"Jadi gimana Ying?"
"Hm? Gimana apanya?"
"Hadehh, ituloh. Gue nanya dedek dalam perut lo itu apa kabar?"
"Haah?" Ying kebingungan mendengar pertanyaan Shielda
"Aduuh Ying. Maksud gue kondisi kandungan lo gimana? Udah berapa bulan?"
"Haiyaaah, gue belum ngandung kali Shiel"
"Hah?"
Ying mengangguk mengiyakan jawaban sebelumnya. Gadis yang statusnya sudah jadi istri orang ini sekarang sedang menghabiskan waktu bersama salah satu sahabatnya, Shielda.
"Kok bisa sih? Diperut lo belom ada calon keponakan gue?"
"Ya belum lah"
"Loh, k-kok gitu?"
Shielda merasa aneh dengan sahabatnya ini. Ying sudah menjalani kehidupan rumah tangganya dengan Fang selama 4 bulan. Tapi perut Ying kelihatan belum membesar, wajar saja Shielda nanya alias kepo.
"Gue belum siap Shielda"
"Ya ampun Ying. Lo blm siap apalagi sih? Rezeki ada, suami halal juga ada. Kalo lo kaya gue baru lo ga siap. Gue blom punya calon Ying hiks," Shielda memulai sesi curhatnya.
"Shieldaa, nnti dia juga datang kok"
Shielda langsung antusias, "Beneran? Siapa? Dimana? Naik apa? Yang paling penting, kapaaan?"
"Kapan waktunya tiba wleek," canda Ying sambil memeletkan lidah untuk menggoda Shielda.
"Ishh, lo udah nikah makin nyebelin yah? Mentang mentang ada Fang. Gua jadi ga bisa gebukin lo kaya dulu lagi. Yang ada gua dicekik duluan sama Fang"
Ying hanya tersenyum mengejek kepada Shielda.
"Huh, nyebelin. Beruntung banget sih lo bisa dapetin Fang. Dia itu idaman cewe cewe di tempat kerja kita loh."
Shielda sepertinya mendapat ide untuk membalas dendam atas ejekan Ying barusan
"Hah? Beneran?"
"Iyalah. Cewe di kantor kita itu pada kagum sama suami lo yang sok narsis itu. Tapi sayangnya, dia bucin akut sama lo. Eh, tapi gua lebih demen ama kakaknya deh"
"Pfftt...Ahahahahaha," tawa Ying meledak mendengar perkataan Shielda.
"Lo ngapain ketawa sih? Eh gimana gimana? Kak Kaizo itu gimana? Ceritain ke gua dong."
Tawa Ying mulai mereda, "Gimana ya bilangnya? Emang ganteng banget sih. Gua kadang juga suka lupa kalo udah punya suami"
"Bwhahahahaha. Lo gila banget sih. Lupa punya suami ahahahaha," Shielda mulai terbahak bahak dengan sebelah tangannya memukul mukul bahu Ying. Emang dasar, kebiasaan cewek.
"Fang ga cemburu gitu?"
"Yaa, gimana. Fang suka pulang kemalaman, jadi dia ga tau gua suka salting kalau kak Kaizo mampir ke rumah"
"Wah, wah... tunggu ampe Fang dengar ini nih"
"Eh, jangan dong, Fang marah nanti. Jangan ya? Shielda cantik, ntar gue bantuin lo cari jodoh deh. Atau gua comblangin ama kak Kaizo aja gimana?" Ying mulai membujuk sahabatnya yang jahil itu.
"Kyaaaa!! Boleh Ying, boleh!!" Shielda mulai fangirlingan sama Kaizo sepertinya. " Nanti kita bakalan jadi saudara ipar Ying. Nanti gue nyuruh nyuruh lo ngerjain tugas rumah. Aaah bahagianya hidup gue"
Oke. Pikiran Shielda sedang tidak ada dibumi saat ini.
'Yang bahagia hidup lo doang kali,' batin Ying.
"Oh, gue tau!! Lo lagi coba buat nukar topik kan, Ying? Gue masih penasaran nih. Jadi, keponakan gue kapan datangnya sih Ying? Masa lo berdua belom punya dede bayi"
"Fang bilang gapapa kok, dia mau nungguin gue sampai gue siap aja katanya"
"Hah? Jadi lo sama Fang belum..."
Ying menggelengkan kepalanya dan menunjukkan cengirannya.
"Eh, tapi Ying, emangnya lo gapapa ya, gitu?"
"Gapapa apanya?"
"Hadeh...gini yah. Fang itukan ganteng, mapan, keren juga, pinter, dia populer di kalangan cewe cewe"
"Jadi?"
Shielda ingin sekali menggeplak kepala sahabatnya yang suka ga nyambung ini. Tapi dia masih sayang nyawanya. 'Takut dibunuh Fang gue,' batin Shielda.
"Maksud gue, lo yakin aja Fang ga main main di belakang lo gitu? Secara, dia kan tetap seorang pria," ujar Shielda.
"Nggak kok, Fang pasti setia." Ying percaya pada Fang. Fang tidak akan mengkhianatinya seperti itu.
"Yah siapa tahu Ying, gua cuma ngingetin elo. Godaan diluar sana berserak Ying. Jangan sampe lo nyesel."
Ying baru kembali ke rumah setelah seharian pergi bersama Shielda. Bulan sedang bersinar cerah menerangi Ying yang sedang membuka tas belanjaan mereka.
Tapi Ying langsung meraih bungkusan yang diberikan Shielda kepadanya. Ying penasaran apa isinya. Shielda bilang kalau Ying boleh membuka pemberiannya kalau sudah tiba di rumah.
Ying membuka bungkusan itu dan ternyata isinya... pakaian yang sangat minim.
'Aihh, apa apaan sih, Shielda ini,' batin Ying lalu meraih ponselnya dan menekan nomor Shielda.
"Oi, Shielda. Ini kenapa sih? Kok lo ngasih gue barang cacat?"
"Hah? Barang cacat?"
"Iyaa. Tas yang lo kasih ke gue tadi isinya barang cacat. Pakaiannya minim banget kayak kurang bahan trus ada bolong dimana mana Shielda."
Shielda menepuk dahi di seberang sana,"Ya ampun Ying. Gayanya emang gitu kali."
" Mana ada gaya kaya beginian? Gue ga mau ah makenya. Bisa bisa gue dicegat polisi nanti."
"Ya ampun, Ying. Itu ga dipake keluar rumah goblok."
"Jadi?"
Shielda benar benar pusing sekarang. Ying kenapa polos banget sih? Otaknya itu kan cerdas, masa hal beginian aja ga ngerti. Kok bisa ya, Fang bucin banget sama Ying? Shielda menghela napas di seberang telepon.
"Hhhhh, lo makenya cuma boleh pas dirumah aja. Pas ada Fang pokoknya"
" Ih kagak. Gue ga mau."
"Terserah lo deh Ying, pusing gue bicara sama elo. Kalau sampai Fang ada main di belakang, jangan bilang kalo gue ga peringatin lo."
"Ehh, Shielda!"
Tut tut tut
Ying menatap ponselnya yang mengeluarkan suara sambungan telepon yang terputus. Ying sebenarnya percaya pada Fang. Tapi, Ying teringat, Shielda bilang banyak yang mengagumi suaminya? Memang sih, teman kantor Ying suka memberi tatapan aneh ke arah Ying kalau Ying sedang dijemput Fang.
Ying jadi ragu dengan perkataan Shielda. Tangannya meraih pakaian yang diberikan Shielda tadi. Dia penasaran ingin mencoba pakaian yang uh... sangat kekurangan bahan itu dan bercermin memandang dirinya.
Fang ada di depan rumah mereka sekarang. Karena kebiasaan Fang yang pulang malam, dia jadi membawa kunci sendiri, agar tidak perlu repot membangunkan Ying membukakan pintu untuknya.
Dan sekarang Fang sudah di depan pintu kamar dan membuka pintu. Ia tercengang melihat Ying memakai... yah, itulah namanya.
"Kyaaaaa!!!!" Ying langsung melempari Fang dengan bantal.
"Aduh Ying kenapa ini?" tanya Fang setelah lemparan bantal Ying berhasil mendarat di wajahnya.
"Kamu ngapain masuk sini!?"
"Kan kamar aku juga disini"
"Kenapa ga ketuk pintu!?"
"Ya, inikan kamar sendiri masa harus ketuk pintu"
"Ya tapi kan, kamu ga boleh masuk seenaknya gitu"
Ying merengut kesal di tempatnya. Fang segera menghentikan keributan mendadak tadi. Ia kemudian menghampiri Ying dan berbisik, "Kamu cantik banget. Siapa yang ngajarin, hm?"
Ying menyadari situasi di antara mereka lalu hendak kabur.
"Eits, mau kemana? Sini temani aku dulu," Fang menarik Ying sehingga Ying jatuh di pangkuannya.
Fang terus membelai dan bermain main dengan Ying lalu tersadar dan segera melepaskan Ying.
"M-maaf Ying, aku benar benar minta maaf. A-aku terbawa suasana tadi. Maafkan aku," Fang berlutut di lantai lalu menyatukan kedua tangannya sebagai permohonan maaf.
"A-aku...aku pergi mandi dulu," Fang hendak beranjak sampai Ying menahan lengannya.
"Tak usah minta maaf Fang"
Ying berkata dengan suara kecil seraya menunduk malu, "Kau tak perlu meminta maaf begitu. Karena ini memang kewajibanku."
Ying terbangun kesiangan kali ini. Ia menoleh dan mendapati bahwa Fang tidak ada di sampingnya. Dia segera menyandarkan dirinya pada sandaran tempat tidur. Dia melewati malam yang sangat melelahkan. Fang mengerikan. Dia benar benar tak kenal waktu. Dia baru membiarkan Ying tidur setelah Adzan Subuh terdengar.
"Selamat pagi Ying," suara Fang menghentikan lamunan Ying.
"How's your day baby?" Fang tersenyum lembut kepadanya
Ying menarik erat selimutnya lalu mendesis, "Kau menjijikkan Fang."
"Maaf kan aku sayang," Fang terkekeh melihat Ying menggembungkan pipinya.
"Habis mau bagaimana lagi? Mumpung kamu kasih kesempatan, ya aku nikmati saja. Besok besok belum tentu diizinin lagi kan?"
"Fang mesum!" Ying berteriak ke arah Fang, masih kesal rupanya.
Fang naik ke atas ranjang mereka. Ying sedikit menjauh darinya, takut akan diterkam lagi.
"Kamu kenapa make yang kaya gitu tadi malam?"
Ying tidak menjawab pertanyaan Fang
"Terus kenapa kamu jadi ngizinin aku? Bukannya kemaren katanya belum siap ya?"
Ying menunduk malu sekian lama dan akhirnya bersuara, "A-aku...aku takut kamu berselingkuh Fang"
"Hah?"
"Shielda bilang nanti kamu main sama cewe lain di belakangku. Dia ngasih baju itu katanya supaya kamu ga berani selingkuh," ujar Ying sambil tertunduk malu.
"Aku ga akan selingkuh kok. Masa kamu mau percaya aja ama Shielda?"
"Kata Shielda diluar sana ada banyak cewe yang mau ngegoda kamu. Dia bilang kamu bisa aja tergoda kan?"
Fang tersenyum mendengar penuturan Ying. Lalu Fang membelai kepala Ying, "Ngga Ying. Aku kan udah janji buat selalu setia sama kamu. Lagian cewe diluar sana mana bisa dibandingin sama kamu?"
Ying sedikit merona mendengar Fang. Ia masih tersenyum kecil lalu suara Fang menginterupsinya,
"Aku boleh pinjam ponsel kamu bentar ga?"
Ying menyodorkan ponsel kuning biru kesayangannya kepada Fang
"Aku keluar sebentar ya?"
Ying hanya mengangguk membalas Fang lalu membaringkan tubuhnya setelah Fang meninggalkan kamar.
"Oh hai Ying! Gimana? Saran gue berhasil ga?"
Suara Shielda terdengar sumringah di seberang telepon.
"Ini gue, Fang"
Oh. Shielda meneguk ludah sekarang, "O-oh, e..hai Fang, hehe. Kabar lo gimana?"
"Lo ngomong apa sama Ying?"
Fang tak menghiraukan sapaan Shielda.
"Ha? Ngomongin apa? Gue ga ngomong apa apa kok"
'Mampus lo Shielda. Ga jadi dah gue hidup bahagia. Keburu mati digolok Fang,' batin Shielda
"Siapa yang nyuruh lo ngotorin pikiran Ying?"
Fang malas berbasa basi dan langsung menanyakan to the point.
"Eh, i-itu...anu.."
" Maksud lo apaan? Nuduh gue sembarangan. Ya kali lo bilang gue selingkuh ama cewe diluar sana?"
"Yeee, gue kan cuma memisalkan"
"Dengar ya. Ying itu polos dan jujur. Lo jangan ngeracunin pikiran dia."
"Kan gue cuma ngasih tau"
"Ga ada! Pokoknya lo jangan pernah ngasih ide aneh aneh lagi buat Ying!"
"Eleeh, lo juga suka kan? Ngaku aja! Lo pasti suka kan sama ide gua? Gimana gimana? Ying cocok ga make baju yang gue kasih? Cantik ga?"
"Ya pasti cantik lah. Istri Fang gitu loh. Kalo lo yang make tuh baju baru kaya pemulung"
"Eh, sembarangan. Lagian lo ngapain sih marah marahin gue? Bukannya berterima kasih udah gue bantuin. Lo pasti seneng kan sama rencana gue? Halah! Ngaku aja lo!"
"Ya, gue nelpon lo juga buat bilangin itu. Makasih udah ngebantuin Ying buat ngizinin gue. Walaupun pikirannya udah ngira gue bakalan selingkuh. Pokoknya gue bilang makasih sama lo"
'"Oh jadi kalian udah...! Kyaaaa!!!!! Tenang aja tenang aja! Gue cuma minta traktiran dari kalian kok. OMG OMG lu berdua ngapain aja.. kyaaaaa gue seneng banget. Keponakanku tantemu dataang!!!"
"Belom jadi kali"
"Bwahahahahaha"
"Inget ya, jangan sekali-kali lo ngajarin Ying buat mikir yang engga-engga lagi. Ntar gue ga bakal ngizinin lo ngedeketin abang gue"
"Eh, jangan dong, Fang! Bantuin gue ama abang lo ya? Kasian kami berdua udah lama banget ngejomblo "
"Rasain lo. Siapa suruh lo jomblo. Emangnya abang gue mau ama lo?"
Fang jahat sekali bercandanya. Shielda hanya bisa pundung dengan batin yang berkecamuk, 'Yah, masa gua ga direstui adek ipar? Batal deh nyuruh nyuruh Ying'
"Inget perkataan gue tadi. Sekali lagi makasih buat lo. Gue matiin nih, bye"
Fang pun memutuskan sambungan dan kembali ke kamar mendapati Ying kembali terlelap. Fang sedang berbunga bunga sekarang. Dia memandangi wajah ying yang terlihat sedikit kelelahan.
Fang tersenyum tulus. Ying bisa menjadi seperti ini karena takut Fang akan selingkuh. Ying ternyata takut kalau Fang akan berpindah hati. Padahal kan, Fang udah bucin banget sama Ying dan ga akan berpaling darinya. Tapi, baguslah. Sepertinya, Fang harus berterima kasih lagi nanti pada Shielda. Mungkin mengenalkan pada kakaknya sudah cukup.
Fang meraih sosok Ying dan memeluknya. Fang menyukainya. Fang menyukai sosok Ying yang dewasa. Tapi Fang lebih suka dengan Ying yang polos. Dan mau Ying bagaimanapun, Fang akan tetap mencintainya.
Haii lovelying!!
Gimana ini?
Lily kemarin kepikiran buat tambahan chapter sebelumnya. Bisa kali nyoba bikin Fang ama Ying yang udah menikah dan beginilah jadinya.
Oh iya! Kalau readers merasa ini terlalu dewasa dan ga cocok dipublish karena penggemar boboiboy itu kebanyakan anak-anak kasih tau ya!
Lily pengen nyoba cara penulisan yang beda, makanya nyoba nulis ini.
Kalau readers ga cocok Lily bakalan unpublish kok! Lily cuma pengen tau tanggapan readers kayak gimana, enakan penulisan yang gini atau yang sebelumnya?
Kita mau apain lagi nih Fang sama Ying nya? Bagi saran boleh kali ya???
Jangan lupa vote dan komentar yah! (。・ω・。)
