"Isi perutmu. Kau belum makan dari kemarin. Kalau kau punya energi, kau bisa lebih waspada."ucap Kris.

Entah kenapa, Tao merona. Kris perhatian padanya. Senyum di wajahnya pun mengembang. Tao menerima roti itu, lantas memakannya dengan pelan. Kris menatap Tao, kemudian tersenyum kecil.

Keheningan mereka, terganti oleh sebuah ketegangan.

"KYAAAAAAAAA!"

.

-The Golden Chrysoberyl-

.

.

Chapter 7

Pegunungan Himalaya, 9 April 2015, 07:01

"SULLI!"

Kris memekik. Mereka semua segera mempersiapkan persenjataan. Kris dan Tao berjalan pelan, menuju balik pohon yang tadi dihampiri Sulli untuk buang air. Tao berusaha melacak apa yang sudah menyerang Sulli, tetapi entah kenapa kemampuan indera keenamnya menjadi lemah–mungkinkah karena kurang makan?

"Sulli?"panggil Kris.

"Hiks! Hiks! Kris oppa!"

Terdengar tangisan, dan tampak Sulli keluar dari balik pohon dan langsung menuju balik punggung Kris. Kris menoleh ke arahnya. Lay segera menghampiri Sulli, kemudian menghiburnya–namja satu ini memang sangat hebat dalam menghibur orang.

"Ada apa?"tanya Kris.

"A-ada sesuatu..."gumam Sulli, tetapi tak bisa lebih banyak berbicara lagi.

Tao berjalan mendahului Kris. Ia melewati dedaunan, kemudian melihat ke balik pepohonan. Ia sudah bersiap dengan dagger di tangannya.

Tak ada apa-apa.

"Tak ada apa-apa."ucap Tao, kemudian menoleh ke arah Sulli.

"Tapi, aku bersumpah! Aku bersumpah melihat seorang yeoja di sana! Ia melambai padaku! Tubuhnya.. tubuhnya seperti batang kayu! Ia seperti bunglon yang berkamuflase dengan pohon!"jelas Sulli, dengan nada histeris.

"Bunglon yang berkamuflase?"gumam Kris dan Tao bersamaan.

Tao berjalan mendekati tempat Sulli buang air tadi. Ia memperhatikan area itu, mengamati setiap pohon yang terjangkau oleh penglihatan Sulli kala itu.

"Siapapun kau, kami tahu kau bermaksud baik. Tunjukkan dirimu, dan ayo kita bicarakan baik-baik."ucap Tao.

Kris menatap Tao, sementara Tao menajamkan pendengarannya. Ia berusaha menangkap suara-suara yang mungkin terdengar.

"Aku di sini."

Tao melihat lurus ke depannya. Suara itu ada tepat di hadapannya. Ia memfokuskan pandangannya. Dan di hadapannya..

Hanyalah sebuah pohon besar yang tinggi menjulang.

"Kau kah itu? Kau lagi?"tanya Tao seraya berjalan pelan ke arah pohon itu.

"Ya, ini aku. Maaf, aku membuat kalian ketakutan."

"Tunjukkan jati dirimu."ucap Tao.

WUSH!

Tiba-tiba, angin menghembus kulit mereka. Lalu, seekor kupu-kupu melintas di depan rombongan mereka. Luhan berusaha menangkapnya, tetapi kupu-kupu itu berhasil lolos. Kupu-kupu itu menghampiri pohon tadi, kemudian hinggap di batangnya.

CKREK CKREK

Terdengar suara. Tao, Kris, dan yang lainnya menatap ke depan. Tampak batang-batang di pohon itu retak! Tao mundur selangkah-dua langkah, kemudian seberkas kayu yang berbentuk seperti tangan tampak mencuat dari dalam rongga pohon bekas retakan itu.

"Jangan pergi."

Tao terdiam. Suara yeoja. Kris menatap takjub pada pohon itu, begitupun yang lainnya. Tao tak jadi melangkah mundur. Ia berjalan menghampiri pohon itu, dengan dagger dipegang erat. Ia mantap dengan setiap langkahnya.

CKREK CKREK

Setelah tangan itu, muncul tangan yang lain. Kedua tangan itu terentang dan dilumuri lendir–atau mungkin getah pohon. Seberkas tubuh muncul. Tubuh seorang yeoja, yang tak berbalut apapun–tubuh itu juga dilumuri getah pohon. Warna tubuh itu persis seperti pohonnya–cokelat tua dengan sedikit hijau lumut.

CKREK

Lalu, sebuah kepala muncul. Kepala seorang yeoja, dengan rambut panjang menjuntai hingga pinggang, menutupi bagian dada yeoja itu. Kupu-kupu yang tadi terbang dan hinggap pun menjadi semacam penghias rambut indahnya. Tao terdiam.

Sosok ini nyata.

"Siapa kau?"tanya Tao.

Yeoja itu membuka matanya, menampakkan mata dengan warna dasar kuning dan iris berwarna cokelat. Ia menatap sekelilingnya, dan menangkap Tao beserta rombongannya.

"Namaku Felle, salah satu dari ratusan dryad pohon yang ada di hutan ini."jawab yeoja itu, dengan nada lembut selembut angin.

"Dryad?"gumam Sulli.

"Peri penghuni tetumbuhan."gumam Tao, menjawab keheranan Sulli.

Yeoja bernama Felle itu menyunggingkan senyumnya. Ia menatap Tao, kemudian menunjuknya. Tao mengernyit.

"Kau pasti adalah manusia yang waktu itu kuperingatkan akan The Cursed Ghoul, bukan?"ucap Felle, diangguki Tao.

"Kau benar. Terimakasih atas peringatannya."ucap Tao, diangguki Felle.

"Ghoul yang menyerangmu, bernama The Sharp, ghoul yang memiliki tentakel merah api yang dapat berubah menjadi pisau tajam. Dia adalah ghoul nomor 5, ghoul paling lemah."jelas Felle.

"Ghoul paling lemah?"kaget Tao, diangguki Felle.

"Ghoul nomor 4 adalah The Fire Axe. Ia adalah ghoul yang memiliki sayap api di punggungnya, dengan kapak yang selalu ia bawa. Setelah itu, ada The Horn, ghoul bertanduk kambing dengan tentakel berbentuk ranting-ranting tajam yang dapat memanjang dan menusuk lawan dari jarak jauh. Yang kedua adalah The Tangled Man, ghoul dengan tentakel berbentuk sulur-sulur yang dapat mengikat dan mencekik mati lawannya."jelas Felle, membuat Tao sedikit ngeri membayangkannya.

"Lalu yang pertama?"tanya Tao–dia penasaran dengan ghoul terkuat.

"Yang pertama.. adalah The Fur, ghoul berbulu tanpa tentakel. Jangan salah. Dia adalah yang terkuat. Dengan tubuh besar yang seluruhnya ditutupi bulu hangat, ia dapat membunuh dengan cara yang misterius."jelas Felle.

"Sangat menyeramkan kalau dibayangkan."gumam Tao, diangguki Felle.

"Ya. Salah satu kawanmu tertangkap The Sharp, bukan?"tanya Felle, diangguki Tao.

"Nde. Namanya adalah Choi Sooyoung."ucap Tao.

"The Cursed Ghoul akan mengambil 5 dari kawanmu. Sooyoung adalah yang pertama."ucap Felle, membuat Tao terhenyak.

"Lima? Berarti.. masih ada 4 lagi?"tanya Tao, diangguki Felle.

"4 orang di antara kalian akan kembali dimangsa para ghoul itu. Entah untuk dibunuh di tempat atau diculik untuk dikonsumsi."ucap Felle.

Sulli dibuat mual. Luhan lemas, kemudian jatuh dalam dekapan Sehun. Kai dan Kyungsoo berubah khawatir. Baekhyun mulai menitikkan air mata, dengan Chanyeol mulai mengusap pundaknya agar tenang. Lay menggeleng tak percaya, dengan Suho yang mulai mengusap wajahnya dengan frustasi. Minseok dan Jongdae saling berpandangan heran.

Tao sendiri kaget.

"Kau adalah orang yang spesial. Kau bisa mendengarku berbicara."ucap Felle, diangguki Tao.

"Aku.. mendapat anugerah untuk melakukan itu."ucap Tao, diangguki Felle.

"Percayalah. Bakat spesialmu dapat menyelamatkan orang-orang tercintamu. Mereka akan sangat bergantung pada penglihatan sekaligus pendengaran-mu."ucap Felle, membuat Tao terdiam.

"Apa aku bisa menyelamatkan mereka semua?"tanya Tao, diangguki Felle.

"Semua tergantung pada bagaimana kau menyikapi setiap ramalan dalam penglihatan-mu."ucap Felle.

"Tapi, bukankah tadi kau bilang akan ada 4 lagi yang diambil? Lalu bagaimana caranya aku melindungi semua temanku agar tak ada yang diambil lagi? Apa kami bisa pulang secara selamat?"tanya Tao.

"Semua pertanyaanmu, akan terjawab di daerah gunung bagian tundra."ucap Felle, seraya menengok ke daerah yang lebih tinggi.

Tao ikut menengok. Bagian tanah yang lebih tinggi itu masihlah hutan, tetapi jauh setelahnya ada tundra. Tao menatap Felle, yang kini sedang menatapnya dalam diam.

"Tundra? Ada apa di tundra?"tanya Tao.

"Temui seorang dryad lumut bernama Erphy. Dia adalah dryad yang memiliki kemampuan sama sepertimu. Tanyakan padanya pertanyaanmu tadi, dan dia akan memberikan jawaban yang memuaskan."ucap Felle.

"Tapi, nanti ghoul-ghoul itu akan menemukan kami terlebih dahulu sebelum kami sampai di tundra!"ucap Tao, disenyumi Felle.

"Itulah kenapa, penglihatan-mu sangatlah penting. Tugasmu untuk membawa mereka selamat hingga ke tundra. Lalu, temui Erphy. Tanyakan padanya, dan ingat baik-baik setiap jawabannya. Para ghoul hanya akan keluar saat malam hari atau saat cahaya matahari terhalang awan atau kabut. Selagi masih ada cahaya matahari, teruslah berjalan."jelas Felle.

"Apa kita akan bertemu lagi?"tanya Tao, disenyumi Felle untuk kedua kalinya.

"Aku adalah dryad pepohonan, bukan dryad lumut. Ada banyak dryad yang baik di sana. Aku hanya bisa mengawasi kalian sampai ke daerah ujung hutan."ucap Felle.

"Baik, Felle. Terimakasih. Bantu kami melintasi hutan ini."ucap Tao, diangguki Felle.

"Semoga berhasil."

CKREK CKREK

Kemudian, Felle kembali memasukkan kepalanya terlebih dahulu ke dalam pohon. Entah kenapa, pohon itu seperti kembali menyerap Felle. Disusul oleh tubuhnya, dan kedua tangannya. Satu tangannya terentang ke arah Tao, tapi kemudian ikut tenggelam. Kupu-kupu yang tadi hinggap di pohon pun kembali terbang.

Pohon itu tak lagi menyisakan satu rongga pun.

Tao membalikkan badannya, menatap kawan-kawannya. Kini, beban di pundaknya semakin berat. Ia menatap Kris dengan sedikit ketakutan. Kris menghampirinya, kemudian menggenggam tangannya–memberi kehangatan.

"Kita akan berjalan melintasi hutan, menuju tundra. Kita akan terus berjalan, selagi matahari masih bersinar. Saat matahari telah tenggelam, pastikan kalian semua sudah memegang senjata. Felle akan membantu kita mencapai ujung hutan. Kalau kita tak bisa bekerjasama dengan baik, maka 4 orang di antara kita akan diambil oleh para ghoul untuk dijadikan santapan. Aku tak mau ada lagi korban."

.

.

"Mendaki, atau mati."

-XOXO-

Pegunungan Himalaya, 9 April 2015, 08:14

Rombongan itu kembali berjalan. Mereka semua menatap sekeliling dengan waspada. Beruntung sinar matahari masih menyala terang, sehingga takkan ada ghoul atau monster lain yang akan menyerang mereka.

"Aku lelah."terdengar ucapan Kyungsoo, yang kini sedang memegangi lututnya yang berdenyut.

"Nde. Kita berjalan nonstop dari tadi malam."sahut Sulli, kemudian ia berusaha menguatkan dirinya.

Kris menatap rombongannya yang kelelahan, dan kemudian beralih pada Tao yang sedang berdiri mematung membelakangi mereka. Kris hendak menghampiri Tao, ketika..

"Istirahat 1 jam. Kita akan berjalan lagi hingga sore menjelang. Kita harus segera sampai di tundra."ucap Tao, tanpa menoleh.

Seluruh anggota segera mendudukkan diri di atas tanah yang dingin, menyamankan diri mereka. Kris menatap Tao, yang kini sedang mencengkram dagger di tangan kanannya.

Kris penasaran.

Kenapa Tao selalu membawa dagger itu?

-XOXO-

GULP GULP GULP

Terdengar suara orang sedang minum. Tampak Sehun sedang meminum air mineralnya dengan rakus. Setelah menghabiskan hampir setengah botol, ia pun mengakhiri acara minumnya.

"Ahh, serasa hidup kembali."gumamnya.

Sehun menatap kawan-kawannya. Ia dan Luhan berjalan di paling belakang rombongan. Sehun menatap Luhan, yang kini sedang memainkan setangkai bunga kecil di tanah.

"Kau adalah seorang pembawa acara di televisi, kan?"

Luhan menengok, dengan Sehun yang sedang menatapnya intens. Tiba-tiba, wajahnya merona. Luhan menunduk malu, kemudian mengangguk kecil.

"Nde. KBS World."ucap Luhan.

"Aku sering melihatmu."ucap Sehun, kemudian memakan roti di tangannya.

Tak memedulikan wajah merona Luhan. Sering melihatku?; batin Luhan, bergejolak. Sehun menyadari keterdiaman Luhan, kemudian terkekeh kecil.

"Kau hebat untuk ukuran pembawa acara berita. Maksudku, kau berani turun ke medan terjal seperti sekarang. Aku salut."ucap Sehun, bermaksud menghibur Luhan.

Luhan menggigit bibir bawahnya. Ia benar-benar tak bisa menahan rasa bahagia yang entah kenapa merambati seluruh tubuhnya. Wajahnya memanas. Ia memegang kedua pipinya dengan kedua tangannya, menepuknya pelan. Ah, rona itu kembali muncul.

Sehun melihat wajah Luhan yang merona, seketika tersenyum. Luhan sangat manis jika sedang merona, dan itu berhasil menenangkan Sehun. Sehun menatap roti di tangannya. Ia merobek sedikit, kemudian menyodorkannya pada Luhan. Luhan menatapnya dengan bingung.

"Roti untuk dimakan, bukan untuk dipelototi."ucap Sehun, mengundang senyum malu-malu Luhan.

"Te-terimakasih."ucap Luhan, kemudian menerima potongan roti itu.

Sehun dan Luhan pun makan bersama. Sesekali, mereka saling mencuri pandang. Sehun dan Luhan tak tahu, harus berterimakasih pada keadaan mereka, atau justru sebaliknya.

Yang mereka rasakan sekarang adalah senang tanpa sebab.

-XOXO-

Tao diam terus sedari tadi. Ia tengah mendudukkan diri di atas sebuah batu ukuran sedang, sedikit jauh dari kawan-kawannya. Ia menatap ke depan dengan kosong.

"Kau tampak sangat lelah."

Tao mendengar suara Felle. Tao tersenyum kecil, kemudian menyamankan dirinya di atas batu itu. Dagger miliknya terus ia genggam. Ia menoleh ke arah pohon yang ada di sebelah batu yang ia duduki.

"Aku memang selalu terlihat lelah."ucap Tao.

"Kau tahu? Kau dan lelaki pirang itu tampak sangat dekat."

Tao mengernyit, kemudian melihat kawan-kawannya. Hanya ada satu namja pirang di sana, dan dia adalah Kris yang tengah tertawa bersama Chanyeol dan Suho. Tao kembali menatap ke depannya, kemudian tersenyum kecil.

"Apa sangat terlihat dekat?"tanya Tao.

"Kau sepertinya tak menyadarinya. Aku merasakan kehangatan selama ia berada di dekatmu."

"Kehangatan?"tanya Tao, heran.

"Ya. Kalian berdua saling merasa nyaman, saling ingin melindungi. Bukankah itu bisa dibilang sebagai kehangatan?"

"Mungkin kau hanya salah menerkanya. Aku dan dia tak ada apa-apa."ucap Tao, dengan sedikit rona merah di pipinya–ada apa, Tao?

"Kau benar-benar tak menyadarinya. Aku tak salah menerka, dan kuharap kalian ada apa-apa."

"Berhentilah menggodaku, Felle."gumam Tao, dengan rona merah semakin kentara.

"Bagaimana bisa aku berhenti, ketika tahu bahwa kau senang digoda seperti ini? Apa saja yang sudah ia lakukan padamu sampai kau merona ketika memikirkannya?"

"Kau keterlaluan, Felle. Aku.. hanya mengaguminya yang cerdas dan bijaksana."ucap Tao, dengan nada yang mengecil–malu, kah?

"Kau mengaguminya lebih dari sekadar hanya karena dia cerdas dan bijaksana. Lebih dari itu, dan aku bisa merasakannya."

"Jangan katakan ini pada siapapun."ucap Tao seraya menatap pohon yang ada di samping batu yang ia duduki.

"Ya, aku tahu."

-XOXO-

1 jam berlalu. Seluruh rombongan itu bersiap untuk pergi. Hari mulai terik, tetapi pepohonan membuat semua terasa teduh.

Tao berjalan dalam diam sedari tadi. Pikirannya masih melantur pada percakapannya dengan Felle tadi. Oh, god, bahkan seorang Felle bisa menyadari tentang perasaan Tao. Bagaimana dengan yang lainnya yang jelas-jelas dekat dengan Tao?

"Kau tak apa? Kau pucat dari tadi."

Tao menoleh, ketika suara Kris menginterupsinya. Kris menatapnya dengan khawatir. Tao menatap tepat ke dalam kedua manik onyx itu. Bolehkah aku berharap lebih?.

"Aku tak apa. Hanya sedang menerawang."ucap Tao.

Kris menatap kelakuan Tao yang aneh, lantas hanya diam. Tadi, ia melihat Tao duduk menyendiri dari rombongan. Kris tahu, bahwa ada sesuatu yang mengganjal pikiran namja manis ini.

Tunggu. Apa tadi? Manis?

Kris membuang mukanya, kemudian menghela nafas berat. Dia menggeleng-geleng pelan, berusaha menghilangkan pikirannya tentang Tao. Genggamannya pada tas besarnya mengerat. Kris terdiam, kemudian memandangi wajah Tao yang fokus dengan jalannya.

Dia–sejujurnya–sudah tertarik dengan Tao sejak mereka bertemu di Seoul, saat mereka masih karantina. Dia tak pernah menyangka, bahwa rasa tertariknya ini akan semakin berkembang dan berkembang hingga sebesar ini.

DUK!

"Aww!"

Saking melamunnya, Kris tak menyadari akar pohon di depannya. Ia pun tersandung, dan hanya bisa merasakan sakit di kaki kanannya. Ternyata, kakinya telah tergores akar pohon dan berdarah.

"Kau tak apa?"tanya Suho, yang berjalan di belakangnya bersama Sulli dan Lay.

"Aku tak apa."ucap Kris, kemudian melihat luka di kakinya.

Shit. Lukanya mengeluarkan darah. Harus dicuci sebelum infeksi; batin Kris, pilu. Kris mendudukkan dirinya di atas sebuah akar, kemudian menggulung celananya selutut. Teman-teman yang lain mengitarinya, melihatnya.

Kris menaruh tasnya, kemudian membukanya dan mencari-cari botol air mineralnya. Darah pada lukanya semakin banyak, harus cepat dibersihkan.

BYUR

Kris terdiam. Ia melihat ke arah kakinya, dan mendapati Tao yang sedang menyiram kakinya dengan air minumnya. Tao mengusap luka itu, kemudian mengguyurnya lagi dengan air.

Setelah itu, Tao membuka first aid box yang ia pinjam dari Suho. Ia mengambil sebuah kapas, kemudian menutupkannya pada luka itu. Ia mengambil perban, kemudian menggulung luka itu dan membebat perbannya agar tidak terbuka.

"Sudah selesai."ucap Tao seraya berdiri.

Kris menatap lukanya yang sudah terbalut perban. Ia tersenyum ke arah Tao, merasa terbantu dengannya. Tao dibuat merona karena senyuman itu.

"Terimakasih."ucap Kris, dengan tulus.

"Sama-sama."ucap Tao, disertai dengan senyuman simpulnya.

Membuat jantung seorang Wu Yifan berdetak disko.

-XOXO-

Pegunungan Himalaya, 9 April 2015, 15:45

Tak terasa, hari mulai gelap. Matahari hampir bersembunyi di balik cakrawala. Tao melihat ke arah langit, lantas menyadari kegelapan yang ada. Ia membalikkan badan, menatap seluruh rombongan.

"Keluarkan senjata kalian. Rapatkan barisan, dan jangan ada yang terpisah dari rombongan. Keluarkan senter, waspada dengan sekeliling. Lihat dan dengar baik-baik."instruksi Tao, diangguki mereka.

Mereka semua segera mengeluarkan senjata dari dalam tas. Minseok dan Baekhyun–yang membawa senjata banyak pun–tak sungkan untuk berbagi senjata dengan teman-teman yang lain. Alhasil, mereka semua pun mendapatkan pistol, sementara Minseok dan Baekhyun sendiri memegang rifle.

Tao kembali berjalan, setelah bersiap dengan dagger-nya. Kris kembali heran. Tao sama sekali tak memegang senjata apapun selain dagger-nya.

"Tao."

Tao menoleh, ketika Suho memanggilnya. Suho menyodorkan sesuatu pada Tao. Sebuah pistol.

"Untuk berjaga-jaga."ucap Suho.

Tao meraihnya, lantas melihatnya lagi. Tetapi kemudian, ia mengembalikannya lagi pada Suho. Suho mengernyit heran.

"Untuk hyung saja. Aku sudah cukup dengan ini."ucap Tao seraya memperlihatkan dagger-nya.

"Tapi nanti kau sulit bertarung."ucap Suho, disenyumi Tao.

"Dagger ini sangat berharga bagiku. Aku memercayainya lebih dari senjata manapun."ucap Tao.

Kris mencuri dengar tentang pembicaraan Tao dan Suho. Ia terdiam. Sangat berharga? Kenapa?; batin Kris.

Tatapan Kris tak sengaja bertemu tatapan Tao. Tao langsung memalingkan muka, membuat Kris agak kecewa. Kris memusatkan perhatian pada tangan Tao yang memegang dagger.

Apa yang membuat dagger itu spesial?; tanya Kris dalam hati.

Bersamaan dengan itu, langit gelap dan kabut mulai memenuhi atmosfer mereka.

To be continued!

HOLA HOLA! Akhirnya update lagi setelah menyelesaikan tugas-tugas farmakologi dan bedah menyebalkan yang numpuk gara-gara school from home :"

Jangan lupa RnR dan favorit yaaa!

HUANG AND WU