[Disclaimer Masashi Kishimoto, A fanfiction Naruhina; Sunshine]
Lupakanlah bagaimana caranya berjalan mundur, agar nanti, ketika kau terperosok jatuh ke dalam keterpurukkan, kau tetap bertahan pada pendirian yang sama, meski keadaan memaksamu menyerah saja.
"Ini permintaan seumur hidupku, tolong, bawa Sasuke pulang Naruto." Angin meniup halus pakaian merah muda Sakura bersama helaian rambutnya yang menyerupai kelopak bunga. Air mata merembes basah sebagai bukti bahwa ia penuh kesungguhan meminta bantuan karena menyadari bagaimana kualitas kekuatan ninjanya sebagai perempuan yang banyak memiliki kekurangan. Naruto adalah harapan. Maka Sakura menggantungkan mimpinya pada Uzumaki itu. Tidak salah kan? Tidak salah bila ia mempunyai permintaan demikian bukan?
Naruto mampu mengalahkan Inuzuka Kiba pun Hyuuga Neji. Tentu saja Naruto pasti mampu mewujudkan apa yang diinginkan Sakura. Hanya Sasuke. Sakura hanya meminta Sasuke saja.
"Sakura kau tahu misi ini," Sang pemimpin membuka suara, sengaja memberi jeda sebelum menuntaskan kalimatnya. Si pemalas yang hobi terlelap dan bermain shogi. Mata sipit menyorot gadis Haruno tidak setuju. Memangnya membawa Sasuke semudah mengatakan tolong bawa dia? Shikamaru sadar betul musuh apa yang dihadapi mereka berlima. Sudah menkonsepkan strategi pun Shikamaru tidak bisa menjanjikan 100 persen misinya sebagai junin ini berhasil.
Naruto memang selalu memiliki kejutan. Naruto tetaplah Naruto. Pemilik sinar cerah setiap kali dirinya mengambil tindakan. Dia memotong ucapan Shikamaru cepat bersama senyum sehangat matahari sampai kedua matanya menyipit. Mengumbarkan jari terunjuk seperti guru Guy dan Lee. "Kau benar-benar sangat mencintai Sasuke ya? Tidak perlu khawatir, aku akan membawa Sasuke, Sakura-chan. Ini adalah janjiku!"
Hei Sakura apakah kau tidak menyadari ekspresi apa yang telah disembunyikan Naruto melalui senyum lebarnya? Itu bahkan terlihat begitu kentara, tidak terlihat seperti sedang disembunyikan.
Sakura, sebenarnya kau memang tidak tahu, atau pura-pura sengaja tidak mengetahuinya? Kau jelas tahu bahwa Naruto menyukaimu, mengapa kau malahan meminta tolong padanya?
Dan untuk pertama kalinya Sakura sadar bahwa Naruto yang tersenyum di depan matanya adalah orang paling baik dalam hidup perempuan itu, bahkan Sakura sampai melupakan segala tingkah kebodohan lelaki pirang itu dalam bertindak ceroboh. Naruto dengan segala sinar dinamisnya.
Bagi Naruto tanpa perlu diminta-tolongi ia pasti akan mengambil Sasuke dari Orocimaru. Mengingat sosok lelaki itu yang pernah melindunginya dari serangan puluhan jarum Haku, sebelum jatuh pingsan tepat di depan mata Naruto. Uzumaki itu tak pernah melupakan bagaimana Sasuke menganggap ia sebagai teman, dengan caranya. Karena, Sasuke, Sakura, dan guru Kakashi adalah kesatuan tim 7 bersamanya, maka, Naruto berjanji pada dirinya sendiri dengan semua kekuatannya, ia pasti membawa Sasuke untuk pulang ke Konoha. Namun, apa yang sudah menjadi tekad belum tentu benar-benar terkabul seperti apa yang diharapkan.
"Kau yang sudah sedari awal terlahir sendirian tahu apa mengenai arti kehilangan! Aku membenci ikatan, dan akan kuputuskan ikatan ini sekarang juga!"
Sasuke serta segala ambisinya, dendamnya, ego tingginya. Naruto tidak bisa mengambil Sasuke. Sebab, apa yang menjadi masa lalu Sasuke dengan apa yang menjadi masa lalu Naruto, tidaklah sama. Sasuke hancur dengan fakta yang ia ketahui bahwa Itachi membunuh keluarga Uchiha. Sedangkan Naruto hancur dengan fakta ialah si bocah jinchuriki, kemonsterannya membuat seluruh warga desa menjauhi.
Mereka berbeda. Itulah mengapa Naruto tidak bisa mengembalikan Sasuke. Tidak bisa membawa Sasuke pulang.
Lalu begitu saja Sasuke berhasil melepas ikatan pertemanan mereka dengan pergi menjauh melangkah lebih dekat pada markas Orocimaru. Sedang Naruto tetap pada pendirian yang sama, pendirian yang mengatakan bahwa: ia tetap menganggap Sasuke sebagai temannya.
Tes!
Tes!
Naruto membuka mata dalam segaris penglihatan. Tubuhnya terangkat dalam gendongan guru Kakashi. Hujan membasahi pakaian ninja oranye kotor tercampur lumpurnya. Si Uzumaki memejamkan mata memandang kelewat kosong pijakan demi pijakan pohon setiap kali Kakashi melompat. Ia telah gagal membawa Sasuke sebagai seorang teman.
Kala Naruto kembali membuka mata kedua kali. Ruangan tak berpenghuni rumah sakitlah yang pertama kali Naruto lihat. Atap berwarna putih gading. Naruto membungkam. Tidak ada mereka yang menunggui kesadarannya. Tidak ada mereka yang menemani kesendiriannya. Tidak ada mereka yang tertidur di tepi ranjang memperhatikannya. Perasaan kesepian mendadak hadir padanya. Dirinya yang kesendirian bersama perban membalut seluruh tubuh termasuk bagian wajah diam-diam menginginkan... sebuah...
Hei...
Jika ia mengatakan, ia membutuhkan satu sosok pendukung sebagai sandaranya, untuk melewati hari-hari beratnya...
Apa itu termasuk sikap serakah juga?
Dia memang sering berteriak ingin menjadi hokage pada semua orang, tersenyum lebar dengan deretan gigi percaya diri, bersikap konyol mempertontonkan lawakan. Tapi ada satu masa di mana ia menginginkan menjadi dirinya sendiri pada satu orang. Hanya pada satu orang saja. Menunjukkan betapa lemahnya dia, lelahnya dia harus terlihat baik-baik saja.
Naruto memejamkan mata, menghirup napas pelan-pelan, sebelum kesesakan memenuhi ruang paru-paru. Saat itulah terdengar suara pintu rumah sakit berderit. Dengan refleks mengejutkan Naruto memilih berpura-pura terlelap. Naruto bahkan tidak tahu mengapa ia melakukan hal tersebut.
Berjalan tersendat, perempuan yang dijuluki Hyuuga paling lemah dalam klan itu menghampiri. Memberi segenggam bunga matahari, menaruhnya di dalam kotak kaca kecil di atas meja dekat ranjang. Bunga matahari: serupa wujud Naruto, warna rambutnya, juga perawakannya.
Hinata berdiri di pinggir, memejamkan mata khusyuk. Menyatukan tangan membisikkan doa pada kami-sama untuk kesembuhan pahlawannya--Narutonya.
Berikutnya, Naruto bertindak cepat-cepat membuka mata, tidak sabar ingin menatap siapa yang memberi kunjungan padanya. Iris sebiru langit itu bergerak menyorot lurus Hinata utuh.
"Apa yang kau lakukan?"
Terlonjak, Hinata membuka mata lebar terkejut luar biasa di tengah Naruto berusaha duduk bersandar di kepala ranjang. Gemetar sekaligus gugup tertangkap basah berada dalam rumah sakit, padahal langit sudah gelap menegaskan suasana malam. Perempuan yang keluar malam-malam? Bukankah itu terlihat tidak pantas?
"Na-Naruto-kun... a-aku... g-gomen... a-aku telah lancang mengunjungimu malam-malam... a-ano..." Jemari telunjuk itu bergerak saling menyentuh. Wajah tertunduk, bersama poni menutupi kedua mata.
"Kenapa?"
Kepala Hinata terangkat tidak mengerti. "U-um?"
"Kenapa kau mengunjungiku?" Serupa ketentuan mutlak. Pertanyaan Naruto memiliki notasi memaksa lawan bicara.
"Kudengar... dari Tsunade-sama bahwa kau terluka sehabis menyelesaikan misi... ja-jadi.. aku berniat u--"
"Bukan menyelesaikan misi. Aku gagal menyelesaikannya."
Iris Hinata yang terkena silau remang rembulan menatap lekat Naruto. Pancaran warna biru itu tidak terlihat seperti biasanya. Entah bagaimana, Hinata merasa dadanya terasa sesak oleh alasan tidak diketahui. "Gagal... ataupun berhasil, pada intinya kau pulang dengan selamat, Naruto." Kegugupan yang menjadi ciri-khasnya hilang. Naruto menemukan sisi lain dari sulung Hyuuga. "Dan jika kau selamat maka kau bisa memperbaiki kegagalan itu."
Kenapa tidak sedari dulu saja ia bertemu Hinata, berbicara santai seperti ini?
Hinata menatap bunga matahari yang berdiri di dalam kotak kaca. Menekan bibir lamat-lamat. "Kau memang tidak bisa menebak masa depan, tetapi kau bisa menguasai hari ini, mengubah kebiasaan, sehingga bisa mengaktualkan apa yang menjadi keinginanmu di masa depan." Pandangan bergulir menatap penuh dua pupil biru Naruto.
"Bagaimana bila sampai akhir aku masih tetap tidak bisa memperbaikinya?" Pandangan Naruto meredup, dan itu membuat Hinata ingin meralat segala perkataan pemuda Uzumaki itu.
"Maka itu belum menjadi akhir." Hinata mendekat, mengambil satu kunai miliknya yang terlapisi benang berwarna ungu pada pegangan. "Untukmu Naruto-kun, sebagai benda keberuntungan. Setiap kali aku ingin menyerah, aku akan melukai diriku sendiri dengan kunai ini, kemudian rasa sakitnya menyadarkanku bahwa aku tidak boleh menyerah." Saat tangan Naruto bersentuhan dengan tangan Hinata untuk menerima kunai pemberiannya. Hinata melanjutkan, "Karena itu adalah jalan ninjaku."
Itu adalah kata-kata yang sering diucapkannya.
Begitu saja Hinata di mata Naruto berubah seperti regulator, seseorang yang mengatur agar Naruto tetap pada jalannya berdiri tegak. Jangkar memegang seluruh kendali kewarasan. Detak jantung Naruto bekerja secara aneh. Bukan seperti saat ia melihat kecantikan Sakura Haruno, Hinata yang sederhana dan murni, benar-benar mengambil sisi kegilaan Naruto yang paling gelap. Sisi di mana Naruto menginginkan Hinata selalu berada dalam jangkauannya.
"Menuju kemenangan itu selalu ada bayarannya. Perlu ada rasa sakit, air mata, jatuh, rasa sakit lagi, air mata lagi, jatuh lagi dan seperti apapun keadaanmu nanti... aku selalu memandangmu sebagai Naruto bukan sebagai seseorang yang sudah kalah."
Hinata apa yang sudah kau lakukan? Rasa-rasanya Naruto merasa terlempar ke tempat hangat yang... ia inginkan. Hatinya terisi oleh dentuman-dentuman menyenangkan.
Dalam sekali sentakan, Naruto menarik pergelangan Hinata lembut dan sedikit kasar, keterburu-buruannya seolah memperlihatkan spontanitas bahwa tubuh lelaki itu menginginkan Hinata, tanpa ia sadari. Berapa umurnya sekarang ini? Naruto merasa ia telah memiliki perasaan yang lebih gelap pada Hinata, dibandingkan ketika ia dengan Sakura. Hinata tertarik oleh pengaruh gaya gravitasi, jatuh pada Naruto yang duduk terbalut perban. Dekapan amatir Naruto membalut gadis keturunan Hyuuga itu, sontak membuat Hinata ingin memberontak bingung, namun urung diri.
Naruto menyamankan diri. Menyandarkan kepala seperti ia sedang bersandar pada ibunya--jika memang ia memiliki ibu--atau seperti Naruto menemukan seseorang yang... menjadi rumahnya. Aroma pakaian Hinata tercium oleh indera lelaki itu, hingga Naruto memilih memejamkan mata sejenak. Hinata itu selalu menggunakan pakaian tertutup seperti jaket coklat muda kebesaran--dan Naruto menyukai penampilan Hinata yang seperti itu. Mereka bilang Hinata adalah Hyuuga terlemah? Omong kosong! Lalu, mengapa kala Naruto bersama Hinata ia merasa paling lemah di antara mereka berdua?
"Hinata apa kau selalu sehangat ini?" Lingkaran pelukan Uzumaki mengerat. Eksistensinya semakin dibutuhkan Naruto.
"Na-Naruto kau masih terluka, a..apa lukanya tidak sakit saat aku seperti i-in..."
"Tidak." Naruto memotong cepat kekanakan. "Hinata, menurutmu apa akan ada masa di mana aku berhasil membawa si brengsek Sasuke?"
"Tentu saja." Hinata menjawab cepat tanpa keraguan. Menampakkan bahwa ia mempercayai pemuda itu tanpa perlu berpikir.
"Hinata."
"Hm?"
Naruto menjauhkan diri mengurai pelukan mereka, membuka perban tangan kanan, menusuk kunai pemberian Hinata pada telunjuk dan ibu jarinya, membiarkan darah segar mengalir dari lubang yang ia goresi.
"Naruto apa yang kau--"
Naruto membuka telapak tangan Hinata. Lalu menggoreskan huruf 'arigatou' menggunakan darahnya di sana. Hinata menahan napas oleh sikap Naruto yang sering berubah-ubah. Naruto mengangkat kepala, menorehkan senyum begitu lebar yang menghantarkan perasaan Hinata. Senyuman yang menjadi alasan mengapa Hinata menyukai Naruto. Naruto berujar tulus sekaligus riang. "Arigatou Hinata."
Hinata menghembuskan napas setelah berhasil menguasai diri. "K-Kau melukai dirimu Naruto-kun..." gumam Hinata tidak habis pikir. Ia memundurkan langkah, mengambil plester di bawah meja rumah sakit. Kini darah Naruto sedikit tercemar di antara mereka berdua. Hinata menutup kedua luka pemuda itu bersama plester. Naruto kembali tersenyum yang dibalas senyuman Hinata lainnya. "Apa kau akan mengunjungiku lagi?"
Hinata mengangguk bersama wajah manis melebihi madu, "Te-tentu j-jika Naruto-kun mengizinkannya."
Senyum Naruto mengkurva teramat besar, "Mana mungkin aku menolak kan, hehe~"
Paginya saat Jiraya berkunjung duduk di atas katak besar berniat mengajak Naruto latihan, Naruto tidak bisa menyembunyikan cengirannya yang terus-menerus cengengesan. "Petapa genit kau datang!" Dia bahkan lebih bersemangat dari biasanya. Interaksi antara Uzumaki pirang itu bersama Hinata berdampak pada Naruto yang lebih berapi-api dari sebelum-sebelumnya. Segenggam bunga matahari yang masih berada di dalam kotak kaca, bersinar terserang terik, menyambut hangat silauan terang.
storybyartnius
