π™³π™Έπš‚π™²π™»π™°π™Έπ™Όπ™΄πš:

π’„π’†π’“π’Šπ’•π’‚ π’Šπ’π’Š π’•π’†π’“π’Šπ’π’”π’‘π’Šπ’“π’‚π’”π’Š π’…π’‚π’“π’Š π’Œπ’Šπ’”π’‚π’‰ π’π’šπ’‚π’•π’‚ π’”π’†π’”π’†π’π’“π’‚π’π’ˆ π’šπ’‚π’π’ˆ π’•π’Šπ’…π’‚π’Œ π’…π’Šπ’”π’†π’ƒπ’–π’•π’Œπ’‚π’, 𝒉𝒂𝒓𝒂𝒑 π’–π’π’•π’–π’Œ π’•π’Šπ’…π’‚π’Œ π’Žπ’†π’Žπ’ƒπ’†π’“π’Šπ’Œπ’‚π’ π’Œπ’π’Žπ’†π’π’•π’‚π’“ π’ƒπ’–π’“π’–π’Œ π’•π’†π’π’•π’‚π’π’ˆ π’„π’†π’“π’Šπ’•π’‚ π’Šπ’π’Š 𝒔𝒆𝒍𝒖𝒓𝒖𝒉 𝒂𝒍𝒖𝒓 𝒅𝒂𝒏 𝒋𝒂𝒍𝒂𝒏 𝒄𝒆𝒓i𝒕𝒂 π’…π’Šπ’ƒπ’–π’‚π’• π’Žπ’–π’“π’π’Š π’…π’‚π’“π’Š π’π’•π’‚π’Œ π’”π’‚π’šπ’‚ π’”π’†π’π’…π’Šπ’“π’Š (π’”π’‚π’šπ’‚ π’‚π’π’•π’Š π’‘π’π’‚π’ˆπ’Šπ’‚π’•-π’‘π’π’‚π’ˆπ’Šπ’‚π’• 𝒄𝒍𝒖𝒃 π’Žπ’‚π’”π’Šπ’‰ π’‘π’–π’π’šπ’‚ π’π’•π’‚π’Œ 𝒃𝒖𝒂𝒕 π’Žπ’Šπ’Œπ’Šπ’“ π’”π’π’‚π’π’π’šπ’‚), π’‹π’Šπ’Œπ’‚ π’„π’†π’“π’Šπ’•π’‚ π’Šπ’π’Š π’•π’Šπ’…π’‚π’Œ π’”π’†π’”π’–π’‚π’Š 𝒔𝒆𝒍𝒆𝒓𝒂 π’Œπ’‚π’π’Šπ’‚π’ π’ƒπ’Šπ’”π’‚ π’”π’Œπ’Šπ’‘ 𝒂𝒕𝒂𝒖 π’‹π’‚π’π’ˆπ’‚π’ π’…π’Šπ’ƒπ’‚π’„π’‚. π’‹π’Šπ’Œπ’‚ π’Žπ’†π’π’–π’“π’–π’• π’Œπ’‚π’π’Šπ’‚π’ π’Šπ’π’Š π’Œπ’†π’•π’†π’“π’π’‚π’π’–π’‚π’ π’šπ’‚ 𝒃𝒐𝒅𝒐 π’‚π’Žπ’‚π’• π’Œπ’‚π’ π’Šπ’π’Š π’•π’†π’“π’Šπ’π’”π’‘π’Šπ’“π’‚π’”π’Š π’…π’‚π’“π’Š π’Œπ’Šπ’”π’‚π’‰ π’π’šπ’‚π’•π’‚.

𝒄𝒂𝒔𝒕 π’ƒπ’šπ’–π’ π’ƒπ’‚π’†π’Œπ’‰π’šπ’–π’ π’”π’†π’π’…π’Šπ’“π’Š π’…π’Šπ’„π’†π’“π’Šπ’•π’‚π’Œπ’‚π’ 𝒕𝒆𝒍𝒂𝒉 π’Žπ’†π’inggal.

.

WARNING!!

sebelum membaca harap ketahui bahwa ini cerita yang bengandung unsur dewasa jika kalian merasa masih dibawah umur mohon untuk di skip karna dosa kalian juga yang nanggung saya sebagai author hanya mengingatkan..

BXB/GAY

.

A/n: aku harap kalian suka dengan fanfic ini walau ceritanya terbilang cukup weird, beberapa adegan sengaja dilebih-lebihkan guna mendramatisir keadaan.

.

β€”β€”β€”

Disebuah tempat berdiri sebuah bangunan sederhana yang tampak telah ditumbuhi oleh semak belukar maupun tumbuhan menjalar, sebuah rumah yang pernah menjadi saksi akan kehangatan sebuah cinta dari sepasang makhluk tuhan

Berpuluh-puluh buket bunga magnolia tampak memenuhi rumah tersebut, dibiarkan layu hingga tak berwarna menyisakan aura suram disana, bunga yang seharusnya menyimbolkan tentang cinta yang suci dan tulus malah berubah menjadi tak berarti.

Pemiliknya telah pergi seraya meninggalkan kenangan pahitnya akan cinta pada rumah malang tersebut, rumah yang seharusnya saat ini masih terasa hidup akan penghuni didalamnya namun harus ditinggalkan hingga usang karena tak terurus.

Park Chanyeol pria berusia 37 tahun yang sedang dirundung kesedihan mendalam serta penyesalan seumur hidup yang tak dapat dikembalikan seperti sedia kala

Kini dirinya harus mendekam dibalik dinginnya jeruji besi, entah sampai kapan ia tak peduli karena alasannya untuk hidup telah tiada, alasannya untuk bernafas telah meninggalkannya.

Meskipun air mata menganak sungai, ia tahu jika sebuah penyesalan takkan bisa mengembalikan kecintaannya sekaligus belahan jiwanya Pikiran kalut telah membutakan normanya sebagai manusia dan hari itu ia melakukannya

6 May 2018

Sebuah tubuh tak bernyawa tengah berbaring dikasur king sizenya, chanyeol mulai membersihkan tubuh kaku itu dengan lembut serta penuh perasaan, mayat itu masih berumur tiga hari semenjak dikuburkan.

Baginya meskipun telah menjadi mayat jasad suami kecintaanya itu tetaplah mempesona seperti saat ia masih hidup dulu.

Byun Baekhyun suami tercintanya.

"baekhyuna..kau telah kembali kerumah, kita akan kembali bersama" lirihnya sembari mengelus kulit mulus tak bercela sang suami, kemudian dibawanya tubuh lelahnya untuk berbaring disamping suami mungilnya, layaknya saat bersama seperti dulu ia bersandar pada tumpuan kasur kemudian mengelus surai lembut sang suami.

"Aku rindu, ketika kita melakukan hal ini sehabis bercinta, kau akan memelukku dan aku mengelus rambutmu, Baekhyuna aku minta maaf hm..?" tenggorokannya sakit karena menahan isak tangisnya agak tak keluar

"Seharusnya kita punya hal-hal manis yang banyak untuk dikenang-"

"-Tapi karena aku kita hanya punya beberapa..andai saat itu aku bukan pria bodoh yang mengejar masa lalu, aku tidak akan menyesal seperti ini baekhyuna"

Untuk malam ini chanyeol merasa sangat lelah hingga ia memutuskan untuk turut berbaring sembari memeluk tubuh dingin disebelahnya

"maafkan aku, selamat malam suamiku" ucapnya sebelum mengecup lembut keningnya.

"Chan,kau sudah bangun? Aku telah menyiapkan air hangat kau bisa mandi lalu sarapan bersamaku"

"Chanyeol?"

"Chanyeol"

"Chanyeol"

"Chanyeol!!"

"Baekhyun!!" kerongkongannya terasa kering diliriknya kesamping ternyata suaminya masih ada disana, tidak menghilang lagi.

"Sudah pagi" dengan santai ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, didalam ia tengah menyiapkan air hangat untuk dirinya sendiri setelah dirasa suhu air telah pas ia berteriak kearah pintu.

"Terima kasih air hangatnya sayang!!" ia berlaku seolah sang suami lah yang menyiapkan itu untuknya

Setelah selesai mandi ia juga turut membersihkan tubuh suaminya, memberi lotion pada sekujur tubuhnya agar tercium harum, setelah itu memakaikannya baju dan menyisir rambutnya tak jarang ia juga mencumbu tubuh suaminya , gila memang tapi ia hanya ingin menyentuh sang suami bukan yang lain.

"Nah..suamiku terlihat cantik seperti biasa, aku akan membawa sarapan kesini, kita akan sarapan bersama oke?"

chanyeol benar-benar membawa sarapan ke kamar mereka lalu makan dengan ditemani jasad suaminya. Saat ia akan berangkat bekerja ia berpamitan pada jasad baekhyun

"Aku bekerja dulu ya, janji tidak akan lama aku mencintaimu" ujarnya sembari mencium kening sang suami.

Dikantornya chanyeol bekerja seperti biasa, menjadi karyawan dengan wajah tampan di salah satu perusahaan swasta membuatnya banyak didekati kaum hawa namun ia sama sekali tak menggubris hal itu tidak sebelum ia menyadari jika ia mencintai sang suami namun sebelum hal itu terjadi ia sebenarnya bukan sosok suami yang baik, selalu menyakiti hati suaminya, alasan kenapa ia melakukan hal mengerikan dengan menyimpan jasad suaminya sendiri itu tak lain adalah karena kesalahannya sendiri.

para teman satu divisinya kian menatap heran padanya bagaimana chanyeol bisa bersikap seperti biasa bahkan moodnya terlihat lebih baik padahal beberapa hari yang lalu ia bak orang gila.karena kepergian sang istri, diam-diam itu menjadi bahan pembicaraan para karyawan di perusahaan tersebut. chanyeol bahkan tahu tapi ia takkan memperdulikan hal seperti itu.

"Apakah dia gila? Beberapa hari lalu ia tampak seperti mayat hidup tapi sekarang moodnya seperti roller coaster, meningkat dengan cepat" ketika waktu makan siang tiba orang-orang mulai membicarakan hal itu.

"anggap saja dia memang gila, aku turut prihatin pada almarhum suaminya, pasti sangat tertekan mempunyai suami seperti chanyeol" salah satu temannya memukul kepala tersebut

"Bukannya dulu kau juga mencoba mendekati chanyeol? Lancip sekali mulutmu berkata"

"Aku kan hanya mencoba mendekati pria tampan apa salah?!!"

"sudahlah, beberapa hari yang lalu aku cukup senang melihat keadaan kacaunya itu setimpal dengan kelakuannya selama ini dia harusnya menyesal seumur hidup benarkan?"

"Iya- tapi kasihan juga chanyeol, seharusnya dengan waktu yang ada dia menciptakan kenangan indah dengan suaminya tapi malah berakhir tragis, apa kalian pernah melihat suaminya chanyeol?-" yang lain sontak menggeleng kompak dan ia menyunggingkan senyum bangga "- aku melihatnya sekali, kalian tahu..dia sangat!! Menawan, aku berani bersumpah dia pria yang sangat manis ia juga mudah tersenyum astaga aku jadi sedih mengingatnya" setetes liquid menetes dari matanya ketika mengingat sosok pria mungil suami chanyeol itu.

"Sungguh!! Ah sayang sekali aku tidak pernah lihat, dimana kau melihatnya?"

"Di supermarket, sepertinya berbelanja karena chanyeol juga ada menemaninya tapi ya itu- dia tidak peduli hanya menemani saja" yang lain mencebik dengan wajah kesal.

"Kau sungguh beruntung yeri" yeri mengangguk bangga.

Ditempat lain chanyeol makan dalam diam begitu mendengar desas desus tentang dirinya ia sungguh kehilangan nafsu makan, dan juga kembali menyesali tentang apa yang telah terjadi sungguh detik-detik dalam hidupnya hanya akan dipenuhi dengan penyesalan.

Ia langsung pulang kerumah setelah bekerja namun chanyeol juga membeli sebuket bunga magnolia berwarna merah muda dan diletakkannya pada meja lalu menutup rapat segala akses yang ada seperti jendela maupun pintu ia kunci lalu kembali membawa bunga itu memasuki kamarnya, disana masih terbaring setia sosok sang suami.

"Menunggu lama? Maaf pekerjaanku menumpuk jadi harus segera diselesaikan" ia mengecup kening sang suami lalu memeluknya sebentar dan meletakkan bunga magnolia di samping baekhyun perpaduan yang indah.

lalu bergegas untuk membersihkan diri, ia juga menyiapkan air hangat untuk menjaga kebersihan tubuh suaminya

"Nah kau sudah wangi sekarang ayo menonton tv" sebuah tv berukuran sedang terpampang di sisi depan kasur mereka, chanyeol menyalakannya sembari merebahkan diri disamping tubuh kaku suaminya menonton seolah-olah mereka sedang berkencan dibioskop, jika orang akan menganggapnya gila saat melihat perbuatannya lain halnya dengan chanyeol sendiri yang menganggap itu adalah hal manis yang ia lakukan dengan suami tercinta.

Mungkin saja chanyeol memang mengidap penyakit jiwa.

Hari-hari berlalu terhitung sudah sebulan lebih chanyeol menyembunyikan jasad byun baekhyun kini mendekati hari dalam rangka memperingati hari ke-40 kepergian sang suami chanyeol dilanda kebingungan. Keluarganya pasti akan berkumpul dirumahnya setelah mengunjungi makam, ia bingung harus menyembunyikan jasad baekhyun dimana.

Sekedar informasi ia telah menyuntikkan cairan formalin pada tubuh suaminya dan suhu ruangan itu selalu dibuat sedingin mungkin agar tubuh suaminya bisa bertahan lebih lama

Hingga satu ide terlintas di otaknya dengan segera ia melaksanakanya- menyembunyikan jasad sang suami.

-tbc-

A/N:setelah membaca chapter pertama aku harap kalian bisa kasih ulasan untuk debut pertamaku di ffn..kkk

see ya..