"Kembalilah tidur."ucap namja yang tertidur di kasur–Kyungsoo–kemudian kembali memejamkan mata dengan malas.

Kai menatap ruangan di sekitarnya dengan heran. Dia tak ingat kalau dia berjalan keluar dari perpustakaan dengan obornya. Yang terakhir dia ingat adalah dia sedang dibacakan tentang isi buku-buku magis milik Erphy.

Kai terdiam. Mungkinkah Erphy menyihirnya kembali?

Mungkin saja.

.

-The Golden Chrysoberyl-

.

.

Chapter 17

Pegunungan Himalaya, 11 April 2015, 05:52

"Eungh."

Terdengar lenguhan seorang namja. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menaruh tangannya di tengkuknya–merasakan dirinya yang masih setengah bangun.

Sehun mendudukkan dirinya, kemudian menatap ke kiri dan ke kanannya. Ia mendapati ranjang Luhan, yang masih ditiduri sang empu. Sehun meregangkan otot-otot tubuhnya, kemudian kembali menatap wajah Luhan yang–kebetulan–tertidur menghadap ke arahnya.

Sehun menggeser sedikit tubuhnya, hingga berhadapan dengan wajah itu. Bibir itu mengerucut, membuatnya tampak sangat manis. Sehun terkekeh pelan. Luhan sangat polos jika sedang tertidur.

Sehun mengusap rambut Luhan, merasakan kelembutan tersendiri dari rambut itu. Ia merapikan selimut Luhan dan menariknya hingga sebatas pundak. Sehun menatap wajah Luhan yang masih menghadap ke arahnya.

Sehun memajukan wajahnya perlahan, takut empunya terbangun.

CHU

Sehun mengecup bibir itu perlahan. Hanya menempelkan. Tak ada nafsu dalam ciuman itu. Setelah beberapa saat, ia kembali melepasnya. Sehun menatap ke arah pintu, kemudian mengecup kening Luhan dan berdiri. Ia berjalan ke arah pintu, kemudian keluar.

Setelah Sehun keluar, barulah Luhan berani membuka mata.

Wajahnya tampak sangat syok, sekaligus.. merona.

-XOXO-

Sehun berjalan menyusuri lorong, mengikuti obor-obor yang menyinarinya. Ia berjalan melewati beberapa kamar, ketika seseorang keluar dari salah satu kamar.

"Sehun."

"Chanyeol hyung."ucap Sehun.

Sehun dan Chanyeol pun berjalan bersamaan. Mereka saling bertatapan. Entah kenapa, mereka merasa harus bangun. Feeling macam apa itu?

Mereka sampai di ruang perkumpulan. Tak ada orang di sana. Chanyeol menunjuk ke arah lorong yang mengarah ke ruang ramal Erphy. Mereka pun setuju untuk ke sana.

"Hoy."

Sehun dan Chanyeol berbalik, ketika mendapati Suho yang tengah berjalan menghampiri. Chanyeol dan Sehun menunggu Suho sampai, barulah kembali berjalan.

"Kalian mendapat feeling itu?"gumam Suho.

"Feeling yang kuat."ucap Sehun.

Sehun, Chanyeol, dan Suho sampai di pintu ruangan itu. Mereka pun membukanya, dan mendapati lorong yang membentang jauh dalam kegelapan.

"Gelap."ucap Sehun.

"Gunakan obor ini."ucap Chanyeol seraya menunjuk sebuah obor di dekatnya.

"Tapi, Erphy tak pernah menggunakan obor jika masuk. Dia selalu menggunakan white powder-nya."ucap Suho.

Sehun berinsiatif untuk mengambil sebuah batu. Ia melihat-lihat ke lantai, dan mendapati sebuah batu berukuran sedang. Ia pun mengambilnya. Sehun pun melemparnya ke dalam ruangan.

Aneh. Tak ada suara sesuatu terjatuh sama sekali.

"Kau tak dengar sesuatu, hyung?"tanya Chanyeol, diangguki Suho.

"Tak ada suara apa-apa."ucap Suho.

"Ada sesuatu pada lantai ini. Kita hanya bisa lewat jika menggunakan white powder."ucap Sehun.

KRIET

Sehun, Chanyeol, dan Suho terkaget, ketika mendengar suara pintu terbuka. Di ujung lorong gelap itu, pintu terbuka. Tampak Erphy, yang sedang berjalan dengan tergesa. Obor-obor di ruangan itu otomatis menyala.

"Erphy?"tanya Chanyeol.

"Oh, kalian sudah bangun?"tanya Erphy.

"Kami mendapat feeling aneh, makanya kami bangun."ucap Sehun.

"Itu bukan feeling aneh."ucap Erphy.

"Lantas?"tanya Suho.

.

.

"Itu adalah panggilan dari Felle yang sebenarnya ditujukan padaku. Dia sudah menemukan dagger itu!"

-XOXO-

Kini, mereka semua sudah terbangun. Hampir semua berkumpul di dalam ruang perkumpulan, beberapa masuk ke ruang ramal Erphy tempat dimana Tao berada. Wajah mereka menyiratkan kekhawatiran.

"Aku harap Tao segera bangun."gumam Henry, diangguki Zhoumi.

"Dia pasti bangun, kan?"tanya Zhoumi, pada Baekhyun yang duduk di sebelahnya.

"Aku tak tahu. Kuharap iya."jawab Baekhyun.

Sehun dan Luhan saling berpandangan, lantas berpegangan tangan–saling menguatkan. Kai dan Kyungsoo sedang menangkup tangan mereka, berdoa semoga tak terjadi hal-hal aneh. Minseok dan Jongdae saling bertatapan dengan sangat khawatir, takut sesuatu terjadi.

Sementara mereka berdoa, di dalam ruang ramal tampak lebih tegang lagi.

Kris tak henti-hentinya mengusap tangan Tao dengan lembut, berharap namja itu terbangun. Di belakangnya, ada Suho yang mengusap pundaknya, dan Lay yang berdiri di sampingnya. Di samping Kris, tampak Erphy yang sedang membacakan mantera-mantera terhadap white powder-nya.

DASH!

Erphy menabur white powder itu di atas tubuh Tao.

Di sisi lain tubuh Tao, tampak Felle yang sedang menatap Tao dengan khawatir. Sesuatu ada di dalam genggamannya yang erat.

Dagger milik Tao.

"Kau genggam dagger itu dengan tangan kirimu, aku genggam dengan tangan kanan. Kau genggam tangan kiri Tao, aku menggenggam tangan kanan Tao."

Mereka saling bergenggaman. Erphy menatap Tao yang masih terbaring lelap, berharap dengan kehadiran dagger itu, dia bisa bangun dan segar kembali.

Erphy dan Felle memejamkan matanya. Felle menunduk dalam, sedang Erphy membaca mantera-mantera. Kris menatap Tao dengan khawatir, dan Suho menyadari hal itu.

"Tenanglah, Kris."bisik Suho.

Kris mengangguk lemah. Ia menatap mereka dengan sangat khawatir. Sebesar apapun usahanya untuk menahan rasa khawatir itu, ia takkan pernah bisa menyembunyikannya.

SRING! SRING!

Kris, Suho, dan Lay terbelalak.

Tampak cahaya, berpendar dari dagger yang ada dalam genggaman kedua dryad itu. Lalu, wajah Tao juga tampak bercahaya. Kedua cahaya itu berbeda. Yang satu berwarna biru, dan satu lagi berwarna kuning.

SRING!

Kemudian, kedua cahaya itu redup, tetapi kembali berpendar. Kali ini–dengan sangat terang–berwarna hijau, yaitu campuran dari cahaya kuning dan cahaya biru. Kris, Suho, dan Lay tidak bisa mempercayai peristiwa di hadapan mereka.

SRING!

"ARGH!"

Mereka semua terperanjat. Tiba-tiba, cahaya hijau itu sudah hilang dari wajah Tao dan dari dagger itu. Kemudian, disusul oleh pekikan tertahan Tao.

"TAO!"

Mereka semua pun spontan memekik girang.

-XOXO-

"TAO!"

GREP!

Kris mendekap Tao erat, dengan Tao masih berusaha menyesuaikan matanya dengan cahaya. Suho dan Lay bergantian memeluk Tao, dengan Suho yang tidak bisa berhenti menangis karena khawatir dengan kondisi Tao. Kris memutuskan untuk membawa Tao keluar. Tao tampak kesulitan berjalan. Sesampainya di ruang perkumpulan, seluruh anggota tampak memekik senang–Luhan bahkan langsung mendekapnya.

"Lu.. han hyung."gumam Tao, tak dapat mempercayai apa yang ada di hadapannya.

"Ya, Tao! Ini aku!"ucap Luhan.

"Bu-bukannya kalian–"ucapan Tao terputus.

"Kami selamat saat terjatuh. Belum saatnya kami mati, bukan?"ucap Sehun, yang tiba-tiba merangkul tubuh Luhan.

"Se.. hun."ucap Tao, speechless.

Sehun langsung mendekap tubuh Tao erat, merasa lega karena akhirnya namja indigo itu terbangun. Setelah pertemuan itu, akhirnya Kris memutuskan untuk merawat Tao di dalam kamarnya hingga Tao benar-benar pulih. Mereka semua setuju.

Kris membantu Tao berjalan. Tadinya, Kris ingin menggendong Tao, tetapi Erphy mengatakan bahwa ada baiknya jika Tao dibantu berjalan agar dia terbiasa jalan lagi. Kris pun setuju.

"Tubuhmu masih sakit, dear?"tanya Kris, digelengi Tao.

"Sudah baikan. Hanya.. agak lemas."ucap Tao.

Kris memasuki kamarnya, kemudian membantu Tao hingga ke ranjang. Kris mendudukkan Tao perlahan, dan namja itu langsung menghirup nafas panjang setelah langkah panjang dari ruang ramal Erphy.

"Aku bersyukur kau terbangun, dear. Aku sangat khawatir."

Kris duduk di samping Tao, kemudian mengusap kepalanya. Tao menatap Kris dengan malu-malu, kemudian tersenyum manis. Kris tersenyum juga, kemudian mengusap wajah Tao.

"Akhirnya kau bangun. Syukurlah."ucap Kris, sangat lirih.

"Terimakasih karena sudah menjagaku, hyung."ucap Tao, dengan wajah yang berbinar.

Kris mengangguk, kemudian meraih tasnya dan mengeluarkan sesuatu. Sebuah botol minum.

Kris menatap Tao, kemudian menuangkan air pada botol itu ke dalam tutupnya. Ia menatap air itu, kemudian menyodorkan tutupnya pada Tao.

"Kau pasti haus."ucap Kris.

Tao mengangguk, kemudian meraih tutup itu. Ia langsung meminum airnya dalam sekali teguk. Air yang segar menyapa kerongkongannya, membuat sensasi menyenangkan yang mampu menggetarkannya. Serasa hidup kembali, begitulah pikirnya.

"Terimakasih."ucap Tao.

"Aku akan mengambil makanan untukmu. Kau tunggu sini."ucap Kris.

Kris mengecup pucuk kepala Tao kilat, kemudian berdiri dan berjalan keluar. Tao menatap setiap langkah namja pirang itu, hingga hanya pintu tertutup yang tersisa dalam pandangannya.

-XOXO-

"Felle, aku tak tahu harus bilang apa. Terimakasih karena sudah membantu Tao untuk sembuh."

Felle dan Erphy masih ada di dalam ruang ramal Erphy. Mereka tengah duduk di sebuah meja. Erphy menatap Felle dengan pandangan tak menentu.

Felle menggenggam tangan Erphy, kemudian tersenyum manis di wajahnya.

"Aku datang dengan merambati akar-akarmu. Jauh-jauh kemari untuk menyelamatkan Tao. Tao sudah kuanggap sebagai orang spesial dalam hidupku, dan aku tak bisa membiarkannya terbaring seperti itu."ucap Felle.

"Kau menyukai Tao?"tanya Erphy, dikekehi Felle.

"Normal jika dryad menyukai manusia, bukan?"balas Felle, membuat Erphy tersenyum.

"Kau sudah mengatakannya padanya? Jangan sampai seperti kejadian Pyre, dimana aku tak sempat mengungkapkan perasaanku."ucap Erphy.

Felle menatap wajah Erphy dengan penuh arti. Tapi kemudian, Felle menggeleng lembut. Rambut gelombangnya bergerak bersamanya. Erphy menatap Felle dengan heran.

"Kenapa kau tak mau mengungkapkannya? Felle, menahan perasaan itu sakit, terutama bagi seorang dryad. Kau akan selalu dihantui perasaan itu."ucap Erphy, membuat Felle tersenyum getir.

"Aku tak mau menjadi perusak di antara cinta murni yang lain."ucap Felle.

"Cinta murni lain? Siapa dengan siapa?"tanya Erphy.

"Tao. Dia memiliki cinta murni bersama seorang namja pirang dalam rombongannya yang bernama Kris."

Erphy terdiam. Felle tersenyum getir, kemudian menghela nafas pelan. Warna matanya meredup, tetapi senyum tak hilang dari wajahnya. Felle menatap langit-langit ruangan itu, merasakan getaran aneh dalam dirinya saat mengingat wajah Tao.

"Aku tak bisa menjaganya, tapi Kris ada di sana saat Tao membutuhkan perlindungan. Aku lalai dalam menjaga Tao, tetapi Kris ada di sana dan memasang tubuhnya untuk melindungi Tao. Aku tak bisa menghibur Tao, tetapi Kris ada di sana dan mendekap Tao dengan penuh cinta. Aku tak bisa melakukan hal-hal itu. Yang bisa kulakukan hanyalah mempercayakan Tao pada Kris."ucap Felle.

"Felle, semoga Dewi Demeter mau memberkati cinta sucimu."ucap Erphy, diangguki Felle.

"Ya. Aku pun berharap begitu."

-XOXO-

CKLEK

Pintu itu terbuka, menampakkan tubuh Kris yang membawa sebuah mangkuk. Tao menatap Kris dengan berbinar. Perut laparnya juga sudah menunggu Kris sedari tadi, dan melihat mangkuk itu membuat rasa laparnya memuncak.

"Ini."

Kris duduk di samping Tao, kemudian menyodorkan mangkuk itu. Tao menatap isinya, lantas mengernyit.

"Ini apa?"tanya Tao.

"Entahlah. Bentuknya seperti telur, dan dalamnya berwarna keunguan. Tapi, ini enak sekali! Erphy yang memasaknya spesial untuk makanan kami kemarin."ucap Kris.

Tao menggenggam sendoknya, kemudian memotong salah satu bulatan di situ. Ia mengambil potongannya, kemudian memasukkannya ke mulut. Kris menatap Tao, kemudian terkekeh ketika melihat pipi menggembung Tao yang sangat cute.

"Ini enak!"pekik Tao, senang.

"Aku tahu, kau pasti akan mengatakannya!"ucap Kris, senang.

Tao kembali menyuapkan makanan itu, dengan mata berbinar yang tiada henti. Kris menatap kegiatan Tao yang makan dalam diam. Dia sungguh memuji Tuhan karena sudah menciptakan kreasi seindah Tao.

"Hyung!"

Kris terbangun dari lamunannya, ketika sendok Tao ada di depan wajahnya. Tao menatap Kris dengan berbinar, kemudian kembali menyodorkan sendok itu. Kris menatap potongan bulatan di atas sendok itu.

Kris langsung memasukkan makanan itu, merasakan rasa enak yang menjalari mulutnya. Tao tersenyum senang, kemudian kembali makan.

"Erphy sangat jago masak!"gumam Tao, kemudian menyendokkan sebuah potongan ke mulutnya.

Kris terkekeh mendengar kata-kata Tao. Tao kembali menyuapkan makanan itu, tak hentinya merasakan rasa nikmat dari makanan kenyal itu.

"Terimakasih, hyung!"ucap Tao.

Dan sejurus kemudian, Tao langsung mendekap Kris dengan erat.

-XOXO-

"Kau akan segera pergi?"

Kini, mereka semua–minus Kris dan Tao–sedang menatap Felle, yang baru saja keluar dari ruang ramal. Felle menatap mereka, lantas tersenyum manis.

"Habitatku bukan di sini, tapi di hutan. Aku kemari hanya dalam situasi darurat."ucap Felle.

"Terimakasih karena sudah menyadarkan Tao. Kami tak tahu harus bilang apa lagi."ucap Suho, mewakili mereka.

"Sudah tugasku untuk membantu dia sebisaku. Katakan pada Tao agar menjaga dagger itu. Itu akan sangat berarti baginya."ucap Felle.

Mereka semua mengangguk. Felle berjalan, hendak ke kamar Kris–berpamitan. Kamar Kris ada di ujung lorong gelap, cukup jauh dari ruang perkumpulan.

Felle sampai di depan kamar Kris. Ia menatap pintu kayu itu, lantas menghela nafas. Ketika ia hendak membuka gagangnya, ia merasakan sesuatu.

"Ini enak!"

"Aku tahu, kau pasti akan mengatakannya!"

Felle tersenyum kecil, mendengar ucapan Tao yang seperti anak kecil. Ia juga tersenyum, ketika mendengar tanggapan Kris. Felle menatap pintu itu, meyakinkan diri untuk berpamitan atau tidak.

"Hyung!"

Terdengar suara Tao. Felle menajamkan inderanya, tetapi tak mendengar balasan dari suara Kris. Felle terdiam, lantas tersenyum kecil. Mungkin Tao menyuapi Kris; batinnya.

"Erphy sangat jago masak!"

Felle hampir saja ingin tertawa pelan, ketika mendengar gumaman Tao yang kelewat polos. Erphy, jika kau mendengar ini, kurasa kau akan sangat senang; batin Felle. Felle kembali memejamkan mata, menajamkan pendengarannya.

"Terimakasih, hyung!"

Setelah ucapan itu, terdengar suara pakaian yang ditepuk. Felle menghela nafas panjang. Felle sangat tahu suara apa itu.

Suara orang berpelukan.

Felle tersenyum getir, kemudian berjalan meninggalkan kamar itu. Semakin ia ingin menemui Tao, dia takut akan menyakiti dirinya sendiri karena melihat Tao bersama Kris. Tidak. Felle tidak ingin menyakiti dirinya sendiri.

Felle akan menjadi kuat, sama seperti Tao yang selalu berusaha kuat dalam perjuangannya di hutan.

-XOXO-

Kris dan Tao baru keluar, setelah Tao menghabiskan makanannya. Mereka berceloteh ria, dengan Tao sebagai pembicara dominan. Kris sesekali tergelak mendengar ucapan Tao yang konyol atau sangat polos.

"Kau sudah baikan, Tao?"

Tao menatap Lay yang ada di hadapannya, kemudian mengangguk semangat. Mereka pun berjalan beriringan ke ruang perkumpulan.

"Kau sudah bertemu dengan Felle? Tadi dia ke ruangan kalian untuk berpamitan."ucap Lay, membuat Tao dan Kris berpandangan heran.

"Berpamitan?"tanya Tao, diangguki Lay.

"Ya. Apa.. kalian tidak bertemu dengannya?"tanya Lay, digelengi Tao.

"Tak ada yang masuk ke kamar kami."ucap Kris.

"Begitu? Hmm, sayang sekali. Felle tampak sangat ingin bertemu denganmu, Tao. Tetapi mungkin, dia tak ingin mengganggu kalian."gumam Lay.

Kris mengangguk paham, dan terus berjalan bersama Tao yang menggenggam tangannya. Mereka terus berjalan ke ruang perkumpulan.

Tapi, hanya Tao yang memikirkan ucapan Lay.

-XOXO-

"Tao, kemarilah."

Tampak Erphy, tengah duduk di tengah rombongan. Kris dan Tao menghampiri Erphy. Tao duduk di samping Erphy, dan Kris duduk di sisi tubuh Tao yang lain.

"Kau sudah baikan, kan?"tanya Erphy, diangguki Tao.

"Terimakasih karena sudah menyembuhkanku."ucap Tao, disenyumi Erphy.

"Tao, ada yang ingin aku bicarakan denganmu."ucap Erphy.

"Apa?"tanya Tao, bersiap menyimak kata-kata Erphy.

"Maukah kau mencaritahu, siapa dan apa hubungan pemilik-pemilik sebelumnya terhadap dagger ini, dan juga hubungan mereka terhadap dirimu? Kurasa, itu akan sangat berguna."ucap Erphy, membuat Tao terdiam.

"Aku hanya takut. Mereka.. melakukan pembunuhan dan hal-hal semacamnya yang sangat sadis."gumam Tao.

"Aku mengerti, Tao. Tapi, ada satu hal yang mewajibkan kamu mencaritahu."ucap Erphy.

"Apa?"

.

.

"Dagger ini bukan sembarang benda, Tao."

To be continued!

.

Wahh, ada apa nih dengan dagger Tao? Apakah dagger itu berbahaya atau justru melindungi Tao? Bertanya-tanya, kan? Tunggu aja chap selanjutnya, ya!

Jangan lupa baca FF HAW yang lain! Di ffn ada Underworld Awakening (ChanBaek HunHan) dan If You Could See Me Now (KaiSoo)! Di wattpad ada River Flows in You (HunHan) dan (Not Your) General Love Story (All EXO OTP)!

Mind to REVIEW and FAVOURITE our FF, please?

HUANG AND WU