JIKA di hitung, ini sudah hampir satu bulan Kazuya diam, tatapannya kosong ke luar jendela dengan tidak adanya semangat hidup. Bibirnya membuat garis lurus, tidak tersenyum sama sekali, rambutnya lusuh jatuh sedikit berantakan, kacamatanya terpasang miring, kulitnya pucat dengan beberapa goresan tipis, kepalanya di perban dan ia duduk di atas kursi roda.

Eijun menatapnya dari jauh, sedih melihat pacarnya seperti ini, ia merasa separuh hatinya terbang menghilang ditelan malam. Ia tidak bisa melakukan apapun, setidaknya untuk membuat Kazuya tenang atau menatapnya barang sedetik saja. Kazuya mengacuhkannya, Kazuya tidak menjawab pertanyaannya, Kazuya selalu membentaknya ketika Eijun berusaha untuk membantunya mandi atau makan.

Ini semua terjadi ketika setelah pertandingan hebat itu. Pacarnya berhasil membuat home run tiga kali. Tentu saja itu rekor! Tim merayakan kemenangan mereka. Pulang malam dan setengah mabuk. Ia dipesankan taksi oleh teman-temannya. Sayangnya, sebuah truk melaju dengan kecepatan tinggi karena rem blong, menghantam taksi yang Kazuya naiki. Supir taksi itu meninggal dunia sementara Kazuya masih bisa di selamatkan, namun dengan kedua kakinya yang patah—remuk sehingga membuat Kazuya kesakitan.

Eijun meninggalkan kamar Kazuya dengan pintu terbuka, membiarkan Kazuya memandangi langit pagi yang sedang mendung. Ia berjalan menuju kamar mandi dan membilas baju yang sudah di putar di mesin cuci. Semenjak ia memutuskan tinggal bersama pacarnya lima bulan yang lalu, ia membuat kesepakatan ia akan mencuci, membersihkan setiap sudut di rumah Kazuya dan berkuliah seperti biasanya. Lalu kemudian Kazuya yang akan memasak, mengingat betapa sialnya Eijun ketika berada di dapur membuat Kazuya tidak ingin Eijun menyentuh dapur sedikitpun.

Ujung baju Eijun sedikit basah. Ia menghela nafas pelan. Rambut sebahunya ia ikat asal. Ketika selesai membilas semua pakaian, Eijun mengeringkannya dengan mesin pengering lalu meninggalkan mesin itu melakukan tugasnya. Ia kembali mengintip ke kamar Kazuya—pria itu masih sama di tempatnya. Tidak ada ucapan yang sedikitpun terucap.

Eijun menggigit bibir bawahnya kemudian pergi lagi. Kali ini ia keluar rumah, sekadar membuang sampah yang sudah menumpuk. Semuanya adalah sampah bekas makanan instan. Ia yang tidak bisa memasak itu terpaksa harus memakan mie instan, sedangkan ia memesan makanan hangat atau apapun itu dari restoran tempat mereka sering makan dulu.

Di luar hujan. Berat hati, Eijun harus menjemur semua pakaian itu di dalam ruangan. Sebelum menjemur, Eijun berbelok ke kamar Kazuya dan mendapati Kazuya masih di posisinya. Jendela itu terbuka, gorden putih yang baru kemarin disetrika itu bergoyang karena angin. Eijun melangkah masuk dan berinisiatif untuk menutup jendela itu.

"Kau akan kedinginan kalau seperti ini," Eijun berucap, masa bodo jika ia tidak di jawab. Ia hanya ingin melakukan apa yang harus ia lakukan sebagai pacar Kazuya, sebagai teman satu rumahnya, sebagai seseorang yang bertanggung jawab untuk mengurus Kazuya. Setelah jendela benar-benar tertutup, meski ia masih merasakan sedikit angin yang masuk, Eijun melangkah mengambil jaket hangat milik Kazuya dan menaruhnya di kedua bahu agar Kazuya tetap hangat.

Eijun menghela nafas melihat Kazuya masih bergeming di tempatnya. Lantas, Eijun sedikit memundurkan kursi roda itu dan menekukkan kedua kakinya di atas lantai, memegang tangan Kazuya di atas paha itu dengan hati-hati. "Kazuya?" Eijun memanggil. Rasanya sakit sekali melihat Kazuya seperti ini. "Ada yang kau inginkan? Seperti minum, atau makan sesuatu?" tanya Eijun.

Kazuya masih tidak bergerak, bahkan berbicara.

Eijun tersenyum kaku. "Sedih melihatmu seperti ini. Melihatmu yang seolah-olah tidak mengenalku, aku tahu … mungkin mengatakan ini hanya membuatmu semakin sedih saja. Tapi … kumohon dengarkan aku," ia mengambil nafasnya dan menahan air mata yang turun. "Aku akan selalu bersamamu, walau kau sering mengacuhkan aku, aku akan tetap berada di sampingmu, Kazuya."

Kazuya tidak bergerak. Tapi tatapannya sedikit bergerak, hanya sedikit dan tidak disadari oleh Eijun.

Eijun menggigit bibirnya. "Jika membutuhkan sesuatu, ingin minum atau makan, atau ingin dibacakan buku, panggil saja aku, oke? Hujan di luar, jangan membuka jendelanya ya? Aku berada di belakang, menjemur baju di area dalam."

Kamarnya hening kembali. Hanya ada suara air hujan yang mengelilingi indra pendengarannya. Kazuya mengedipkan matanya sekali, kembali melihat ke luar jendela. Ucapan Eijun terdengar menyakitkan, namun ia lebih menyedihkan.

Pakaian Eijun yang terlihat seperti gelandangan memang sudah tidak aneh lagi di mata teman-temannya. Bukan gelandangan seperti gelandangan lainnya. Maksudnya, Eijun jarang memerhatikan style-nya. Ia cenderung sering memakai pakaian laki-laki, sangat tomboy baik dari cara bicaranya ataupun kelakuannya. Namun itu dulu, sebelum bertemu Kazuya. Harusnya ia menjadi sedikit lebih feminim. Tapi kali ini, bukan pakaian yang membuat teman-temannya merasa khawatir. Namun ekspresinya yang terlihat sangat lelah.

"Eijun, kau terlihat mengerikan," Aotsuki Wakana terang-terangan mengatakannya.

Eijun menjatuhkan kepalanya di atas buku. Rambut berantakannya jatuh begitu saja. Hal itu membuat Haruno ngeri.

"Apa Miyuki-san masih sama seperti itu?" tanya Haruno hati-hati.

"Belum ada perubahan." Eijun menjawab dengan suara sedikit serak. Kepalanya hampir pecah antara mengurus Kazuya dan tugas kuliahnya. Tapi untungnya, tetangga mereka—Nyonya Matsumoto menawarkan diri untuk menjaga Kazuya ketika Eijun kuliah. Selama akhir-akhir ini, Nyonya Matsumoto adalah penolong Eijun.

"Sudah check-up?" kali ini Wakana yang bertanya.

Eijun menggeleng. Kepalanya masih berada di atas buku. "Kazuya tidak mau. Dia selalu menatapku tajam ketika aku mengatakan ingin membawanya ke dokter." sementara ini ia hanya melakukan hal-hal yang diperbolehkan oleh dokter; seperti mengganti perban atau mengoleskan salep.

Wakana dan Haruno saling tatap. Kemudian mereka memutus kontak beberapa detik kemudian. "Pasti berat baginya, menerima bahwa kedua kakinya didiagnosa cacat selamanya, terlebih dia adalah seorang pemain baseball professional," kata Wakana pelan.

Eijun menegakkan kepalanya kembali dan tersenyum kaku—pucat. "Aku pun masih tidak rela ia kehilangan mimpinya secepat itu." tiga tahun adalah waktu yang cepat dan seperti baru terjadi kemarin. Semua hal yang Kazuya lakukan untuk menjadi pemain baseball professional tiba-tiba pupus hanya karena sebuah kejadian yang sangat fatal.

Wakana memberinya senyum tipis lalu mengelus punggung Eijun. "Aku yakin semuanya akan kembali normal, Eijun. Kita sama-sama berdoa saja, semoga ada keajaiban nanti." meski ia tahu bahwa tidak ada peluang sembuh untuk seseorang yang sudah di diagnosa cacat selamanya. Tapi, berharap pada sesuatu itu tidak buruk bukan?

Eijun mengangguk pelan.

Kampus dan rumah Kazuya cukup jauh sehingga ia harus memakai kereta dan melewati tiga stasiun. Eijun membuka handphone-nya kemudian mencari video tutorial membuat bubur. Ia kasihan dengan Kazuya yang makanannya itu-itu saja. Mungkin Kazuya bosan. Jadi, sebagai seorang wanita, ia harus bisa memasak! Demi Kazuya dan demi masa depannya. Tidak ada waktu untuk menjadi cengeng dan manja, ia tahu situasinya, Kazuya membutuhkan seseorang dan dia tidak akan meninggalkannya begitu saja.

Headset itu terpasang sehingga ia tidak mengganggu penumpang lain. Ketika ia tiba di stasiun tujuannya. Ia berdiri dan memasukkan handphone ke dalam saku celananya. Tidak sengaja ia melihat sebuah keluarga kecil; Ayah, Ibu dan Anak. Eijun tersenyum kecil melihat keakraban mereka. Tiba-tiba ia menjadi rindu dengan suasana itu. Mungkin suatu saat Eijun akan mengunjungi Ayah dan Ibunya.

Ia pulang di sambut senyum ramah Nyonya Matsumoto. Sengaja Eijun membawakan makanan untuk Nyonya Matsumoto alih-alih memberinya upah. Meski begitu Eijun merasa terbantu dengan kehadiran Nyonya Matsumoto.

"Dia masih tidak bicara, masih seperti itu." kata Nyonya Matsumoto memberitahu sebelum ia benar-benar kembali ke rumahnya.

Eijun menghela nafas pelan lalu melangkah masuk ke dalam. "Aku pulang!" Eijun sengaja berseru agar Kazuya mendengarnya. Biasanya ketika ia pulang kuliah, Kazuya akan mendekatinya dan menghambur ke pelukannya. Atau, ia akan mencari ke dapur dan mendapati Kazuya sedang memasak, lalu memeluknya dari belakang, mengadu kalau tugas kuliah membuat kepalanya mau pecah saja, kemudian Kazuya akan mengusap kepalanya sambil tertawa.

Eijun mencari Kazuya ke kamarnya, masih ada Kazuya di sana dengan posisi yang sama. Eijun menaruh belanjaannya terlebih dahulu di dapur kemudian melesat ke kamar Kazuya. Sekadar menyapanya dan menanyakan keadaannya. Kazuya yang agak jauh dari jendela membuat Eijun langsung duduk di hadapan Kazuya. Eijun tersenyum sambil memperbaiki poni Kazuya yang tidak terkena perban. "Hai, Kazuya. Aku pulang," ia kemudian menatap mata Kazuya. "Bagaimana kabarmu hari ini? Ada sesuatu yang kau butuhkan? Makan buah? Atau entahlah, minum kopi kesukaanmu?"

Kazuya masih tidak menjawab apapun.

Senyum Eijun belum luntur, ia mengelus leher Kazuya dengan pelan. "Apa tidak pegal lehermu? Aku bisa membelikan bantal leher jika kau mau—tapi akan aku beli besok, tenang saja. Dengan begitu lehermu tidak sakit," Eijun memandang Kazuya yang hanya diam menatap ke luar jendela. Dia ingin menangis keras, bagaimana caranya agar Kazuya kembali seperti dulu? Dia sedih, hatinya sangat sakit.

Eijun menunduk dan memperbaiki senyumnya. Ia kembali menatap Kazuya, mencium dahinya. "Aku berada di dapur dan di kamar mandi kalau kau mencari. Seperti biasa, mencuci pakaian lalu membersihkan rumah. Jangan sungkan jika ingin memanggilku, aku mencintaimu, Kazuya."

Setelah mengatakan itu Eijun pergi. Ia menata sayuran, buah dan bahan pelengkap untuk memasak nanti. Penyedap rasa seperti garam dan gula mulai diisi ulang setelah sekian lama. Ketika semuanya selesai, Eijun pergi ke kamarnya lalu mengambil handuk untuk mandi sekaligus mencuci baju. Beruntung Kazuya memiliki mesin cuci jadi ia tidak usah repot-repot dan bisa meninggalkan mesin itu melakukan tugasnya.

Eijun menonton kembali video tutorial itu dengan seksama. Mulai dari menyalakan kompor dengan hati-hati karena kompor adalah musuh bebuyutannya. Semuanya berjalan lancar dan percobaan pertamanya lumayan bagus juga. Ketika sudah selesai, Eijun membawakan bubur dan segelas air putih ke kamar Kazuya. Ia menaruh bubur dan gelas di atas nakas sementara ia kembali mengajak Kazuya mengobrol lagi.

"Hai lagi Kazuya," Eijun tersenyum lebar karena ia berhasil membuatkan Kazuya bubur. Beruntung dia tidak meledakan apapun. "Kau tahu? Di kampus tadi, cewek yang pernah ku ceritakan padamu itu kembali berulah. Dia bahkan terang-terangan menggoda dosen di depan umum. Kau tahu apa yang terjadi selanjutnya? Ada seorang perempuan datang dan menjambaknya—mengatakan bahwa dia merupakan selingkuhan pacarnya! Bukankah itu mengerikan?" Eijun kembali menata poni Kazuya lalu menggerakkan kursi rodanya sedikit, memberinya ruang untuk duduk di depan Kazuya dan memberikan ia makan. "Ngomong-ngomong ada bubur hangat … ini … aku yang buat, aku sudah mencicipinya, rasanya tidak terlalu buruk, semoga tidak membuat lidahmu kaget," wajahnya sedikit bersemu merah karena malu.

Eijun mengambil bubur itu setelah ia menaruh kursi di depan Kazuya untuk dirinya duduk. Ia mengaduk bubur itu kemudian mencicipinya lagi apakah panasnya sudah pas. "Ayo makan, Kazuya. Kau belum makan apa-apa dari tadi bukan?" Eijun menatap Kazuya lebih dulu sebelum ia menyuapi Kazuya. "Hei, respon aku, kumohon … Kazuya, untuk sekali ini saja…" beberapa detik ia menunggu, Kazuya tidak meresponnya. "Bahkan batu di luar sana jauh lebih baik," ia bergumam menahan kesal, berharap Kazuya meresponnya ketika ia dibanding-bandingkan.

Eijun menghela nafas pelan. Ia menyerah. Lebih baik ia memaksa Kazuya untuk membuka mulutnya saja. Ia menyendokkan bubur dan mulai menyuapi Kazuya. Seperti sebuah kejutan, Kazuya menangkis tangan Eijun sehingga membuat wanita itu kaget dan tidak sengaja menjatuhkan buburnya ke lantai. Eijun menatap Kazuya dengan kedua matanya yang membulat, sementara Kazuya menatapnya tajam dan penuh kekosongan. "Apa yang kau…" Eijun menatap bubur yang tumpah itu. Dadanya sakit. Seluruh kerja kerasnya ada di sana. Ia menatap Kazuya dengan matanya yang memerah. "Ada apa denganmu?" tanya Eijun dengan nada pelan dan penuh kepedihan.

Kazuya tidak menjawab. Ia kembali menatap ke luar jendela.

Eijun menggeleng pelan. "Kau … aku benar-benar tidak percaya, Kazuya … kau …" Eijun mengambil nafas guna meredam rasa ingin menangisnya. "Kalau tidak mau makan, katakan padaku. Jangan seperti ini Kazuya…" Eijun berdiri sambil mengambil mangkuk dan sendok yang jatuh. "Katakan apabila kau ingin sesuatu, beri tahu aku, apapun itu."

Eijun menangis tanpa suara ketika ia berada di dapur. Ia mencengkram sisi wastafel kuat-kuat guna meredam suaranya. Setelah itu ia berjongkok dengan kedua lengannya yang menutupi kepalanya. Tangannya masih mencengkram sisi wastafel. Kepalanya pusing dan berputar. Ia sudah lelah menghadapi Kazuya. Ia sudah menyerah. Ia tidak ingin mengurusi Kazuya lagi. Namun, jika dia pergi, kepada siapa Kazuya akan bersandar?[]