The Guardian : Maelstrom
Naruto : Masashi Kishimoto,
Highschool DxD : Ichiei Ishibumi,
Dan lain-lain.
Summary:
Namikaze Naruto, seorang murid pindahan dari Kyoto ke Kuoh.
Ia adalah sosok yang sangat jarang berbicara, dan selalu menyendiri.
Namun gerak-geriknya selalu menimbulkan kecurigaan bagi penguasa dari Kuoh yaitu Iblis.
Seolah dia menyimpan rahasia.
Namun benarkah dia punya rahasia, ataukah itu hanya tuduhan tak mendasar saja?!
Chapter 2 : Melayang
Terlihat pemuda berambut pirang bersama dengan perempuan berambut hitam panjang yang diikat tali, tengah berjalan bersama. Namikaze Naruto dan Himejima Akeno, ini karena mereka tengah menuju tempat untuk mengerjakan tugas kelompok.
'Ayolah, Akeno berani kan dirimu dan keluar kan dirimu dari situasi membosankan ini!,' teriak Akeno dalam hatinya.
Ini dikarenakan, dari awal keluar kelas hingga sekarang, tidak ada sebuah basa-basi untuk meluangkan waktu agar tidak bosan. Sebenarnya sosok bermata ungu ini, mencoba untuk membangun topik pembicaraan namun ia selalu tak bisa mengeluarkannya.
Karena Naruto bukanlah sosok yang bisa di ajak basa-basi, pemuda berambut pirang itu akan menjawab dengan gerak bagian tubuhnya. Akeno bahkan jarang mendengar suara dari pemuda berambut pirang tersebut.
Tap!
Pemuda dengan bola mata berwarna biru tersebut berhenti, itu membuat sosok di sebelahnya ikut berhenti, jari Naruto lalu menunjuk pada sebuah kedai kecil yang tidak besar dan ramai.
'Jadi di sini.,' batin Akeno.
Naruto lalu membuka pintu kedai tersebut, dan masuk ke dalam dengan di ikuti oleh Akeno, ketika siswi tingkat tiga ini masuk. Suasana sunyi dan tenteram menyambutnya, semuanya nampak sederhana atap-atapnya di pasang kipas sebagai penyejuk ruangan, tidak hanya itu terdapat rak-rak buku yang berjejer rapi.
"Selamat datang, Ah Naruto-kun, seperti biasa bukan," sebuah suara dari seorang pria berambut putih menyambut kedua murid dari akademi Kuoh ini. Sosok ini adalah pemilik sekaligus pegawai dari kedai ini dan namanya adalah Shiryu Haru.
Naruto menganggukan kepalanya, lalu Haru menatap pada sosok di samping pemuda pirang tersebut.
"Dan kau nona?," tanya pria berambut putih.
Akeno terdiam beberapa saat, dia tidak tahu harus memesan apa karena belum mengenal menu apa saja yang disediakan di tempat ini.
"Hm, kalau boleh tahu apakah kau juga menyediakan teh," ucap Akeno.
"Tentu saja."
"Baiklah itu saja," balas Akeno.
Sosok pria tersebut lalu berjalan pergi untuk menyiapkan pesanan dari dua pelanggan ini, sementara itu kedua murid ini lalu berjalan menuju meja bernomor 2, Naruto dan Akeno lalu duduk saling berseberangan.
Tidak hanya itu keduanya lalu mengeluarkan alat-alat untuk mengerjakan tugas yang diberikan, Akeno juga menyiapkan telepon pintarnya jika suatu waktu mereka mengalami kesusahan dalam mengerjakan tugas.
Tick!
Tick!
'Hm...tunggu kok?!,' pikir Akeno.
"Naruto-san, apakah disini ada-"
Belum selesai Akeno berbicara, murid pindahan dari Kyoto ini sudah menunjuk ke sebuah arah. Siswi bermata ungu ini lalu melihat ke mana jari telunjuk pemuda berambut pirang itu, dan itu menunjuk pada sebuah plang yang bertuliskan.
'Tidak ada Internet gratis di mari, silakan nikmati waktu dengan buku dan minuman anda!'
Akeno hanya dapat memasang muka datar, dan setelah itu ia menghela napas serta sedikit kesal karena kenapa Naruto memilih tempat yang tidak menyediakan Internet gratis, ini akan memakan waktu tak sebentar untuk mengerjakan tugas yang diberikan.
"Naruto-san, bukankah ini akan sedikit menyulitkan untuk mengerjakan soal tanpa bantu-"
Kembali lagi, siswi tingkat tiga ini terdiam akibat pemuda berambut pirang itu sudah memegang buku yang berkaitan dengan tugas yang diberikan.
Inilah yang membuat Akeno, atau bahkan yang lain susah mendekati Naruto. Karena ia selalu menjawab tanpa perlu mengeluarkan suara. Bahkan sosok perempuan berambut hitam panjang ini, serasa tidak punya celah untuk menggali informasi penting mengenai sosok pemuda berambut pirang tersebut.
Tap!
Haru kini kembali menunjukkan batang hidungnya, ia mendekati meja nomor 2 sambil membawa sejumlah pesanan.
Drop!
"Ini dia," ucap Haru.
Pria berambut putih ini menaruh, secangkir berisi teh pada sisi Akeno. Sementara di sisi Naruto, ia menaruh sebuah mangkok berisi Mi dengan telor dan segelas air putih.
"Selamat nikmati hidangan dan waktunya."
Setelah mengatakan itu, Haru lalu pergi dari situ meninggalkan kedua murid akademi Kuoh tersebut.
Akeno hanya terdiam ketika melihat apa yang dipesan oleh pemuda berambut pirang tersebut, sebuah makanan yang terbuat dari terigu dengan telor. Apakah ini adalah makanan kesukaannya.
Naruto masih fokus pada tugas, ia belum menyentuh sama sekali makannya atau minumannya, sementara perempuan berambut hitam panjang sesekali meminum teh yang dipesannya.
Tatapan dari Akeno sesekali mengawasi gerak-gerik pemuda berambut pirang tersebut namun sampai sekarang tidak ada yang aneh. Ia lalu mencoba untuk kembali fokus pada tugas.
Sruup!
Akeno tiba-tiba mendengar suara seseorang menyeruput, ia lalu kembali menatap ke pada Naruto namun yang ada pemuda itu masih dalam posisi fokus akan tugasnya. Tetapi bola mata ungu miliknya menangkap sesuatu yang berbeda pada mangkuk mi yang dipesan.
Kosong, ya tidak ada yang tersisa, kembali Akeno hanya bisa memasang wajah datar kepada murid pindahan tersebut.
'Apa, dia menghabiskannya dengan sekali coba, bukankah itu panas,' pikir Akeno.
Akeno hanya dapat menggeleng pelan. Masih banyak hal yang tidak ia ketahui mengenai Naruto.
The Guardian : Maelstrom
Akeno berlari terburu-buru, akibat panggilan darurat dari Rias, dirinya kini berada di bangunan tua yang menjadi markas bagi mereka.
Tap!
Tap!
Open!
Dengan napas yang masih terengah-engah, ia lalu memasuki ruangan yang mana terdapat tiga sosok yaitu Rias, Sona, dan satu sosok lagi berambut panjang dengan kacamata yang memiliki nama yaitu Tsubaki Sinra.
"Maaf, Bunchou..hah, aku tadi harus bersama Naruto-san untuk mengerjakan tugas," ujar Akeno.
Terlihat sosok Rias sedikit terkejut dengan kedatangan dan alasan yang diberikan dari pada tangan kanannya tersebut.
"Tunggu, kau bersama dengan Naruto-san?," tanya Rias dengan satu alis terangkat.
"Ya, ini karena kami satu kelompok," balas Akeno.
Rias ingin bertanya lagi mengenai Naruto dan informasi apa saja yang didapatkan oleh Akeno, agar mereka bisa mengetahui apakah sosok murid pindahan ini adalah sebuah ancaman atau tidak.
"Soal dia, kita bisa bicarakan nanti untuk saat ini anggota keluarga kita dalam bahaya," ucap Sona, yang menghentikan sahabatnya dikarenakan saat ini ada masalah yang lebih serius.
Sosok berambut merah itu terdiam, ia melupakan kalau anggota keluarganya kini dalam bahaya, dirinya lalu sedikit cemas terhadap keselamatan mereka terutama Kiba. Semenjak melihat foto-foto album Issei, sosok primadona kaum hawa di Kuoh ini kembali terobsesi akan dendamnya.
Dendamnya yang ia sudah pendam sangat lama dan ingin membalaskannya pada sebuah pedang yaitu Excalibur. Rias masih ingat ketika ia bertemu Kiba, sosok yang berhasil selamat dari percobaan cukup kejam yang berkaitan dengan pedang suci itu.
Siswi tingkat tiga ini mencoba segala upaya agar sosok Knight miliknya itu melupakan dendamnya dan memulai hidup baru, namun sayangnya itu tidak berhasil dan ini semakin buruk ketika kedatangan dua sosok utusan Fraksi Malaikat, yang mengirim dua Exorcist muda bernama Irina Shidou sekaligus teman masa kecil dari Issei serta Xenovia Quarta, keduanya membawa pecahan dari pedang Excalibur, yaitu Excalibur Mimic dan Excalibur Destruction.
Kiba yang pergi menyendiri kembali dan menatang kedua perwakilan itu, dan hasilnya sudah dapat dipastikan.
Kini, anggota kedua keluarga Iblis ini, yaitu Rias dan Sona. Pergi untuk membantu Kiba bersama dengan sosok perwakilan Malaikat. Untuk mencari pecahan Excalibur lain yang ada di kota ini, pecahan-pecahan itu di curi oleh sosok veteran perang besar dari Fraksi Malaikat Jatuh, Kokabiel.
"Nona Sona, aku sudah menemukan lokasi mereka," ucap Tsubaki.
Sona lalu mengangguk, dirinya lalu meminta pada Tsubaki untuk menciptakan sebuah lingkaran sihir untuk memindahkan mereka semua ke lokasi tujuan.
Seketika keempat sosok tersebut hilang dalam lingkaran berwarna biru tua.
Sriing!
Langsung saja keempat sosok ini sampai di lokasi di mana, anggota keluarga mereka. Terlihat seperti selesai melakukan sesuatu.
"Ne, Issei bisa kau jelaskan apa yang terjadi," ujar Rias dengan suara lembut namun tegas.
"Begitu juga dengan mu, Saji."
"Bunchou!"
"Kaichou!"
Beberapa saat kemudian...
"Jadi begitu,?"
"Hai, Bunchou," ucap serentak dua sosok yaitu Issei dan Koneko yang menceritakan semua yang terjadi, kesimpulannya mereka ingin membantu Kiba, namun tetap saja ini berbahaya dan bisa mengancam keselamatan nyawa mereka sendiri.
Rias yang mendengar cerita itu, hanya menghela napas melihat tingkah laku, pion dan bentengnya itu. Tetapi tak berapa kemudian sosok berambut merah ini memeluk erat keduanya.
"Setidaknya kalian tidak terluka, aku sangat khawatir tadi mengenai kalian."
Tidak ada balasan yang diberikan oleh pemuda berambu cokelat dan sosok yang dikenal 'Maskot Kuoh', keduanya terdiam dan memikirkan apa yang telah lakukan.
"Bunchou yang kulakukan ini, demi menyelamatkan Kiba-senpai."
Rias yang mendengar itu hanya tersenyum lembut.
"Lihat mereka menyelesaikannya dengan damai! Kaichou!," jerit seorang pemuda berambut pirang yang kini tengah menungging dengan terdapat sebuah lingkaran sihir putih.
"Iya dan aku punya cara sendiri untuk berdamai!," balas Sona.
Gyaa!
"Eh Bunchou," ucap Issei dengan pelan.
"Iya, Issei."
"Kau tidak jadi menghukum kami kan?," tanya Issei.
"Tentu saja tetap..."
"Apa!"
Issei hanya dapat terkejut mendengar pernyataan dari sosok pemimpin mereka, dirinya pikir ia akan berhasil lari dari jerat hukuman namun ternyata sosok perempuan berambut merah itu tetap akan melakukannya.
"Bersiap merasakannya, Hyoudou!," teriak Saji yang berlinang air mata akibat menahan rasa sakit.
"Nah Koneko, kau hanya akan menerima 1 sementara 999x akan di terima oleh Issei," ungkap Rias.
Pemuda berambut cokelat hanya bisa terdiam dengan wajah terkejut, ini pasti akan membekas.
Sementara...
Terlihat di luar bangunan tua tersebut, seseorang dari langit tengah memandang apa yang tengah terjadi. Namikaze Naruto, kini ia tengah melayang di angkasa tanpa apa-pun. Dirinya kini mengambil sesuatu dari balik saku kemeja akademi miliknya.
Sebuah foto yang menunjukkan tiga sosok yang tak lain adalah Akeno, dan dua sosok yang dapat dipastikan adalah Ibu dan Ayahnya. Bagaimana pemuda berambut pirang ini mendapatkan foto tersebut, ini karena ia secara tidak sengaja menemukannya ketika benda ini terjatuh dari tas milik perempuan berambut hitam tersebut.
'Di balik wajah ceria mu, kau menyimpan sebuah amarah,' pikir Naruto.
Sosok ini lalu memasukkan kembali foto tersebut, kemudian ia pergi dari tempat tersebut.
Bersambung...
