Ini adalah sambungan dari Chapter 10 dari fic I'm the King! Year 1.
Jadi ada baiknya untuk membaca chapter itu terlebih dahulu sebelum membaca cerita ini, tapi kalau tidak mau juga tidak apa-apa.
Baiklah tanpa membuang waktu lagi.
Selamat membaca~.
.
.
.
.
.
.
.
.
KHS Girls Sidewalk, Thursday at 2:30 pm.
Hari yang sama ketika Naruto mengalahkan Kiba, saat ini Naruto sedang berada di luar sekolah, melarikan diri dari teman-temannya yang kembali mengadakan rapat.
Alasan rapat kembali digelar adalah karena Pemimpin mereka yakni Naruto sekarang telah menyandang gelar Raja para Freshmen.
Mereka tentu tidak mau kehilangan momentum tersebut dan sesegera mungkin untuk bergerak cepat dengan mengadakan rapat, mendiskusikan beberapa poin penting yang mereka coba capai di tahun pertama mereka.
Dalam rapat itu juga mereka membahas mengenai pergerakan Fraksi mereka untuk prospek ke depannya, seperti pergerakan apa yang akan mereka ambil dan lain sebagainya.
Naruto yang lagi-lagi harus dilibatkan dengan rapat yang membosankan memilih untuk melarikan diri, dengan alasan kalau ia mau mengambil barangnya yang tertinggal di Kantin, padahal itu cuma akal-akalannya saja.
"Hoam, sialan mereka, semuanya saja kalian rapatkan, kalau tahu begini aku lebih baik tidak datang ke sekolah hari ini!" Naruto berjalan malas sambil sesekali menguap bosan karena beberapa menit ini ia terus berjalan tanpa arah yang jelas.
Dan tidak terasa, ia kini sudah berada di depan gerbang sekolah milik KHS girls yang notabenenya berada di belakang gedung sekolah KHS boys.
Kedua Sekolah ini hanya dipisahkan oleh sebuah tembok besar dan hutan yang menghiasi masing-masing halaman belakang kedua sekolah tersebut.
Naruto pun dibuat tercengang ketika melihat gedung sekolah KHS Girls. Bagaimana tidak? Gedung sekolah milik KHS Girls itu memiliki desain mewah bak bangunan bergaya eropa dan memiliki banyak sekali bangunan-bangunan di dalamnya.
Dengan memiliki tiga gedung utama yang masing-masing memiliki empat lantai, lalu sekolah ini juga memiliki fasilitas penunjang lainnya seperti gedung olahraga, gedung kolam renang indoor, trek lari dan lain sebagainya.
Tidak hanya itu, sekolah ini juga memiliki dua lagi gedung yang memiliki ukuran lebih kecil yang berada di belakang ketiga gedung utama tersebut.
Sepertinya kedua gedung kecil itu merupakan Dorm untuk para murid, karena jika Naruto tidak salah ingat, KHS girls ini menganut sistem asrama.
Kemudian Sekolah ini juga memiliki sebuah taman yang ada di halaman depan sekolah tersebut, taman itu memiliki air mancur yang terlihat sangat mewah yang letaknya tepat berada di tengah-tengah taman tersebut, sehingga membuat taman itu terlihat sangat bersih dan juga sangat indah.
Dengan kata lain, sekolah ini bagaikan sebuah istana mewah yang berada di kota Konoha yang kecil ini.
Naruto yang melihat itu benar-benar terkesima, Sekolah ini benar-benar berbanding terbalik dengan KHS boys yang gedung sekolahnya terlihat seperti gedung angker yang kotor dan juga halaman sekolahnya terlihat seperti tempat pembuangan sampah karena banyaknya sampah dan rongsokan yang berserakan di sana.
Ya tidak heran sih, karena KHS boys juga biasa dipanggil oleh masyarakat sekitar dengan sebutan sekolah sampah atau sekolah penampung sampah masyarakat.
Hahh, benar-benar kesenjangan sosial, Naruto benar-benar takjub sampai tidak bisa berkata-kata.
Ia kemudian mengalihkan netranya ke arah seseorang yang baru saja keluar dari gerbang sekolah tersebut, dan terlihatlah seorang perempuan yang memiliki rambut berwarna kuning diikat ponytail tengah berjalan keluar dari gerbang Sekolah tersebut dengan langkah yang anggun.
"Eh tunggu dulu, sepertinya aku mengenal perempuan itu?" Naruto kemudian beranjak dari tempatnya dan kemudian mencoba mendekati perempuan tersebut.
"Ino-chan?" orang yang dipanggil langsung membalikkan tubuhnya.
"N- Naruto?!" Ino menatap Naruto terkejut.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"I'm the King: Love Story"
Desclaimer: [Naruto] Masashi Kishimoto
Created by: Holocaust
Genre: Action, comedy, school, martial arts, slice of life, etc.
Pairing: NaruIno.
Warning: Typo berantakan , Alternative Universe, OOC, NoMagic, NoChakra, Just a regular human! and many more.
Summary: Special Chapter, Special Edition.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Naruto dan Ino masih saling menatap satu sama lain. Kalau boleh jujur, Naruto masih ingin melihat wajah dari teman masa kecilnya yang bernama Yamanaka Ino itu, ia akui kalau Ino sekarang benar-benar menjadi perempuan yang sangat cantik dan juga terlihat sangat anggun, jauh berbeda dengan yang dulu.
Menurut Naruto, Ino yang dulu terlihat lebih tomboy dan tidak terlihat anggun sama sekali, akan tetapi Ino tetap memiliki wajah yang cantik.
Naruto kembali mengingat masa ketika mereka masih kanak-kanak, di dalam ingatannya itu, ia melihat sosok Ino kecil yang entah kenapa selalu bermain dengan mereka para anak laki-laki, yakni Sasuke, Shikamaru, Chōji dan tentunya dengan Naruto sendiri.
Hal yang paling Naruto ingat adalah dimana ada Shikamaru dan Chōji, pasti di sana juga ada Ino yang selalu bermain bersama mereka berdua.
Oh iya, Naruto dan Sasuke juga selalu ikut bermain bersama trio Ino-Shika-Cho itu sampai akhir masa SD mereka semua, kecuali Sasuke yang saat itu pindah ke Tokyo ketika mereka semua akan naik ke kelas 6 SD. Jadi ya bisa dibilang kalau mereka memiliki hubungan yang sangat dekat.
'Orang ini, apa aku sedang bermimpi? Apa orang yang di depanku ini benar-benar Naruto?' batin Ino.
Ino pun menatap langsung ke mata Naruto, Ino pun terpaku ketika melihat netra biru indah bagaikan samudra biru yang entah kenapa bisa sangat memabukkan dirinya, kemudian tatapan Ino beralih ke wajah Naruto yang sepertinya dihiasi oleh beberapa plester yang menempel di pelipis kanan dan juga di pipi kirinya.
Ino pun bertanya-tanya di dalam hati, apakah Naruto terlibat masalah lagi? Dan juga siapa yang berani menghajar Narutonya? A- ah lupakan perkataannya yang terakhir.
"Lama tidak bertemu, Ino-chan!" Naruto memberikan senyuman tulusnya kepada Ino.
'Senyuman itu, tidak salah lagi, orang yang ada di depanku ini adalah Naruto, Naruto-kun!' batin Ino yang tatapannya terpaku kepada senyuman Naruto, tanpa sadar rasa hangat tiba-tiba menjalar di kedua pipi Ino ketika melihat senyuman menawan yang diberikan Naruto kepadanya.
Ino harus akui, kalau Naruto saat ini berubah menjadi lelaki yang sangat tampan dibanding dirinya yang dulu, ditambah lagi di wajah Naruto kini terpampang sebuah senyuman tulus sehingga membuat ketampanan dari Naruto bertambah.
Dan juga di jarak mereka yang lumayan dekat ini membuat Ino dapat mencium aroma citrus yang menguar dari tubuh tegap Naruto, tidak hanya itu, Ino juga dapat merasakan aura yang sangat maskulin yang terpancar dari tubuh Naruto, aura yang begitu memabukkan untuk para gadis, khususnya Ino.
'Oh astaga, sepertinya wajahku merona, apa yang sebenarnya terjadi?!' batin Ino yang kemudian dengan cepat menggelengkan kepalanya, mencoba agar tidak terbuai dengan pesona yang Naruto suguhkan kepadanya.
Ino kemudian membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Naruto yang mematung di tempatnya.
Sialan, senyuman tulus Naruto sempat membuat Ino lupa dengan perasaan yang tiga tahun ini ia rasakan, perasaan marah! Sangat-sangat marah kepada Naruto, karena Naruto telah berani-beraninya meninggalkan dirinya dengan pindah ke Kyoto tanpa memberitahunya terlebih dahulu, sehingga membuat Ino pun tidak sempat untuk memberi salam perpisahan kepada Naruto.
Tiga tahun yang lalu, Naruto dan keluarganya pindah ke Kyoto. Shikamaru dan Chōji yang mendengar itu tentu berniat untuk ikut bersama Naruto, Ayah dan Ibu Naruto yang mendengar itu tentu menyambut mereka dengan senang hati.
Ayah dan Ibu Naruto pun mengajak mereka berdua untuk tinggal bersama mereka di Kyoto, Ayah dan Ibu Naruto juga bahkan menyuruh mereka berdua untuk tinggal sekamar dengan Naruto yang notabenenya memiliki kamar yang sangat luas untuk ditempati oleh mereka bertiga.
Tentunya setelah mereka berdua mendapatkan izin terlebih dahulu dari kedua orang tua mereka untuk ikut tinggal bersama dengan keluarga Naruto, sekaligus melanjutkan SMP mereka di Kyoto bersama Naruto.
Ayah dari Shikamaru dan Chōji sebenarnya sudah mengizinkan mereka, akan tetapi Ibu mereka saat itu sempat melarang mereka untuk ikut tinggal bersama keluarga Naruto.
Shikamaru dan Chōji pun sempat mengalami pembicaraan yang cukup alot dengan Ibu mereka masing-masing, dan akhirnya mereka pun diperbolehkan untuk tinggal bersama keluarga Naruto di Kyoto. Tapi dengan syarat mereka harus pulang ke rumah mereka minimal sebulan sekali, tanpa adanya pengecualian.
Berkat syarat yang diajukan oleh Ibu dari Shikamaru dan Chōji membuat Ino masih sering bertemu dan saling bertukar kabar dengan mereka berdua.
Berbeda dengan Naruto, Naruto dan Ino benar-benar mengalami lost contact selama tiga tahun belakangan ini, Naruto benar-benar tidak memberinya kabar sama sekali sehingga membuat Ino bertanya-tanya, apakah Naruto melupakan Ino?.
Ino bisa saja menanyakan kabar Naruto kepada Shikamaru ataupun Chōji, akan tetapi ia terlalu gengsi untuk bertanya terlebih dahulu, karena kalian tahu lah, bagaimana ego seorang perempuan.
Sehingga berkat menuruti egonya itu membuat ia seakan-akan tidak peduli dengan keadaan Naruto, dan juga alasan lainnya adalah Ino selama ini selalu menyembunyikan sebuah rahasia tentang perasaannya kepada Naruto.
Ino menutupnya rapat-rapat agar perasaannya yang sebenarnya tidak diketahui oleh Shikamaru dan juga Chōji.
Jujur saja, Ino sebenarnya memiliki perasaan kepada Naruto, akan tetapi ia selalu menyembunyikannya dengan cara berpura-pura memiliki rasa suka kepada sahabat Naruto yang lainnya, yakni Uchiha Sasuke.
Sehingga hal itu membuat Shikamaru dan Chōji sama sekali tidak menaruh rasa curiga kepadanya yang ternyata hanya berpura-pura tidak peduli kepada Naruto.
"Ino-chan!" Naruto yang sejak tadi diam di tempatnya kini mengejar Ino yang mulai berjalan menjauh dari dirinya.
Naruto sepertinya mengerti dengan situasi yang terjadi saat ini, ia menebak kalau saat ini Ino sedang marah kepadanya karena selama tiga tahun belakangan ini Naruto sama sekali tidak pernah menghubunginya, atau memberinya kabar sedikit pun.
Jika memang tebakannya benar, Naruto bisa memakluminya dan Naruto akan melakukan apapun untuk mendapatkan maaf dari Ino.
Naruto kemudian meraih tangan Ino, mencoba menghentikan langkahnya.
*Plak*
Ino menepis kasar tangan Naruto yang memegang pergelangan tangannya, Ino berbalik menatap Naruto dengan pandangan marah.
"Jangan mengikutiku, Namikaze!" Ino menatap tajam kedua mata Naruto.
"Ino-chan, aku-" Ino langsung berbalik dan kembali berjalan menjauh tanpa menunggu Naruto untuk menyelesaikan perkataannya.
Hal itu pun membuat Naruto kembali terdiam di tempatnya, menatap Ino yang kini sudah berjalan menjauh darinya. Dan sepertinya tebakan Naruto benar, kalau Ino benar-benar marah kepadanya.
Tidak jauh dari tempat Naruto berada, terlihat seseorang yang ternyata sudah sejak tadi melihat interaksi antara Naruto dan Ino, orang itu kemudian meremas kuat kamera yang ada di tangannya.
"Ino-sama hanya untukku seorang! Aku harus memberi pelajaran kepada si lelaki pirang itu!" kemudian orang itu berjalan mengikuti Ino yang kelihatannya sedang menuju ke arah Mall Konoha.
Orang itu sudah berjanji kepada dirinya sendiri kalau dia akan terus mengikuti Ino kemana pun Ino pergi (Stalker).
Naruto yang tidak mau menyerah kembali tentu mengikuti Ino, namun baru saja ia akan kembali mengejar Ino, secara tidak sengaja ia tiba-tiba melihat sesosok siluet dari seseorang yang sedang bersembunyi di balik semak-semak di seberang jalan, yang sepertinya orang itu sudah sejak tadi memperhatikannya bersama Ino.
Orang yang dimaksud kemudian bergerak mengikuti Ino.
'Stalker kah? Aku tidak akan membiarkanmu mendekati Ino-chan!' batin Naruto.
Naruto kemudian melanjutkan perjalanannya, kali ini ia mengikuti Stalker Ino yang sepertinya menuju ke arah Mall Konoha.
.
.
.
.
.
.
.
.
Konoha Mall, Thursday at 2:40 pm.
Kini Ino telah sampai di tempat tujuannya, dalam perjalanannya ke Mall, ia sesekali melihat ke belakangnya, berharap jika Naruto masih mengikutinya, tapi sayangnya ia sama sekali tidak mendapati sosok yang ia rindukan sekaligus membuatnya marah itu.
Ino kemudian mendesah kecewa, sepertinya Naruto masih sama seperti dulu, sama sekali tidak peka kepadanya.
Tidak mau ambil pusing lagi, Ino langsung masuk ke dalam Mall, berniat untuk berjalan-jalan mengitari toko-toko yang ada di sini sebelum ia melaksanakan niatnya yang hampir saja ia lupakan tadi, yakni membeli piyama dan beberapa pakaian rumah.
Jika kalian bertanya, apakah Ino membolos? Tentu tidak, ia sudah terlebih dahulu meminta izin kepada guru asramanya untuk membeli keperluannya yang lupa ia beli, ya walaupun Ino harus mendengarkan ceramah yang sangat panjang, tapi itu tidak masalah, karena hal yang ia dapatkan cukup sepadan.
Setelah berjalan cukup lama, Ino pun singgah ke toko es krim untuk membeli sebuah es krim rasa jeruk sebelum ia kembali memulai aktivitasnya untuk mengitari Mall Konoha yang sangat luas ini.
Berbicara soal es krim rasa jeruk, entah kenapa dipikirannya selalu terlintas sosok Naruto ketika melihat sesuatu berwarna orange, Ino pun kembali teringat dengan Naruto kecil yang entah karena alasan apa, Naruto selalu memakai kaos berwarna orange dimana pun dan kapan pun ia berada.
Hal itu pun membuat Ino bertanya-tanya, apa Naruto tidak pernah mandi? Atau apa Naruto hanya memiliki satu baju saja?.
Tapi sepertinya hal itu tidak mungkin, mengingat kekayaan dari keluarga Naruto yang membuat mereka berada di jajaran orang-orang terkaya yang ada di Jepang.
Tanpa sadar Ino terkikik geli ketika mengingat Naruto kecil yang marah-marah tidak jelas kepadanya, karena pada saat itu Ino selalu menganggu Naruto dengan selalu berkata bahwa Naruto tidak pernah mandi, tidak lupa Ino juga selalu menghina warna favorit dari Naruto itu sendiri, yakni warna orange.
"Ha'i!".
"Terimakasih paman!" Ino pun menerima es krim jeruknya dengan senang hati.
Kemudian Ino pun melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda, tentunya setelah ia membayar es krim rasa jeruknya ini.
Dalam perjalanannya itu, Ino kembali mendapatkan memori-memori masa SDnya, ia kembali mengingat ketika ia dan rival abadinya yakni Haruno Sakura terus menerus memperebutkan Sasuke.
Dalam perebutan mereka itu, mereka selalu melakukan hal-hal konyol demi mendapatkan perhatian dari Sasuke yang saat itu menjadi Lelaki tertampan di SD mereka.
Tapi sebenarnya tujuan utama dari Ino melakukan hal-hal bodoh itu tidak lain adalah untuk menarik perhatian dari Naruto yang saat itu sama sekali tidak peka terhadap perasaan orang-orang yang berada di sekitarnya.
Saat itu, Naruto hanya mementingkan pertemanan dan juga tawuran. Jika kalian bertanya, kenapa Ino lebih tertarik kepada Naruto? Jawabannya adalah menurut Ino, pesona Naruto itu jauh lebih kuat dibandingkan dengan Sasuke.
Pesona Sasuke adalah wajahnya yang tampan, sedangkan pesona Naruto adalah auranya yang membuat orang-orang yang berada di sekitarnya merasa nyaman dan juga memberikan orang-orang disekitarnya rasa aman ketika mereka bersama dengan dirinya.
Ditambah lagi nilai plus Naruto dimata Ino adalah ketika mereka berada di bangku taman kanak-kanak.
Saat itu, ia ingat jelas kalau Naruto selalu melindunginya, melindunginya dari anak-anak nakal yang sering mengganggunya di awal mereka masuk TK.
Jujur saja, Ino juga tidak tahu kenapa ia sering dirundung dulu. Namun ada satu hal yang jelas diingatannya, yaitu ketika ia dirundung oleh anak-anak nakal, maka Naruto pasti akan selalu ada untuknya dan tidak akan pernah ragu untuk melindunginya dari anak-anak nakal itu.
Pada saat itu juga Naruto telah berjanji bahwa ia tidak akan membiarkan siapapun menganggu Ino dan ia juga berjanji kalau ia akan menghajar siapa saja yang membuat Ino menangis. Tidak peduli walau ia harus dimarahi oleh orangtua yang anaknya ia pukuli dan ia juga tidak peduli jika ia harus dihukum oleh guru mereka.
Mengingat hal itu membuat hati Ino terasa hangat.
Berbicara soal perundungan, ada satu kejadian yang tidak akan pernah Ino lupakan, yaitu kejadian yang membuat Naruto harus dihukum karena telah menghajar anak dari pejabat yang saat itu merundung Ino.
Anak pejabat itu merundung Ino karena Ino tidak mau memberikannya ayunan yang baru saja Ino naiki setelah sekian lama menunggu gilirannya tersebut, akan tetapi anak pejabat itu tidak mau tahu dan terus menerus memaksa Ino untuk memberikan ayunannya kepadanya.
Tanpa diduga-duga, anak pejabat itu tiba-tiba menjambak rambut Ino dengan kuat sampai-sampai membuat Ino terjatuh dari ayunan sehingga membuat Ino menangis.
Naruto yang mendengar Ino menangis pun langsung datang dan kemudian tanpa ragu langsung menghajar anak pejabat itu sampai membuatnya tersungkur, kemudian Naruto pun menindih anak itu dan terus menghajar wajahnya.
Anak pejabat itu pun menangis dan berteriak meminta tolong kepada guru yang ada di situ.
Guru-guru yang mendengar teriakan minta tolong itu pun bergegas untuk menolong anak pejabat tersebut, mereka kemudian mencoba memisahkan Naruto dari anak pejabat itu, akan tetapi Naruto tetap tidak mau melepaskan anak itu sebelum anak itu meminta maaf kepada Ino, dan sialnya, anak itu tetap kekeh dan tidak mau meminta maaf kepada Ino.
Saat itu Ino ingat betul kalau ada tiga guru yang terus mencoba menahan Naruto, akan tetapi mereka selalu gagal karena Naruto selalu saja berhasil lolos dan kembali menghajar anak pejabat itu.
Anak pejabat itu pun akhirnya menyerah dan kemudian ia pun meminta maaf kepada Ino sambil menangis sesenggukan.
Mengingat kejadian itu membuat Ino secara tidak sadar tersenyum tipis. Narutonya benar-benar keren.
Ino kembali mengingat momen ketika dimana ia selalu mencoba menarik perhatian Naruto dengan terus menempel dengan Sasuke sampai membuat Sasuke sendiri risih.
Jika kalian bertanya, kenapa Ino tidak menempel kepada Shikamaru atau Chōji saja? Jawabannya simpel, karena bagi Ino, ia sudah menganggap mereka berdua sebagai kakak kandungnya sendiri.
Dan jika kalian masih bertanya, kenapa Ino tidak langsung saja menempel dengan Naruto? Jawabannya adalah ia sudah terlebih dahulu termakan oleh taruhan yang ia buat bersama Sakura.
Taruhan yang membuat mereka harus memperebutkan Sasuke, yang saat itu tanpa pikir panjang membuat Ino langsung menyetujui taruhan tersebut.
Karena saat itu ia sempat berpikir, jika ia bisa selalu berdekatan dengan Sasuke, maka otomatis ia juga akan bisa untuk selalu berdekatan dengan Naruto.
Dan juga alasan lain kenapa Ino tidak mau jujur dengan perasaan yang sebenarnya kepada Naruto adalah karena ia tidak mau kalau reputasinya tercoreng akibat menyukai Naruto yang pada saat SD suka sekali tawuran dengan anak SD lain.
Ino kini menyesal karena baru menyadari alasan bodohnya itu, karena seingatnya dulu ketika Naruto tawuran, ia selalu ditemani oleh Sasuke, Shikamaru dan juga Chōji, hanya saja murid-murid di SD mereka selalu menyorot Naruto sehingga membuat nama Naruto menjadi jelek, sedangkan Sasuke, Shikamaru dan Chōji nama mereka tetap bersih karena Naruto selalu melindungi mereka.
Kenapa Ino bisa tahu kalau Naruto selalu melindungi sahabat-sahabatnya itu? Karena Ino pernah secara tidak sengaja menguping pembicaraan antara Naruto dan guru BK mereka.
Ino saat itu mendengar kalau Naruto memaksa Sasuke, Shikamaru dan Chōji untuk menemaninya tawuran dan mengancam akan menghajar mereka jika mereka tidak mau menemaninya.
Dan alasan dari Naruto itu pun ditelan bulat-bulat oleh guru BK mereka dan akhirnya membuat Naruto harus diskors selama 3 hari.
Ino sebenarnya berniat ingin memberitahu hal itu kepada Sasuke, Shikamaru dan Chōji, akan tetapi ia harus mengurungkan niatnya tersebut karena ia takut kalau Naruto akan marah kepadanya karena sudah memberitahu sahabatnya itu kalau dia (Naruto) selalu melindungi mereka semua dari hukuman.
Ino yang sedang asyik dengan pikirannya tidak menyadari bahwa ada seseorang yang terus mengikutinya dan sesekali mengambil foto dirinya yang sejak tadi mengkhayal itu.
"Hehe dengan begini koleksi fotoku akan semakin banyak!" ucap Stalker tersebut.
Tidak jauh dari situ, terlihat Naruto yang terus mengawasi gerak-gerik Ino dan Stalkernya sambil sesekali bersembunyi ala film mata-mata yang tadi malam ia tonton bersama adik sepupunya.
Naruto kemudian mengeluarkan sebuah teropong berwarna hijau tosca yang baru saja ia beli di toko mainan anak yang ada di Mall ini.
Naruto kemudian menaikkan teropong itu ke arah kedua bola matanya, berniat mengawasi gerak gerik dari Stalker Ino.
"Anjing, kok ada Ultramannya?!" Naruto kemudian mengucek-ngucek matanya, dan kemudian ia kembali menggunakan teropongnya, beberapa detik kemudian. . .
*Prang*
"Sialan! ini teropong palsu!" Naruto kemudian membanting teropong mainannya itu ke lantai dan hal itu dihadiahi tatapan heran dari orang-orang yang berada di sekitarnya.
Naruto kemudian berjalan memasuki toko mainan tempatnya tadi membeli teropong mainannya tersebut, dan tanpa berbasa basi, ia langsung mendatangi manajer toko tersebut dan meminta uangnya agar dikembalikan, akan tetapi manajer toko itu menolak, mereka pun berdebat.
Setelah perdebatan yang cukup lama, manajer toko itu akhirnya memutuskan untuk berteriak memanggil Security.
Naruto yang melihat Security berjalan ke arahnya seketika mengambil langkah seribu, meninggalkan tempat tersebut.
Security yang melihat Naruto berlari hanya menggelengkan kepalanya heran, kemudian Security itu pun kembali ke pos jaganya yang tadi sempat ia tinggalkan.
Hahh ada-ada saja kelakuan si pirang ini.
Naruto yang sudah berlari menjauh dari toko mainan seketika menghentikan larinya, ia kemudian mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan sosok dari Ino dan juga Stalkernya, dan Bingo! Ino saat ini sedang berjalan menuju toko pakaian khusus perempuan.
Naruto yang melihat itu dengan sigap mencari keberadaan Stalker Ino, dan ternyata orang itu juga ikut masuk ke dalam toko tersebut, setelah sebelumnya orang itu memakai kerudung di kepalanya.
Naruto yang melihat itu tidak tinggal diam, ia langsung berlari menuju ke tempat mereka yang berada di lantai 2.
Setelah sampai, Naruto pun berniat untuk langsung masuk dan menemui Ino, akan tetapi langkahnya tiba-tiba dicegat oleh seorang Petugas yang menjaga tempat itu.
"Maaf tuan, tempat ini dikhususkan untuk perempuan saja, laki-laki dilarang masuk" ucap Petugas yang memiliki badan yang cukup tinggi itu kepada Naruto.
"Eh, bukannya barusan ada seorang laki-laki yang masuk ke sini? Kalau begitu, kenapa ia diperbolehkan masuk?" Naruto kini benar-benar bingung, kenapa Stalker itu bisa masuk?.
"Maaf mungkin Anda salah lihat, silahkan pergi jika Anda sudah tidak memiliki urusan lagi di sini" ucap Petugas itu dengan nada tegas.
Naruto kemudian mengingat Stalker itu sempat memakai kerudung untuk menutupi kepalanya sebelum memasuki toko pakaian ini, sialan ia telah dikelabui, ia harus mencari cara!.
"Ah, aku hanya ingin memberikan kartu ATM-ku ini kepada pacarku yang baru saja masuk!" Naruto mengeluarkan kartu ATM-nya dari dalam dompetnya, ia kemudian menatap Petugas itu dengan tatapan yang meyakinkan.
"Yang mana pacar Anda?" Petugas itu kemudian menggeser sedikit tubuhnya, membiarkan Naruto mencari 'pacarnya'.
"Itu dia yang pirang!" Naruto menunjuk ke arah Ino yang berada agak jauh dari mereka, Ino kini sedang memilih-milih baju tidur.
Petugas yang ada di depan Naruto menatap Naruto dengan pandangan menyelidik, Naruto yang ditatap seperti itu tentu kembali memberikan tatapannya yang meyakinkan.
"Hahh, baiklah silahkan masuk, tapi kumohon tetaplah bersama pacar Anda dan jangan berkeluyuran di dalam sana" Petugas tersebut kemudian membukakan Naruto pintu dan mempersilahkannya masuk.
"Siap, terimakasih!" Naruto langsung masuk menuju Ino.
Ino yang sudah memilih baju yang ia suka kemudian berjalan menuju ke kamar kecil, Naruto yang melihat Ino berjalan ke kamar kecil langsung mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Stalker Ino.
Orang yang dicari pun akhirnya kelihatan, si penguntit itu ternyata sudah lebih dulu berjalan mendekat ke arah kamar kecil yang digunakan Ino, tentu saja Naruto tidak tinggal diam melihat hal itu, karena menurutnya, jarak orang itu sudah sangat berbahaya bagi Ino, dengan cepat Naruto langsung menghalangi penguntit itu untuk mengambil gambar Ino yang sedang mengganti pakaiannya.
"Apa yang kau lakukan bangsat?!" Naruto langsung menarik kerah kemeja dari penguntit tersebut, penguntit itu pun terkejut ketika melihat orang yang beberapa menit lalu berbicara dengan Ino tiba-tiba berada di depannya.
Ino yang mendengar suara gaduh seketika memakai pakaiannya yang sempat ia lepas, ia bisa mendengar suara bariton dari seseorang yang sepertinya ia kenali, kemudian ia memutuskan untuk mengintip melewati celah pintu.
"Kau penguntit sialan! Jauhi pacarku atau aku akan menghajarmu!" ucap Naruto yang kini tengah murka.
Penguntit itu langsung mengeluarkan keringat dingin ketika melihat tatapan mata Naruto yang terlihat seakan-akan ingin mengulitinya.
Orang yang membuat kegaduhan itu ternyata Naruto, yang saat ini tengah mencengkram kemeja dari orang yang selama ini menguntit Ino sejak SMP, ternyata Naruto masih mengikutinya, hal itu membuat Ino begitu senang.
Tidak hanya itu, Ino juga sempat mendengar perkataan Naruto yang mengklaimnya sebagai pacarnya, hal itu seketika membuat wajah Ino memerah bagaikan kepiting rebus.
Ino kemudian kembali menggelengkan kepalanya, ia mencoba menyadarkan dirinya, karena ia masih marah kepada Naruto. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri kalau Ino benar-benar sangat berterimakasih kepada Naruto, karena Narutonya lagi-lagi datang menyelamatkannya.
Berbicara soal penguntit, Ino dan orangtua Ino sebenarnya sudah beberapa kali melaporkan si penguntit itu kepada polisi, akan tetapi tindakan yang diberikan polisi kepada si penguntit itu kurang tegas, karena polisi-polisi itu hanya memberikan surat teguran saja kepada si penguntit sialan itu.
Hal itu tentu membuat si penguntit itu tidak jera dengan hukuman yang kelewat ringan itu. Ayah Ino beberapa kali ingin menghajarnya akan tetapi si penguntit itu selalu bisa melarikan diri, hal itu pun membuat Ino frustrasi dan sempat tidak mau keluar rumah.
Ayah Ino saat itu bahkan sempat meminta tolong kepada teman Yakuza-nya untuk mengurus orang tersebut, akan tetapi Ino melarangnya karena ia tidak mau membuat Ayahnya terlibat dengan hal yang 'kotor' seperti itu, Ayahnya yang mendengar itu hanya bisa mengikuti keinginan putri kecilnya.
Mendengar penolakan Ino membuat Ayah dan Ibunya memutar otak. Ibunya pun mendapatkan sebuah ide, yakni Ibunya meminta Ayahnya untuk mengajarkan Ino Karate agar Ino bisa membela dirinya ketika ia sendiri dan juga agar Ino bisa menghajar si penguntit itu jika saja si penguntit itu mulai bersikap agresif kepadanya, Ino tentu menyetujuinya dengan senang hati.
Dan benar saja, si penguntit itu mulai bersikap agresif dengan mulai memangkas jarak untuk bisa lebih dekat dengan Ino. Tanpa berbasa-basi Ino langsung menghajar si penguntitnya menggunakan gerakan Karate yang Ayahnya ajarkan kepadanya.
Hal itu pun membuat si penguntit itu mulai kapok, tapi itu tidak berlangsung lama, si penguntit itu kembali dengan sebuah kamera yang bergelantungan di lehernya, sehingga membuat si penguntit itu bisa mengawasi Ino dari jarak yang jauh.
Ino yang sudah jengah dengan si penguntit sialan itu hanya bisa membiarkan saja, selama si penguntit itu sudah tidak berani mendekatinya, ia rasa itu sudah cukup.
Hahh seandainya Narutonya masih ada di sini, pasti si penguntit sialan itu akan dijadikan perkedel olehnya.
Ah lupakan perkataan yang terakhir, Ino masih marah kepada Naruto!.
Kembali ke masa sekarang.
"Ada apa ini ribut-ribut!" Petugas yang menjaga di depan seketika muncul dan memisahkan Naruto beserta Stalker Ino.
"Orang ini mencoba mengambil foto pacarku yang sedang berganti pakaian!" Naruto menunjuk muka si penguntit yang semakin mengeluarkan keringat dinginnya.
Ino kemudian membuka pintu kamar kecilnya dan menatap horor ke arah Naruto dan penguntitnya.
"Ino-chan!" Naruto tersenyum ke arah Ino.
"KYAAA! Ada penguntit di sini! Pak, tolong bawa mereka berdua keluar!" tanpa diduga-duga, Ino malah membuat situasi menjadi tambah keruh.
"E? EEHHH?! INO-CHAN?!" Naruto memasang wajah bodohnya sambil menganga lebar. Sebenci inikah Ino kepadanya?.
Tanpa menunggu waktu lama, Petugas tersebut pun langsung menyeret mereka berdua keluar dari toko tersebut, ah ralat, Petugas tersebut membawa mereka keluar dari Mall ini.
'Aku merasa seperti iblis, padahal Naruto-kun baru saja menolongku, tapi aku malah berbuat seperti itu kepadanya' batin Ino yang kini merasa bersalah.
Ia terlalu dibutakan dengan rasa marahnya kepada Naruto, sehingga membuatnya ingin membalas perbuatan Naruto kepadanya, tapi sepertinya ia menyesali perbuatannya kali ini, karena menurutnya ini sudah kelewatan.
Ino menggigit bibirnya.
"Maafkan aku, Naruto-kun" lirih Ino menatap Naruto yang digiring keluar oleh Petugas Mall.
"Jangan pernah kembali lagi!" ucap Petugas itu, mendorong Naruto dan si penguntit itu keluar Mall, kemudian Petugas itu kembali masuk, meninggalkan mereka berdua.
"Kheh, ternyata kau juga seorang penguntit, dasar sialan!" ucap Stalker Ino kepada Naruto yang masih shockdengan perkataan Ino.
Naruto tidak membalas perkataan penguntit itu, ia masih sibuk dengan pikirannya yang saat ini dipenuhi dengan perkataan Ino barusan, sepertinya Naruto ingin menangis.
Naruto kemudian mencoba berpikir positif, bagaimana pun juga, ini masih mendingan dibanding ditinggalkan sendiri selama tiga tahun, ditambah lagi Naruto tidak pernah menghubungi Ino, karena sebenarnya saat itu ponselnya hancur akibat dikeroyok.
Hal itu terjadi ketika ia baru sehari masuk ke SMPnya, ia saat itu tiba-tiba diserang oleh kakak kelasnya, ternyata mereka mengetahui kalau Naruto akan bersekolah ini.
Kenapa mereka mengeroyok Naruto? Karena Naruto telah mempermalukan Boss mereka dua tahun yang lalu, tepatnya ketika Naruto yang saat itu masih kelas 5 SD, yang pada saat itu Naruto berhasil mengalahkan Boss mereka dalam waktu hitungan detik saja.
(Alasan lebih jelasnya ada di chapter 4: Tangan Iblis).
Hal itu pun membuat ponselnya yang ia taruh di dalam saku celananya harus terkena tendangan dan pukulan oleh anak buah dari Boss SMPnya.
Dua hari kemudian, Naruto yang ditemani oleh Shikamaru dan Chōji pergi membalaskan dendamnya kepada orang yang mengeroyoknya.
Tanpa menunggu waktu lama, Naruto pun berhasil menghajar Boss yang ada di SMPnya itu dan membuat Naruto dengan cepat menjadi orang yang terkuat di SMPnya, dan semua itu ia dapatkan hanya dalam kurun waktu tiga hari saja.
Oh iya, kembali ke masalah ponsel.
Dan bahkan sampai sekarang pun Naruto masih belum memiliki ganti dari ponselnya yang rusak tersebut, sehingga membuatnya benar-benar tidak bisa menghubungi teman-temannya yang ada di Konoha, termasuk Ino.
Sebenarnya ia bisa saja meminta kepada orang tuanya untuk dibelikan ponsel yang baru, akan tetapi ia tidak mau menyusahkan mereka lagi, padahal jika ia meminta dibelikan ponsel tercanggih dan termahal pun Ayah dan Ibunya sama sekali tidak akan keberatan, karena bisa dibilang keluarga Naruto termasuk jajaran orang terkaya di Jepang.
Kembali ke masa sekarang.
"Kau jangan coba-coba mengikuti Ino-sama! Atau aku akan menghajarmu kuning payah!" penguntit itu kemudian menarik kerah gakuran Naruto, dan kemudian mendorong Naruto, akan tetapi si penguntit itu lah yang malah terdorong ke belakang akibat kuatnya tubuh dari Naruto itu.
Penguntit itu kemudian langsung meninggalkan Naruto yang masih mematung diam di tempatnya.
.
.
.
.
.
"Huwa?!" beberapa menit berlalu, akhirnya Naruto tersadar dari acara melamunnya.
Naruto kemudian mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan si penguntit Ino yang sudah tidak berada di sampingnya.
Naruto kemudian memutuskan untuk kembali masuk ke dalam Mall, demi mencari kebaradaan si penguntit sialan itu, dan Bingo!.
Naruto akhirnya melihat penguntit itu saat ini tengah bersembunyi di dekat mesin penjual minuman, dan kelihatannya orang itu sedang asyik mengambil foto seseorang yang pastinya adalah Ino, yang saat ini Ino sedang duduk termenung di bangku Plaza yang ada di tengah-tengah Mall.
'Sialan, orang itu tidak ada kapok-kapoknya!' Naruto kemudian berjalan menuju orang itu dan kemudian langsung menyeretnya keluar dari Mall.
"Hey apa-apaan ini?!" si penguntit itu coba memberontak, akan tetapi kekuatan fisiknya tidak mampu untuk menandingi kekuatan fisik dari Naruto.
Ino yang mendengar suara berisik yang tidak jauh dari tempatnya duduk pun langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara tersebut.
Lagi-lagi ia melihat Naruto saat ini tengah menyeret Stalkernya keluar dari Mall, Ino kemudian mengikuti mereka berdua secara sembunyi-sembunyi.
"Lepaskan aku sialan!" Naruto berhasil menyeret si penguntit itu keluar, si penguntit itu terus-terusan memberontak dan mencoba melepaskan genggaman tangan Naruto darinya.
Naruto kemudian mendorong si penguntit itu hingga membuatnya jatuh terduduk.
"Akan kubunuh kau bangsat!" si penguntit itu muak karena saingan barunya selalu mengganggunya untuk mengambil foto Ino, tanpa pikir panjang ia pun langsung menerjang ke arah Naruto dan melancarkan sebuah pukulan lurus ke wajahnya.
*Tap*
"Hoam, seriusan kau mau membunuhku dengan pukulan seperti ini? bahkan pukulan adik sepupuku yang masih kelas 1 SMP saja masih jauh lebih kuat dari pukulan kurang gizimu ini" Naruto menguap malas karena berhasil menangkap pukulan itu dengan mudah.
Melihat pukulannya berhasil ditangkap membuat si penguntit itu berusaha untuk melepaskan tinjunya dari genggaman tangan Naruto, akan tetapi, seberapa kuat pun ia mencoba, tangannya tetap tidak bisa lepas dari genggaman tangan Naruto.
"Aku akan memperingatkanmu untuk yang terakhir kalinya, jauhi Ino-chan atau aku akaA-n?!" belum sempat Naruto menyelesaikan perkataannya, si penguntit itu langsung memberikan sebuah tendangan ke arah selangkangan Naruto.
Hal itu berhasil membuat pegangan Naruto terlepas dan juga berhasil membuat Naruto jatuh berlutut memegangi Naruto jr yang kini tengah merasakan kesakitan.
'N- Naru!' Ino yang melihat Naruto ditendang di area 'itu' seketika membuat wajahnya memerah, ia merasa salah tingkah sekaligus ia juga mengkhawatirkan Naruto yang saat ini sedang berlutut memegangi 'ayam jagonya' yang baru saja ditendang.
Ino yang melihat itu dari jauh hanya bisa berharap kalau Naruto dan Naruto jr tidak apa-apa, Ino juga mengumpat kesal kepada si penguntit sialan yang sudah berani menyerang Narutonya dengan cara yang tidak jantan!.
Berbeda dengan Ino, si penguntit yang melihat Naruto berlutut di depannya dengan cepat melakukan sebuah tendangan yang ia arahkan ke rahang Naruto.
*Tap*
"A- akan kubuat kau terbang penguntit sialan!" Naruto lagi-lagi berhasil menangkap serangan orang itu, kemudian tanpa berbasa basi lagi, Naruto langsung menghantamkan sikutnya ke pangkal paha dari kaki yang berhasil ia tangkap itu, serangan dari Naruto pun berhasil membuat orang itu ikut berlutut di hadapannya.
Naruto kemudian menarik tangan kanannya ke belakang, bersiap meluncurkan sebuah Uppercut kanan mematikannya yang mengincar rahang dari si penguntit sialan yang ada di depannya ini, dan kemudian. . .
*Swung* *Duak*
"Aaaaahk!".
Pukulan dari Naruto berhasil mendarat dengan kuat di rahang si penguntit sialan itu, dan juga pukulan dari Naruto itu juga berhasil membuatnya terbang tinggi, menjauh dari tempatnya berada.
"W- wah!" Ino terkejut ketika melihat penguntitnya terbang berubah menjadi roket akibat terkena pukulan kuat Naruto, didetik selanjutnya, orang tersebut akhirnya terjatuh dan menghantam trotoar dengan sangat keras sehingga membuat kesadarannya menghilang.
Naruto lalu berjalan mendekat ke arah si penguntit itu, Naruto kemudian langsung berjongkok dan tanpa membuang waktu ia langsung mengangkat kedua kaki si penguntit itu sehingga membuat poisisi kedua kaki si penguntit itu lebih tinggi daripada kepalanya, hal itu pun berhasil membuat darah yang tadi sempat terganggu kembali mengalir dengan normal ke otak si penguntit itu.
Yes, Naruto saat ini sedang melakukan pertolongan pertama kepada orang yang pingsan akibat mengalami benturan yang mengakibatkan shock di otaknya.
Beberapa detik kemudian, orang itu akhirnya tersadar dari pingsannya dan kini mendapati Naruto yang tengah menatapnya datar.
"Oh sudah sadar rupanya? Sekarang hapus semua foto-foto dari Ino-chan, SEMUANYA!" Naruto memberikan tatapan mengerikannya.
"H- HA'I" si penguntit itu langsung menuruti perkataan Naruto dan segera membuka kameranya yang ajaibnya tidak mengalami kerusakan ketika ia terbentur tadi.
Ia kemudian memberikan kartu memorinya kepada Naruto, Naruto yang menerima kartu memori itu tanpa kompromi langsung mematahkannya.
*Tak*
"Mulai dari sekarang jauhi Ino-chan, jika aku melihat sedikit saja batang hidungmu di dekat Ino-chan, maka aku benar-benar akan menghajarmu sampai mampus! Kau paham?!" Naruto kemudian berdiri dari jongkoknya, tidak lupa ia juga membantu si penguntit itu untuk ikut berdiri.
"H- ha'i!" penguntit itu kemudian membalikan tubuhnya dan kemudian berjalan tergesa-gesa menjauh dari Naruto.
"GUK GUK GUK!" Naruto menggonggong ke arah si penguntit itu dan tindakannya itu ternyata berhasil membuat si penguntit berlari ketakutan.
Naruto yang melihat gonggongannya berhasil menakuti si penguntit itu hanya tertawa pelan, ia kemudian memutuskan untuk kembali ke KHS boys, menurut Naruto ini sudah cukup, ia memutuskan untuk tidak menganggu Ino hari ini dan ia akan mencari waktu yang tepat untuk meminta maaf kepadanya.
*Grab*
Baru saja Naruto berjalan beberapa langkah, tiba-tiba ia harus menghentikan langkahnya akibat merasakan lengan gakurannya ditarik oleh seseorang, dan orang itu ternyata Ino.
"T- terimakasih Naruto-kun, maaf karena aku lagi-lagi merepotkanmu, dan aku juga benar-benar meminta maaf karena telah bersikap jahat kepadamu tadi" Ino menunduk tidak berani menatap Naruto.
Naruto yang melihat itu langsung meletakkan tangan kanannya di atas kepala Ino, kemudian ia mengelus-elus pucuk kepala Ino dengan sangat lembut, hal itu pun sukses membuat Ino mendongak menatap Naruto yang saat ini tengah memberikannya senyuman yang teduh.
Ino yang melihat itu langsung merona.
"Kau tidak perlu mengatakannya, itu sudah tugasku untuk menjagamu Ino-chan" Naruto tanpa sadar memberikan Ino Eye smile yang jarang ia keluarkan, Ino yang melihat itu semakin merona, rona di pipinya kini sudah menjalar ke seluruh wajahnya, wajahnya kini berubah merah bagaikan sebuah tomat.
Jujur saja, Narutonya terlihat sangat tampan ketika ia tersenyum seperti itu, Ino bisa-bisa pingsan jika ia terus melihat senyuman yang sangat tidak aman bagi jantungnya ini.
"U- um" Ino hanya mengangguk.
Ino seketika teringat kalau waktu yang digunakannya hampir habis, ia harus segera kembali ke Dorm-nya, jika tidak ia akan dihukum.
'Sialan! Padahal aku baru saja berbicara dengan Naruto-kun! Ya Tuhan bisakah aku membolos untuk kali ini saja?' batin Ino frustrasi, Ino kemudian menggelengkan kepalanya, ia tidak boleh seperti itu.
Ah sepertinya dia punya ide, bagaimana kalau ia meminta Naruto untuk mengantarkannya pulang ke asramanya? Tapi apa Naruto mau?.
Ino pun mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya kepada Naruto.
*Glug*
"B- bisakah kau mengantarku untuk kembali ke Dorm KHS girls, Naruto-kun?" tanya Ino yang kembali menundukan pandangannya, ia takut jika permintaannya itu ditolak oleh Naruto.
"Um, ayo!" Naruto tiba-tiba menggandeng tangan Ino menggunakan tangan kanannya yang tadi ia gunakan untuk mengelus surai milik Ino, Ino yang digandeng secara tiba-tiba oleh Naruto langsung menjadi salah tingkah, tidak lupa Naruto juga membawakan belanjaan dari Ino.
Ino yang melihat itu tersenyum senang, ternyata Naruto bisa bersikap manis juga, kemarahannya kepada Naruto yang selama tiga tahun ini ia pendam seketika langsung menguap tanpa bekas.
Mereka berdua pun berjalan sambil bergandengan tangan bagaikan sepasang kekasih di sepanjang jalan mereka menuju KHS girls.
Perjalanan mereka juga dihiasi dengan canda tawa sehingga membuat orang-orang yang melihat mereka berpikir kalau mereka berdua adalah sepasang kekasih yang sedang mengalami masa bahagia.
Naruto benar-benar telah berhasil melunakkan hati seorang Yamanaka Ino, dan hal itu Naruto lakukan tanpa berpikir, ia hanya mengandalkan instingnya saja.
.
.
.
.
.
.
.
.
KHS Girls Sidewalk at 3:10 pm.
Mereka berdua akhirnya sampai di tujuan, Naruto masih belum melepaskan gandengannya dari tangan Ino, ia kemudian kembali memberikan senyum tulusnya kepada Ino.
"Ino-chan, aku benar-benar meminta maaf karena selama ini aku tidak pernah mengabarimu dan membuatmu kesepian selama tiga tahun belakangan ini, aku benar-benar minta maaf!" Naruto kemudian melepaskan tautan tangannya dari Ino dan kemudian ber-ojigi ke arah Ino.
Naruto menundukan kepalanya dalam-dalam, ia benar-benar merasa bersalah kepada Ino.
Ino yang melihat itu tersenyum, dan tanpa ia sadari, air matanya telah menumpuk di kedua pelupuk matanya, Ino dengan cepat menghapusnya sebelum Naruto melihatnya mengeluarkan air matanya.
Ino kemudian menangkup wajah Naruto menggunakan kedua tangannya, kemudian Ino mengangkat wajah Naruto yang tadi sempat tertunduk sehingga membuat Naruto kini mendongak menatap Ino yang tubuhnya sedikit lebih pendek dari Naruto, Ino kemudian menyatukan dahi mereka berdua.
Naruto yang merasakan jarak mereka sangat dekat membuat hidungnya secara otomatis menghirup aroma bunga lespedeza yang sangat menenangkan yang menguar dari tubuh mungil Ino, kemudian Naruto tanpa sadar mengeluarkan senyum manisnya.
"Jika dilihat dari dekat, Ino-chan benar-benar sangat cantik ya?" ucap Naruto yang masih tersenyum menatap Ino lurus. Ino yang mendengar pujian dari Naruto hanya terkikik geli, Ino secara tanpa sadar mengalungkan kedua lengannya di leher Naruto.
Dalam jarak yang sedekat ini, membuat Naruto bisa melihat di mata Ino ada setitik air bening yang sepertinya sedikit lagi akan jatuh dan membasahi pipi Ino.
Dan benar saja, didetik selanjutnya, air yang dimaksud pun terjatuh, Naruto yang melihat itu dengan sigap membersihkannya dengan mengelus pipi Ino menggunakan ibu jarinya dengan gerakan yang sangat lembut.
Secara tanpa sadar, Naruto lagi-lagi memperlihatkan Ino sisi lain dari dirinya, Naruto yang saat ini benar-benar memiliki sifat yang sangat manis, super duper manis!.
Ino yang diperlakukan seperti itu oleh Naruto hanya bisa tersenyum lebar, ia tidak menyangka Naruto yang urakan bisa bersikap lembut seperti ini.
Hahh, jika saja saat itu Ino bisa lebih jujur dengan perasaannya, mungkin ia akan lebih sering mendapatkan perlakuan seperti ini dari Naruto.
"Aku minta maaf karena sudah membuatmu menangis, aku telah melanggar janjiku kepadamu Ino-chan" Naruto menatap Ino sendu.
Naruto kembali mengingat janjinya kepada Ino ketika mereka masih duduk di bangku taman kanak-kanak, saat itu ia berjanji untuk tidak membuat Ino menangis dan akan menghajar siapa saja yang membuat Ino menangis, dan ia ingin terus menjaga Ino. Setidaknya itu yang berada di pikiran Naruto saat itu.
Ino yang mendengar itu hanya menggeleng pelan.
"Kau tidak melanggar apapun Naru-kun, aku hanya merasa senang sekali sampai-sampai membuatku terharu dan membuatku menitikan airmataku seperti ini" Ino kemudian memberanikan dirinya untuk menatap kedua mata Naruto yang masih setia menatapnya dengan pandangan yang lembut.
Ino kemudian secara tidak sadar mengelus-elus pipi Naruto menggunakan ibu jarinya dengan sangat perlahan, ia saat ini benar-benar terhipnotis dengan pesona yang Naruto suguhkan kepadanya.
Beberapa detik berlalu, Ino kemudian menarik nafas dengan perlahan, mencoba untuk menenangkan dirinya, Ino telah bertekad untuk menyatakan cintanya kepada Naruto, sekarang atau tidak selamanya!.
'Kau bisa Ino!'.
*Glug*
"N- Naru-kun?" Ino menelan salivanya dengan susah payah.
"Iya, Ino-chan?" Naruto kembali memberikan senyumnya kepada Ino.
"A- aku, Aku menci-"
"HOY NARUTO, TERNYATA KAU ADA DI SITU!" seketika suara teriakan menginterupsi pernyataan cinta Ino, dengan cepat ia langsung melepas kedua tangannya dari sisi wajah Naruto, dan kemudian ia secara spontan mundur menjauhi Naruto.
Ino lalu menyipitkan kedua matanya, mencoba melihat siapa orang yang berani-beraninya mengganggu pernyataan cintanya yang sudah sejak lama ia pendam itu.
"Woo hai Chōji, Shika?!" dan orang itu ternyata Chōji dan Shikamaru yang tengah berlari menuju ke arah dirinya dan Naruto yang melambaikan tangannya kepada mereka berdua,
"Sialan, daritadi kami mencarimu tahu, dasar kuning mendokuse!" Shikamaru menatap Naruto malas.
"Eh Ino? Kau sedang apa di sini?" Chōji mengalihkan pandangannya ke arah Ino yang berada di samping Naruto, yang entah kenapa Ino kini tengah menatapnya marah.
'Hm kenapa dia menatapku seperti itu? Apa aku berbuat sesuatu?' batin Chōji, entah kenapa ia tiba-tiba merasakan sesuatu buruk yang akan menimpanya, tanpa pikir panjang, Chōji dengan cepat memutar badannya dan segera berlari meninggalkan tempat itu.
"SIALAN KAU CHŌJI! AKAN KUBUNUH KAU!" Ino langsung berlari mengejar Chōji yang sudah terlebih dahulu mengambil langkah seribu.
Naruto yang melihat itu hanya bisa tertawa lepas, maksudku kapan lagi kau bisa melihat sapi laut (Chōji) berlari secepat itu?.
Shikamaru juga ikut tertawa melihat kecepatan lari dari Chōji, Shikamaru kemudian mengalihkan pandangannya kepada Naruto, otak pintarnya kini bekerja dengan sangat cepat, mencoba memikirkan kejadian apa yang baru saja ia lewatkan.
"Hm, seperti itu ya?" Shikamaru tersenyum simpul, akhirnya ia paham dengan apa yang terjadi antara Naruto dan Ino.
Shikamaru kemudian menurunkan belanjaan Ino dari tangan Naruto, kemudian ia langsung merangkul Naruto dan mengajaknya untuk kembali ke KHS boys, meninggalkan Chōji yang saat ini sedangberlari menyelamatkan dirinya dari amukan Ino yang murka kepadanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continue~.
Ini pertama kalinya aku menulis cerita yang isinya sebagian besar memiliki unsur Romance yang kental, kalau boleh jujur, aku benar-benar lemah dalam menulis cerita seperti ini, tapi tidak ada salahnya mencobakan?.
Aku sengaja mencoba menulis genre yang berbeda di chapter ini, dengan alasan untuk membuat fic ini tetap fresh, karena menurutku 3 chapter belakangan ini terlalu menitik beratkan di actionnya saja sehingga membuat cerita ini menjadi lumayan datar.
Aku juga berusaha untuk mempertahankan gaya menulisku yang di dalamnya pasti dihiasi dengan adegan aksi dan juga ada beberapa humor yang kuselipkan di dalam cerita ini, sehingga membuat chapter ini tidak terlalu hancur dan awkward banget.
Oh iya di chapter ini aku juga memberikan satu pair potensial yang lain untuk Naruto, yakni Yamanaka Ino.
Menurutku NaruIno adalah salah satu cracked pair favoritku di series Naruto, karena menurutku mereka berdua sangat cocok dan juga interaksi mereka berdua tidak flat-flat amat dibanding pair yang lain, bisa dibilang mereka memiliki energi yang sama sehingga tidak membosankan ketika di pasangkan.
Oh iya, Ino masih sebatas pair potensial, karena sebenarnya masih ada pair-pair yang lain lagi untuk Naruto di chapter yang akan datang, jadi tetap stay tuned ya!.
Mungkin itu saja yang bisa kusampaikan, semoga cerita yang kubuat ini bisa membuat kalian semua terhibur dan semoga kita bisa bertemu lagi di chapter-chapter selanjutnya.
Baiklah kalau begitu.
Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Sekian dan Terimakasih~.
