"Dryad adalah makhluk yang memiliki hati sangat lembut. Ketika kami sudah mencintai sesuatu, maka akan sulit untuk melupakannya. Aku sering mendengar lolongan Pyre saat bulan purnama, tapi tidak melihat sosoknya."ucap Erphy.

"Dryad memiliki hidup yang panjang, ya?"tanya Kris.

"Para dryad hanya mati ketika tumbuhan tempatnya menjelma dipangkas. Kami bisa hidup hingga ribuan tahun jika kami mau."

Erphy menatap wajah Tao yang terlelap dengan penuh pengharapan. Dalam hatinya, Felle, kuharap kau bisa cepat kembali dengan dagger itu.

.

-The Golden Chrysoberyl-

.

.

Chapter 16

Pegunungan Himalaya, 11 April 2015, 00:21

CKLEK

"Kau darimana saja?"

Baekhyun menoleh ke belakang, ketika seorang namja menatapnya. Sebuah pistol tampak ada di tangannya, dengan saputangan yang sedang mengusapnya. Baekhyun berjalan ke arah Chanyeol, kemudian duduk di sampingnya. Chanyeol menatapnya, kemudian melanjutkan acara membersihkan pistolnya.

"Kau tidak tidur? Ini sudah malam."ucap Baekhyun seraya mempersiapkan selimut.

"Aku menunggumu tidur."

Gerakan Baekhyun terhenti. Baekhyun menengok ke arah Chanyeol, mendapati mata obsidian itu menatanya lembut. Baekhyun merona merah, kemudian mengangguk kaku.

"A-aku sudah di sini, ja-jadi kau bisa ti-tidur."ucap Baekhyun seraya mengangguk lucu.

Chanyeol terkekeh, kemudian menaruh pistolnya di sebuah rak. Ia kembali duduk di samping Baekhyun, menatap namja itu yang kini sedang merapikan bantal.

"Hanya ada satu kasur. Kalau kau tak keberatan, aku akan tidur di bawah."

Baekhyun menengok ke arah Chanyeol, dan mendapati senyum penuh arti namja itu. Chanyeol meraih selimut yang tadi Baekhyun rapikan, kemudian melebarkannya di lantai. Baekhyun menatap Chanyeol dengan bibir tergigit, membuat Chanyeol–entah kenapa–berdesir hebat.

"Ha-harusnya aku yang bertanya begitu."ucap Baekhyun.

"Tak apa. Kau kan tak tahan dingin, jadi kau mungkin akan lebih senang jika tidur di atas."ucap Chanyeol.

Chanyeol mendudukkan dirinya di atas selimut tadi, kemudian meraih tasnya untuk menjadi bantal. Ia menepuk-nepuk tas itu, kemudian menaruh kepalanya di atas tas itu. Ia memejamkan matanya.

"Terimakasih, Chanyeol."

Chanyeol membuka matanya, menatap heran pada Baekhyun. Baekhyun mencengkram sebuah bantal. Chanyeol mendudukkan dirinya, menatap Baekhyun yang duduk lebih tinggi darinya.

"Kenapa?"tanya Chanyeol.

"Karena.. kau sudah perhatian padaku."

CHU

Sesaat setelah Baekhyun menjawab pertanyaannya, Baekhyun langsung memajukan wajahnya dan mengecup pipi kanan Chanyeol. Chanyeol hanya bisa terdiam, menatap Baekhyun yang langsung merebahkan diri dengan membelakangi Chanyeol.

Chanyeol bangun dari duduknya, kemudian menatap Baekhyun. Baekhyun sangat malu untuk menengok ke arah Chanyeol. Chanyeol pun mendekati Baekhyun.

Chanyeol bergerak ke atas tubuh Baekhyun, membuat Baekhyun merona. Ia mendorong satu pundak Baekhyun agar mau menghadapnya. Baekhyun memutar tubuhnya.

Tubuh mereka pun berhadapan.

Chanyeol menumpukan tubuhnya pada kedua tangannya, menatap Baekhyun yang kini sudah merona parah. Tanpa sadar, Baekhyun mencengkram bagian depan kemeja Chanyeol, sedikit takut dengan Chanyeol.

"Kau takut?"tanya Chanyeol.

"Nde."jawab Baekhyun, berusaha agar tidak terdengar gugup.

Chanyeol memajukan wajahnya, menaruh kepalanya pada leher jenjang Baekhyun. Baekhyun membuang muka dari Chanyeol, membiarkan Chanyeol menguasai lehernya. Wajahnya pun berhadapan dengan pundak Chanyeol.

Chanyeol mengecup leher itu dengan perlahan, merasakan rasa manis aneh yang menjalari sekujur tubuhnya. Baekhyun semakin meremas pakaian Chanyeol, melampiaskan sensasi yang ia rasakan karena sentuhan Chanyeol.

Chanyeol menciptakan banyak kissmark di sana, menandakan bahwa Baekhyun adalah miliknya.

"Eungh."terdengar lenguhan lemah Baekhyun.

Chanyeol merambati leher itu, hingga bertemu dengan pipi Baekhyun. Ia mengecupi pipi itu, membuat Baekhyun memejamkan mata–menyadari hangatnya usapan bibir Chanyeol.

"Tatap mataku."

Chanyeol berbisik di telinga Baekhyun. Baekhyun terdiam. Ia ingin sekali melakukannya, tetapi ia hanya terlalu takut.

"Jangan takut. Tatap aku."ucap Chanyeol, mengerti perasaan Baekhyun.

Baekhyun mempersiapkan hatinya. Ia menengok dengan gugup ke arah Chanyeol, mendapati wajah tampan itu sangatlah dekat dengannya–hidung mereka saja sudah saling bertabrakan. Chanyeol menyunggingkan senyum lembut, membuat Baekhyun serasa melayang.

CHU

Chanyeol memajukan sedikit wajahnya, dan bibir mereka pun bertemu.

Baekhyun memejamkan matanya erat, merasakan ciuman Chanyeol yang begitu lembut dan memabukkan. Chanyeol memainkan bibir Baekhyun dengan seksama, memberinya getaran-getaran cinta yang begitu indah. Chanyeol menyadari bahwa kemeja depannya sudah kusut oleh tangan Baekhyun, namun ia tidak peduli.

Baekhyun melingkarkan tangannya pada leher Chanyeol, meremas rambut namja bertubuh tinggi itu. Chanyeol mengintensifkan ciumannya, membuat saliva entah milik siapa keluar dari mulut Baekhyun. Chanyeol menggigit bibir bawah Baekhyun, meminta izin.

"Eungh.. ahh..."desah Baekhyun yang tertahan ciumannya.

Baekhyun membuka mulutnya, mengizinkan Chanyeol menginvasi mulutnya. Chanyeol memasukkan lidahnya, kemudian bertarung dengan lidah Baekhyun. Baekhyun merasa sangat lelah, hingga ia pun kalah.

Chanyeol merasakan seluruh isi mulut Baekhyun, mulai dari gigi, lidah, dan langit-langit. Baekhyun memasrahkan dirinya pada tubuh Chanyeol, membiarkannya bermain di sana.

BUK BUK

Sebuah tangan lentik memukul-mukul dada Chanyeol. Chanyeol–dengan sangat enggan–melepas ciumannya. Baekhyun menghirup nafas kuat-kuat. Chanyeol seperti sedang memakannya.

Tubuh Chanyeol menegang, melihat pemandangan di hadapannya. Baekhyun yang menarik nafas banyak-banyak, dengan wajah yang memerah padam. Dadanya bergerak naik-turun, dengan bibir yang bengkak dan saliva dimana-mana.

Oh, bunuh Chanyeol sekarang, karena Baekhyun terlihat sangat menggoda!

"Kau sungguh menggoda, sayang."ucap Chanyeol, dengan nada seduktif.

Wajah Baekhyun semakin merona. Ia menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Chanyeol sementara namja itu tertawa keras karena keimutan Baekhyun.

"Kau harus tidur. Sudah malam."ucap Chanyeol, hendak turun dari kasur itu.

Tetapi, sebuah tangan lentik menahan tangan besarnya.

"Ja-jangan tidur di bawah. Di-di sini saja, bersamaku."ucap Baekhyun, dengan nada malu yang terlihat sangat cute di mata Chanyeol.

Senyum Chanyeol mengembang. Ia menyamankan tubuh besarnya di samping tubuh Baekhyun. Kasur itu sangat kecil, hanya cukup untuk dua orang bertubuh kecil. Baekhyun berusaha menyamankan diri, tetapi sulit.

"Tidur di sini."

Baekhyun menatap Chanyeol, yang kini sedang menunjuk dadanya. Wajah Baekhyun merona parah. Chanyeol tersenyum lembut, kemudian menuntun Baekhyun untuk menaiki tubuhnya. Baekhyun pun menidurkan tubuhnya di atas dada Chanyeol. Entah kenapa, dada Chanyeol serasa sangat empuk dan nyaman.

"Tidurlah."ucap Chanyeol.

Tangan kekar Chanyeol mendekap tubuh mungil Baekhyun. Baekhyun memejamkan matanya, merasakan detak jantung Chanyeol yang begitu tegas dan perkasa. Chanyeol mengusap rambut Baekhyun, membiarkan namja itu tertidur.

Setelah Baekhyun tertidur, barulah ia bisa terpejam.

-XOXO-

"Kau sudah kembali, Lay?"

Lay baru saja menutup pintu, ketika terdengar suara Suho yang baru terbangun dari tidur. Lay tersenyum, kemudian mengangguk. Suho tertidur di lantai, dengan sebuah selimut sebagai alas dan tas menjadi bantalnya.

"Bagaimana keadaan Tao?"tanya Suho seraya mendudukkan dirinya.

"Kata Erphy, Tao takkan bangun hingga dagger itu kembali. Aku hanya melihatnya membuat obat untuk Tao. Huh, aku khawatir dengan Tao."ucap Lay, kemudian mendudukkan dirinya di tepi kasurnya.

"Kenapa dagger itu menjadi sangat penting baginya?"tanya Suho, dideliki Lay.

"Erphy bilang, kalau dagger itu sangatlah penting. Dagger itulah penyebab dari semua kemampuan indigo Tao. Kalau dagger itu tidak ada, maka kemampuan Tao akan menghilang perlahan. Erphy yang bilang sendiri, kalau dia akan mempelajari dagger itu. Ada hal dalam dagger itu yang membuatnya penasaran, tapi dia tidak menyebutkannya."jelas Lay.

Lay menepuk-nepuk bantalnya. Suho kembali berbaring, kali ini dengan tubuh terlentang dan tangan di taruh di belakang kepala. Ia memandang langit-langit. Lay tidur dengan menghadap ke arah Suho.

"Apa ada yang membuatmu aneh?"tanya Lay, diangguki Suho.

"Aku tak pernah tahu siapa orangtua Tao yang sebenarnya."ucap Suho.

"Tao takkan pernah mau mencaritahu hal-hal seperti itu. Itu hanya akan menyebabkan dendam padanya karena ia merasa telah terbuang oleh kedua orang itu."ucap Lay, membuat Suho menoleh ke arahnya.

"Tao memang pribadi yang sangat unik. Saat ibuku masih hidup, dia merasa aneh karena Tao seakan membawa aura yang sangat kuat dalam keluarga. Ayah pernah berceloteh kalau Tao itu sebenarnya adalah bukan manusia. Esoknya, ayahku kena demam."ucap Suho, membuat Lay terkekeh.

"Ayahmu mengusik ketenangan Tao."ucap Lay, membuat Suho tersenyum.

"Tao akan bangun lagi, kan?"tanya Suho, kemudian menatap tepat pada mata Lay.

Lay sedikit murung. Dia menatap Suho, yang kini juga sedang menatapnya. Pandangan itu meneduhkannya, membuat jantungnya berdetak disko, tetapi memberikan sensasi tenang. Lay memamerkan senyum ber-dimple-nya.

"Tentu saja."

-XOXO-

Kris tampak sedang tertidur di samping kasur Tao, dalam posisi duduk di atas kursi. Ia menggenggam tangan Tao dengan sangat erat–mungkin karena sangat khawatir.

CKLEK

Terdengar suara pintu, kemudian muncullah Erphy. Erphy menatap pemandangan itu, seketika terdiam. Ia menutup pintu secara perlahan, kemudian kembali menatap ke arah Kris–berharap tak terbangun karena suara tadi.

Ia berjalan ke arah Kris, kemudian berhenti di sampingnya. Ia menatap wajah Kris, yang kini sedang tidur terlelap dengan manisnya. Erphy mengangkat tangan kanannya, mengusap rambut Kris dengan lembut.

Gerakan Erphy sedikit membuat Kris tergerak. Erphy membeku, tetapi kemudian lega karena Kris kembali tertidur. Erphy tersenyum, kemudian meraih sesuatu dari dalam toga-nya.

Sebuah kantung kecil white powder.

Erphy meraih sebuah kursi, kemudian duduk. Ia menatap ke pakaian Kris, dan beralih ke sabuk yang dikenakannya. Ia menaruh kantung itu di sabuknya, kemudian mengikatnya dengan kuat. Ia menatap wajah itu lagi.

Erphy mengambil sejumput dari white powder-nya, kemudian menatap wajah Kris. Ia mengusapkan white powder itu di wajah Kris, dengan membaca beberapa mantera. Setelah itu, ia hanya diam menatap Kris.

"Mimpi indah."ucap Erphy.

Erphy memajukan wajahnya, kemudian mengecup pucuk kepala Kris. Ia menatap Kris lagi, kemudian tersenyum. Setelah itu, ia pun berjalan keluar ruangan.

CKLEK

Suara pintu yang ditutup menandakan bahwa kehadirannya tak ada di ruangan itu.

-XOXO-

Seorang namja berjalan di lorong itu. Ia melintasi lorong gelap itu, dan mendapati beberapa obor di dindingnya. Wajahnya tampak tidak mengantuk.

Kai melihat sekeliling, sedikit merasa lega karena bisa menghirup udara. Dia tidak bisa tidur di kamar, jadi dia berpikir kalau jalan sebentar tak ada masalah.

Kai melihat struktur bangunan itu. Gua bawah tanah yang sangat teratur, dengan akar-akar tumbuhan yang merambati dindingnya. Pasti sudah sangat lama semenjak Erphy membangunnya; batin Kai. Kai melihat dua buah obor di ujung lorong, kemudian menghampirinya.

Sebuah ruangan, yang gelap dan lembab.

Kai mengintip ke dalam, tetapi ia tak dapat melihat apa-apa. Kai pun memutuskan untuk meraih sebuah obor dan membawanya.

Kai memasuki ruangan itu, dan mengendarkan pandangannya. Matanya menjelajah setiap dinding ruangan itu. Kai pun baru menyadari bahwa ruangan itu sangatlah luas. Dan matanya tak bisa berhenti terpana.

Sebuah perpustakaan raksasa.

Kai melihat ke buku-buku yang berjajar di dinding perpustakaan. Ada banyak koleksi, dan separuh lebih di antaranya adalah manuskrip yang masih berantakan. Kai terpana melihat setiap catatan-catatan kuno dan naskah-naskah di sana. Tampak sudah sangat tua dan antik.

Kai berjalan ke sebuah tangga spiral, kemudian menaikinya secara perlahan. Buku-buku terus berjejer di dinding, membawa Kai dalam keantusiasan yang tinggi. Sesekali, Kai melihat judul-judul buku tua yang berjejer. Banyak sekali, dan tak sedikit yang merupakan buku tua.

Kai sampai di lantai dua perpustakaan itu, kemudian melihat ke buku-buku yang ada di dinding. Kai menaruh obornya di sebuah tempat obor, kemudian memicingkan matanya. Ia membaca judul-judul buku di sana.

"Buku-buku magic."gumam Kai.

Kai tertarik pada salah satu buku yang tampak sudah sangat tua dan usang. Ia menarik buku itu perlahan, kemudian meraba permukaannya. Penuh dengan debu.

Kai meniup debu pada buku itu, kemudian mengusapnya. Ia menatap judul yang tertera di sana. Kepalanya agak dimiringkan–merasa asing dengan buku itu.

"Aku tak pernah dengar dokumen apapun tentang ini dari Departemen Arkeologi."gumam Kai.

Kai mendudukkan dirinya di dekat obornya, kemudian membuka buku itu. Ia menatap huruf-huruf aneh yang ada di sana, berusaha menerjemahkannya. Kai membuka halaman selanjutnya, kemudian berusaha membacanya. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal–kewalahan karena tak mengerti arti buku itu.

"Kau sedang apa?"

Kai menengok kaget, ketika mendengar suara. Seketika, ia menghela nafas lega.

Tampak Erphy, yang sedang berjalan menaiki tangga. Erphy berjalan menghampirinya, kemudian duduk di samping Kai. Kai terkekeh kaku, kemudian menatap buku di tangannya.

"Buku apa ini? Aku tak pernah dengar dokumen tentang buku ini dari departemen di pemerintahan."ucap Kai.

"Kau seorang anggota departemen? Departemen apa?"tanya Erphy, membuat Kai terkekeh kikuk.

"Aku dari Departemen Arkeologi dan Gemologi Modern, tetapi aku spesialisasi gemologi, seperti Sehun dan Kris hyung."jawab Kai, diangguki Erphy.

"Apa yang membuatmu penasaran dengan buku ini?"tanya Erphy, dideliki Kai.

"Aku tak pernah mendengar apapun tentang buku ini. Apa kau tahu sesuatu?"tanya Kai, kemudian memperlihatkan halaman-halaman pada buku itu.

"Tentu saja aku tahu. Ini adalah Kitab Suci Abramelin Grimoire."

Kai mengerjap, ketika mendengar nama buku itu. Ia benar-benar merasa asing dengan nama itu. Ekspresi lucu Kai mengundang tawa renyah dari Erphy.

"Buku ini sangat sakral, dan hanya dimiliki sedikit dryad witch. Kami mempelajari ilmu sihir berdasar buku ini dan dari The Great Solomon Book."

Erphy bangkit dari duduknya, kemudian melihat-lihat ke dalam rak bukunya. Ia melihat sebuah buku besar, kemudian meraihnya dan membawanya bersamanya. Ia pun kembali duduk di samping Kai.

"The Great Solomon Book? Buku sihir yang terkenal itu?"kaget Kai, diangguki Erphy.

"Hanya salinannya, karena kudengar buku aslinya masih tertinggal di dunia manusia."ucap Erphy, diangguki Kai dengan semangat.

"Aku mau melihatnya!"pekik Kai, semangat.

Erphy menaruh buku cokelat di tangannya ke tanah, kemudian meraih buku di genggaman Kai dan menaruhnya di samping buku cokelatnya. Erphy menatap wajah Kai yang penasaran, lantas terkekeh. Ia memperlihatkan judul buku yang tadi Kai pegang–tertulis dalam huruf Latin kuno.

"Ini adalah Kitab Suci Abramelin Grimoire, yaitu kitab yang menjadi kiblat bagi para penyihir dalam mempelajari ilmu sihir. Seluruh mantera dalam kitab ini sangatlah kuat, mampu menangkal black magic."jelas Erphy.

Erphy menatap buku yang tadi dia perlihatkan pada Kai, kemudian membukanya. Ia memperlihatkan sebuah judul, yang tertulis dalam huruf Arab kuno.

"Ini adalah The Great Solomon Book, buku pada zaman yang sudah sangat lama, yang memperlihatkan bagaimana mempraktekkan sihir sesuai dengan kaidah dan tata cara. Sihir yang diperagakan adalah white magic, yaitu sihir baik yang tak pernah diaplikasikan pada manusia."jelas Erphy.

"Kau mempelajari kedua buku ini?"tanya Kai, diangguki Erphy.

"Dryad witch akan selalu dituntut untuk menguasai seluruh ilmu sihir dari seluruh penjuru dunia atas maupun dunia bawah. Aku bahkan mempelajari sihir pada penampilan penyihir bernama Harry Potter. Kudengar, dia sangat terkenal dalam kehidupan manusia."ucap Erphy, dikekehi Kai.

"Harry Potter dan kehidupannya hanyalah tokoh fiktif. Dia ada dalam sebuah film serial yang sangat digemari kawan-kawanku dan seluruh orang di dunia."ucap Kai.

"Mungkin dia adalah tokoh fiktif, tetapi tak semua ilmu yang ada dalam cerita itu adalah bohong. Contohnya adalah herbalogi dan astronomi."sergah Erphy.

"Jadi kau juga mempelajari ilmu sihir dari Harry Potter?"tanya Kai, diangguki Erphy.

"Cukup menambah wawasan. Nah, mari kita lanjutkan tentang kitab ini, kalau kau merasa tidak mengantuk."ucap Erphy.

"Aku sama sekali tidak mengantuk!"

-XOXO-

"Kau bilang kau tidak mengantuk."

Kini, Erphy tengah menatap gemas pada namja di sampingnya, yang tertidur seraya menyender pada dinding. Buku-buku di hadapannya sudah mencapai pertengahan halaman. Erphy pun menutup kedua buku itu, dan menaruhnya ke rak buku.

Erphy menatap Kai yang kini masih terlelap sangat pulas. Ia mengusap rambut Kai dengan perhatian, menatap wajah itu dengan senyuman.

"Kau harus kembali ke kamarmu."ucap Erphy.

Erphy berdiri, kemudian mengeluarkan kantung white powder-nya. Ia meraih sejumput bubuk, kemudian menatap wajah Kai.

"Kembalilah ke kamarmu, pangeran kecil."

DASH!

Dan tubuh itu hilang begitu saja dari pandangan.

-XOXO-

"Eungh."

Seorang namja tampak mengerang lirih, ketika ia membuka matanya. Ia membiaskan cahaya pada penglihatannya, kemudian menatap sekeliling.

"Lho! Kok aku ada di sini!?"

Terdengar pekikannya yang cukup keras, membuat seorang namja–yang tertidur di atas kasur pun–membalikkan tubuhnya dengan malas.

"Eungh, kau kenapa, Kai?"tanyanya, dengan mata setengah terbuka.

"Ta-tadi aku kan ada di perpustakaan, lalu, kok–"ia tampak tak sanggup melanjutkan ucapannya–sudden speechless.

"Kembalilah tidur."ucap namja yang tertidur di kasur–Kyungsoo–kemudian kembali memejamkan mata dengan malas.

Kai menatap ruangan di sekitarnya dengan heran. Dia tak ingat kalau dia berjalan keluar dari perpustakaan dengan obornya. Yang terakhir dia ingat adalah dia sedang dibacakan tentang isi buku-buku magis milik Erphy.

Kai terdiam. Mungkinkah Erphy menyihirnya kembali?

Mungkin saja.

To be continued!

.

Okayy okayy jadi di sini lebih ke internalisasi antar karakter yaaaa, dan kita jadi lebih kenal siapa dan gimana karakternya Erphy, salah satu OC kebanggaan HAW wkwkwkwk. Then again, kita masih belum tau apakah Felle bisa nemuin daggernya Tao apa nggak, dan apa aja rahasia tersembunyi dari dagger itu!

Jangan lupa pantengin FF HAW lainnya yaitu If You Could See Me Now (KaiSoo), Underworld Awakening (ChanBaek HunHan), dan yg di wattpad ada (Not Your) General Love Story (All EXO OTP) sama River Flows in You (HunHan)!

Mind to REVIEW and FAVOURITE our FF, please?

HUANG AND WU