Previously (Chapter 1) :
"Na-namaku Byun Baekhyun."ucap Baekhyun, disenyumi Chanyeol.
"Namaku Park Chanyeol. Salam kenal!"ucap Chanyeol dengan bahagia, membuat Baekhyun mau tak mau tersenyum.
Mereka pun mulai bersenda gurau, tak memedulikan jari Baekhyun yang berdarah–darahnya sudah berhenti karena hisapan kuat Chanyeol yang menghisap seluruh darah yang akan keluar.
Dan saat mereka sedang asyik-asyiknya bercanda, Lay datang dengan sebuah kain lap kering yang ia minta dari Suho. Ckckck.
.
-The Golden Chrysoberyl-
.
.
Chapter 2
Seoul, 7 April 2015, 10:00
Harap seluruh anggota misi berkumpul di aula. Harap seluruh anggota misi berkumpul di aula
Terdengar suara speaker, membuat mereka semua terdiam. Kris, Sehun, dan Kai segera membawa tas besar mereka. Jongdae, Kyungsoo, dan Lay sibuk memasuk-masukkan barang-barang mereka ke dalam tas. Minseok dan Baekhyun sibuk mengobrol, karena tas mereka sendiri sudah ada di pundak mereka. Luhan tampak membantu Chanyeol berkemas–namja tinggi itu memang membawa barang-barang aneh. Tao dan Suho sudah bersiap, dan sembari menunggu teman lainnya, Suho dan Tao masih duduk di ranjang, dengan Tao masih melamun ke luar jendela.
"Baiklah! Kajja, everyone!"pekik Kris.
Mereka pun membawa tas-tas besar mereka ke luar kamar. Mereka menyusuri lorong itu bersama, dengan banyak obrolan tentang rasa excited ketika akan berangkat memenuhi misi.
BRUGH!
"Aish!"terdengar suara sesuatu terjatuh, disusul suara gerutuan.
Tampak Lay yang sedang kesulitan membawa barang-barangnya. Ia sedang merapikan barang-barangnya yang berceceran di lantai.
"Sini, kubantu."
Terdengar suara lembut, kemudian sepasang tangan muncul dan membantu Lay merapikan barang-barangnya. Lay menengok, kemudian mendapati seorang Suho yang sedang tersenyum seraya membantunya.
Dan entah kenapa, wajah Lay mulai merona.
"Jangan masukkan barang-barangmu secara paksa. Masukkan ke dalam tasku saja."
Kemudian, terdengar suara di belakangnya. Lay menoleh, kemudian mendapat Tao yang sedang menatapnya dengan mata berkantungnya. Jongdae dan Kyungsoo menghampiri Lay, menunggunya menyelesaikan barang-barangnya.
"Nah, sudah selesai."
Setelah Suho memasukkan beberapa barang Lay ke dalam tas Tao yang–kebetulan–masih punya ruang, mereka pun kembali membawa barang masing-masing dan menyusul teman-teman yang lain.
"Terimakasih, Suho."ucap Lay, membuat Suho menoleh dan tersenyum ke arahnya.
"Gwaenchana."sahut Suho, kemudian disenyumi Lay.
Dan sekarang, Suho-lah yang merona ketika melihat dimple manis Lay.
-XOXO-
"Baiklah, kita mulai sejenak briefing hari ini. Kuharap kalian sudah berkemas dan makan secukupnya, karena di pesawat nanti kita hanya akan mendapat paket biskuit."
Terdengar seseorang berbicara di depan, dan Luhan kembali mencatat apa yang ia tulis. Well, sebagai seorang jurnalis, sudah kebiasaannya untuk menulis apapun informasi yang ia dapat.
"Pesawat akan tiba lima menit lagi. Bandara 1 km dari sini. Kita punya waktu 1 jam sampai take off pesawat. Jadi, mari, kita berangkat sekarang."
Mereka semua pun kembali membawa tas besar mereka, mempersiapkan hal-hal terakhir sebelum berangkat. Ada yang menginformasikan ke keluarga kalau mereka akan berangkat, mengecek kelengkapan barang-barang, mengatur handphone, dan sebagainya.
"Perasaanku tidak enak."
Terdengar Tao bergumam di sebelah Suho, membuat Suho menoleh. Tao menengok ke arahnya, dengan mata kosong yang jauh lebih kosong dari biasanya.
Kalau dia seperti ini, biasanya jiwa Tao sedang mengembara ke masa depan.
"Perasaanku tidak enak. Sangat tidak enak."gumam Tao, tetapi dengan nada lirih.
Suho terdiam. Feeling seorang anak indigo–apalagi indigo seperti Tao yang memang selalu melatih kepekaannya–tidak pernah berbohong. Tidak pernah salah, dan Suho tahu itu. Suho menggenggam tangan Tao dengan erat, berusaha menenangkan namja yang mulai gelisah itu.
"Kalau kau melihat sesuatu yang aneh dan ganjil, katakan padaku. Jangan katakan pada yang lain. Kita pikirkan masalahnya bersama, alright?"ucap Suho, diangguki Tao.
Tao mengamati sekeliling, melihat seluruh kru yang bersiap-siap. Ada sekitar 15 orang, dengan 3 pilot tambahan yang baru datang dari rumah mereka. Tao mengamati mereka semua, kemudian tercengang.
"Kuharap namja itu bukan pilotnya."
Tao menunjuk seorang namja tinggi, dengan lesung pipi di pipinya ketika ia tersenyum. Namja itu sedang mengobrol dengan dua orang yeoja yang menjadi kru tambahan mereka. Suho mengikuti arah pandang Tao, kemudian bingung.
"Kenapa?"tanya Suho.
"Karena aku melihat cahaya kuning di punggungnya. Dia akan meninggal besok, di dekat sebuah pohon besar dengan lubang-lubang burung hantu. Pada siang hari."
-XOXO-
Mereka mulai berangkat, dengan sebuah bus menuju bandara. Minseok menyalakan headphone-nya, kemudian mulai mendengarkan lagu dari situ. Baekhyun sibuk bercanda dengan Jongdae dan Kyungsoo–sepertinya mereka cepat dekat. Lay sedang membaca buku yang ia pinjam dari Baekhyun tentang kehidupan di Nepal sana. Kris, Sehun, dan Kai sedang sibuk dengan diri masing-masing. Chanyeol sedang merekam Luhan yang sedang berbicara menggunakan handycam, sebagai bukti dokumentasi mereka. Suho sedang membaca buku, dan Tao hanya melamun.
Suho menoleh ke arah Tao, kemudian kembali menggenggam tangannya dengan erat. Suho tersenyum, membuat Tao ikut tersenyum kecil.
"Selama kau bisa mengendalikan jiwamu, everything is gonna be alright."gumam Suho, diangguki Tao.
"Aku hanya berharap tak melihat cahaya-cahaya kuning di sana. Cahaya kuning di antara kita semua."sahut Tao, membuat genggaman Suho mengerat.
"Tak akan. Aku harap, tak akan."
-XOXO-
Mereka mulai check in, dan petugas mengecek paspor mereka. Luhan tampak sedang mencari-cari buku paspornya. Dia mulai panik.
"Chanyeol -ah, apa kau merasa melihat buku pasporku?"tanya Luhan, masih mengobrak-abrik tasnya.
"Apa tak ada?"tanya Chanyeol, ikutan panik.
"I don't find it anywhere."gumam Luhan, kemudian membuka kantung yang lain.
"Paspormu ada di antara selipan buku bacaan, kantung ketiga."
Luhan dan Chanyeol menengok, ketika Tao mengucapkan hal itu. Luhan mengikuti ucapan Tao, mencari-carinya di antara selipan-selipan bukunya. Ada sebuah buku kecil, memang terselip di situ.
"Paspor! Oh, terimakasih, Tao!"pekik Luhan, disenyumi Tao.
"Bagaimana kau tahu?"tanya Chanyeol, membuat Suho menatap Tao khawatir–berharap Tao tidak menjawab.
"Aku adalah anak indigo."jawab Tao, membuat Luhan dan Chanyeol terdiam.
"I-indigo? Ka-kau bisa mengetahui hal-hal gaib?"tanya Luhan, diangguki Tao dengan polosnya.
"Tenang saja. Tak banyak hal-hal gaib yang kulihat. Oh, kecuali seorang namja yang sedang menatapmu dari pojok atap, Luhan-ssi."ucap Tao, membuat Luhan spontan menengok ke atap.
Tak ada siapapun, membuat Luhan merinding seketika.
"Te-terimakasih sudah membantuku menemukan pasporku."ucap Luhan, diangguki Tao.
"Tak masalah."
Setelah mereka semua check in, mereka segera menuju pesawat. Kris dan Sehun sedang mengobrol, membiarkan Kai yang sedang bersenda gurau dengan Chanyeol, kawan barunya. Tatapan Kris tak sengaja bertemu dengan Tao, dan membuat Sehun menyadari sesuatu.
"Kau menyukainya, hyung."gumam Sehun, membuat Kris menengok dan melemparkan deathglare-nya.
"Hanya tertarik, belum sampai tahap itu."ucap Kris, dikekehi Sehun.
"Ayo, kita hampiri dia."
Sehun dan Kris berjalan ke arah Tao, kemudian berjalan di belakang Tao dan Suho. Menyadari aura sekitarnya menghangat, Tao segera menoleh. Ia mendapati Kris dan Sehun, sedang mengikutinya.
"Hai, Tao. Kau tidur cukup tadi malam?"tanya Kris, membuat Tao tersenyum.
"Tidak juga. Aku tidak mengantuk."ucap Tao.
"Hai, kita belum berkenalan. Aku Sehun. Oh Sehun."sapa Sehun, diangguki Tao.
"Aku Tao, ini hyung-ku, Suho."ucap Tao, membuat Suho ikut menoleh ke belakang.
"Salam kenal."ucap Sehun, diangguki mereka berdua.
Setelah percakapan itu, mereka kembali berjalan sambil diam. Tao menatap sekeliling, tampak tertarik dengan lingkungan bandara.
"Ada apa, Tao?"tanya Suho.
"Di sini sangat ramai."ucap Tao, membuat Sehun mengernyit.
"Kau salah. Bandara masih sepi kalau jam segini. Bagaimana bisa kau bilang ramai?"tanya Sehun–hanya dia seorang yang tidak mengerti kenapa Tao mengucapkan itu.
"Di sini sangat ramai."ucap Tao, kemudian kembali menatap sekeliling.
Kris menatap Tao, kemudian menatap Sehun. Sehun tampak kebingungan. Kris membisikkan sesuatu pada Sehun, membuat Sehun membelalak.
"Benarkah?"tanya Sehun, diangguki Kris.
"Jangan berbicara sembarangan. Kita tidak sendirian di dunia ini."ucap Kris, diangguki Sehun dengan patuh.
"Mianhae, hyung."ucap Sehun, dikekehi Kris.
Tanpa melihat kekehan Kris pun, Tao sudah tahu bahwa betapa tampannya kekehan manis tersebut.
-XOXO-
"Wuah, pesawat yang keren."
Terdengar ocehan Chanyeol. Chanyeol menaruh barang-barangnya, kemudian memasang sebelah earphone-nya. Ia menatap ke luar jendela, merasa takjub–dia memang seseorang yang suka takjub dengan hal-hal sepele.
"Maaf, aku duduk di sini. Boleh?"
Chanyeol menoleh, ketika melihat seorang namja imut dengan tas-tas besar di kedua tangannya. Chanyeol langsung berdiri, kemudian mengangguk spontan.
"Tentu saja!"sahut Chanyeol, dengan senyuman.
Baekhyun mengangguk, kemudian berusaha menaruh barang-barangnya di atas bangku mereka. Sayangnya, tubuhnya yang pendek tidak mudah menjangkaunya. Chanyeol melihat Baekhyun yang kesusahan, kemudian bangun berdiri dan meraih kedua tas itu.
Dalam diam, Chanyeol menaruh tas-tas Baekhyun di samping tasnya. Baekhyun menatap Chanyeol, kemudian sedikit merona. Dia masih ingat kejadian di dapur, ketika ia bisa merasakan Chanyeol–ah, sudahlah.
"Kukira aku akan duduk dengan kawanku, Luhan."gumam Chanyeol, kemudian kembali duduk di dekat jendela.
Baekhyun duduk di sebelahnya, kemudian menatap Chanyeol. Chanyeol sedang mengatur lagu pada MP3 player-nya, kemudian mendengarkan dengan khidmat. Meskipun hanya satu earphone, dia mendengarkan dengan penuh keasyikan.
"Kau suka Skillet?"
Chanyeol menoleh, ketika melihat Baekhyun yang sedang melihat ingin tahu ke MP3 player-nya. Chanyeol mengerjap, sejurus kemudian terkekeh malu karena kepergok.
"Ya, aku cukup suka dengan beat lagu mereka. Enak sekali."jawab Chanyeol, disenyumi Baekhyun.
"Aku suka lagu-lagu dari album Rise mereka. Sungguh keren, terutama Salvation."ucap Baekhyun, membuat Chanyeol terpukau.
"Kau tahu cukup banyak tentang Skillet rupanya."gumam Chanyeol, membuat Baekhyun terkekeh.
"Aku suka lagu genre alternate rock dan hip hop. Kebetulan, aku pernah menjadi vokalis dari sebuah band rock lokal."sahut Baekhyun, diangguki Chanyeol.
Baekhyun meraih sebuah buku dari tas kecilnya, kemudian membacanya. Chanyeol menatap ke luar jendela, kemudian terdiam. Sejurus kemudian, dia melakukan sesuatu yang membuat Baekhyun kaget dan merona.
Ia menaruh sebelah earphone-nya ke telinga kiri Baekhyun.
Baekhyun menoleh, kemudian Chanyeol hanya tidak menghiraukannya seraya mengangguk-anggukkan kepalanya sesuai irama. Baekhyun terdiam, kemudian tersipu malu. Senyum tipis mengembang, menandakan bahwa mood-nya semakin baik saja.
-XOXO-
Nepal, 7 April 2015, 15:09
Selamat datang di Bandar Udara Internasional Tribhuvan dan selamat datang di Nepal. Semoga anda sekalian dapat menikmati perjalanan kalian di Nepal.
"Woah, here is Nepal!"
Luhan mengoceh, kemudian mulai memotret keadaan di situ dengan handphone-nya. Tak lupa, ia mengambil photo selca sebelum pergi. Ia menarik koper besarnya, dengan tas punggung besarnya.
Luhan menatap sekeliling, kemudian tertarik dengan sebuah toko minuman. Dia pun segera menghampiri toko itu dan membeli minuman. Sialnya, toko itu ramai.
Sementara itu, rombongan yang lain terus berjalan ke arah parkiran, tempat di mana bus mereka menanti. Mereka akan diantar ke hotel tempat mereka bersiap terlebih dahulu.
"Hey, baru 14 orang!"terdengar pekikan seorang yeoja tinggi berwajah kebarat-baratan.
"Luhan! Luhan! Dimana Luhan?"
Terdengar suara Chanyeol yang melihat sekeliling. Dia menatap teman-temannya, dengan tatapan panik sekaligus beribu maaf.
"Kurasa Luhan masih di bandara."ucap Chanyeol.
"Beri aku 5 menit."
Terdengar suara pintu bus terbuka, dan Sehun segera keluar dan berjalan masuk kembali ke bandara. Dia menatap sekeliling, memastikan bahwa Luhan ada di sekitarnya.
Terpakulah ia ke sebuah toko minuman.
"Thank you."
Luhan memegang minumannya, kemudian menyesapi rasa taro tersebut. Dia menarik kopernya, kemudian berjalan kembali ketika Sehun sudah berdiri di hadapannya.
"Ka-kau kan..."gumam Luhan.
Sehun segera meraih koper Luhan dan menarik tangan Luhan yang tidak memegang minuman, menuju bus. Luhan masih bingung dengan kehadiran Sehun, dan barulah ia paham sesaat setelah ia sampai di bus.
"Kami kira kau tersesat, Lu. Ternyata kau hanya membeli bubble tea!"gerutu Chanyeol, membuat Luhan menunduk maaf.
"Maaf."gumam Luhan.
"Sudahlah. Kita bisa berangkat sekarang."ucapan Suho berhasil menengahi perdebatan mereka.
Bus itu pun melaju menuju hotel mereka. Luhan meminum minumannya dengan asyik, membuat Chanyeol juga mau. Luhan pun menyodorkan minumannya ke arah mulut Chanyeol, dan namja tinggi itu mulai menyesapinya.
Luhan tak menyadari, bahwa seorang Sehun sedang menatapnya tajam.
-XOXO-
"Inikah hotel kita?"
Kyungsoo bergumam, setelah mereka semua turun dari bus. Ia menatap ke segala inchi hotel itu, menatap detail-detailnya. Kyungsoo terpukau. Dia akan merasa nyaman di hotel ini.
Kyungsoo meraih tasnya, kemudian membawanya masuk. Seluruh rombongan itu disambut oleh ruangan lobby yang megah namun tak berlebihan.
"Welcome to Nepal. Now, all of you should follow me to your own bedrooms. Have fun in Nepal, everyone."
Seorang guide pun mengajak mereka ke kamar mereka, dan mereka menaiki elevator. Kyungsoo menatap setiap interiornya dengan takjub, tak pernah melihat hotel indah seperti ini sebelumnya.
"Kau belum pernah melihat hotel indah seperti ini, ya?"
Terdengar suara di sampingnya, membuat Kyungsoo menoleh. Tampak seorang namja berkulit tan khas yang tampan dan tinggi, tengah berdiri dengan tas di punggung dan tangan kanannya. Kyungsoo mengerjap bingung.
"Aku Kai. Kim Jongin."ucap namja itu, dengan joker smile yang menawan siapapun.
"A-aku Do Kyungsoo. Salam kenal."sahut Kyungsoo, kemudian membungkuk singkat.
"Kau manis sekali."
BLUSH!
Sesaat setelah Kai mengucapkan itu, Kyungsoo merona seketika. Ia segera menundukkan kepalanya, menatap lantai elevator dengan sangat malu. Terdengar kekehan Kai, mau tak mau membuat Kyungsoo mendongak.
"Tak apa. You are such an adorable boy."gumam Kai, kembali membuat Kyungsoo merona ria.
"Ma-maaf, kita bahkan belum saling kenal secara dekat."ucap Kyungsoo–dia cukup takut dengan namja di sampingnya.
"Its okay. Sebentar lagi juga kita akan saling dekat."ucap Kai, dengan nada berbisik–seduktifkah?
What!?; batin Kyungsoo, merasa kaget. Kyungsoo menelan saliva di mulutnya dengan berat, berusaha mencerna kata-kata Kai yang asal ceplos.
"Mu-mungkin saja."
Shit! Sekarang Kyungsoo bergetar, membuat Kai terkekeh gemas.
-XOXO-
Nepal, 7 April 2015, 17:28
Semua segera berkumpul di lobby depan dengan barang-barang seperlunya dalam waktu 1 jam. Kita akan segera menuju ke Pegunungan Himalaya.
Terdengar suara pengumuman, membuat satu hotel tersebut terinterupsi. Kris tampak sedang memasukkan barang-barangnya ke tasnya, sesuai dengan apa yang diinformasikan. Tampak Sehun menghampirinya, kemudian duduk di sampingnya.
"Aku melihatmu menaruh perhatian pada namja manis di bandara itu."gumam Kris, membuat Sehun menghela nafas berat.
"He is nothing. Dia hanya menarik, bukan apa-apa."sahut Sehun, dikekehi Kris.
"Kau tak pandai berakting di hadapanku rupanya."ucap Kris, membuat Sehun mengangguk.
"Memang."
Sehun meraih tas besarnya, kemudian memakaikannya ke punggungnya. Kris menutup resleting tasnya, kemudian menaruhnya di punggung.
"Kau siap?"tanya Kris, membuat Sehun menatapnya.
"Aku siap, apapun itu resikonya."
-XOXO-
Seluruh anggota misi sudah berkumpul di lobby depan, dengan tas-tas besar di punggung mereka. Beberapa barang lain ditinggal di kamar mereka, tetapi barang berharga tetap dibawa. Tampak Chanyeol dengan handycam-nya, sedang merekam Luhan yang sedang bersiap untuk liputan dokumenter.
"Saya Xi Luhan, melaporkan langsung dari Nepal. Hari ini, pada tanggal 7 April 2015, rombongan peneliti dari Badan Penelitian Arkeologi dan Gemologi Seoul akan segera menyusuri Pegunungan Himalaya untuk menemukan jenis-jenis batuan baru dan menelitinya. Menurut rencana, kelompok misi ini akan segera pulang dalam waktu 2 minggu. Ketua misi ini adalah Choi Siwon, Kepala Peneliti Badan Penelitian Arkeologi dan Gemologi Seoul. Saya Xi Luhan, langsung dari Nepal."
"Cut! Bagus, Luhan!"
Setelah selesai membacakan skrip, Luhan mengakhiri rekaman videonya. Chanyeol mengecek video tersebut, kemudian mengacungkan jempolnya. Luhan mengangguk, kemudian membawa tas punggungnya. Chanyeol mempersiapkan baterai handycam baru di kantung celananya–berjaga kalau handycam-nya low battery.
"Baiklah. Apa semua sudah bersedia?"
Seorang namja berlesung pipit dengan tubuh tinggi berbicara di depan rombongan itu. Mereka semua bersiap. Kepala Badan Penelitian tersebut–Choi Siwon–pun mengangguk, kemudian menangkup tangannya.
"Sebelum pergi, mari kita berdoa. Semoga Tuhan melimpahkan keselamatan dan berkah pada kita semua, dan semoga kita semua bisa pulang dengan selamat. Berdoa, mulai."
Setelah mengucapkan itu, suasana menjadi sunyi selama beberapa saat. Seluruhnya menunduk, berdoa semoga tak ada hal-hal aneh terjadi.
"Hyung."
Terdengar bisikan di sebelahnya. Suho menoleh, kemudian mendapati Tao yang semakin mengeratkan genggamannya.
"Kurasa, kita sebaiknya tidak pergi. Sebaiknya kita pulang ke Seoul."gumam Tao, membuat Suho heran.
"Kenapa?"tanya Suho, membuat Tao menatap ke sebuah arah–arah depan.
"Seperti dugaanku, saat namja itu akan meninggal semakin dekat!"
To Be Continue
Note :
Hayolohhh, baru mulai chapter 2 udah ada yang meninggal-meninggal hehe
Di sini mulai thrilling, jadi siap-siap kipas angin ya readers-deul!
Mind to REVIEW and FAVOURITE?
HUANG AND WU
