CUACA saat mereka ke luar cukup cerah. Matahari bersinar tanpa malu-malu, sementara awan berkumpul membuat sebuah bentuk-bentuk. Meski agak khawatir, Kazuya mengizinkan Eijun yang mengendarai mobilnya, mengingat kekasihnya pernah di ajari mengendarai mobil saat itu. Mobil berbelok menuju daerah pemakaman, melewati gerbang besar kemudian Eijun memarkirkan mobil di tempat parkiran.

Tempat itu masih sama, hanya saja sekarang sudah terisi banyak. Kazuya duduk di kursinya menunggu Eijun mengambilkan kursi roda untuknya. Setelah semuanya selesai, Eijun membantu mendorong menuju pemakaman keluarga Kazuya terlebih dahulu. Ia melihat beberapa orang yang menghadiri pemakaman, lalu pergi dengan air mata. Ia melihat Kazuya dari belakang, pria itu tampak tidak sedih, seolah ia sudah biasa melakukannya.

"Saat dulu, aku hampir benci karena Ayahku menuntutku menjadi pebisnis seperti dirinya," ia mulai bercerita ketika mereka sampai di depan kuburan keluarga Kazuya, tepat setelah Eijun menaruh sebuah buket bunga di tengah-tengah kedua makan yang menyatu itu. "Tapi setelah Ayahku melihat potensiku dalam baseball, dia mengizinkanku. Kami saat itu bertaruh, jika tim ku tidak masuk nasional maka aku akan mengikuti apa yang Ayahku inginkan. Namun jika aku memenangkan nasional, maka seterusnya aku akan hidup bersama baseball."

Rambut Eijun berkibar di udara terembus angin. Ia tersenyum kecil. "Kau masuk nasional," katanya pelan.

"Mhm, aku akhirnya menang dari Ayahku. Apalagi dia mengatakan bahwa ia melakukan taruhan hanya untuk melihat sampai mana semangatku serta kapan titik jenuhku tiba. Jadi intinya dia hanya mengetesku."

"Ayahmu cukup unik ya."

"Ya, begitulah." ia kemudian menggenggam tangan Eijun. "Hei," di tatapnya Eijun yang sedang menatap nisan dengan pandangan penuh arti. "Maaf kalau aku terlalu banyak bercerita tentang keluargaku..."

Eijun menatap Kazuya kemudian menggeleng, ia tersenyum hangat seperti matahari. "Tidak kok. Aku sudah terbiasa dari kecil. Aku dibesarkan oleh Paman dan Bibi, jadi aku juga bisa merasakan seperti apa rasanya punya orang tua. Meski tidak sehangat orang-orang..."

"Ei..." ia mengeratkan genggamannya.

"Jangan khawatir, Kazuya." Eijun balik menggenggam tangan Kazuya. Kali ini tersenyum lebih lebar, ia bergerak mencium kening Kazuya. "Jangan selalu merasa bersalah. Kini yang aku punya hanya kamu, hanya kehadiranmu saja aku merasa lengkap, Kazuya."

Kazuya yang hendak mengungkap kata maaf langsung menutup rapat mulutnya. Ia tersenyum kecil. "Baik, dimengerti." jawab Kazuya seolah menjawab perintah dari pelatihnya.

Eijun menjauh dari Kazuya, senyumnya masih terbit seperti matahari yang tidak lelah memancarkan sinarnya. "Terima kasih, Kazuya." balasnya dengan tulus.

Kazuya mengangguk. Genggaman tangannya semakin erat dan nyaman. "Kau ingin bercerita?" tawarnya pada Eijun.

Eijun mengangguk. Ia berjongkok, tangan kirinya tetap menggenggam tangan kanan Kazuya, sementara sebelah tangannya yang bebas membersihkan sedikit jejak-jejak tanah di makam orang tua Kazuya. "Teruntuk Paman dan Bibi yang menjadi orang tua Kazuya di surga sana, terima kasih karena telah melahirkan dan membesarkan Kazuya ke dunia ini," Eijun mulai buka suara. Tangannya masih sibuk dengan kegiatannya. "Dia tumbuh dengan baik, besar dengan potensinya yang luar biasa, semangatnya yang tidak pernah padam, meski berkali-kali jatuh—aku—Sawamura Eijun akan terus berjanji akan selalu berada di sampingnya apapun yang terjadi."

Kazuya terkekeh pelan.

Wajah Eijun agak memerah karena malu. Padahal ia tidak sedang berhadapan dengan kedua orang tua Kazuya secara fisik. Tapi tetap saja, ia tahu bahwa orang yang sudah meninggal dunia pasti masih bisa mendengar. Apa lagi ia sedang ada di depan makamnya. "Tapi bolehkah aku bertanya beberapa hal yang membuat aku heran selama ini? Dari mana asalnya sifat menyebalkan Kazuya? Ugh, aku tahu ini tidak sopan ... tapi, ya, benar, Kazuya tumbuh dengan baik, tapi sifatnya luar biasa menyebalkan—"

"Itu warisan dari Ayahku."

"—Maaf, Paman! Bukan maksudku menjelekkan! Tapi, aku yakin Paman tidak separah Kazuya yang selalu sombong setiap saat tanpa ada jeda sama sekali—"

"Itu juga dari Ibuku."

"—sombong bukan termasuk sifat buruk, Bibi! Tenang saja, wajar kok setiap orang punya sifat sombong. Tapi aku yakin Bibi berhati lembut tidak seperti Kazuya." Eijun meremas tangan Kazuya dengan kesal. Barulah ketika ia mendengar suara tawa Kazuya yang tertahan, Eijun menoleh dengan ekspresi kesal. "Kazuya! Jangan buat aku seperti orang jahat di depan orang tuamu, dong!" serunya.

Akhirnya Kazuya tertawa lepas. Bahunya bergetar karena geli. Tidak bisa ia menahan tawa lebih lama ketika mendengar rengekan Eijun. Ternyata menjahili Eijun cukup menarik juga.

Eijun yang melihat tawa Kazuya yang tulus itu diam-diam tersenyum. Tapi masih tersisa rasa kesal di dalam hatinya. "Jangan malah ketawa, dasar menyebalkan!" Eijun mencibir. Ia kembali pada kedua makam di depannya. "Maaf atas kelakuanku ya, Paman, Bibi. Jangan membenciku. Aku biasanya tidak begini, hanya saja anak Paman dan Bibi—si Kazuya ini—sering memancing emosiku saja."

"Kau saja yang mudah terpancing."

"Diam." Eijun menaruh telunjuk di depan bibirnya, Kazuya langsung menurut. "Kazuya, ayo kita berdoa untuk mereka sebelum kita pergi."

Kazuya mengangguk atas ajakan Eijun. Mereka berdua menyatukan kedua tangan mereka di depan dada, kedua mata terpejam dan mulai berdoa. Ada keheningan menyelimuti keduanya, hanya suara angin serta daun-daun yang berguguran terbang disekitaran mereka. Ingatan Kazuya meremang ke masa lalu, di mana keluarganya masih lengkap. Mereka sering bercanda ketika berkumpul, saling melontarkan candaan dan berakhir dengan Ibunya yang mengejek Ayahnya karena terlalu kaku. Tapi itu semua bukan alasan untuk Kazuya merasa sedih, semua kenangan sudah ia simpan dengan baik di dalam hatinya, tersimpan di tempat spesial di hatinya. Sekarang, hanya ada Eijun. Sawamura Eijun—seorang gadis yang menjadi pusat dunianya, seorang gadis yang ingin ia pertahankan senyuman lebar manisnya, seorang gadis yang tidak pernah meninggalkannya dalam keadaan apapun.

"Paman, Bibi. Kami pergi dulu ya, kami mau menjenguk makam orang tuaku dulu. Oh iya, kami membawakan bunga untuk kalian, semoga harumnya bisa sampai ke kalian ya." Setelah meminta izin, Eijun mengamit tangan Kazuya dan mendorong kursi roda menuju makam Eijun.

Kazuya tersenyum tipis ketika mendengar senandungan Eijun. Suara Eijun sebenarnya tidak buruk-buruk amat. Meski kadang lari dari nada asli dan berakhir menjadi bahan ejekan Kazuya. "Cuacanya cukup cerah." kata Kazuya mencoba membuka obrolan.

Eijun mengadah, menghentikan jalannya. Ia menatap langit biru di atasnya, cerah sekali, banyak awan putih di atas sana. Meski angin semilir bertiup, tapi cahaya hangat matahari membuat mereka tidak terlalu kedinginan. Eijun tersenyum lalu kembali mendorong kursi roda Kazuya. "Mau pergi ke mana setelah ini? Kau ada rencana?" tanya Eijun.

Kazuya menggeleng. "Tidak tahu. Rencananya kita hanya ke makam saja bukan?"

"Benar…" Eijun mengangguk sambil bergumam.

Makam keluarga Sawamura agak cukup jauh sebenarnya. Mereka harus berbelok dan lurus lagi. Hampir berada di paling belakang area pemakaman. Namun, lelah mereka di balas oleh keindahan area belakang makam. Tidak suram seperti kebanyakan, ada sebuah pohon besar yang rindang serta bunga-bunga yang dirawat dengan baik—tempat itu berada di pojok, sehingga tidak memberikan kesan seram.

Sesampainya di sana, Eijun langsung berjongkok, kembali melakukan kegiatan seperti di makam keluarga Miyuki. Ia membersihkan jejak-jejak tanah atau apapun yang mengotori nisan. "Halo, Ayah, Ibu. Bagaimana kabar kalian? Aku sudah besar loh, bukan anak kecil yang cengeng lagi," ucapan Eijun agak terhenti kala Kazuya mengusak kepalanya. Ia tersenyum kecil, tipis, serta penuh kerinduan. "Maaf aku jarang menjenguk. Kapan ya terakhir kali? Saat aku SMA? Ketika aku meminta doa kalian untuk kelulusanku, ya, kalua tidak salah?" Eijun terkikik. "Tapi kali ini aku tidak sendirian loh, ada Kazuya. Perkenalkan, dia adalah pacarku!"

"Halo, Paman, Bibi. Aku Miyuki Kazuya." sapa Kazuya seolah ia melihat kedua orang tua Eijun. Senyumannya tidak luntur sedari tadi. Sebagai seseorang yang sudah ditinggalkan oleh kedua orang tua, Kazuya mengerti perasaan Eijun.

Hening sesaat di antara keduanya. Kazuya hanya memandang Eijun yang sedang memandang nama kedua orang tuanya di depan. Ia belum mencoba untuk membuka percakapan, karena dari yang ia lihat, Eijun seperti sedang berkelana dengan masa lalu.

Kazuya mungkin tidak tahu bahwa saat ini Eijun sedang mencari-cari kenangan ia bersama orang tuanya. Kapan ya terakhir kali Eijun melihat wajah kedua orang tuanya? Ia bertanya-tanya bagaimana wajah mereka ketika masih ada di dunia. Yang Eijun tahu tentang wajah mereka hanyalah dari album foto yang disimpan apik di salah satu rak di rumah Kazuya dan Eijun, tapi itu semua tidak membuat Eijun puas. Sebab album itu hanya berisi foto-foto orang tuanya ketika muda. Eijun ingin tahu wajah mereka ketika dewasa.

"Aku sudah lupa-ingat kapan terakhir kali aku bersama orang tuaku," kata Eijun tiba-tiba. Kazuya menatapnya. "Apa ya yang dulu pernah aku lalui bersama mereka? Apa aku pernah pergi ke taman bermain lalu makan es krim saat pulang dari sana? Apa aku dulu pernah merengek karena ingin dibelikan sepeda?" monolog Eijun dengan kedipan mata yang lucu, ia sedang berpikir keras, berusaha mengingat sesuatu yang tidak tahu apakah hal itu ada di dalam ingatannya.

"Eijun." Kazuya memanggilnya dan Eijun menoleh. "Pasti ada, pasti ada kenangan bersama orang tuamu." Kazuya menjawab Eijun. "Mungkin karena kau masih kecil, jadi kau tidak bisa mengingatnya dengan jelas."

Eijun diam sejenak lalu terkekeh. Ia tersenyum pada Kazuya. "Mungkin saja. Aku harap begitu." balasnya dengan senyuman yang tidak kalah manis.

Kazuya berusaha menggapai Eijun dan Eijun menurutinya. Keduanya saling berpelukan. "Jangan sedih. Meski mereka tidak meninggalkan jejak apapun padamu, aku yakin mereka menyayangimu sepenuh hati. Kau pasti seperti anak kebanyakan. Kau pasti pernah mengalami menangis karena keinginannya ingin dituruti, atau jalan-jalan ke taman bermain."

"Makasih, Kazuya," Eijun mengusap lembut punggung Kazuya sementara tangan Kazuya mengusap lembut kepala Eijun. Pelukan itu terlepas karena Kazuya mengatakan ia ingin mengatakan sesuatu pada orang tua Eijun.

"Aku tahu ini pertama kalinya kita bertemu, Paman, Bibi," Kazuya mengawali dengan gugup. "Mungkin kalian melihat aku adalah pria yang brengsek, kalau kata Kuramochi—temanku—wajahku itu tukang selingkuh-able, tapi yakinlah bahwa aku hanya setia pada anak kalian—Eijun."

Eijun memalingkan wajah, tidak mau Kazuya melihat wajahnya yang sudah memerah. Apa-apaan sih? Kazuya itu jarang bicara hal romantis seperti ini! Jadi, maaf saja kalau Eijun tiba-tiba malu.

"Awalnya kami hanya teman dekat biasa, yang sering curhat karena memiliki takdir yang sama. Orang tua kami sama-sama sudah meninggal dunia. Tapi, semakin lama, aku semakin jatuh cinta padanya. Eijun itu seperti pusat duniaku, Eijun itu seperti semestaku. Ia adalah alasan aku tidak pernah menyerah pada dunia yang keras ini. Ia adalah alasan aku ingin mempertahankan senyuman di wajahnya … mungkin ini terdengar cringe atau gombalan maut yang klise. Tapi, aku mengaku di depan kalian bahwa aku benar-benar mencintai Eijun…"

Eijun menelan ludahnya. Ia bergumam tanpa suara. Mengatakan Kazuya ini sebenarnya adalah Raja Gombal dibalik sifatnya yang menyebalkan.

"Eijun, boleh lihat kemari?" Kazuya mulai mengeluarkan sesuatu dari kantung jaket yang ia pakai.

Eijun langsung menoleh, ia berdiri tapi tubuhnya membeku ketika melihat apa yang baru saja Kazuya perlihatkan pada Eijun. Sebuah cincin emas yang simple tapi indah. "Ini…"

Kazuya mengulas senyum tipis. "Aku mungkin belum bisa menikahimu karena aku harus mempunyai pekerjaan dahulu supaya kita berdua bisa siap menghadapi ekonomi kedepannya. Tapi, aku ingin melamarmu terlebih dahulu, sebagai bukti bahwa aku mulai serius berhubungan denganmu lebih jauh, Eijun."

Eijun menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca. "Apa-apaan sih, Kazuya … biasanya kau tidak se-romantis ini." gumamnya pelan dengan suara serak dan bergetar.

Kazuya terkekeh pelan. "Jadi, bagaimana? Apakah lamaranku diterima?"

Eijun menurunkan tangannya lalu tersenyum. Ia mengangguk. Belakangan ini dia selalu kepikiran, meski mereka sudah serumah dan berpacaran. Ia selalu bertanya-tanya apakah hubungan mereka bisa sampai ke jenjang serius? Tidak menyangka bahwa hari ini ia akan di lamar Kazuya. Meski bukan di tempat yang romantis, café atau restoran mewah, atau taman dengan penuh bunga-bunga, atau dengan riuhnya penonton. Meski hanya di pemakaman, di depan makam keluarganya. Eijun merasa cukup.

Kazuya tersenyum. Ekspresinya berubah menjadi lega. Ia mengatakan terima kasih lalu memakaikan cincin di jari manis Eijun. Ia menjadi lega. Karena keinginannya yang sudah tersimpan lama akhirnya dapat ia utarakan juga. Lega juga, karena Eijun tidak menolaknya—ah, tapi siapa sih yang bisa menolak pesona Kazuya? Mungkin para fans wanita yang melihatnya lumpuh seperti ini ada yang kabur atau tidak peduli lagi. Tapi, Eijun tidak, Eijun justru semakin mendukung Kazuya. Karena itulah, Kazuya memantapkan diri bahwa Eijun adalah pilihan yang tepat untuknya.

"Terima kasih, Eijun. Terima kasih." ungkapan lembut itu diakhiri dengan sebuah kecupan manis tanda sayang dari Kazuya untuk Eijun. Lalu terakhir, keduanya berpelukan.

Nyatanya, mereka pergi ke mall setelah pulang dari pemakaman. Tiba-tiba saja saat di perjalanan pulang, Eijun mengungkapkan kalau dia ingin belajar membuat kue. Kazuya adalah orang yang cukup terkenal, dan demi membuat Kazuya tetap aman, Eijun telah memakaikan topi serta masker pada Kazuya agar tidak terlalu mencolok. Kini keduanya berada di lorong khusus tepung, gula dan garam. Sesekali Eijun memeriksa ponselnya yang di mana seluruh bahan-bahan membuat kue tercatat di sana. Kazuya hanya bantu memilih dengan membacakan komposisinya serta memilih mana yang bagus atau yang kurang bagus.

"Kenapa tiba-tiba kepikiran?" tanya Kazuya ketika Eijun mendorong trolinya, sementara Kazuya berada di samping Eijun sedang memutar rodanya sendiri.

Eijun cengengesan. "Tadi malam aku sempat scroll sosmed, ada video pembuatan kue. Kalau dilihat, kuenya cukup enak, membuatnya juga tidak terlalu sulit. Jadi aku ingin mencobanya." jawab Eijun.

Kazuya mendengkus pelan, senyum terbit di bibir yang ditutupi masker itu. "Ada-ada saja. Nanti aku bantu ya?"

"Boleh, Kazuya! Dengan senang hati!" seru Eijun gembira. "Oh iya, kalau kuenya berhasil. Aku ingin membagikannya pada Kuramochi-san dan Haruno, Wakana, boleh?"

Kazuya tertawa mendengarnya. Ayolah, hal sekecil itu tidak harus meminta izin 'kan? Eijun bisa membagikannya pada siapapun. Asal jangan tim baseballnya, mereka itu rakus. Dua dan tiga loyang tidak akan muat sepertinya. "Bebas, kau bebas membagikannya pada siapapun, Eijun."

"Hehe, makasih, Kazuya!"

Kazuya hanya tersenyum. Ia mengambil sebungkus snack ketika mereka melewati rak khusus makanan ringan. "Oh iya, sekalian, bahan makanan seperti sayuran sudah agak sedikit di kulkas. Mau beli sekalian?"[]