Disclaimer: Hetalia adalah milik Hima-sensei :)

Warning: Typo, OOC, etc.

(Title from: Home is Such a Lonely Place by Blink 182)

.

.

.

England menopangkan dagunya ke kepalan tangan, siku bertumpu pada pinggiran jendela mobil. Di luar sana hanya ada hamparan kosong, penuh rumput dan ilalang dengan bubungan bukit-bukit ngarai batu di kejauhan. Membatasi horizon langit yang kelam.

Jalanan yang dilalui kosong, lengang, dan gelap. Tak ada hal lain selain deru pelan mesin mobil yang ia tumpangi.

England berpaling dari pemandangan sunyi malam ke teman seperjalanannya. Memegangi setir dengan ekspresi santai, bersenandung kecil seiring musik yang dimainkan pada tape mobil.

Lagu dari band rock kenamaan asal Amerika mengalun. Satu-satunya hal yang England bisa syukuri dari keadaannya yang menyebalkan. Ia tak akan tahan jika pria itu memutar lagu pop atau rap yang England tak terlalu sukai—tentu ia bisa menikmati musik pop, hanya saja bukan artis-artis kesukaan Amerika, dan ugh, rap adalah Big No baginya. Pun England akan menendangnya jika ia memutar musik country. Seklise apapun America berpikir lagu-lagu tersebut akan melengkapi atmosfer perjalanan mereka, England tidak akan tahan untuk tidak melompat dari mobil yang melaju tersebut kalau ia benar melakukan itu.

Walaupun biasanya selalu tidak menyukai selera musik America, England setidaknya selalu bisa mengerti genre musik rock. Apalagi pilihan lagunya kali ini, dengan dentum yang lebih pelan tanpa iringan drum dan gitar yang brutal cukup pas untuk menambah kesan damai malam mereka yang bisu.

America melirik padanya sekilas, kemudian kembali menatap jalanan. "Jangan cemberut terus Iggy. Cheers up!"

"Enak saja kau ngomong begitu," ketus England. Matanya menyipit kesal. "Aku diseret paksa dan kau bawa ke belantara begini," desisnya.

America tertawa, England tidak menahan diri untuk memukul bahu pemuda itu walaupun America sama sekali bergeming.

England mendengus kesal. Setelah rapat yang diadakan di tempat America, England sudah berniat untuk pulang, mengurus check out hotelnya. Namun begitu ia keluar dari gedung tersebut, America sudah berdiri di sana. Dengan cengiran lebar dan tanpa basa-basi menariknya untuk masuk ke dalam mobil bak terbuka yang ia bawa.

England yang terus berteriak protes karena diculik tersebut sama sekali ditahan dan terjebak saat America langsung tancap gas. Beruntung bagi America, England belum terlanjur memesan tiket pesawat. Kalau ia sampai harus menyia-nyiakan uang karena personifikasi muda tersebut, England akan memastikan America membayar semua tiket pesawat England seumur hidupnya.

"Sejauh apa lagi kita mau pergi?" keluh England. Sedari tadi yang ia lihat hanya jalanan kosong dan hamparan gelap malam.

"Sabar sedikit Iggy," balas America.

"Dari semua orang, bisa-bisanya dia yang menyuruh bersabar…" gerutu England.

America hanya tertawa mendengar gerutuannya. Tidak membalas lebih jauh karena sepertinya paham bahwa England sudah sangat bosan mengendarai mobil cukup lama.

England mengerutkan kening begitu America membelokkan mobil keluar dari jalanan beraspal, menuju setapak yang ada belukar rimbun di sekelilingnya. Mereka terus masuk sampai kembali ada hamparan yang luas kosong.

America menghentikan mobil dan mematikan mesin. Pria muda itu keluar dan England semakin memperdalam kerutan di dahinya.

"Kita sejauh-jauh ini cuman untuk melihat padang kosong?" sahutnya dengan nada tak percaya dan jengkel luar biasa. Ikut turun dari mobil.

Tentu saja ia amat kesal. Jauh-jauh berkendara, berjam-jam bosan di dalam mobil, hanya untuk berhenti di padang rumput kosong gelap. Jika hanya itu, kenapa tidak sedari tadi saja?! Berkilo-kilo hamparan rumput dan ilalang yang dilewati dan mereka bisa saja turun sejak awal, kenapa harus membuatnya pergi sejauh ini?!

"Duh, kalau begitu mana asyik," America menjawab dengan seringai lebar dan mata jenaka.

England langsung meledak mengomel. Ucapannya berhenti mendadak saat sesuatu yang bercahaya dan berkelip lewat di depan hidungnya.

America yang melihat ketergunan England nyengir.

England mengedarkan pandangan. Dari rimbunan semak belukar, kunang-kunang bertebangan. Mereka tampak seperti ratusan titik-titik kuning yang terbang dengan pelan.

England menjulurkan telapak tangan. Beberapa kunang-kunang lalu-lalang di atas tangannya, cahaya mereka menerangi telapak tangannya. Untuk sesaat ia hanya bisa fokus pada serangga unik tersebut. Cukup jarang ia bisa melihat segerombolan kunang-kunang.

Mereka tidak akan bisa ditemukan di antara gedung-gedung perkotaan. Bahkan meskipun perkotaan di Eropa umumnya tidak dihutani pencakar langit.

"Impressive to see them this much, right?"

Kepala England langsung menoleh. America berdiri di belakangnya, berucap dari balik bahunya. Cahaya kunang-kunang memantul dari lensa kacamata pria itu, menerangi senyum cerahnya.

England mendengus. Meluruskan sikap tubuh dan kembali memasang raut jengkel. "Ini tetap tidak sepadan tahu," ketus England.

America hanya tertawa, tidak tersinggung. Ia beranjak dan berjalan ke arah balakang bak mobilnya.

"Sudah kuduga kau akan bilang begitu." Pria itu membuka palang pengunci bak dan naik ke atasnya. Ia mengedikkan kepala saat melirik England. Mengajak personifikasi Britania Raya itu untuk ikut naik.

England menghela napas kembali. Dengan bersungut-sungut memanjat naik.

Dilihatnya America membentangkan karpet dan melapisinya dengan selimut. Pemuda itu duduk bersila dan menepuk sisi di sebelahnya. England hanya menaikkan sebelah alis bertanya, namun tetap mengikuti keinginannya.

Begitu ia juga duduk bersila, America menyodorkan sekaleng kopi padanya. England menerimanya dengan setengah hati. Sekarang ini tak jarang ia dibuat harus berkompromi karena kedai kopi jauh lebih menjamur daripada tea house, tapi teh tetap adalah pilihan nomor satunya.

Keduanya meneguk kopi. England memandang lurus ke depan. Kunang-kunang menari di hamparan rumput tak berbatas.

Sebuah sikutan pelan membuat England menoleh pada America, si pelaku. Pemuda itu menganggukkan kepalanya ke atas. England mendongak.

Matanya melebar. Bibirnya membuka mengeluarkan suara terkesiap pelan.

"Ini adalah jam yang tepat untuk melihat bintang bukan?" America berbisik.

England mengangguk. Masih terlalu terpaku untuk alih-alih mengeluarkan komentar sarkas.

Langit malam tampak begitu luas. Ratusan bintang tersebar. Jalur bimasakti tampak begitu lebar dan berkilauan, berwarna putih keperakan membelah angkasa di atas kepala mereka. Kunang-kunang menari dengan latar pemandangan yang begitu agung, menciptakan ilusi yang kehebatannya membuat dada England serasa sesak.

"Kau harus berterimakasih padaku karena sudah membuatmu bisa melihat langit sebagus ini." America menyenggolkan bahu mereka, England tertegun tapi dengan cepat memasang wajah jengah. Mendengus mencemooh atas senyum jahil dengan tambahan keangkuhan itu.

"No, it's the payment for my patience, so… there's no thanks to you."

"Hei, aku sudah repot-repot lho mencari tahu dimana lokasi paling pas yang cuacanya tidak akan berawan," protes America dengan bibir dimanyunkan.

England memutar bola mata.

Mereka meneguk kembali kopi dengan pandangan yang didongakkan. America sibuk menunjuk langit, menyebutkan nama-nama rasi dan juga bintang. Bahkan menunjuk beberapa galaksi yang bisa dilihat telanjang mata pada malam cerah ini, yah… walaupun dengan jarak ribuan tahun cahaya begini mereka hanya terlihat sebagai titik kecil.

Tapi nada suara America penuh antusiasme, membuat England menyimak semuanya dengan anggukan kepala. Ia menoleh pada personifikasi muda itu.

Senyum lebar menghias wajahnya. Bahkan hanya dengan penerangan bermodal kelip lemah kunang-kunang yang sekali-kali lewat, mata America berbinar cerah. Kerlip bintang seolah terpantul pada iris biru miliknya. Memantulkan tepi bimasakti pada manik matanya.

England tidak bisa menahan senyum hangat.

Sedari dulu pemuda itu mencintai langit. Bercita-cita untuk terbang. Jauh melampaui awan. Jauh hingga menggapai bintang terluar. Sampai kini pun ia masih merangkai cara untuk mewujudkan mimpinya, tak akan puas sampai ia sudah berhasil menjelajah seluruh jagat raya.

America menoleh padanya, ingin memastikan bahwa England benar-benar menyimak penjelasannya, ketika ia mendapati personifikasi kepulauan Britania itu menatapnya dengan pandangan lembut, ia balas dengan senyum yang sama hangatnya.

"Kau tidak pernah bosan memandangi bintang ya," England terkekeh pelan. America balas tertawa, kali ini terdengar begitu melodius seperti gemericing bel.

"Karena mereka memang luar biasa bukan?" Ia membentangkan tangannya. "Lihat seluas apa jagat raya ini, triliyuran ribu tahun cahaya jarak batasnya, sama sekali besar kalau dibandingkan kita yang hanya diukur oleh inchi," sahutnya bersemangat.

"Bilang saja sentimeter, lad. Honestly, why are you so stubborn to not use the metrics system." England menggerutu, setengah menyindir.

America menjulurkan lidah kekanakan. "Not the point, England."

Kini giliran England menyeringai jahil. "I know, I know. Just teasing you, boy. But still my opinion about that stuff is the same."

"Whatever, old man." America memutar bola mata. "Kau mengertikan kenapa mereka luar biasa? Mereka penuh sesuatu yang kita belum tahu," sahutnya kembali bersemangat untuk melanjutkan pembicaraan tentang angkasa.

England mendongak lagi ke atas. "Sure, they are majestic… big, full of unknown… kind of scary, don't you think?"

"Hm, hm," gumam America menyetujui, membuat England tertegun karena ia pikir pemuda itu akan mengejeknya.

"Seperti yang kubilang tadi, ukuran mereka beratus ribu tahun cahaya, and then there we are, not even a handfull of inches. Mereka menjadikan kita tampak begitu kecil..."

England diam termagu, tertegun dengan nada suara America yang menyerupai bisikan, seolah-olah ia juga turut bisa merasakan kekaguman pada sesuatu yang menakutkan itu.

England menaikkan lutut menyentuh dadanya. "That seems like a lonely thought, isn't it?"

Karena bagaimanapun, membandingkan ukuran dirimu dengan jagat raya, mau tak mau kau hanya akan membayangkan dirimu seorang di tengah hamparan kosong angkasa. Sendirian.

America tertawa pelan. Mengangguk menyetujui. Dan seolah ia mengerti arah pemikiran England, ia menambahkan, "I guess so… tapi kalau membayangkan kita di sana, sepertinya tidak akan jadi terlalu buruk…"

England merenungkan, kini membayangkan tidak hanya dia yang ada di angkasa.

Bayangan itu terasa berubah. Ia bisa melihat raut dirinya yang ada dalam bayangannya yang tadi tertegun akan rasa berkecil hati, kini berubah menjadi senyum penuh kekaguman. Rasanya, takut itu tidak datang, malah seolah mereka tengah duduk dan menonton mahakarya bersama. Berbagi kekaguman.

England menoleh kambali pada America. Tersenyum tipis. "Yeah, that doesn't sound bad at all."

Senyum simpul keduanya tak luntur bahkan saat mereka memutus kontak mata untuk kembali mendongak. Menikmati lagi jalur bimasakti yang megah.

Di padang yang kosong ini, terhampar luas seolah tak berujung, bernaungkan angkasa yang tak berbatas, dunia terasa sepi. Sunyi dan kosong.

Itu menakutkan. Itu pemikiran yang sedih.

Tetapi ketika ia merasakan bahu mereka bersentuhan untuk saling bersandar, semua rasa sepi itupun lenyap.

.

.

.

.

A/N:

Promt "in the middle of the night" gitu pasti paling klisenya buat fanfic adalah insomnia fic/stargazing fic :) dan sebagai pecinta trope-trope klise dan klasik fanfic, akupun bikin hehe…

I still feel like not satisfied with the dialogues and few linse, but… I just hope the vibe is good enough…

Thanks for reading :D

Xoxo

Ai19