Previously (Chapter 3) :

"Aku sendiri tak tahu. Ta-tapi, aku melihat kilas balik masa lalu itu. Itu sangat menyeramkan, hyung. Penghuni tempat ini adalah mereka yang sadis dan tidak berperikemanusiaan."jelas Tao, membuat Suho terdiam.

Suho mengusap kedua pundak Tao yang gemetar. Tao memejamkan matanya, kemudian menutup kedua telinganya dengan tangannya. Air mata mengaliri pipi Tao, seiring dengan bisikan-bisikan yang memenuhi indera pendengarannya.

Suho tak bisa mencegah bisikan-bisikan itu. Yang bisa ia lakukan hanyalah menemani dan mencegah Tao agar tak melukai dirinya sendiri.

.

-The Golden Chrysoberyl-

.

.

Chapter 4

Pegunungan Himalaya, 8 April 2015, 04:17

TING TING TING

Terdengar suara nyaring besi yang dipukul oleh batang kayu. Tampak Siwon sedang berdiri, dengan sebuah tongkat pendaki yang dipukuli oleh batang kayu. Itu adalah tanda agar seluruh rombongan bangun.

"Kita bersiap mendaki lagi."ucap Siwon.

Semua anggota membereskan barang-barangnya. Dua orang yeoja menghampiri Siwon, dan Siwon menatap mereka dengan pandangan heran.

"Ada apa?"tanya Siwon, dibalas oleh wajah cemas kedua yeoja itu.

"Oppa, anggota yang semalam berteriak-teriak itu, kurasa ada yang salah dengannya."ucap salah seorang yeoja yang tinggi, diangguki Siwon.

"Aku juga merasakan hal yang sama, Sooyoung-ah, Sulli -ah. Namja itu aneh."ucap Siwon, diangguki keduanya.

"Mungkin oppa harus bicara dengannya. Dia tidak tidur dari semalam."ucap yeoja yang bernama Sulli tadi.

Siwon mengangguk. Siwon mulai menghampiri Suho dan Tao, yang kini sedang merapikan barang-barang mereka. Suho mendongak ketika menyadari kehadiran Siwon, lain halnya dengan Tao.

"Aku ingin bicara–"

"Aku memang hanya namja aneh yang menjadi hambatan bagi tim ini, bukan?"

Siwon dan Suho menatap Tao. Siwon bahkan belum mengucapkan tujuannya berbicara, tapi Tao sudah berdalih seperti tadi. Siwon menghela nafas, kemudian duduk di tanah dan menatap namja berkantung mata itu.

"Siapa sebenarnya kau?"tanya Siwon.

"Nobody special."jawab Tao, dengan nada yang pelan dan seperti berbisik.

Siwon menatap Suho, dan Suho hanya bisa menggeleng–kau takkan bisa memaksanya berbicara, begitulah arti tatapannya. Siwon mengangguk paham, kemudian berdiri lagi. Ia menatap Tao dengan sedikit tajam.

"Kalau kau melihat sesuatu, katakan saja."ucap Siwon, kemudian beranjak dari tempat itu.

Setelah Siwon pergi, barulah Tao mengangkat wajahnya. Suho menepuk pundak Tao, menatapnya dengan tatapan kenapa kau menunduk dari tadi?. Tao kembali menatap Siwon, kali ini dengan cemas.

"Aku tak mau melihat cara dia mati, hyung. Cahaya kuning di punggungnya semakin terang dan menyilaukan."

-XOXO-

Rombongan itu mulai berjalan. Kali ini, mereka berjalan dengan berpasangan. Siwon berjalan sendirian di depan, dengan senter di tangan kanan dan tongkat pendaki di tangan kiri. Sooyoung dan Sulli–yang ternyata adalah kedua adiknya–berjalan di belakangnya, dengan tas besar di punggung. Di belakang mereka, ada Kris dan Tao. Tao sedang tak ingin diganggu, dan Kris adalah tipe pendiam yang memang bukan orang konyol–keheningan di sekitar Tao pun terjamin. Lalu, ada Minseok dan Jongdae. Jongdae membantu membawa barang-barang Minseok, dan Minseok bersedia berjalan bersama Jongdae.

Setelah itu, ada Baekhyun dan Chanyeol. Well, mereka masih agak canggung pada awalnya, namun guyonan ringan Chanyeol mampu menghibur Baekhyun dan menambah semangatnya. Lalu, Kai dan Kyungsoo yang sedang mengobrol asyik mengenai hobi masing-masing, yaitu dance dan menyanyi. Setelah itu, ada Lay dan Suho. Lay tampak sangat ingin tahu tengah Tao, dan Suho menjawabnya sebisanya. Yang terakhir adalah Sehun dan Luhan. Mereka hanya saling diam, menikmati suara-suara alam di sekitarnya.

CES!

"Oh, shit."terdengar umpatan.

Semua menoleh ke arah suara, dan ternyata berasal dari Kris. Kris menatap senternya, kemudian berusaha menyalakannya lagi. Ia memukul-mukul senternya dengan tangannya.

CKLIK

Senter itu pun menyala, dan cahaya memancar ke langit. Kris menatap cahaya senternya, kemudian mengangguk pada Siwon bahwa dia siap kembali berjalan. Siwon tersenyum lega, kemudian melanjutkan perjalanan. Lain halnya dengan Tao. Ia tengah berusaha menahan keringat dingin yang mengaliri tubuhnya.

Saat Kris memukul-mukul senternya dan senternya kembali menyala, Tao melihat sesosok makhluk yang diam di balik pohon, dengan sayap tembus pandang seperti ngengat.

Tubuh makhluk itu bercahaya, dan matanya kelam sekelam malam.

-XOXO-

Suho menatap jam tangannya, yang menunjukkan pukul 7 pagi. Langit masih berawan, dan cahaya matahari samar-samar menembus celah awan. Dingin menusuk, namun itulah sensasi tersendiri dalam mendaki.

"Emm, Suho-ah."

Suho menoleh, ketika mendengar suara Lay. Lay tampak sedang berpikir–terbukti dengan tangannya yang sibuk mengetuk dagunya. Suho menatapnya dengan heran. Ada apa dengan Lay?.

"Apa saja yang Tao bisa lihat?"tanya Lay, membuat Suho terdiam.

Suho mulai berpikir. Dia mulai mengumpulkan segala informasi yang pernah Tao sampaikan padanya. Tentang makhluk yang menghuni rumah mereka, tentang kematian seseorang, tentang perjalanan lintas waktu, tentang semuanya.

"Dia bisa melihat yang gaib. Semenjak ia melihat ibu kami meninggal. Ia sendiri yang mengatakan, bahwa ia berpapasan dengan seseorang di lorong rumah sakit. Ia merasakan rasa sakit yang menekan kepalanya, tapi pada saat itu dia tidak tahu akan hal itu. Orang itu mengenakan jubah hitam, dengan tongkat sabit di tangan kanannya dan tangan kirinya membawa sebuah karung hitam yang besar dan tampak berat. Tao tak melihat wajah orang itu. Saat itu, ia masih 10 tahun."ucap Suho, membuat Lay mengerjap kaget.

"Di umur sekecil itu?"tanya Lay, diangguki Suho.

"Kemudian, orang itu memanggilnya. Tao menengok, dan orang itu menggoyangkan sabitnya–seperti melambai. Kemudian, orang itu terbang menembus atap rumah sakit."lanjut Suho.

"Apa Tao ketakutan?"tanya Lay, digelengi Suho.

"Dia sama sekali tidak takut, karena dia belum mengerti apa-apa. Salahku yang mengatakan padanya bahwa tadi itu Malaikat Maut, yang menjadi awal rasa takutnya yang kronis terhadap penampakannya. Semenjak kejadian itu pula, dia melihat hal-hal aneh. Dan hanya aku yang dia percaya untuk diceritakan."ucap Suho, diangguki Lay.

"Apa kau percaya pada Tao? Apa dia tak melihat hal aneh di hutan ini?"tanya Lay, disenyumi Suho dengan lembut.

"Aku tidak pernah melihat Tao berbohong. Aku sangat memercayainya. Dia sudah melihat banyak hal aneh semenjak keberangkatan kita, tapi aku menyuruhnya untuk tak menceritakannya pada siapapun selain aku agar yang lain tak terganggu."jelas Suho.

"Beri aku contoh."ucap Lay, digelengi Suho.

"Sekali komitmen tidak berbicara, maka aku takkan berbicara hingga saatnya tiba."

-XOXO-

Pegunungan Himalaya, 8 April 2015, 09:45

"Istirahat 30 menit untuk makan atau keperluan lain!"terdengar pekikan Sulli.

Semua rombongan duduk di atas tanah yang datar, menikmati suasana sejuk pegunungan. Kyungsoo dan Kai memutuskan untuk duduk di dekat pepohonan.

"Ahh, baru hari pertama saja sudah sangat melelahkan."gumam Kyungsoo, diangguki Kai.

"Setidaknya, kita mendapat pengalaman baru."ucap Kai.

Kai dan Kyungsoo membuka tas mereka, kemudian mengambil bekal sekadarnya. Mereka pun memakannya dengan lahap, ditemani oleh semilir angin.

"Pergi."

Kai mengernyit. Ia menoleh pada Kyungsoo yang sedang makan. Menyadari seseorang menatapnya, Kyungsoo pun menoleh.

"Ada apa?"tanya Kyungsoo.

"Apa kau baru saja berbicara padaku?"tanya Kai, diangguki Kyungsoo dengan polosnya.

"Aku baru saja menanyaimu 'ada apa?'. Memangnya kenapa?"tanya Kyungsoo balik.

Kai menggeleng, kemudian berusaha mengalihkan pandangannya. Dia menatap ke sekeliling, sesekali mengipasi telinganya–kalau-kalau ia salah dengar.

Tapi sebenarnya, dia tidak salah dengar.

"Jangan naik ke atas."

Oke, Kai mulai gelisah. Ia menatap sekeliling dengan waspada–tangannya mulai meraba saku celananya untuk meraih cutter yang sengaja ia sembunyikan untuk berjaga-jaga. Ia memerhatikan segala arah, dengan tangan satunya masih memegang sandwich yang bahkan belum ia gigit.

Hanya ada Kyungsoo di sebelahnya, dan namja itu sedang sibuk dengan bekalnya. Seluruh kawan-kawannya ada beberapa meter di depannya, menikmati perbekalan dan juga beristirahat.

Jadi, siapa yang tadi berbicara?

-XOXO-

"Oke semua! Kembali kemasi perbekalan! Kita lanjutkan perjalanan!"

Mereka semua mulai berkemas. Minseok dan Baekhyun tampak saling membantu untuk mengemasi bekal mereka, kemudian kembali membawa tas besar itu di punggung mereka. Well, cukup menakjubkan juga, mengingat tubuh mungil mereka tetapi mereka bisa membawa barang-barang itu sendirian.

"Hyung, apa tadi kau melihat senterku? Kurasa aku menaruhnya di sekitar sini."ucap Baekhyun pada Minseok.

"Entahlah. Aku hanya membawa satu senter di tasku."ucap Minseok.

Minseok dan Baekhyun melihat ke tanah, mencari-cari senter mereka. Baekhyun melihat ke arah yang sedikit jauh, kemudian melihat sebuah benda kecil mengilap, tak jauh dari mereka.

"Itu senterku. Sepertinya dia tergelinding."ucap Baekhyun.

Baekhyun menghampiri senternya, kemudian mengambilnya. Ia bersyukur senter berharganya masih ada. Ia mengusap senter itu, berusaha menghilangkan tanah yang menempel.

Baekhyun pun mendongakkan kepalanya.

DEG DEG

Baekhyun membeku. Ia menatap lurus ke depan. Ia bahkan tak menghiraukan panggilan Minseok.

Beberapa meter darinya, tampak siluet sesosok lelaki, dengan cambuk api di tangan kanannya. Beberapa pasang benda–mirip lengan tak bertangan, atau bisa dibilang seperti tentakel–menyembul dari punggungnya, dan bagian bawah tubuh lelaki itu ditutupi kain yang hanya dililitkan asal pada tubuhnya. Baekhyun tak dapat melihat wajahnya.

WUSH!

Angin menerjang wajah Baekhyun. Baekhyun mengedip beberapa kali, kemudian membuka matanya lagi.

Sosok itu sudah tidak ada.

-XOXO-

Perjalanan kembali berlanjut. Seakan tak kenal lelah, mereka terus mendaki, menapaki satu persatu bebatuan. Tao menatap sekeliling dengan kosong–semakin kosong pandangannya, maka semakin kuatlah kekuatan indigonya.

"Ceritalah, Baek. Aku merasa khawatir denganmu yang terus-menerus pucat."

Tao terdiam. Dia menajamkan pendengarannya. Ia mendengar percakapan dua orang manusia–Minseok dan Baekhyun.

"A-aku tak tahu. Aku tak yakin apa kau akan memercayaiku atau tidak."ucap Baekhyun, nadanya terdengar bergetar.

Tao terdiam. Dia menatap ke arah Kris yang ada di sebelahnya. Kris tampak fokus pada jalan, jadi tidak menyadari kalau Tao sedang menatapnya.

"Kris hyung."

Kris menoleh, ketika suara lemah Tao terdengar. Tao menatapnya dengan tatapan yang tajam dan serius, membuat Kris sedikit aneh. Semakin mendaki, Kris merasa kalau Tao semakin waspada dengan sekelilingnya.

"Kita mundur. Kita jalan di barisan belakang. Persiapkan pedangmu."ucap Tao.

Kris tidak tahu apa-apa, tapi ia hanya mengangguk. Mereka pun berhenti berjalan, dan mempersilahkan teman-teman yang lain jalan duluan. Suho menatap Tao, dan dibalas oleh Tao dengan tatapan serius. Suho menyadari arti tatapan itu, lantas mengangguk.

Kris dan Tao berjalan di barisan belakang. Sesuai permintaan Tao, Kris mengeluarkan pedangnya dan menggenggamnya. Sesuai dugaan, Baekhyun dan Minseok berjalan di barisan paling belakang–tadi Tao melihat mereka di bukit bawah, dengan Baekhyun yang sedang mengambil senternya.

"A-aku melihat sesuatu."ucap Baekhyun.

"Kenapa kau tak mau cerita?"tanya Minseok dengan penuh perhatian, tetapi Baekhyun semakin ragu.

"Semakin kau ragu, kebenaran akan sulit terungkap."

Baekhyun dan Minseok menoleh, ketika Tao membuka suara. Mereka tak menyadari kehadiran Kris dan Tao sedari tadi. Tao menatap mata Baekhyun, semakin dalam dan dalam.

SRING!

GROAH!

SLASH!

SREK SREK SREK

SRING!

"Aku tahu apa yang baru saja kau lihat."

Baekhyun terdiam, kemudian menatap Tao dengan tidak percaya. Tao menatap Baekhyun tepat pada matanya, menimbulkan efek hipnotis ringan pada mata itu.

"Ba-bagaimana kau tahu?"tanya Kris, yang juga ikut heran.

"Sederhana. Mereka ada di sini."ucap Tao, dengan nada yang pelan.

"Mereka? Maksudmu, ada orang lain selain kita di sini?"tanya Minseok, digelengi Tao.

"Bukan orang, bahkan bukan manusia."

.

.

"Tapi penghuni asli hutan ini. Ia terusik."

-XOXO-

Siwon berjalan bersama Sooyoung. Sulli tengah mengobrol bersama Lay dan Suho di belakang. Siwon menatap adiknya dengan tidak menentu, membuat Sooyoung menoleh.

"Ada apa, oppa?"tanya Sooyoung.

"Perasaanku tidak enak."ucap Siwon, dikekehi Sooyoung.

"Hanya perasaan, bukan berarti kenyataannya tidak enak."ucap Sooyoung, digelengi Siwon.

"Aniyo."

Sooyoung terdiam, kemudian menatap wajah Siwon yang tampak keheranan. Siwon sendiri heran dengan dirinya sendiri. Kenapa ia tiba-tiba jadi merasa khawatir dan cemas seperti itu? Tadi dia baik-baik saja.

"Perasaanku tidak enak semenjak kita istirahat 4 jam waktu itu, saat insiden Tao berteriak. Aku merasa tidak enak."ucap Siwon, membuat Sooyoung ikut khawatir.

"Oppa, jika oppa ingin istirahat sejenak, istirahatlah. Mungkin ini efek dari tekanan udara pegunungan."ucap Sooyoung, diangguki Siwon.

Siwon memerintahkan seluruh rombongan untuk berhenti. Ia pun segera duduk di atas bebatuan, bersama Sooyoung. Semua anggota heran, tetapi hanya menurut.

"Ada apa dengannya?"tanya Jongdae, dideliki Lay.

Tao menatap Siwon dengan tajam. Cahaya kuning itu. Cahaya kuning di belakang punggung Siwon. Cahaya itu mulai berpendar.

Dan sudah terlambat bagi Tao untuk memejamkan mata.

SRING!

"Argh!"

SREK SREK SREK

"Argh! Seseorang, tolong aku!"

"Kau tak berhak hidup di dunia, dasar manusia sok suci yang mendustakan manusia lain tanpa memikirkan perasaannya."

"TIDAAAKK!"

SRING!

"Hah!?"pekik Tao, terdengar tertahan.

Kris menoleh karena mendengar pekikan Tao. Tao tampak sangat syok. Suara-suara itu terngiang-ngiang dalam pikirannya, menjadi semacam alarm terhadap namja berlesung pipit yang kini sedang berusaha menenangkan diri.

"Kematiannya takkan pernah bisa dicegah, meskipun oleh orang sepertimu."

Tao terdiam. Terdengar bisikan. Pelan dan berat. Tao melihat ke belakang, tetapi tak menemukan seseorang pun. Tao terdiam. Tanpa Tao sadari, Kris terus memperhatikan namja itu.

"Apa yang kau mau dari kami?"bisik Tao, tetapi suaranya masih terdengar oleh Kris.

Kris mulai heran. Tao berbicara pada siapa?.

"Kami tak ingin apapun. Hanya kesenangan semata, dan juga tuntutan hidup. Mendaki, atau mati."

Tao memejamkan mata erat. Suara-suara itu semakin terdengar ramai, membuat Tao yakin bahwa mereka ada di sekitarnya sekarang. Mereka mungkin sedang berusaha menyampaikan pesan ke Tao.

"Mendaki, atau mati. Semakin kau mendaki, hidupmu akan semakin beresiko. Semakin kau turun, kau dipastikan akan mati. Resiko, atau langsung mati?"

Tao terdiam. Dia menghela nafas kuat-kuat, kemudian menggeleng lemas. Ia meraih sebotol air mineral dari tasnya, dan meminumnya dengan cepat.

Kris menatap Tao dengan intens. Namja berkantung mata ini bahkan tidak repot-repot menyadari tatapan Kris. Kris sedikit berpikir. Apa yang ada di pikiran Tao?.

-XOXO-

Siwon kembali memulai perjalanan. Ia berjalan sendirian di depan rombongan. Anggota yang lain tak dapat merasakan gejolak hati Siwon yang terjadi secara tiba-tiba. Aneh, itu yang ia pikirkan.

Jauh di barisan belakang, Tao terus menatap dengan tajam ke arah Siwon. Semakin mereka mendaki, cahaya kuning itu semakin terang. Tao tak bisa menghindari dari penglihatan-nya sekarang. Penglihatan cara kematian Siwon semakin terlihat jelas.

"Semua, aku ingin permisi ke belakang. Harus memenuhi panggilan alam. Yang ingin istirahat, diberi waktu 5 menit!"

Tiba-tiba, Siwon berteriak. Tao terdiam dalam keseriusan. Tidak. Siwon sama sekali tidak ingin kencing.

Dia hanya ingin menenangkan dirinya yang tidak tenang.

Dan itu bukan pertanda bagus.

"Suho hyung."

Suho menoleh, ketika Tao memanggilnya. Tao menatapnya dengan serius, menimbulkan ketakutan tersendiri dalam diri Suho. Suho berusaha menguatkan hatinya, kemudian ia tersenyum kecil ke arah Tao.

"Ada apa, Tao?"tanya Suho.

"Sudah saatnya."

"Eh?"

To Be Continued

Yehettt~ Yehettt~ gimana gimana?

Gak mau spoiler, tunggu aja chapter selanjutnya besok!

HUANG AND WU