hetalia © hidekazu himaruya. penulis tidak mengambil keuntungan komersial apapun dari pembuatan cerita ini. cerita ini adalah murni fiksional, tidak ada kaitannya dengan orang-orang di dunia nyata—jika terjadi persamaan maka hal itu adalah hal yang tidak disengaja.
Dari kopi ke kopi, Lovino selalu jatuh cinta.
Lovino mengenal Erika di sekolah. Perempuan manis pendiam, tetapi suka duduk di kursi depan karena rupanya matanya menderita minus dan ia kurang percaya diri memakai kacamata. Ia suka memakai pita di kanan pada awal minggu, di kiri pada menjelang akhir minggu. Mereka selalu berada di kelas yang sama, dan merupakan segelintir dari perantau yang masuk sekolah swasta di jantung kota Bern. Erika secara teknis berasal dari negara tetangga, Liechtenstein, tetapi orangtuanya berasal dari Swiss, dan kakaknya pun sekarang juga kuliah di Bern—namun rumah mereka yang jauh membuat Lovino memiliki perasaan kolektif dengan Erika.
Lovino suka membeli kopi setiap dua hari sekali sepulang sekolah, dan hampir selalu, dia bertemu dengan Erika di kedai tersebut, membeli menu yang sedikit berbeda dengannya (dia americano, dan Erika lebih suka yang lebih banyak susunya). Mereka kurang akrab di sekolah, tetapi selalu bertukar senyum di kedai kopi, dan perlahan, bertukar cerita.
"Kakakku beli mesin kopi," Erika bercerita, pada suatu sore, setelah kelas fisika dasar yang menarik tetapi melelahkan karena tugas esainya. Ia tersenyum, sederhana tetapi menawan. "Dan dia belajar membuat kopi. Aku ingin tahu seperti apa kopi buatannya."
Sedangkan Lovino berpikir, bertanya-tanya, dan berandai-andai, bagaimana rasa kopi buatanmu?
Lovino mengerti bahwa itu cinta ketika mereka berada di tahun akhir.
Erika banyak belajar di kedai kopi, membawa serta laptop dan tabletnya, sudah memperhitungkan orbit sebuah eksoplanet hanya dari data-data mengenai transit dan bintang induknya yang tersedia di internet. Ia akan mengikuti sebuah lomba esai tingkat internasional, dan ia harus menyelesaikannya sebelum ujian semester.
Lovino menemaninya belajar, berusaha keras untuk menyukai membaca (dia adalah tipikal yang menghitung secara spontan), agar bisa duduk lama-lama di depan Erika.
Di saat-saat seperti itulah Erika mau memakai kacamatanya. Namun saat ia tahu Lovino mengamatinya, ia akan melepaskannya.
Lovino mengambil kacamatanya, melihat melalui lensa tersebut tanpa memasangnya di wajahnya. Erika terlihat berdeformasi di penglihatannya. Kacanya tidak tebal, dan tidak membuat Erika tampak jauh berbeda. Minusnya tidak terlalu tinggi.
"Kenapa kau jarang memakainya?"
"Tidak terlalu diperlukan."
"Tapi kan, sulit." Lovino mendekatkan kacamata itu pada Erika, menaruhnya di wajahnya pelan-pelan. Erika tidak menolaknya, hanya membetulkan letaknya di atas hidungnya. Lovino pun berbisik, "Cantik."
Dia tidak bisa melupakan wajah Erika saat itu; tertegun memandang mata Lovino setelah mendengar pujiannya. Saat itu dia menyadari bahwa perasaannya berbeda.
(Setelahnya, Erika pun selalu memakai kacamatanya setiap hari di kelas.)
Mereka kuliah di Zürich, di tempat yang sama, pada departemen yang berbeda. Lovino memilih glasiologi karena pada suatu waktu dia terkesima melihat gletser dan ingin tahu lebih banyak tentangnya, dan Erika masuk ke jurusan yang berhubungan dengan bidang astrofisika.
Berbeda gedung, berbeda jam kuliah, tidak menghalangi Lovino dan Erika membuat janji minum kopi bersama pada petang atau malam hari, berbagi cerita dan keluhan, dan Lovino mengantarkan Erika ke apartemennya meski mereka hanya berbeda dua lantai.
Lovino mencoba vietnam drip. Dia suka menunggu dan menunggu, membiarkan Erika bekerja dengan tugasnya, sesekali mengeluh pelan dan Lovino akan menanggapinya, sementara menunggu kopinya. Menghitung tetes demi tetes dalam hitungan waktunya sendiri, berpikir untuk membuat satuan waktu yang menyaingi waktu standar atom cesium—dengan tetesan kopi.
Ssst, jangan biarkan Erika mendengarnya. Ia mungkin akan mengernyit dan bilang Lovino, kau ada-ada saja.
Dan Lovino menikmati waktu: waktu yang berjalan untuknya jatuh cinta lagi dan lagi.
Suatu waktu di liburan semester yang sempit karena proyek-proyek, Erika mengajaknya ke pedesaan Swiss, kampung halaman kakeknya. Basch, sang kakak, awalnya bermaksud untuk ikut, tetapi dia sedang magang di lembaga penelitian dan tidak mungkin meninggalkannya. Lovino berangkat dengan Erika, berdua menaiki kereta, berganti bus dua kali untuk tiba ke pedesaan di utara.
Mereka menginap di sebuah cottage milik keluarga Zwingli, yang memiliki loteng untuk mengamati langit.
Langit lebih bersih, meski belum bisa melihat Milky Way dengan jelas, mereka berdua sedikit lebih puas daripada di perkotaan. Dengan dua gelas kopi dengan krimer di tengah malam, mereka naik ke loteng dan memandang langit.
Erika menunjuk satu bintang, menyebut namanya, dan mengatakan bahwa ia baru saja menemukan artikel tentang planet yang mengelilinginya, dan jika perhitungannya benar, planet itu akan mengalami waktu transit pada bintang tersebut dalam dua ratus tiga puluh tiga hari lagi.
"Lovino," panggilnya pelan, "kurasa kita sama."
Lovino, yang berbaring santai dengan tangannya yang tersilang sebagai bantalnya, menoleh. "Sama bagaimana?"
"Apa yang kita pelajari sama-sama melihat ke masa lalu."
Lovino berpikir sebentar. Dia mengangguk perlahan. Meski begitu, dia suka mendengar pendapat Erika, "Menurutmu begitu?"
"Ya." Erika tersenyum. "Aku melihat ke masa lalu. Bintang yang puluhan ribu, ratusan ribu, jutaan tahun cahaya jauhnya. Cahaya yang kulihat adalah cahaya masa lampau. Aku mempelajari masa lalu." Dan ia menoleh. "Kau akan menggali es dan mempelajarinya, Lovino, kau melihat pada masa lalu Bumi."
"Dan kau melihat masa lalu semesta." Lovino melempar pandangan pada sebuah bintang yang acak. Memikirkan betapa luas dunia yang Erika lihat, dan betapa dalam lubang masa lalu yang dia gali. Mereka akan berpisah jalan sebentar lagi. "Kau mempelajarinya untuk masa depan dunia."
"Kau juga. Kau belajar untuk melihat Bumi dan menggunakan apa yang kautemukan untuk mengamankan masa depan kita."
Masa depan kita. Entah mengapa itu terdengar sangat menjanjikan.
Lovino memberanikan diri meraih tangan Erika—
—dan Erika membalas genggaman tangannya dengan malu-malu.
Ekspedisi pertama Lovino adalah ke utara Kanada, di akhir masa kuliahnya. Dia berkenalan dengan seorang senior yang merangkap dosen dan peneliti asal Kanada yang sering bolak-balik Alpen, dan membantunya untuk mendapatkan proyek itu. Proyek swasta yang didanai oleh komunitas sains Amerika Utara, yang juga akan Lovino gunakan untuk tugas akhirnya. Dia harus menjalani pelatihan selama dua minggu agar mampu bertahan di area ekstrem, dan saat itulah perpisahan dengan Erika.
Lovino menjemput Erika di laboratoriumnya pada pukul sepuluh malam, dan menawarkan diri,
"Besok ... mau makan malam bersamaku?"
Erika menelengkan kepala, "Kukira besok kau akan berangkat ke Ottawa?"
"Belum. Akhir minggu ini. Matthew sedang ada perlu di Italia."
"Hmm. Boleh." Erika mengangguk cepat. "Kelasku akan selesai di pukul enam, dan tidak ada jadwal di lab." Erika berjalan mengikuti Lovino yang mulai melangkah. "Apakah ini makan malam perpisahan?"
"Hei, tidak ada kata perpisahan!" Lovino menyilangkan kedua tangan di udara, dia menggeleng cepat. "Kita cuma tidak akan bertemu dalam hitungan bulan."
Erika tertawa kecil. Menggemaskan. "Mirip, sih. Tapi boleh lah."
Makan malam itu sesederhana yang bisa diharapkan dari sepasang mahasiswa. Makanan yang tidak terlalu mewah, tetapi cukup hangat jika dibandingkan dengan makanan instan yang sering mengisi waktu mereka di sela-sela jadwal yang padat. Dengan minuman yang sedikit lebih berkelas, dan hidangan penutup yang lebih mahal daripada kue di kafe-kafe.
Di akhir makan malam itu, Lovino berubah menjadi lebih gagap dan lebih sering menggaruk bagian belakang kepalanya. Erika tentu menyadarinya, tetapi ia memilih untuk diam saja dan membiarkan pemuda itu bicara banyak tentang masa lalunya yang sudah tiga kali Erika dengar.
"Lovino." Erika menepuk pelan punggung tangan Lovino ketika pemuda itu diam cukup lama. "Kupikir kau ingin mengatakan sesuatu sejak tadi."
Lovino tersentak dan mengerjap. "Oh—eh, ya." Dia menggaruk kepalanya lagi. Dia menarik napas panjang-panjang, kemudian merogoh saku bagian dalam dari bomber jacket-nya. Sebuah kotak bening, dan dia sodorkan ke hadapan Erika.
"Aku ingin memberimu ini." Dia menunduk, wajahnya panas dan kupingnya merah. "Mungkin ini tidak berarti besar, tapi ... aku ingin memberikan ini sebagai tanda. Tanda bahwa aku ingin serius dan jika kau menerimanya ... itu artinya kau mau menungguku. Aku akan pergi lama, jauh, dan itu untuk diriku sendiri, tapi aku akan kembali untukmu ..." Dia memberanikan diri untuk mengangkat pandangan ke arah Erika. "Aku ... aku sudah menunda terlalu lama untuk bilang ini dan mungkin kau tidak menginginkanku, tapi aku hanya ingin bilang, Erika ... aku mencintaimu. Aku ingin serius ..."
Lovino melihat bagaimana Erika mengamati kalung di dalam kotak kaca tersebut, menyusuri permukaan kacanya di bagian liontin kupu-kupunya, kemudian kerlingan matanya—semuanya terasa lebih lambat daripada menunggu vietnam drip.
Erika kemudian membuka kotaknya, kemudian mengangkat kalung itu dan bermaksud membuka pengaitnya. Lovino buru-buru berdiri—sempat tersandung kaki kursi sebagai hasil dari kecerobohannya—dan membantu Erika untuk memasang kalung itu di lehernya.
"Aku akan menunggumu." Erika mendongak ke arahnya, tersenyum. "Kejarlah masa lalu, Lovino. Lalu kita akan mengejar masa depan bersama."
Kopi yang bisa didapatkan di tempat ekspedisi yang sunyi dan beku ini hanya kopi instan—tapi tak mengapa bagi Lovino. Dia bisa melihat Polaris dengan jelas di sini, sambil meniup-niup asap yang menguar dari termosnya. Dia mengingat Erika dan kalungnya, dan memikirkan kira-kira apa yang sedang dilakukannya di sana? Lovino sudah mengumpulkan banyak tabung sampel es yang diambil dari lapisan berkilo-kilometer di bawah sana, mengumpulkan jejak cerita bumi dan mungkin makhluk-makhluk kecil yang tidur panjang bersama sejarahnya, waktu mereka tertahan dan sebentar lagi siap bercerita. Mungkin jauh di sana Erika sedang melihat ke galaksi yang begitu jauh, mencari tahu seperti apa hidup di masa lalu yang jauh, jauh sekali, baik secara jarak maupun waktu.
Begitu mudah untuk mencintai seseorang yang memiliki latar yang sama; dan Lovino tahu persis rasanya.
Dia pulang setelah lebih dari setengah tahun, dan Erika telah diterima sebagai pemagang di ESA. Lovino memutuskan untuk bergabung dengan komunitas Matthew, yang berpusat di Kanada tetapi memiliki kantor cabang perwakilan di Eropa karena ESA sering bekerja sama dengan mereka untuk masalah pertukaran ilmu mengenai es di Bumi dan sampel penelitian dari luar angkasa.
Sesekali Lovino harus pergi ekspedisi, sesekali Erika harus pergi melintasi Bumi untuk mencari tahu. Sesekali mereka bertemu,
tetapi Erika selalu memakai kalungnya.
Pada suatu kesempatan, mereka bertemu satu hari di Paris, di sela-sela hari libur akhir pekan Erika dan ada jeda antara ekspedisi Lovino.
Erika bertanya pada Lovino dengan suara lembutnya yang selalu Lovino rindukan, "Sejauh mana masa lalu yang sudah kau temui?"
Lovino tertawa kecil. Tangannya menggenggam tangan Erika. "Jauh, jauh sekali. Sejauh masa depan yang ingin kujalani bersamamu."
end.
