Kris mencuri dengar tentang pembicaraan Tao dan Suho. Ia terdiam. Sangat berharga? Kenapa?; batin Kris.
Tatapan Kris tak sengaja bertemu tatapan Tao. Tao langsung memalingkan muka, membuat Kris agak kecewa. Kris memusatkan perhatian pada tangan Tao yang memegang dagger.
Apa yang membuat dagger itu spesial?; tanya Kris dalam hati.
Bersamaan dengan itu, langit gelap dan kabut mulai memenuhi atmosfer mereka.
.
-The Golden Chrysoberyl-
.
.
Chapter 8
Pegunungan Himalaya, 9 April 2015, 16:00
Kegelapan mengitari mereka. Tao dan Kris berjalan lebih dulu, dengan senjata mereka. Seluruh rombongan menatap sekitar dengan waspada. Sulli–yang merupakan satu-satunya yeoja–pun ditempatkan di tengah rombongan.
"Tao."
Tao terdiam, ketika mendengar suara Felle. Ia berhenti berjalan, kemudian menghadap ke sebuah pohon yang memiliki batang pendek–pohon muda, sepertinya.
"The Fire Axe, 1 km dari jarakmu. Ia belum berhasil melacakmu. Pergilah ke arah barat laut, dan masuklah ke dalam kawasan ilalang liar. Kalian akan mendapat keuntungan bertarung di sana."
"Kenapa kita harus ke sana? Keuntungan apa?"tanya Tao–ia tampak seperti sedang berbicara sendiri.
"The Fire Axe akan membakar dirinya sendiri jika ia masuk ke daerah ilalang liar, karena ilalang mudah terbakar. Ia akan menonaktifkan panas di tentakelnya. Kalian bisa menyingkirkan kapak miliknya, dan bisa membunuhnya dengan mudah."
"Bagaimana dengan pasukannya?"tanya Tao, dengan nada serius.
"Kalian memiliki senjata modern. Kalian bisa mengatasinya."
"Baik."sahut Tao.
Tidak lagi terdengar suara Felle. Tao menatap Kris yang kini sedang menatapnya cemas. Tao menghela nafas pelan, kemudian mendekatinya dan berjalan tepat di sebelahnya.
"Kita harus ke barat laut, menemukan padang ilalang. Menurut Felle, kita akan mendapat keuntungan bertarung di sana. Monster yang dekat dengan kita adalah The Fire Axe."jelas Tao.
"Apa itu The Fire Axe?"tanya Kris.
"Tak ada waktu untuk menjelaskan. Kita akan ke barat laut!"
-XOXO-
Mereka memutar arah, dan berbelok ke arah barat laut sesuai dengan apa yang tertera pada kompas. Tao menatap sekeliling dengan waspada. Ia menajamkan kemampuan seluruh inderanya.
Tiba-tiba, ia mendapat penglihatan.
SRING!
"GRAAAAAAWWWWW!"
CRASH!
"AAAAAAAAAAA!"
BRUK!
SRING!
"Hah!?"kagetnya, dengan wajah syok.
Kris menatap Tao, ketika menyadari pekikan itu. Wajah Tao berkeringat. Tao mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha menghilangkan rasa takut pada wajahnya yang kembali muncul.
"Ada apa, Tao?"tanya Kris seraya menyentuh pundak Tao.
Tao menatapnya, dengan wajahnya yang masih kaget. Kris terheran-heran. Tao mengeratkan genggamannya pada dagger-nya, berusaha menenangkan diri. Tidak. Ia tidak bisa tenang. Ia ketakutan.
"Kalau kau lelah, kau boleh berjalan lebih lambat."ucap Kris, dengan raut wajah cemas.
"A-aku.. aku mendapat penglihatan."ucap Tao, dengan nada gemetar yang kentara.
"Penglihatan? Apa?"tanya Kris, mendekatkan dirinya pada Tao–ingin mendengar lebih seksama.
"The Fire Axe."
.
.
"Akan ada salah satu dari kita yang direnggut."
Kris menelan saliva berat. Tatapannya menyiratkan siapa yang akan diambil. Tao menggeleng lemah. Penglihatan-nya masih samar, tetapi ia tahu bahwa akan ada dari mereka yang direnggut.
Tao menoleh ke belakang, berusaha memastikan seluruh anggota. Ia terdiam, dengan tangan yang segera mencengkram lengan Kris–berharap tidak pingsan. Kris mengikuti arah pandang Tao, tetapi tak menemukan apapun.
Dalam penglihatan Tao, ia melihat cahaya kuning. Lagi.
-XOXO-
Langit semakin malam, tetapi mereka belum juga sampai di padang ilalang. Beberapa anggota ada yang sudah kelelahan, beberapa lagi masih cukup kuat untuk beberapa jarak kedepan.
"Tao, mereka kelelahan."ucap Kris seraya melihat ke belakang.
Tao menatap kawan-kawannya. Ia menghela nafas berat. Mereka takkan bisa bertarung di sini. Mereka harus sampai di padang ilalang. Tapi, tak ada tanda-tanda padang ilalang, dan juga mereka tak yakin apa mereka bisa mencapainya.
"Baiklah, istirahatkan diri kalian."ucap Tao.
Mereka semua menaruh tas mereka, kemudian duduk di atas tanah. Beberapa memijit kakinya sendiri, beberapa berusaha mengambil nafas sebanyak-banyaknya.
"Kita akan diam di sini dulu, sampai semua siap."ucap Tao.
Tampak Suho, berjalan ke arah mereka. Kris dan Tao menengok ke arah Suho. Sepertinya, ia ingin menyampaikan sesuatu.
"Ada apa?"tanya Kris.
"Persediaan air kita habis. Kita butuh banyak air."ucap Suho.
Kris menghela nafas berat, merasa lelah untuk melangkah lebih jauh. Suho menatap mereka dengan raut wajah kacau juga. Tao–satu-satunya orang yang tidak kelelahan–pun bangkit dari duduknya. Kris dan Suho menatapnya.
"Aku akan mencari air. Kalian jangan kemana-mana sampai aku kembali."ucap Tao, kemudian meraih dagger-nya dan hendak pergi.
"Itu berbahaya! Kau akan terbunuh!"ucap Kris, dengan wajah khawatir.
"Aku bisa menjaga diri. Kalian tunggulah di sini."ucapnya seraya memegang sebuah senter dan menyorotkannya.
"Tao!"
Tao–yang sedang mengambil botol minum besar dari tasnya–menoleh, ketika Suho berjalan ke arahnya. Ia menyodorkan sesuatu. Sebuah pistol. Tao menatapnya dengan jengah.
"Hyung, aku benar-benar–"
"Kau. Harus. Membawanya."terdengar penekanan di setiap kata-kata Suho.
Tao terdiam. Ia pun mengangguk mengerti. Ia meraih pistol itu, kemudian menaruhnya di saku celana belakangnya. Ia menatap Kris dan Suho, kemudian berjalan menjauh.
Sementara Kris dan Suho berdoa agar Tao selamat, Tao bahkan tak merasa takut sama sekali. Entah kenapa.
-XOXO-
Tao berjalan, menyusuri hutan. Ia menajamkan pendengaran, berusaha mencari suara-suara air. Ia menatap sekeliling. Ia melihat ke tanah, kemudian terdiam. Sebuah batu, dengan lumut di bagian kanannya.
"Sebelah sini."gumam Tao, kemudian mengikuti arah batu itu.
Ia berjalan, sesekali menghafal jalur yang ia lalui. Tao menatap sekeliling. Tumbuhan di sekitarnya makin lebat–menandakan ada sumber air di dekat situ.
BYUR BYUR BYUR
Tao terdiam, kemudian memejamkan mata dan mendengarkan dengan seksama. Terdengar suara air, tak jauh dari tempatnya berdiri. Tao semakin berjalan, dengan senter dan dagger ia genggam erat.
BYUR BYUR
Suara itu semakin jelas. Tao tersenyum kecil. Ia terus berjalan, menembus rerumputan. Ia menatap ke depannya, seketika senyum mengembang.
Sebuah sungai.
Tao berlari kecil ke arah pinggir sungai itu, kemudian mengambil botolnya dan mengisinya dengan air. Ia menatap sungai itu. Jernih dan bening seperti kristal.
Tao berdiri setelah botolnya terisi. Ia menatap sungai itu, kemudian kembali berjongkok dan minum menggunakan tangannya. Air segar langsung memenuhi kerongkongannya.
Ia pun kembali berdiri, dan berbalik–hendak kembali ke rombongannya.
WOSH!
DATS!
Tao terdiam, lantas menengok ke sebelah kirinya. Tampak sebuah panah, dengan ujung yang sudah dibakar api. Tao terhenyak, lantas menatap ke belakangnya.
Sekelompok makhluk, tengah berjalan ke arah sungai. Api ada di tangan mereka. Tao terdiam. Oh, tidak.
The Fire Axe menemukannya.
Tao langsung berlari, sebelum mereka mencapai Tao. Ia mengikuti jalur yang tadi ia lalui, berlari berharap mereka belum mengejarnya. Ia mempercepat langkahnya. Senternya pun sudah ia buang, tertinggal botol minum dan dagger di tangannya.
Tao bernafas lega. Rombongannya masih ada di sana, sedang menikmati waktu istirahat.
Tapi, Tao sadar, bahwa waktu istirahat telah berakhir.
"Semua!"pekik Tao, membuat mereka semua menengok.
Suho dan Kris merasa lega. Tao kembali dengan utuh, dengan botol minum. Tapi, mereka heran melihat wajah panik Tao. Tao segera memasukkan botol itu ke tasnya, kemudian memakai tasnya.
"Kita harus segera menemukan padang ilalang itu! Tak ada waktu istirahat! Persiapkan senjata!"pekik Tao, kemudian mulai pergi dari daerah itu dengan sedikit berlari.
Mereka semua menuruti Tao. Mereka segera menyusul Tao yang sudah berlari kecil di depan mereka. Kris menyamakan larinya dengan Tao. Ia mempersiapkan dua pedangnya–untuk membuka jalan agar tidak kerepotan.
DATS! DATS!
Kris melayangkan pedangnya, membuka rerumputan di depan mereka. Sesekali, Sehun dan Luhan–yang ada di barisan belakang–menengok ke belakang. Mereka memastikan bahwa tak ada sesuatu yang mengejar mereka sekarang.
Tao dan Kris kembali berlari kecil. Mereka melintasi pepohonan, melihat ke segala arah. Benar-benar tak ada tanda-tanda padang ilalang di hadapan mereka. Apakah Felle berbohong pada mereka?
"Felle! Felle! Kami tak menemukan padang ilalang itu! Felle!"pekik Tao.
Tak ada yang menyahut. Tao merasa panik sekaligus frustasi. Di saat mereka membutuhkan Felle, kemana kehadiran dryad itu? Tao memejamkan mata, berusaha menajamkan indera keenamnya.
Kumohon, Ya Tuhan, tunjukkan dimana padang ilalang itu; batin Tao, penuh harap.
Dan sepertinya, Tuhan mendengar doanya. Tao mendapat sebuah penglihatan.
SRING!
TAP TAP TAP
"Tao, tak ada jalan."
"Jangan berhenti!"
SREK SREK SREK
SRING!
Tao membuka matanya. Ia melihat ke segala arah. Entah kenapa, ia merasa yakin bahwa padang ilalang itu ada di sekitar sini. Ya, tempat itu ada di sekitar sini.
"Kita harus kemana, Tao?"tanya Lay, yang kini sedang ketakutan.
"Lewat sini."
Tao kembali berlari kecil, disusul oleh kawan-kawannya. Ia melompati beberapa akar pohon besar, berjalan ke sebuah arah. Mereka semua merasa heran. Tak ada apapun di hadapan mereka.
"Tao, tak ada jalan."ucap Kris, tetapi Tao tak berhenti berjalan.
"Jangan berhenti!"
Tao berjalan. Ya, ini semua sesuai penglihatan-nya. Kris dan yang lainnya mengikuti Tao, ke arah sekelompok tanaman sulur yang merambat di atas batu.
SREK SREK SREK
Mereka semua terpana. Tanaman sulut yang padat itu.. bisa ditembus! Tanaman itu menjadi semacam tirai! Tao sudah masuk lebih dahulu, disusul kawan-kawan lain. Kris dan Tao berjaga di pintu, memastikan mereka semua sudah masuk.
"Sudah semua?"tanya Tao, diangguki mereka.
Tao kembali melanjutkan jalan. Ia meminjam senter dari Suho, kemudian menyorotkannya ke depan. Kris pun demikian. Kyungsoo dan Kai–yang berjalan di tengah–juga Sehun dan Luhan ikut menyalakan senter. Tempat itu menjadi semacam gua.
"Kenapa kita kemari?"tanya Baekhyun, kemudian mengeratkan genggamannya pada tangan Chanyeol.
"Kita ikuti saja Tao."ucap Chanyeol.
Tao melihat ke depan. Ia mendapati beberapa ilalang, tumbuh di lantai gua! Tao menengok ke belakang, lantas mengangguk pada Kris. Kris ikut mengangguk–mengerti kalau mereka telah menemukan padang ilalang itu.
"Keep moving."ucap Kris pada teman yang lain.
Senter Tao menyoroti beberapa ilalang yang tumbuh semakin lebat di depan mereka. Ia melewati ilalang itu, kemudian berhenti melangkah–membuat kawan-kawannya ikut berhenti.
"Berpegangan. Jangan terpisah."ucap Tao seraya menyodorkan tangannya pada Kris.
Mereka semua mulai saling berpegangan, dengan Sehun yang berada di pegangan terakhir. Setelah semuanya berpegangan, barulah Tao berani memasuki padang ilalang itu.
Semakin lama, padang ilalang itu tampak semakin tinggi–melebihi dinding gua. Tao terus melangkah. Dia melihat ke atas, kemudian mengernyit.
Hanya ada langit di atas mereka, dengan ilalang yang tumbuh jauh lebih tinggi dari mereka. Ternyata, ujung dari gua tadi adalah padang ilalang yang lebat.
"Berhenti."ucap Tao, dengan berbisik.
Kris berhenti, kemudian disusul Suho, dan terus hingga Sehun. Tao melihat ke segala arah, kemudian mempersiapkan dagger-nya. Ia menatap mereka semua.
"Kita harus mengosongkan tas kita. Buat ia jadi ringan, buang semua benda-benda tak berguna."ucap Tao.
Mereka semua menurut. Mereka mengeluarkan semua isi tas mereka, sehingga menjadi ringan. Hanya tersisa perbekalan dan senjata.
GROAH!
Terdengar suara auman, dari jauh. Mereka semakin merapatkan barisan. Ilalang yang tinggi menguntungkan mereka karena mereka tak terlihat oleh musuh. Felle, maaf, aku meragukan dirimu; batin Tao, dengan sedikit senyum di bibirnya.
"Apa kita akan mati di sini?"tanya Kyungsoo.
"Kita takkan tahu, sampai kita berjuang."ucap Sulli.
Minseok mempersiapkan sesuatu. Ia mengeluarkannya dari sebuah tas panjang yang–sepertinya–merupakan tas khusus. Baekhyun melihatnya, kemudian bergidik ngeri.
Sebuah rocket launcher.
"Aku sudah tahu bahwa aku memang harus membawanya."ucap Minseok seraya mengalungkan tali rocket launcher itu di pundaknya.
Mereka semua bersiap dengan senjata mereka, menunggu monster-monster itu. Tao sadar, bahwa mereka takkan bisa lari dari monster-monster itu. Mereka hanya bisa bertarung,
"GRAAAAWWWW!"
Seketika, terdengar suara auman dari dalam gua. Menggema.
Bulu kuduk mereka mulai berdiri.
To be continued!
Hehehe, maap kalo chapter ini lebih pendek! Author sengaja, biar nanti di chapter selanjutnya bisa lebih panjang! Oya, ini FF terinspirasi dari game Resident Evil 5 dan 6 yang sering author mainin! Tapi, tema pendakiannya diambil dari The Dyatlov Pass Incident yang menewaskan semua pendakinya! *hayoloh entar member EXO tewas semuaa /evil laugh. Hehehe, ditunggu reviewnya yaaa!
HUANG AND WU
