"Apa kalian adalah anggota dari rombongan Huang Zitao?"tanya yeoja itu, membuat Sehun dan Luhan kaget.
"Ba-bagaimana kau.. tahu?"tanya Luhan.
"Temanku menyampaikan pesan agar aku membantu kalian. Ia mengatakan bahwa seorang namja bernama Huang Zitao akan mencariku dan menemuiku untuk menanyai beberapa hal."ucap yeoja itu, membuat Luhan dan Sehun terpekik.
"Ja-jadi kau–"
.
.
"Namaku Erphy, dryad lumut. Aku diminta untuk menolong kalian selama di tundra oleh Felle, sahabatku."
.
-The Golden Chrysoberyl-
.
.
Chapter 14
Pegunungan Himalaya, 10 April 2015, 17:35
"Ini."
Sehun dan Luhan tengah duduk di sebuah meja. Erphy datang dari sebuah ruangan tak berpintu, kemudian menyodorkan sesuatu. Dua buah mangkuk.
"Apa ini?"tanya Luhan, disenyumi Erphy.
"Sup akar alang-alang dengan ekstrak jahe. Sangat baik untuk membantu proses penyembuhan."jawab Erphy.
Sehun meraih sebuah sendok, kemudian mencoba sup itu. Rasa hangat dari jahe berpadu dengan rasa bittersweet alang-alang, memberikan kesan unik dalam sup itu. Ia mengecapnya beberapa kali, kemudian mengangguk-angguk.
"Ini enak. Terimakasih."ucap Sehun.
Sehun dan Luhan mulai memakan sup itu. Terasa bahwa diri mereka menjadi lebih ringan dan lebih sehat. Luhan mengamati Erphy, yang kini sedang berdiri di depan api unggun.
Luhan menyenggol lengan Sehun, membuatnya menengok. Ia menatap Erphy lagi, membuat Sehun ikut menatapnya. Erphy tampak sedang memegang mangkok kecil, dengan mulut berkomat-kamit. Ia melemparkan bubuk misterius ke api unggun itu.
DASH!
GROAH!
Luhan dan Sehun terdiam. Muncul gambaran kawan-kawannya di sana! Mereka sedang berjalan menyusuri tundra! Sehun dan Luhan segera bangkit, kemudian berjalan ke belakang Erphy.
"I-itu kawan-kawan kami!"ucap Sehun dan Luhan.
"Mereka baik-baik saja. Mereka terus melangkah."ucap Erphy.
Erphy kembali berkomat-kamit, kali ini dengan wajah lebih serius. Ia menggenggam bubuk itu, kemudian kembali menebarkannya ke api unggun.
DASH!
GROAH!
"Ya Tuhan."
Luhan menangkup wajahnya, dengan tubuh lemas seketika. Sehun menahan tubuh Luhan agar tidak terjatuh. Erphy menatap mereka, kemudian mengalihkan pandangan ke api unggunnya.
"Kalian belum berpapasan dengan The Tangled Man?"tanya Erphy, digelengi Sehun.
"Kami baru bertemu 3 ghoul."sahut Sehun.
Erphy kembali menatap api unggunnya. Luhan membenamkan wajahnya pada dada bidang Sehun, berusaha menghindari apa yang digambarkan api unggun itu.
Apa yang mereka lihat?
Sekelompok monster berbentuk manusia, dengan sesosok ghoul bertentakel sulur-sulur tanaman di punggungnya.
Mereka menuruni tundra.
-XOXO-
Rombongan itu terus berjalan, dengan perbekalan yang semakin menipis. Tao dan Kris memimpin jalan, dengan wajah penuh peluh dan darah yang sudah mengering. Kris menatap Tao yang tampak kelelahan, kemudian segera menghampirinya.
"Kau kelelahan?"tanya Kris dengan lembut.
"Aku tak apa-apa."ucap Tao, kemudian disusul senyum lemah.
"Jangan membohongiku."ucap Kris, digelengi Tao.
"Aku tak apa. Lanjutkan saja perjalanan."jawab Tao, dengan nada lebih meyakinkan.
Kris terdiam, tak mau melanjutkan kekhawatirannya. Ia berjalan di samping Tao, memberinya keyakinan. Tao sendiri menjadi lebih diam sejak bertemu ghoul-ghoul itu.
Tao terdiam. Ia menatap ke depannya, berusaha membiaskan cahaya yang ada di matanya. Ia mengambil nafas kuat-kuat. Semenjak kehilangan dagger-nya di pertempuran kedua, ia merasa bahwa ia seperti terbunuh secara perlahan.
"Tao, kita harus istirahat."
Tao menoleh, ketika mendapati Kris yang sedang mencengkram bahunya lembut. Tao memejamkan mata, berusaha menghilangkan rasa pusing yang melandanya. Dia tak biasanya sakit seperti ini.
"Semuanya, berhenti berjalan! Kita istirahat 30 menit!"pekik Kris.
"Kita baru berjalan beberapa jam, dan akan istirahat lagi? Kapan sampainya?"tanya Zhoumi, dengan nada menuntut.
"Kau tak lihat bagaimana keadaan Tao? Dia orang yang sangat diandalkan di sini, dan aku takkan rela jika dia harus melanjutkan perjalanan dalam keadaan sakit seperti ini!"ucap Kris, kemudian membantu Tao untuk duduk.
Suho dan Lay segera menghampiri Tao, lantas duduk di sampingnya. Kris meraih botol air mineral dari tasnya, kemudian menyodorkannya pada Tao. Zhoumi menatap tidak suka pada itu.
"Mungkin dia merasakan kehadiran Malaikat Maut yang akan segera mencabut nyawanya!"pekik Zhoumi, terdengar sangat keterlaluan.
Kris terdiam. Dia bangkit dari duduknya, kemudian menghampiri Zhoumi. Wajah Kris sangat dingin, tanpa emosi. Zhoumi bersiaga, jika Kris tiba-tiba akan menghajarnya.
SRING!
CRASH!
Mereka semua terdiam. Henry menangkup mulutnya dengan sangat kaget. Baekhyun mencengkram tubuh Chanyeol, berusaha agar tubuhnya tak jatuh karena lemas. Kai dan Kyungsoo membuang pandangannya dari Zhoumi dan Kris. Minseok menatap tak percaya pada Kris. Tao–dalam kelelahannya–hanya menatap dalam diam pada apa yang sudah Kris lakukan.
"AAAAAAAAAAAA!"pekik Zhoumi, setelah terdiam selama beberapa saat.
Tubuh itu terduduk di tanah, seraya menangis. Kris menatap Zhoumi dengan sangat dingin dan tak berperasaan. Ia merasa bahwa apa yang Zhoumi dapat sekarang adalah sangat pantas, jika dibanding dengan mengatakan hal-hal berbau kematian terhadap Tao.
Zhoumi mencengkram lengan kirinya, berusaha menghilangkan rasa sakit di situ. Ia menatap tangan kirinya, yang kini sudah ada dalam injakan Kris.
Ya, Kris baru saja memotong tangan kiri Zhoumi.
"Sekali kau berbicara lagi, maka kau akan kehilangan kedua tanganmu dan juga nyawamu."ucap Kris, dengan nada dingin.
"K-Kris..."gumam Tao, dengan nada lirih.
Kris berjalan menjauh dari Zhoumi, kemudian kembali duduk di hadapan Tao. Tao menatap wajah Kris, yang kini memancarkan kelembutan juga cinta.
"Kau takkan mati di sini. Aku jamin."ucap Kris.
Kris berjalan beberapa langkah dari mereka, kemudian menancapkan pedangnya ke tanah hingga cukup dalam. Setelah beberapa saat, ia kembali menarik pedangnya.
"Apa yang kau lakukan?"tanya Lay, membuat Kris menatapnya.
"Tanah adalah media pembersih yang baik, setelah air. Pedangku takkan cepat karatan, jika aku tancapkan ke tanah. Tanah akan menyerap darah pada pedangku, sehingga bersih kembali."ucap Kris, kemudian menyingkirkan sisa noda tanah pada pedangnya dengan usapan tangannya.
"Kau sangat mahir pedang, Kris. Darimana kau belajar?"tanya Suho, disenyumi Kris.
"Bukan bermaksud sombong, tetapi sebagai anak seorang pemimpin pasukan pengaman Kaisar China, sudah seharusnya aku mewarisi kemampuan ayahku."jawab Kris.
"Kau adalah anak dari Wu Hulao?"tanya Lay dengan kaget, diangguki Kris.
"Siapa?"tanya Suho, merasa tak mengenali nama itu.
"Wu Hulao. Pemimpin pasukan pengaman Kaisar China selama era Perang Dingin 1975-an. Menikah pada 1982, dan dikaruniai anak pada 1990. Meninggal dunia akibat sakit pada 1998."
Mereka semua menoleh pada Tao, yang kini menatap mereka. Tao menyamankan posisi duduknya, kemudian kembali menatap mereka. Suho membantu Tao meminum air mineral lagi, agar elektrolit dalam tubuh Tao tidak hilang.
"Kau sudah menjadi yatim semenjak kanak-kanak."ucap Suho, menatap tak percaya pada Kris.
"Well, kau bisa bilang bahwa ayahku menjadi pemimpin pasukan sudah sejak sangat muda. Sekitar umur 19 tahun. Dia menikahi ibuku pada umur 25 tahun. Ibuku hamil saat ia berumur 32 tahun, dan ayah meninggal karena serangan jantung pada 1998. Ibuku sudah meninggal sekarang, karena kecelakaan pesawat di lepas pantai San Fransisco."jelas Kris.
"Bagaimana denganmu, Tao? Apa kau mengenal orangtuamu? Yang kutahu, kau menjadi adik angkat Suho sudah sejak sangat muda."ucap Lay, kemudian menatap Tao dan Suho secara bergantian.
"Tao kutemukan di dekat sebuah minimarket saat umurnya masih 7 tahun. Aku membawanya ke rumah, dan orangtuaku mengangkatnya menjadi anak. Ia ditemukan bersama dagger miliknya dan sepucuk surat. Di surat itu tertulis bahwa dia adalah anak terkutuk, tapi aku tidak peduli. Dan dia merubah hidup keluargaku, semenjak menunjukkan kemampuan indigonya saat melihat ibuku meninggal."jelas Suho.
"Siapa orangtuamu?"tanya Kris, menatap Tao dengan ingin tahu.
"Aku tak mau tahu. Aku memiliki kemampuan untuk mencaritahu, tetapi aku sendiri yang tidak mau. Aku menggenggam dagger milikku pada suatu hari, kemudian memejamkan mata dan fokus. Aku melihat sejarah dari dagger itu. Sejarah yang sangat kelam."
"Dagger itu sudah menjadi barang warisan secara turun temurun. Aku melihat pembantaian, pembunuhan, genosida, pengkhianatan, dan kejahatan-kejahatan lain yang pernah dilakukan pemilik-pemilik dagger sebelum aku. Mereka semua menggunakan dagger itu untuk membunuh, dan sudah ribuan darah ditumpahkan dagger itu. Aku tak mengenali mereka, tapi aku tahu bahwa kami memiliki ikatan sendiri."
"Dagger itu, bisa dibilang, sangat sakti. Dia bisa menolak hal-hal jahat terhadap pemiliknya, dan dialah yang melindungiku selama aku terbuang di jalanan sampai Suho hyung menemukanku. Aku tak tahu bagaimana dagger itu bisa sampai pada tanganku. Yang kutahu adalah, aku sudah memiliki ikatan dengan dagger itu."
Tao menjelaskan dengan sangat panjang, membuat kawan-kawannya terdiam. Kris menatap Tao dengan prihatin, sementara Tao hanya menatap kosong ke arah tanah. Suho dan Lay saling berpandangan, kemudian kembali menatap Tao.
"Itulah kenapa dia sangat mencintai dagger itu. Sekarang, dagger itu sudah hancur termakan api."ucap Suho.
"Itulah kenapa kau tidak memercayai senjata lain selain dagger-mu."gumam Kris, membuat Tao menatapnya.
"Itu benar."ucap Tao.
Kris bangkit dari duduknya, kemudian menatap Tao. Tao menatap tubuh Kris. Kris tersenyum kecil, ketika menyadari bahwa warna wajah Tao sudah tidak lagi memucat–sudah baikan.
"Baiklah. Lets continue our journey."
Kris menyodorkan tangan kanannya pada Tao. Tao menatap tangan itu, kemudian menatap Kris. Kris memamerkan senyumnya, membuat Tao tersenyum.
GREP
Ia pun membalas genggaman tangan itu, dan bangun dengan kekuatan baru.
-XOXO-
"The Tangled Man adalah ghoul terkuat kedua. Dia sulit untuk dikalahkan, dan bisa bertarung tanpa harus bergerak. Dia menggunakan sulur-sulurnya untuk dililitkan pada tubuh lawan, kemudian menghancurkan tubuh itu dengan semakin menguatkan lilitannya."
Kini, Erphy sedang duduk bersama Sehun dan Luhan di meja makan tadi. Ia menjelaskan hal-hal tentang ghoul-ghoul yang menghuni Gunung Kangchenjunga. Sehun dan Luhan saling bertatapan dengan raut wajah khawatir.
"Apa ada senjata khusus agar dia bisa dikalahkan?"tanya Luhan, digelengi Erphy.
"The Tangled Man hanya bisa dikalahkan dengan magic. Sampai sekarang, tak ada yang tahu jenis magic apa yang bisa mengalahkan The Tangled Man. Bahkan kami, para dryad, tak bisa menjinakkan The Tangled Man karena dia harus dikalahkan menggunakan magic."jelas Erphy.
"Tapi, kau adalah dryad witch. Kau bisa menggunakan mantera-manteramu."ucap Sehun, digelengi Erphy.
"Aku hanya bisa meramalkan masa depan dan mengawasi sekeliling. Aku tak punya jenis magic yang dibutuhkan untuk mengalahkan The Tangled Man."ucap Erphy.
"Lalu, bagaimana teman-temanku melawan The Tangled Man? Bukankah akan sangat beresiko jika mereka ceroboh?"ucap Luhan, diangguki Erphy.
"Kurasa, aku harus menemui kawan kalian yang bernama Huang Zitao. Mungkin dia membawa sebuah pesan atau semacamnya, yang bisa digunakan untuk mengalahkan The Tangled Man."ucap Erphy.
"Pesan? Tao hanya namja biasa. Satu-satunya kemampuan spesialnya adalah dia merupakan anak indigo yang bisa meramalkan masa depan."ucap Sehun, disenyumi Erphy.
"Justru itulah yang harus dicaritahu. Tao menyimpan sesuatu dalam dirinya, yang tak bisa disadari olehnya. Aku harus menemuinya."ucap Erphy.
"Kapan kau akan menemuinya?"tanya Luhan, membuat Erphy sedikit berpikir.
"Saat mereka sudah mendekati sarangku, barulah aku akan muncul dan membantu. Dryad tak boleh muncul sembarangan di permukaan, kecuali kalau dia harus."ucap Erphy.
Erphy menatap Sehun dan Luhan, yang kini sedang saling menguatkan. Erphy terpikir sejenak, kemudian menatap mereka lagi.
"Ikut aku."
-XOXO-
Mereka sudah kembali berjalan, entah sudah berapa jauh. Tundra yang mereka hadapi benar-benar luas–mereka belum menemukan tanda-tanda padang salju. Yang berbeda dari tundra ini adalah, semakin mereka mendaki maka semakin tebal kabutnya.
Kris menatap ke langit. Cahaya matahari benar-benar sudah terhalang awan sekarang–keadaan yang ideal bagi para monster yang menghindari cahaya matahari. Kris masih sedia dengan pedangnya. Yang ia khawatirkan sekarang ini adalah Tao.
Tao harus dibantu berjalan, dan Suho bersama Henry membantunya. Kris tidak tahu, apa yang membuat Tao menjadi semakin lemah. Dia benar-benar khawatir sekarang.
WUSH!
Kabut di depan mereka begitu tebal. Kris menggenggam awan yang ada di depannya, kemudian menatap awan itu lagi.
"Kita harus menembus awan ini."ucap Kris.
"I-itu akan sangat berbahaya!"ucap Chanyeol, merasa keberatan.
"Suka atau tidak, di balik awan ini ada padang salju. Kita harus menembusnya."ucap Kris.
Kris menghampiri Tao, yang kini sedang terduduk di tanah. Wajahnya tampak sangat pucat, dan itu membuat rasa cemas Kris menjadi semakin kuat. Kris mengusap pundak kiri Tao dengan tangannya, kemudian memamerkan senyumnya.
"Ayo, naik ke punggungku."ucap Kris.
Tao menatap Kris, yang kini sedang membelakanginya. Susah payah ia menaiki punggung Kris–hingga Suho membantunya. Setelah itu, ia mengeratkan dekapannya pada leher Kris dan melingkarkan kakinya pada pinggang Kris. Salah satu tangannya menggenggam pistol.
"Ayo, kita masuk."
Mereka memasuki kabut tebal itu. Pemandangan yang serba keabu-abuan memenuhi indera pengelihatan mereka. Beruntung bahwa keadaan siang membuat mereka masih bisa melihat satu sama lain. Kris bahkan sampai berpikir, jika mereka harus menembus kabut ini saat malam. It is such a 'big-hell-no'.
"GRAAAAAAAWWW!"
"Kalian dengar itu?"gumam Kai, diangguki Kyungsoo dan Lay.
Kris menajamkan penglihatannya. Ia berusaha melihat sekeliling dengan seksama, menghindari semacam serangan mendadak dari para monster.
Tiba-tiba, Kris merasakan bahwa tubuh Tao bergetar. Kris mengusap tangan Tao yang mendekap lehernya. Entahlah, tetapi Kris merasa bahwa tubuh Tao terasa sangat ringan.
"K-Kris..."panggil Tao dengan lirih.
"Ada apa?"tanya Kris.
"Monster. 10 meter di hadapanmu."ucap Tao, dengan mata yang terpejam lelah.
Kris terdiam. Sepertinya, getaran pada tubuh Tao menandakan bahwa dia baru saja mendapat penglihatan. Tao mengeratkan dekapannya pada leher Kris, berusaha bertahan pada punggung itu.
"Bertahanlah, Tao."gumam Kris.
"GRAAAAAAAAWWWW!"
Auman itu terdengar semakin dekat. Kris menatap kawan-kawannya, yang kini merapatkan diri satu sama lain. Kris menatap pedang yang ada di kedua tangannya. Ia memercayakan seluruh keselamatannya dan keselamatan Tao pada kedua pedang itu.
"GRAAAAAAAAAAWWWW!"
WUSH!
DOR!
Tiba-tiba, muncul sesosok monster bertubuh manusia yang menyerang Baekhyun. Tetapi, dengan cekatan ia langsung menembakkan rifle-nya ke arah monster itu.
"GRAAAAAAAAAAAWWWWW!"
Terdengar monster-monster lain dalam jarak yang semakin dekat. Kris berjalan perlahan ke depan, mencari dimana monster-monster itu.
"GRAAAAAAAAAAAWWW!"
CRASH!
Tiba-tiba, sesosok monster hampir saja menyerang Kris dari depan. Dengan spontan, Kris menusukkan pedangnya tepat pada dada monster itu, hingga monster itu terjerembab ke tanah.
"5 meter di kananmu."terdengar bisikan Tao.
"GRAAAAAAAAAWWWWW!"
CRASH!
Kris membelokkan badan ke arah kanan dalam waktu yang singkat, dan langsung menodongkan pedangnya ketika sesosok monster lain menyerangnya. Monster itu langsung jatuh ke tanah.
Kris kembali berjalan. Dia tak mungkin bisa berlari–dia akan kehilangan stamina karena harus menggendong Tao juga. Monster yang menyerang mereka baru sedikit, dan dia berpikir akan ada banyak lagi yang menyerang mereka.
"GRAAAAAAAAAAWWW!"
Seketika, terdengar auman monster dari segala sisi mereka.
-XOXO-
Sehun dan Luhan mengikuti Erphy, yang kini sedang berjalan menyusuri lorong-lorong guanya. Sehun dan Luhan saling berpandangan, tidak tahu akan dibawa kemana.
Erphy berhenti di depan sebuah ambang pintu, kemudian membuka pintu cokelat itu. Sehun dan Luhan mencuri pandang ke dalam pintu itu.
Hanya kegelapan.
"Kita mau kemana?"tanya Luhan.
"Ikuti aku saja."ucap Erphy.
Erphy meraih sebuah kantung kecil dari dalam toga-nya, kemudian membuka ikatannya. Ia mengambil sepucuk bubuk miliknya dari dalam kantung itu, kemudian melemparkannya ke dalam ruangan itu.
DASH!
WOSH!
Secara ajaib, obor-obor dalam ruangan itu menyala! Erphy segera melangkah masuk, seiring dengan obor-obor yang menyala secara berurutan. Sehun dan Luhan mengikutinya.
Benda-benda aneh terpajang di dinding. Mereka menyusuri lorong itu, hingga tibalah mereka di depan sebuah pintu berwarna cokelat yang dirambati tanaman.
CKLEK
Erphy membuka pintu itu, kemudian masuk. Sehun dan Luhan mengikutinya. Pandangan mereka pun terpana.
Tampak banyak sekali barang-barang aneh di sana. Huruf-huruf Latin kuno berjajar di kertas-kertas yang ditempeli di ruangan itu, dengan banyak bola-bola kristal dan peralatan-peralatan sihir.
"Inilah tempat dimana aku biasa meramalkan sesuatu. Aku juga mendapat pesan dari kawanku Felle lewat bola kristalku."ucap Erphy.
Erphy menghampiri sebuah meja, dengan bola kristal bundar di tengahnya. Sehun dan Luhan duduk di kursi yang ada, kemudian mengamati bola kristal itu.
Erphy meraih bubuk misteriusnya sebanyak sepucuk, kemudian melemparkannya ke bola kristalnya.
DASH!
SRING!
Ajaib! Bola kristal itu berpendar. Sehun dan Luhan saling berpandangan, takjub dengan apa yang mereka lihat. Mereka menatap Erphy, yang kini sedang memejamkan mata seraya mengusap permukaan bola kristal itu. Dia berkomat-kamit, mengucapkan mantera-mantera.
SRING!
Bola kristal itu semakin bercahaya, dan menampakkan sepotong gambaran akan sesuatu. Asapnya muncul, menciptakan suasana yang semakin magis.
Sehun dan Luhan menatap ke dalam bola kristal itu, lantas terpekik. Mereka menatap tak percaya pada bola kristal itu.
"Itu kawan-kawan kami! Mereka diserang The Tangled Man!"
-XOXO-
DOR! DOR! DOR!
CRASH!
Suara tembakan dan tebasan pedang tak henti-hentinya terdengar. Rombongan Kris masih terus berjuang di dalam tundra berkabut, dan melawan banyak sekali monster. Sesekali, Tao membantu Kris dengan menembak monster yang mendekat ke arahya.
WUSH!
Terdengar suara dari kejauhan. Suara itu menggema. Kris dan kawan-kawannya berhenti bertarung, kemudian memfokuskan pandangan pada kabut di depan mereka. Mereka menajamkan penglihatan mereka.
WUSH!
SLASH!
"KYUHYUN HYUNG!"terdengar pekikan Kyungsoo.
Mereka semua menengok ke tempat dimana tadi Kyuhyun berdiri.
Tapi sekarang, tubuh itu hilang ditelan kabut.
Kris mengendarkan pandangannya, berusaha mencaritahu apa tadi. Tao mengeratkan dekapannya dalam gendongan Kris. Tubuhnya bergetar hebat.
"The Tangled Man, tepat di depanmu."bisik Tao, setelah ia mendapat penglihatan singkat.
Kris terdiam. Dia berjalan ke depan dengan hati-hati, menatap cercahan kabut dengan pedang tersiap. Dia menajamkan matanya, berusaha memfokuskan pandangannya.
DUAGH!
Di dalam kabut, muncul seberkas bayangan. Bayangan manusia yang berjalan ke arah mereka. Kris dan yang lainnya terbelalak. Ia melangkah mundur perlahan.
Di punggung makhluk itu, ada bayangan sulur-sulur tanaman, dengan sesuatu menetes dari ujung sulurnya.
WUSH!
Tiba-tiba, bayangan sulur itu memanjang ke arah mereka. Muncullah seberkas sulur-sulur kehijauan dari balik kabut, tepat di samping tubuh Kris.
SLASH!
"AAAAAAAAAAAA!"
"KAI!"
Kris menghampiri tubuh Kai, yang kini sudah dililiti sulur itu. Lilitan itu semakin kencang dan kencang, membuat Kai hampir tak bisa mengambil nafas.
"HIYAAAAAAAAHHHH!"
CRASH!
Kris melayangkan pedangnya ke arah sulur itu, membuat sulur itu terputus. Otomatis, lilitan pada tubuh Kai pun terlepas. Kai langsung terduduk di tanah, dengan hidung yang berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya.
WUSH!
SLASH!
Seberkas sulur kembali muncul, kali ini melilit tubuh Lay. Lay menggeliat dalam lilitan itu, berusaha lepas.
DOR! DOR!
Suho menembakkan pistolnya ke arah sulur itu, namun tidak mempan. Kris baru menyadari sesuatu.
Untuk mengalahkan The Tangled Man, mereka hanya bisa mengandalkan senjata tajam.
"Potong sulurnya!"pekik Kris.
CRASH!
Henry langsung menghampiri sulur itu, kemudian melayangkan samurainya. Lilitannya langsung terlepas, dan membuat Lay kembali bisa bernafas. Suho menghampiri Lay, kemudian membantunya berdiri.
"Rapatkan barisan! Kita akan menembus pertahanan monster itu!"pekik Kris.
Mereka semua langsung menempel, satu sama lain. Setelah meyakinkan diri sendiri, Kris pun mulai melangkahkan kakinya secara perlahan. Dia mengawasi gerak-gerik bayangan di balik kabut itu.
WUSH!
SLASH!
Sebuah sulur langsung muncul, kemudian melilit tubuh Kyungsoo. Jongdae langsung mengeluarkan sebuah pisau daging, kemudian memotong sulur itu.
CRASH!
Kyungsoo pun lepas dari lilitan. Kris kembali berjalan ke depan, menatap bayangan itu dengan waspada.
WUSH! WUSH! WUSH! WUSH!
Tiba-tiba, muncul banyak sekali sulur ke arah mereka. Kris menebas sebanyak yang ia bisa, dan kawan-kawannya berusaha menghindari kejaran sulur-sulur itu.
"LARI!"pekik Kris.
Mereka semua langsung berlari, menghindari sulur-sulur tanaman yang mengejar mereka. Sesekali, mereka menembaki sulur itu.
SLASH!
"AAAAAAAAAAA!"terdengar pekikan Suho di udara.
CRASH!
Kris melembingkan pedangnya, dan tepat menebas sulur tanaman itu. Suho terjatuh dari lilitannya, dan menghantam tanah. Kris langsung menghampiri pedang miliknya yang tertancap, kemudian menghampiri Suho.
"Kau baik-baik saja?"tanya Kris, diangguki Suho.
Kris membantu Suho berdiri, kemudian kembali berlari. Ia menatap kawan-kawannya, yang kini juga sedang berlari menghindari sulur-sulur itu.
SLASH!
"KYAAAAAAAAA!"
"HENRY!"
CRASH!
BRUK!
Henry menjatuhkan samurainya, dan Zhoumi langsung meraihnya. Dengan satu tangan, dia membidik sulur itu. Sulur itu pun tertebas, dan Henry langsung terjatuh di atas tubuh Zhoumi.
"Ayo, bangun!"pekik Zhoumin, kemudian membantu Henry bangun.
Mereka terus berlari, menghindari sulur-sulur yang semakin mengejar mereka. Sesekali, Kris menebas sulur-sulur yang menyerangnya dari depan–mencegah agar tak ada yang terlilit sulur-sulur itu.
SLASH!
"ARGH!"pekik Kris.
Tiba-tiba, muncul sulur dari arah samping tubuhnya, dan melilit tubuh Kris. Kris meronta dalam lilitan itu. Dia menatap tubuh Tao, yang kini masih ada di gendongan di belakangnya.
SLASH!
Sulur itu membawanya memasuki kabut. Kris merasakan betapa lemasnya tubuh Tao saat ini. Mungkinkah ia kesulitan bernafas?
"Bertahanlah, Tao!"pekik Kris.
Kris menatap horor ke pemandangan di depannya. Tampak banyak sekali sulur di sana, yang melayang-layang di udara. Sesosok manusia berdiri di tengahnya, dengan wajah yang menyeringai dan mata yang menyeramkan.
CRASH!
Tiba-tiba, sesuatu menebas sulur yang melilit tubuhnya dan tubuh Tao. Mereka pun jatuh ke tanah.
BUGH!
Kris terhempas ke tanah. Ia menatap tubuh Tao, yang kini tak jauh darinya. Tubuh itu tidak bergerak.
Tiba-tiba, pandangan Kris memudar. Tubuhnya lemas seketika, dengan rasa lelah yang menyerang hebat. Dia berusaha kembali ke alam sadarnya, tetapi kemudian ia kesulitan untuk bangkit karena otot-ototnya lemas.
"KRIS HYUNG!"
Terdengar pekikan dari jauh. Kris menengokkan kepalanya dengan lemas. Ia mendapati seseorang, tengah berlari ke arahnya. Sebuah pedang panjang ada di tangannya. Seingat Kris, tak ada anggotanya yang membawa pedang, selain dirinya.
"KRIS HYUNG!"
"Se..hun..."gumam Kris, dengan lirih.
Dan pandangan itu pun hitam sepenuhnya.
To be continued!
.
Yehet! Sebagai bayaran karena chapter sebelumnya sangatlah pendek, maka author memanjangkan chapter yang ini! Hehehe, gimana action scene-nya? Absurd banget, gak? Jujur, HAW bener-bener excited dengan FF ini karena aliran idenya lagi gila-gilaan dan semoga bisa menyelesaikannya tahun ini!
Mind to REVIEW and FAVOURITE our FF please?
HUANG AND WU
