DUAGH!

Sebuah akar menghantam tubuh Sehun, sehingga tubuh itu terhempas beberapa meter. Sehun berusaha bangkit, tetapi rasa sakit tak bisa ia buang begitu saja. Pandangannya pun mengabur.

Dalam pandangannya yang kabur, ia melihat.. sesosok yeoja yang berdiri, tak jauh darinya.

Dan semuanya menjadi gelap.

.

-The Golden Chrysoberyl-

.

.

Chapter 13

Pegunungan Himalaya, 10 April 2015, 11:09

"Kita istirahat dulu di sini."

Terdengar suara Kris. Mereka melihat sekeliling, menyadari bahwa tundra sangatlah luas. Kris menatap ke bukit di atasnya. Masih ada perjalanan panjang untuk mencapai padang salju.

Kris melihat kawan-kawannya, yang kini sedang menikmati bekal seadanya. Tatapannya tertuju pada Tao, yang sedang menyender di sebuah batu. Batu itu agak jauh dan terasing dari kawan-kawan.

Kris menyunggingkan senyum, kemudian berjalan menuju Tao. Tao sedang memejamkan mata, menikmati kesunyian di sekitarnya. Kris pun duduk di samping Tao.

"Kau tak makan?"tanya Kris.

Tao membuka mata indahnya, kemudian menengok ke arah Kris. Tao menegakkan tubuhnya, kemudian menatap Kris dengan senyum kecil. Ia menggeleng imut, membuat Kris terkekeh.

"Aku tak lapar."ucap Tao.

Kris menatap kawan-kawannya yang beberapa meter dari mereka. Ia menatap Tao, yang kini sedang menyender pada pundak datar Kris. Tao mendekap lengan kekar Kris, merasakan kehangatan bersamanya.

Kris mengusap wajah Tao dengan tangan satunya, membuat Tao mengangkat wajahnya dan menatap tepat ke dalam manik jelaga Kris. Kris mengusap beberapa noda pada wajah itu, membuat sang empunya memejamkan mata.

Kris memajukan wajahnya perlahan. Tubuh Tao menegang. Ia bisa merasakan.. nafas Kris di hadapannya.

CHU

Kris mengecup bibir kucing Tao dengan lembut. Tao mencengkram pakaian depan Kris dan membuatnya kusut. Kris mendekap pinggang Tao dan menekan tengkuk Tao, memperdalam ciuman itu. Batu tempat mereka menyender menguntungkan mereka, karena kegiatan mereka tak terlihat kawan-kawan lain.

"Eungh."lenguh Tao, ketika Kris mulai mendominasi ciuman.

Kris menyenderkan diri pada batu itu, dan Tao duduk di atas pahanya. Tao meremas rambut Kris, melampiaskan rasa bergejolak dalam dirinya yang sangat aneh tetapi nikmat. Kris pun menikmati kegiatannya bersama Tao.

Ciuman Kris turun ke leher Tao. Tao mendekap leher Kris, merasakan sensasi panas yang diciptakan bibir Kris di atas kulit lehernya yang sensitif. Tao melenguh pelan. Kris benar-benar mencumbuinya dengan lihai.

Tao menggigit bibir bawahnya, menahan agar desahan dan lenguhannya tak terdengar kawan-kawan. Kris masih sibuk di leher Tao, menciptakan kissmark yang menandakan bahwa Tao adalah miliknya.

"K-kris... ahhh."desahan Tao keluar perlahan, memanggil nama Kris.

Kris semakin dibuat gila oleh desahan Tao. Ia tak kenal tempat dan waktu. Suasana berkabut tundra semakin menciptakan suasana muram yang sangat cocok dengan kegiatan mereka. Tao ingin menghentikan agar Kris tidak kebablasan, tetapi ia sendiri sudah lemas dalam dekapan Kris–sejujurnya ia sendiri menikmati kegiatannya dengan Kris.

Kris merambah ke pakaian Tao. Ia melepas kancing kemeja kotor Tao satu persatu. Tao berusaha berpikir jernih. Ia harus menghentikan ini.

SREK

"Argh!"

Kris memekik pelan, ketika Tao menjambak rambutnya. Otomatis, Kris dan Tao berhenti bercumbu. Nafas keduanya sudah tersengal-sengal.

Kris menatap wajah Tao. Wajah itu sangat merah. Tao kembali mengancingi kancing teratasnya yang terlepas, lantas menatap wajah Kris yang terdiam. Tao mengusap wajah Kris dengan tangan lentiknya, sejurus kemudian tersenyum malu.

"Ti-tidak di sini."ucap Tao, dengan nada yang lirih.

Kris terdiam, lantas tersenyum lembut. Ia mendekap pinggang Tao dengan cukup posesif, membuat namja itu menunduk malu. Tangan kekar Kris sudah pas sekali dengan tubuh ramping Tao. Entahlah. Sudah takdir, mungkin?

Kris memajukan wajahnya perlahan. Tao menatap wajah Kris, lantas menaruh telunjuknya di bibir Kris yang tinggal beberapa senti dari bibirnya.

"Ja-jangan di sini."ucap Tao, dengan wajah yang merona.

Kris menatap telunjuk Tao, sejurus kemudian mengecup telunjuk itu. Ia menempelkan keningnya dengan kening Tao, kemudian memejamkan matanya. Tao mendekap leher Kris yang jenjang, merasakan kenyamanan dalam keheningan itu.

"Aku berjanji akan membawamu dengan selamat, Tao."

Tao membuka matanya, ketika mendengar ucapan Kris. Kris menangkup wajah Tao dengan tangan kanannya, dan tangan kirinya masih mendekap pinggang Tao. Posisi mereka tidak berubah sedari tadi.

"Aku berjanji akan membawamu keluar dari semua keburukan ini. Kita bina hidup yang indah bersama, dengan suara anak kita nanti."bisik Kris, dengan nada penuh keyakinan di situ.

Tao menyelami manik kelam Kris. Dia tersenyum manis, manis sekali. Kris memajukan wajahnya, lantas mengecup hidung mancung Tao sekilas. Tao terkekeh pelan.

"Aku juga akan berjanji."ucap Tao, dengan nada yang lirih.

Kris mendekap pinggang Tao, lantas menyurukkan wajahnya ke dada Tao. Ia menyamankan wajahnya di situ, kemudian memejamkan mata. Tao terkekeh malu, kemudian memainkan rambut pirang Kris dengan jarinya. Bisa Kris rasakan detak jantung merdu Tao–yang seperti alunan dari Surga.

"Oh, betapa nyamannya tubuh ini."gumam Kris.

Tao merona parah. Ia memukul kepala Kris pelan, bermaksud agar namja itu menyingkir dari dadanya. Tapi Kris justru semakin menyenderkan kepalanya pada dada Tao, merasakan tubuh Tao yang seakan menempel dengan dirinya.

"Ssstt, biarkan seperti ini."bisik Kris.

Tao menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher belakang Kris. Ia memejamkan mata, merasakan peluh Kris yang menyapa kulitnya. Tangannya meremas rambut Kris pelan, membuatnya menjadi semakin berantakan.

Mereka menikmati momen itu dalam keheningan.

Sebelum momen-momen indah itu terenggut, biarlah mereka menikmatinya sejenak.

-XOXO-

"Eungh."

Terdengar lenguhan pelan. Sesosok tubuh berbaring di atas sebuah batu berbentuk kotak. Tubuhnya sudah dilumuri banyak cairan berwarna hijau tua–sepertinya semacam tumbukan tumbuhan. Cahaya menelusup ke dalam retinanya, membiaskannya dan membentuk penglihatan di hadapannya.

Sehun membuka matanya, kemudian mendapati dirinya berada di ruangan semacam gua.

Sehun mengendarkan pandangannya, lantas meringis sakit ketika dirasa perih masih menjalari tubuhnya–walau tak separah sebelumnya. Sehun menatap tubuhnya yang hanya mengenakan celana pendek. Sudah dilumuri semacam obat, dan rasanya manjur sekali.

"Luhan!"pekiknya, ketika menyadari bahwa seseorang tak ada di hadapannya.

CKLEK

Terdengar suara pintu dibuka. Sehun menoleh, kemudian mendapati seorang yeoja yang tengah menatapnya. Sehun terbelalak.

Tubuh yeoja itu berwarna hijau seperti lumut, dengan sebuah bunga mekar di kepalanya, menghiasi rambutnya. Tubuh itu dililiti toga berwarna kuning keemasan. Mata yeoja itu.. berwarna dasar kuning dengan iris hijau.

"Si-siapa kau? Mana Luhan?"tanya Sehun, to the point.

"Kawanmu ada di ruangan sebelah."jawab yeoja itu, dengan nada yang lirih.

Sehun segera bangkit, kemudian merasakan bahwa kakinya sudah bisa menapak tanah. Tak ada rasa gemetar karena sakit. Sehun meraih kemeja dan celana panjangnya yang tak jauh dari sana, kemudian mengenakan sepatu usangnya. Ia berjalan ke pintu, kemudian mengikuti yeoja itu.

Sampailah mereka di depan sebuah pintu. Sehun menatap yeoja misterius itu. Merasa yakin, Sehun pun membuka pintu itu.

KRIET

Pintu itu terbuka. Sehun berjalan ke dalam, lantas terdiam.

Tampak seorang Luhan, sedang berbaring di atas batu berbentuk kotak. Tubuhnya diselimuti oleh selimut yang terbuat dari daun-daun. Sehun segera menghampirinya, lantas duduk di sampingnya.

"Ia baik-baik saja?"tanya Sehun, diangguki yeoja itu.

"Eungh."

Terdengar lenguhan Luhan. Sehun tersenyum sumringah. Tampak Luhan membuka matanya, menampakkan manik hazelnut-nya yang bulat dan polos. Luhan mengendarkan pandangannya, dan mendapati seorang Sehun.

"Sehun!"pekik Luhan, serta merta mendekap Sehun.

"Syukurlah! Kau baik-baik saja!"ucap Sehun dengan sama senangnya.

Sehun dan Luhan saling bertatapan, kemudian tersenyum. Sehun meraih sebuah kemeja di dekat Luhan, lantas menyerahkannya. Sehun mengamati tubuh Luhan. Tubuh itu juga dilumuri oleh semacam obat herbal.

"Bagaimana kalian bisa ada di bawah sana?"

Sehun dan Luhan menengok, ketika suara yeoja itu terdengar. Luhan menatapnya dengan agak takut, lain halnya dengan Sehun yang sudah tidak takut.

"Ka-kami terjatuh ke dalam ketika berusaha kabur dari The Horn."jawab Sehun.

"Kalian sudah menghancurkannya?"tanya yeoja itu, diangguki Sehun.

"Kawan kami yang bernama Tao sudah melawannya."jawab Sehun.

Yeoja itu terdiam. Sesuatu terdengar familiar dalam pendengarannya. Ia menatap Sehun dan Luhan bergantian, kemudian memejamkan mata.

"Apa kalian adalah anggota dari rombongan Huang Zitao?"tanya yeoja itu, membuat Sehun dan Luhan kaget.

"Ba-bagaimana kau.. tahu?"tanya Luhan.

"Temanku menyampaikan pesan agar aku membantu kalian. Ia mengatakan bahwa seorang namja bernama Huang Zitao akan mencariku dan menemuiku untuk menanyai beberapa hal."ucap yeoja itu, membuat Luhan dan Sehun terpekik.

"Ja-jadi kau–"

.

.

"Namaku Erphy, dryad lumut. Aku diminta untuk menolong kalian selama di tundra oleh Felle, sahabatku."

To be continued!

.

AAAAAAAAAAAAAAA akhirnya bisa dilanjut lagi T_T

Meskipun pendek, at least it is progressing. Jangan lupa difav dan direview ya guys! Review dan fav kalian bener-bener membantu progress kami! /bow

Another note, jangan lupa baca ff oneshot terbaru kami ya, Beating Heart! FF itu juga yang menandakan comebacknya kami ke ffn! We decided to end our hiatus dan mulai mengerjakan proyek kami yang belum selesai. Sebelumnya, kami cukup putus asa karena real life kami bener-bener berantakan, namun ngeliat FF kami masih direview dan difav oleh kalian cukup jadi alasan buat kami balik lagi. It really means a lot to us /bow bow bow

Kami juga sudah menyiapkan proyek baru yang akan kami mulai upload (setelah kami upload chapter baru untuk (Not Your) General Love Story di wattpad kami /link in profile!)

Akhir kata, mind to fav and review our ff please?

HUANG AND WU

HUANG AND WU