JAM empat sore keduanya baru saja selesai membuat kue. Sementara Kazuya bersantai di ruang tengah, menonton film series kesukaannya, Eijun tengah membereskan kekacauan di dapur sambil bersenandung semangat karena proses pembuatan kuenya lumayan lancar karena di bantu oleh Kazuya yang pada dasarnya handal dalam hal masak memasak. Setelah Eijun rasa dapur sudah bersih, ia menitipkan kue pada Kazuya sementara dirinya ingin mandi.
Bunyi ting membuat perhatian Kazuya sepenuhnya pada dapur. Dengan segera ia pergi ke dapur dan membuka oven setelah memakai sarung tangannya. Beruntung meja yang dipakai untuk oven lumayan rendah, jadi masih bisa dijangkau oleh Kazuya meski memakai kursi roda.
Eijun datang tidak lama kemudian. Ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya, sepanjang mengoleskan krim—yang dibantu oleh Kazuya—tidak ada henti-hentinya dia berdecak kagum, bahkan dia ingin membuat jenis kue yang lain.
"Besok jadwal check-up nya ya?" tanya Eijun diangguki Kazuya. "Aduh, bentrok dengan jadwal kelasku…" Eijun bergumam panik setelah menaburi keju diatas kue itu.
"Jangan khawatir." Kazuya berucap, ia menaruh gelas berisi kopinya ke atas meja. "Mochi bilang akan mengantarku. Jadi, kau bisa mengikuti kelas dengan tenang."
Eijun tersenyum lebar. Ia menatap kue yang baru saja selesai di hias di depannya. "Wah, kalau begitu sekalian saja aku kasih pada Kuramochi-san ya! Sekalian minta saran dan kritik padanya tentang kue buatanku!"
Kazuya menahan tawa. Tampak setuju dengan Eijun. "Boleh saja. Sekalian pada dua temanmu. Mereka kan suka sekali kue?"
"Benar! Aku sekalian beri Haruno dan Wakana!"
…
"Dia yang membuatnya? Serius?" Yoichi memerhatikan kue yang berada di dalam wadah bening, wadah itu ia putar di udara, menelisik kue dari luar. Agak tidak percaya ketika Kazuya memberikan paper bag berisi wadah kue, ketika ia bertanya, Kazuya menjawab bahwa ini kue buatan Eijun.
Kazuya yang baru menyamankan duduknya itu langsung berdecak pelan. "Jangan meremehkan Eijun." kata Kazuya kesal. Tatapannya sinis ia layangkan untuk Yoichi.
Yoichi hanya mendengkus. Ia menaruh kue itu di dasbor mobil. "Sampaikan padanya aku berterima kasih." kata Yoichi dengan tulus. Setelah itu ia mulai menyalakan mobil dan menyusuri jalanan. "Perkembangan Sawamura di dapur semakin meningkat saja, ya?"
"Begitulah," diam-diam Kazuya tersenyum mengingat perkembangan Eijun yang cukup pesat. Karena Eijun yang membulatkan tekadnya untuk berani menghadapi kompor dan segala macam alat-alat dapur, kekasihnya sudah sampai ke titik di mana ia bisa melakukan apa saja di dapur. "Bagaimana dengan tim?" tanya Kazuya tiba-tiba.
Yoichi diam sejenak dan tidak langsung menjawab. Ia mencengkram stir mobilnya. Tidak menyangka kalau Kazuya akan bertanya tentang timnya. "Kenapa?" Yoichi bertanya balik pada Kazuya. Suaranya rendah dan sedikit hati-hati.
"Apanya?" Kazuya malah bertanya balik lagi. Perhatiannya tertuju pada jalanan di luarnya lewat jendela di sampingnya. "Aku hanya penasaran kabar mereka saja."
Yoichi membuang nafas pelan. Mobilnya berhenti ketika lampu merah yang mereka lewati untuk pertama kalinya menyala. Matanya lurus ke depan, memerhatikan orang-orang berjalan di zebra cross, lampu lalu lintas, serta beberapa kendaraan lainnya. Rasanya, semuanya berjalan begitu lambat. "Mereka menunggumu, Miyuki." Yoichi membalas pada akhirnya.
…
"Kau yakin dengan keputusanmu, Miyuki?"
Kazuya mengadah. Ia diam sejenak. Seluruh ingatan tentang ia masuk ke klub bisbol di sekolah menengah, kemudian perkuliahan dengan klub bisbol lagi, saat lulus kemudian direkrut oleh tim pro. Perjalanan hidup yang penuh kejutan. Begitu pula tentang kecelakaannya. Sangat mengejutkan.
Akhirnya Kazuya mencoba memandang manager serta pelatih yang duduk di sebrangnya. Di tengah ia dan dua orang itu ada sebuah meja dengan selembar kertas kontrak dan pulpen. Ia memandangnya sejenak. "Iya, Saya yakin." sudah tidak ada yang bisa dipertahankan. Meski kakinya akan sembuh, namun kesembuhan itu tidak akan sempurna. Pastinya ia tidak bisa lari seperti dulu lagi.
"Kau bisa berpikir ulang, Miyuki." ucap pelatihnya, masih tidak rela anak emasnya mengundurkan diri dari timnya. Meski ia tahu bahwa mempertahankan Kazuya di tim adalah ide yang kurang bagus.
Kazuya terkekeh pelan menutupi ringisan. "Haha, Saya yakin. Mungkin … Saya bisa mencoba jadi guru bisbol saja? Entahlah, tapi yang jelas, Saya memutuskan untuk berhenti." diiringi dengan senyuman, Kazuya membungkukkan badannya. "Terima kasih atas semuanya."[]
