Mereka semua bersiap dengan senjata mereka, menunggu monster-monster itu. Tao sadar, bahwa mereka takkan bisa lari dari monster-monster itu. Mereka hanya bisa bertarung,
"GRAAAAWWWW!"
Seketika, terdengar suara auman dari dalam gua. Menggema.
Bulu kuduk mereka mulai berdiri.
.
-The Golden Chrysoberyl-
.
.
Chapter 9
Pegunungan Himalaya, 9 April 2015, 17:52
CRASH CRASH
Terdengar suara-suara ilalang. Tao dan yang lainnya mulai melangkah mundur perlahan, menjauhi ujung gua tadi. Mereka fokus pada daerah sekitar mereka.
WOSH!
Tampak cahaya merah, menguar di langit. Cahaya itu sangat terang, tetapi kemudian memudar. Itukah tentakel yang dibicarakan Felle?; batin Tao. Kini, cahaya merah itu sudah pudar dan tak bersisa.
CRASH! CRASH!
Suara sesuatu melewati ilalang terdengar. Suara itu semakin dekat. Tampak Sulli yang gemetar saat memegang pistol. Genggaman Tao pada dagger-nya semakin erat. Ia siap jika harus face-to-face dengan monster itu.
"GRAAAAAAAWWWWW!"
BUGH!
Tampak sebuah tentakel, melayang di udara dan menghempas tanah di dekat mereka. Tubuh mereka mengelak, berusaha menghindar. Sialnya, rombongan mereka menjadi terpencar.
Tao tersadar, kemudian menengok ke sebelahnya dan mendapati Kai dan Luhan. Ia membantu Luhan bangun, kemudian kembali fokus.
"Tentakelnya bisa membesar ternyata. Felle tidak menyebutkan hal itu."gumam Tao.
"Ba-bagaimana kita menghabisi makhluk itu?"tanya Luhan, dengan nada bisik yang panik.
"Tenanglah. Aku akan cari tahu. Bertahanlah sebisa kalian."ucap Tao.
Tao berlari ke arah tentakel itu. Kai dan Luhan saling berpandangan, kemudian saling memunggungi ketika beberapa monster menyerang mereka.
DOR! DOR!
Tembakan dari pistol mereka terdengar. Suara-suara itu mengundang monster lain untuk mendekati Kai dan Luhan. Mereka menembak dengan fokus dan penuh keberanian, berusaha mempertahankan hidup mereka.
"Awas di belakang kalian!"
SRING!
CRASH!
Kai dan Luhan menoleh ke sumber suara, kemudian terperanjat ketika mendapati sebuah pedang melayang di antara kepala mereka. Mereka menengok ke belakang, kemudian mendapati sesosok monster bertubuh burung besar ada di situ, dengan sebuah pedang yang menancap di bagian dadanya. Kris mengambil pedang yang menancap itu.
"Terimakasih, Kris."ucap Luhan.
"Nanti saja berterimakasihnya."
Mereka segera sibuk dengan diri masing-masing. Kris melayangkan pedangnya ke beberapa monster bertubuh burung besar yang menyerang mereka dari langit. Ia tak sungkan merobek perut mereka, membuat perut-perut itu memuntahkan isinya.
DOR! DOR!
Di sisi lain, Suho dan Lay harus melakukan duet pertarungan, akibat banyaknya monster yang mendekati mereka. Lay bertumpu pada pundak Suho, kemudian melayang di udara dalam sekali loncatan.
DOR! DOR! DOR!
Di udara, ia menembaki ke arah tanah, tepat pada monster-monster itu. Suho membalikkan badan, kemudian menembaki monster-monster yang menghampiri mereka.
DOR!
Suho terperanjat, kemudian berbalik ketika mendapati sesosok monster sudah berdiri di belakangnya. Kemudian, monster itu terjerembab ke tanah. Ia mendapati Lay, yang sudah mendarat di tanah, tengah mengambil nafas.
"GRAAAAAAAWWWWW!"
BUGH! BUGH!
"Hiyah! Hiyah!"
Terdengar pekikan melengking Minseok dan Baekhyun, seiring dengan diri mereka yang mulai mengeluarkan jurus-jurus beladiri terhadap monster-monster itu. Berbekal pedang yang dibawa Baekhyun, mereka berusaha mematahkan serangan monster-monster itu dengan peluru seminim mungkin.
"Awas, Baek!"
CRASH!
Baekhyun menoleh kaget, ketika mendapati Chanyeol yang tengah menusukkan sebuah tombak–yang sepertinya merupakan barang temuan–ke arah monster di samping Baekhyun. Chanyeol melepas tombak itu, kemudian mendapati Baekhyun.
"Terimakasih."ucap Baekhyun, diangguki Chanyeol.
"Sama-sama."
"Awas, Chanyeol!"
CRASH!
Tiba-tiba, terdengar pekikan Minseok, disusul oleh sebuah pedang yang melesat tepat di samping kepala Chanyeol. Terlalu sibuk memandang wajah Baekhyun membuatnya sedikit tidak fokus. Ia membalikkan tubuh, kemudian mendapati pedang Minseok yang menancap tepat di atas wajah monster burung itu. Chanyeol meraih pedang itu, kemudian melemparkannya pada Minseok.
"Keep your eyes open."ucap Minseok, diangguki mereka berdua.
DOR! DOR!
Di sisi lain, tampak Sehun sedang menembaki monster-monster yang mendekati mereka. Ada Jongdae dan Kyungsoo di sana. Mereka sibuk mempertahankan diri dengan pisau yang mereka bawa.
Karena kurangnya pasokan senjata, mereka terpojok ke dekat batu. Monster-monster itu semakin menekan mereka, membuat mereka semakin kesulitan.
"Damn! Peluruku habis!"pekik Sehun, kemudian melempar pistol kosongnya.
Jongdae memberinya sebuah pisau. Sehun menatap monster-monster itu dengan awas yang begitu tinggi. Ia mencari celah untuk bisa keluar dari kungkungan monster-monster itu, tetapi tak ada cara untuk melawan mereka.
BUGH!
CRASH!
Tiba-tiba, salah satu monster terjerembab ke tanah. Punggungnya tampak telah tersabet dengan sangat dalam, menimbulkan luka menganga.
Tak jauh dari situ, tampak Sulli, dengan cambuk milik Sooyoung.
"Pergi dari situ!"pekik Sulli.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, Sehun, Jongdae, dan Kyungsoo segera pergi. Sehun melempar pisaunya ke arah monster burung yang mengejar mereka. Headshot! Monster itu terjerembab ke belakang.
"GRAAAAAAAWWWWW!"
Mereka semua terdiam. Tampak sesosok monster besar, dengan kapak raksasa di tangannya. Ia menatap mereka semua dengan marah, karena pasukannya telah dihabisi oleh mereka.
"GRAAAAAAAWWWW!"
Monster itu melayangkan kapaknya ke arah Sulli. Sulli tak bisa menghindar dan..
CRASH!
"Sulli!"
Sulli terjerembab ke tanah. Sehun dan Kyungsoo menghampirinya. Ajaib! Sulli terbangun tanpa luka sedikitpun. Sehun dan Kyungsoo membantunya berdiri. Jongdae menatap tak percaya. Bukankah Sulli diserang?.
"Apa!?"kaget Jongdae, kemudian melihat ke arah monster itu.
Tampak di kepala monster itu, sebuah dagger menancap dalam. Dagger?; batin Jongdae. Jongdae melihat ke dekat monster itu, dan mendapati Tao yang sedang beradu face-to-face dengannya.
"TAO!?"pekik Jongdae.
Pekikan itu, mengundang kawan-kawan yang lain. Tubuh monster itu 2 kali lebih besar dari Tao, tetapi Tao tidak takut. Dengan berani, ia melompat ke arah tubuh monster itu.
CRASH!
Dalam sekali gerakan, ia melepas dagger miliknya yang menancap di kepala monster itu. Tubuh monster itu linglung, kemudian terjerembab ke tanah.
BUGH!
"Monster itu jatuh!"pekik Suho.
"Hyung, awas!"terdengar pekikan Tao.
WUSH!
CRASH!
Tao melembingkan dagger-nya. Dengan akurat, dagger itu melewati kepala Suho dan menancap tepat di kepala salah satu monster burung yang Suho tak sadari ada di belakangnya. Suho menengok dengan kaget, kemudian menatap ke arah Tao.
"Terimakasih."gumamnya, diangguki Tao.
"GRAAAAAAWWWW!"
DUAK!
BUGH!
"TAO!?"
Tak selang lama, The Fire Axe melayangkan tentakelnya dan menghantam tubuh Tao. Tubuh itu terseret beberapa kali, kemudian berhenti di dekat Kris.
"Tao!?"pekik Kris, kemudian menangkup wajah Tao yang ada di tanah.
"A-awas."ucap Tao seraya menatap monster itu–tiba-tiba saja ia menjadi lemas.
Monster itu bangkit lagi. Mereka semua berkumpul di dekat Kris, kemudian menatap monster itu dengan takut. Stok peluru mereka nyaris habis, dan mereka tak bisa menghabiskan seluruh senjata mereka di situ.
"Tiarap kalian semua!"
Terdengar pekikan di belakang. Mereka semua menengok, kemudian mendapati Minseok yang sedang membidik monster itu dengan rocket launcher-nya. Mereka semua tiarap. Kris mendekap tubuh Tao erat, dan membantunya tiarap.
BUGH!
DUAR!
Minseok melepaskan misil pada rocket launcher-nya, kemudian bisa terdengar suara ledakan hebat di sana. Mereka semua bangun, kemudian mendapati monster itu yang mulai jatuh kembali akibat misil tadi.
Tapi, kesenangan itu hanya sesaat.
"Lari! Api di sini akan menyebar!"terdengar pekikan Kai.
Mereka semua segera berdiri dan lari menjauh. Kris menggendong Tao ala bridal style, dan ikut membawanya lari. Suho menemani Kris, memastikan bahwa Tao baik-baik saja. Minseok membawa rocket launcher miliknya di atas pundaknya, dengan Baekhyun membantunya membawa tas-tasnya.
"Hah! Hah! Hah!"
Deru nafas yang cepat terdengar menggema di situ. Mereka berlari secepat mereka, sebelum api melahap habis semuanya.
"Hey, lihat!"terdengar pekikan Sehun.
Tampak di depan mereka, sebuah sungai. Mereka semua segera mempercepat larinya. Sungai itu akan menahan api yang merambat ke arah mereka.
BYUR! BYUR! BYUR!
Dengan cepat, mereka melintasi sungai itu. Sehun sampai paling pertama di seberang sungai. Ia pun membantu kawan-kawan yang lain untuk menaiki pinggir sungai.
"Sehun, bantu aku!"
Sehun membantu Kris membawa Tao, kemudian Kris berjalan melintasi sungai bersama Suho di sebelahnya. Sehun menyenderkan Tao pada sebuah batang pohon. Mereka menatap api yang ada di seberang mereka. Panas menyerang, tetapi mereka tak peduli.
"Hiks hiks."
Terdengar isakan Tao. Kris menghampiri Tao, kemudian duduk di sampingnya. Ia memegangi pundak Tao, merasakan bahwa tubuh itu bergetar hebat.
"Ada apa, Tao?"tanya Kris dengan lembut.
"Hiks.. Sulli..."gumam Tao, kemudian menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Kris.
"APA!?"kaget Suho.
Suho menatap rombongan yang selamat, namun tak mendapati yeoja berkuncir kuda itu. Ia menatap api yang ada di seberang sana dengan nanar. Oh, tidak.
Korban ketiga adalah Sulli.
-XOXO-
Pegunungan Himalaya, 9 April 2015, 21:31
Mereka masih ada di situ. Api di seberang mereka mulai padam. Malam kembali menyapa mereka. Seluruh rombongan tampak tengah terlelap dalam keheningan.
Tao menyamankan dirinya di atas tasnya yang ia jadikan sebagai bantal. Entah kenapa, ia tak pernah merasa mengantuk. Ia bisa tidur, tetapi tidak lama. Dan sekarang, Tao benar-benar tak bisa tidur.
Tao meringkuk dengan gemetar, masih membayangkan sosok Sulli yang hangat dan murah senyum. Tidak. Ia harusnya memberitahukan teman-teman lain bahwa Sulli akan tewas. Seharusnya ia memberitahu mereka. Seharusnya ia melindungi Sulli. Seharusnya ia–ah, sudahlah.
Setitik air mata lolos dari mata Tao. Tao menggigit bibir bawahnya, menahan suara isakan yang bisa-bisa membangunkan kawan-kawannya yang lain. Tao mendudukkan dirinya, kemudian berdiri dan melangkah ke pinggir sungai.
Ia berkaca di atas air tenang itu. Wajahnya tampak sangat kacau, terlebih dengan kemurungan yang sedang ia rasakan. Tao duduk seraya mendekap lututnya, kemudian mulai menerawang hal-hal yang–sekiranya–dapat menenangkannya.
Sialnya, setiap kali ia menerawang, wajah Sulli-lah yang muncul di hadapannya.
"Hentikan."bisik Tao, lebih kepada dirinya sendiri.
Ia menenggelamkan kepalanya pada lipatan kakinya, berusaha menahan tangisannya. Oh, shit. Sekarang, wajah Siwon dan Sooyoung mulai muncul dalam pikirannya. Ia mulai ketakutan.
"Hiks, Ya Tuhan, maafkan aku karena aku lalai dalam memanfaatkan kemampuanku ini. Hiks, aku tak bisa menyelamatkan mereka. Maafkan aku, hiks."gumamnya, dengan isakan sesekali terdengar.
"Eungh."
Terdengar lenguhan kecil seorang namja. Ia terbangun, dengan wajah kusam karena peluh. Ia mengucek-ucek matanya, kemudian tatapannya terpaku pada punggung Tao yang bergetar.
Kris terdiam, kemudian bangun dan berjalan ke arah Tao. Tao menyadari bangunnya Kris, kemudian menoleh ke arahnya yang kini sedang duduk di samping Tao. Kris mengambil air sungai, kemudian membasuh wajahnya. Segarnya air; batinnya.
"Kau pasti sedang menuduh diri sendiri atas kematian Sulli, bukan?"
Tao terhenyak kaget, ketika Kris berbicara padanya tanpa menatap dirinya. Kris menengok ke arah Tao, mendapati wajah manis yang kini sedang sendu.
"Kau sendiri yang pernah bilang padaku. Kematian itu tak bisa ditunda, apalagi dicegah. Kenapa kau menyesali diri sendiri? Tak ada gunanya, dan itu malah akan membuatmu merasa tambah buruk di tempat yang buruk ini."jelas Kris, membuat Tao diam seribu bahasa.
Tao menggeser tubuhnya mendekati Kris, kemudian menatap air yang ada di hadapannya. Kris tersenyum kecil, kemudian mengangkat tangannya ke arah wajah Tao.
Ia mengusap air mata itu.
Tao terdiam. Usapan Kris terasa bagai sengatan-sengatan aneh, dan dia tak pernah merasakan sengatan itu sebelumnya. Kris merapikan rambut Tao yang acak-acakan, kemudian menyampirkan poninya ke belakang telinga Tao. Tao menatap manik onyx Kris yang tajam dengan intens, membuat namja blasteran itu balas menatapnya.
"Bagaimana.. kau tahu soal diriku?"tanya Tao, penasaran dengan Kris yang tiba-tiba menghiburnya tanpa berbicara dahulu dengan Tao.
"Kau itu sangat mudah ditebak, Tao. Hatimu itu sangat lembut, dan mudah sekali tersentuh. Aku merasa janggal saat kau tiba-tiba menjadi lemas setelah diserang The Fire Axe. Aku yakin, bahwa kau merasakan kehadiran Malaikat Maut di situ. Kau tak bisa mengatakannya, karena kau sendiri kelelahan atas monster yang kau hadapi."jelas Kris, membuat Tao mengangguk kaku.
"Kau pandai menganalisis, kurasa."ucap Tao, disenyumi Kris.
"Seorang ilmuwan harus bisa menganalisis simpel seperti itu."ucap Kris.
Kris bangkit, kemudian menuju tasnya. Tao melihat setiap gerak-gerik Kris. Kris mengeluarkan sesuatu. Sepasang pedangnya yang kotor dan sebungkus roti.
Kris kembali duduk di samping Tao, kemudian–tanpa menaruh pedangnya–ia menyerahkan bungkusan roti itu ke Tao. Tao menatap roti itu, membuat sang empunya gemas karena Tao tak segera mengambilnya.
"Makanan. Kau harus mengisi perutmu dengan sesuatu. Jangan bunuh dirimu secara perlahan."ucap Kris, kemudian menyodorkan roti itu lagi.
Tao mengangkat tangannya, kemudian meraihnya. Kris tersenyum, kemudian menaruh kedua pedangnya. Ia mengambil satu pedangnya, dan mulai menggosoknya dengan air sungai menggunakan daun yang ia petik di dekatnya.
Tao membuka bungkusan roti itu, kemudian menatapnya. Harum stroberi memenuhi indera penciumannya, membuat rasa laparnya mulai memenuhi dirinya. Ia menggigit roti itu, kemudian bisa merasakan makanan dalam mulutnya. Ia pun menelannya.
Sungguh, segigit roti itu serasa seperti makanan dari Surga.
"Enak."gumam Tao dengan tak sengaja, membuat Kris menengok.
Kris–yang masih sibuk membersihkan pedangnya–pun hanya tersenyum. Ia kembali memusatkan pandangannya pada pedangnya yang kini terlihat lebih bersih dari dahulu.
CHU
Kris terdiam. Waktu di sekitarnya pun terdiam. Ia tak bisa bergerak, saking membekunya atas apa yang baru saja ia rasakan, beberapa sepersekian detik yang lalu. Sesuatu yang hangat menjalari wajahnya.
Ya, Tao baru saja mencium pipinya.
Kris menengok ke arah Tao, yang kini sedang menatapnya malu-malu seraya menggigit roti. Demi apapun, Tao terlihat sangat menggemaskan sekarang. Seketika, senyum mengembang di wajah Kris. Senyum itu membuat Tao juga ikut tersenyum.
"Itukah ucapan terimakasih-mu padaku?"tanya Kris, diangguki Tao dengan malu-malu.
Kris terkekeh, kemudian kembali membersihkan pedangnya. Ia menaruh kedua pedangnya yang telah bersih di atas dedaunan–agar tidak kotor kena tanah–kemudian menatap Tao. Rona merah menghiasi wajah Tao.
"Kalau begitu, aku akan memberikan ucapan sama-sama-ku padamu."ucap Kris.
CHU
Tanpa babibu, Kris langsung mencium bibir Tao yang penuh rasa roti stroberi.
Dan bisa kita lihat bahwa wajah Tao mulai merah padam seperti kepiting rebus, disusul kekehan gemas seorang Kris.
-XOXO-
Pegunungan Himalaya, 9 April 2015, 23:45
Kini, seluruh rombongan telah terbangun dari tidur mereka. Penat seketika terasa hilang, tergantikan dengan energi baru. Tetapi, mereka tidak langsung beranjak.
Tao dan Kris memutuskan agar rombongan menikmati waktu istirahat mereka dengan mengisi perut–beruntungnya karena mereka istirahat dekat sungai. Suasana malam tak membuat semua terasa menyeramkan, karena mereka sudah menyalakan api unggun.
Suho dan Lay kembali, setelah menemani Lay buang air. Chanyeol, Baekhyun, dan Jongdae tampak sedang bercanda gurau. Kai dan Kyungsoo tampak sedang asyik sendiri. Tao dan Kris sedang mengamati peta menuju pos istirahat berikutnya. Sehun dan Luhan sedang membantu Minseok membersihkan senjata.
"Semuanya, dengarkan baik-baik."
Seluruh aktivitas terhenti sejenak, ketika terdengar suara Kris. Kris dan Tao duduk di antara Sehun dan Chanyeol. Mereka menatap Kris dan Tao dalam diam.
"Kami sudah berdiskusi tentang jalur yang akan kita lalui selanjutnya. Monster yang akan kita hadapi selanjutnya bernama The Horn, yaitu ghoul bertanduk kambing yang memiliki tentakel berupa ranting-ranting pohon yang bisa menusuk kalian dari jauh. Pasukannya adalah monster berbentuk anjing. The Horn sangatlah berbahaya, apalagi jika didekati. Kami sepakat untuk mengandalkan senjata-senjata tembak dan lemparan pisau. Sangat tidak dianjurkan untuk melakukan beladiri."jelas Kris.
"Jam 2 nanti kita akan mulai berangkat ke daerah perbatasan hutan dengan tundra. Setelah itu, kita akan mengikuti kata-kata Felle tentang dryad bernama Erphy dan kita tanyakan beberapa hal padanya."lanjut Tao.
"Tetapi, bukankah Felle saja tidak muncul saat kita membutuhkan pertolongannya?"tanya Chanyeol, diangguki Tao.
"Itu benar. Tetapi, tanpanya, kita takkan bisa menang melawan The Fire Axe. Aku percaya bahwa dia tidak membohongi kita. Dryad adalah roh yang suci, dan mereka tak pernah merugikan manusia kecuali jika kita merugikan mereka. Felle pasti punya alasan kenapa tidak muncul saat kita meminta bantuannya."jelas Tao.
"Yang dikatakan Tao benar. Seburuk-buruknya Felle, tetapi ia masih mau membantu kita dengan memberitahu kita tentang padang ilalang itu. Dia juga memberikan gambaran monster-monster yang menghuni hutan ini. Tak ada alasan bagi kita untuk mencapnya jelek."ucap Kris, membuat semua rombongan mengerti.
"Menurut kalian, kapan kita akan sampai pada puncak Kangchenjunga?"tanya Kai.
"Sekitar seminggu lagi. Paling lama 10 hari. Aku memeriksa telepon portable-ku, tetapi tak ada sinyal di sini. Kita tak bisa meminta pertolongan pada orang-orang, dan kurasa kita memang harus berusaha sendiri."jawab Kris.
"Apa persediaan peluru kita cukup?"tanya Lay pada Minseok.
"Cukup untuk 3 kali penyerangan."jawab Minseok.
"Bagus. Semakin minim peluru yang keluar pada pertempuran, semakin baik. Kita akan buat senjata-senjata tajam yang bisa dilembingkan, agar bisa mengenai musuh. Seperti tombak, pisau, atau apapun itu."ucap Kris seraya mengangguk yakin.
"Sebelum pergi, kita buat senjata dulu. Ayo, bekerja!"
-XOXO-
Pegunungan Himalaya, 10 April 2015, 02:56
Kini, mereka tengah sibuk menyelesaikan senjata. Kris dan Tao tengah memotong kayu-kayu dengan pisau, kemudian mengasahnya. Minseok mengajari Jongdae dan Kyungsoo bagaimana menggunakan senjata api dan bagaimana me-reload-nya. Baekhyun membuat semacam set panahan menggunakan karet gelangnya yang tahan tegangan–tidak mudah putus. Chanyeol dan Kai tengah mengasah panah-panah mereka dengan batu-batuan agar tajam. Lay dan Suho tengah mengumpulkan makanan dan air sungai untuk bekal. Sehun dan Luhan tampak sedang membersihkan senjata-senjata kawan-kawan yang lain.
"Apa kalian telah siap?"tanya Kris seraya berdiri–ugh, pinggangnya serasa sakit karena duduk terus.
"Kami sudah siap!"ucap mereka semua dengan mantap.
"Persiapkan senjata kalian. Kita akan mulai berangkat setelah fajar. Isi perut kalian hingga penuh, untuk energi nanti! Jangan sampai lengah!"ucap Kris.
Mereka semua mulai bersiap. Tao tampak tengah bersiap, ketika ia menyadari bahwa dagger kesayangannya tertinggal di area ilalang kemarin. Ia tak mungkin bisa mengambilnya kembali.
"Tao."
Tao menoleh, dan mendapati Kris yang tengah merapikan tasnya tepat di samping Tao. Kris menatap Tao yang kini sedang sedikit kecewa.
"Ada apa?"tanya Kris, lembut.
"A-aku ingin dagger-ku, tetapi ia sudah lebur bersama api kemarin."jawab Tao, dengan wajah yang sedih.
Kris tersenyum menatap Tao. Ia mengeluarkan sesuatu dari balik sakunya. Sebuah pisau biasa. Tao menatap pisau itu dengan tanda tanya.
"Ini takkan bisa menggantikan posisi dagger-mu di hatimu, tetapi kau akan membutuhkannya untuk perlawanan nanti."ucap Kris seakan mengerti Tao.
Tao terdiam. Ia meraih pisau itu. Pisau itu mengkilat, dengan ujung tajam yang sudah diasah sedemikian rupa. Tao mencengkram gagang pisau itu dengan lembut, merasakan debaran hatinya yang tak bisa berhenti.
"Terimakasih."ucap Tao, membuat Kris menoleh dan tersenyum.
"Semangatlah! Hari masih panjang."ucap Kris, dengan wajah yang dapat menentramkan Tao.
Well, perlu diketahui bahwa kini Kris pun ikut berdebar karena pisau pemberiannya digenggam erat oleh Tao–seakan itu adalah benda kesayangan. Siapa, sih, yang tidak senang jika benda pemberiannya yang penuh cinta itu digenggam erat?
-XOXO-
"Lets move out!"
Terdengar pekikan Kris. Rombongan itu mulai berjalan, dengan energi baru dan kekuatan baru. Senjata ada di setiap tangan mereka, siap untuk menyerang.
Kris membelah rumput-rumput tinggi yang menghalangi jalan mereka. Ia juga membantu kawan-kawannya melewati batang-batang pohon besar yang sudah tumbang. Tao pun tak lupa ikut membantu.
"Tao."
Terdengar suara Felle. Tao terdiam, membuat kawan-kawannya semua terdiam. Kris mengisyaratkan agar diam, membiarkan Tao mendengarkan suara-suara di sekitarnya.
"Felle? Dimana kau?"tanya Tao seraya melihat ke segala arah.
"Di belakang Kris."
Tao menoleh ke arah Kris, kemudian menatap pohon tua yang ada di belakangnya. Ia menghampiri pohon itu. Kris memberinya jalan, ikut menatap pohon itu.
"Felle? Oh, syukurlah! Kukira kau takkan muncul lagi!"ucap Tao, dengan nada riang.
"Maaf, Tao. Dryad sangat dilarang untuk muncul pada malam hari. Hari sudah menjelang fajar, barulah aku berani muncul. Dryad sangat peka terhadap cahaya."
"Nde, aku mengerti. Maaf, karena kami telah meragukan saranmu."ucap Tao.
"Tidak apa-apa. Aku mengerti keraguanmu. Sekarang, pergilah ke arah utara. Aku akan menemani kalian hingga perbatasan tundra."
"Terimakasih, Felle. Kau sudah sangat baik pada kami."ucap Tao, dengan senyuman.
"Sama-sama. Semoga berhasil."
Suara Felle tak lagi terdengar. Tao menatap Kris, yang kini sedang menatapnya. Ia menatap rombongannya, kemudian kembali mengangguk.
"Ayo, terus jalan. Kita harus sampai di utara pada siang hari."ucap Tao.
Setelah ia mengucapkan itu, sinar matahari menyembul dari celah daun. Mulai menemani hari panjang mereka.
To be continued!
Hohoho! Akhirnya ada KrisTao kyaaaaaa! Agak awkward juga sih bikin momennya, mengingat kalo mereka lagi terjebak di hutan dalam keadaan antara hidup dan mati wkwkwkwk. But yaaa, suka-suka author /evil smirk. Review yaaaa! Ditungguuuu!
HUANG AND WU
