Boboiboy Animonsta Studios
.
Fiksi sains x Petualangan AU
.
Negeri di Bawah Bintang
.
Seumur hidupnya, Boboiboy belum pernah menjelajahi angkasa. Banyak angan yang timbul tenggelam saat menyaksikan langit. Hanya dengan menulis, dirasanya sudah cukup untuk mengungkapkan tiap-tiap harapan tak berujung kepada semesta.
Pena diletakkan pada nakas, Boboiboy melepaskan headset seraya menatap keluar jendela. Malam ini, langit tampak cerah susunan bintang-bintang berkumpul menciptakan selendang terang raksasa yang membentang pada cakrawala. Di bawahnya, cahaya lampu kota berpendar biru hangat, tampak hidup dengan kebisingan kendaraan yang melaju. Tas disampirkan pada bahu, Boboiboy meraih jaket dan berjalan menuruni tangga.
Semerbak aroma bunga tercium sesampainya di ruang tamu, Boboiboy mengamati koper dan tas pink yang berjejer disamping sofa.
Seorang wanita berjas putih membelakanginya, tubuh yang gempal menghalangi Boboiboy melihat apa yang sedang dilakukannya.
"Bibi akan pindah ke Kota Altair, Boboiboy."
"Sampai kapan?"
"Hanya untuk beberapa waktu, kau bisa sendirian, 'kan?"—Boboiboy menunjukkan tasnya—"Atau menginap di rumah teman, terserah padamu."
Bibi Lucy mengecup pucuk kepala Boboiboy dan memeluknya yang dibalas pelukan lebih erat.
"Jaga dirimu dan kabari bibi saat sudah sampai, Nak."
"Bibi menyayangimu."
"Aku juga sayang Bibi."
Boboiboy berbalik saat pintu terkunci otomatis. Ia menatap deru mobil magnetik Bibi Lucy yang melaju. Hembusan udara kota cukup dingin untuk membekukan tulang, namun tak dirasa kala Boboiboy segera memasang penghangat elektrik dan berjalan pergi.
Kota Supernova, tempat tinggalnya, terletak jauh dari ibu kota dan dekat dengan matahari. Meski begitu, terdapat lapisan artifisial transparan yang melingkupi cakrawala sebagai penebal atmosfer sehingga udara tidak terasa panas.
Namun tak ubahnya, saat cuaca memburuk yang terjadi bukanlah badai biasa, melainkan badai matahari. Terkadang lidah api menyembur, menjilat-jilat penuh ancaman untuk membumi hanguskan seluruh penduduk Kota Supernova. Temperatur udara mendadak naik, para penduduk dilarang keluar dan harus mengaktifkan Sun Shield dirumah mereka.
Awal dibentuknya Kota Supernova menimbulkan keraguan dari berbagai pihak, keputusan yang dibuat berdasarkan hasil pertimbangan bahwa kota itu merupakan tempat yang strategis untuk memantau ancaman. Alasannya, garis wilayah kekuasaan Negeri Antares bertepi dekat matahari. Setelahnya hanya gelap gulita semesta yang menyapa.
Boboiboy kini menuruni bus yang berhenti di perbatasan kota, papan tanda neon bertuliskan Stasiun Sinnova terlihat. Sembari menunggu kereta, ia mendekati tepian dan menatap langit kosong tak berbintang di bawah rel magnetik transparan.
Bunyi kereta api terdengar, Boboiboy tersentak dari lamunannya. Ia melewati pintu—tiket hologram dalam genggaman—sebelum mendudukkan diri dan merasa kereta mulai bergerak. Membawanya pergi melewati lorong-lorong nebula.
Sepasang boots melangkah, mengantarkan si empunya pada rerumputan basah di awal musim penghujan. Percik embun menyentuh kupluk Boboiboy, jaketnya dieratkan saat angin berhembus.
Lembah Bintang, tempat tujuan Boboiboy, adalah sebuah desa yang berada di pinggir kota. Terkenal akan air terjunnya yang bercahaya. Kelap-kelip dan berpendar, seolah terkandung debu bintang di dalamnya. Tak ayal, keindahan alam itu sudah dilestarikan sedari dulu.
Boboiboy kini sampai pada sebuah padang bunga yang luas, cakrawala berkabut bintang menyapa.Tempat ini tidak pernah berubah, desah Boboiboy penuh kerinduan.
"Lama tak berjumpa, Boboiboy." Ia menoleh. Tampak rambut putih keperakan sepundak yang bergerak dihembus angin. Mata sewarna jelaga berbinar-binar menatapnya.
"Hei Estelle," ujar Boboiboy, mengikuti langkah si gadis yang menenteng keranjang.
"Baru tiba?"
"Belum terlalu lama, kau sendiri? Menungguku?"
"Tidak juga, aku hanya sekedar jalan-jalan dan mendapatimu disini." Boboiboy cemberut.
Estelle mengulum senyum. Ia memakai gaun putih sebetis yang ditutup jaket rajutan.
Bersenda gurau, mereka melangkah beriringan menaiki lereng bukit. Langit di Lembah Bintang tak ubahnya seperti langit kota, satu-satunya hal yang berbeda adalah keberadaan kabut-kabut tipis yang bercahaya seperti nebula.
Rerumputan bukit terlihat, seiring lengkungan tipis menghiasi wajah kala Boboiboy menatap samudra di seberang sana.
"Bagaimana kabar Bibi Lucy?" Estelle menrentangkan tangan menyapa hembusan angin.
"Baik. Kurasa madu dan siam yang kau kirimkan menjaganya tetap sehat."
"Syukurlah, Bibi Lucy butuh lebih banyak bantuan agar bisa menjaga keponakannya ini!"
"Kau berlebihan," elak Boboiboy meminum soda.
Boboiboy tidak akan pernah mengenal gadis itu jika bukan karena bibinya.
Sepuluh tahun lalu, Bibi Lucy membawanya mengunjungi Lembah Bintang. Pertama kali melihat air terjun, Boboiboy melompat-lompat penuh semangat ingin menyentuhnya, Bibi Lucy hanya tertawa lalu menuntun Boboiboy kecil menuju jembatan.
"Pantainya juga bercahaya, Boboiboy. Mau kesana?" Boboiboy tersenyum lima jari, menampilkan deretan gigi anak berusia lima tahun. Tidak sampai tiga puluh menit, dengan hanya berjalan kaki menuruni lembah, angin berhembus membelai wajah Boboiboy mengantarkan aroma asin yang familiar.
Langkah kaki kecil meninggalkan jejak-jejak neon yang menyala, tanpa menghiraukan dinginnya malam, Boboiboy duduk di atas pasir dan mulai membangun kastil.
Cipratan air terdengar, Boboiboy menoleh. Seorang gadis kecil seusianya tengah tertawa riang, kaki kecilnya melompat-lompat dalam air menciptakan riak bercahaya yang menenggelamkan lutut. Kastil pasir terlupakan begitu saja, helaian rambut membelai pipi gembil Boboiboy yang berlari.
"Kelihatannya seru!"
"Kaaan? Ayo bergabung denganku!"
Tangan pucat terjulur menarik jaket oranye, tawa berderai kala Boboiboy merengek bajunya basah. Di bawah cakrawala andromeda, air bercipratan pada wajah-wajah yang tertawa.
Estelle menyodorkan roti lapis.
"Kudengar kau mendaftar sekolah penerbangan, Boboiboy." Menoleh ia mendapati Estelle yang terlihat berbeda.
"Yah, cukup melelahkan di hari pertama. Teori dan praktek langsung dilakukan. Namun tidak kusesali, karena itu impianku." Boboiboy tersenyum.
"Menyenangkan sekali."
"Bagaimana denganmu?"
"Aku," jeda Estelle menunduk memainkan jemari ia melanjutkan. "Kurasa Lembah Bintang sudah cukup bagiku."
"Kau tidak mau ikut? Kita berdua bisa mempelajari tentang langit. Ada banyak hal yang bisa dijelajahi di luar sana!"
"Itu bagimu, tapi aku tidak bisa pergi dari sini," ujar Estelle.
Boboiboy mengernyit. "Kenapa? Kau suka langit, 'kan?"
"Aku harus meneruskan usaha nenek,"
"Siam dan tetumbuhan lainnya perlu perhatian penuh. Jika aku pergi, tidak ada yang menjaga dan nenek akan bersedih." Estelle membayangkan wajah sang nenek yang dipenuhi kerutan, senyumnya selalu mengembang menatapnya. Estelle ingin terus menjaga senyum itu.
Boboiboy terdiam.
"Um.. ah lihat! Langitnya indah ya?" Boboiboy berseru menghibur. Estelle tersenyum mendengarnya.
"Ya.. memang indah.."
Mereka melanjutkan pembicaraan, Boboiboy sesekali tersenyum melihat raut wajah Estelle yang cerah kembali.
"Lalu kau tahu? Leo mendobraknya begitu saja! Wajah Profesor Albert berubah jadi merah!"
Estelle tertawa terpingkal-pingkal.
"Padahal dia tahu kalau guru itu galak," keluh Boboiboy.
"Terus dia dihukum?"
"Tentu—"
Boboiboy berhenti bicara. Mendongak, dari kejauhan ia melihat bintang jatuh. Ekor lintasannya tampak memercik dan mengeluarkan jejak asap. Perasaan Boboiboy tiba-tiba tidak enak.
"Estelle kita harus pergi dari sini."
Tak menghiraukan pertanyaan, Boboiboy langsung menariknya pergi. Soda bertetesan mengotori gaun.
Perjalanan menuruni bukit terasa begitu jauh. Telapak tangan Boboiboy basah, jantungnya bertalu-talu dan Estelle mencari-cari sesuatu. Dari kejauhan, satu persatu satu rumah menyala bak pemantik api, orang-orang berlarian menuju barat.
Sebelum benar-benar mencapai kaki bukit, tiba-tiba sesuatu menghantam dahsyat dan mengguncang bumi bersamaan dengan bunyi sirine yang menggelegar. Boboiboy jatuh terjerembap, Estelle melindungi kepala seraya menyentaknya menjauhi pecahan-pecahan batu yang menghujam.
Boboiboy dan Estelle berlari menghindari retakan tanah yang semakin menganga. Terus berlari menaiki jembatan, mereka tak sadar akan bahaya yang menanti. Aliran air terjun bergejolak dari jalurnya, ombak bercahaya berderu meruntuhkan jembatan. Estelle meringis kala kepalanya menubruk pagar pembatas, pandangannya kabur menatap Boboiboy yang mengais-ngais permukaan kemudian tercebur.
Mereka meraih-raih pinggiran sungai putus asa. Ombak bergejolak ganas, tekanan air mendorong untuk tenggelam.
Boboiboy menarik tubuhnya dari cengkraman air setelah berhasil meraih permukaan, ia berdiri terhuyung sejenak mengatur nafas kemudian berlari mencari keberadaan Estelle.
Bumbungan asap setinggi lebih dari satu kilometer terlihat dari langit timur. Perlahan menipis dihembus angin kencang hanya untuk menyingkap hujan api yang berdatangan.
Itu bukan meteor!
Kobaran api pada benda seperti meteor itu tampak meruncing, berputar bagai baling-baling. Sesuatu yang cepat melesat di udara. Tampak pesawat-pesawat tempur bermanuver, laser keemasan ditembakkan, tampak kecil sebelum membludak saat menyentuh target.
Puing-puing berkobar menghantam laut dengan dahsyat. Air menyembur sebelum tercipta ombak jingga-merah raksasa yang menyala marah dan menyapu pesisir.
"Boboiboy!" Estelle berlari dari anak sungai, rambut lepeknya memberi kesan rumput laut di atas batu. "Menuju barat!"
Laser-laser berdentum bagai kembang api, kobaran-kobaran api datang terus-menerus. Dari kejauhan, palka luas pesawat hitam raksasa terbuka dikerumuni orang-orang.
Estelle melewati rumah-rumah yang hancur, mengamati satu persatu orang-orang yang panik. "Nenek!" Tangannya diraih, Boboiboy dengan sigap menawarkan diri untuk menggendong nenek Estelle.
"Cucuku! Syukurlah kau selamat!" tangis neneknya.
Hujan kobaran api melesat menjatuhkan pesawat tempur, saling bertabrakan lalu terbakar. Baling-baling jatuh menembus menara sirine.
Puing-puing terlempar menuju lembah. Teriakan-teriakan mengudara. Boboiboy dan Estelle melompat terpisah menghindari puing, menunduk tepat waktu saat hampir terkena. Palka terasa jauh, kobaran api mencapai daratan menghantam bumi sehingga mengguncang pesawat itu.
Hampir penuh, Boboiboy gelisah menatap pintu palka yang mulai menutup.
"Estelle kau duluan!"
"Tapi kau menggendong nenek! Aku akan berada di belakangmu!"
"Lakukan saja!" Merasa cemas, Estelle pun melompat dan memanjat palka. Menumpu pada puing, Boboiboy melakukan satu lompatan jauh meraih pembatas palka.
Hatinya mencelos begitu meleset.
Cengkraman nenek begitu erat, Boboiboy merasa tubuhnya mengudara sebelum seseorang meraihnya. Estelle menariknya cepat hingga ia tersungkur di dalam pesawat, seolah seluruh napasnya tercuri Boboiboy mencengkram dada.
"Terima kasih sudah menolongku, Nak!" Nenek Estelle membantu Boboiboy bersandar, mengelus punggungnya menenangkan.
Pesawat itu sangat luas, terdapat beberapa orang berseragam militer berjaga di setiap sisi. Layar monitor terpasang pada langit-langit besi menunjukkan hal yang terjadi di luar pesawat.
"Kita kehilangan banyak prajurit." Boboiboy melirik seseorang yang berbisik. Dia terlihat seumuran dengannya. Seragam militernya tanpa lencana. Prajurit baru.
"Lalu kau sudah dengar? Komandan ingin segera merekrut prajurit baru." Temannya membalas.
"Terlalu tiba-tiba, pertahanan Antares adalah yang terbaik dari yang terbaik. Bagaimana bisa musuh menembusnya?"
"Seperti di film-film pasti—"
Sekujur tubuh Boboiboy sakit semua, matanya terasa berat. Dalam kantuknya ia mencemaskan Bibi Lucy.
Apa bibi baik-baik saja? Aku belum menghubunginya.
Kepala Boboiboy terantuk, kini ia tertidur.
.
Bersambung..
.
Ini fic terpanjang yang pernah kutulis. Aku mau nanya, saat kalian membaca tentang Estelle siapa yang kalian bayangkan? Kalo aku sih Chloe dari Soloist of The Prison.
Jangan bosan-bosan ya baca fic dari CordeliaRizolvet. Saran dari para pembaca sangat dibutuhkan. Sampai jumpa di chapter berikutnya!
