"TIM benar-benar merasa kehilangannya, Sawamura, percaya padaku."
Eijun menatap seorang teman dekat sekaligus teman satu tim Kazuya; Kuramochi Yoichi. Salah satu yang paling dekat dengan Kazuya—bahkan saking terlalu seringnya bersama Kazuya, mereka sempat di kabarkan sebagai pasangan gay. "Benarkah?" Eijun bertanya memastikan.
Yoichi mengambil nafas lalu membuangnya kasar. Ia memijat pelipisnya. "Ya, kami semua."
Eijun menyilangkan kedua tangannya, merasa sedikit marah. "Lalu kenapa di antara kalian tidak ada satupun yang menjenguk Kazuya?"
Yoichi menatap Eijun tidak kalah tajam dan seriusnya. Sungguh, wanita benar-benar menjengkelkan. "Kau ingin membuat ia tambah menderita dengan melihat kami yang sehat dan tidak cacat sama sekali?" Yoichi mendengkus meremehkan, matanya berputar sebelum kembali pada Eijun. "Bayangkan jadi Miyuki, dia yang dulunya ditakuti dan dinanti-nanti oleh fansnya, home runnya yang menciptakan sebuah rekor bagi tim kami, ayunannya yang akurat dan tajam, kakinya yang melangkah berlari dari base ke base lalu kembali ke home. Tiba-tiba tidak merasakan kedua kakinya lagi, tiba-tiba di diagnosa bahwa ia cacat selamanya, tiba-tiba kaki yang ia andalkan di setiap permainan lumpuh dan tidak bisa dipakai kembali. Bagaimana perasaanmu?"
Eijun mengatupkan bibirnya. Ya, ia juga merasakannya. Sakit, sakit sekali. Eijun menarik nafasnya yang gemetar.
"Kami ingin menjenguknya, tentu saja. Kami ingin. Kami ingin setidaknya membuat ia merasa bahwa ia belum jatuh. Tidak, dia belum jatuh sama sekali, Sawamura. Miyuki masih bisa berdiri dengan tegak meski kedua kakinya lumpuh. Dia bisa terbang kembali dengan caranya sendiri. Tapi saat ini kita harus mencari tahu bagaimana caranya agar ia mau untuk check-up."
Ya, Eijun pun memikirkan itu. Eijun memalingkan wajahnya ke luar jendela, melihat langit malam. Ia memainkan jarinya yang penuh dengan goresan pisau akibat belajar memasak. "Selama beberapa hari ini aku mencoba memasak, berguru pada youtube. Awalnya menyebalkan karena hasil masakanku di tepis begitu saja oleh Kazuya, dan jatuh ke atas lantai," ia menatap Yoichi sekilas, ekspresi wajahnya seperti tidak percaya. "Namun karena perlakuan seperti itu tidak membuatku menyudahi semuanya. Ketika aku berpikir untuk berhenti, aku tiba-tiba memikirkan akankah Kazuya bisa hidup sendiri setelah semua ini terjadi? Apakah dia bisa tidur sesuai jam malamnya? Apakah ia bisa mengatur makanannya sendiri? Seperti mencuci baju atau membersihkan rumah—dia paling susah untuk membersihkan rumah—apa dia bisa melakukan semuanya ketika aku tidak ada di sampingnya?"
Maka dari itu aku memutuskan bahwa aku akan berada di sampingnya, entah sampai kapan, aku akan terus bersamanya meski di tepis berkali-kali, meski aku akan dimaki olehnya karena aku sangat mengganggu. Justru, aku semakin bersemangat untuk belajar memasak. Mungkin … ada hikmahnya di balik ini semua, Tuhan ingin aku menjadi dewasa, Tuhan ingin aku bisa melakukan apa yang harusnya bisa di lakukan oleh seorang wanita, Tuhan tidak mau aku manja dan bersikap kekanakan." ia memberi senyum kecil pada Yoichi.
Yoichi ikut tersenyum meski ia tidak bisa melupakan bahwa Eijun dibuat menangis oleh Yoichi. Meski ia membenci wanita yang menyebalkan, ia masih tidak bisa memaafkan pria yang menyakiti wanita begitu saja. "Miyuki beruntung memilikimu," Yoichi berkata pelan membuat pipi Eijun merona samar. Yoichi mendengkus pelan melihat Eijun yang pura-pura tidak mendengar. "Sebaiknya aku mengantarkanmu pulang, tempat tinggalku dan Miyuki satu arah."
Eijun praktis mengangguk menerima ajakan Yoichi. Teringat dengan ucapan Kazuya yang pernah ia katakan.
"Kalau aku tidak bisa menjemputmu, ada Mochi. Kau tahu dia bukan? Meski tampangnya sangar dan sinis, dia orang baik, dia tidak akan makan orang, aku yakin itu."
Lalu Eijun tertawa dan memukul lengan Kazuya main-main. "Jangan bercanda, Kazuya! Jika dia makan orang, dia sudah di penjara!"
Kazuya ikut tertawa. Ia merangkul leher Eijun dan mengendus aroma rambut pacarnya. "Tapi aku serius tentang hal itu, jika ada apa-apa terjadi padamu dan aku tidak bisa dihubungi, minta Mochi, dia orang baik dan tidak pilih-pilih."
Eijun mengangguk dan menuruti perintah Kazuya.
"Baik! Tapi aku tetap memilihmu sebagai orang yang ku telpon lebih dahulu."
…
"Kau ingin melihatnya?"
"Dari jauh saja, jangan katakan padanya bahwa aku ada di sini."
Eijun menaikan sebelah alisnya namun pada akhirnya dia menuruti Yoichi. Eijun masuk ke dalam rumah sementara Nyonya Matsumoto menyambutnya—mereka berbincang sebentar sebelum akhirnya Nyonya Matsumoto kembali ke rumahnya. Eijun memberi tanda pada Yoichi untuk menunggu sedangkan dia hendak memeriksa Kazuya terlebih dahulu.
Dalam ingatan Yoichi masih jelas bagaimana Kazuya bangun dari komanya selama lima hari itu. Kemudian berteriak bahwa dia tidak merasakan kedua kakinya lagi, teriakan itu membuat Kazuya menjadi seperti orang gila. Dia bahkan hampir melukai lima perawat perempuan dan dua perawat laki-laki di sana. Benar-benar mengerikan. Lalu cara tatapan Kazuya terhadap teman satu timnya sangat tajam dan terlihat bengis. Itu lah alasan kenapa mereka belum menjenguk Kazuya.
Ketika yang di tunggu tidak datang juga membuat Yoichi penasaran, akhirnya Yoichi memberanikan diri untuk turun dari mobilnya dan memasuki rumah Kazuya.
"Kau egois, Kazuya!"
Brak!
Yoichi melotot di tempatnya. Ia kenal ini adalah teriakan Eijun dan di susul bunyi barang jatuh yang cukup keras ke atas lantai. Dengan cepat ia berlari menuju kamar Kazuya. Yang pertama kali ia lihat adalah Eijun yang mencegah Kazuya untuk melakukan sesuatu dengan pisau yang digenggam oleh kedua tangannya yang di perban.
Eijun menangis di depan Kazuya untuk yang pertama kalinya setelah kecelakaan itu terjadi. Nafasnya terengah-engah dan matanya memerah. Hatinya terluka berat dan retak. "Kau pikir kau bisa seenaknya saja membunuh dirimu sendiri?" suaranya rendah dan terdengar menyakitkan. Sementara Kazuya masih tertunduk dan berusaha keras melawan tangan Eijun yang entah bagaimana bisa lebih kuat dari Kazuya. Eijun menggeleng pelan. "Kita sama-sama ditinggalkan, Kazuya. Ayahku dan Ibuku meninggal saat aku kecil, Orang tuamu meninggal ketika kau SMA. Kita sama-sama sendirian di dunia ini," tangisnya terdengar menyedihkan, apalagi ketika ia mengingat tentang kedua orang tuanya yang hampir ia lupakan wajah mereka.
"O-Oi, Miyuki…" Yoichi hendak mendekati mereka dengan hati-hati, satu tangan kanannya di udara, berharap Kazuya bisa menghentikan aksi gilanya.
"Tapi dengan hal itu kita bisa bersama-sama mengisi kekosongan di dalam hidup kita, kau berjanji tidak akan meninggalkanku apapun yang terjadi dan aku pun berjanji seperti itu—tapi kenapa?" suaranya kembali merendah dan penuh rasa sakit di dalamnya. "Kenapa kau sekarang ingin meninggalkanku? Kau ingin membuat aku merasakan kembali rasanya sendirian di dunia? Kau ingin membuat aku bersalah atas kematian bunuh dirimu? Lalu mimpi buruk datang di setiap malam setiap harinya, lalu aku akan mati karena saking sedihnya? Kazuya … itu bukan ending yang bagus, itu buruk dan menyakitkan…" Eijun kembali menangis.
"Sudah hentikan, Miyuki," Yoichi berucap kembali. Meringis melihat pisau tajam yang bahaya itu.
Kazuya sadar bahwa ada orang lain selain mereka di sini. Ah, itu teman dekatnya. "Kalian tidak tahu apa yang kurasakan!" Kazuya berteriak. Ia mencengkram tangannya yang memegang pisau itu. "Mengetahui bahwa aku tidak bisa berjalan atau berlari lagi, mengetahui bahwa aku tidak bisa memainkan baseball yang merupakan bagian dari hidupku adalah mimpi burukku!" Kazuya berteriak di akhir kalimat, ia terengah-engah karena sering berteriak.
Eijun seharusnya rindu dengan suara Kazuya dan merindukan Kazuya yang bisa berbicara banyak seperti itu. Tapi jika cara Kazuya yang seperti ini membuat hatinya sakit. Lebih baik ia menarik kata-kata 'rindu' untuk waktu yang tepat.
"Cukup, Miyuki—jatuhkan pisau itu, bahaya dan bisa melukai orang!" Yoichi memberi perintah di tempat. Memutuskan untuk tidak mendekati mereka terlebih dahulu, takutnya Kazuya malah menyerang.
Kazuya masih belum bisa menerimanya. Ia percaya bahwa jika ia kehilangan kedua kakinya maka ia juga akan kehilangan hidupnya. Ia lebih mencintai baseball dibanding siapapun. Ia lebih mencintai olahraga keras itu dibanding siapapun.
Iris emas itu bergertar. Tetesan air mata kembali jatuh. "Hidupmu belum berakhir, Kazuya," ia mengambil nafas lalu membuangnya, "itu bukan mimpi buruk. Kita masih bisa sama-sama memperbaikinya. Jika kau bunuh diri, mungkin Tuhan akan marah padamu kenapa kau menyia-nyiakan hidupmu yang jelas-jelas Tuhan sudah menciptakan rencana dan takdir yang sangat sempurna untukmu?"
Kazuya berhenti sejenak ketika Eijun menyebut Tuhan. "Kupikir ini adalah karma untukku. Aku yang selalu sombong dan menganggap orang remeh. Aku yang selalu meninggikan daguku kepada semua orang. Aku yang selalu tidak peduli dengan apapun. Mungkin tanpa sadar aku sudah menyakitimu lebih dari ini, mengabaikanmu atau menganggapmu remeh. Tuhan membenciku karena sifatku, maka dari itu Tuhan mengambil kembali kedua kakiku yang merupakan milik-Nya," cengkraman tangannya melemah.
Eijun sedikit lega cengkraman tangan Kazya sedikit melemah. "Semuanya adalah takdir, Kazuya,"
"Bukankah itu alasan yang tepat untukku mati?"
Eijun dan Yoichi sama-sama melotot. Tiba-tiba saja cengkraman Kazuya menjadi lebih kuat dan hendak menusuk perutnya. Pegangan Eijun terlepas, spontan wanita itu menghalangi pisau untuk tidak menembus perutnya sementara Yoichi langsung berlari dan sigap menghentikan Kazuya. Naasnya, semuanya tidak berjalan mulus sebagaimana mestinya. Meski begitu, Eijun terselamatkan karena sebelum pisau itu benar-benar menembus tangannya—Yoichi langsung menghentikannya dengan kekuatan yang lebih besar daripada Kazuya.
Kedua tangan Kazuya bergetar saat melihat darah yang menetes bukanlah darahnya.
"Sawamura…" Yoichi menggigil.
Eijun tersenyum lemah dengan bibir yang pucat. Sakit sekali merasakan pisau yang menusuk tangannya, meski baru tertusuk sedikit, ini terasa menyakitkan. "Kazuya…" ia memanggil Kazuya dengan nada pelan. Kazuya melepaskan pisau itu dengan tangannya yang gemetar. Eijun turun dan melipat kedua lututnya, menatap Kazuya dengan mata yang berkaca-kaca dan sudut matanya yang memerah. Ia membiarkan tangannya yang tertusuk pisau agar darahnya tidak keluar banyak. "Aku bisa menjadi kedua kakimu, aku bisa menopangmu, gunakanlah aku. Bukankah itu adalah alasan yang tepat kenapa aku bisa hadir di dalam kehidupanmu?"
"Ei … jun…" Kazuya tidak mampu berkata-kata, akhirnya setetes air mata turun juga. Kedua tangannya telah dilepas oleh Yoichi yang sudah panik.
Eijun masih tersenyum. "Menangislah Kazuya, aku tahu semuanya sangat berat dan menyakitkan. Kakekku bilang tidak apa jika pria menangis. Itu adalah hal yang wajar. Wajar bagimu."
Yoichi langsung mundur dan mencari kotak pertolongan pertama.
Kazuya menangis dan ia hendak memeluk Eijun. Namun Eijun lebih dulu untuk memeluknya dan menenangkannya. Eijun mengusap punggung Kazuya dengan tangan satunya. Dia benar-benar bodoh. Ia egois. Ia benar-benar seorang bajingan yang tidak tahu diuntung. Memiliki Eijun yang selalu sabar menghadapi sikapnya seharusnya ia beruntung, tapi ia malah ingin meninggalkan Eijun yang jelas-jelas sudah sendirian di dunia ini, lebih dulu daripada dirinya. Dan ia menyakiti tangan wanita itu. Dan ia membuat wanita itu sering menangis diam-diam tanpa ia sadari.
"Maaf, Eijun …. maafkan aku, Eijun. Aku bodoh, aku egois. Aku benar-benar meminta maaf Eijun…" suara Kazuya serak dan terdengar tulus bersalah. Pria itu menggeleng pelan. Memeluk Eijun dengan erat seolah takut kehilangan seseorang yang sangat berharga. "Aku tidak akan melakukannya lagi, Eijun."[]
