"Kuperingatkan, Tao."ucap Felle, kali ini dengan nada serius.
Tao menatap Kris, kemudian menatap Felle. Felle menatapnya dengan tatapan serius dan khawatir. Tao tak bisa mengartikannya, tetapi pasti mengandung suatu makna.
.
.
"Berhati-hatilah dalam menyentuh The Golden Chrysoberyl. Jangan ada nafsu saat menyentuhnya, atau kalian takkan selamat."
.
-The Golden Chrysoberyl-
.
.
Chapter 11
Pegunungan Himalaya, 10 April 2015, 06:23
"Nafsu?"gumam Tao.
"Hey! Kalian sudah selesai?"
Terdengar pekikan Zhoumi. Tao dan Kris menoleh, kemudian kembali menatap Felle. Felle menatap tidak suka pada Zhoumi, dan terlihat jelas pada penglihatan Tao. Felle menatap Tao, kemudian menatapnya dengan dalam.
"Berhati-hatilah dengan orang itu. Dia bisa jadi bumerang bagi keselamatan kalian."
Felle berusaha menyampaikan hal itu secara non-verbal pada Tao, melalui tatapan matanya. Tao menangkap arti tatapan itu, lantas mengangguk paham. Dia akan mengingatnya.
"Berhati-hatilah. Keselamatan menyertai kalian."ucap Felle.
CHU
Felle memajukan wajahnya, kemudian mengecup pipi Tao. Tao menatap Felle dengan nanar. Dia takkan bisa melihat Felle lagi, itu artinya ia akan kehilangan satu teman yang berharga lagi. Kris menatap adegan ciuman tadi. Panas menjalari tubuhnya, tetapi ia berusaha memendamnya. Tentu saja, karena Felle mencium Tao hanya sekadar ucapan selamat tinggal, lalu untuk apa ia merasa–ehem–cemburu?
"Selamat tinggal, Tao."
CKREK CKREK
Rongga batang itu kembali menutup, dengan tubuh Felle kembali masuk ke dalamnya. Tao menatap batang itu, lantas mengalihkan pandangannya pada Zhoumi yang kini sedang menatap ke arah tundra. Kris menatap Tao yang sedang menatap tajam ke arah Zhoumi, lantas hendak bertanya.
"Ada apa?"tanya Kris.
"Lebih baik kau tidak tahu, hyung."ucap Tao.
Tao berjalan lebih dulu ke rombongan, kemudian disusul Kris. Kris kembali berjalan bersama Zhoumi, dan Tao berjalan bersama Henry. Henry menatap Tao, yang kini seperti sedang merasa ganjal akan sesuatu. Henry tak bisa tahu apa yang ada di pikiran Tao, tetapi–tentu dengan indigonya–ia bisa mengetahui bahwa Tao sedang berpikir.
"Aku tak tahu apa yang ada di pikiranmu, tapi inderaku merasakan hal-hal ganjal."bisik Henry dengan sangat kecil–ia yakin Tao mendengarnya.
"Jangan katakan pada siapapun."sahut Tao dengan sama kecilnya.
Henry mengangguk. Mereka kembali berjalan, menuju ke tundra yang semakin terlihat dekat seiring langkah mereka.
Kris dan Zhoumi menginjakkan kakinya di atas rerumputan tundra, menatap hamparan padang rumput luas di hadapannya. Udara dingin menyapa mereka, dengan kabut-kabut yang menutupi puncak bukit di sana. Puncak Kangchenjunga masih menjulang di atas, tetapi sudah terlihat dekat dari tempat mereka berdiri.
"Apa The Horn menyerang saat siang hari?"tanya Kris, digelengi Zhoumi.
"Semua ghoul beraksi pada malam hari atau saat matahari tertutup. Selagi matahari masih menembus kabut, kau tak perlu khawatir."ucap Zhoumi.
Mereka pun kembali berjalan. Kris menatap tanah yang sedang ia injak. Lembut dan basah. Tao menatap ke segala arah dengan waspada, sesekali menengok ke arah langit–memastikan matahari masih menyinari mereka.
Mereka terus berjalan. Hutan di belakang mereka berangsur-angsur terlihat mengecil. Kris tak lupa menengok ke belakang, memastikan kawan-kawan mereka masih ada di sana.
"Kami diserang di sana, sekitar waktu menjelang malam."
Zhoumi menunjuk sebuah bukit kecil. Kris meraih sebuah teropong, kemudian melihatnya. Tampak tanah yang sudah rusak, dengan rerumputan yang sudah hancur. Bekas gesekan merajalela, dengan bercak-bercak kemerahan yang terlihat jelas dari jauh.
"Pertarungan yang brutal, I guess."ucap Kris, diangguki Zhoumi.
"Kawan-kawanku yang ceroboh mendekati ghoul itu. Ranting-ranting tajam ghoul itu langsung menusuk kedua kawanku, kemudian merobek tubuhnya. Kami bertarung sebisa kami, mengandalkan peluru dan beberapa batuan tajam. Tetapi, kami tak punya pasokan peluru lagi. Kami pun menyusun strategi baru dan memilih untuk kembali ke perbatasan."ucap Zhoumi.
"Bukankah jika kau diserang ghoul, maka ghoul itu akan membawa salah satu dari kawan-kawanmu?"tanya Kris, dideliki Zhoumi.
"Dia belum mengambil salah satu dari kami. Dari 3 ghoul yang kami temui, baru 2 yang mengambil kawan kami. The Horn belum mengambil apapun."ucap Zhoumi.
Berarti akan ada satu yang diambil nanti; batin Kris. Kris menengok ke arah Tao, membuat Tao menatapnya. Kris menyampaikan sesuatu lewat matanya, membuat Tao diam mengerti. Tao menengok ke belakang, lantas terpekik kecil.
"K-kris hyung."gumam Tao, dengan wajah ketakutan.
Kris terheran-heran, lantas bertukar posisi dengan Henry. Ia berdiri di samping Tao, kemudian menggenggam tangannya. Tao mendekap lengan Kris dengan gemetar, kemudian mengeratkan cengkramannya pada tangan Kris.
"K-kris hyung."gumam Tao, membuat Kris bingung ada apa.
"Ada apa? Kenapa kau jadi lemas begitu?"tanya Kris.
"A-aku melihat cahaya kuning lagi."ucap Tao, membuat Kris terdiam.
Kris menyadari apa arti cahaya kuning itu–Tao pernah menjelaskan padanya tentang keberadaan cahaya kuning pada seseorang, saat mereka masih di karantina. Kris menatap Tao dengan serius.
"Kali ini, siapa?"tanya Kris.
"Hiks hiks."isak Tao, kemudian menoleh ke belakang.
Kris mengikuti arah pandang Tao. Ia tak menemukan sesuatu–tentu saja tak akan. Tapi, lain dengan Tao.
Dia melihat cahaya kuning. Lagi.
Dan kali ini, ada 3 cahaya kuning sekaligus.
-XOXO-
Mereka terus berjalan, seiring angin tundra yang semakin menggelitik indera peraba mereka. Mereka mengeratkan jaket dan mantel mereka, berusaha menahan dingin yang memenuhi sekitar.
Tao berjalan, dengan Kris di sampingnya. Kris menatap Tao dengan khawatir. Pasalnya, Tao belum memberitahu siapa saja pemilik cahaya kuning tadi. Terlalu takut, mungkin?
"Bicara saja padaku."ucap Kris, digelengi Tao.
"Kalau aku berbicara pun percuma, karena takkan ada yang bisa mencegah kematian mereka."ucap Tao, disenyumi Kris.
"Justru agar aku lebih siap dengan kematian mereka."ucap Kris.
Tao menatap Kris dengan pupilnya yang bergetar. Kris melembutkan pandangan dan melebarkan senyumnya. Tao memang sulit untuk dibujuk, tetapi tak ada salahnya untuk membujuknya agar membuka mulut.
"Aku hanya akan memberimu clue. Aku tak ingin memberitahumu kebenarannya, karena aku hanya terlalu takut, hyung."ucap Tao, diangguki Kris dengan maklum.
"Baiklah. Clue yang penting."ucap Kris.
Tao mendekatkan dirinya pada Kris, kemudian menatapnya. Kris mengeratkan genggamannya pada tangan Tao–memberinya keyakinan. Tao tidak pernah merasa yakin, tapi kali ini Kris berhasil membangkitkan rasa yakinnya untuk membuka suara.
"Clue-nya adalah.. mereka pergi mencari harta yang ada di puncak gunung ini."
Kris terdiam. Dalam hatinya, ia merasa janggal. Clue macam apa itu?; batinnya. Tao menunduk, kemudian kembali menatap Kris yang sedang berpikir keras. Dia ingin sekali memberitahu Kris tentang korban mereka selanjutnya, tetapi ia hanya tidak siap.
Ia hanya takut kalau Malaikat Maut mendengarnya.
Tidak. Lebih sedikit yang tahu maka akan semakin baik, itulah yang ada di pikiran Tao. Kris menatap Tao dengan pancaran penuh kebimbangan. Tao tak bisa mengelaknya. Kris pasti akan berusaha keras untuk mengetahui arti dari clue itu.
"Aku sama sekali tak punya ide apa-apa tentang clue itu."ucap Kris, membuat Tao tersenyum getir.
"Clue ini menujukkan ketiga orang ini. Kau pun akan tahu nanti, hyung."ucap Tao lirih.
"Tidak bisakah kau memberiku clue lain yang lebih jelas?"tanya Kris, digelengi Tao.
"Semakin sedikit yang kau ketahui akan menjadi semakin baik, hyung."ucap Tao, dengan senyuman getir.
Kris terdiam, lantas mengangguk. Zhoumi–tak sengaja–menangkap pembicaraan mereka, kemudian berbicara dengan Henry yang ada di sebelahnya.
"Apa kau juga bisa melihat pemilik-pemilik cahaya kuning itu?"tanya Zhoumi dengan berbisik.
"Aku tak bisa melihat setajam itu. Tao memiliki kemampuan yang selalu dilatih. Aku tak pernah melatih diriku."ucap Henry.
"Kau bisa membaca pikirannya tentang siapa saja korbannya?"tanya Zhoumi, kali ini semakin pelan.
"Tidak. Sangat samar."ucap Henry.
Zhoumi menghela nafas pelan. Henry terdiam. Dia tak mau berbicara terlalu banyak.
Kalau saja Zhoumi tahu bahwa Tao bisa mendengar ucapan mereka dengan sangat jelas, mungkin ia takkan mulai bertanya pada Henry.
-XOXO-
Pegunungan Himalaya, 10 April 2015, 08:45
Rombongan Kris dan Zhoumi sudah berjalan lebih dari 3 jam. Mereka menyusuri padang rumput itu dengan waspada. Zhoumi benar. Tak ada pohon di sana, menyulitkan pertempuran mereka nanti.
"Huh, hari sudah semakin siang tetapi udara sangat dingin."gumam Baekhyun, kemudian menggosok-gosok kedua tangannya.
"Kau kedinginan?"tanya Chanyeol, diangguki Baekhyun.
"Aku tak terbiasa dengan cuaca dingin. Kalau di asrama militer, aku biasanya akan mengatur AC di ruangan agar suhu tidak terlalu dingin."ucap Baekhyun.
Chanyeol mendapati wajah pucat Baekhyun. Hmm, namja manis itu benar-benar kedinginan rupanya. Chanyeol terdiam, kemudian senyum tersungging.
"Pegang ini."ucap Chanyeol seraya menyodorkan pistolnya.
"Eh? Untuk apa?"tanya Baekhyun.
Chanyeol menggenggam tasnya, lalu dengan satu tangan ia melepas mantel panjangnya. Well, mantel itu–sebenarnya–berwarna biru toska, tetapi kemudian karena sudah sangat kotor dan dipenuhi debu dan darah, akhirnya menjadi warna cokelat tua–seperti mantel-mantel era 1800-an.
"Here."ucap Chanyeol seraya menyodorkan mantelnya.
"I-ini apa?"tanya Baekhyun.
"Ini mantel."jawab Chanyeol dengan wajah konyol.
"Ma-maksudku–"
Belum selesai Baekhyun bicara, Chanyeol memakai tasnya lagi. Ia kemudian merebut pistolnya dari tangan Baekhyun, kemudian menaruh mantelnya di tangan Baekhyun yang tadi memegang pistol. Baekhyun masih belum connect dengan apa yang Chanyeol lakukan.
"Kukira kau kedinginan. Kenapa tak kau pakai?"tanya Chanyeol dengan heran.
"Ka-kau ingin aku.. memakai ini?"tanya Baekhyun dengan nada tergagap.
Chanyeol mengangguk polos. Baekhyun mengerjap, sejurus kemudian muncul rona merah pada pipinya. Ia menunduk malu. Chanyeol terkekeh melihat reaksi Baekhyun yang sungguh manis. Baekhyun tersenyum malu-malu, kemudian mengangguk singkat–sebagai ungkapan terimakasihnya.
"Sama-sama."ucap Chanyeol, menyadari arti dari anggukan Baekhyun.
Baekhyun mendongak, menatap tubuh tinggi yang kini sedang menatap ke segala arah. Ia menatap tubuh Chanyeol yang tidak terselimuti mantel. Apa Chanyeol takkan kedinginan? Bagi Baekhyun, udara tundra benar-benar membuatnya beku.
"Jangan menatapku seperti itu. Pakai mantelnya."
Baekhyun membelalak, ketika mendapati Chanyeol yang membuka suara, tetapi tidak menatapnya. Baekhyun menunduk malu–ia ketahuan sedang mengamati seseorang, dan itu sangat memalukan.
Dengan malu-malu, Baekhyun memakai mantel itu di bagian depan tubuhnya. Bisa ia rasakan hangatnya bulu-bulu wol yang sudah kusam itu memenuhi tubuh mungilnya. Mantel Chanyeol sangatlah besar, bahkan ujung mantelnya saja hampir sebetis Baekhyun. Lengannya pun besar, membuat lengan kecil Baekhyun tampak sangat mungil.
Melihat Baekhyun yang sangat manis, membuat Chanyeol tak bisa menahan tawanya.
-XOXO-
Hari semakin siang, tetapi suasana tetap saja berkabut. Bahkan, kabut serasa semakin tebal, seiring dengan hawa panas dan hawa dingin yang menyatu.
Tao menyadari bahwa itu bukanlah pertanda baik.
"Semakin siang, hari semakin berkabut."gumam Tao.
"Zhoumi juga bercerita kalau ia diserang pada siang hari. Mungkinkah di dekat waktu ini?"tanya Kris, dideliki Tao.
"Kurasa kita harus waspada."
BUGH BUGH BUGH
Terasa bahwa tanah di bawah mereka berguncang. Mereka semua–spontan–berhenti berjalan. Kris dan Tao bersiap dengan senjata mereka, begitu pun yang lainnya. Tao memejamkan matanya, merasakan kehadiran hawa-hawa negatif di sekitarnya.
"Hihihihihi."
"GRAAAAAAAWWWWW!"
Tao terdiam. Dia mendengar suara-suara itu. Tak sengaja, tatapan Henry dan Tao saling bertemu. Raut wajah Henry juga sama khawatirnya.
"Kau juga mendengarnya?"tanya Tao, diangguki Henry.
Tao mempersiapkan pistol dan pisaunya, kemudian menatap kawan-kawannya. Ia memusatkan perhatian pada pemilik 3 cahaya kuning itu, yang kini sedang menatap sekeliling dengan penuh kewaspadaan.
Tao bermaksud untuk melindungi mereka, selagi ia bisa.
"Tao."
Tao menoleh, ketika mendengar suara Kris. Kris menepuk pundaknya, kemudian menatap sekeliling dengan seksama. Tanah di bawah mereka semakin bergetar, seakan sesuatu berjalan di bawah mereka.
"Ada yang tidak beres di bawah sini."ucap Kris seraya menatap ke kakinya.
Tao juga merasakan hal yang sama. Ia pun mendudukkan dirinya ke tanah. Dengan kedua senjatanya, ia pun menaruh kepalanya ke tanah–berusaha mendengar suara-suara yang merambat melalui media tanah.
"GRAAAAAAAAWWWW!"
"LARI!"
Tiba-tiba, terdengar suara auman dari bawah mereka. Tao langsung bangkit, kemudian berlari secepatnya. Mereka semua mengikuti Tao, berusaha menghindari area yang tadi Tao lihat.
BRUAGH!
Sesuatu muncul dari tanah. Sesuatu yang runcing dan tajam, seperti semacam pohon-pohon. Tao berhenti berlari, kemudian menatap benda itu. Ia terperangah.
"What the hell is that?"gumam Tao.
"TAO! LARI!"terdengar pekikan Suho.
Tao segera mengikuti perintah itu. Ia melanjutkan larinya, tetapi sesekali menengok ke belakang. Muncul sesuatu dari bawah pohon-pohon itu. Sebuah tubuh.
Kedua pohon yang tadi muncul itu pun menyatu di bagian bawahnya, kemudian muncul seberkas punggung makhluk aneh. Punggung itu menegak, dengan tubuh yang perkasa dan besar. Tao membelalak.
The Horn.
Ghoul itu bermata merah, dengan tanduh setan di kepalanya. Giginya yang runcing menyembul ke luar mulutnya yang seperti moncong. Tangannya seperti elang, dengan ekor di bagian belakang tubuhnya.
"GRAAAAAAAAAAWWWWW!"
SLASH!
Ghoul itu mengaum. Ia memanjangkan tentakel rantingnya, berusaha mencapai kawan-kawannya.
CRASH!
"AAAAAAAAAAAA!"
"AMBER!"
Tao menengok ke arah Amber, yang kini tubuhnya sudah dililit dan ditusuk-tusuk oleh ranting tajam The Horn. Cahaya kuning di belakang tubuh Amber semakin menyala-nyala.
CRASH!
"KYAAAAAAAA!"
Terdengar pekikan Krystal, seiring dengan kejadian dimana tubuh Amber berubah menjadi potongan-potongan daging. Darah menyebar di mana-mana. Tao menatap tidak percaya pada apa yang ia lihat.
"Ya Tuhan."gumamnya.
"TAO! AWAS DI DEPANMU!"
Terdengar pekikan Kris. Tao menatap ke depan. Matanya membelalak sempurna.
Beberapa meter di hadapannya, ada monster anjing yang merupakan pasukan The Horn. Monster itu juga berlari ke arah Tao. Tao tidak bisa menghentikan larinya–karena The Horn mengejarnya di belakang. Tapi, ia juga harus menghindari monster itu.
Hanya ada satu cara.
WUSH!
"HIYAAAAAAAHHH!"pekik Tao, seraya mengayun di udara.
CRASH!
Dengan pisaunya, ia–tanpa takut–menusuk kepala monster anjing itu. Ia juga menekan pisau itu agar terus menancap di situ. Terdengar lenguhan kesakitan dari monster itu, tetapi Tao tidak peduli. Tubuh monster itu pun ambruk ke tanah.
BRUK!
SRET!
Tao mendarat menggunakan kedua kakinya, kemudian meluncur menuruni perbukitan itu. Kawan-kawannya sudah mendekati perbatasan hutan, tetapi ia masih jauh di belakang.
BUGH!
Tubuh Tao terantuk batu, kemudian terhenti di situ. Ia menatap horor pada ranting-ranting tajam yang siap menyerbunya. Tao memejamkan matanya dengan sangat takut.
"TAO!"
SREK! SREK!
Tao membuka matanya, kemudian menatap ranting-ranting itu. Matanya membelalak sempurna, karena ranting-ranting itu berhenti beberapa senti dari wajahnya! Ranting-ranting itu berusaha menggapai Tao, tetapi Tao tahu bahwa mereka sudah mencapai panjang maksimal.
"Terima ini!"pekik Tao.
DOR! DOR!
Tao menembakkan pistolnya ke arah ranting-ranting itu–lebih tepatnya pada 'mulut' yang ada di ranting-ranting itu. 'Mulut' itu mengaum keras, tetapi kemudian tembakan Tao berhasil melumpuhkannya.
"TEMBAK!"
Tao menengok ke belakang, ketika mendengar suara pekikan Kris. Tampak kawan-kawannya, dengan senapan, pistol, dan panah yang siap untuk ditembakkan.
DOR! DOR! DOR!
Suara tembakan menggema di situ. Tao menatap tubuh The Horn yang ada di atas bukit sana. Ia tampak kesakitan, dengan tembakan-tembakan itu.
"GRAAAAAAAAWWWW!"
SLASH!
The Horn menarik tentakelnya lagi. Tao bangun dari duduknya, menatap tentakel-tentakel itu dengan waspada.
SLASH!
"Oh, shit!"pekiknya.
DUAGH!
.
.
TO BE CONTINUED!
ALOHAAAAAA! LONG TIME NO SEE! Akhirnya bisa update jugaaa, i'm so sorry :" sibuk banget asli dari Mei sampe Juni kemarin tuh dan gak sempet revisi revisi revisi dan voila! Baru sempet sekarang huhu
Jangan lupa direview dan favorit ya guys! Itu membantu banget, lho!
HUANG AND WU
