Ja, Mata
Bleach punyanya Mbah Tite Kubo, saya cuma penggemar yang patah hati dan tidak sengaja membuka luka lama. Fic ini buat semua fans IchiRuki yang senasib dengan saya. Muahahaha
Warning: Canon
Ichika
Ibu punya kebiasaan aneh.
Setiap petang, ketika tidak sedang begitu sibuk, Ibu selalu duduk memandang matahari yang perlahan terbenam. Tangannya dikepal sambil mengetuk-ketuk. Kadang mengetuk lantai, kadang kaki. Matanya terpejam. Ibu pasti salah satu tokoh pecinta senja yang sering aku baca di novel-novel.
Biasanya Ibu berdendang ketika memasak. Terkadang Ibu menyalakan musik sambil mengikuti lirik lagu. Tidak jarang sambil menandak-nandak juga. Ayah pernah nyaris tertikam pisau karena tidak sengaja lewat di belakang Ibu yang sedang mereka ulang gerakan penyanyi favoritnya.
Tapi Ibu selalu serius ketika membuat kare. Selalu. Keningnya akan berkerut sambil memotong sayuran. Seringkali Ibu menakar dengan ketelitian super yang tidak perlu, saat memasukan bumbu kare. Ibu bukan penggemar pedas, mungkin karena itu.
Hm, apalagi? Selain kecintaannya pada Chappy, karakter kelinci putih, aku rasa Ibu cukup normal untuk ukuran seorang Ibu.
Kazui
Ayah punya kebiasaan aneh.
Kalau kebetulan sedang bulan purnama, Ayah selalu menyempatkan diri duduk di luar rumah. Menatap bulan. Setiap kutanya kenapa, Ayah selalu menjawab dengan "Tsuki ga kirei desu ne," bulannya indah sekali ya.
Kadang-kadang Ayah secara tiba-tiba menoleh dan menatap kejauhan dengan kening berkerut. Matanya awas memandang atap rumah atau sudut gang. Pernah Ayah hanya menatap ke samping tubuhnya, seolah hendak berbicara, namun urung. Saat seperti itu, entah kenapa Ayah terasa jauh.
Musim salju adalah favorit Ayah. Ayah biasanya makan kare sambil melihat salju turun. Kombinasi yang aneh, padahal Ayah cukup normal untuk ukuran seorang Ayah. Ayah sebenarnya keren, kalau kau mau mengabaikan warna rambutnya yang mencolok, tapi tetap saja…aneh.
Rukia
"Ibu tidak kepanasan?" Ichika menegur. Dia menatap dengan penuh ingin tahu dari balik pintu.
"Ah~ ini bahkan tidak cukup untuk membuatmu memerah," godaku. Ini bukan kali pertama Ichika bertanya.
Dengan bibir mengerucut Ichika menghampiri. "Aku tahu matahari terbenam memang bagus, tapi tidakkah Ibu bosan?"
"Ichika, apa kau bosan makan?"
"Hee? Tentu saja tidak."
"Aku juga begitu. Ini, juga begitu," kurangkul putriku. "Sejujurnya, ini hangat. Rasanya aku hampir bisa mengecup senja."
"Ibu aneh."
"Ya, dan kau anak dari orang aneh yang membuatmu jadi dua kali lebih aneh dariku."
Argumen basi. Tapi Ichika cukup tahu untuk tidak bertanya lebih jauh. Dia tidak akan mendapat jawaban gamblang dariku. Aku pun tidak memiliki keberanian untuk menjawab dengan jujur 'kan? Bahwa hangat matahari ini serupa hangat peluknya. Bahwa warna jingga ini sewarna dengan surainya. Bahwa setiap ketukan yang kuimitasi, senada dengan detak jantungnya saat kami bersama. Terasa nyaman dan aman.
"Ibu masak apa untuk makan malam?" putriku memecah keheningan singkat di antara kami.
"Kare," jawabku.
"Lagi? Ayo kita masak yang lain bu. Bagaimana kalau omerice?" Ichika bertanya dengan wajah memelas yang lucu. Memangnya aku bisa menolak?
"Akan kupertimbangkankan, kalau kau bisa menjadi anak baik yang mengatur meja makan dan mencuci piring malam ini," kataku setengah bergurau.
"Itu tidak adil, aku …."
Perasaan, suasana, dan jiwa yang sadang berada dalam pelukanku ini, apakah sepadan dengan kehilanganmu?
Ichigo
Kau ada dimana-mana hari ini. Ditemaram cahaya bulan, bahkan pada bayang-bayang sudut kota. Disetiap sesap kare yang kusuap. Ah, kare yang kau buat saat itu terasa sedap. Aku jadi ingat pertemuan pertama kita. Tiap momen-momen kebersamaan kita.
"Memangnya ayah serigala?" suara Kazui dari balik pintu membuyarkan lamunanku.
"Kenapa?"
"Ayah selalu menatap bulan dengan raut aneh. Jujur saja, aku tidak akan kaget kalau ayah tiba-tiba mengaum dan berubah jadi salah satunya." Anak ini terlalu peka. Hm, mungkin aku yang terlalu kentara?
"Ini dinamakan dengan refleksi diri nak," kilahku.
"Sesuka Ayah sajalah," balasnya sambil berbalik menghilang kembali di belakang pintu. Baru saja aku akan kembali ke pekerjaanku, suara Kazui kembali terdengar. "Oh iya yah, Bibi Karin bawa cemilan. Ayo kita turun dan makan bersama," Kazui kembali tampak di depan pintu, berkata dengan senyum lebar.
"Kazui, jangan senyum selebar itu, kau jadi kelihatan seperti orang bodoh."
"Bweeeeek," bocah itu lari setelah menjulurkan lidah padaku. Aku bisa mendengar langkahnya yang tergesa menuruni tangga.
Aku kembali memandangi purnama yang mengintip dari sela jendela kamar. Biarlah Kazui menganggap Ayahnya aneh. Aku tidak mungkin cerita 'kan? Tentang maksudku saat berkata "Tsuki ga kirei desu ne," – bulannya indah sekali ya. Kalimat yang sama dengan yang kuucapkan padamu disuatu purnama saat kita duduk bersama, sebagai ganti aku cinta padamu yang sudah diujung lidah, hendak kuucap, namun urung. Banyak hal yang terjadi di antara kita. Biarlah kukunci kenangan ini dalam ingatan, dalam remang cahaya yang memantul disetiap sudut rumah.
Sudah kuputuskan, pekerjaan bisa menunggu. Sudah cukup lama kami sekeluarga tidak berkumpul bersama. Aku mendorong kursi, menatap salinan beberapa teks yang sudah kuterjemahkan sekali lagi, sebelum menyusul Kazui ke bawah. Entah kenapa teks-teks ini terasa mengejek malam ini, seolah berkata "Idiot, kau bisa menerjemahkan bahasa. Tak bisakah kau menerjemahkan perasaanmu saat ini?"
'Aku bisa. Aku rindu padanya.'
Saat aku mengatakan sampai jumpa padanya, bukan hanya satu-dua kali, yang aku maksud adalah sampai jumpa beberapa hari atau mungkin beberapa minggu lagi. Bukan sampai jumpa dikehidupan berikutnya, saat waktu akhirnya mengizinkan kami bersama. Aku menggeleng, baiklah cukup melankoli yang bersarang dalam dadaku malam ini. Saatnya menghadapi realita.
End
