DUA hari yang lalu adalah kejadian yang cukup parah. Namun Eijun bersyukur bahwa Kazuya baik-baik saja. Saat ini ia berada di lorong rumah sakit menunggu nama Kazuya di panggil. Sementara Kazuya dan Yoichi tengah berjalan-jalan di sekitar lorong, membicarakan sesuatu. Eijun tersenyum melihat kedua punggung mereka, tepatnya Yoichi yang bantu mendorong kursi roda Kazuya. Keduanya tampak seperti dua orang teman lama yang baru kembali setelah perjalanan panjang yang menguras tenaga dan batin. Ia kemudian menunduk ketika sebuah pesan masuk di handphone-nya. Itu dari Wakana.

Entah aku harus sedih atau senang mendengar berita ini? Pokoknya, jangan gunakan tangan kananmu untuk sementara waktu, iya, aku tahu kau kidal. Pokoknya jangan. Aku senang mendengar Miyuki-san-mu sudah kembali seperti biasanya. Senang juga mendengar hubungan kalian menjadi baik.

Eijun tersenyum. Ia mengalihkan perhatian pada dua pria yang berbalik lagi, masih bercakap-cakap dengan serius. Kadang Kazuya akan terkekeh dan Yoichi akan memutar matanya kesal. Ia bisa menebak bahwa guyonan sialan milik Kazuya sudah kembali.

"Hari itu di mana kau kecelakaan," Yoichi memulai dengan serius, "kami merasa sangat bersalah karena merayakan kemenangan itu. Tapi itu adalah hal yang wajar. Tapi jika tahu jadinya akan seperti ini, mungkin tim akan memutuskan untuk merayakannya lain kali saja, dengan begitu kejadian ini tidak menimpamu."

Kazuya menghela nafas kasar. "Seperti kata Eijun, ini adalah takdir. Tuhan merencanakannya dengan sebaik mungkin," ia menatap Eijun yang tengah menutup mata sambil mendengarkan musik dengan headsetnya. Wanita itu tampak damai. "Dia sangat sabar padaku, aku jadi makin bersalah…" gumam Kazuya.

Mereka sempat berhenti bersamaan. Tidak ingin Eijun mendengar pembicaraan ini. "Ya, berterima kasihlah, brengsek. Karena Sawamura selalu ada disisimu untuk menjagamu. Dia bahkan belajar memasak, tangannya sampai banyak goresan. Dia melakukannya dengan tekun dan serius hanya untuk membuatkan makanan untukmu," Yoichi meringis mengingat rasa masakan Eijun. "Mungkin yang harus ia perbaiki adalah rasa. Makanannya nyaris hambar."

Kazuya menatap Yoichi tersinggung. "Makanannya enak untuk seorang amatir seperti Eijun," tatapannya tajam dengan kedua alisnya yang menyatu.

Ini dia bagian menyebalkannya. Kazuya akan membela Eijun ketika Yoichi mengkritik wanita itu. Lihatlah betapa bucinnya Kazuya pada Eijun yang membuat Yoichi iri hati. Yoichi menghela nafas pelan kemudian menggaruk kepalanya. "Ya sudahlah, terserah," mereka kembali berjalan.

"Aku sudah memutuskannya, Mochi."

"Apa?"

"Aku akan keluar dari baseball."

"…"

"Aku mengerti kondisiku. Aku tahu dan aku tidak mau memaksakan semuanya. Semalam Eijun bilang aku bisa melakukan sesuatu selain baseball. Sekarang baseball hanyalah kenangan masa lalu yang tersimpan di dalam hatiku. Dan hari ini aku akan memulai lembaran baru bersama Eijun. Dan, kau tahu? Memiliki wanita di dalam hidupmu itu tidak terlalu buruk, justru hidupmu akan berubah dan berbunga di setiap waktunya. Perubahan itu seperti berputar seratus delapan puluh derajat."

Yoichi masih belum mengatakan apapun. Sampai akhirnya nama Kazuya di panggil dan mereka bertiga masuk ke dalam. Dokter yang menangani Kazuya merasa senang dan langsung mengecek kaki Kazuya. Setelah selesai, Eijun membantu Kazuya untuk duduk di atas kasur.

"Ini aneh," Dokter itu berkata, "tapi juga merupakan sebuah keajaiban." ia menatap mereka bertiga secara bergantian. "Ada peluang untuk memperbaiki kakimu, ini hanya empat puluh sampai lima puluh persen saja."

Ketiganya saling bertatapan. Adalah Eijun yang pertama kali berbicara. "Maksudnya?"

"Aku akan membuat jadwal untuk Miyuki-san," ia menatap Kazuya. Dokter wanita itu kemudian menatap Eijun dengan senyuman di wajahnya. "Ada peluang untuk Miyuki-san, tapi jangan lupakan bahwa jaringan di kedua kakinya hampir mati," ia memerhatikan komputer di depannya. "Aku yakin … meski tidak sempurna, ada peluang untuk sembuh."

"Aku tidak akan terkejut dengan hasilnya, entah akan tetap lumpuh atau masih bisa digerakkan sedikit demi sedikit,"

Eijun mengalihkan perhatian dari film yang mereka tonton. Ia merengut dan memukul bahu Kazuya main-main. "Aku tidak bisa membedakan, kalimatmu tadi itu adalah pesimis atau positive thingking?"

Kazuya menatap Eijun sekilas sambil menggeleng lalu kembali menatap televisi. "Entahlah. Menurutmu yang mana?"

Eijun diam sejenak. Ia mengambil tangan kanan Kazuya lalu menggenggamnya hangat. "Jangan begitu. Apapun yang terjadi itu pasti takdir Tuhan. Jika kau berhasil sembuh, maka itu adalah kabar baik. Jika kau tidak bisa sembuh, aku ada di sini menjadi kedua kakimu." kepalanya ia sandarkan ke bahu Kazuya. "Kau tahu? Aku selalu mendukungmu apa pun yang terjadi, bahkan jika kau kehilangan kedua kaki atau mata mu. Aku tetap berada di sisimu."

Kazuya mendengkus kemudian menyandarkan kepalanya di atas kepala Eijun. "Diajari siapa sehingga kamu bisa bicara seperti ini?"

Eijun tersenyum kecil. "Keadaan yang mengajarkanku," ia menatap Kazuya dari sudut matanya, memandnag visual kekasihnya yang terbilang sempurna meski kedua kakinya lumpuh sekali pun. "Kazuya," panggilnya.

"Hm?"

"Besok aku mau ke pemakaman kedua orang tua kita. Boleh?"

Lama Kazuya menjawab. Sebagai gantinya ia mencari kehangatan dengan memeluk Eijun dari samping. Kehangatan yang ia temukan lagi setelah sekian lama rasa dingin merayap di dirinya. "Ya, boleh. Kita sama-sama ke sana."[]