Suara tembakan menggema di situ. Tao menatap tubuh The Horn yang ada di atas bukit sana. Ia tampak kesakitan, dengan tembakan-tembakan itu.
"GRAAAAAAAAWWWW!"
SLASH!
The Horn menarik tentakelnya lagi. Tao bangun dari duduknya, menatap tentakel-tentakel itu dengan waspada.
SLASH!
.
-The Golden Chrysoberyl-
.
.
Chapter 12
Pegunungan Himalaya, 10 April 2015, 07:54
Tao melompati batu yang tadi menahan luncurannya, dan sepersekian detik kemudian The Horn sudah menghancurkan batu itu dengan tentakelnya yang kembali memanjang. Tao terus berlari menjauh, mencapai kawan-kawannya.
"Tao!"terdengar pekikan Suho.
DOR!
Tampak Suho, menembak ke arah Tao. Tao segera mengelak dari tembakan itu. Peluru yang tadi Suho lontarkan pun melewati sisi samping kanan kepala Tao.
BUGH!
Tao menengok ke belakang, kemudian mendapati seekor monster anjing yang sudah ambruk ke tanah. Tao terus berlari, hingga tinggal beberapa meter dari kawan-kawannya.
BUGH!
Tubuh Tao pun menabrak tubuh Suho, yang sudah bersiap untuk mengerem larinya. Tao terduduk di tanah, dengan peluh menetes. Suho mendekap Tao erat, merasakan adik angkatnya yang sudah selamat.
"Ayo, kita berjuang."
Mereka pun bangun, kemudian membantu kawan-kawan yang lain yang sedang membidik dan menembak monster-monster itu. Tao mengeluarkan pistolnya, kemudian ikut menembak.
"Kris!"
Kris menoleh, ketika mendengar pekikan Luhan. Luhan–yang masih sibuk menembaki monster itu–menatap Kris dengan wajah kotornya.
"Ganti taktik! Kurasa kita harus melumpuhkan The Horn dulu, baru menyerang pasukannya!"pekik Luhan.
"Kau benar!"
Kris segera mencari akal. Tatapannya tertuju pada rocket launcher yang tergantung di punggung Minseok, yang kini sedang menembaki monster-monster yang mendekati mereka.
"Minseok!"
Minseok menoleh, kemudian mendapati sinyal dari Kris yang menunjuk-nunjuk rocket launcher-nya. Minseok mengangguk, kemudian mempersiapkan diri.
"Kyungsoo, cover me!"
Kyungsoo pun mengisi spot yang tadi digunakan Minseok untuk menembak, kemudian menembaki monster-monster itu. Minseok me-reload rocket launcher-nya, kemudian mempersiapkannya.
"Semua, merunduk!"
Mereka semua menengok sekilas, kemudian mendapati Minseok yang tengah membidik The Horn. Mereka semua menunduk, sementara monster-monster itu semakin mendekat.
SLASH!
Misil dari rocket launcher itu pun ditembakkan. Misil itu melewati tentakel-tentakel ranting The Horn yang berusaha menghalanginya, tetapi kemudian terus mendekat dan mendekati The Horn.
DUAR!
Terdengar suara ledakan. Mereka semua kembali bangun, kemudian mendapati tubuh The Horn yang sudah terbakar sempurna. Tentakel-tentakelnya yang terbuat dari kayu pun menjadi mudah terbakar.
"Tembak lagi!"perintah Kris.
Minseok segera me-reload rocket launcher-nya, kemudian membidiknya lagi. Kali ini, ia membidik mulut dari The Horn. Ia berusaha fokus. Mereka semua pun kembali merunduk.
SLASH!
DUAR!
Misil dari rocket launcher itu mengenai wajah The Horn dan membakarnya. Api mulai memenuhi tubuh itu. The Horn mengerang kesakitan yang luar biasa.
"Habisi mereka semua!"pekik Kris.
Mereka semua segera berjalan lagi, perlahan-lahan. Pistol dan senapan menembak monster-monster anjing yang mendekat.
SLASH!
CRASH!
SLASH!
CRASH!
Tampak Baekhyun, dengan panahannya. Ia membidik monster-monster itu dengan membabi-buta. Sesekali, ia mengambil panahnya lagi yang menancap pada tubuh monster, untuk kembali dibidik ke monster lain.
CRASH!
DUAGH!
Kris menggunakan kedua pedangnya. Ia menusuk monster-monster itu dengan sadis, kemudian kembali mengambil pedangnya. Sesekali, ia menyabet tubuh monster-monster itu, sehingga organ tubuhnya menjadi berceceran. Darah terus saja memuncrati tubuhnya, tapi ia seakan tidak peduli.
CRASH!
"KYAAAAAAA!"
"WENDY!"
Terdengar suara sesuatu digigit, kemudian disusul teriakan melengking. Zhoumi tampak panik, kemudian mendekati anggota kelompoknya yang tengah digigit. Ia pun meneriaki nama anggotanya itu, yaitu Wendy.
BUGH!
"GRAAAAAAAAAAWWWW!"
Tubuh Zhoumi dihempas dari depan oleh monster anjing lain, membuat tubuh itu berhadapan langsung dengan wajahnya.
CRASH!
Zhoumi berusaha menahan gigitan monster itu, dengan menjadikan senapannya sebagai penahan. Monster itu menggigit senapan Zhoumi, berusaha menyingkirkannya. Zhoumi tak bisa melukai monster itu, karena senjatanya sudah menjadi tameng baginya dan tak bisa digunakan. Darah yang menetes dari mulut anjing itu pun mengenai wajah Zhoumi.
CRASH!
Zhoumi terdiam, ketika tiba-tiba ujung sesuatu yang tajam tiba beberapa senti dari wajahnya. Kepala monster itu tertusuk dari belakang. Zhoumi mendorong tubuh monster itu, berusaha menyingkirkannya dari tubuhnya. Ia pun mendongak.
Tampak Henry, yang tengah mencabut samurainya dari monster tadi.
Zhoumi menatap tubuh Wendy, yang kini sudah dicabik-cabik oleh beberapa monster. Henry ingin sekali menangis. Zhoumi segera menarik tangan Henry, untuk menjauh dan berlari terus. Tak ada yang bisa mereka lakukan.
Tao terdiam. Dia teringat sesuatu. Dia segera membelalak, ketika menyadari bahwa masih tersisa satu cahaya kuning lagi yang masih berkeliaran.
"Kris hyung! Lindungi Krystal!"
Tao memekik. Kris menoleh, kemudian mengangguk. Kris segera menghampiri Krystal, yang sedang bersusah payah menghindari monster-monster itu. Krystal mendapati Kris, kemudian merasa terbantu.
Tao menatap tubuh The Horn yang beberapa meter di depan. Tubuh itu masih hidup, dengan api yang merambatinya. Hanya saja, pergerakannya lemah. Tao mempersiapkan pistolnya.
Ia melangkah dengan cepat, mendekati The Horn. Beberapa monster mendekatinya, tetapi kemudian ada Kai dan Chanyeol yang sudah menembakinya. Tidak takut mati, itulah kata-kata yang pantas disematkan pada Tao.
DRAP DRAP
Tao menaiki tentakel-tentakel ranting The Horn yang melemas. Ia berlari mendekati The Horn, dengan pistol tersiap di tangannya. Tatapannya terpaku pada mulut The Horn. Ada sesuatu yang menggumpal di dalam mulut itu. Mungkinkah nyawa The Horn?
Tao berhenti di depan wajah The Horn. Api ada di sekitarnya, tetapi Tao tidak peduli dengan rasa panasnya. Ia menodongkan pistolnya, membidik mulut monster itu dari dekat.
"Rasakan ini."gumam Tao.
DOR! DOR! DOR! DOR!
Tao menembaki mulut The Horn dengan membabi-buta. Monster itu tampak menggeliat kesakitan, tetapi Tao tak berhenti menembakinya hingga peluru terakhir.
WUSH!
Terdengar suara sesuatu yang kempis. Segumpal asap keluar dari mulut The Horn. Tao menatap asap yang terus terbang ke langit itu. Ia menembaki bagian tubuh yang tepat.
"Habisi pasukannya!"pekik Tao kepada kawan-kawannya.
DOR! DOR!
Mereka semua menembaki monster-monster anjing itu dengan brutal. Kris bahkan semakin sadis dalam membunuh anjing-anjing itu–ia terkadang membelah dua tubuhnya, menebas kepalanya, ataupun menyabet kulitnya hingga organ-organ tubuhnya berceceran. Tao mengawasi Krystal, yang kini sedang dilindungi oleh Kris.
"Terus jalan!"pekik Zhoumi.
Mereka pun berjalan terus, menuju ke bagian atas tundra. Monster-monster itu semakin berkurang, dan Tao merasakan rasa senang karena akhirnya mereka akan menang lagi.
Tetapi sepertinya, hanya kesenangan sesaat.
SRING!
CKREK CKREK CKREK
BUGH!
"KYAAAAAAAAAAAA!"
SRING!
"Hah!"pekik Tao, ketika ia baru saja mendapat penglihatan.
Tao menatap kawan-kawannya, yang masih sibuk melawan monster-monster anjing itu. Tao langsung gemetar ketakutan. Tampak Kai dan Kyungsoo menghampirinya–mereka menyadari keterdiaman Tao.
"Ada apa?"tanya Kyungsoo, dengan nada khawatir.
"PERGI DARI SINI!"pekik Tao.
Tao langsung berlari menjauhi monster itu, menuju atas bukit. Mereka yang mendengar pekikan Tao pun segera mengikuti kata-kata Tao. Tao terus berlari, mengikuti penglihatan-nya.
CKREK CKREK
Terdengar suara-suara. Kris dan Krystal yang sedang berlari, menatap tanah yang ada di bawah mereka. Sedetik kemudian, Kris langsung menarik tangan Krystal, menjauhi tanah itu.
Tanah itu retak!
BUGH!
Terdengar suara sesuatu terjatuh. Tao menengok ke belakang, kemudian matanya terbelalak sempurna. Wajahnya berubah panik. Ia menatap kawan-kawannya.
"Cepat! Cepat! Tanah ini akan runtuh!"
Mereka semua mempercepat larinya. Tao menatap Kris dan Krystal yang sedang berpegangan seraya menjauh. Cahaya kuning di belakang tubuh Krystal semakin jelas dan jelas, tetapi anehnya Tao belum merasakan kehadiran Malaikat Maut.
BUGH! BUGH!
Tanah itu bergerak sangat cepat. Tanah itu semakin mendekati mereka dan akan segera menelan mereka. Suho dan Lay sampai di belakang punggung tubuh Tao lebih dulu, disusul kemudian Zhoumi dan Henry. Lalu ada Kai dan Kyungsoo, dengan Kyungsoo di gendongan punggung Kai.
BUGH!
"BAEKHYUN!"
Terdengar pekikan Chanyeol yang panik. Kaki Baekhyun tersandung batu tadi. Sehun dan Luhan yang berlari di belakangnya pun segera membantu Baekhyun berlari.
Sehun dan Luhan berlari di belakang Baekhyun, memastikan kalau Baekhyun sudah bisa berlari lagi walau kakinya pincang. Chanyeol berhenti sejenak, kemudian menggendong Baekhyun ala bridal style. Ia pun kembali berlari.
BUGH! BUGH!
CRASH!
"KYAAAAAAAAAAAA!"
"SEHUN! LUHAN!"
Terdengar pekikan Kyungsoo dan Lay. Tubuh Sehun dan Luhan yang tadi berlari di belakang Baekhyun sudah tak tampak lagi.
Mereka tertelan ganasnya tanah itu.
"SEHUN! SEHUN!"
Kai berteriak dengan ketakutan. Kawannya baru saja terjatuh, dan tak ada yang bisa mereka lakukan sekarang. Tao menatap Kris dan Krystal, yang masih berusaha untuk berlari mendekati mereka.
BUGH! BUGH!
DUAGH!
"KRYSTAL!"terdengar pekikan Kyuhyun.
Kris mendapati bahwa genggaman tangan Krystal sudah tak terasa. Ia menengok, kemudian mendapati tubuh Krystal yang meluncur ke arah jurang itu. Ia tak bisa mengerem tubuhnya sendiri.
"Krystal!"
Kris berlari menghampiri Krystal, yang kini sedang menyodorkan tangannya agar Kris bisa meraihnya. Nafas Tao tercekat.
Kris takkan sampai menggapai tangan Krystal.
BUGH!
Muncul retakan di bawah kaki Kris. Kris berhenti bergerak. Krystal tampak sudah sampai di ujung jurang, kemudian tangannya berusaha menaiki tanah itu–menahan tubuhnya agar tidak terjatuh. Krystal menatap Kris, yang kini sedang terdiam–sekali Kris bergerak maka tanah itu akan runtuh.
"Pergi! Pergi! Jangan selamatkan aku!"
Kris menoleh, ketika mendengar suara Krystal. Wajah Krystal tampak sudah penuh dengan keputusasaan. Ia menatap Kris dan kawan-kawan dengan sayu. Senyum paksa terukir di bibirnya.
"Aku akan menyusul Amber eonnie!"
"TIDAK!"
Dan tubuh itu pun menjatuhkan dirinya sendiri ke jurang.
-XOXO-
Mereka semua sedang beristirahat sekarang, tepat di samping tanah amblas tadi. Tak henti-hentinya Kai memanggil-manggil nama Sehun dengan pilu, merasa ketakutan akan sahabatnya itu.
Tao duduk menjauh dari mereka, hendak menenangkan diri sendiri. Ia duduk di balik sebuah batu. Ia tak mengerti. Hanya ada 3 cahaya kuning yang ia lihat, tetapi kenapa Sehun dan Luhan juga ikut menjadi korban?
"Tao."
Tao menoleh, kemudian mendapati Kris dengan sebotol air mineral. Kris duduk di samping Tao, kemudian menatap wajahnya. Ia mendapati jejak air mata di wajah yang kotor itu.
"Minumlah."
Kris menyodorkan botol air mineral itu. Tao menerimanya, kemudian meminumnya dalam sekali teguk. Rasa segar air mineral membuat nyawanya serasa kembali hidup.
"Terimakasih."
Tao menaruh botol itu di tanah, lantas kembali mendekap lututnya yang ditekuk. Kris menatap wajah Tao yang tampak kosong, sejurus kemudian menghela nafas.
"Mereka pergi mencari harta yang ada di puncak gunung ini. They wend to search some treasures on the top of mountain. The treasures are golden chrysoberyl, some crystal rocks which are amber-coloured. Clue yang sangat jelas."gumam Kris, mengingat clue tentang 3 korban lainnya yang waktu itu Tao beritahu.
Tao tersenyum getir. Kris menatap wajah Tao yang kotor. Tao tampak sangat kacau sekarang, tetapi Kris menyadari bahwa Tao memiliki kemampuan dan keberanian yang sangat luar biasa. Kris menggenggam tangan Tao, membuat namja itu menengok. Ia–seakan–tahu isi pikiran Tao.
"Apa kau sudah meramalkan kematian Sehun dan Luhan?"
Tao menoleh. Kris menatapnya dengan pandangan serius. Tao menundukkan wajahnya. Kini, dia duduk dengan kaki bersila. Ia menyender pada batu yang ada di belakangnya, sejurus kemudian air mata kembali mengaliri wajahnya.
"Hiks, tidak. Aku tidak melihat cahaya kuning di belakang punggung mereka. Tetapi, kenapa mereka juga diambil? Apa cahaya kuning mereka tidak terlihat?"gumam Tao, dengan nada pilu yang menggetarkan.
Kris merangkul tubuh Tao, membawanya dalam dekapan yang hangat. Tao menyamankan dirinya dalam dekapan Kris. Bisa ia rasakan detak jantung yang terdengar mantap dalam dada Kris–detak jantung yang terdengar indah.
"Kurasa aku tahu."
Tao mendongak, kemudian mendapati Kris yang sedang menatapnya. Kris mengangkat tangan kanannya, kemudian menyeka air mata pada pipi kiri Tao. Kris merapikan rambut Tao yang berantakan, dan sesekali menghapus noda tanah pada wajah itu.
"Sehun dan Luhan tidak akan mati. Mereka hanya terjatuh."
-XOXO-
Pegunungan Himalaya, 10 April 2015, 09:11
Kini, mereka semua bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Kabut masih menutupi cahaya matahari, menambah kesan sejuk pada tundra itu.
Mereka semua sudah bersiap, kecuali Tao yang terus menatap ke bawah jurang.
Ia mengkhawatirkan Sehun dan Luhan. Ada sisi dirinya yang mengatakan bahwa mereka masih hidup, seakan ia bisa merasakan nafas mereka. Tao mencengkram dada bagian jantungnya. Bahkan jantungnya sendiri meyakinkan dirinya bahwa Sehun dan Luhan masih hidup.
"Tao."
Tao menoleh, ketika mendapati Henry. Henry berdiri di sampingnya, kemudian menatap wajah Tao yang tampak dirundung duka. Henry sudah bisa menebak apa yang membuat Tao seperti itu, mengingat tadi kawan-kawan yang lain juga membicarakannya.
"Kalau kau merasa yakin tentang Sehun dan Luhan yang masih hidup di bawah sana, buat apa kau khawatir? Kita akan terus berjalan menuju puncak gunung, syukur-syukur di tengah jalan bisa bertemu Sehun dan Luhan."jelas Henry, membuat Tao menghela nafas.
"Tapi kemungkinan untuk bertemu kembali itu.. kecil sekali."ucap Tao, dengan nada yang sedih.
"Kita akan bertemu kembali dengan mereka. Aku janji."ucap Henry.
Tao tersenyum getir, kemudian mengangguk. Sekali, ia menatap tanah yang ada di seberang mereka. Sudah terlalu banyak hal buruk yang mereka alami, dan mereka masih akan mengalaminya lagi. Tao terdiam.
Sekarang, hanya dirinya dan Henry yang bisa diandalkan. Atau mungkin, hanya dirinya saja?
-XOXO-
Jauh di dasar jurang sana, dua tubuh teronggok di atas tanah. Tubuh mereka penuh dengan darah dan tanah–bahkan darah mengaliri kepala mereka. Salah satu tubuh bergerak, berusaha bertahan dari rasa sakit yang menyerang.
"Lu.. ahhh."ucapannya terputus, ketika rasa sakit mulai menggerogoti tubuhnya.
Tangannya yang bergetar berusaha bangkit, menumpukkan segala kekuatannya. Ia menengokkan kepalanya dengan susah payah, mendapati seorang namja lain yang terbaring beberapa langkah di depannya. Tubuh itu tak bergerak.
"Lu.. Luhan..."panggilnya, dengan nada lirih.
Ia berusaha menarik tubuhnya, menyeretnya ke arah tubuh itu. Perlahan, kepala itu menengok. Wajah Luhan menatap Sehun yang berusaha menghampirinya, dengan luka memenuhi sekujur tubuhnya.
"Se.. Sehun..."ucapnya, dengan nada yang sangat lirih.
Darah mengalir dari wajah Luhan. Sehun semakin menyeret tubuhnya, dan akhirnya berhenti di samping tubuh Luhan. Luhan mengangkat tangannya dengan susah payah, menggenggam tangan Sehun yang berdarah-darah.
"Ka-kau tidak.. apa-apa?"tanya Sehun dengan susah payah.
"Ka-kakiku.. lemas..."jawab Luhan, dengan air mata mengaliri wajahnya.
Sehun memajukan wajahnya, mengecup pucuk kepala Luhan dengan lembut. Sehun berusaha berdiri. Ia meraih dinding jurang itu, kemudian menumpukan tubuhnya dan terus berusaha untuk berdiri. Ia berdiri dengan kakinya yang cukup bergetar.
"Ayo. Kita.. harus menyusul.. kawan-kawan."ucap Sehun, kemudian membantu Luhan berdiri.
Luhan melingkarkan tangannya pada leher Sehun, kemudian bertumpu dan berusaha bangun. Sehun mengangkat tubuh Luhan dengan segenap kemampuannya, melupakan rasa sakit yang menusuk-nusuk tubuhnya. Sesekali, Luhan mengerang sakit, ketika dirasa tubuhnya yang seakan tertusuk dari dalam.
Setelah Luhan berdiri, Sehun pun melangkah sekali. Langkahnya terasa berat, tetapi ia tahu bahwa mereka tak boleh berdiam di jurang itu. Ia menumpukan tubuhnya pada dinding jurang.
"Ambil.. senjata itu."ucap Sehun, seraya menunjuk sebuah senapan di situ.
Luhan merentangkan tangannya, kemudian mengambil senapan itu dengan susah payah. Sehun memegangi satu tangan Luhan, kemudian kembali membawanya berjalan. Sungguh, kaki kanan Luhan serasa mati rasa dan tertusuk dari dalam.
"Sakit..."gumam Luhan, lirih.
"Ada aku di sini.. Bertahanlah..."sahut Sehun.
Mereka berjalan menyusuri dasar jurang itu, berharap menemukan jalan untuk naik ke atas. Luhan berusaha berjalan dengan kedua kakinya, tetapi kaki kanannya tak mau bertumpu pada tanah.
SREK SREK SREK
Sehun berhenti berjalan, ketika mendengar suara-suara. Luhan bersiap dengan senapannya, tak memedulikan rasa sakit yang menyerang pada pundaknya. Sehun menatap sekeliling dengan takut. Tak puaskah para monster menyerang mereka?
SREK SREK SREK
Di depan mereka, tampak sesuatu muncul. Akar-akar tumbuhan merambat di dinding jurang. Sehun menjauh dari dinding itu, tetapi malah membuat tubuh keduanya terhempas ke tanah. Sehun langsung mendekap Luhan, sedangkan Luhan sudah menangis ketakutan dalam dekapan Sehun.
Akar-akar pohon itu semakin membesar, dan akar terbesarnya berhenti beberapa langkah di depan tubuh Sehun. Sehun dan Luhan semakin mengeratkan dekapannya.
SREK!
"KYAAAAAAAA!"
Tiba-tiba, sebuah akar langsung melilit tubuh Luhan dan langsung membawanya memasuki sebuah gua. Luhan berteriak sangat keras saking ketakutannya. Sehun tak sempat mencegah akar itu.
"LUHAN!"pekiknya dengan panik.
SREK!
Sebuah akar berhenti di depannya, kemudian akar itu menggembung. Sehun memundurkan tubuhnya, hingga tubuhnya terantuk dinding jurang. Banyak akar berada di sekitarnya.
DUAGH!
Sebuah akar menghantam tubuh Sehun, sehingga tubuh itu terhempas beberapa meter. Sehun berusaha bangkit, tetapi rasa sakit tak bisa ia buang begitu saja. Pandangannya pun mengabur.
Dalam pandangannya yang kabur, ia melihat.. sesosok yeoja yang berdiri, tak jauh darinya.
Dan semuanya menjadi gelap.
To be continued!
AAAAAAAAAAKHIRNYA LANJUT LAGIIIIIIIIIII!
Gimana gimana? I miss you all, my readers! Hope you like it!
HUANG AND WU
