Disclaimer : Morisaki Yuki, Tsukuda Yuuto, Saeki Shun


Hari itu adalah hari Kamis, tepat setelah jam ketiga berakhir, masa-masa di mana jam makan siang dimulai. Megumi seperti biasa menggunakan ruang pribadi elite 10 untuk menikmati makan siangnya bersama teman-temannya terutama yang sedang berada di akademi.

Karena mereka sudah kelas tiga dan hampir lulus, tidak banyak teman-temanya yang masih datang ke sekolah. Semuanya sibuk memulai karier mereka lebih awal. Lagi pula mereka kan generasi emas yang berisi siswa-siswi berbakat, tidak heran karier mereka melejit lebih cepat dan pesat daripada siapa pun.

Megumi sendiri menerima banyak tawaran di sana sini untuk magang, salah satunya dari Inui Hinako, mantan kursi ke dua elite 10. Megumi sempat magang di sana selama musim panas tahun ini, tapi ia memutuskan untuk menghabiskan sisa waktu yang dimilikinya bersama teman-temannya. Jika ia juga ikut sibuk, waktu yang ia habiskan bersama mereka akan semakin sedikit.

Siang ini, tidak banyak yang ada di akademi. Hanya ada dirinya, Hayama yang sibuk dengan jurnal tentang rempah-rempah, Erina yang memang selalu menyempatkan datang ke sekolah, dan sangat tidak terduga Yukihira Souma. Megumi terkejut pagi tadi saat mendapati Souma ikut sarapan di asrama Bintang Polar. Souma bilang, dia baru tiba tadi malam dari penerbangan Singapore-Jepang.

Megumi sendiri tidak mendengar kepulangan Souma walau kamar mereka bersebelahan. Entah dirinya yang terlalu lelap tertidur atau Souma yang semakin ahli mengendap-endap karena setiap dia pulang semua orang selalu terkejut dibuatnya.

"Kapan kau datang kemarin malam, Souma-kun? Aku benar-benar tidak mendengarmu masuk ke kamar." Megumi membuka percakapan. Hayama dan Erina tidak menoleh, namun Megumi tahu mereka mendengarkan. Erina bahkan memberikan respons dengan mengubah posisi duduknya.

Souma mengendikan bahu. "Aku tidak benar-benar kembali ke asrama sampai jam 5 tadi."

"Ah, pantas aku tidak mendengarmu pulang semalam."

"Yeah, Isshiki-senpai yang membukakan pintu untukku tadi pagi. Dia baru akan pergi ke pekarangan untuk bekerja. Sepertinya kau tidur nyenyak sekali."

Biasanya, Megumi akan datang dan menengok Souma begitu pemuda itu pulang. Tetapi tadi pagi saat dia masuk ke dalam kamar, tidak ada respons dari Megumi dari kamar sebelah.

"Ah, aku baru tertidur pukul 1 malam. Inui-senpai memintaku membuat menu seafood baru untuknya. Jadi aku memang izin pada Isshiki-senpai."

"Ah, pantas saja. Kalau kau butuh masukan jangan ragu untuk meminta pendapatku. Atau mungkin Nakiri. Kita harus memanfaatkan lidah dewanya selama ada kesempatan." Ujar Souma diiringi cengirannya yang menyebalkan. Paling tidak menurut Erina yang disebut-sebut seenaknya.

"Aku tidak keberatan untuk membantumu, Tadakoro-san. Tapi berhentilah menyarankan lidahku seperti itu milikmu, Yukihira-kun."

"Ayolah, aku hanya memudahkan orang yang segan meminta bantuanmu, Nakiri-hime." Ejek Souma.

Erina mengernyitkan dahinya. "Tidak masuk akal." Gumam Erina, kembali fokus pada berkasnya.

Souma yang semula duduk di meja bundar bersama Megumi dan Hayama, pindah ke kursi di meja khusus yang aja di ujung ruangan. Biasanya Hisako duduk di situ dan membuat notulen rapat, tapi lebih sering Erina yang menggunakannya saat mereka semua hangout seperti sekarang. Bagaimanapun, berkas dan pekerjaan yang Erina bawa selalu menggunung untuk diletakkan sembarangan.

"Kau bahkan menolak masakanku bulan kemarin saat aku harus mengikuti lomba di Bali kemarin." Cetus Souma, terlihat sedikit kesal.

"Aku pikir kau lebih dari level itu, Yukihira-kun. Apakah kau perlu kemampuanku untuk bisa menang?" Dengusan kecil lolos dari Erina, masih sibuk dengan dokumennya.

"Aku bahkan menawarkan masakan yang berhasil memenangkan perlombaan masak terbesar di Asia Tenggara itu padamu." Jelas tujuan Souma hanyalah memberi Erina makan masakannya. Uji mencicip hanyalah akal-akalannya saja.

"Pfftt, hanya karena masakanmu diakui oleh semua orang, bukan berarti itu sempurna. Aku hanya akan mengakui masakanmu itu jika itu mendekati kesempurnaan masakan gourmet sejati." Ungkap Erina, kali ini melirik Souma yang tampak kesal dengan pipi mengembung.

Setelah itu pembicaraan kembali diisi oleh Souma dan Megumi. Terkadang Hayama menimpali jika mereka membahas masakan atau Totsuki. Karena anak kelas tiga sudah bebas, sebenernya mereka tidak punya banyak kelas, jadi Megumi, Hayama, Erina, dan Souma hanya menghabiskan waktu mereka saja, sambil memanfaatkan fasilitas yang ada.

Dua bulan lagi, pengurus Elite 10 akan berganti dengan anak-anak baru yang sudah diseleksi ketat oleh mereka. Terutama Erina yang tidak ingin pengurus baru merusak citra generasi mereka yang memang sangat cemerlang. Tidak boleh ada noda di bawah kekuasaannya sebagai kepala sekolah. Souma bahkan mengetes calon-calon itu sendiri. Megumi bahkan heran karena tidak biasanya Souma peduli pada hal semacam itu.

"Tidak kusangka kita akan lulus kurang dari enam bulan lagi."

"Benar." Hayama menjawab. Matanya terlihat menerawang.

"Sebaiknya kau mulai membuat ucapan perpisahan dari sekarang, Yukihira-kun. Jadi aku bisa mengoreksinya lebih awal. Akan menjadi bencana kalau kau membuat ucapan aneh seperti saat upacara penerimaan dulu." Ada nada geli dalam keluhan itu.

Megumi dan Hayama ikut tertawa. Souma hanya mencengir lebar.

"Baiklah, Erina."

...

...

...

Baik Megumi maupun Hayama tidak ada yang memberi respons. Mereka tidak terkejut ataupun merasa aneh. Tentu saja apa yang baru saja terjadi sangatlah aneh. Yukihira Souma menyebut nama panggilan Erina dengan mudah, dan Erina juga menerima panggilan itu dan tidak kesal seperti yang biasa dilakukannya.

Melihat reaksi keduanya, Megumi menduga, Souma sering menyebut nama Erina saat mereka hanya berdua, mungkin Erina juga begitu. Dilihat dari seberapa mulus nama itu keluar dari bibir Souma dan ekspresi rileks dari Erina sudah membuktikan spekulasi Megumi.

Blunette itu tersenyum kecil. Kembali menyaksikan interaksi Souma dan Erina yang sekarang meributkan soal Souma yang harus membuat surat upacara perpisahan dan Erina yang tidak akan membiarkan Souma berdiri di podium jika tidak membuatnya.

Keseharian seperti ini, lepas dari Shokugeki yang mendebarkan, persaingan ketat di Totsuki, atau bahkan Regiment de Cuisine yang mempersatukan Souma dan Erina, akan sangat Megumi rindukan.

Megumi dan Hayama bertukar tatapan, keduanya hanya mengangguk mengerti dan kembali pada kesibukan mereka. Kali ini Megumi mengikutkan dirinya serta dalam perbincangan Souma dan Erina, yang diterima Erina sebagai dukungan untuk memaksa Souma bekerja mempersiapkan ucapan perpisahan.

Hari itu lagi-lagi dilalui Megumi dalam ketenangan bersama teman-teman yang sangat ia sayangi. Sungguh, ia akan sangat merindukan suasana ini. Sesuatu yang tidak Megumi kira akan dirasakannya sebelum bertemu Souma.

Soumalah yang membuat Megumi kembali menikmati keasikan memasak yang sejak dulu disukainya. Andaikan Souma tidak hadir ke hidupannya, Megumi pasti sudah keluar dari Totsuki dan membenci memasak. Dan mungkin itu juga yang dirasakan Erina.

Megumi tersenyum.

"Bukankah begitu, Tadakoro-san?" Pertanyaan Erina menyadarkan Megumi.

"Eh?"

"Dia pasti akan membuat statement bodoh seperti dulu lagi. Pokoknya kita harus menghentikan hal itu. Aku ingin lulus dengan iringan ucapan yang mengharukan, bukan tantangan dari koki kedai makan tidak bernama sepertimu."

"Enak saja! Ucapanku itu bisa membuat semua orang bersemangat dan saling bersaing untuk mencapai puncak! Semua orang itu harus berambisi tidak sepertimu yang tenang-tenang saja hanya karena memiliki lidah dewa."

"Ano..."

"Apa?! Kau pikir kau sudah bisa mengalahkan ku? Masakanmu masih menjijikan seperti saat pertama kali aku mencobanya!"

"Ano..."

"Apa? Aku yakin 10000% kau sebenarnya menyukai masakanku! Jujur saja Nakiri."

"ANO!" Megumi berseru. Erina dan Souma yang semula saling menunjuk satu sama lain, menoleh menatap Megumi yang wajahnya memerah, sepertinya karena berteriak barusan, sesuatu yang memang jarang dilakukannya.

"Kalian harus berhenti melibatkan Tadakoro di pertengkaran suami-istri kalian." Hayama menyeletuk, setelah dari tadi diam mendengarkan ocehan Souma dan Erina.

"Kami bukan suami istri!" Pekik Erina. Sementara Souma hanya memberikan tatapan yang berarti ' . . . .'

"Ummm, kupikir Souma-kun bisa membuat ucapan perpisahan sesuai yang dia mau, tapi Erina-san bisa menyesuaikan sejauh mana yang bisa Souma-kun sampaikan."

"Oh, Ide bagus Tadakoro." Souma memberikan tatapan pada Erina, yang hanya dibalas dengan helaan nafas.

"Baiklah, baiklah." Erina mencubit lengan atas Souma main-main, lalu kembali pada pekerjaannya.

Souma yang diabaikan sekali lagi oleh kepala sekolahnya itu, mendekati meja Erina. Dia menumpukan wajahnya di kedua tangannya yang ia tekuk di atas meja.

"Kau sibuk sekali dari kemarin." Kata Souma.

"Kemarin?" Tanya Hayama. Salah satu alisnya terangkat naik, tertarik pada perkataan Souma.

"Well, kemarin aku memintanya menjemputku di bandara. Dia bilang dia sibuk." Kata Souma membela diri, entah dari apa.

Erina dengan kesal menatap Souma, seolah pemuda itu baru saja membocorkan rahasia besarnya. "Kau pikir aku membuka jasa transportasi?"

"Kalau begitu Souma-kun kembali ke Totsuki dengan taksi?" Tanya Megumi, berbeda dengan Hayama, gadis itu terlihat perduli.

Souma memberikan ekspresi sulit, Erina hanya mengalihkan pandangannya, tidak mau terlibat. "Eh, Erina mengirimkan sopirnya padaku."

Mendengar jawaban Souma, Hayama tampak curiga. Dia menyipitkan matanya, memberikan tatapan menilai. Souma yang ditatap begitu tampak tersinggung.

"Hei aku tidak memaksanya atau bagaimana. Aku hanya mengatakan bahwa aku sudah sampai di Jepang dan butuh tumpangan." Ujar Souma membela diri.

"Aku tidak mengatakan apa-apa." Balas Hayama santai. "Tapi melihatmu yang menjawabku tanya kusuruh..." Hayama menggantungkan kalimatnya, dengan senyum yang jarang ia perlihatkan.

"Ah, sialan kau!" Souma berniat mengajak Hayama berkelahi jika saja seragam luarnya tidak ditahan oleh Erina.

"Kata-katamu kasar." Tegur gadis pirang itu. Mata ungunya menyipit tidak senang.

"Kenapa jadi aku yang..." Souma tampak ingin marah, namun dengan tarikan nafas, dia menelan semua itu.

"Hah. Aku pergi saja." Souma mengambil tas pisaunya. Ia lalu menatap Megumi. "Ayo Tadakoro, Isshiki-senpai meminta bantuanku sore ini."

"Ah, baik Souma-kun."

"Jangan memaksa Tadakoro-san." "Hei Yukihira, berhenti melibatkan Tadakoro."

Erina dan Hayama berseru bersamaan.

Souma memanyunkan bibirnya. "Hoh, kalian akrab sekali ya, sampai bisa bersamaan begitu ngomongnya."

"Kalau begitu berhenti berbuat hal sembrono terus-menerus." Erina memijat pangkal hidungnya.

"Kau yang terlalu gampang ditebak." Hayama menyembur kesal.

"Huh, aku pergi." Tanpa menunggu balasan Souma keluar dari ruangan.

Megumi yang ditinggal hanya bisa tersenyum kikuk pada Erina. "Kalau begitu aku pulang dulu, Nakiri-san, Hayama-san."

"Aku pikir kau harus berhenti menoleransi si bodoh itu, Tadakoro." Hanya itu respons Hayama sebelum ia kembali sibuk pada jurnal-jurnalnya.

"Um, hati-hati, Tadakoro-san. Jangan paksakan dirimu mengikuti Yukihira-kun."

"Baik, Erina-san."

Megumi langsung bisa menyusul Souma yang berjalan menuju parkiran. Pemuda itu tidak terlihat kesal atau marah, malahan dia sedang bersenandung kecil.

"Souma-kun." Panggil Megumi.

"Ah, Tadakoro." Souma berhenti, menunggu Megumi menghampirinya.

"Aku pikir kau sedang marah."

Mendengar Megumi, Souma tertawa. "Mana mungkin."

"Ah, apakah besok Souma-kun masuk kelas? Chapelle-sensei bilang kita hanya perlu membuat easy tentang masakan tradisional Prancis."

"Hehhh, bukankah itu tugas tahun pertama kita?"

"Ah, kata sensei dia ingin melihat perkembangan kita. Lagi pula besok kelas terakhir kita sebelum kelulusan."

"Karena itu aku pulang."

"Oh, aku tidak tahu Souma-kun ingat soal itu." Kata Megumi sambil tertawa geli.

"Yah, memang tidak."

Megumi memiringkan kepalanya, tapi dia mengabaikan jawaban aneh Souma.

"Bagaimana dengan persiapan tes kelulusanku, Tadakoro?" Tanya Souma.

"Oh, berjalan lancar. Aku berniat menggunakan sayuran sebagai bahan utamanya." Jawab Megumi riang. "Bagaimana dengan Souma-kun?"

"Ah, aku berniat membuat hidangan Prancis mungkin.. mengingat makanan Prancisku yang paling banyak kembangkan selama di Totsuki."

Megumi terkejut mendengar jawaban Souma. Ia mengira Souma akan membuat hidangan khas Yukihira seperti yang pemuda itu selalu lakukan. Tapi tujuan dari ujian akhir ini adalah menuangkan semua pengetahuan selama mereka belajar di Totsuki, jadi wajar jika Souma memilih jenis masakan yang menurutnya paling ia pelajari saat di Totsuki.

"Mari kita berjuang bersama sampai akhir, Souma-kun."

"Tentu saja, Tadakoro."

Setelah pulang ke asrama, Souma dan Megumi menghabiskan waktu untuk membantu Isshiki. Semua penghuni Bintang Polar sedang keluar, sibuk mempersiapkan ujian akhir mereka yang kurang dari satu bulan. Karena ujian itu juga menentukan lulusan terbaik angkatan mereka, apakah elite 10 bisa mempertahankan posisi mereka atau tidak, ditentukan pada saat itu.

Isshiki sendiri khusus datang hari ini untuk merapihkan pekarangan sekaligus menyiapkan bibit untuk para murid baru. Seniornya itu memang sangat bisa diandalkan dan perduli pada adik-adik kelasnya. Mereka menghabiskan waktu sampai matahari terbenam.

"Terima kasih sudah menemaniku hari ini." Kata Isshiki riang. "Aku harus pamit sekarang, Nene-chan akan marah jika aku terlambat datang untuk membuka kedai kami." Isshiki yang sudah lulus kembali ke kediamannya bersama Kinokuni Nene, dua bulan yang lalu mereka berdua membuka kedai kecil di distrik Chiyoda sebagai pelatihan.

"Hati-hati di jalan, Isshiki-senpai." Megumi dan Souma melambaikan tangan mereka, mengantar kepergian Isshiki.

"Ah, Tadakoro, aku harus pergi setelah ini. Maaf tidak bisa makan malam bersama."

"Ah tidak apa-apa, Souma-kun."

Setelah itu Megumi yang diberi kesempatan untuk mandi terlebih dahulu membersihkan dirinya dan membuat masakan untuk dirinya dan Fumio. Saat berjalan ke arah pintu dapur, sehabis dari pekarangan untuk mengambil beberapa sayur yang terlupakan, Megumi bisa mendengar Souma bercakap-cakap di telepon.

"Hemmm, aku akan segera berangkat. Lebih baik kau bersiap-siap. Jangan lupa gunakan celana." Samar-samar Megumi mendengar Souma.

"Hei, aku sudah pulang sesuai keinginanmu." Ucap Souma, entah terdengar kesal atau geli. Tapi nadanya sangat lembut, Megumi bahkan ragu itu Souma yang ia dengar. "Jadi hari ini kita akan menggunakan caraku. Baiklah sampai nanti, Erina."

Lalu Megumi bisa mendengar pintu di tutup.

Dari percakapan itu, Megumi bisa menyimpulkan banyak hal. Soal dengan siapa Souma pergi hari ini. Soal Souma yang sengaja pulang karena diminta oleh seseorang. Dan mungkin kenapa Souma pulang dijemput oleh supir Erina kemarin. Terutama soal kenyataan bahwa Souma memanggil Erina dengan nama kecilnya saat mereka hanya berdua dengan nada lembut.

Apakah itu berarti sesuatu? Mungkin. Apakah Megumi terkejut? Bisa jadi. Lebih tepatnya, apakah Megumi terperangah melihat sisi Souma yang tidak pernah ia lihat sebelumnya? Tentu saja iya.

Tapi Megumi senang. Dia tahu ada sesuatu di antara mereka berdua selama dua tahun terakhir ini. Atau bahkan sejak mereka berada di tahun pertama. Dia di dalam hatinya yang paling dalam mendoakan kebahagiaan kedua teman terbaiknya.

"Mungkin aku harus membuat nasi merah saat kami kumpul kembali nanti." Gumam Megumi geli. Ia benar-benar ingin agar Souma dan Erina bisa bahagia, sebagaimana mereka berdua selalu membuat hari Megumi juga bahagia.