warning: canon-setting, fluff, possible oocness, oc character, cheesy.

disclaimer: karakter milik Masashi Kishimoto


.

.

Jelek?

.

-OooO-

.

.

Hari itu adalah hari yang cukup tenang di toko bunga Yamanaka.

Toko bunga yang dinding batanya sewarna kelabu dengan bau khas yang menyertainya itu ramai pengunjung seperti biasanya. Toko bunga yang hampir berdiri selama seperempat abad itu tetap menawarkan suasana menyenangkan yang sama. Aroma menyejukkan yang berasal dari kumpulan bunga yang disusun berjajar—semua jenis bunga-bungaan pun tersedia. Mulai dari mawar, lily, clover, hingga camelia. Ditambah dengan aroma alami dari tanah dan dedaunan yang terkena siraman air, menambah suasana asri layaknya di padang flora.

Semua berjalan seperti rutinitas biasanya—kecuali satu.

Sang putri Yamanaka yang seharusnya merangkai buket bunga untuk pesanan sore nanti menemukan dirinya terdistraksi.

Sedari tadi tangan lentik itu hanya berkutat pada satu bunga yang ada di tangan, mengabaikan bunga-bunga lain yang ada di keranjang rotannya, menunggu sang nyonya untuk merangkai mereka menjadi sebuah hiasan cantik. Gadis itu sibuk memutar-mutar dan memilin-milin tangkainya tanpa arah, entah dekorasi macam apa yang sebenarnya ia inginkan.

Sorot matanya pun juga tak tertuju penuh pada bunga yang ada di genggaman, seperti biasanya. Pandangannya justru lurus ke depan. Tak berkedip, tak sudi melepaskan tangkapan.

Ino Yamanaka perlahan mulai bisa merasakan sebelah matanya berkedut-kedut.

Jengkel.

Alisnya yang cantik terkerut sedemikian rupa. Gginya begermeletuk, dan dia sadar ia tengah mengenggam bunga yang tak bersalah itu terlalu erat. Tapi masa bodoh untuk sekarang.

Dari balik meja tempatnya merangkai bunga ini, bola mata sebiru lautan yang biasanya menenangkan itu mulai memicing berbahaya. Berkilat-kilat, melihat kedua sosok di depan meja kasir di sana.

Sosok wanita cantik berbalutkan dress mahal, sementara sang pria tampan mengenakan kemeja hitam yang dilindungioleh apron hijau yang sama persis melekat di tubuh Ino. Sai—si pria tampan menyebalkan itu berada di balik mesin kasir, dan si wanita berparas ayu berada tepat di depannya, tengah menjumput selembaran uang kertas.

Si pria dan si wanita seyogyanya memang hanya berstatus sebagai florist dan pelanggan pada umumnya.

Tetapi kalau kau memperhatikan interaksi mereka secara lebih dekat, sepertinya hubungan yang menjalin keduanya tidaklah sesederhana itu.

Wajar sih memang kalau dua orang itu saling bertukar senyum—hell, sudah sepantasnya seorang florist yang baik harus bersikap ramah pada customer bukan? Ino memang pernah mengajarkan etika ini pada Sai. Pria itu memang sudah sebulanan ini membantu Ino dengan menjadi florist dadakan ketika toko sedang ramai-ramainya. Dan Ino berterima kasih untuk itu.

Semua bermula semenjak Sai mulai sering mampir ke Yamanaka flower shop. Ingin cari inspirasi dan melatih kemampuannya menggambar bunga, katanya.

Ino sih senang-senang saja. Dia jadi punya alasan untuk bisa menghabiskan lebih banyak waktu dengan pemuda itu, tanpa terlihat desperate.

Mereka banyak mengobrol ini itu, biasanya juga Ino akan mengajari Sai mengenai bahasa bunga, membuat flower crowns dan berbagai rangkaian bunga. Sementara sebagi gantinya, Sai akan mengajari Ino melukis benda di atas kertas.

Waktu-waktu bersama Sai terasa menyenangkan, sampai kadang Ino suka lupa waktu dan tak menyadari kalau mereka sudah menghabiskan waktu bersama di toko selama hampir seharian. Sai yang sekarang mulai paham akan bahasa flora dan cara merangkai bunga dengan baik dan benar, berinisiatif menawarkan diri untuk membantu Ino ketika ia kewalahan menerima pesanan.

Meskipun dibuat trenyuh, Ino sempat sangsi, mengingat Sai punya masalah mengenai inhibitat emosi. Namun ternyata Sai melebihi ekspektasi. Sai mengimplementasikan pengetahuan yang didapatnya dengan baik. Pria itu jenius juga, ternyata.

Ino juga mengajarinya mengenai prosedur dalam pelayanan customer—salam, sapa dan senyum. Ketiga hal itu adalah protap di Yamanaka flower shop. Dan lagi-lagi, Sai mampu melakukannya dengan baik.

Sangat baik, bahkan. Jika melihat apa yang ada di depannya saat ini.

Bagaimana ramahnya Sai melayani pelanggan. Saking ramahnya sampai membuat kesengsem si gadis yang diajaknya bicara itu.

Tapi apakah harus tersenyum sampai semenawan itu?

Apakah harus sampai menanggapi candaan si pelanggan sampai seperti itu? Bahkan sampai berlama-lamaan menyentuh tangan hanya untuk menyerahkan kembalian.

Ino rasa itu terlalu berlebihan. Pasti ada sesuatu yang lain antara Sai dan si wanita.

Well...

Sebenarnya itu juga bukan menjadi masalahnya sih. Pada kenyataannya Sai kan tidak jadi milik siapapun—belum, tepatnya—dan Ino tak ada hak klaim apapun atas Sai. Jika memang ada sesuatu diantara Sai san si wanita, maka seharusnya Ino tidak perlu kesal. Ino seharusnya tidak perlu peduli.

Seharusnya.

Tapi yang jadi permasalahan disini adalah—Ino naksir pemuda tidak peka itu dan si wanita yang ada di sana itu sejatinya adalah musuh Ino.

Mantan musuh sih, sebenarnya. Dan itu juga terjadi ketika mereka masih bocah juga—tapi tetap saja. Ino tak punya memori yang baik tentang wanita itu.

Keiko Kana.

Sebenarnya cerita mereka agak kompleks. Ino kenal Keiko sejak ada di akademi. Keiko itu layaknya ketua genk saat itu.

Dulunya mereka berteman dekat. Ino bahkan ada di genk yang dipimpin Keiko itu. Dulu kelompok Keiko sangat berkuasa di antara angkatan mereka, membully anak-anak yang dipandangnya lemah. Sampai akhirnya Keiko dan kawan-kawannya melakukan perundungan kepada Sakura—maka habis sudah kesabaran Ino. Ino tidak bisa membiarkannya. Dan ia pun menantang balik.

Semenjak itu, hubungannya dan Keiko jadi renggang, dan Ino pun diasingkan dalam grup. Secara tidak langsung, Keiko mendeklarasikan perang dengannya—tapi peduli setan, Ino tak mau ambil pusing meski Keiko suka sekali memicingkan mata ke arahnya dan berbalik kubu dengan menjahilinya.

Setelah lulus dari akademi, ia tak tahu kabar Keiko lagi. Yang dia terakhir dengar, setelah perang dunia keempat, Keiko mencoba mendaftarkan diri masuk ke ANBU. Dan mungkin itu jugalah alasan kenapa Sai dan wanita itu bisa seakrab itu.

Ino tahu reputasi Sai di kalangan ANBU, apalagi di antara kaum hawa. "Senpai ganteng"— kalau kata beberapa orang.

Sudah ganteng, belum taken pula.

Sai tentu jadi santapan empuk.

Tapi... apakah itu artinya, Keiko naksir Sai juga?

Kening Ino bertambah berkerut-kerut.

Apa jangan jangan Keiko kesini karena ada modus tertentu? Apa yang dilakukannya disini? Seumur umur dia tak pernah mengunjungi toko bunga Ino. Kenapa sekarang?

Ada apa gerangan? Apa memang murni untuk membeli bunga atau hanya karena dia tahu bahwa Sai ada jadwal shift hari ini?

Ino bukannya posesif atau apa. Sekali lagi, dia tak punya hak mengatur-ngatur Sai bisa dekat dengan siapa. Tapi ayolah, diantara ribuan wanita yang ada, kenapa juga harus Keiko Kana sih?

Ino tidak ridho lillahi ta'ala.

Ino ingat Sai bilang dia sedang menaruh rasa pada seorang gadis—walau Sai tidak menyebutkan siapa gadis yang disukainya.

Dan meskipun merasa seperti ada kunai yang menusuk ulu jantugnya ketika mendengarnya, Ino berusaha untuk tetap senang. Ia senang kalau Sai mulai punya rasa ketertarikan orang—itu artinya, emosi Sai sudah berevolusi dengan baik kan? Dan kalau kata pepatah bijak, mencintai seseorang artinya bahagia ketika orang yang dicintai juga bahagia.

Iya, Ino mencoba ikhlas.

Tapi sumpah, seikhlas-ikhlasnya Ino, dia tidak akan rela kalau itu Keiko. Keiko tidak bisa begitu saja dan semudah itu mengambil atensi dan afeksi Sai. Karena... karena... eu... ya pokoknya karena dia peduli pada Sai! Keiko punya tabiat yang kurang baik. Dia tidak yakin Keiko bisa memahami Sai dengan baik. Itu saja.

Bukan berarti dia cemburu atau apa. Bukan!

Iris Ino yang sewarna pirus makin memicing berbahaya, kala ia melihat Sai dengan senyum bodoh-nya memutari meja kasir dan mendampingi wanita itu keluar toko, bahkan sampai rela membukakan pintu untuknya, layaknya seorang gentleman.

Ino menggigit bibir, meredam kekesalan yang rasanya ingin membuncah hingga ke ubun-ubun. Gerakan memilin tangkai bunga yang sedari tadi dilakukannya tanpa sadar berubah brutal. Ino biasanya benci kalau ia harus melampiaskan emosinya pada bunga yang tidak bersalah—tapi hari ini pengecualian karena dia kesal!

Ino melihat bagaimana kedua orang itu saling melambaikan tangan, Sai masih mempertahankan senyum bodohnya, sementara Keiko tertunduk dengan wajah merona. Gadis itu membungkukan badan, melempar Sai sebuah senyum, sebelum akhirnya benar-benar melangkah keluar. Meninggalkan ia dan Sai bersama sekumpulan bunga yang membisu di sudut sudut ruang.

Ino akhirnya menyerah dan memilih meninggalkan aktivitasnya merangkai. Ia letakan setangkai bunga yang tangkainya sudah hampir hancur itu di atas meja, lalu beranjak mendekati si pemuda yang berdiam di depan pintu ganda kaca toko.

Berusaha mengubah ekspresi wajahnya senetral mungkin, Ino berdiri tepat di samping Sai tanpa suara. Kedua tangannya dimasukan ke saku apron hijau, memberi kesan santai, seolah-olah apa yang terjadi barusan tidak mempengaruhinya secara mental.

Mengikuti lelaki itu, pandangannya mengarah lurus, mengamati apa yang ada di balik kaca bening pintu di depan mereka. Pemandangan lembayung senja menghias angkasa, mengguyur yang ada di bawahnya dengan berkas-berkas warna oranye sang surya yang hendak tenggelam ke singgasana.

Atensi mereka berdua terarah pada pusat yang sama. Ke arah si mantan pelanggan mereka barusan—yang berdiri di sisi jalan, menunggu rambu bagi pedestrian menyala hijau.

Ino menoleh ke arah Sai yang masih tak sudi melepaskan pandang ke arah seberang. Alis Ino lagi-lagi berkerut dalam-kemudian membuang muka kembali ke depan, sembari menahan dengusan keras yang hendak meluncur.

Sebegitu menariknya kah wanita itu hingga Sai tak berkedip mengamatinya? Sebegitu pentingkah ia sampai Sai tak sekalipun repot-repot mengerling ke arah Ino, barang sedetik saja?

Sebegitukah terpesonanya ia pada wanita itu sampai ia dihiraukan begini?

"Orang yang kau suka itu," Ino memulai, nada tak suka terdengar jelas di sana,

.

"Dia tidak cantik,"

.

Ia bisa merasakan pemuda bersurai jelaga itu menoleh ke arahnya. Akhirnya. "Orang yang aku suka?" tanyanya, terdengar bingung. Polos, khas seorang Sai.

Ino menahan diri untuk tak menggeram. Antara kesal dan gemas.

"Iya, yang di depan itu kan?" Ia juga ikut menoleh ke samping, bertukar pandang dengan netra Sai yang memancarkan keheranan teramat sangat, "Yang sering kau bicarakan padaku. Yang katamu cantik dan baik hati itu?

Sai mengangkat alisnya. Berkedip-kedip untuk beberapa saat, sebelum lalu tawa kecil meluncur dari bibirnya. Ino dibuat terpesona untuk beberapa saat-tapi Sai lantas menatap lagi ke depan, dab menggumam,

"Hmmm... ya,"

Jadi benar Keiko ya.

Ino mendengus lagi, kembali mengikuti arah pandang Sai. Untuk kesekian kalinya ia memicingkan mata penuh ketidaksukaan. "Dia... eum.. tidak cantik, Sai. Menurutku, dia kurang cocok untukmu," Ino berusaha memberikan opini. Ino paling tidak suka menjelek-jelekan sesama perempuan, sebenarnya. Tapi kalau punya tabiat macam Keiko seperti itu, dia tidak yakin akan setuju.

Sebenarnya bisa saja Keiko berubah sih, logika Ino mencoba merasionalisasi. Lagipula perilaku Keiko itu dilakukan ketika masih bocah. Tapi... entah kenapa terasa berat untuknya menerima.

Kedua tangan Ino disilangkan, bola matanya bergerak-gerak untuk mengatasi kegugupannya. Ia membersihkan tenggorokan dengan berdehem, dan kembali bicara, "Masih banyak cewek-cewek diluar sana yang cocok untukmu,"

"Seperti siapa?"

—Aku.

"Y-ya siapa saja," Ino terbata dan membuang muka, "Tapi sungguh Sai, kalau aku boleh berpendapat, dia tidak cocok untukmu. Dulu dia suka merundung orang ketika di akademi, dan dia... tidak secantik itu." tambah Ino dengan getir.

"Tidak, dia tidak jelek," Sai menolak, "Dan dia sangat cocok untukku,"

Ino berkedip, termenung.

Tunggu.

.

Sai... membantahnya?

.

Sai beneran suka dengan Keiko, sepertinya. Sampai dia jadi sebegitu defensifnya.

.

Tanggapan Sai anehnya justru makin memercikan kobaran rasa tidak suka yang ia simpan dalam dada, membuat Ino kembali menyuarakan opininya,

"Dia tidak cantik," ujarnya, pantang menyerah.

"Tidak, dia menarik. Dia cantik. Sangat cantik,"

Ino mendecakan lidah, "Oh ya?"

Sai mengangguk, "Penglihatanmu pasti terganggu kalau kalau kau tidak bisa melihat kecantikannya,"

"Sai…" Mata Ino memicing sangsi, "Kamu dipelet ya?"

"Tidak Ino, kamu salah."

"Tidak, dia tidak cantik. Dia jelek, Sai. Mungkin luarnya cantik, tapi dalamnya tidak baik,"

DIlihatnya Sai menghela nafas, lantas menggelengkan-gelengkan kepala, "Kau tidak memperhatikannya dengan sungguh-sungguh, Ino."

Dibalas begitu, kekesalan Ino makin menjadi. Pandangannya berubah menyelidik, mengamati gadis di seberang jalan itu dari atas ke bawah.

Well, sebenarnya Keiko memang cantik sih. Sangat cantik malah, harus ia akui.

"Aku masih tidak mengerti apa yang membuatmu tertarik padanya," gumam Ino pada akhirnya.

Sai menggidikan dagunya ke kaca pintu di depan mereka, "Coba amati sekali lagi, Ino. Secantik itu, kau bilang dia jelek?" nadanya tampak tak percaya, "Perhatikan ke depan dengan benar," perintahnya.

Ino semakin keranjingan mengamati ke depan. Sorot matanya berubah menajam seolah berusaha menembus permukaan kaca. Hendak memperhatikan lebih jauh inci demi inci sosok yang disukai Sai itu, mencoba mencari tahu apa yang sebegitu istimewanya dari sosok itu sampai-sampai Sai bertekuk lutut.

Sosok yang kini hendak mengambil langkah menyebrang jalan. Tubuh sang gadis kini disesaki oleh kerumunan pejalan kaki lain yang sama-sama ingin menyebrang. Tubuh kecil mungilnya seolah tenggelam dalam lautan manusia. Ia kehilangan jejak. Ino tak bisa benar-benar mengamatinya kalau begini caranya. Belum lagi berkas sinar senja yang menyilaukan, memantul di permukaan kaca pintu toko di depan mereka. Pandangan Ino tentu jadi terhalang.

"Bagaimana aku bisa memperhatikannya kalau ia tertutup kerumunan orang begitu?" keluh Ino.

"Amati saja baik baik. Kau pasti akhirnya bisa melihat dan menyadari betapa cantiknya orang di depanmu itu,"

"Aku tidak bisa melihatnya sekarang, Sai!" protes Ino. Alisnya terkenyit dalam-dalam, mencoba mencari sudut pandang yang lebih jelas, "Aku kehilangan jejaknya. Yang lebih kelihatan di kaca malah justru bayangan wajahku sendiri— eh?"

.

Eh.

Sebentar.

Kok—

.

Ia menoleh cepat-cepat pada Sai,harap tidak harap lelaki itu akan mengoreksinya.

Tetapi yang dilihatnya justru Sai yang tengah tersenyum ke arahnya.

Senyumnya yang kali ini berbeda dari senyum yang biasa ia fabrikasi. Senyumnya kali ini tampak lembut. Memandangnya dengan sebuah binar-binar aneh, yang tak bisa ia terjemahkan semudah biasanya. Tatapan itu lain. Hangat. Menyenangkan.

.

"Kau melihatnya sekarang? Orang yang kusukai itu, yang ada didepanmu itu, menurutmu apakah dia jelek?"

.

Yang ada di depanmu itu...

Yang ada di depannya adalah bayangan wajahnya.

Dirinya.

Ino Yamanaka.

Bukan gadis itu.

.

Jantung Ino spontan bertalu-talu, seolah ingin melompat keluar dari tulang rusuknya. Detaknya makin menjadi, seiring dengan senyum dan kalimat pemuda itu yang mengudara,

.

"Salah besar kau berpikir dia jelek," kata Sai, menatap Ino di mata lekat-lekat, "Karena bagiku, orang di depanmu itu, dia adalah orang paling menarik, mempesona, dan paling cantik yang pernah aku temui di hidupku,"

.

Dan sang putri Yamanaka pun harus berakhir megap-megap di depan pintu kaca, dengan wajah semerah tomat matang, bertanya-tanya,

.

Ya Tuhan, sejak kapan Sai pandai menggombal?!
.


FIN.


Terima kasih sudah berkenan membaca :D