ada urusan dengan Naruto-senpai.''

''Uakkh! Hoy!—'' Sialan! Lee kau kesetanan apa dengan menarik kerah bajuku dengan brutal!

''Apa maksudnya ini Naruto! Kau sudah berjadian dengan Rize-chan!''

''Mana mungkin!''

''Lalu apa maksudnya ini Naruto!'' Ya ampun Kiba juga! Mereka salah paham sialan!

''Kiba kau tidak usah ikutan! Biar Naruto yang aku urus!''

''Huahk, Oy—uahk, Lee!''

''Akan kubunuh kau Naruto!''

''Umm, etto~ Tolong jangan sakiti Naruto-senpai ne~ Lee-senpai.'' Dan siksaan Lee tadi langsung berhenti sekejab. Ajaib nih orang! Lee kau begitu kesetanan dengan Rize!

''Wuo, maafkan aku Rize-chan.'' Rize tertawa halus dengan satu tangan yang dengan anggun menutupi mulutnya, uh sepertinya wajahku memerah. Dan apa-apaan dengan tingkah Lee tadi, si sialan itu hampir saja membunuhku.

''Huah~ selamat deh—?!'' Kuterkejut ketika ada tangan asing yang menyentuh pundakku dari arah belakang dengan tiba-tiba.

''Naruto-kun, kuharap selepas sekolah ini kau ada waktu ya~'' Hiiiyyy! Kiba begitu menyeramkan!

''Sudahlah kalian semua! Dasar, hanya Rize saja kalian bertarung seperti anak kecil.'' Bagus Sara! Aku mendukungmu untuk meluruskan mahluk aneh yang tadi hampir saja membabat habis nyawaku ini!

''Hanya Rize saja? Katamu?''

''Hn? Memangnya ada apa dengannya Lee!''

''Rize adalah dewi malam yang turun kebumi demi membuat kaum laki-laki mengenal apa itu yang namanya—Aduh! Woy sakit!''

''Berhentilah berbicara dengan nada lebay seperti itu Lee, aku jenuh mendengarnya.'' Bagus Sara! Teruskan pukulanmu pada si tengkorak hidup ini! Aku sepenuhnya mendukungmu!

''Ahahahaa! Rasakan itu Lee! Kau tidak akan bisa melawan Sara sang hewan buas huahahahaa!''

''Naruto-kun~'' Hiiiyyyy! Aku salah bicara!

''Mak-maksudku, sang Ratu Sara! Ya Ratu Sara!—Huakkh!''

''MATI KAU NARUTO!''

.

''Um maaf atas kejadian tidak mengenakan tadi ya, Rize.'' Aku menunduk memohon maaf karena mungkin saja kejadian aneh bin ajaib tadi bisa saja mengganggu ketenangan dari Putri orang kaya didepanku ini. Sunnguh, aku tidak mau berkhayal seperti apa hukuman yang aku dan teman-temanku dapatkan jika saja mengganggu anaknya Hayate ini.

''Tidak usah minta maaf Senpai, lagipula aku terhibur dengan tingkah kalian kok nfu fu fu fu~'' Aku tersenyum canggung dengan wajah aku alihkan dari pandangan Rize, sungguh entah kenapa ada sebuah aura yang membuatku begitu malu untuk memandangnya.

''Oh iya Senpai.'' Aku menatapnya kembali.

''Terima kasih ya, sudah menggantikanku sebagai Mc.'' Aku menutup mataku dengan sejenak dan tersenyum ceria, walaupun pada awalnya aku sendiri tidak suka menjadi Mc—tapi melihat sendiri betapa menyenangkannya suasana tadi justru membuatku senang bukan kepalang. Sekarang, justru akulah yang harus berterima kasih padamu karena sudah memberikan pengalaman hidup begitu berarti bagiku.

''Ya, sama-sama. Lagipula aku begitu menikmati peranku tadi. Sungguh mengasyikkan.'' Aku terus menerus tersenyum, entah kenapa pengalaman tadi sedikit membuatku kehilangan rasa maluku terhadap pesona Rize saat ini.

''Um~ Senpai, kenapa tidak duduk?'' Ah aku lupa!

''Oh iya, Ahahahaa, jadi malu sendiri.'' Aku dan Rize baru bertemu tadi, dan seperti yang orang katakan—Kamishiro Rize begitu cantik, ke-anggunan seorang gadis dapat aku rasakan pada diri gadis ini. Melihat bagaimana cara dia tertawa dan minum, sudah pasti Rize terdidik dengan benar dilingkungan keluarganya.

Aku sedikit mengedarkan pandangaku kearah beberapa pengunjung Kantin yang ada di Sekolah ini, entah kenapa mereka memandangku dengan tatapan mengerikan sekali—oh! Pasti itu karena aku duduk berdua dengan Rize, ah inilah resiko jika berdekatan dengan orang yang terkenal.

Aku sedikit meminum minuman sodaku dan mencoba menghiraukan tatapan lapar laki-laki yang melihatku dengan buas, Aku memandang Rize lagi dengan sejenak—tidak begitu lama, karena aku masih malu untuk bertatap muka secara langsung dengannya seperti ini.

''Nfu fu fu fu~'' Hee~? Dia tertawa?

''Tidak usah begitu malu denganku Senpai.'' Ahahaa, dia bisa membaca tubuhku ternyata, jadi malu sendiri.

''Ehehehe, habis mau bagaimana lagi. Mana mungkin aku tidak malu jika berhadapan dengan gadis primadona Sekolah ini hanya berdua saja, cantik la—ups!''

''Nfu fu fu fu~ ternyata Senpai jago gombal ya.'' Si-sialan~! Kenapa aku berbicara seperti itu sih! Kalau seperti ini, aku bisa mati terbunuh oleh fans gilanya sang Murasaki-hime no Rize! Aku mengenggam erat tanganku, pandangan yang awalnya terfokus pada wajah cantik sang Rize yang sedang tersenyum halus aku edarkan kesamping dan mencoba melihat betapa menyeramkannya tatapan mereka dan—.

''Sialan kau!''

''Akan kubunuh kau nanti bocah pirang.''

''Senpai sialan, akan aku gergaji mulutnya itu!''

''Naruto sialan! Beraninya kau menggombal Rize-chan!'' Wuaah! Jadi mereka semuanya mencoba mendengarkan percakapanku dengan Rize! Kalau seperti ini aku jadi yakin—bagaimana kalau besoknya aku dikubur! Tidak!

''Err, Rize. Bagaimana kalau kita berbicara di tempat lain?''

''Tenanglah, hiraukan saja mereka Senpai.'' Bagaimana aku menghiraukan mereka kalau mereka saja memandangku dengan nafsu membunuh seperti itu!

''Yah~ dan ngomong-ngomong, apakah keadaanmu sudah membaik?''

''Um, aku sudah baikan sekarang.''

''Ah syukurlah.'' Dan untuk beberapa waktu kemudian aku terdiam tidak tahu harus memulai topik apa agar keadaan ini tidak secanggung sekarang. Aku mencoba berpikir dan berpikir, apa yang harus aku lakukan.

'Aha! Bagaimana kalau bertanya tentang apa warna celana dalamnya! AHHHH, Tidak tidak! Darimana aku mendapatkan ide buruk seperti itu! Bisa-bisa aku di siksa langsung oleh pengawalnya Rize!'

Lalu apa?

'Apa kutanyakan saja hobinya ya? Ah tidak! Itu terlalu memaksa untuk mencoba membuat topik baru! Oh bagaimana kalau pacarnya! Ah tidak juga! Bisa-bisa dia jadi salah paham kalau aku ingin menjadi kekasihnya kalau dia tidak punya pacar! AHHHH AKU BINGUNG!'

''Naruto-senpai.'' Dan perkataan Rize yang spontan itu membuatku terlonjak kaget, kuharap dia tidak membaca pikiranku ini! Kalau bisa membacanya bisa gawat!

''A-ah ya! Ya! Ada apa Rize.'' Dan sepertinya aku lupa, mana mungkin manusia bisa membaca pikiran orang lain.

''Apa ada yang membuat Senpai frustasi? Kulihat dari tadi Senpai terlihat kebingungan, sedang memikirkan sesuatu?'' HUUWAAA! Celaka! Sebegitu ketarakah wajahku ketika sedang memikirkan sesuatu! Aku harus mengatakan apa ini!

''Y-yah sepertinya, dan kau memerhatikanku dari tadi?''

''Ah i-itu, hanya kebetulan Senpai.'' Kulihat Rize memalingkan wajahnya sebentar dengan mengibas-ngibaskan tangannya didepan wajahnya, apa mungkin dia sedang salah tingkah?

''Oh begitu ya.'' Dan kami kembali terdiam dengan kegiatan sibuk kami berdua—minum. Ketika Rize meminum minumannya, sedikit setidaknya aku mencuri pandang padanya. Wajahnya putih bersih—aku mengakuinya, tidak heran gadis ini menjadi primadona kelas 2 disini apalagi dengan latar belakang keluarganya yang mendukung semakin membuatku yakin bahwa yang duduk bersamaku itu adalah Kamishiro Rize, sang Puteri ungu Rize.

Aku tersenyum sedikit sebelum aku meminum kaleng sodaku, tidak kusangka aku akan bertemu dan mengobrol bersama dengannya disaat seperti ini. Tidak begitu buruk, kupikir watak orang kaya akan sombong dan memandang rendah orang lain tapi pemikiranku pada Rize begitu berubah ketika melihat sendiri bagaimana watak Rize sekarang ini.

Aku melirik pada rambut ungu yang sebagian terikat dan menyampirkannya di pundak kecilnya, begitu indah—tidak kalah indah dengan rambut merah adikku yang sangat aku kagumi. Sosok Rize saat ini.. begitu mengingatkanku akan Kushina. Direksi mataku langsung aku alihkan begitu Rize selesai dengan minumnya, aku menatap kesekitar—mencoba melihat keadaan yang ada disini.

''Apa mereka meresahkanmu Senpai?'' Aku tersenyum kecil demi membalas ucapanya.

''Tidak terlalu, lagipula itu wajar jika mereka memandangku seperti itu. Yah bagaimana pun mana ada penggemarmu yang tidak cemburu jika saja tokoh idolanya duduk bersama dengan lelaki asing.''

''Senpai bukan lelaki asing, Senpai sudah menolongku.''

''Menolongmu?'' Tunggu dulu, apa katanya? Menolongnya? Biar aku ingat dulu, ah ya waktu itu! Sara pernah bilang bahwa Aku dan Rize pernah bertemu, tapi aku sama sekali tidak tahu akan hal itu, apakah pertemuanku dengan Rize ada hubungannya dengan menolong Rize? Tapi kapan, aku tidak ingat—apalagi menolong Rize yang tergolong orang yang mudah di ingat wajahnya—apalagi dengan rambut ungu terangnya.

Mustahil bagiku untuk melupakan seseorang seperti itu bukan? Tapi mungkin saja aku lupa, dan mungkin saja juga itu terjadi ketika umurku masih kecil. Yah pasti aku pernah menolong Rize waktu kecil.

''Ya, Senpai pernah menolongku waktu itu.'' Tangan Rize menggemgam erat kaleng minumannya, aku tahu apa artinya itu—apakah ini sebuah luka lama yang akan kembali muncul jika Rize bercerita?

''Umm, tidak usah cerita juga tidak apa-apa kok.''

''Tidak! Senpai harus tahu, ini semua.. demi membalas semua yang Senpai lakukan padaku.'' Aku meneguk ludahku sesaat sebelum mataku bergetar gugup ketika mendengar itu. Memangnya apa yang telah aku lakukan pada Rize.

''Kalau itu ber—''

''Kejadian itu terjadi ketika masa MOS di Sekolah ini. Dan dari situlah, pertama kalinya kita bertemu, Senpai.'' Jadi.. kejadian ini tidak begitu lama terjadi! Dan kenapa juga aku melupakannya!

''Dan disaat itu.. Senpai menolongku.'' Dan entah kenapa, debar jantungku berlipat dengan ganda setelah perkataan itu terlontar dengan nada yang sendu.

Sebenarnya, aku menolongnya dalam hal apa?

.

.

.

To be continued.

A/N : Untuk sekarang, adegan romantis antara NaruKushi belum terjadi , yah sejatinya mereka terikat hubungan saudara gitu, mana mungkin kan mesra-mesraan kayak pasangan gitu :).

Mungkin menunggu sesuatu hal yang terjadi? Atau mungkin Naruto nekat mengatakan hal tabu itu dan menyelesaikan semuanya dengan kerunyaman yang sungguh runyam? Atau mungkin lainnya?—jawabannya pasti akan ketemu seiring bertambahnya chapter dari cerita ini ehehee.

Yah dan jangan bosan untuk me Review ya :D, dan maaf kalau ini saya updatenya sedikit lama ehehe.

Special Thanks to :

Delta31, , Kitsune857, Shiin Kazumiya, Da Discabil Worm N.A, Namikaze D Ryota, Kang Delis, LeFay-chan, ajidarkangel, Rain Sahashi, Yudha Bagus Satan Lucifer, Neko Twins Kagamine, Gingga Mahardika, dirahasiakan, Hyuuhi Ga Ara, firdaus minato, Gyuki-koi, Uzumaki Luficer, Hikari no Rakuen, 28, l, Kurosaki Kitahara, JoSsy aliando, Laffayete, 8Blue, ichaichatactics, Samangga Otosaka, Guest, Fauzan, Lora 29 Alus.

Dan semua pembaca yang membaca cerita ini dalam kediaman :D

.GearPhantom97.

...

.