The Guardian : Maelstrom

Naruto : Masashi Kishimoto,

Highschool DxD : Ichiei Ishibumi,

Dan lain-lain.

Summary:

Namikaze Naruto, seorang murid pindahan dari Kyoto ke Kuoh, ia adalah sosok yang sangat jarang berbicara dan selalu menyendiri.
Namun gerak-geriknya selalu menimbulkan kecurigaan bagi penguasa dari Kuoh yaitu Iblis, seolah dia menyimpan rahasia.
Tetapi benarkah dia punya rahasia, ataukah itu hanya tuduhan tak mendasar saja?!

Chapter 1 : Misteri

Di sebuah perpustakaan.

Terlihat sosok pemuda berambut pirang bernama Namikaze Naruto, ia adalah salah satu murid pindahan dari Kyoto ke akademi Kuoh ini.

Akademi Kuoh, dahulunya adalah sekolah khusus untuk perempuan namun beberapa tahun terakhir peraturan itu berubah dan membuat sekolah ini kini dapat menerima siswa laki-laki. Maka tidak lah aneh jika siswa di sini jumlahnya tidak banyak.

Selain itu ada beberapa sosok yang terkenal di akademi ini, seperti sosok berambut pirang juga dan selalu dipuja-puja oleh siswi-siswi di mari, Yuuto Kiba. Seorang siswa yang kini duduk tingkat kedua, lalu murid tingkat satu yang selalu mendapatkan julukan 'Maskot Kuoh', Toujou Koneko, dan beberapa lainnya seperti Trio Mesum.

Pemuda yang duduk di tingkat tiga ini, kini menikmati waktu istirahat dengan berada di perpustakaan dari pada menghabiskan waktu di kelas ataupun kantin.

Naruto adalah pencinta suasa hening dan sunyi, karena baginya saat seperti ini dirinya dapat menikmati hal-hal yang dia sukai tanpa terganggu.

Close!

Naruto menutup buku yang dibacanya, lalu dia berdiri dan beranjak meninggalkan perpustakaan. Karena sebentar lagi waktu jam pelajaran akan di mulai kembali.

Tap!

Tak jauh dari tempat Naruto tadi duduk, terlihat sosok siswi berambut hitam panjang dengan diikat oleh pita berwarna jingga, sosok itu adalah Himejima Akeno, dia adalah salah satu dari sosok yang mendapatkan julukan sebagai 'Two Great Onee-sama'.

'20 menit, setiap istirahat dia selalu menghabiskan waktunya di sini,' batin Akeno.

Sosok siswi tingkat tiga ini, lalu berjalan keluar setelah merasa sudah aman. Sosok dengan bola mata ungu ini lalu mengingat kembali apa saja yang dilakukan oleh pemuda berambut pirang tersebut.

'Tadi dia membaca buku, tentang Kreasi kayu? Apakah ia ingin membuat sesuatu,' pikir Akeno.

Gadis berambut hitam ini lalu, pergi menuju tempat belakang sekolah lebih tepatnya ke sebuah bangunan tua yang bergaya klasik.

'Hah, kurasa sepertinya kita terlalu berlebihan menuduh yang tidak-tidak padanya.'

Akeno lalu berjalan ke dalam bangunan tua itu, dirinya lalu memasuki sebuah ruangan yang di sana terdapat tiga sosok perempuan lainnya yang mana dua sosok menggunakan kacamata dan satu sosok berambut panjang berwarna merah.

"Aku kembali," ucap Akeno.

"Selama datang, Akeno," balas sosok berambut merah yang kini tidak mengalihkan fokus pada sebuah papan catur.

Akeno lalu berjalan mendekati ketiganya, dirinya lalu melihat bagaimana permainan catur tersebut.

"Jadi bagaimana Akeno?," tanya sosok berambut merah.

"Tidak ada yang aneh, dia hanya menghabiskan waktunya di perpustakaan selama dua puluh menit dan setelah itu kembali ke kelas."

Sosok berambut merah, kemudian menghela napas dirinya lalu menatap pada sosok berambut hitam pendek yang menjadi lawan tanding dirinya.

"Sudah ku bilang Sona, dia hanya sosok biasa saja dan tidak punya sangkut paut dengan dunia kita," ucap sosok berambut merah.

Sementara sosok yang dipanggil Sona, menatap bermata biru tersebut dirinya lalu menghela napas.

"Rias, akan sangat berbahaya jika kita menurunkan pengawas padanya. Apakah kau lupa dengan bagaimana dia muncul secara tak sengaja ketika kita akan meninggalkan tempat Iblis liar, dan dia selalu muncul seperti itu, terus menerus. "

Sosok berambut merah yang dipanggil Rias ini tak dapat membantah ucapan dari Sona, ini sangat berbahaya karena bagaimana pun sosok yang berada di mari dan beberapa lainnya, bukan lah manusia.

Melainkan iblis, makhluk penghuni dari pada dunia bawah, kini mereka berada di sini karena untuk menjadi penanggung jawab akan daerah Kuoh dari gangguan makhluk lain yang seperti mereka.

Namun beberapa hari ini, mereka seperti seolah dipantau oleh satu sosok yaitu Namikaze Naruto, murid pindahan dari Kyoto.

Belum lagi di sekolah, sosok pemuda berambut pirang itu sangat terkenal jarang bersosialisasi dan berbicara membuat kecurigaan dari mereka sedikit meningkat.

"Jadi, kita harus bagaimana?," tanya Rias.

"Untuk saat ini lebih baik terus saja awasi gerak-geriknya, dan ku harap pada mu Rias untuk tidak melakukan tindakan nekat tanpa sepengetahuanku," jawab Sona.

Rias hanya menghela napas, dirinya lalu kembali permainan catur...

Checkmate

Sona telah memenangkan pertandingan catur, ini membuat Rias hanya dapat kesal. Untuk masalah kepintaran memang tidak ada yang dapat menandingi sahabatnya tersebut.

"Baiklah, kalau begitu aku akan kembali ke kelas,"

"Baik, oh iya Onii-sama, mengabarkan kalau perwakilan dari fraksi Malaikat akan datang lusa nanti,"

"Iya, Onee-sama juga mengabarkan itu, kalau tidak salah ini ada sangkut paut dengan pencurian dari pecahan pedang Excalibur dan Rias tolong jaga Knight mu itu,"

Sona dan sosok lainnya yang menggunakan kacamata lalu berjalan pergi meninggalkan gedung tersebut. Menyisakan Rias dan Akeno, sosok murid berambut merah ini lalu menatap ke arah jendela pada ruangan tersebut.

'Kiba...,' batin Rias yang khawatir.

The Guardian : Maelstrom

"Ah, akhirnya selesai juga!"

Terlihat seorang pemuda berambut cokelat, dengan menggunakan setelan sekolah dari pada Akademi Kuoh. Sosok ini adalah Hyoudou Issei.

"Iya, ini cukup melelahkan, Issei-san."

Seorang perempuan berambut pirang panjang dengan bola mata berwarna hijau, berdiri di samping dari pada sosok murid laki-laki berambut cokelat tersebut.

"Ara~ Ara~ bagaimana kalau ku pijat, Ne~ Issei-kun~"

Suara nada yang menggoda keluar dari mulut yang tak lain adalah Akeno yang kini mendekati sosok Issei dari belakang.

Issei yang mendengar itu tiba-tiba, wajahnya berubah menjadi mesum. Tetapi itu tak lama karena tiba-tiba sebuah tendangan mengenai wajahnya.

"Kau benar-benar sangat menjijikkan, Issei-senpai," ucap seorang perempuan bertubuh kecil dengan rambut putih dia adalah Koneko, sosok yang dijuluki 'Maskot Kuoh'.

Sementara itu sosok perempuan berambut pirang sedikit cemburu akan apa yang dilakukan oleh Akeno, dirinya lalu menatap ke arah aset yang dimiliki oleh siswi tingkat tiga tersebut dan membandingkannya dengan miliknya.

'Aku masih jauh, dari milik Akeno-san...'

"Ya ampun, Akeno berhentilah menggoda, Issei."

Suara lain kembali muncul dan kali ini adalah Rias, yang kini menghela napas melihat tingkah laku dari pada keluarga Iblisnya ini.

"Ara~ Ara~, Bunchou apakah kau iri~"

Rias yang mendengar itu hanya membuang muka, namun wajahnya sedikit memerah karena mendengar itu.

"T...Tentu saja tidak," balas Rias.

Sementara itu ada sosok lain yaitu primadona kaum hawa di sekolah, Yuuto Kiba yang kini dirinya hanya memandang ke langit.

"Kiba...Kiba?!"

Kiba langsung tersentak karena mendengar namanya di panggil keras, murid berambut pirang ini lalu menatap pada sosok Rias yang memanggilnya.

Terlihat Rias kini menatapnya dengan sedikit khawatir, pada sosok Knight keluarganya ini. Perempuan berambut merah ini mengetahui masa lalu dari pada Kiba, yang kini mulai terangkat kembali.

"Apa kau mau meluangkan waktu dulu bersama kami, di markas?," tanya Rias.

"Maaf, Bunchou sepertinya aku sedikit tak enak badan," balas Kiba.

Rias yang mendengar itu hanya dapat sedih dirinya tak menginginkan sosok Kiba jadi seperti ini namun dia tak bisa berbuat banyak, meskipun posisi dirinya yang tertinggi di keluarga ini. Melarangnya itu hanya akan sia-sia.

"Baiklah, kalau kau butuh bantuan kau bisa menghubungi ku, atau yang lain paham."

Kiba tak menjawab dirinya hanya menganggukan kepala sebagai pertanda iya.

Gyaaa!

Tiba-tiba Issei berteriak, dan itu membuat semuanya terkejut. Mereka lalu melihat Issei yang kini tersungkur seperti melihat suatu yang menakutkan, langsung saja semuanya berjalan mendekati Issei untuk melihat apa yang membuat pemuda berambut cokelat itu ketakutan.

"Issei-san! Ada apa?!"

"Issei?!"

Semuanya kini dapat melihat apa yang membuat Issei berteriak yaitu tak lain dan tak bukan adalah sosok murid tingkat tiga, Namikaze Naruto.

"N...Naruto-san?!"

Terlihat sosok Naruto yang kini tengah memakai jaket hitam dan celana panjang untuk olahraga serta menggunakan sendal, ia juga tengah menenteng sebuah tas belanjaan. Semua sosok yang melihat itu terkejut, lagi dan lagi tetapi bagaimana bisa.

"Eh...Naruto-san, apa yang kau lakukan malam-malam begini?," tanya Akeno dengan nada sedikit canggung di awal.

Naruto hanya diam, ini membuat suasana semakin tak mengenakan. Namun tak lama kemudian murid pindahan dari Kyoto ini mengambil sesuatu dari tas belanjaan yang dibawanya, dan itu adalah sebuah papan kayu.

Selain itu juga ia mengeluarkan sebuah buku dengan berjudul 'Kreasi kayu', Akeno yang melihat itu kini paham, sepertinya Naruto ingin membuat sesuatu berdasarkan buku tersebut.

"Apa kau ingin membuat sesuatu?."

Naruto hanya menjawab dengan sebuah anggukan, ia kemudian memasukkan kembali barang-barangnya ke tas belanjaan, lalu berjalan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata.

Setelah sosok pemuda berambut pirang itu pergi cukup jauh, kini semuanya kembali dapat sedikit tenang.

"Ya ampun, aku merasa tadi jantung ku hampir lepas dari tempatnya," ujar Issei yang kini menghela napas.

"Lagi dan lagi," ucap Rias.

"Ini sudah, kelima kalinya kita bertemu seperti ini dengan Naruto-senpai."

"A..Apa menurut Bunchou, Naruto-san sengaja?," tanya perempuan berambut pirang.

"Aku tidak tahu, Asia, namun yang pasti kita harus berhati-hati terhadap gerak-geriknya bisa saja dia...Musuh,"

Semua sosok Iblis di situ, menganggukan kepala dan lalu pergi meninggalkan tempat tersebut dengan menggunakan sebuah lingkaran berwarna merah yang membuat mereka menghilang.

Kembali ke sosok murid pindahan dari Kyoto, Naruto kini terus berjalan namun tak berapa lama kemudian. Sebuah sinar biru muda muncul dari arah pergelangan tangannya.

Naruto lalu berhenti sejenak, dan kemudian pemuda berambut pirang ini menatap ke arah langit yang penuh dengan bintang.

"Makhluk hidup di bumi ini benar-benar menarik..."

Bersambung...