Dislcaimer : i don't own Naruto

Warning : OCC, Incest dan masih banyak lagi.

.

.

Perhatian : Jika tidak suka, dimohon untuk tidak membacanya ya.

.

''Jadi seperti itu.''

''Ya, kejadiannya seperti itu. Um~ terima kasih sudah menolongku waktu itu ya Senpai.'' Aku tidak pecaya ini, aku sama sekali tidak percaya ini. Bahkan aku tidak menduga aku menolong Rize dalam hal yang sangat penting menurutnya—yang menurutku tidaklah terlalu penting.

Ketika Mos berlangsung, Rize bercerita pengalamannya yang pahit selama berlangsungnya kegiatan itu. Dia selalu menjadi bahan lawakan bagi para seniornya karena pada awalnya dia memakai kaca mata besar yang culun.

Berbeda dengan sekarang yang memakai kaca mata yang begitu pas dengan wajah cantiknya, sungguh aku tidak tahu bahwa perubahan Rize bisa sedrastis ini. Aku memandang sejenak pada sebuah gambar foto yang tadi sempat diberikan Rize padaku sebelum bercerita bagaimana aku menolongnya.

Di foto ini wujud Rize sangatlah berbeda dengan saat ini, untuk berbagai alasan—aku sedikit setuju bahwa dulunya dia terlihat culun, apalagi dengan kaca matanya ini. Rambutnya juga dulu tidak tertata rapi seperti sekarang ini.

Untuk sekian detik, aku menghela nafasku—mencoba menemalisir dampak debaran jantung ketika mendengar kenyataan yang sebenarnya bahwa bagaimana aku menolong Rize. Yah sedikit mengejutkan pada awalnya, tapi jika dipikir-pikir lagi. Aku memang dulunya seperti itu sih, jadi wajar saja.

''Kau tidak usah terima kasih, lagipula mungkin waktu itu aku tidak tega melihat adik kelasku diperlakukan semena-mena seperti itu.'' Aku menatap wajah Rize yang terlihat lebih tenang daripada waktu bercerita tadi.

''Tidak, bagaimana pun juga aku harus berterima kasih padamu. Jika hal itu terjadi waktu itu, mungkin sekolah ini akan di gusur oleh Ayahku.'' Ah sekali lagi, aku melupakan fakta bahwa Rize adalah anak orang kaya.

Tidak heran juga sih, mungkin benar apa kata Rize. Jika saja waktu itu penindasan yang dilakukan beberapa Senior pada Rize tidaklah dihentikan maka akan berakibat buruk pada sekolah ini, aku asumsikan jika aku waktu itu tidak menolong Rize ketika akan di potong sembarang rambutnya oleh kakak kelas perempuannya maka dipastikan—Sekolah ini hancur.

Apa boleh buat, kurasa aku harus berterima kasih pada diriku yang dulu yang telah menyelamatkan Rize begitu juga dengan Sekolah ini. Aku menatap kesekitar sebelum aku memandang Rize untuk lebih lama tidak seperti tadi, selembar foto yang ada pada tangan kananku, aku kembalikan padanya.

''Hah~ pantas saja aku tidak mengingatmu, dulunya saja kau berbeda sekali.''

''Nfu fu fu~ Perempuan itu memiliki sejuta perubahan, Senpai harus tahu itu.''

''Yah.. sejuta perubahan ya?'' Tapi tidak untuk adikku, Kushina. Hahaha, entah kenapa malah pikiranku nyambungnya ke Kushina. Dasar Siscon akut, hah~ bahkan aku mengakuinya sendiri, apalagi dengan mencintainya. Dasar, apakah aku masih layak disebut sebagai Kakak?

''Oh iya, Senpai tinggal dimana ya?''

''Tidak begitu jauh dari sini, memangnya buat apa tanya-tanya alamatku?''

''I-itu, umh~ begini. Tidak adil bukan jika Senpai sudah tahu alamatku tapi aku belum tahu alamat rumah Senpai?'' Dia tahu?

''Kau pasti tahu dari Sara ya kalau aku pernah tanya dimana rumahmu?''

''Ya begitulah, bahkan Sara-senpai bilang padaku kalau Naruto-senpai takut menemuiku Nfu fu fu~'' Anjir tuh cewek! Akan kubuat perhitungan setelah ini selesai, tunggu saja kau SARA!

''Aha-ahahaa, jadi malu sendiri. Eh, tunggu dulu. Kenapa kau tidak tanya alamat rumahku pada Sara saja?''

''U-um, itu. Aku belum sempat menanyakan alamat rumahmu pada Sara-senpai.'' Aku tersenyum jahil ketika mendengar itu, dilihat dari nadanya yang agak gugup awalan saja sudah membuatku tahu bahwa Rize pastinya sudah mengetahui tempat tinggalku—dah yah, mungkin ini usaha Rize demi membuat topik perbincangan baru, mungkin.

''Sudah atau belum hum~''

''Se-senpai! Kenapa jadi jahil sih.'' Ekspresinya saat ini membuatku ingin sekali mencubit pipinya selayaknya pasangan yang aku lihat di beberapa tempat tertentu pada waktu itu. Tapi—ingatlah, dia anak orang kaya.

''Ahahahaa, baik baik. Catat saja di Ponselmu, aku malas menulis hehehee.''

''Da-dasar Senpai jahil.'' Sembari menunggu Rize mangambil ponselnya dalam tas Sekolahnya, aku meminum sedikit minumanku dan membuangnya kesamping—tepat di tempat sampah. Dan ketika aku melihat Ponsel yang dibawa Rize, entah kenapa aku tersenyum. Kurasa hanya Rize yang melakukan ini disini, Ponselnya tidak begitu mewah ataupun canggih—jika dirincikan, mungkin Ponsel itu hanya untuk sms dan menelpon saja. Selebihnya aku ragu—apalagi untuk internet.

''Kau anak dari orang kaya, tapi Ponselmu tidak canggih?'' Dalam kebingungan yang aku buat-buat ini aku menatap Rize penuh dengan kebanggaan. Ya aku bangga dengan gadis ini, dilain sisi banyak para gadis lainnya yang minta ponsel canggih—sedangkan Rize, yang tidak lain orang tuanya sangat mampu itu hanya memiliki ponsel seperti itu saja tidak mengeluh. Aku sangat bangga padanya.

''Oh ini hanya cadangan, yang canggih ada di rumah. Senpai mau? Masih ada 5 buah ponsel canggih loh.''

*Krak! Krak!* retakan pada cermin mulai tercipta.

''Sebenarnya aku sedikit mengeluh dengan Ponsel ini sih, sangat tidak modern sekali menurutku.''

*Krak! Krak!* semakin bertambah panjang.

''Tapi yah, mau bagaimana lagi. Lagipula Ponsel ini akan aku buang nantinya. Dan oh iya, alamatmu?''

*Pyaarr!* dan pecah.

'Hancur sudah rasa kebanggaanku padanya, huhuhuhuu.'

''Jalan Valak no.666 tepatnya di gang Mama minta pulsa.''

.

.

.

''Senpai waras?''

''Sepertinya tidak.''

..

0o0o0o0o0o0

..

Setelah semuanya selesai, aku kembali pada kegiatanku. Pulang dan mencoba untuk tidur, hari ini sangat melelahkan dan sangat.. menyebalkan. Aku menghela nafasku setelah semua barang yang ada di kamarku ini berantakan tidak jelas. Ini semua ulahku, aku terlalu termakan emosi karena perkataan Kushina waktu pulang tadi.

Aku mengeratkan genggamanku, mencoba menahan amarah yang meledak-ledak karena rasa kecemburuan yang luar biasa ini. Aku sangat benci ini, sungguh benci. Kupejamkan kedua mataku dengan erat, aku sebisa mungkin menahannya, ya menahannya!

''HUAH! SIALAN!'' Aku tidak perduli lagi jika itu adalah Ponselku yang aku lempar kesamping, semua ini membuatku naik darah saja. Aku meremas kuat rambut kuningku demi menghilangkan amarah yang memuncak ini. Perkataan tadi—ketika pulang sekolah, aku masih mengingatnya. Ya, masih mengingatnya dengan jelas hingga membuatku begitu termakan amarah seperti ini.

.

Banyak waktu yang terbuang ketika aku dan Rize mengobrol bersama dan menghiraukan fakta bahwa adikku sedang menunggu kepulanganku di gerbang sekolah seperti biasanya. Mengerti akan hal itu, sesegera mungkin aku mengakhiri perbincangan ini dan bergegas pulang. Yah walaupun pada perjalan menuju gerbang sekolah terkendala oleh beberapa temanku yang menanyaiku tentang topik apa yang aku bicarakan bersama dengan Rize—yang sedikit setidaknya memakan waktu untuk menjelaskannya untuk bebas.

''Yo Kushi-Kushi, menunggu lama ya?'' Seperti biasa yang aku lakukan pada adikku yang cantik ini, aku selalu menyapanya dengan nama Kushi-Kushi.

''Ck! Cepatlah, aku sudah lapar ttebane!''

''Ahahaha, baik, baik. Ayo kita pulang dan makan.'' Kurasa aku membuat adikku begitu jengkel dengan menunggu lama disini. Dan sebagai rasa bersalahku, aku akan merangkulnya saat ini juga.

''Hey! Onii-chan mesum, apa yang kau lakukan. Aku adikmu bodoh!''

''Siapa yang bilang kau itu pacarku?''

''Lalu apa ini!'' Kushina menunjuk tanganku yang merangkul pinggangnya.

''Lepaskan! Dasar Onii-chan mesum.'' Aku tertawa lepas ketika melihat sendiri reaksi Kushina yang menampar dan berusaha menyingkirkan tanganku pada pinggang rampingnya.

''Ahahaha, berusahalah!''

''Dasar! Onii-chan lepas! Nanti pacarku melihat ini!'' Untuk beberapa detik, aku termenung ketika mendengar kata itu—pacar katanya. Dan dengan hatiku yang sudah tidak bahagia lagi, aku melepas tanganku pada pinggangnya.

''Huh~ syukurlah.''

''Kushina, kau sudah punya pacar.'' Aku bertanya kepadanya tanpa melihat wajahnya, pandanganku menatap kedepan dengan wajah yang kuyakini sangat dingin. Beberapa pejalan kaki yang ada didepan sekarang ini menjadi titik fokus penglihatanku.

''Eh! I-itu. Uruslah urusanmu sendiri Onii-chan! Hump!'' Walaupun aku tahu dia menggembungkan pipinya—yang biasanya menjadi sasaran empuk bagi cubitanku, sekarang ini aku acuhkan. Perkataan itu membuatku marah, ya sangat marah.

''Terserah! Ayo cepat pulang!'' Aku berjalan cepat mendahuluinya, suasana hati ini begitu buruk. Bagaimana mungkin aku masih bisa bertahan berjalan bersama dengannya dengan hati yang seperti ini, bisa-bisa aku kehilangan kendali dan menyakitinya.

''Eh? Kenapa Onii-chan jadi marah sih! Tunggu aku Onii-chan!'' Aku menghiraukan nada bicaranya yang heran sekaligus kesal. Maaf saja kalau aku membuatmu heran dan kesal kushina—Karena pada dasarnya, kaulah yang memulai semua ini pada diriku.

Aku terus menatap kedepan dengan menghiraukan panggilan Kushina yang memanggilku untuk menunggunya. 'Nanti pacarku melihat ini!'—Sial! Sial! Sial! Kenapa ini terjadi padaku, kenapa aku justru marah dengan hal itu!

''Onii-chan! Hah~ hah~ kenapa jadi marah begitu s—!?''

''Cepatlah, aku sudah lapar.'' Aku menampik tangannya yang tadinya mencoba menggandeng tanganku—begitu juga dengan nada suaraku yang sangat berbeda. Dan dengan tingkah autisku, aku melangkah pergi lagi—mendahuluinya menuju rumah.

Ketika sampai di rumah, aku dan Kushina sama-sama terdiam membisu. Begitu canggung untuk saat ini, dan aku tidak memerdulikannya. Selepas aku mandi dan berganti pakaian, aku berjalan menuju ruang makan untuk makan.

Dan mungkin untuk saat ini, adalah hari dimana aku dan Kushina makan dengan tingkah kami yang diam membisu, terlalu sibuk dengan pikiran kami sendiri-sendiri. Aku melihat wajah adikku yang sedang memakan makanannya dengan sedikit gugup—aku melihat itu.

''Bersihkan.'' Kegugupan itu mungkin saja membuat makan Kushina berantakan, lihatlah ada sebutir nasi di pipinya.

''Euh? A-apa?'' Aku memutar bola mataku—entah kenapa sangat kesal sekali melihat wajahnya yang sekarang ini.

''Lihatlah sendiri di cermin! Aku sudah selesai.'' Dan dengan cepat aku menata kembali alat makanku dan menaruhnya di cucian kemudian aku mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih lalu meminumnya. Setelah itu aku meninggalkan Kushina tanpa melihatnya apa yang sedang dia lakukan sekarang.

''Onii-chan.''

''Apa.'' Aku menyahutnya tanpa ada niatan untuk meladeninya berbicara. Untuk beberapa detik aku seperti orang bodoh saja dengan hanya berdiri mematung di depan pintu, kalau dia tidak mau bicara-bicara maka aku akan kembali ke kamar untuk tidur.

''Setidaknya pandanglah orang yang memanggilmu Aniki!'' Ho~ panggilannya berbeda kali ini.

''Cepatlah, aku tidak ada waktu untuk mengobrol.'' Aku menghiraukan perintahnya untuk menghadapnya, memangnya aku bodoh apa?! Aku tidak terlalu bodoh untuk menatapnya seperti seorang kakak yang normal jika saja Kushina sudah mempunyai pacar! Aku yang tersakiti disini.

''Aku tidak mau bicara jika Aniki tidak menatapku!''

''Terserah.'' Dan dengan kekesalan yang aku tahan ini aku membuka pintu lalu menutupnya dengan tenaga yang lumayan untuk mengagetkan Kushina yang ada di ruang makan. Untuk saat ini, aku sangat benci menatapnya.

.

''SIALAN!'' Pacar katanya! Dia punya pacar katanya! Sialan, kenapa aku begitu cemburu sekali dengan hal seperti itu! Kalau seperti ini terus aku bisa hilang kendali, okeh aku harus mengatur nafasku ini.

Tarik nafas, lalu keluarkan.

Tarik nafas, lalu keluarkan.

Tarik nafas, lalu..

''Nanti pacarku melihat ini!''

SIALAN!

Mana bisa aku bernafas dengan tenang jika saja aku masih mengingat dan mengenang-ngenang perkataan itu, sialan kau Kushina! Kenapa kau membuatku tidak bisa berhenti memikikanmu.

Tok tok tok!

''Onii-chan?'' Direksiku langsung teralihkan pada pintu kamarku, disana—dibaliknya ada Kushina yang sepertinya menunggu intrupsiku untuk masuk. Mataku entah kenapa langsung memicing tajam ketika mendengar kata-kata itu tidak kunjung berhenti.

''Onii-chan, Onii-chan? Boleh aku masuk.''

Aku membiarkannya saja dari dalam tanpa ada niatan untuk membuka pintu kamarku yang terkunci. Walaupun dalam hati ada sedikit rasa bersalah pada Kushina—yah bagaimana pun juga aku bertingkah seperti ini tanpa Kushina ketahui apa penyebabnya, jadi mungkin saja aku merasa bersalah padanya.

''Onii-chan.. Kushi-Kushi tahu Onii-chan belum tidur.'' Cih, Kushi-Kushi?! Dia pikir bisa menenangkan pikiranku dengan panggilan sayangku padanya? Begitu!—sayang sekali, untuk kali ini itu tidak mempan padaku.

''Onii-chan.. Tolong, biarkan Kushi-Kushi masuk.''

''Nii-chan, kenapa jadi marah pada Kushi-Kushi sih. Kushi-Kushi salah apa pada Onii-chan,''

''Tolong buka pintunya, Nii-chan. A-aku..'' Dia.. Menangis? Kushina menangis! Tidak mungkin! Aku harus menenangkannya—Tunggu dulu sialan! Kau mau membuka pintu itu hanya untuk menenangkan seseorang yang melukaimu? Tidak bukan! Cih mungkin saja Kushina hanya akting supaya aku keluar.

''Hiks.. Onii..chan, buka pintunya. Aku mohon~'' Mana mungkin jika akting suaranya parau begitu bukan? Sial, bagaimana bisa dia memainkan perasaanku seperti ini! Aku benci ini! Bedebah sialan, aku sungguh muak mendengar tangisannya itu—membuatku merinding saja!

''Onii-chan.. Buka—!?''

''Tidurlah.'' Ya, pada akhirnya aku membuka pintu yang aku kunci ini—demi mengusir adikku yang entah kenapa sungguh mengesalkan sekali.

''Onii-chan—''

''Jangan peluk aku, tidur. Lah!'' Aku mencoba untuk setenang mungkin ketika menolak tubuh Kushina yang akan memelukku tadi—aku sangat sensitif sekarang ini.

''Ti-tidak! Tidak sebelum aku tahu apa alasan Onii-chan marah dan seakan-akan membenciku.'' Aku menatap wajahnya sekilas—ada jejak air mata disitu, sekuat mungkin aku mencoba menahan tanganku untuk tidak bergerak dan menghapus jejak itu.

Sial! Bagaimana pun juga aku mencintainya, mana mungkin aku tega meninggalkan jejak tangisan itu—tapi, biar aku tekankan. Hatiku. Sedang. Tidak baik, hari ini dan saat ini juga.

''Aku hanya lelah.''

''Mana mungkin kelelahan bisa seperti itu padaku! Aku sudah tahu sifat Onii-chan ketika lelah! Jangan bohong padaku.. Onii-chan.''

''Dengar. Menjadi Mc itu melelahkan, dan aku sangat lelah sekarang,''

''Tidak ada hubungannya dengan itu bukan!? Tadi waktu pulang saja Onii-chan masih bercanda denganku.''

''Itu hanya topeng agar kau tidak khawatir.''

''Jadi selama ini Onii-chan pakai topeng ceria ketika bersamaku! Begitu!'' Aku tersentak kaget ketika mendengar itu.

''Tidak.''

''BOHONG! ONII-CHAN BOHONG!''

''Jangan teriak, bodoh!'' Entah kenapa aku jadi kesal sendiri dengannya.

''Kau yang bodoh! Hiks.. Teganya kau memakai wajah palsu pada adikmu sendiri!'' Oh great, sekarang dia menangis lagi? Ya ampun cengeng sekali sih adikku ini.

''Sudahlah! Aku mau tidur!'' Baguslah kalau begitu. Selepas Kushina pergi meninggalkan kamarku ini—sesegera mungkin aku menutup dan mengunci pintuku dan pergi menuju ranjangku untuk tidur. Sekilas aku menatap keatas dan membayangkan perkataan Kushina tadi.

''Teganya kau memakai wajah palsu pada adikmu sendiri!''

Tanganku terkepal erat ketika kata-kata itu terngiang di kepalaku dengan jelas.

'Sialan!'

..

0o0o0o0o0

..

Pagi harinya, giliran Kushina lah yang membenciku. Dia tidak mau makan bersama denganku ataupun berangkat bersama. Niat awal mau meminta maaf malah justru seperti ini, hah~ sekarang aku harus apa? Memaksanya mendengarkan penjelasanku bahwa aku melakukan ini karena aku mencintainya? Begitu?

Bodoh, hal itu tentu saja membuat Kushina semakin membenciku. Pasti dia akan berpikir bahwa aku adalah manusia terburuk di dunia ini yang dengan polosnya mengaku mencintainya dengan setulus hati—kami sedarah, dan aku tahu itu.

Mana mungkin semua orang—begitu juga dengan Kushina menerima fakta bahwa aku mencintainya melebihi saudara pada umumnya, dan jika pun terjalin teman-teman ataupun keluarga pasti akan menentang cintaku dan Kushina. Yah sudah tahu kan? Kami saudara kandung, dan semestinya kami tidak boleh mencintai ataupun menikahi saudara kandung sendiri. Tapi.. entah kenapa aku seperti menentangnya.

Rasa cintaku ini sudah tumbuh besar padanya, setiap inci dari tubuhnya membuatku bergidik merinding ketika menyentuhnya dalam kehangatan cinta. Aku tahu hal itu sangatlah salah untuk dilakukan dan dirasakan, namun.. aku sama sekali tidak bisa menghapus cinta terkutuk ini.

Dalam perjalananku menuju Sekolah, aku hanya menghabiskan untuk melamun dan memikirkan perasaanku ini daripada melihat pemandangan sekitar yang pastinya bisa menyejukkan pikiranku. Aku menatap kedepan ketika dirasanya aku menabrak sesuatu.

''Ah maaf, aku ceroboh—Mashiro?'' Dan ternyata orang yang aku tabrak adalah gadis yang waktu itu sempat menjadi teman latihanku.

''Ya tidak apa-apa.'' Dia berdiri sendiri, tanpa ada niatan menyambut tanganku yang menjulur kepadanya. Si-sialan, dia masih saja enggan menerima keberadaanku ternyata.

''Tidak usah bersikap layaknya pria gentle, Senpai tidak pantas menjadi pria gentle.'' Urat-urat dikeningku langsung berontak ketika mendengar itu.

''Masih saja menghinaku ya, dasar papan seluncur.''

''Lihat? Senpai mengejekku, kan itu bukan perilaku pria gentle.'' Anjirr! Percuma aku berdebat dengannya, dia cewek papan polos yang mempunyai mulut seperti pedang Damascus yang tajam! Lebih baik aku pergi saja.

''Hah~ aku berangkat dulu.''

''Senpai benar-benar tidak gentle ya.'' Gigiku berglemetuk ketika mendengar itu.

''Seharusnya Senpai mengijinkanku untuk duluan dulu, aku kan perempuan.''

''DAH CEPAT! AYO BERANGKAT BERSAMA!'' Habis sudah kesabaranku padanya—oh ya ampun! Aku terlalu keras teriaknya! Sekarang apalagi? Semua pejalan kaki melihat kearahku dengan aneh! Hah! Sialan malu sekali!

''Tuh kan masa Senpai berteriak sama perempuan. Ngajak berangkat bersama lagi, apa jangan-jangan Senpai mau melakukan hal mesum padaku. Hiii menjijikan.'' Yang menjijikan itu kau Mashiro, bisa-bisanya kau berkata seperti itu tanpa ekspresi apapun, kau tahu! Kau sangat menakutkan!

''Lupakan.'' Bodoh amat, aku berangkat dulu saja!

''Senpai benar-benar tidak gentle.''

''Bodoh amat!''

''Tuh kan, masa sama perempuan acuh begitu.''

''Bodo!''

''Senpai waras?''

''AKU GILA! KAU PUAS!''

..

''Kenapa kau ada disampingku.'' Pertengkaran yang terjadi tadi seakan-akan menghilang dan tergantikan dengan sosok Mashiro yang berjalan disampingku—lihatlah sekarang Mashiro berjalan bersama denganku menuju Sekolah. Oh yeah sekarang apakah dia mengakui bahwa aku itu tampan, muehehehe.

''Senpai tidak mau didampingi gadis cantik?''

''Eh? I-itu, ah bodohlah!''

''Dasar Senpai bodoh.'' Kenapa dari sekian banyaknya gadis cantik harus ada yang bermuka polos dan tanpa ekspresi sepertinya sih! Pandai berbicara dengan mulut tajam lagi! Dan sekarang dia mengganggu hidupku lagi! Hah! Sekarang apa lagi! Apa Rize akan datang padaku dan mengatakan kalau dia mencintaiku! Oh yeah, dia lebih baik daripada Mashiro ini—dan sepertinya itu hanya akan terjadi didalam mimpiku.

''Hey Mashiro, bagaimana Sekolahmu?''

''Senpai memang bodoh ya, Sekolahku ya sama seperti Senpai. Apakah itu harus dijawab?'' Kamvret!

''Maksudnya kegiatan belajarnya seperti apa?''

''Kenapa tanya begitu, apa Senpai pacarku? Orang tuaku? hingga menanyakan hal seperti itu.'' Anjirr!

''Ah lupakan saja, percuma ngobrol bersamamu jika jadinya seperti ini.''

''Senpai mau ngobrol bersamaku?''

''Tentu saja—Mashiro?'' Aku tidak tahu gerangan apa yang membuat wajah Mashiro menunjukan Ekspresi sendunya padaku, dia memperlihatkan itu hanya sekilas saja tadi, tapi aku menangkapnya. Dan dia tidak bisa mengelaknya, apakah dia di asingkan dari kelasnya? Bukankah dia primadona? Tidak mungkin diacuhkan bukan.

''Hey.'' Aku menepuk pundaknya, hingga mengakibatkan wajah cantiknya itu kembali menghadapku dengan datar.

''Kau tidak apa-apa?'' Dia menggeleng pelan sambil menyingkirkan tanganku dari pundaknya. Sepertinya dia tidak baik-baik saja—dalam keadaan batin. Aku menatapnya dari samping, wajahnya memang kembali seperti semua—tanpa ekspresi. Apakah mungkin.. dia menyembunyikan perasaannya dengan wajahnya yang tanpa ekspresi itu.

''Kenapa Senpai menatapku seperti itu.''

''HEHHH! Ah i-itu, hanya kebetulan saja.'' Sudut bibirku berkedut ringan ketika aku lihat dari sudut mataku Mashiro melihatku dengan tatapan polos yang berarti ancaman.

''Senpai memang mesum ya.''

''Terserah kau saja.''

''Senpai tidak menyangkalnya? Senpai benar-benar mesum.''

''Terserah! Mau dibilang mesum, cabul, Gay—''

''Tunggu, Senpai juga seorang Gay?'' Aku meremas rambut kuningku frustasi.

''MANA MUNGKIN!''

''Tadi Senpai bilang Gay kan?''

Dong.

.

.

.

.

''Ya.''

''Hii~ Senpai sudah tidak normal.''

'Bolehkah aku melanggar HAM pada diri Mashiro untuk saat ini!'

'DIA BENAR-BENAR MENGESALKAN SEKALI!'

..

0o0o0o0o0o0

..

Untuk soal pembelajaran, aku tidak bisa mendiskripsikannya baik ataupun buruk pada hari ini. Begitu banyak hal yang terjadi sehingga membuatku terkadang merasa senang ataupun tidak senang, bermacam-macam guru yang aku kenal dan mengajar disini bahkan tidak menghiraukanku yang hanya bengong pada pembelajaran yang sedang mereka ajarkan.

Pikiranku berjalan-jalan entah kemana, setiap mau fokus entah kenapa tidak bisa. Apalagi ketika melihat sosok Mashiro yang duduk sendirian di bangku halaman sekolah waktu istirahat pertama tadi, apakah benar dia terasingkan sebagai primadona?

Aku mengelus hidungku pelan yang entah kenapa terasa gatal—jika semua itu benar, maka tatapan yang tadi pagi itu sungguh nyata terjadi dengannya. Aku tidak tahu harus melakukan apa padanya selain berdiam diri dan terbengong melihatnya makan bekalnya sendiri.

Bahkan aku mengabaikan waktu istirahat yang aku gunakan untuk mengunjungi kelas adikku demi menjelaskan semuanya bahwa malam itu akulah yang bersalah besar padanya—dan jadinya? Aku malah molor membuntutinya dari kejauhan seperti penguntit mesum.

Dan dalam penguntitan itu aku bisa mengetahui beberapa fakta mengenai diri Mashiro yang bermuka papan tersebut. Tidak banyak yang kuketahui selain selama dia istirahat hanyalah duduk menyendiri dan memakan bekalnya, setelah itu menuju perpustakaan untuk membaca dan kembali ke kelas ketika bel istirahat berakhir berbunyi.

Sungguh seperti orang yang terasingkan—tapi tidak untuk laki-laki, bahkan tadi saja aku masih sempat memergoki beberapa laki-laki yang mencoba bertegur sapa dengannya tapi—kau tahu Mashiro seperti apa kan? Dia mengacuhkannya dengan muka tanpa Ekspresinya itu.

Mungkin, dibalik terkenalnya dia di kalangan laki-laki menjadikanya dibenci oleh kalangan perempuan. Yah aku yakin seperti itu—aku memainkan Bolpoinku sejenak ketika sang guru sejarah memerhatikanku sejenak dan kembali menerangkan pelajarannya. Sialan, hampir saja ketahuan kalau aku tidak fokus.

Baiklah untuk saat ini aku harus fokus.

Ya, harus fokus.

''Senpai mau ngobrol bersamaku?''

Sial, kenapa setiap perkataan yang menurutku menganggu justru terngiang-ngiang di kepalaku sih! Aku benci ini, bahkan aku tidak henti-hentinya berpikir bagaimana cara mengetahui bahwa Mashiro benar-benar terasingkan atau tidak.

Bodoh amat, nanti istirahat kedua aku akan menemuinya saja. Urusan adikku mungkin di rumah saja penyelesaiannya, yang sekarang ini menjadi penasaran adalah diri Mashiro sebenarnya. Apakah memang dia tersiksa sebagai seorang primadona atau justru malah senang dan menutupinya dengan wajah tanpa ekspresinya.

Mashiro Shiina.. seperti apakah dirimu yang sebenarnya.

Aku benar-benar dibuat penasaran oleh tingkahmu itu.

Tunggu saja.

.

.

'Mashiro Shiina, kelas 2-C.'

'Tunggu aku, Mashiro.'

.

To be continued.

A/N : Yah, mereka bertengkar. Wajar kan? Keluarga pasti bertengkar dan tidak selamanya terlihat akrab hehehe. Apalagi dengan kakak beradik yang menurut orang sangat sulit untuk mengerti satu sama lain, dan yah bagaimana penyelesaian Naruto kedepannya ya?

Dan maaf ya kalau update-nya lama, soalnya saya mulai sibuk nih dan takutnya malah mengecewakan kalian kalau ngetik dengan terburu-buru. Dan terima kasih ya atas respon kalian, saya benar-benar senang :D.

Dan untuk bertanya tentang kapan lanjutnya fic Hybrid Akuma, saya berencana membuat fic pengganti dari fic itu, soalnya saya kehabisan ide ehehehe. Dan maaf ya kalau saya mengecewakan kalian yang menunggu fic Hybrid Akuma untuk up.

Special Thanks to :

Delta31, , Kitsune857, Shiin Kazumiya, Da Discabil Worm N.A, Namikaze D Ryota, Kang Delis, LeFay-chan, ajidarkangel, Rain Sahashi, Yudha Bagus Satan Lucifer, Neko Twins Kagamine, Gingga Mahardika, dirahasiakan, Hyuuhi Ga Ara, firdaus minato, Gyuki-koi, Uzumaki Luficer, Hikari no Rakuen, andreas sam28, l, Kurosaki Kitahara, JoSsy aliando, Laffayete, 8Blue, ichaichatactics, Samangga Otosaka, Guest, Fauzan, Lora 29 Alus, Red Army28, adam muhammad980, dragonfirenatsu90, Tu332, Indra, Miqal.

Dan semua pembaca yang membaca cerita ini dalam kediaman :D

.GearPhantom97.

...

.