Disclaimer: I don't own Naruto.
Warning: OOC, Incest, Typo, and many more…
.
.
Perhatian: Jika tidak suka, dimohon untuk tidak menghujat author dan menghina karya ini. Silakan tekan tombol back dengan damai.
.
.
"Hey,"
"Naruto-senpai?" Sahut Mashiro Shiina agak sedikit terkejut. Maklum sih, apalagi yang ku lihat waktu istirahat pertama tadi dia selalu saja menyendiri-yang kuartikan mungkin sudah terbiasa lama menyendiri. Makanya aku berniat menyapa sekaligus menemaninya di istirahat kedua.
"Sendirian aja, dimana temanmu?" Ucapku sembari mendudukkan bokongku di samping tempat duduk Mashiro. Mungkin terdengar mengejek, namun bagiku yang ingin mengetahui siapa diri Mashiro tentu harus menabrak batas ini.
"Senpai mengejekku?"
"Apa wajahku ini terlihat mengejek?" Kutanya balik.
"Muka senpai mau dibuat ekspresi apapun bagi pandangan mataku tetap seperti mengejek." Urat di keningku berkedut, dia memang masih Mashiro Shiina yang aku kenal.
"Lagipula, kenapa senpai bisa tahu aku ada di perpustakaan?" Aku terkesiap menggelagap. Dengan menggaruk pipiku yang tidak terasa gatal itu, aku menjawab pertanyaan Mashiro dengan senyumanku.
"Mungkin insting seorang senpai yang saangat menyayangi Kouhainya."
"..." Setidaknya tunjukkanlah ekspresi jijikmu Mashiro! Kalau ekspresi papan seperti itu, justru malah aku yang merasa tersakiti oleh perkataanku sendirii. Hiks.. Hiks..
"Senpai saangat menjijikkan," Ya, aku tahu itu.
"Apakah sekarang senpai mau menjadi buaya darat? Mendapatkan julukan senpai mesum dan bau mulut sepertinya belum cukup ya?" Teganya kau mengatakan itu dengan wajah minim ekspresimu itu Mashiro.
"Tentu saja tidak! Lagipula aku sendiri pun belum pernah berduaan dengan cewek tahu! Sok-sokan menjadi buaya darat, ahahaha, lucu sekali."
"Lalu senpai menganggap aku ini apa? Tidak pernah berduaan dengan cewek, apakah aku ini cowok di hadapan mata senpai?" Bibirku berkedut. Benar juga.
"Ta-tapi Mashiro—"
"Lagipula, perkataan seperti tadi mirip dengan perkataan para buaya darat diluar sana." Kurasa aku akan menangis. Seseorang, tolong berikan aku selembar tisu.
"Bercanda kok."
"..."
.
.
.
"Kenapa senpai tidak tertawa?"
"Mashiro," Kupegang satu pundaknya. Kututup mataku dan membukanya dengan anggun.
"Setidaknya ciptakan ekspresi lucu atau julurkan lidahmu kalau berniat untuk melawak! Wajahmu datar oy, senpai tidak tahu harus berekspresi apa kan?!" Ujarku penuh dengan urat yang meringkuk di keningku.
"Seperti ini?" Dengan polos, Mashiro mengeluarkan lidahnya separuh.
"..."
.
.
.
"Ah, senpai kenapa bengong?" Dia manis sekali ya Tuhan! Lihatlah mukanya yang minim ekspresi itu sambil mengeluarkan separuh lidahnya tadi! Benar-benar menggemaskan sekali! Apa ada karung disini? Aku ingin membawa pergi dan menguncinya di gudang bersama denganku!
Mashiro! Kyaaa kau imut sekali, UwU.
Oke, lupakan pikiran absurd-ku tadi.
"Ohohoho~ senpai tidak menyangka kau bisa membuat ekspresi seperti tadi."
"Apa senpai sempat berpikiran mesum?" Ujarnya sambil memiringkan kepalanya.
"Kurang ajar! Mana mungkin aku berpikiran seperti itu!" Ujarku. Kemudian disusul telunjuk Mashiro yang mengarah ke wajahku—tepatnya ke hidung.
"Lalu kenapa senpai mimisan?" Eh? Benarkah? Kau bercanda kan? Masa aku melihat begitu saja udah mimisan! Lemah sekali imanku!
Aku tahu, pasti Mashiro ingin bercanda lagi. Aku tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalaku. Ayo coba peragakan ekspresi yang kau keluarkan tadi Mashiro. Mana mungkin hidungku ini mengeluarkan darah akibat melihat ekspresimu. Bodoh sekali bukan? Lihat ini, akan aku buktikan kalau aku tidak mimisan…
.
.
.
"Senpai?"
"Apa kau punya tisu?"
"Tentu," Mashiro merogoh sakunya sejenak, lalu menyodorkan tisu wajah kearahku. "Ini ambillah."
"Terimakasih, Mashiro." Kuambil tisu itu satu. Lalu kuarahkan tisu yang kuambil untuk mengelap hidungku yang basah akibat darah mimisanku.
Hiks.. Ini begitu menyedihkan sekaligus menyakitkan di waktu bersamaan. Hatiku retak, seretak keadaan otakku sekarang ini. Ya Tuhan, aku tidak habis pikir. Kenapa hanya dengan melihat ekspresi Mashiro menjulurkan lidahnya bisa membuatku mimisan.
Kenapa ya Tuhan...
Kenapa...
"Senpai saaangat menjijikkan."
"Ya aku tahu itu, jadi tolong jangan katakan itu lagi dengan wajah tanpa ekspresimu Mashiro, hiks... hiks.." Hancur sudah image yang aku bangun. Selamat tinggal dunia, dan selamat tinggal dunia percintaanku. Aku sangat senang bisa mengenal kalian walau harus tersakiti.
"Hey kalian! Jangan membuat gaduh di perpustakaan—eh, Aniki?" Kutorehkan wajahku pada asal suara tadi.
"Ku-kushina?" Dan aku sangat tidak menyangka akan kejadian kali ini. Kenapa dari sekian banyaknya cewek yang bisa menegurku harus Kushina? Adikku sendiri?!
Keadaanku dengannya sedang runyam-runyamnya sekarang. Lihatlah dan dengarlah, bahkan adikku yang terbiasa memanggilku dengan logat Onii-chan manisnya hilang entah kemana terggantikan oleh Aniki.
"A-a.. Aku harus pergi," Aku terdiam menatap kepergiannya. Punggung kecilnya terlihat bergetar disana, apakah dia menangis? Sungguh, aku ingin sekali merengkuh tubuh kecil adikku dalam pelukan hangatku.
Sebisa mungkin membuatnya nyaman, seperti pelukanku padanya dulu. Pelukan yang biasa menghilangkan penatnya, pelukan yang biasa menghilangkan tangisnya, dan pelukan yang sangat dia cintai dari kakak kandungnya.
Tapi untuk sekarang aku tidak bisa melakukan pelukan itu. Dia masih membenciku, dan aku tahu batasanku sendiri sebagai kakak kandungnya.
Sesungguhnya aku sangat tidak tega, perlakuanku kemarin kepadanya memang sungguh keterlaluan. Cemburu? Kepada adikmu sendiri? Konyol sekali bukan.
Mungkin bisa dibilang diriku yang mendekat ke Mashiro daripada Kushina adalah manifestasi dari jati diriku yang terlalu takut untuk meminta maaf kepadanya. Pengecut memang.
"Senpai, apakah yang tadi itu adikmu?" Aku menjawab pertanyaan Mashiro dengan anggukan kepalaku yang masih menatap kepergiannya.
"Dia sangat cantik," Ujarnya. "Dan juga sangat manis, senpai beruntung mempunyai adik sepertinya." Aku tersenyum menanggapi pendapat Mashiro tentang adikku. Bahkan dari sudut pandang perempuan seperti Mashiro, Kushina masih dikatakan sangat cantik. Aku tidak heran dengan itu. Ya, memang dia cantik. Sungguh teramat sangat cantik.
"Dia memang adik kecilku yang cantik. Apa kau ingin tahu namanya?" Kataku sambil melirik wajah Mashiro yang menatap wajahku datar.
"Siapa namanya?"
"Namanya Kushina, Uzumaki Kushina. Suatu saat nanti akan ku perkenalkan dia secara langsung kepadamu, Mashiro-chan." Kataku tersenyum halus. Mashiro mengangguk kecil sembari kembali melakukan kegiatannya yang sempat tertunda akibat kedatangan diriku, yaitu membaca buku.
"Apa hubungan senpai dengannya sedang tidak baik?" Aku tertawa kikuk menanggapi ucapannya itu.
"Kau bisa melihatnya sendiri tadi,"
"Ya, aku melihatnya. Tidak aneh bagiku untuk melihat itu. Biasanya orang ceria seperti senpai selalu menyembunyikan masalahnya seorang diri, malah terkadang internal permasalahannya itu datang dari keluarga."
"Ironi bukan? Keluarga seharusnya menjadi komukasi terdekat, malah justru teman lah yang menjadi komunikasi terdekat kita." Kataku sambil wajahku mengadah keatas. Mengawang entah kemana, pikiranku saat ini benar-benar ditingkat bawah dari kekalutanku.
Mungkin kalau ada sebatang rokok di tangan, bisa mendeskripsikan betapa stressnya aku memikirkan perasaan diriku kepada Kushina.
"Aku tidak mempunyai adik, jadi aku tidak bisa membantu permasalahan senpai."
"Ya ya, aku mengerti itu. Lagipula aku tiada niatan untuk meminta bantuanmu, ehehe." Mashiro melirikku dengan ekor matanya.
"Senpai memang aneh."
"Apa maksudmu? Lagipula yang aneh itu kau Mashiro." Ucapku. Mataku dan matanya saling bertatapan. Entah kenapa ada delusi bunga indah disitu ketika momen tatapan itu terjadi. Dia menutup bukunya, lalu menyerahkan seluruh direksi pandangannya hanya untukku seorang.
"Maksud senpai, apa?" Tanyanya polos.
"Kau terkenal, tapi kau kesepian. Banyak dari kalangan pria mencoba untuk mendekatimu. Setidaknya biarkan mereka mendapatkan sapaan datarmu itu."
"Kenapa senpai mengurusi kehidupanku? Lagipula senpai bukan pacarku ataupun keluargaku,"
"Aku temanmu," Kedua kelopak mata lentiknya berkedip cepat.
"Senpai terlalu ikut campur kehidupanku."
"Aku melakukan ini karena kau sudah membantuku. Maaf kalau memang aku terlalu ikut campur dalam urusanmu. Tapi aku tidak tahan untuk mengatakan ini padamu, Mashiro."
"Kalau niat senpai ingin membantuku, apakah senpai mau menjadi pacarku?"
"Tentu saja aku akan membantumu, sekali pun itu menjadi pacar—Eeehhh! A-apa yang kau katakan tadi, Mashiro?!" Coretan rona merah tampak di kedua pipi imutnya. Entah apa yang direncanakan Mashiro ketika mengatakan itu. Jelas, hal itu sedikit membuat pikiranku dilanda kabut kebingungan.
"Bercanda kok, senpai tidak usah berekspresi lebay seperti itu." Ucapnya sambil membuang wajahnya ke buku.
"Mashiro, apa kau serius bercanda seperti tadi?"
"Kenapa juga aku harus serius mengatakan itu? Senpai terlalu bermimpi untuk mendapatkan pacar manis sepertiku, ummu." Pipinya menggembung imut. Entah kenapa ekspresinya kali ini cukup membuatku tertawa terpingkal-pingkal. Entah apa yang merasuki Mashiro, yang jelas dia begitu ekspresif kali ini.
"Kau imut sekali Mashiro," Pujiku kepadanya. Dia melirikku sekilas. "Entah aku harus senang atau tidak mendapatkan pujian seperti itu dari senpai mesumku." Ohok! Perkataannya itu memang pedas seperti biasanya.
"Hargailah perasaan senpai-mu, Mashiro-chan."
"Senpai juga harus menghargai perasaanku. Kenapa aku harus melakukan ini dan menjauh dari kelompotan mereka." Aku terdiam. Perkataannya kali ini bukan hanya menohokku, tapi juga sekaligus menyerangku.
"Apa kau menderita menjadi orang yang populer?" Tanyaku menyelidik. Guratan wajahnya memang datar, tapi aku yakin dia saat ini jengah dengan apa yang aku utarakan tadi.
"Senpai sendiri, apa yang akan senpai lakukan jikalau menjadi senpai populer dikalangan cewek?" Tanyanya balik. Kuhilangkan rasa gatal di tenggorokan dengan berdehem. Lalu menjawabnya,
"Senpai akan merasa risih, dan juga senang. Mungkin." Dengan jari-jemari lentiknya, Mashiro menyampirkan rambut kuning pucatnya ke telinga. Membuka tabir kecantikannya hanya kepadaku seorang-yang ada disampingnya.
"Itu pemikiran cowok, berbeda dengan pemikiran yang cewek punyai. Senpai tidak akan tahu perasaanku. Apa yang harus senpai lakukan adalah berdiam diri dan bertingkah seperti layaknya hubungan kita selama ini." Mashiro menaruh bukunya dalam dekapan dadanya. Wajahnya menunduk sebelum dia berdiri dan menatap wajahku dengan raut wajahnya yang minim ekspresi.
"Senpai memang orang yang baik." Dan meninggalkan diriku yang berselimut kabut kebingungan. Ketika kesadaranku pulih, aku hendak memanggilnya kembali. Namun sayang, bunyi bel masuk, menggema di seluruh ruangan.
...
oOoOoOoOoOoOo
...
Singkat waktu, bunyi bel pulang berkumandang. Para siswa berhamburan keluar dari ruang kelasnya. Termasuk juga aku, tapi kali ini dalam langkah pulang yang seharusnya menjadi titik kebahagiaan bagi seorang siswa. Harus menjadi titik kehampaan bagiku.
Ada satu permasalahan yang takut untuk aku hadapi nanti. Kushina, adikku. Entah kalimat apa yang pantas untuk aku katakan nanti kepadanya. Yang jelas, sekarang ini entah kenapa otakku tidak bisa di ajak bekerja sama untuk menuntaskan permasalahan ini.
Langkahku terasa memberat, begitu gontai dalam mengambil setiap garisan lantai yang aku pijak setiap harinya. Wajahku menunduk, pikiranku sangat kalut. Di lorong yang terhubung menuju ke gerbang keluar ini aku berharap-harap cemas untuk tidak bertemu dengan Kushina dulu, secara langsung.
Aku masih belum siap menatap wajah bencinya kepadaku.
Aku masih belum siap menatap wajah jengahnya kepadaku.
Aku masih belum siap untuk menerima itu semuanya dari Kushina.
Tak terasa, langkahku yang dibarengi dengan pikiran kalut ini sudah hampir menyentuh muka gerbang pintu keluar. Kulirik dengan cemas pandangan kedepan sambil berdoa agar Kushina tidak berada disitu. Kumohon...
"Hahh~" Kali ini aman, tidak ada Kushina disitu. Tapi entah kenapa hal ini terasa begitu menyakitkan. Biasanya aku selalu ditunggu olehnya di bibir gerbang. Menyapaku dengan nada Onii-chan lembutnya. Senyuman pulang sekolah yang menyemangati jiwaku. Dan tatapan wajahnya yang selalu ceria kepadaku.
Aku... Kehilangan sosok adik kecilku yang selalu menunggu disitu.
Kulangkahkan kakiku dengan gontai. Direksi mataku melirik kesana kemari, mencoba mencari kehadiran sosok Kushina walau hanya sebutir jagung saja. Ternyata nihil, tidak ada. Sosoknya menghilang, tertelan oleh rasa kebenciannya kepadaku.
Aku tersenyum getir. Memang inilah yang seharusnya aku dapatkan. Kushina berhak membenciku, karena perlakuanku yang sangat buruk itu kepadanya kemarin.
"Naruto-kun?" Wajahku menoleh ke asal suara.
"Oh, Sara-chan. Kukira siapa tadi." Ternyata hanya Sara. Wajah sehabis pulang sekolahnya memang kental sekali terukir disitu. Dia kemudian mensejajarkan langkah kakinya untuk membarengi langkah kakiku yang lebar.
"Tumben pulang sendiri, Kushina-chan dimana?" Tanyanya penasaran sambil menengok kesana-kemari dengan gemas.
"Dia ada kegiatan dengan teman eskulnya tadi, makanya aku pulang sendiri." Ujarku membual.
"Oh, begitu ya." Dan bodohnya lagi Sara percaya dengan bualanku.
"Lagipula, tumben sekali kau pulang cepat hari ini?" Ucapku sambil meliriknya.
"Kegiatanku sudah selesai, seharusnya ada kegiatan eval sehabis acara kemarin sih. Tapi aku bolos tehee~" Jelasnya sambil mengedipkan satu matanya kepadaku. Sok bertingkah imut nih anak satu.
"Yups, itulah Sara yang aku kenal." Dan kami pun hening untuk beberapa saat.
"Omong-omong, bagaimana kesanmu setelah bertemu dengan Rize-chan? Cantik kan~ imut kan~"
"Huum, dia memang cantik. Aku tidak menyangkanya bisa bertemu dia secepat ini."
"Ya jelas dong, kan ada aku yang selalu membantumu, Naruto-kun."
"Kau membantu menambah beban hidupku saja, Sara." Ujarku. Sara kulihat mencerucutkan bibirnya dengan manja. Kalau saja ini bukan di tempat umum, sudah dari tadi bibirnya itu ku kecup manja. Ah, maafkan temanmu ini yang membayangkan tidak-tidak kepadamu, Sara.
"Lagipula, Rize juga ingin bertemu denganmu," Balasnya. "Mau main ke rumah Rize?" Ajaknya kepadaku. Kutatap wajahnya yang cantik itu dengan guratan bingungku.
"Untuk apa main kesana?"
"Ya mampir aja gitu kesana, ngobrol-ngobrol dengan Rize."
"Buat apa? Kau bisa melakukan itu di sekolah kan?"
"Ihh, sudahlah, dasar jadi cowok tidak peka." Ucapnya ketus. Kuangkat salah satu alisku, mengherankan perkataannya tadi. Bukannya dia sendiri yang tidak peka dengan keadaanku sebagai seorang cowok ya? Mana mungkin aku sebagai cowok main ke rumah cewek dengan lancar jaya bodoh.
"Dasar cewek tidak peka." Dan kami pun melanjutkan perjalan pulang dengan percakapan ringan seperti biasa. Aku dan Sara memang sudah dekat sedari kecil. Tak ayal, bagi orang asing yang melihat kami atau belum mengenal kami pasti mengira bahwa aku berpacaran dengan Sara.
Padahal faktanya tidak. Kami hanya berteman dekat, mungkin penambahan kata mesra bisa diajukan kalau Sara tidak malu-malu kucing ketika aku menggodanya.
Padahal niatku bercanda, tapi respon yang selalu aku dapatkan ketika aku menggodanya pasti diluar ekspetasiku. Mulai dengan menabok punggungku keras, menanyakan apakah itu serius atau tidak, tentu saja ya tidak lah. Kalau aku menyukai seseorang, mana mungkin akan selancar itu untuk menggombalnya. Sara memang teman gadisku yang unik.
...
oOoOoOoOoOo
...
Kubuka kusen pintu rumah dengan kunci yang selalu aku bawa. Kemudian aku melenggang masuk. Mataku melirik ke rak sepatu, menyusurinya apakah ada sepatu Kushina disitu. Ternyata tidak ada. Aku tidak menyangka akan melalui hari-hari seperti ini, sungguh merepotkan sekali. Lalu kututup pintu depan tanpa menguncinya.
Kulepas sepatuku dan menaruhnya di rak. Kemudian aku berjalan menaiki anak tangga untuk merebahkan badan dan pikiranku yang penat dari lelahnya kehidupanku hari ini di empuknya kasur kamarku.
Kubuka pintu kamarku, lalu menutupnya kembali. Kulepas dasi dan seragamku, menggantinya dengan baju biasa yang aku kenakan sehari-hari. Kemudian setelah itu aku pergi menuju ke kamar mandi sambil membawa peralatan mandiku.
Selama lima menit kubiarkan tubuh telanjangku terguyur oleh dinginnya butiran air yang jatuh dari shower. Setidaknya, dengan dinginnya air ini, aku berharap bisa mejernihkan pikiranku.
Setelah selesai, ku mulai berkaca di cermin kamar mandi. Refleksi bayangan sempurnaku ada disitu. Wajahku menunduk, kunyalakan keran air wastafel dan meraup aliran air itu dalam telapak tanganku.
Kemudian membawaa genangan itu untuk membasuh mukaku yang dirasa agak sedikit masam di cermin. Aku termenung, kata-kata apa saja yang nantinya akan aku jelaskan untuk mengatasi perilakuku kemarin kepada Kushina.
Aku sungguh bingung. Pikiranku terkunci hanya pada kata cemburu dan sejenisnya. Tidak berubah dari tadi pagi maupun sampe sore ini. Kutatap lagi bayangan sempurna yang tercipta didepanku.
"Kau siapa?" Bibirku terkatup rapat. Sorot mata biruku mengawang.
"Aku tanya, kau siapanya dia, Naruto." Telapak tanganku menyentuh kaca. Menautkan bayangku.
"Kenapa harus kau cemburu? Normal bukan kalau Kushina mempunyai pacar. Dia sudah beranjak remaja, sudah tahu batasannya sendiri sebagai kaum hawa yang menarik perhatian. Seharusnya kau mendukungnya sebagai seorang kakak, tapi apa yang kau lakukan kemarin? Sungguh menyedihkan." Kueratkan rahangku.
Itu bukan urusanmu.
"Tanpa adanya dirimu, Kushina tentu akan baik-baik saja. Dia berhak tumbuh bersama dengan perasaannya sendiri. Kau tidak harus menghendaki perasaan Kushina untuk sama sepertimu. Kau bodoh. Kau bodoh sekali, Naruto."
Ya, memang aku sangat bodoh.
"Ini dunia nyata. Bukan dunia imajinasimu yang ilusif itu. Kau harus meminta maaf kepada Kushina, mau bagaimana pun caranya kau harus meminta maaf kepadanya. Jika kau ingin tetap dianggap sebagai kakak tentunya."
Ya, aku tahu hal itu. Sangat-sangat mafhum malahan. Kushina berhak atas perasaannya. Begitu juga dengan aku yang berhak atas perasaanku kepadanya. Dia adalah adik kecilku, untuk selamanya.
...
"Tadaima." Kutorehkan wajahku. Menatap Kushina yang berada di ambang pintu dengan wajah masamnya.
"Okaeri, Kushina." Sapaku. Dia menatap wajahku enggan. Dengan menaruh sepatunya di rak, Kushina mulai melenggang pergi dari hadapanku.
Aku berdiri, mencoba menghadang lajunya.
"Aniki, menyingkirlah." Dia berkata seperti itu dengan wajahnya yang tertunduk. Aku menatapnya dengan harap-harap cemas. Kucoba untuk memegang wajah ayunya dan mengusapnya sehalus mungkin. Tidak ada penolakan, lalu aku inisiatif untuk mengangkat dagunya ke atas. Kupaksa wajahnya melihatku secara langsung.
"Kushina, maafkan Onii-chan" Ucapku lembut. Kushina menggigit bibirnya, mencoba menahan gejolak yang mungkin terblender di dalam hatinya. Kedua matanya menutup, tidak berani untuk menatapku apalagi untuk berbicara kepadaku.
Tubuhnya kaku, mungkin mematung mendengar permintaan maafku yang tulus. Kemudian kejadian berikutnya cukup membuatku terkejut. Dia memelukku, sangat erat.
"Onii-chan, hwaaa" Tangisnya pecah. Badannya bergetar memelukku. Lalu aku memeluk dirinya tak kalah erat dari yang Kushina lakukan. Menyesep keharuman khas dari seorang gadis sekokah yang baru pulang dari kegiatannya. Surai merah indahnya ku elus manja. Mencoba menenangkannya sebaik mungkin.
"Maafkan Kushi-Kushi juga Onii-chan, Kushi janji tidak akan membebani Onii-chan lagi, Kushi janji akan menuruti perkataan Onii-chan, Kushi janji bakal menjadi adik tercinta Onii-chan lagi, Hwaa." Paraunya imut. Aku tertawa halus. Lalu kurenggangkan pelukan kami. Kutatap wajahnya yang menangis itu dengan tatapan kasih sayangku. Ku usap lelehan berlian itu dengan jari-jemariku sehalus mungkin.
Sebisa mungkin tidak menimbulkan luka pada pipi halusnya akibat jari kasarku. Ku kecup mesra keningnya lalu kuempelkan keningnya itu dengan keningku. Menatapnya begitu dekat dan mungkin agak begitu intim.
Jari jemari lentiknya yang halus itu juga meraup pipiku, mengelus lembut guratan tiga garis yang melekat disitu dari lahir. Matanya yang seindah bayangan malam itu menatapku berair. Tidak tahan dengan godaannya, kukecup singkat bibir peach merah mudanya dan menatapnya lagi dengan pandangan baru.
"Kushi-Kushi tidak perlu meminta maaf. Kushi tidak salah, Onii-chan lah yang salah. Apa yang terjadi kemarin itu sungguh murni kesalahan Onii-chan. Jadi, Kushi tidak perlu meminta maaf." Ujarku lembut. Lalu tanpa kuduga dia mengecup pipiku. Mataku membola terkejut. Setelah kecupan singkat itu Kushina kembali memelukku, membungkam wajah rona malunya dibalik dada bidangku.
Aku tertawa dengan halus. Merasa gemas dengan tingkah lakunya, aku mencoba untuk melepaskan pelukannya pada tubuhku demi melihat wajah merona miliknya.
"Ummu, Onii-chan! Kushi maluu~" Aku tertawa terkikik ketika melihat reaksi penolakan dari tubuhnya yang tidak mau melepaskan pelukannya padaku. Kushina, kenapa engkau selalu bisa membuatku jatuh cinta seperti ini. Kau tahu? Kakakmu saat ini sedang menahan gejolak nafsunya lho.
"Kushi, Onii-chan mau tanya sesuatu." Dekapannya melonggar. Wajahnya mendongak menatap wajahku dari bawah.
"Tanya apa, Onii-chan?" Ku masih mengelus surai merahnya dengan manja. Dengan menghela nafasku sejenak, lalu aku menanyakan perihal kedatangannya pulang yang telat.
"Kemana saja daritadi? Tumben sekali telat pulang," Wajah menunduk. Dia terlihat mengeratkan kembali pelukannya pada tubuhku. Aku menggigit bibirku, menahan segala gejolak akibat tonjolan dadanya yang menempel begitu erat dengan tubuhku.
"Pacarku... Aku memutuskannya tadi." Mataku membola terkejut. Sungguh?
"Kushi serius? Kenapa memutuskan pacarmu? Bukankah kalian baru jadian?"
"Aku tidak ingin Onii-chan benci kepadaku, ummu~" Jawabnya. Pipinya menggembung imut. Kucubit sedikit lalu tertawa melihat reaksinya yang kesakitan yang menurutku sangat imut. Entah apa yang terjadi, tapi setiap ekspresi yang dia keluarkan begitu sangat imut di kedua mataku ini.
"Onii-chan tidak akan benci kok, lagipula Kushi berhak mengatur perasaan Kushi sendiri."
"Tapi Onii-chan terakhir kali dingin padaku kalau menyangkut soal cowok, apalagi kemarin. Jelas sekali Onii-chan tidak suka kalau aku mempunyai pacar, huff~" Jelasnya manja.
"Ahahaha, benarkah? Itu hanya pemikiran Kushi doang kali. Kan Onii-chan sudah bilang kalau Onii-chan lagi capek," Ucapku membual. Memang benar, sesungguhnya aku marah akibat Kushina yang sudah mempunyai pacar.
Tapi sekarang entah kenapa hatiku merasa melengos lega begitu saja. Jahat kah aku? Bukannya prihatin, tapi malah senang dengan putusnya hubungan adikku dengan pacarnya.
"Entahlah, aku hanya berpikir demikian. Kushi juga entah kenapa... Tidak, yang penting Kushi sudah memutuskan pacar Kushi, titik." Kushina tersenyum manis kepadaku. Kubalas balik senyumannya sengan senyumanku.
"Dasar, ya sudah. Sana mandi. Onii-chan sudah siapkan air hangat kalau mau," Ucapku. Kushina kemudian melepaskan pelukanku.
"Huum, ini juga mau mandi. Arigatou Onii-chan," Kushina mencium bibirku sekilas lalu melenggang pergi dengan lari kecilnya. Tubuhku mematung. Sengatan listrik berjuta-juta volt rasanya mematikan seluruh kinerja syaraf di badanku. Hey... Yang tadi itu, bukan mimpi bukan? Kushina, mencium bibirku?
Ada apa gerangan dengannya? Dia seakan-akan bukan Kushina yang aku kenal. Kushina pasti tidak akan melakukan ini kepadaku! Tapi dia melakukannya. Kushina yang manja memang menjadi delusiku, tapi ini terlalu nyata bagiku sekaligus terlalu mengagetkan.
Kutatap punggung kecilnya yang masih berbalut seragam itu dari aku berdiri. Wajahnya tidak menunjukkan rona merah malu disana, tapi dia terus-terusan menyunggingkan senyuman manisnya di wajah.
Ahh.. Mungkin hanya firasatku saja. Tapi aku cukup bersyukur atas kejadian ini. Dia kalau mau baikan dengan kakaknya, justru malah menjadi manja begini. Sangat tidak terduga. Apa aku harus sering-sering bertengkar dengannya ya? Kurasa itu bukanlah hal buruk bagiku. Dia sangat lucu menggemaskan.
"Kushina! Badanmu bau sekali! Bajuku kena keringatmu nih!" Ohohoho, topik pertengkaran baru cihuy~ kuharap kalau berbaikan lagi dia bisa menjadi manja UwU.
"Oh itu bagus, badan Onii-chan jadi penuh bauku daripada bau cewek yang Onii-chan temui di perpus, tehee~" Ucapnya sembari masuk ke kamarnya. Tak lupa pula dia menjulurkan lidahnya mengejek sebagai salam perpisahan dari pandangan kami.
Tapi tunggu bentar, apa perkataannya tadi?
Hey hey hey... Jangan bilang padaku kalau Kushina itu...
.
.
.
To be continued..
A/N: Haiii para reader zaman baheula. Author balik nih Update chapter 6 setelah sekian lama fic ini hiatus T.T
Author tidak menyangkanya bisa menulis fic ini lagi. Padahal author kira kena WB lho, eh tau-taunya imajinasi author meliar dengan sendirinya wkwkwkw.
Tidak banyak yang dapat author katakan. Selain author memohon review dari kalian, wabil khusus bagi yang dari dulu menanti up fic ini wkwkwk.
So, see on the next chap~
