Naruto milik Masashi Kishimoto.
Fanfiksi ini ditulis murni hanya untuk kesenangan semata.
Sakura mengusap kening. Atensinya terhadap dokumen berjejer di atas meja kerja lagi-lagi terdistraksi. Satu hela napas berat terembus kemudian. Entahlah, agaknya sejak siang tadi, rongga hidungnya tetiba saja terasa panas, otot-otot kaku, bahkan biar telah mengenakan sweater tebal (sesekali dilapis jaket), atmosfer yang mengapit di sekitar seolah senangnya berkonspirasi untuk membikin menggigil.
Sempat netra klorofilnya melirik jam dinding, pukul setengah dua belas malam—ah, terhitung berjam-jam sudah berkutat dengan laporan rumah sakit, rupanya. Barangkali tragedi tak mengenakan kemarin yang membuatnya kepayahan begini. Perkara cukup menyebalkan, jujur saja. Sakura yang sore itu memutuskan untuk berjalan kaki akibat ketinggalan bus di kawasan antah-berantah, malah diguyur hujan sampai-sampai pulang dengan seluruh pakaian basah kuyup. Tetapi, tentu saja. Mau bagaimanapun, kertas-kertas menumpuk di hadapan harus segera diselesaikan, setidaknya supaya esok tidak terlalu sibuk, bagus-bagus dapat mengambil waktu beristirahat barang sejenak.
Layar laptop ditatap lagi, belum sempat mengetik sepatah kata juga, pintunya diketuk sesaat. Sakura mengadah, nampak figur lelaki yang berdiri di ambang tembok. Rautnya datar, melipat lengan di atas dada. "Masih belum selesai?"
Bahu terangkat, sudut bibir Sakura tercetak agak kikuk. "Kau lihat, pekerjaanku masih banyak, Sasuke-kun. Harus selesai besok, sih."
Ada dengusan keluar begitu Sasuke yang melangkah pelan, terhenti tepat di sisi meja. Masih sambil melipat lengan, bokong didaratkan dekat cangkir kopi yang telah tandas, bertumpang kaki. "Kalau kerja tanpa ingat waktu, sama saja bunuh diri dengan perlahan."
Sontak Sakura terkekeh, jemari menjauhi keyboard, menatap sepenuhnya seraya punggung menyandar. "Kau benar. Aku memang ingin sekali tidur."
Obsidian sang pria berhelai hitam melembut begitu memerhatikan kelopak yang menutup, dalam hening mengatensi lamat-lamat—bulu mata yang lentik, wajah lelah tanpa riasan, juga bibir yang lebih nampak pucat dan kering. Menyadari sesuatu yang ganjal, kemudian selagi deru napas di hadapan berembus beraturan, jemarinya terangkat, menyentuh kening yang kerap menjadi tempatnya mendaratkan kecupan itu. "Kau pucat sekali."
Netra sontak terbuka, membenahi posisi duduk dengan pandangan mengadah. "Benarkah?"
Giliran Sasuke yang membuang hela napas panjang. "Beristirahatlah, tubuhmu juga panas. Jangan dilanjutkan."
Ujarannya dibarengi langkah menjauh. Tetapi, Sakura cukup membisu, tak berniat menahan atau barang mengucap sepatah silabel lagi. Sebab sesungguhnya tak tahu harus menjawab bagaimana untuk kalimat yang barusan merasuki gendang. Sembari menatap punggung yang hilang di balik pintu itu, sontak napasnya terembus panjang, kembali menyandar dalam hening yang mengapit. Barangkali sang suami juga lelah, atas fokusnya yang seminggu belakangan disibukkan dengan pekerjaan melulu sampai-sampai jarang pulang, sampai-sampai nyaris lupa segala-gala. Ah, Sakura jadi merasa bersalah, berpikir tentang istri macam apa yang bahkan jarang mengurus rumah jika dihadapkan dengan tuntutan perintah atasan. Sudah pasti Sasuke akan marah, bukan? "Ah, menyebalkan."
Detik berjalan, menit bertambah, terus menerus hingga layar laptop yang samar-samar mulai menusuk mata itu ditutup perlahan. Hidungnya gatal, atmosfer seolah semakin mendingin, tubuh terasa akan ambruk kapan saja. Seiring bangkit dari kursi kerja, atensi sang wanita merah muda teralih ketika suara benda yang jatuh terdengar sangat nyaring di telinga. Alisnya mengkerut. Sepertinya dari arah dapur, apa, ya? Tikus, kah?
Sambil berjalan pelan berniat memastikan, jaket yang dikenakannya sengaja dirapatkan. Takut-takut rumahnya kemasukan maling atau yang jahat-jahat begitu. Namun, sungguh, betapa terkejutnya Sakura di ambang pintu, mendapati panci yang telah berserak di ubin, terlebih lagi dengan figur Sasuke yang mengenakan celemek—rautnya nampak horor menatap sayuran yang berjatuhan seraya sebelah jemari menggenggam pisau. "Sasuke-kun, sedang apa?"
Yang ditanya sontak saja berbalik kaget. Gelagapan sesaat, tak lama menggaruk tengkuk ragu-ragu. "Kau pasti belum makan, 'kan? Aku berniat membuat sup."
Kepingan wortel berantakan, suara air mendidih mengudara. Seberkas rona kemerahan terbias di pipinya, membuat Sakura lantas tertegun. Lagi-lagi dibuat bisu. Ah, hangat meliputi sudut-sudut hati, tarikan sudut bibir itu tak mampu disembunyikan. Kemudian kakinya melangkah, mendekati sang suami yang tengah berjongkok memungut kekacauan yang entah sejak kapan dibuatnya. "Mau kubantu?"
Sasuke menatap dengan alis mengkerut. "Tak usah. Kau duduk saja, begini-begini aku juga bisa masak, tahu."
Kalimatnya berhasil timbulkan kekeh terlontar, dibarengi langkah yang berjalan mendekati kursi. "Baiklah, baiklah, aku akan menunggu di sini."
Lengan bertumpu di atas meja makan, sudut bibir Sakura tak mampu hentikan membentuk kurva. Dalam ruangan yang terisi suara-suara pisau beradu dengan talenan, hidungnya memang masih gatal. Tetapi, mengatensi sosok helai hitam yang tengah sibuk itu benar-benar membuat sesuatu bergejolak di dadanya. Rautnya yang nampak serius, sesekali meringis begitu nyaris terkena panas air—ah, Sakura pikir, sang suami tak akan lagi peduli terhadapnya yang belakangan gila kerja, sebab justru pemandangan di hadapan sungguh membuatnya ingin menangis.
Lima menit yang lantas terlewat begitu saja, Sasuke berbalik. Menenteng semangkuk sup membaur aroma wangi. Senyumnya tersulam implisit di wajah selagi sang istri nampak antusias untuk segera menikmati hidangan. "Hati-hati, ini masih panas."
Sakura mengangguk pelan, mengambil sendok serta tuangkan segelas air. Tak lama kursi di hadapan menyusul ditarik, celemek yang ikut terlepas dari tubuh tegap. "Terima kasih, Sasuke-kun."
Sempat netra bersitatap, kemudian yang terjadi selanjutnya adalah Sakura dengan teramat lahap memakan sup sayur itu dibarengi nasi yang masih hangat. Netranya berbinar, berkali-kali menggumam, wah, enak sekali—hingga kelopaknya menyipit. Sasuke yang hanya tersenyum simpul, samar-samar celah hatinya dilanda kehangatan tak terkira. Lantas puncuk kepala merah muda sang istri diusap pelan. Biar sama-sama disibukkan pekerjaan, walau selalu terpisah perkara waktu, bukankah pernikahan itu seharusnya begini? Saling mengerti, mengasihi—juga merangkul di tiap musim yang silih berganti.
Selagi hanya bunyi sendok beradu yang mengeksploitasi telinga, lagi-lagi tarikan sudut bibir terpahat implisit. Sudah pukul dua belas tepat begitu kudapan dalam mangkuk telah nyaris habis, sontak saja kalimat terlontar dengan gurauan, "Aku seharusnya jadi koki saja, sih."
Kemudian keduanya tertawa kecil. Dibarengi sup hangat yang sepenuhnya tak bersisa, satu malam dilewati dengan gelantungan gemintang di sudut cakrawala. Ah, mungkin esok-esok Sasuke akan memasak kare juga.
A/N: Haloo! Ah, udah lama banget rasanya gak nulis di pair kesayangan ini lagi. Sejujurnya bingung juga bikin apa, mohon maaf untuk semua bentuk kesalahannya, sangat terbuka jika ada kritik maupun saran! /emot lope/
