"Suho hyung."

Suho menoleh, ketika Tao memanggilnya. Tao menatapnya dengan serius, menimbulkan ketakutan tersendiri dalam diri Suho. Suho berusaha menguatkan hatinya, kemudian ia tersenyum kecil ke arah Tao.

"Ada apa, Tao?"tanya Suho.

"Sudah saatnya."

"Eh?"

.

-The Golden Chrysoberyl-

.

.

Chapter 5

Pegunungan Himalaya, 8 April 2015, 11:32

"Saatnya untuk apa, Tao?"tanya Suho, heran.

Tao mengerjap berkali-kali. Kepalanya serasa pening. Tetapi, Tao lumrah akan hal itu.

Ya, jika ada seseorang yang berdiri di dekatnya akan segera meninggal dalam hitungan menit, maka Tao akan merasakan kehadiran Malaikat Maut dengan getaran-getaran dalam tubuhnya.

SREK SREK

Tao terdiam. Sekitarnya berubah menjadi slow motion. Tao menatap sekeliling, dengan pancaran kaget dan juga takut.

SREK SREK

Suara sesuatu diseret. Tao melihat ke segala arah, tetapi belum menemukan sumber suara. Ia memejamkan matanya, menajamkan indera keenamnya. Tao tahu akan terjadi hal ini, dan dia sudah meramalkannya jauh semenjak ia menyadari cahaya kuning di punggung Siwon.

SREK SREK

Tao menoleh, kemudian terdiam. Nafasnya tercekat, tubuhnya gemetar hebat. Tao mulai lemas. Hal ini.. seharusnya tak terjadi lagi. Tao tidak pernah kuat menghadapi hal ini.

Sesosok manusia berjubah hitam, berjalan dengan sebuah karung yang kosong. Tongkat sabit di tangan kanannya pun ia seret-seret. Darah di sabit itu telah mengering.

Sosok itu menoleh ke arah Tao, kemudian berhenti berjalan. Tao menatapnya dengan memaksakan keberanian dalam dirinya. Sosok itu mendekati Tao, kemudian berhenti beberapa langkah di hadapannya.

"Aku ingin mengambil dia. Kalian tak butuh dengannya lagi."

Suara itu terdengar bergema. Tao terdiam, tak bisa berbicara apa-apa. Sosok itu melanjutkan jalannya, dengan karung masih ia seret-seret. Tao mencengkram kepalanya, merasakan denyutan di kepalanya yang semakin keras. Ia memejamkan mata, dengan air mata semakin membasahi wajahnya.

SRING!

"Argh!"

SREK SREK SREK

"Argh! Seseorang, tolong aku!"

"Kau tak berhak hidup di dunia, dasar manusia sok suci yang mendustakan manusia lain tanpa memikirkan perasaannya."

"TIDAAAKK!"

SRING!

Tao membuka matanya. Tidak. Suara itu bukanlah khayalan indera keenamnya. Itu suara nyata, dan bukan hanya Tao yang mendengar. Tetapi, suara yang didengar Tao tadi murni adalah suara gaib yang berasal dari alam lain.

Choi Siwon telah diambil.

"Siwon hyung!"terdengar pekikan Lay dan Jongdae.

Tao menatap ke arah hutan. Beberapa terdiam di tempatnya berdiri, beberapa lagi sedikit berlari ke arah hutan tempat Siwon tadi izin untuk buang air. Tao menatap tubuhnya.

Ia masih berdiri, dengan Suho dan Kris yang membopohnya.

"Su-Suho hyung."panggil Tao, dengan nada lemas.

Kris membantu Tao dan mendudukkannya di atas sebuah batu. Ia meluruskan kaki Tao, kemudian menyodorkan air mineral ke arah Tao.

"TIDAAAKKK! TIDAK!"terdengar pekikan melengking Sooyoung dan Sulli.

Tao memejamkan mata, kemudian mencengkram kepalanya. Ia menangis sejadi-jadinya. Tubuh itu lemas, dan hampir saja berbaring ke tanah kalau Kris tidak menangkapnya. Kris membiarkan Tao menangis di atas dadanya.

"Su-Suho hyung, hiks. I-ini menyeramkan, hyung. A-aku takut."ucap Tao, dengan nada bergetar.

Suho hanya bisa speechless. Ini pertama kalinya ia melihat Tao selemas ini. Suho menatap ke arah hutan, dimana kawan-kawan berkumpul. Mereka berkumpul di tepi sebuah jurang kecil.

"Tarik! Tarik!"terdengar pekikan Chanyeol.

Suho membekap mulutnya, dan Kris memalingkan wajahnya. Apa yang kawan-kawan mereka tarik dari dasar jurang kecil tadi adalah tubuh seseorang. Tubuh seorang namja, dengan luka-luka menganga akibat goresan ranting tajam saat jatuh ke jurang. Chanyeol, Jongdae, dan Kai membantu membopoh namja itu, dan membawanya ke dekat Tao, Kris, dan Suho. Mereka menidurkan namja itu.

"Apa yang terjadi padanya?"tanya Kris, dengan pancaran pilu sekaligus kaget.

"Siwon hyung terpeleset di pinggir jurang, kemudian tubuhnya membentur banyak ranting tajam. Beberapa ranting bahkan menusuknya, hingga menembus tubuhnya. Ia tewas seketika."ucap Luhan, dengan nada yang lirih.

"TIDAKK! INI TIDAK SEHARUSNYA TERJADII!"pekikan Sulli–bungsu Choi bersaudara–terdengar.

Sooyoung dan Lay berusaha menenangkan Sulli, yang terus menangis. Tao menatap tubuh kaku itu. Ia bangkit perlahan, kemudian meraih tangan Siwon. Ia mengusap tangannya, kemudian menekannya perlahan. Ia pun memejamkan mata.

SRING!

"Yeah!"

"Oh, sayang, kau sangat cantik!"

"Yoona? Lupakan dia. Kau lebih cantik dari dia."

"Ughhh, aaahhh."

SRING!

Tao terdiam. Dia menatap tubuh kaku itu. Tubuh yang bersimbah darah, dengan pakaian compang-camping. Sejurus kemudian, ia menatap ke sekitarnya. Kelakuannya membuat semua anggota heran sekaligus ngeri.

Tao tak melihat siapapun. Ia kembali menatap tubuh kaku Siwon. Tao menatap Sooyoung dan Sulli yang tepat berada di hadapannya.

"Aku ingin bicara dengan kalian."

-XOXO-

"Siwon oppa adalah oppa yang baik. Ia senang bergaul dengan orang-orang, dan kawannya juga banyak. Ia memiliki seorang yeojachingu bernama Im Yoona, dan mereka sudah berpacaran lebih dari 3 tahun. Yoona eonnie sangat menyayangi Siwon oppa. Tetapi kemudian, Siwon oppa putus dengan Yoona eonnie. Kami tak tahu alasannya. Dia tak pernah mengungkitnya lagi. Semenjak itu, ia jadi sering pergi travelling atau mendaki gunung."

Penjelasan Sooyoung membuat Tao kembali memutar otaknya. Ia menatap jasad Siwon yang sudah ditutupi kain-kain. Jadi itulah sebabnya ia dianggap pengkhianat; batin Tao.

"Memangnya ada apa?"tanya Sulli, membuat Tao tersadar.

"Tidak ada. Hanya ingin tahu apa Siwon hyung punya riwayat penyakit atau bukan."

Tao kembali berdiri, kemudian berjalan ke arah kawan-kawan yang lain. Sooyoung dan Sulli saling bertatapan, dengan raut wajah pilu yang masih kentara.

Tao duduk di sebelah kepala Siwon, kemudian membuka kain penutupnya. Ia mengusap kedua tangannya, kemudian menaruh kedua telapak tangannya di atas kening Siwon. Ia memejamkan matanya.

SRING!

"Yoona, aku cinta padamu. Jadilah kekasihku."

"Hai, sayang. Apa kabarmu, Yoongi? Aku merindukanmu."

"Hei, siapa namamu? Aku tak pernah melihatmu di sini."

"Tidak, aku tidak mencintainya. Aku hanya ingin denganmu."

"Tidak, Yoongi. Ini hanyalah kesalahpahaman."

"Maaf, aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Tak ada ujungnya sama sekali, dan aku jenuh. Kita akhiri saja."

SRING!

Tao terdiam. Ia menghela nafas berat. Masa lalu Siwon sangatlah kelam. Tao menatap tubuh Siwon dengan pandangan iba. Kenapa kau berlaku begitu pada yeoja, hyung?; batinnya.

Tao menutup kembali kain itu. Ia menatap Kris yang sedang memegang tangan Siwon seraya mendoakannya.

"Sebaiknya kita kuburkan dia dan kita lanjutkan perjalanan."

-XOXO-

Pegunungan Himalaya, 8 April 2015, 17:03

Tubuh Siwon telah dikuburkan, dan tongkat mendakinya pun ditancapkan di atas pemakamannya–sebagai penghormatan. Semuanya mendoakan Siwon, tak lupa dengan Tao.

Setelah mendoakan Siwon, mereka bersiap untuk pergi lagi ketika Sooyoung menginterupsi mereka.

"Andwae! Aku takkan melanjutkan perjalanan tanpa Siwon oppa! Aku akan turun gunung dan pulang menemui keluargaku!"pekik Sooyoung, membuat semuanya tercekat.

"Tapi Sooyoung, ini sudah setengah jalan. Kita akan sampai di pos istirahat berikutnya, dan hari mulai gelap. Kita takkan bisa berhenti di sini."ucap Suho dengan penuh pengertian.

"Kalian tidak mengerti! Perjalanan ini aku dedikasikan untuk Siwon oppa! Jika dia sudah tidak ada, maka perjalanan ini otomatis berakhir!"sergah Sooyoung.

"Tapi kau tak bisa pulang begitu saja!"kini suara Jongdae yang naik pitam terdengar.

"Masa bodoh! Aku akan pulang!"ucap Sooyoung.

"Kau tak bisa kemana-mana."

Semua terdiam, ketika suara Tao terdengar. Tao berjalan menghampiri Sooyoung, kemudian berdiri di hadapannya. Sooyoung menatap Tao dengan sejuta pertanyaan, dan Tao hanya diam dalam kebisuan.

"Kalau kau pulang, kau akan segera mati. Kalau kau mendaki, mungkin kau akan selamat bersama kami."ucap Tao, to the point.

"Ma-mati!?"pekik Sooyoung.

Tao menatap Sooyoung dalam diam, berusaha mempelajari yeoja itu. Sooyoung mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Ia merasa frustasi.

"Aku takkan mati! Kau bukan Tuhan, dan kau hanyalah manusia aneh yang sok tahu dan hanya bisa menangis meratapi nasib!"pekik Sooyoung.

"Sooyoung noona!"terdengar pekikan Kris yang tajam–Sooyoung sudah sangat lancang.

Sooyoung menajamkan matanya pada Tao. Tao tidak bergeming. Ia membiarkan Sooyoung merasakan frustasi sendiri. Sooyoung mondar-mandir kesana-kemari dengan gelisah, berpikir untuk turun gunung atau tidak.

"Hanya itu yang akan kuucapkan. Terserah padamu ingin turun atau tidak. Itu hakmu."ucap Tao, kemudian berjalan menjauhi Sooyoung.

Seluruh kawan-kawan di situ menatap Tao, yang kini sedang menatap makam Siwon. Sulli menghampiri Sooyoung yang menangis histeris, kemudian menghiburnya walau ia juga merasakan pilu yang dalam.

"Apa kau memang sudah meramalkan hal ini?"

Tao menoleh, dan mendapati Kris yang tengah menatapnya. Ia berbisik tadi. Tao tersenyum kecil, kemudian menatap Kris dengan pandangan yang sedikit fokus.

"Nde. Aku sudah tahu sejak jauh-jauh hari."ucap Tao.

"Lalu kenapa kau tak mencegah, atau setidaknya menunda kematian Siwon hyung?"tanya Kris, dengan nada yang masih berbisik.

"Satu hal yang harus kau tahu."

.

.

"Kematian itu tak bisa ditunda, apalagi dicegah."

-XOXO-

Setelah sedikit perdebatan, akhirnya Sooyoung memutuskan untuk melanjutkan pendakian. Suho dan Kris memutuskan untuk membantu membawa barang-barang Sooyoung, dan Sooyoung akan didampingi oleh Lay dan Sulli.

Kali ini, Kris dan Tao yang memimpin perjalanan. Kris menatap peta di hadapannya, kemudian mengikuti arah gerak peta itu, beserta kompas yang ada di sebelahnya.

"Kita akan mengitari sisi timur."gumam Kris seraya mencorat-coret peta itu.

Tao menatap sekeliling. Dalam penglihatannya, ia menemui banyak makhluk-makhluk bayangan di balik pepohonan. Makhluk-makhluk itu mengawasi mereka. Tao diam. Dia tak mau mengganggu timnya dengan laporan atas apa yang ia lihat.

"Menurut perkiraanmu, kapan kita akan sampai di puncak?"tiba-tiba, Tao bertanya pada Kris.

Kris menoleh pada Tao, kemudian kembali menatap petanya. Ia menggoreskan banyak angka di pinggiran peta itu, dengan banyak perhitungan dan pengukuran sesuai dengan skala.

"Mungkin 10 hari lagi. Selama tidak terjadi badai salju di lereng atas, kita mungkin bisa sampai lebih cepat lagi."ucap Kris, diangguki Tao.

Tao menatap jalanan di depannya. Ia melihat banyak sekali tubuh tergantung di atas pohon. Tubuh mereka ditusuki banyak pagar berduri. Tao mendongakkan kepala, seiring langkah mereka yang mendekati tubuh-tubuh bergelantungan itu.

Kris menangkap keanehan Tao, lantas ikut mendongak. Tak ada apa-apa, hanya ada beberapa tali putus yang mungkin dipasang suku di sana untuk bermain-main. Kris kembali menatap Tao, kemudian kembali mendongak.

"Ada apa di atas sana?"tanya Kris.

"Sstt."ucap Tao, tanpa menoleh ke arah Kris.

Kris diam. Tao terus melangkah, dengan mata terus menatapi dahan-dahan pohon kosong di atasnya. Kris gelisah. Rasa penasarannya memuncak.

"Kau masih menanyakan hal tadi?"

Tiba-tiba, Tao bertanya. Kris menoleh, kemudian mendapati Tao yang sedang menatapnya dengan kosong. Kris sedikit salah tingkah–tak dapat memungkiri kalau ia sangat penasaran. Tao terkekeh kecil, kemudian menatap jalanan di depannya.

"Tak sopan jika kita berbicara di bawah mayat-mayat tadi."

Kris terdiam, kemudian menoleh dengan cepat. Tao menatapnya dengan sangat dalam, membuat Kris merasa tenggelam dalam manik jelaga itu. Tao juga–entah kenapa–merasa tenggelam dalam manik onyx Kris yang sangat tajam.

"Ma-mayat?"tanya Kris, diangguki Tao dengan sedikit gugup–pipinya tampak sedikit merona.

"Ya. Tempat tadi adalah bekas eksekusi, atau paling tidak tempat bunuh diri secara gantung oleh warga-warga di pedalaman sini. Ya, itu adalah cara bunuh diri paling umum di sini."ucap Tao, diangguki Kris yang mulai paham.

"Apa kau mempelajari semua ini sebelumnya atau kau memang tidak sengaja mendapat pengetahuan itu dari apa yang kau lihat?"tanya Kris, membuat Tao terkekeh renyah.

Dan kekehan itu berhasil menggetarkan hati Kris.

"Aku melihatnya sendiri. Aku tak mempelajari sesuatu kalau tak tertarik. Aku tak pernah tertarik dengan dunia gaib. Mereka sendiri yang memilihku agar bisa mengerti mereka."ucap Tao.

"Kau begitu berbesar hati, Tao."

-XOXO-

"Kita akan segera sampai ke pos peristirahatan dalam 10 menit!"terdengar pekikan Kris.

Mereka semua terus mendaki, sesekali saling membantu ketika harus menaiki bebatuan. Kris menatap ke puncak bukit. Ah, itu dia tanah lapangnya.

"Ayo, semua! Semangat!"ucap Kris.

Mereka terus berjalan. Kris sesekali menengok ke belakang, memastikan seluruh rombongan ada. Sooyoung tampak sudah lebih baik sekarang, dan Lay sudah tak diperlukan lagi untuk mendampingi Sooyoung.

Kris dan Tao sampai lebih dahulu di puncak bukit. Mereka menaruh tas mereka, kemudian membantu kawan-kawannya untuk naik. Kris menarik Sooyoung, dan Tao menarik Sulli. Lalu, mereka saling membantu untuk menarik yang lain ke atas. Akhirnya, seluruh rombongan telah naik.

"Baiklah, kita beristirahat di sini! Kita akan istirahat selama 4 jam–"

"Tunggu dulu."

Ucapan Kris belum selesai, ketika Tao menginterupsinya. Tao menatap sekelilingnya, kemudian berjalan perlahan ke dekat pepohonan. Seluruh rombongan melihat Tao, fokus padanya. Kris terdiam. Kris melihat tangan Tao yang sudah memegangi sebuah pisau belati.

Ada yang tidak beres; batin Kris.

Kris memanggil kawan-kawannya untuk merapat. Dia mempersiapkan pedang dari balik jaketnya, kemudian berjalan menghampiri Tao. Tao menengok sedikit, kemudian kembali menatap ke hutan di hadapannya.

Seluruh kawan-kawannya juga waspada. Jongdae dan Chanyeol sudah mempersiapkan pisau yang mereka bawa. Kai mengeluarkan sebuah pistol dari tasnya, kemudian memegangnya. Sooyoung sudah mengeluarkan sebuah cambuk. Minseok dan Baekhyun sudah siaga dengan beladiri mereka.

"Ada apa, Tao?"bisik Kris, tetapi Tao tidak menjawab.

Tao memasuki hutan perlahan. Dalam inderanya, dia mendengar sesuatu berbicara. Ia mengikuti suara-suara samar itu.

"Jangan di luar sana."

Tao terdiam. Suara itu sangat keras dari sisi kirinya. Tao menoleh ke kiri, namun tak mendapati siapapun–baik itu manusia maupun makhluk gaib. Tao menajamkan pendengarannya.

"Jangan di tanah sana. Mereka akan memangsa kalian."

"Siapa di sana?"gumam Tao, seraya melihat ke depannya.

Tao yakin sekali, bahwa ia mendengar seseorang berbicara tepat di depannya. Tetapi, ia benar-benar tak melihat siapapun.

"Di depanmu. Tepat di depanmu."

Tao menatap ke depannya. Hanya sebuah batang pohon tua yang sudah lapuk. Tao menyentuh pohon itu, kemudian melihat ke balik pohonnya–bisa saja makhluk yang mengajaknya berbicara itu bersembunyi di belakang pohon.

"Aku tak bisa menemukanmu."gumam Tao, melihat ke segala arah.

"Tidak. Kau sudah menemukanku. Tepat di depanmu."

Tao terdiam. Ia fokus pada batang pohon di hadapannya. Ia melihat ke atas, namun tak menemukan siapapun. Tao terdiam. Dia baru mengerti sekarang.

Pohon inilah yang telah mengajaknya berbicara.

"Kau berbicara padaku, wahai pohon."ucap Tao, kemudian mendekat ke arah pohon itu.

"Pergi dari tanah lapang itu. Mereka akan menemukanmu dan memangsamu. Mereka akan membawa kalian ke Neraka."

"Siapa?"tanya Tao.

"The Cursed Ghoul, dan pasukannya."

"KYAAAAAAAAA!"

To Be Continued!

Uaaaahhhh baru berapa chapter udah first death aja nih! Kalo masih mau lanjut, jangan lupa REVIEW dan FAVOURITE fanfiksinya ya teman!

HUANG AND WU