Satu tahun kemudian
Suara bel berdenting membuat Eijun yang sedang menata kue ke dalam etalase kecil diatas meja itu langsung meluruskan punggungnya, sedikit mengadah untuk melihat siapa yang baru saja datang ke café Metanoia miliknya dan Kazuya.
"Yo, Sawamura!"
Bibir Eijun melengkung lebar. Ia tersenyum melihat siapa yang datang, serombongan mantan tim rekan Kazuya datang memenuhi isi café yang lumayan luas ini. Ia membungkuk kecil pada mereka. "Selamat datang!" sapanya yang dijawab oleh balasan berbeda tiap orangnya.
Yoichi—si ketua dari rombongan—langsung mendekat ke meja kasir sementara teman-teman tim yang lainnya duduk di kursi kosong. Kebetulan hari ini, Yoichi sudah membooking café hanya untuk mereka saja. "Mana Miyuki?" tanya Yoichi langsung.
"Ada di dapur, Kuramochi-san, sedang memanggang kue."
Ketika Eijun hendak berbalik, memanggil sang kekasih, tiba-tiba saja Kazuya datang dengan ekspresi sumringah. "Wah, Mochi!" serunya mendekat dengan kruk sikut di tangan kirinya yang membantu Kazuya untuk berjalan.
"Yo, Miyuki! Senang melihatmu masih sehat!"
"Apa-apaan kau ini!" Kazuya keluar dari wilayah kasir lalu mendekati Yoichi, tos ala cowok, kemudian ia kembali melakukannya juga pada semua teman-temannya.
Sementara Eijun mulai menyiapkan minuman, ia sudah tahu pesanan apa yang diinginkan mereka sebab Yoichi sudah menghubunginya kemarin soal menu yang akan dipesan. Hari ini teman-teman Kazuya datang lumayan banyak, sekitar dua puluh orang termasuk Yoichi. Sehingga Eijun sedikit kewalahan menyiapkan minuman.
"Sini, biar aku bantu." Kazuya datang membantu Eijun. Ia menyiapkan beberapa gelas kopi dengan lincah dan tidak kesulitan sama sekali, padahal Kazuya hanya mengandalkan satu tangannya tapi ia bisa melakukannya dengan baik.
Eijun mengulum senyum sambil membawa beberapa minuman ke meja teman-teman Yoichi dan menyuruh mereka untuk mengambil minuman apa yang mereka mau.
Bisnis café baru dijalankan sekitar enam bulan yang lalu, tepatnya ketika perkembangan Kazuya sudah naik, guna mencari cara untuk bertahan hidup, keduanya mendirikan café Metanoia. Sebab mengandalkan uang Kazuya saja tidak akan membuat mereka hidup untuk jangka waktu yang lama. Setidaknya, setengah uang tabungan Kazuya bisa mendirikan café ini.
Kazuya mulai bisa berjalan dengan kruk sikut tidak lama setelah café ini berdiri. Ia banyak membantu di bagian dapur, kadang mereka akan bergantian. Ada seorang anak sekolahan yang ikut bekerja juga. Namun hari ini ia sedang libur karena tanggal merah. Sementara Eijun masih kuliah sambil bekerja di café, memang melelahkan, tapi lelahnya sirna ketika melihat Kazuya yang kembali beraktivitas.
"Kazuya," Eijun datang ke dapur, Kazuya sedang mengeluarkan kue dari oven.
"Kenapa?" Kazuya sedikit menoleh. Ia menaruh kue itu ke atas meja besi dan membiarkan kue itu sedikit mendingin. Sambil menunggu, Kazuya berbalik dan melihat Eijun yang mendekat lalu memperbaiki dasi pitanya yang sedikit miring sambil tersenyum. Melihat Eijun yang hanya diam sambil memerhatikannya membuat Kazuya geli sendiri, ia menangkup sebelah pipi Eijun lalu mengelusnya. "Ada apa, Sayang?"
Eijun menggeleng, ia tersenyum kecil lalu memeluk Kazuya. "Aku hanya … tiba-tiba merasa bersyukur lagi."
Sebelah tangan Kazuya memeluk Eijun sambil sesekali mengelus punggung gadis itu dengan pelan. "Tiba-tiba?"
Eijun mengangguk. "Iya. Aku bersyukur bahwa kau ada disini masih bersamaku."
"Aku juga bersyukur," Kazuya sedikit melonggarkan pelukannya. Ia menggesekkan hidungnya dengan hidung Eijun. "Aku bersyukur bahwa kita berdua bisa melewati semuanya bersama-sama … aku menjadi kuat karenamu, Eijun."
Eijun berjinjit, mengecup bibir Kazuya sekilas. "Aku kuat karenamu juga, Kazuya. Alasan aku kuat adalah untuk dirimu." setelah itu ia tersenyum sambil memeluk Kazuya singkat. Ia membawa satu loyang berisi kue yang sudah tidak panas. "Kazuya, aku bawa ini ke depan, ya."
Kazuya yang kaget karena Eijun mengecupnya tiba-tiba itu masih membeku di tempatnya, bahkan ketika Eijun sudah pergi dari dapur. Beberapa detik kemudian ia tersenyum lalu terkekeh pelan, pipinya memerah. Meski sudah tinggal bersama bertahun-tahun membuat ia selalu terkejut ketika Eijun memberikan afeksi padanya.
Kazuya keluar dari dapur setelah memastikan tidak ada kompor yang menyala karena ia sudah selesai membakar kuenya. Ia membawa satu loyang yang baru saja ia angkat tadi ke dekat meja kasir dan menyimpannya di sana. Ia melihat Eijun sedang bercanda dengan juniornya semasa di tim—Furuya Satoru dan Kominato Haruichi—Eijun kenal mereka berdua karena mereka seumuran dengannya, kemudian pertemanan mereka menjadi lebih erat karena mereka sama-sama memiliki selera musik yang sama. Kazuya tidak masalah, selama Satoru dan Haruichi sadar diri saja bahwa Eijun sudah punya kekasih—ralat, tunangan.
Yoichi memandang Kazuya dari tempat duduknya, ia mengangguk pada Kazuya, memberikan sahabatnya sebuah semangat.
Lantas Kazuya langsung berjalan mendekat ke arah Eijun. "Eijun," panggilnya membuat atensi Eijun beralih pada Kazuya. Seluruh orang yang ada disana juga begitu, café tiba-tiba hening karena Kazuya tampak berjalan dengan serius.
Eijun yang sedang berdiri itu sedikit mendekat. "Iya? Ada apa, Kazuya?" tanya Eijun, takut bahwa Kazuya membutuhkan bantuannya. Tiba-tiba ia menjadi sedikit canggung ketika seisi café diselimuti keheningan.
Kazuya hanya diam, tidak bersuara, sampai akhirnya Kazuya sedikit membungkuk lalu menopang kakinya yang ditekuk diatas lantai. Hal ini membuat Eijun khawatir dan kebingungan. Bahkan gadis itu hendak membantu Kazuya, namun Kazuya menepisnya dengan halus sambil bicara bahwa ia tidak apa-apa. Kakinya tidak sakit, mungkin akan keram, tapi untuk yang satu ini, Kazuya harus bisa gentle.
Posisi bak ingin melamar pun dapat Eijun tebak. Gadis itu tidak dapat berpikir jernih ketika Kazuya mengambil sebelah tangannya sambil menggenggamnya hangat.
"Sawamura Eijun," Kazuya diam sejenak guna menetralkan degup jantungnya yang tiba-tiba bertambah lima kali lipat. Ia malu, tapi ia juga ingin melakukannya. "Aku mungkin bukan orang yang sempurna. Aku adalah pria yang penuh kekurangan. Tapi, biarkanlah aku mencoba untuk menjadi sempurna di matamu. Eijun, aku ingin menikahimu, menjadikanmu teman hidupku sampai ajal memisahkan kita. Aku ingin kita menikmati hari tua bersama-sama sampai senja menghilang digantikan malam, kemudian bersama seterusnya. Jadi, maukah kau menikah denganku?"
Hening.
Eijun bisa mendengar dadanya berdebar berisik di telinganya. Terlebih ketika tahu seisi café kini memandangnya penuh dengan rasa penasaran.
Tatapan Kazuya padanya tidak tergoyahkan. Tatapannya penuh rasa candu yang membuat Eijun tidak bisa mengalihkannya. Afeksi yang diberikan Kazuya juga membuatnya nyaman. Kazuya adalah pria yang sempurna dengan segala kekurangannya. Tinggal bertahun-tahun dengan Kazuya membuat Eijun yakin pada pria itu. Eijun tahu luar dalam Kazuya, ia juga tahu masa lalu Kazuya. Ia tahu semuanya tentang Kazuya. Maka dari itu, jawabannya sudah jelas bukan?
Eijun mengangguk membuat semua orang bersorak sorai, pun dengan Kazuya yang langsung berdiri memeluk Eijun, membiarkan kruknya terjatuh begitu saja. Eijun sedikit membantu Kazuya untuk berdiri sendiri, ia memeluk balik Kazuya. Dapat ia rasakan bahwa Kazuya menangis haru, lirihannya penuh rasa lega yang tidak pernah Eijun dengar sebelumnya. Eijun juga sama. Ia menghirup dalam-dalam aroma Kazuya yang membuatnya candu.
"Terima kasih, Eijun…."
Eijun mengangguk. "Kazuya…" ia melirih. "Aku mencintaimu!"
"Sangat! Aku juga sangat-sangat-sangat mencintaimu!"
Yoichi tertawa di tempatnya, ia bertepuk tangan sambil memandang dua insan yang sedang berpelukan itu. Sudah berbulan-bulan yang lalu Kazuya selalu cerita padanya bahwa ia ingin melamar Eijun untuk menikahi gadis itu. Memang bahwa Kazuya pernah melamar Eijun, namun itu hanya Kazuya ingin mengikat Eijun saja. Dan saat ini adalah lamaran yang sebenarnya. Yoichi tersenyum dan ikut bahagia. Kazuya berubah sepenuhnya karena Eijun, dan Eijun berubah sepenuhnya karena Kazuya—menjadi pribadi yang lebih baik—mereka berdua seolah adalah jodoh yang sudah direstui oleh semesta.[]
END
