Disclaimer : Morisaki Yuki, Tsukuda Yuuto, Saeki Shun
"Oi, Nakiri."
Tidak mungkin Erina mendengar suara Souma di lobi hotel di Bali. Pemuda itu seharusnya berada di Prancis sekarang, memasak untuk koki galak berambut pink. Tapi saat dia berbalik, mata ungunya menangkap sosok berambut merah yang sangat ia kenali .
"Tidak kusangka kita bertemu di sini. Ah, ada kau juga, Hishoko."
"Yukihira-kun?" Erina mencelos.
"Apa yang sedang kau lakukan di sini, Yukihira-kun?"
"Aku akan mengikuti perlombaan memasak di sini tiga hari lagi. Kupikir aku akan jalan-jalan dulu sebelum perlombaan dimulai. Bagaimana dengan kalian?"
"Ah, Erina-sama akan menjadi tamu di acara itu."
"Oh, apakah kau akan menjadi juri, Na.."
"Tidak! Dan aku bersyukur tidak perlu mencoba masakanmu itu." Potong Erina cepat sebelum Souma menyelesaikan perkataannya. "Ayo Hisako, kita harus menyapa penyelenggaraan venue." Erina berjalan begitu saja, tidak memperdulikan Souma yang hanya menatapnya konyol.
"Ah, kami menginap di hotel ini, Yukihira. Kami agak sibuk, jadi aku akan memastikan Erina mengabarimu jika ada waktu. Dah."
"Ou." Souma hanya memperhatikan Erina dan Hisako berjalan menjauh sampai keduanya keluar dari gedung hotel.
.
.
Souma menghabisikan sisa waktunya dengan berjalan-jalan mengunjungi tempat wisata dan mencoba semua jenis masakan daerah yang bisa ia temui. Ia bahkan sudah menyewa meja di restoran mewah yang menawarkan hidangan khas Bali dengan kualitas bintang 3.
Souma baru keluar dari kamar mandi saat ponselnya berbunyi nyaring. Nama Nakiri Erina tertera di layar ponselnya beserta wajah tersenyum Erina yang diam-diam Souma ambil saat perayaan Resigment de Cuisine.
"Moshi-moshi, dengan kursi pertama elit 10."
"Kalau begitu ini pasti nomer Kojiro Shinomiya Kojiro-senpai."
"Ahaha, kau kadang benar-benar lucu, Erina."
"Hisako memaksaku untuk menghubungimu. Kalau begitu sudah ya, aku sibuk."
"Hei, Erina." Souma memanggil, sedikit geli dengan tingkah teman seangkatannya itu.
"Apa?"
"Apakah kau sudah makan malam?"
.
.
"Aku tidak menyangka kau akan makan di restoran mewah seperti ini."
"Aku ingin mencoba masakan asli Bali dari berbagai teritori."
Erina memandang Souma penuh makna. Souma seperti biasa, hanya tersenyum lebar yang selalu berhasil membuat Erina kesal.
"Sayang sekali Hishoko tidak bisa ikut."
"Dia ada meeting online dengan petinggi farmasi. Padahal sudah kubilang aku bisa pergi sendiri." Keluh Erina, walau Souma yakin gadis itu senang Hisako selalu ikut dengannya.
"Sayangnya aku tidak bisa mengudur reservasiku." Hisako mengatakan bahwa ia tidak apa-apa dan memaksa Erina untuk tetap pergi, tapi sepertinya keduanya sedikit terganggu karena meninggalkan Hisako.
"Jadi kau mau pesan apa?" Tanya Souma, berusaha mengalihkan pembicaraan. "Oh, mereka menjual sate penyu. Rindo-senpai pasti akan sangat menyukainya."
"Ah, aku akan memesan ayam betutu." Jawab Erina.
"Aku akan memesan beberapa menu. Jadi kita bisa mencoba semuanya." Kata Souma bersemangat. Pemuda itu lalu memesan beberapa menu sekaligus, dan meminta untuk tidak terlalu pedas karena lidah Erina yang sensitif.
Setelah itu mereka berbincang-bincang sampai makanan yang mereka pesan datang. Mereka juga bercakap-cakap sampai setelah mereka selesai makan. Setelahnya mereka pulang dengan perut kenyang. Karena jarak restoran dan hotel yang sangat dekat, mereka memilih untuk berjalan kaki, menikmati udara malam yang sejuk.
"Oh, kau sebaiknya kembali saat kelas terakhir kita. Akan ada kelas umum dari Doujima-san di hari itu." Erina mengingatkan Souma. Lebih tepatnya mengancam karena tatapan yang gadis itu lancarkan pada pemuda merah.
"Kita lihat nanti." Balas Souma santai.
"Aku akan memastikan kamu hadir."
"Well, kita lihat nanti." Balas Souma lagi, kali ini dengan nada menggoda.
"Ngomong-ngomong, apa rencanamu besok, Erina?" Entah sejak kapan Souma memanggil Erina dengan nama kecilnya saat mereka hanya berdua seperti sekarang.
"Entahlah, memangnya kenapa Souma-kun?" Dan sejak kapan Erina juga memanggilnya dengan nama kecilnya.
"Aku ingin menunjukkan menu yang kusiapkan untuk perlombaan besok. Itu kalau kau tidak sibuk."
"Sayangnya aku sibuk. Dan lagi pula berhenti membuatku sebagai kelinci percobaan."
"Aku hanya ingin menunjukkan masakanku padamu, terlepas dari lidah dewamu itu, nona Nakiri." Souma berhenti, menahan tangan Erina. Mereka sudah sampai di depan gedung hotel yang mereka singgahi.
"Hemp! Kalau begitu sajikan hanya makanan nomer satu padaku."
Souma tersenyum. Itu adalah cara unik Erina untuk menyemangatinya, mendukungnya menjadi pemenang. Entah bagaimana cara itu lebih efektif dari cara manapun.
"Baiklah, Erina hime-sama."
.
.
Seperti dugaan Erina, Souma memang di perlombaan memasak terbesar di Asia tenggara itu. Tahun lalu Souma hanya menjadi Runner Up saat acaranya diadakan di Thailand. Saat itu Erina datang sebagai juri babak penyisihan. Erina bersyukur ia tidak perlu menghibur Souma seperti yang dia lakukan setiap kali pemuda gila itu kalah.
Erina dan Souma menghadiri pesta penutupan bersama-sama. Hisako sudah pulang terlebih dahulu, setelah memastikan semua barang Erina sudah terpack rapi untuk ia bawa besok siang dengan penerbangan langsung ke Tokyo. Mereka berdua datang bersamaan, yang disambut meriah oleh orang-orang. Tentu saja bintang utama malam itu ada Souma yang berhasil menang.
Tidak henti-hentinya orang-orang menghentikan mereka untuk mengucapkan selamat, sekaligus mengajak Erina berbincang-bincang. Kapan lagi mereka mendapatkan kesempatan untuk bertemu orang nomer satu di Totsuki dan murid terbaik sekolah elit itu disaat yang bersamaan.
"Woah, acara hari ini benar-benar sesuatu."
"Kupikir seperti acara yang sebelum-sebelumya." Erina menggoyangkan jus jeruk di gelas tinggi yang ia pegang. Akhirnya dia dan Souma bisa lepas dari gerombolan manusia dan sedang bersantai di salah satu beranda di ujung ruangan.
"Aku jarang datang ke after party seperti ini."
"Benar." Tidak perduli apakah dirinya menang atau tidak, Souma biasanya langsung pergi ke tempat baru begitu tropi sudah ada di tangannya. Ia tidak perduli pada acara-acara seperti ini, baginya membangun relasi ditunjukkan melalui masakannya. Cukup dengan masakan yang ia buat dan pengakuan orang-orang atas masukannya itu. Tidak perlu hal repot seperti beramah tamah seperti ini.
"Tapi kau datang saat kakek mengundangmu ke pesta?" Tanya Erina, benar-benar penasaran.
Sedikit Erina tahu bahwa Souma datang ke acara itu hanya karena Kakek Erina mengecam Souma. "Kupikir tidak buruk sekali-kali berpakaian rapi dan menyapa orang kaya seperti ini." Kata Souma, entah dia serius atau sedang mengejek Erina tidak tahu.
"Oh, ngomong-ngomong kau pulang besok juga kan? Hisako sudah memesankan tiket untuk kita berdua. Jika kamu tidak mau langsung kembali ke Tokyo aku akan membatalkannya nanti."
"Ah, aku akan pulang. Aku harus menaruh piala ini di rumah. Lagi pula Shinomiya-senpai mungkin membutuhkanku di Jepang. Dari tiga bulan lalu dia cerewet memintaku bekerja di dapurnya lagi."
"Kukira kau bekerja di Prancis selama ini?" Erina memang mengetahui kabar Souma dari waktu ke waktu. Tapi biasanya pemuda itu hanya menyebutkan sedang bekerja di dapur entah dimana. Souma lebih sering membicarakan menu yang dia buat ketimbang keadaannya.
"Ah, aku kadang memang mengunjungi Shino's jika sedang di Eropa. Tapi akhir-akhir ini aku lebih sering berada di Amerika."
"Benar. Terakhir kali kau mengirimkan kaos mengerikan itu dan kartu pos bergambar hotdog." Kaus yang Erina maksud adalah kaos dengan gambar I3NY yang legendaris itu. Souma mengirimkan kaos itu pada semua orang. Dia mengirimkan milik Erina, Hisako, Alice, Kurokiba, dan Hayama padanya beserta kartu pos. Kartu post itu berisi omongan tidak penting Souma. Ngomong-ngomong Erina masih menyimpan kedua benda itu di laci bagian dalamnya.
"Isshiki-senpai sangat menyukainya. Aku sering melihatnya menggunakan kaos itu."
Sepertinya hanya Isshiki yang memiliki selera mengerikan seperti itu, pikir Erina. Tapi sebenarnya Erina menyadari bawah banyak orang yang mengenakan kaos itu. Kurokiba misalnya, yang menggunakan kaos itu sebagai pakaian gymnya. Akhirnya Alice memaksa mereka semua memakainya saat berolahraga bersama, bahkan Akira Hayama juga ikut menggunakannya.
"Oh, aku juga menerima foto Alice saat kalian menggunakannya bersama-sama. Kau tampak lucu sekali."
Terkutuklah Alice dan kelakuannya itu. "Sebaiknya kau sudah menghapus foto itu, Souma-kun." Ada nada mengancam dalam kalimat Erina.
"Entahlah, Erina." Souma menyeringai lebar.
"Hemp! Baiklah, aku sendiri yang akan menghapusnya."
"Oh, kau harusnya tidak memberitahuku. Aku akan mencadangkannya di cloud-ku."
Erina menatap Souma tidak percaya, seolah pemuda itu adalah lelucon. "Apa kau bodoh? Untuk apa melakukan hal konyol seperti itu?"
"I just want to make sure, you know?" Goda Souma.
"You better delete that photo before I done something more than that, you know."
"Try me." Souma menyesap sisa terakhir jus mangga yang ada di gelasnya. Sebelum berlalu menghampiri orang yang sedari tadi menatapnya dan Erina, terlalu takut untuk mendekat.
.
Mereka landing di Jepang tepat pukul lima sore. Matahari sudah terbenam saat mereka keluar dari bandara, menghampiri mobil pribadi keluarga Nakiri yang menjemput mereka.
"Apakah kau ingin diantar ke rumahmu atau asrama, Souma-kun?" Tanya Erina, sibuk mencari ponselnya dari dalam tas.
"Hemm, rumah."
Erina berhasil menemukan ponselnya, menyalakan benda kotak itu sebelum berbicara pada supirnya. "Tolong antar ke distrik Sumiredori sebelum kembali ke Totsuki."
"Baik, Erina-sama."
Mobil itu melaju dengan kecepatan normal menuju distrik tempat kedai Yukihira berada. Setelah kakek Souma pensiun, ayah Souma sibuk memasak di luar negeri, hanya Souma yang sesekali membuka kedai. Erina bahkan membantu Souma saat musim panas kemarin. Karena Megumi harus pulang jadi ia menawarkan diri untuk membantu Souma. Saat itulah mereka mungkin mulai memanggil nama satu sama lain. Walau sebelumnya Souma sering memanggilnya Erina untuk menggodanya.
Souma tampak lelah di kursi joknya. Walau begitu ia masih saja memainkan tangan Erina yang ada di pangkuannya.
"Hei."
"Hm?" Balas Erina. Ia juga sangat lelah. Karena Souma yang terlambat bangun, mereka terburu-buru saat cek in pesawat tadi. Ditambah lagi Souma belum mengepak barangnya. Erina harus bekerja double membereskan barangnya dan membantu Souma.
"Bagaimana kalau istirahat di tempatku saja? Ayahku baru pulang dua hari yang lalu jadi rumahnya masih sangat bersih." Kata Souma, berusaha meyakinkan Erina untuk tinggal.
"Entahlah," Erina melirik Souma, pemuda itu terlihat kecewa. "Kalau kau bisa mengantarku pagi-pagi sekali ke akademi besoknya."
Souma tiba-tiba terduduk tegak. Ia meremas lembut tangan Erina yang ada digenggamnya. "Tentu saja."
Erina tertawa kecil. Ia mengelus rambut merah Souma dengan tangannya yang bebas. "Baiklah kalau begitu."
Souma ikut tersenyum melihat senyum lebar Erina.
