"wish" by Meltavi

Boboiboy © Animonsta Studios

Fanfic ini ditulis hanya untuk kesenangan semata saja, author tidak mengharapkan keuntungan apapun.

Warn : AU, TauYa!slight, Angst, Hurt/Comfort, adult!chara, typo, alur berantakan, dll.

Selamat membaca~

..

.


Rintik hujan menyapa wajah Taufan begitu ia keluar dari gedung kantornya. Keluhan lolos dari bibirnya. Ia tidak membawa payung hari ini. Bagaimana caranya dia pulang sekarang?

"Terobos sajalah." gumamnya tidak ambil pusing. Langkah kembali ia ambil, menjejaki aspal basah dengan hati-hati. Tangannya disatukan di atas kepala, berusaha menghalau hujan mengenai tubuhnya walau hanya sedikit.

Sebuah halte bus terlihat di depan matanya. Taufan mempercepat langkahnya untuk berteduh di sana. Hujan semakin deras ketika ia berhasil berdiri di halte. Taufan menepuk-nepuk pakaiannya yang basah sedikit. Rambutnya terkena air hujan di beberapa titik. Namun Taufan mengabaikannya, ia beralih duduk di bangku halte sambil berharap bus yang akan membawanya pulang segera datang.

"Om kehujanan?"

Sebuah suara menyentak Taufan. Ia menoleh ke kiri, mendapati seorang gadis kecil sekitar usia 5 tahun berdiri di dekatnya. Matanya yang bulat menatapnya polos. Gadis kecil itu memakai payung dan jas hujan berwarna pink. Tampak manis sekali.

"Iya nih. Om nggak bawa payung." katanya seraya tersenyum. Ia menatap lekat gadis kecil lucu itu. Sekilas mengingatkan Taufan pada seseorang. Namun Taufan berusaha menepisnya karena itu hanyalah kenangan masa remajanya.

"Anya punya tisu nih, om! Sebentar ya!" Gadis kecil itu kemudian melepas tas ranselnya. Tangannya merogoh isi tasnya, lalu mengeluarkan sebuah tisu dari sana. Diulurkannya tisu itu pada Taufan dengan ceria. "Ini om!"

Taufan terkekeh. Dengan gemas, diusapnya puncak kepala gadis manis itu sebelum menerima tisu yang diulurkan untuknya. "Makasih, ya." ucap Taufan. Ia menggunakan tisu itu untuk mengeringkan rambutnya yang basah. "Kamu duduk sini, jangan diri aja. Nanti pegel lho." ujar Taufan seraya menepuk tempat kosong di sebelahnya.

Gadis kecil itu mengangguk. Ia duduk di samping Taufan dengan kaki kecilnya yang menggantung. Taufan diam-diam menatapi sekitar. Berusaha mencari ibu dari gadis 'nyasar' ini. Tidak mungkin 'kan seorang anak kecil berjalan sendirian di pinggir jalan, ditambah hujan yang sedang lebat? Taufan berharap gadis ini hanya berpisah sebentar dengan ibunya. Bukan ditinggalkan begitu saja.

"Nama om siapa?"

"Hm?" Taufan menoleh, menemukan mata bulat itu sudah menatapnya penasaran. "Nama om? Taufan."

"Taufan?" ulang gadis itu. Taufan mengangguk kecil. "Kayaknya Anya pernah baca di buku diary Mama." gumamnya. Dahinya mengernyit, seperti berusaha mengingat sesuatu.

Taufan yang tidak mengerti apa yang gadis itu bicarakan hanya menggelengkan kepalanya. "Kamu namanya Anya?" tanya Taufan balik. Gadis kecil itu beberapa kali memanggil dirinya Anya. Taufan tidak tahu apakah itu memang benar namanya atau gadis kecil ini hanya belum bisa menyebut namanya dengan benar.

"Hu'um. Nama aku Anya, Om." ujar gadis itu.

"Fanya!"

Sebuah suara membuat keduanya sama-sama menoleh. Di sana, berdiri seorang wanita muda dengan payung yang melindungi tubuhnya dengan wajah cemas menatap mereka. Gadis yang dipanggil Fanya itu bangkit dari duduknya, melambai pada wanita muda itu dengan riang.

"Mama!"

Sementara itu, Taufan merasakan seluruh dunianya terhenti. Tatapannya tak bisa lepas dari sosok yang kini sudah di dekat mereka. Tubuhnya membeku. Bagaimana wanita muda itu berjongkok di depan gadis kecil bernama Fanya itu, menatapnya penuh kekhawatiran tanpa menyadari keberadaannya.

"Kamu kenapa main pergi aja, sih? Mama 'kan sudah bilang tunggu Mama dulu." kata wanita muda itu. Yang diceramahi hanya cengengesan sambil berujar maaf.

Taufan memperhatikan dalam diam. Sekarang ia mengerti kenapa wajah gadis kecil itu tampak familiar di matanya. Ia berusaha tersenyum meski pahit. Taufan berdiri bersamaan dengan ibu dan anak itu yang mulai menyadari keberadaannya.

Reaksi terkejut ia dapatkan ketika mata mereka bertemu pandang. Taufan tersenyum. Menelisik lagi wajah cantik yang dulunya adalah miliknya seorang.

"Mama, Mama! Kenalin ini Om Taufan, yang udah nemenin Anya tadi." seru Fanya di samping ibunya.

Sang ibu tertegun. Ia menatap tak percaya sosok pemuda di depannya. "Taufan...?"

"Apa kabar, Yaya?"

.

.

.

10 tahun yang lalu...

.

.

.

Semilir angin sore membelai keduanya. Taufan memejamkan mata dengan tangan masih mengelus kepala Yaya di pangkuannya, sementara ia bersandar pada batang pohon taman ini. Taman favorit yang selalu mereka datangi setiap sore.

"Yaya... " gumam Taufan masih menutup matanya.

"Hm?" Yaya menurunkan buku yang tengah dibacanya. Kedua netranya menatap wajah sang kekasih dari bawah, menanti Taufan mengucapkan kalimat selanjutnya.

"Aku bermimpi, kita punya anak." Taufan membuka mata. Menurunkan pandangannya hanya untuk menemukan gadis kesayangannya tertawa kecil. "Kok kamu ketawa, sih?" gerutunya kesal.

"Mimpi kamu kejauhan, Taufan." ucap Yaya. Ia tersenyum geli melihat sang kekasih sudah memanyunkan bibirnya.

"Aku serius. Kalau kita menikah dan mempunyai anak nanti, kamu kamu menamainya apa?" tanya Taufan. Ia membiarkan sebelah tangannya dimainkan Yaya dengan asal.

"Apa ya?" Yaya berpikir sebentar. Sejujurnya ia belum memikirkan tentang hal ini sama sekali. Rasanya terlalu jauh karena usia mereka masih 18 tahun. "Aku tidak tahu. Lagipula masih jauh untuk memikirkan ini, Taufan."

Taufan menyengir. "Tidak apa-apa. Mungkin saja kita bisa menikah beneran dan mempunyai anak, 'kan? Aku selalu memimpikannya."

Buku novel yang tengah dibaca Yaya dilempar ke dada Taufan. Taufan mengaduh, baru ingin mengeluarkan protesan ketika Yaya berseru kesal.

"Dasar mesum!"

"Apanya yang mesum?"

"Cish." Yaya membuang muka dan mengubah posisi telentangnya menjadi membelakangi Taufan. Bagaimana bisa cowok itu sudah berpikir sangat jauh? Yaya bahkan malu mendengarnya.

Taufan tersenyum tipis. Ia membiarkan Yaya membelakanginya. "Tapi kalau memang kita ditakdirkan bersama, aku ingin menamai anak kita Fanya."

Yaya kembali ke posisi awal. Kata terakhir itu berhasil merebut perhatiannya, kini ia memandang Taufan dengan tatapan tanya. Kenapa Fanya?

Seolah bisa membaca pikirannya, Taufan berujar lagi. "Karena itu gabungan dari nama kita. Fanya. Taufan dan Yaya."

Taufan berdoa dalam hati, semoga mereka bisa sampai ke jenjang itu. Semoga ia bisa menamakan anaknya dan Yaya nanti dengan nama Fanya.

Namun yang ia tidak tahu, semoga yang ia ucap di dalam hati hanya kata semoga tanpa diizinkan menjadi kenyataan.

.

.

.

finizh


a/n :

aku nulis ini sambil baper sendiri aaaaaa

kayak apa ya, ketika kalian udah bicarain soal pernikahan ke doi sendiri, eh taunya gajadi kenyataan :") itu nyesek bngttt huhu

tdinya aku mau namain anaknya Yaya itu Taufan. tapi kayaknya agak aneh, soalnya di imajinasi aku Taufan lagi ngobrolnya sama anak kecil yang cewek, bukan cowok. jadi aku taro flashback dikit asal muasal nama Fanya itu darimana. btw soal suami Yaya ngga aku kasih tau, bingung juga soalnya ahahahaha /plak

itu aja kayaknya. makasih yang udah nyempetin baca^^ have a nice day all