Previously (Chapter 2) :

"Hyung."

Terdengar bisikan di sebelahnya. Suho menoleh, kemudian mendapati Tao yang semakin mengeratkan genggamannya.

"Kurasa, kita sebaiknya tidak pergi. Sebaiknya kita pulang ke Seoul."gumam Tao, membuat Suho heran.

"Kenapa?"tanya Suho, membuat Tao menatap ke sebuah arah–arah depan.

"Seperti dugaanku, saat namja itu akan meninggal semakin dekat!"

.

-The Golden Chrysoberyl-

.

.

Chapter 3

Tim tersebut segera menaiki sebuah bus. Kai mengambil sebuah bangku, kemudian duduk dengan rasa nyaman dan excited yang hebat. Sehun tiba, kemudian mengambil bangku di sampingnya.

"Mana Kris hyung?"tanya Kai pada Sehun yang sedang menaruh tas besarnya di loker atas mereka.

"Di bangku belakang. Dia sedang mempelajari struktur Pegunungan Himalaya dari buku catatannya. Biarkan saja. Kita takkan bisa mengganggunya."jawab Sehun, diangguki Kai.

Sehun segera duduk, kemudian menghela nafas. Tampak wajahnya berbinar–menandakan bahwa rasa excited-nya juga tidak kalah hebat dengan apa yang Kai sedang rasakan sekarang.

"Aku ingin segera tiba ke tempat menakjubkan itu!"pekik Sehun, diangguki Kai.

"Kau benar. Kudengar tempat itu merupakan sebuah kuburan batu mulia hebat yang belum tersentuh orang banyak."ucap Kai, membuat Sehun semakin antusias.

"Huah, akan jadi sehebat apakah petualangan kita sekarang!? It will be fun, isn't it!?"pekik Sehun, membuat Kai terkekeh.

"Hahaha, kau bisa menyimpan kata-kata itu nanti, saat kita sudah melihat rupa dari tanah yang akan kita pijaki."ucap Kai, kemudian meraih sebuah brosur peta Nepal dari saku jaketnya.

"Paradise!"

-XOXO-

"Aku lapar."

Seorang Kim Jongdae mulai mengeluh, kemudian meraih sebuah tas slempang di sampingnya dan mengorek isinya. Ia mengeluarkan sebungkus nori, dan membuka bungkusnya. Kyungsoo yang sedang duduk di sebelahnya pun menoleh.

"Kau membawa nori?"tanya Kyungsoo, diangguki Jongdae.

"Aku hanya ingin mengisi perutku sejenak."ucap Jongdae, diangguki Kyungsoo.

"Aku mau."ucap Kyungsoo.

Jongdae menyodorkannya pada Kyungsoo, membuat namja manis itu segera mengambil selembar nori dan memakannya. Jongdae tak menjauhkan tangannya dari Kyungsoo–ia dengan berbaik hati mau berbagi nori dengan Kyungsoo yang notabene adalah kepala koki yang menyebalkan baginya sendiri.

"Menurutmu, bagaimana perjalanan kita nanti?"karena suasana sedikit sunyi, Kyungsoo mulai membuka suara.

"Aku tak tahu. Aku harap kita bisa menemukan sesuatu yang hebat di sana. Sesuatu.. seperti bahan makanan langka atau hewan aneh yang sebenarnya bisa dimasak sedemikian rupa sehingga kita bisa menyantapnya."jawab Jongdae, membuat Kyungsoo mulai berpikir.

"Bukankah kau cukup bertanya-tanya ketika tahu bahwa tempat itu adalah hutan?"tanya Kyungsoo, dideliki Jongdae.

"Aku hanya memastikan bahwa kita pergi ke tempat yang benar."jawab Jongdae, membuat Kyungsoo mengerti.

"Tenang saja. Kuharap semua berjalan lancar."gumam Kyungsoo, kemudian menggigit potongan nori terakhir di tangannya.

"Semoga saja."

-XOXO-

Seluruh peserta diharapkan untuk turun dari bus dan menuju bandara. Kita akan menuju Pegunungan Himalaya dengan helikopter.

Terdengar suara pengeras suara yang dibunyikan oleh Choi Siwon, kapten tim mereka. Semuanya segera meraih barang-barang mereka, kemudian mengikuti Siwon yang juga turun.

GREP

Suho merasakan tangan yang dingin di genggamannya. Ia menoleh, dan mendapati Tao yang tampak pucat walau sekuat tenaga sudah berusaha tegar dan kuat.

"Kau tak apa, Tao?"tanya Suho, membuat Tao menatapnya.

"Aku hanya takut."gumam Tao.

Suho mengusap tangan Tao pada genggamannya, kemudian memberinya senyum manis yang–setidaknya–mampu menenangkan hati penyuka panda itu.

"Selama kau bisa mengontrol emosi dan jiwamu, kau akan baik-baik saja."ucap Suho, diangguki Tao.

"Aku berusaha, tetapi bisikan-bisikan dan bayangan itu muncul, hyung. Dengan cepat secepat cahaya, dan tidak mau hilang juga dari kepalaku."ucap Tao, membuat Suho menghela nafas.

"Mau bagaimana lagi, Tao? Kau dikaruniai bakat itu. Tetap tenang, jangan sampai isi kepalamu itu memengaruhi emosi dan kejiwaanmu."ucap Suho, diangguki Tao dengan mantap.

"Aku akan berusaha, hyung."ucap Tao.

Suho semakin mengeratkan genggamannya pada Tao, memberinya kekuatan dan ketabahan dalam diri Tao. Tao adalah orang spesial di tim itu. Hanya dia dan beberapa orang serupa di dunia yang bisa melihat rencana langit yang mustahil dilihat manusia biasa.

Tapi, sebagai anak yang dianggap aneh, dia sendiri sering merasa menyesal telah mendapati bahwa bakat itu adalah jati dirinya, mengalir dalam darahnya.

Mustahil untuk tidak dihiraukan.

-XOXO-

Dua helikopter tampak lepas landas dari heliport bandara tersebut. Beberapa orang di dalamnya tampak bersiap, dengan tubuh berjaket tebal dan penutup telinga.

"Kita akan sampai dalam 30 menit."ucap sang co-pilot.

Minseok dan Baekhyun menatap helikopter itu dengan rasa takjub. Maklumlah, mereka baru pertama kali menaiki helikopter. Rasanya seperti menjadi tentara sungguhan yang akan bertugas.

"Sudah lama aku ingin menaiki helikopter."gumam Baekhyun, membuat Minseok terkekeh dan mengusak rambut kelamnya.

"Well, sekarang kau merasakannya."sahut Minseok.

Minseok mengambil sebuah brosur tentang Pegunungan Himalaya di kantungnya, kemudian membacanya dengan serius. Dia mencorat-coret kertas itu, membuat Baekhyun penasaran.

"Apa yang kau lakukan, hyung?"tanya Baekhyun.

"Hanya menandai daerah-daerah yang akan kita lalui."jawab Minseok tanpa menengok–masih fokus.

Baekhyun terus melihat Minseok, sesekali membantunya untuk mengingat daerah yang akan mereka lalui. Baekhyun melihat coretan itu. Beberapa daerah dilingkari, dan juga dihubungkan oleh garis yang–sepertinya–menandakan jalur aman untuk dilewati.

"Apa yang kalian lakukan?"

Terdengar suara dari samping Minseok. Minseok menengok, kemudian mendapati seorang Jongdae sedang menatapnya dengan penasaran.

Tanpa sadar, pipi Minseok terasa panas.

"Ah, Minseok hyung hanya sedang menandai daerah-daerah yang akan kita lintasi nanti di Pegunungan Himalaya. Dia memang maniak peta."jawab Baekhyun, dengan sedikit nada heran karena Minseok tidak menjawabnya.

"Ah, nde. Aku.. hanya takut lupa rute."jawab Minseok, membuat Jongdae sedikit terkekeh.

"Kau menggemaskan sekali."

BLUSH!

Oh, bisakah mereka melempar Minseok keluar helikopter saja? Dia bisa mati karena saking malunya dipuji–atau lebih tepatnya digoda–oleh seorang namja tampan yang tidak terlalu ia kenal.

-XOXO-

Pegunungan Himalaya, 7 April 2015, 21:34

Kedua helikopter itu mendarat di sebuah tanah lapang di kaki pegunungan itu. Dedaunan beterbangan akibat dihempas oleh kekuatan angin dari baling-baling helikopter. Seluruh anggota misi segera turun dari helikopter dan menjauh–sebelum barang-barang mereka terbang karena angin.

"Baik! Kita akan memulai survey kita dari sini! Bila ada yang hendak mempersiapkan segalanya, kami akan memberi waktu 30 menit!"suara pengeras suara terdengar keras.

"Baik!"

Seluruh peserta segera mempersiapkan barang mereka yang penting-penting. Seluruh mereka sibuk, siap untuk menyiapkan perjalanan mereka.

Kecuali yang satu ini.

Tao hanya menatap mereka semua dengan tatapan kosong. Tas besar di punggungnya tidak membuatnya pegal-pegal seperti teman-temannya yang lain. Di tangannya tampak sebuah kertas kusut. Penuh coretan, sepertinya.

"Don't you have to prepare yourself?"

Tao menoleh, ketika mendapati seorang namja paruh baya yang sedang menatapnya dengan penasaran–tampak seperti juru kunci pegunungan itu. Tao mengamati namja itu, tapi hanya diam saja.

"You have such a special ability. Don't use it unwisely."

Tao terdiam, ketika namja itu mengatakan hal itu. Namja itu memamerkan senyumnya, membuat Tao ikut tersenyum.

"My name is Tao."ucap Tao, membuat namja itu terkekeh.

"I know it."

"TAO!"

Tao menoleh kaget, ketika mendengar pekikan Suho dari sisi tubuhnya yang lain. Suho menatapnya dengan heran, sama herannya dengan Tao.

"Jangan melamun!"ucap Suho, membuat Tao semakin heran.

"Ta-tapi, a-aku sedang berbicara dengan juru kunci gunung ini."ucap Tao, membuat Suho terdiam.

.

.

"Kau tidak berbicara dengan siapapun, Tao."

Tao terdiam, kemudian menoleh ke sisi tubuhnya yang lain, dimana tadi ada namja tua itu. Tampak seorang namja tua, sedang menatapnya. Tao terkekeh, kemudian berpikir bahwa Suholah yang sedang melamun.

"Apa maksudmu, hyung? Tengoklah! Dia ada di sebelahku, tertawa bersamaku karena kau pura-pura tidak bisa melihatnya!"ucap Tao, dengan kekehan.

Suho menoleh ke sisi tubuh Tao, tetapi matanya bergetar ketakutan. Hell, Tao mengatakan bahwa ada namja paruh baya yang merupakan juru kunci pegunungan itu, tepat di sebelahnya.

Nyatanya, tidak ada siapapun di situ.

"Tao, kita harus menemui Siwon hyung."

-XOXO-

"Juru kunci?"

Kini, Tao dan Suho sedang duduk di hadapan seorang namja tinggi berlesung pipit yang menunggu rombongan lain. Ia membawa sebuah tongkat es.

"Ya. Apa gunung ini memiliki juru kunci?"tanya Suho, to the point.

"Ada."jawab Siwon, membuat Tao merasa menang.

"Tuh kan, hyung. Gunung ini memang punya juru kunci. Ahjussi tadi adalah juru kuncinya."ejek Tao, membuat Siwon menoleh cepat dan heran.

"Kau melihat juru kuncinya?"tanya Siwon, diangguki Tao dengan polosnya.

"Ya. Memangnya kenapa?"tanya Tao.

"Tao, gunung ini memang pernah memiliki juru kunci. Tetapi–"

.

.

"Juru kunci terakhir gunung ini sudah meninggal sejak longsor salju yang menewaskan beliau, 13 tahun lalu."

-XOXO-

30 menit berselang, mereka bersiap untuk jalan. Seluruh rombongan sudah membawa barang-barang mereka, tak terkecuali kedua namja yang sedang kerepotan ini.

"Ah, kau sih! Pakai acara membawa gitar segala!"

"Sudah hakku, Luhan hyung!"

Chanyeol dan Luhan berdebat karena Chanyeol yang malah membawa gitar yang notabene merepotkan mereka. Luhan mengeluh terus, dengan Chanyeol yang berusaha melawan pendapatnya.

"Lain kali jangan begitu, dong!"pekik Luhan, membuat Chanyeol menjulurkan lidahnya ke arahnya.

"Terserah."

Setelah gitar itu sudah tersiap, mereka pun segera mengangkut tas mereka dan berjalan mengikuti rombongan. Tak lupa, Chanyeol menyalakan handycam guna merekam sekitar mereka.

"Indah sekali, padahal baru kaki gunung."gumam Chanyeol, diangguki Luhan.

"Jarang pemandangan seperti ini di Seoul."ucap Luhan.

Chanyeol mengeluarkan sebuah kamera, kemudian memotret segala hal di sekitarnya sementara Luhan sibuk dengan handycam yang dititipkan Chanyeol padanya. Senyum terukir di wajah keduanya.

Luhan merekam segala hal, kemudian sedikit mengernyit.

Luhan memfokuskan handycam-nya, kemudian meningkatkan brightness dari handycam itu. Ia membelalak, kemudian menyingkirkan handycam itu dari depan wajahnya–untuk melihat langsung. Ia tidak melihat apapun! Luhan kembali memasang handycam itu, kemudian berusaha menahan agar tidak berteriak.

"Ada apa, Lu?"tanya Chanyeol, kemudian menghampiri Luhan yang terpekur diam di belakang.

"A-aku–"gumam Luhan, dengan wajah pucat.

Luhan membalikkan badan, kemudian menggenggam tangan Chanyeol dengan erat. Chanyeol heran, tapi kemudian tetap menarik Luhan agar tidak ketinggalan rombongan. Wajah pucat Luhan masih terpampang, ketika ia bertatap muka dengan Tao yang ada di sebelahnya.

"Kau belum pernah melihat hal seperti itu, ya?"tanya Tao, seakan bisa membaca pikiran Luhan.

"Kau.. sering?"tanya Luhan, diangguki Tao dengan enteng.

"Di tempat ini, memang banyak yang sering bunuh diri. Terutama orang yang bunuh diri dengan cara gantung diri seperti tadi."

-XOXO-

"Kemana kita akan menuju?"

Kris bertanya pada Siwon yang kebetulan berjalan di depannya. Siwon menoleh sedikit, kemudian kembali berjalan. Kris berusaha menyamakan langkahnya dengan Siwon yang tampaknya sudah terbiasa dengan medan bebatuan seperti itu.

"Kita akan mendaki untuk 3 jam pertama. Kita istirahat, kemudian melanjutkan lagi."jawab Siwon tanpa melihat Kris.

"Kau pasti sudah sangat berpengalaman, Siwon-ssi."puji Kris, dikekehi Siwon.

"Tidak juga. Aku memang suka petualangan. Tiada hari tanpa petualangan baru, dan aku menyukainya."gumam Siwon.

"Apa kau selalu mengalami hal-hal aneh dalam perjalananmu ini, hyung?"tanya Kris, membuat Siwon menoleh sedikit.

"Well, tak banyak memang. Tapi ada. Aku.. tak mau mengungkitnya."ucap Siwon, diangguki Kris dengan maklum.

"Kau pasti sangat menyukai alam, hyung. Apa motivasimu untuk ikut hal seperti ini?"tanya Kris, membuat Siwon menengok ke arahnya dengan cepat.

"Motivasi?"tanyanya, diangguki Kris.

"Kurasa hyung punya alasan kenapa sering mengikuti hal seperti ini, kan? Selain karena menyukai alam, tentunya."ucap Kris, membuat Siwon sedikit berpikir.

"Ada. Tapi, aku tidak mau membicarakannya."jawab Siwon, membuat Kris agak kecewa karena tidak sesuai keinginannya.

"Kau penuh rahasia, hyung."

-XOXO-

Kai sibuk dengan senternya, menyorot setiap sisi yang ada dengan cahaya. Tak jarang ia terkagum dengan bentuk bebatuan di sekitarnya yang–seakan–dibuat oleh tangan manusia. Semua tampak indah di matanya.

"Aku takkan pernah menyesal pergi ke gunung ini!"gumam Kai, membuat kawannya–Sehun–menoleh.

"Memang indah, bukan? Semua tampak tidak nyata bagiku."ucap Sehun, dikekehi Kai.

"Sehun-ah, apa kau yakin kita akan menemukan sesuatu di atas sana? Semua tampak sangat asing bagiku, tak jarang seperti sesuatu yang bukan berasal dari Bumi."ucap Kai, membuat Sehun tertawa renyah.

"Ini masih di Bumi, bung! Dan aku sangat percaya bahwa kita akan menemukan sesuatu. Pasti."

-XOXO-

Pegunungan Himalaya, 8 April 2015, 00:20

3 jam sudah terlewati. Kelompok pendaki itu masih berjalan, melihat sekeliling dengan senter. Ternyata, mendaki di saat malam itu lebih indah–dikarenakan kehadiran bintang-bintang dalam langit malam yang jernih.

Siwon berhenti berjalan, membuat teman-temannya ikut berhenti. Mereka semua menatap Siwon, menunggu perintah atau kata-kata Siwon.

"Baiklah. Ini sudah 3 jam pertama, jadi kita akan beristirahat di sini. Kita akan mendirikan tenda, mencari kayu bakar, dan merapikan barang-barang yang diperlukan saja. 4 jam lagi, kita akan mulai pendakian. Maka, jangan sia-siakan waktu istirahat ini."ucap Siwon, diangguki mereka semua.

Seluruh anggota rombongan menaruh tasnya ke tanah. Semua mulai disibukkan dengan persiapan untuk kemah. Kris memanggil Sehun dan Kai untuk membantunya membangun tenda kecil. Minseok dan Baekhyun mengeluarkan tas senjata mereka dan mengecek isinya. Chanyeol tengah sibuk merekam Luhan yang sedang broadcasting dengan kesibukan mereka sebagai background-nya. Kyungsoo, Lay, dan Jongdae mempersiapkan makanan untuk seluruh rombongan. Suho tengah merapikan barang-barangnya.

Tao berjalan ke dekat tebing, menatap langit malam yang cerah. Angin menghembus wajahnya, membuatnya memejamkan mata.

"Jangan."

"Jangan naik ke atas."

"Kalian akan terbunuh perlahan."

"Jangan!"

Tao membuka matanya. Bisikan itu. Bisikan-bisikan yang diucapkan oleh lebih dari satu suara, memenuhi pendengarannya. Tao menatap sekeliling, kemudian tatapannya difokuskan pada area tempat rombongan mereka berisitirahat.

SRING!

"KYAAAAAAAA! KYAAAAA!"

"Hahahahaha!"

"Mereka yang berasal dari Neraka, akan kembali lagi ke Neraka!"

"Matilah kau, jalang!"

SRING!

GROAH!

"KYAAAAAAA!"

SRING!

"HAH!?"pekik Tao dengan syok, membuat seluruh rombongan menengok ke arahnya.

Suho berhenti dari aktivitasnya, kemudian menghampiri Tao. Wajah Tao masih tampak syok, dengan bulir-bulir keringat membasahi wajahnya. Mata Tao tampak sangat kosong, dengan tubuh yang lemas.

"Tao, ada apa?"tanya Sehun, dengan Kris di sampingnya juga ingin tahu.

"Maaf, sepertinya Tao lelah. Dia memang jarang mengikuti kegiatan seperti ini. Aku akan menemaninya tidur."ucap Suho, kemudian membawa Tao pergi.

Sehun dan Kris saling berpandangan, kemudian sama-sama mendelik tidak tahu.

Suho dan Tao sedikit menjauh dari tim, kemudian menyendiri di atas sebuah batu besar. Suho mendudukkan Tao, kemudian menyodorkan sebotol air mineral pada Tao. Tao meminumnya dengan sangat haus, kemudian menyerahkannya kembali pada Suho.

"Ada apa? Kau melihat sesuatu?"tanya Suho, diangguki Tao dengan lemas.

"Hyung, feeling-ku benar-benar terjadi. Tempat ini punya sejarah kelam, di masa lalu."ucap Tao, membuat Suho mengernyit heran.

"Masa lalu apa?"tanya Suho, digelengi Tao dengan bingung.

"Aku sendiri tak tahu. Ta-tapi, aku melihat kilas balik masa lalu itu. Itu sangat menyeramkan, hyung. Penghuni tempat ini adalah mereka yang sadis dan tidak berperikemanusiaan."jelas Tao, membuat Suho terdiam.

Suho mengusap kedua pundak Tao yang gemetar. Tao memejamkan matanya, kemudian menutup kedua telinganya dengan tangannya. Air mata mengaliri pipi Tao, seiring dengan bisikan-bisikan yang memenuhi indera pendengarannya.

Suho tak bisa mencegah bisikan-bisikan itu. Yang bisa ia lakukan hanyalah menemani dan mencegah Tao agar tak melukai dirinya sendiri.

To Be Continue

Note :

Teror demi teror berdatang, readers-deul! Makin penasaran, hihihi!

REVIEW and FAVOURITE nya ditunggu!

HUANG AND WU